Belajar jadi Guru

Model-model pembelajaran Inovatif

Posted on: July 23, 2010


Makalah ini disampaikan oleh Bapak Pahyono, widyaiswara LPMP Jawa Tengah, dalam kegiatan ” Sosialisasi model-model pembelajaran ” di LPMP Jawa Tengah tahun 2004.

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN- Bahan Ajar

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN – Cover

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

I.        PENDAHULUAN

  1. Rasional

Dalam pelaksanaan Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, guru dituntut memiliki kompetensi terutama dalam mengelola proses pembelajaran (PBM), karena itu untuk dapat mengantarkan siswa mencapai kompetensi yang diharapkan, guru harus mampu merancang dan mengelola kegiatan pembelajaran yang efektif.

Menurut Direktorat Tenaga Kependidikan (Ditendik), kompetensi guru ada tiga, yaitu : (1) Penguasaan akademik, (2) Pengelolaan pembelajaran, dan (3) Pengembangan profesi.

Sehubungan dengan ketiga kompetensi guru tersebut, kondisi di lapang-an saat ini menunjukkan, bahwa kompetensi guru belum merata dan bervariasi pada semua jenjang dan tingkat sekolah. Akibatnya, tingkat efektivitas dan ketercapaian tujuan proses pembelajaran siswa bervariasi pula.

Dalam proses pembelajaran, guru berperan sebagai fasilitator harus memahami teori-teori belajar, teori-teori pedagogik dan teknik-teknik pembela-jaran.  Sehingga guru mampu merancang dan melaksanakan PBM secara efektif dan efisien, interaktif dan menyenangkan.

Metode dan strategi pembelajaran telah berkembang dengan pesat dan revolusioner untuk menjawab tantangan dan mengantisipasi tuntutan perkem-bangan sosial, ekonomi dan teknologi informasi yang telah meng-global.

Paradigma guru sebagai knowledge transformator telah bergeser men-jadi knowledge facilitator. Konsekuensi dari perubahan paradigma tersebut, maka guru perlu memperkaya pengetahuan dan meningkatkan keterampilan-nya, terutama dalam metode dan strategi pembelajaran. Di samping faktor kesiapan siswa,  keterbatasan kompetensi guru dalam pengelolaan pembelajaran, merupakan salah satu faktor penyebab siswa tidak mampu mencapai kompetensi secara optimal.

Model belajar secara kelompok, telah menjadi salah satu pilihan guru dalam mengelola pembelajaran. Namun dalam penerapannya, pengarahan guru kurang jelas dan memadai, keterbatasan sumber dan bahan belajar, kesiapan siswa serta pengaturan kelas (setting) juga menjadi penyebab PBM kurang efektif.

Model pembelajaran Cooperative Learning (CL) dengan berbagai tipe sangat menarik perhatian para guru dan para instruktur di sekolah dan tempat-tempat pelatihan, karena model CL memiliki banyak kelebihan dibanding model-model pembelajaran  yang telah dikenal sebelumnya. Model CL berbasis ‘ kerja-sama ‘ antar individu dalam kelompok dan ‘ saling ketergantungan ‘ antar anggota kelompok selaras dengan konsep pendidikan UNESCO yang dikenal dengan Empat Pilar Pendidikan. Salah satu pilarnya menyebutkan “ How learn to live together “.

Model pembelajaran CL dengan berbagai tipe dikembangkan berlandas-kan teori belajar Constructivism (Konstruktivisme). Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofis) pendekatan konsep dalam pembelajaran. Menurut teori belajar ini, pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperoleh melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak datang sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, melainkan manusia harus mengkon-struksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Model CL juga dapat memberikan pengalaman belajar dan kecakapan hidup (life skill), karena terbukti mampu meningkatkan kemampuan kognitif siswa secara individu dan membangun kerjasama antar anggota dalam kelom-pok. Pengalaman belajar menggali informasi dan mengolah informasi secara mandiri dapat menanamkan kebiasaan siswa membaca atau mencari informasi dari berbagai sumber belajar, tidak bergantung pada guru dan tidak menggang-gap guru sebagai satu-satunya sumber belajar.

  1. Tujuan

Pembahasan model pembelajaran Cooperative Learning sebagai model pembelajaran alternatif dalam konteks inovasi pembelajaran dengan tujuan :

  1. Menambah wawasan guru tentang model-model pembelajaran yang tengah berkembang saat ini dalam rangka pelaksanaan Kurikulum 2004
  1. Meningkatkan kompetensi guru dalam pengelolaan pembelajaran
  2. Memotivasi guru dalam memfasilitasi dan mengelola pembelajaran yang efektif
  1. Pengertian

Apakah model Cooperative Learning ?

