Belajar jadi Guru

Archive for July 2010


NB. Saya 100 % lupa karya ini punya siapa. Seingat saya, file ini saya peroleh ketika mengikuti pelatihan  penulisan bahan ajar sebagai materi pembuka.  Mengingat pentingnya materi, maka file ini tetap saya share untuk bapak dan ibu guru semua guna menambah wawasan kita. apabila suatu hari ada komplain dari pemilik asli file ini maka kami dengan senang hati akan menghapusnya dari postingan.

Download :

Prinsip, Pendekatan, Metode, Teknik,Strategi dan Model Pembelajaran

Prinsip, Pendekatan, Metode, Teknik,

Strategi, dan Model Pembelajaran

1. Pengantar

Mengawali kegiatan mempelajari bagian ini, renungkan pertanyaan berikut. Apakah Saudara termasuk pemerhati pembelajaran yang baik? Jika ya, Anda tentunya telah mencermati apa itu prinsip, pendekatan, metode, teknik, strategi, dan model pembelajaran dengan baik. Untuk membuktikannya, ujilah kemampuan Saudara dengan menjawab pertanyaan berkaitan dengan hakikat hal-hal berikut ini!

  1. a. Apa itu prinsip?
  2. b. Apa itu pendekatan?
  3. c. Apa itu metode?
  4. d. Apa itu teknik?
  5. e. Apa itu strategi?
  6. f. Apa itu model?

Bagaimana penguasaan Saudara? Sudah mantapkah penguasaan Saudara tentang konsep dasar di atas ataukah sebaliknya? Bila belum atau kurang mantap pelajarilah bagian berikut dengan seksama!

Bagian berikut akan memaparkan topik-topik yang termasuk dalam ruang lingkup pembahasan konsep dasar pembelajaran sebagai berikut.

  1. a. Prinsip pembelajaran
  2. b. Pendekatan pembelajaran
  3. c. Metode pembelajaran
  4. d. Teknik pembelajaran
  5. e. Strategi pembelajaran
  6. f. Model pembelajaran

2. Materi Pembelajaran

Bila kita membicarakan pembelajaran, ada beberapa hal yang selalu disinggung, yaitu 1) prinsip, pendekatan, strategi, metode, teknik, dan model pembelajaran. Pengertian untuk istilah-istilah itu sering dikacaukan. Apalagi terhadap tiga istilah, yaitu pendekatan, metode, dan teknik biasanya terkacaukan (lihat Syafii 1994:15; Badudu 1996:17). Istilah pendekatan sering dikacaukan dengan metode, misalnya kita sering mendengar orang mengemukakan istilah pendekatan komunikatif disamping istilah metode komunikatif. Sering pula pengertian metode dikacaukan dengan teknik, misalnya kita sering mendengar orang menyebutkan istilah metode diskusi disamping istilah teknik diskuasi.

Agar kita dapat melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar dengan baik, seyogyanya kita menguasai pengertian-pengertian di atas dengan baik. Untuk itu, pada bagian berikut istilah-istilah tersebut diupayakan dipaparkan secara rinci satu per satu.

2.1 Prinsip Pembelajaran

2.1.1 Pengertian Prinsip Pembelajaran

Prinsip dikatakan juga landasan. Prinsip pembelajaran menurut Larsen dan Freeman (1986 dalam Supani dkk. 1997/1998) adalah represent the theoretical framework of the method. Prinsip pembelajaran adalah kerangka teoretis sebuah metode pembelajaran. Kerangka teoretis adalah teori-teori yang mengarahkan harus bagaimana sebuah metode dilihat dari segi 1) bahan yang akan dibelajarkan, 2) prosedur pembelajaran (bagaimana siswa belajar dan bagaimana guru mengajarkan bahan), 3) gurunya, dan 4) siswanya.

Dengan demikian, prinsip pembelajaran bahasa adalah kerangka teoretis, petunjuk-petunjuk teoretis bagi penyusunan sebuah metode pembelajaran bahasa  dalam hal :

1)     pemilihan dan peyusunan bahan pembelajaran bahasa yang akan dibelajarkan;

2)     pengaturan proses belajar mengajarnya: bagaimana mengajarkan dan mempelajarinya, hal-hal yang berhubungan dengan pendekatan, teknik, media, dan sebagainya;

3)     guru yang akan mengajarkannya, persyaratan yang harus dimiliki, serta aktivitas yang harus dilaksanakan;

4)     siswa yang mempelajarinya, berkenaan dengan aktivitasnya; dan

5)     Hal-hal lain yang terlibat dalam proses belajar mengajar.

2. Sumber Prinsip Pembelajaran

Prinsip pembelajaran bersumber pada teori-teori yang berkembang pada bidang yang relevan. Prinsip pembelajaran bahasa berarti bersumber pada teori-teori yang relevan dengan pembelajaran bahasa, seperti: 1) teori belajar, 2) teori belajar bahasa, 3) teori bahasa, dan 4) teori psikologi.

Teori Belajar Teori Belajar Bahasa Teori Bahasa Teori Psikologi
Behaviorism

Piaget’s Development Theory

Vygotsky and Social Cognition

Constructivism

Neuroscience

Brain-Based Learning

Learning Styles

Multiple Inteligence

Right Brain/Left Brain Thinking

Communities of Practice

Control Theoty

Observational Learning

Problem-Based Learning

Teori behavioris

Teori mentalis

Teori tradisional

Teori struktural

Teori transformasi

Teori tagmemik

Teori fungsional

Teori relasional

Behaviorisme

Kognitif

Catatan:

Teori belajar di atas dikutip dari Syamsudin (1999) ”Teori Belajar dalam Buku Teks” dalam Bahan Pelatihan Penulisan Buku Teks tanggal 22 Nopember – 24 Desember 1999 yang diselenggarakan atas Kerja sama SEAMEO-RECSAM-DEPDIKNAS di Universitas Negeri Semarang. Dari ke-13 teori belajar di atas, yang terpenting untuk dipahami adalah teori 1) Behaviorism, 2) Piaget’s Development Theory, 3) Vygotsky and Social Cognition, 4) Contructivism, 5) Multiple Intelligence, dan 6) Problem-Based Learning karena teori-teori tersebut merupakan dasar dari perkembangan teori belajar lainnya.

3. Fungsi Prinsip Pembelajaran

Istilah fungsi berasal dari bahasa Inggris function yang memiliki banyak arti di antaranya: jabatan, kedudukan, kegiatan, dan sebagainya. Fungsi atau peran  adalah   jabatan, kedudukan, atau kegiatam.  Jadi, prinsip pembelajaran bahasa berfungsi sebagai kerangka teori dan pedoman pelaksanaan bagi komponen-komponen pengajaran bahasa. Sebagai pedoman/kerangka teori, setiap butir prinsip pengajaran bahasa memberikan arah  yang harus ditempuh dalam pelaksanaan pengajaran.

4. Macam-macam Prinsip Pembelajaran

Prinsip pembelajaran dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu 1) prinsip umum dan 2) prinsip khusus (lihat Supani, dkk. 1997/1998).

  1. Prinsip umum, yaitu prinsip pembelajaran yang dapat diberlakukan/berlaku untuk semua mata pelajaran di suatu sekolah/program pendidikan. Prinsip-prinsip umum pembelajaran di antaranya sebagai berikut.

1)     Prinsip motivasi, yaitu