CL adalah model pembelajaran bersama-sama dalam suatu kelompok dengan jumlah anggota antara tiga sampai lima orang siswa. Para anggota bekerjasama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan guru.

Menurut Kagan, terdapat empat prinsip dasar model CL, yakni:(1) Inter-aksi yang simultan; (2) Saling ketergantungan antar anggota ; (3) Tiap individu memiliki tanggungjawab terhadap kelompok ; dan (4) Peranserta anggota yang seimbang.

Menurut pendapat Slavin, model CL meliputi tiga konsep utama yaitu :

(1)         Pengakuan kelompok (Team recognition); (2) Tanggungjawab individu; dan (3) Keseimbangan peluang untuk meraih sukses bersama

Sedangkan menurut Johnson, model CL terdapat lima prinsip dasar, terdiri : (1) Menumbuhkan semangat saling ketergantungan; (2) Tanggung-jawab individual; (3) Bekerja dalam kelompok (group processing); (4) Tumbuh kecakapan sosial dan bekerjasama; dan (5) Terjadi interaksi antar anggota secara langsung.

Apakah manfaat model CL ?

Bagi sekolah, manfaatnya adalah: (1) Pengembangan kognitif dan afektif siswa; (2) Membina hubungan baik antar agama, ras maupun etnik; dan (3) Tercapainya keseimbangan dalam pendidikan

Bagi siswa, model CL bermanfaat untuk : (1) mengembangkan kemam-puan akademik dan (2) Mengembangkan kecakapan pribadi dan sosial.

Bagi bangsa, model CL  bermanfaat untuk menumbuhkan visi kene-garaan. dan nasionalisme

Bagaimana melaksanakan model CL ?

Pelaksanaan model CL, diperlukan interaksi antar siswa,. Oleh sebab itu, dalam menyelesaikan tugas dari guru, para siswa  perlu berdiskusi, terma-suk mengemukakan pendapatnya yang dapat dipahami oleh anggota lainnya, sehingga anggota tersebut dapat meningkatkan kemampuan intelektualnya. Dalam hal ini, guru cukup menyediakan lembar kerja (LKS) untuk dikerjakan secara kelompok, memantau kerjasama kelompok, mengarahkan diskusi, memberikan bimbingan kepada kelompok yang memerlukan dan validasi hasil kerja kelompok.

II.      MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TYPE STAD, TGT DAN JIGSAW II

Telah dikenal sedikitnya ada 29 tipe model CL, ada Role Playing, Problem Based Intruction (PBI), Course Review Horay (Bingo), Mind Mapping, Student Teams Achievement Divisions (STAD), Team Game Tournament (TGT), Jigsaw II, dan lainnya, Dalam makalah ini yang akan dibahas hanya tiga tipe model CL terakhir tersebut.

  1. A. Model pembelajaran CL tipe STAD

Menurut Robert E Slavin dan kawan-kawan , model CL tipe STAD  terdiri dari 5 komponen (fase) , yakni :

  1. Presentasi Kelas (Class presentation)
  2. Pembentukan tim (Teams)
  3. Kuis Individu (Individual Quizzes)
  4. Perubahan skor individu (Individual improvement score)
  5. Pengakuan tim (Team recognition)

Model ini sangat cocok untuk menyajikan materi pembelajaran terstruktur, yang terdiri dari beberapa bagian dan saling berhubungan antar bagian-nya. Misalnya seorang guru akan menyajikan pokok materi/ bahasan yang tertruktur terdiri atas 4 sub pokok materi/ bahasan A, B, C dan D. Artinya, sebelum dapat mempelajari sub B, siswa harus menguasai sub A, sebelum mempelajari sub c, siswa harus sudah menguasai sub A dan sub B, demikian seterusnya untuk sub D.

Langkah-langkah :

Fase 1 : Guru presentasi di depan kelas, menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari, misalnya konsep, materi secara garis besar dan prosedur kegiatan (eksperimen).

Guru juga perlu menjelaskan tata cara kerjasama dalam kelompok, terutama kepada kelompok atau kelas yang belum terbiasa menjalankan model CL.

Fase 2 : Guru membentuk kelompok, berdasarkan kemampuan (prestasi sebelumnya), jenis kelamin, ras dan etnik. Jumlah anggota tiap kelompok antara 3-5 orang siswa

Fase 3 : Bekerja dalam kelompok, Siswa belajar bersama, diskusi, menjawab soal atau mengerjakan eksperimen sesuai LKS yang diberikan guru

Fase 4 : Scafolding. Guru melakukan bimbingan kepada kelompok atau kelas

Fase 5 : Validation. Guru mengadakan validasi hasil kerja kelompok dan memberikan kesimpulan hasil tugas kelompok

Fase 6 : Quizzes. Guru mengadakan kuis secara individual. Hasil nilai yang diperoleh tiap anggota, dikumpulkan, kemudian dirata-rata dalam kelompok, untuk menentukan predikat kelompok. Dalam menjawab quiz, anggota tidak boleh saling membantu. Perubahan skor awal (base score) individu dengan  skor hasil quiz disebut skor perkembangan. Penghitungan skor perkembangan sebagai berikut :

Tabel 1 :  Nilai Penghargaan Kelompok (Penghitungan skor Perkembangan)

NO SKOR TES NILAI PERKEMBANGAN
1. Lebih dari 20 poin di atas skor awal 30
2 Sama atau hingga 10 poin di atas skor awal 20
3 Sepuluh hingga satu poin di bawah skor awal 10
4 Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5

Fase 7 : Penghargaan kelompok : Berdasarkan skor penghitungan yang diperoleh anggota, dirata-rata. Hasilnya untuk menentu-kan predikat tim (lihat Tabel 2)

Tabel  2 : Perolehan Skor dan Predikat Tim Tipe STAD dan Jigsaw

NO PREDIKAT TIM RATA-RATA SKOR
1 Super Team 25 – 30
2 Great Team 20 – 24
3 Good team 15 – 19

:

Fase 8 : Evaluasi oleh guru

Selamat mencoba !

  1. Persiapan : Lembar Kerja Siswa (LKS)
  2. Persiapan Lembar Pertanyaan Quiz dan lembar jawab.
  3. Sediakan Tabel nilai Konversi perubahan skor awal dengan skor hasil kuis individu
  4. Sediakan tanda penghargaan/ sertifikat sederhana
  5. Validasi kelas, bimbingan terhadap kelompok dan individu
  1. Model pembelajaran CL tipe Jigsaw II :

Model CL tipe Jigsaw II  ini dikenal juga Kelompok Ahli. Model ini dapat diterapkan pada materi pembelajaran yang tak berstruktur (tidak saling berhubungan antar sub-sub materi).

Prosedur pelaksanaan Jigsaw mirip dengan STAD, cara menentukan skor individu dalam kelompok (nilai perkembangan) dan kriteria penghargaan kelompok sama dengan tipe STAD.

Menurut Slavin (1998), tipe Jigsaw terdiri 5 fase. Pembagian kelompok berdasarkan kriteria prestasi individu (dari ulangan sebelumnya atau  pretest), gender, etnik dan ras. Tiap kelompok beranggotakan 2 – 4 orang. Kelompok Expert , jumlahnya disesuaikan dengan pokok bahasan materi yang dipelajari. Contoh, suatu topik/ pokok materi terdiri 4 sub pokok materi (pokok bahasan), maka kelompok expert jumlahnya juga 4.

Masing-masing kelompok expert beranggotakan wakil dari sejumlah kelompok belajar siswa.

Contoh : Suatu kelas terdiri dari 40 siswa, maka dapat dibentuk menjadi 10 kelompok (Kelompok 1, 2, 3 ……10). Tiap kelompok terdiri 4 orang siswa. Setelah kelompok belajar terbentuk, guru membagikan LKS untuk dipela-jari bersama. Pada kegiatan ini, oleh Slavin disebut Fase 1 (Reading). Selanjutnya, anggota masing-masing kelompok tersebut berunding  mem-bagi tugas untuk masuk ke kelompok expert.  Misalnya, pokok materi ter-diri dari 4 sub pokok materi/ bahasan, maka dapat dibentuk sejumlah 4 kelompok expert (Expert A, B, C, D). Kemudian kelompok belajar tersebut berunding untuk menentukan satu orang siswa sebagai wakil dari kelom-pok belajar bergabung ke tiap kelompok expert A, B, C dan D, sesuai hasil perundingan. Jadi dalam kelompok expert masing-masing beranggotakan 10 orang siswa. Fase 2 (Expert Group Discussions) : Di dalam kelompok expert, siswa berdiskusi membahas dan memecahkan masalah atau soal yang terdapat dalam LKS. Setelah diskusi kelompok expert selesai, semua anggota kelompok expert kembali ke kelompok belajar semula. Fase 3 (Team reports) : Siswa yang ditunjuk sebagai wakil kelompok belajar di kelompok expert menjelaskan kepada teman-temannya se kelompok. Demikian juga teman dari expert yang lain menjelaskan kepada teman- teman sekelompok tentang apa yang dibahas dan dikerjakan selama di dalam kelompok expert. Pada saat diskusi expert inilah, guru dapat mem-berikan bimbingan, validasi materi dan jawaban siswa dari masing-masing expert. Fase berikutnya Fase 4 (Assessment) : Guru mengadakan kuis yang harus dikerjakan oleh siswa secara individual. Hasilnya berupa nilai individu anggota kelompok. Fase 5 (Team recognition) : Guru bersama siswa menghitung perubahan nilai awal (base score) siswa dengan nilai hasil kuis secara individual menggunakan Tabel 1 (lihat Tabel Nilai Peng-hargaan Kelompok STAD dan Jigsaw). Kemudian nilai semua siswa ang-gota masing-masing kelompok dijumlahkan dan dirata-rata, maka akan diperoleh nilai antara 5 – 30 sebagai nilai kelompok. Untuk menentukan predikat kelompok, gunakan Tabel 2  Penghargaan Kelompok, caranya sama seperti penghargaan kelompok pada model tipe STAD.

Persiapan Guru :

  1. Menyiapkan bacaan (LKS)
  2. Kalau kegiatan expert berupa praktik atau demonstrasi, maka guru menyiapkan alat/ bahan
  3. Menyiapkan instrumen untuk kuis
  4. Menyiapkan tabel nilai pengamatan psikomotor dan sikap.
  5. Menyiapkan tabel rekapitulasi nilai individu dikonversi ke nilai penghar-gaan kelompok (lihat lampiran)
  6. Menyiapkan tabel rekapitulasi rerata nilai kelompok
  7. Menyediakan tanda penghargaan/ sertifikat untuk kelompok

Silahkan mencoba, semoga sukses !

  1. C. Model Pembelajaran CL Tipe TGT

Model pembelajaran kooperatif  melalui suatu turnamen, lebih banyak dipilih karena waktu relatif lebih singkat dan cara melakukannya relatif lebin mudah dibanding STAD dan Jigsaw. Untuk kelas-kelas di Indonesia, fase-fase TGT dikembangkan dari empat menjadi delapan, sebagai berikut :

Fase 1 : Penjelasan guru (Teacher presentation).

Pada fase ini, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, pokok materi dan penjelasan singkat tentang LKS yang dibagikan kepada kelom-pok.

Fase 2 : Pembagian kelompok

Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok berdasarkan krite-ria kemampuan (prestasi) siswa dari pretest atau ulangan harian sebelumnya, jenis kelamin (gender), etnik dan ras. Tiap kelompok beranggotakan   2 – 4 orang (Slavin, 1998). Jumlah anggota kelom-pok dapat juga dikembangkan menjadi 5 orang.

Fase 3 : Kerja kelompok (Team study)

Setelah menerima LKS dari guru, siswa bekerjasama dalam kelom-pok masing-masing, diskusi, praktikum atau menjawab soal-soal pada LKS.

Fase 4 : Bimbingan kelompok/ kelas (Scafolding)

Guru membimbing kerja kelompok, mengamati psikomotorik dan sikap siswa secara individual dalam kerja kelompok

Fase 5 : Tournament (Quizzes)

Guru membagikan lembar soal tournament (quizzes). Jumlah soal turnamen antara 10 – 20 butir soal. Aturan main tournamen model TGT adalah sebagai berikut :

  1. Setiap kelompok menentukan salah satu anggota sebagai Reader (pembaca soal kuis turnamen)  pertama dan pembaca kunci jawaban. Pembaca soal ke dua, ke tiga dan seterusnya digilir berurutan searah dengan putaran jarum jam. Pembaca kunci jawaban adalah siswa yang posisi duduknya di sebelah kanan reader.
  2. Kesempatan pertama menjawab soal kuis turnamen diberikan kepada reader, selanjutnya giliran menjawab bagi anggota kelom-pok yang lain searah putaran jarum jam.
  3. Jika semua anggota kelompok menjawab benar,  siswa yang memperoleh point adalah siswa pertama yang menjawab benar.
  4. Turnamen berlanjut, sampai semua soal sudah dibacakan. Kemu-dian perolehan skor masing-masing anggota dihitung berdasarkan jumlah jawaban benar sekaligus untuk perhitungan skor kelompok

Fase 6 : Validation

Guru melakukan validasi, penjelasan tentang soal dan kunci jawaban kuis. Tujuannya adalah memperkuat pemahaman siswa terhadap materi pem-belajaran.

Fase 7 : Penghargaan kelompok (Team recognition)

Setelah diperoleh skor tiap anggota pada masing-masing kelompok, kemudian diadakan rekapitulasi nilai dan ditentukan skor kelompok menggunakan Tabel 3 ( Penghitungan skor kelompok) di bawah ini :

Skor kelompok pada model TGT minimal 190 dan skor maksimal 210 (untuk pemain 5orang).

Tabel 3 : Penghitungan Skor Kelompok

Jumlah Anggota Penghitungan skor kelompok
2 60    40 

20    40

3 60  50  60  40 

40  50  30  40

20  20  30  40

4 60  50  60  60  50  60  40  50 

40  50  40  40  50  30  40  50

30  30  40  30  50  30  40  30

20  20  20  30  20  30  40  30

5
60 50 60 60 60 50 60 60 40 50 40 50 60 50 50 50
50 50 40 50 50 50 40 50 40 40 40 50 40 50 50 50
40 40 40 30 40 50 40 30 40 40 40 40 40 30 50 40
30 30 30 30 30 30 40 30 40 40 40 40 30 30 30 30
20 20 20 20 30 20 20 30 30 40 40 20 30 30 30 30

Untuk menentukan penghargaan kelompok, menggunakan Tabel 4 berdasarkan skor rata-rata kelompok.

Tabel 4 : Skor Penghargaan Kelompok  Tipe TGT

NO PEROLEHAN SKOR RATA-RATA PREDIKAT
1 45 atau lebih Super Team
2 40 – 44 Great Team
3 30 – 39 Good Team

Fase 8 : Evaluasi oleh guru

PERSIAPAN GURU :

  1. Lembar Kerja Siswa (LKS)
  2. Lembar Soal Kuis (atau berupa kartu soal)
  3. Lembar kunci jawaban
  4. Lembar format rekap skor individu
  5. Lembar format rekap skor kelompok
  6. Alat dan bahan praktik (jika ada kegiatan eksperimen/ demonstrasi)

SELAMAT MENCOBA, SEMOGA BERHASIL !

III.    KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan :
    1. Model-model Cooperative Learning dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
    2. Model-model Cooperative Learning dapat berjalan efektif, apabila guru mampu membuat perencanaan pembelajaran yang baik, meliputi persiap an bahan ajar, skenario kegiatan pembelajaran dan pengaturan kelompok secara konsekuen.
    3. Penentuan tipe model Cooperative Learning yang efektif harus disesuai-kan dengan struktur materi pembelajaran/ pokok bahasan
  2. Saran :
    1. Siswa perlu dikondisikan belajar mandiri secara kelompok melalui kerja-sama
    2. Perlu dilakukan suatu penelitian tindakan kelas (action research) tentang pengaruh tipe model pembelajaran cooperative learning terhadap peningkatan prestasi belajar siswa

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2002, Pendekatan Kontekstual (Contexrual Teaching and Learning (CTL), Dit.PLP, Ditjen Dikdasmen, Jakarta

Dryden, Gordon & Vos, Jeannette, 2003, The Learning Revolution (Terjemahan) Cetakan VII, Penerbit Kaifa, Bandung

Meier, Dave, 2003, The Accelerated Learning (Terjemahan), Kaifa, Bandung

Nasution S, 2000, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Cetakan ke tujuh, PT Bumi Aksara, Bandung

SEAMEO-RECSAM, 2003, Model-model Cooperative Learning (Hand-out) Sosialisasi Hasil-hasil Pelatihan Guru Matematika dan IPA SMA di RECSAM, Malaysia

Slavin, Robert E, 1995, Cooperative Learning Theory, Research and Practise, Allyn & Bacon A simon & Schuster Company, Second Edition, Singapore

Zamroni, 2003, Pendidikan untuk Demokrasi, Bigraf Publishing, Yogyakarta

—==ph==—

DVD Conversation Bahasa Inggris berisi 32 modul berformat MP3 dan PDF. Bisa digunakan di HP dan komputer. Cukup RP. 150.000,- saja. Info lebih lengkap, klik banner iklan dibawah ini:

BelajarInggris.net Tempat Kursus Bahasa Inggris Online cepat dan Mudah tanpa grammar Full Conversation / Percakapan Bersertifikat

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Email:

rppguswur@gmail.com

Belajar Inggris

BelajarInggris.Net 250x250

Blog Stats

  • 1,635,567 hits

Pengunjung

free counters

blogstat

Alexa Certified Site Stats for www.aguswuryanto.wordpress.com

Incoming traffic

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 166 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 166 other followers

%d bloggers like this: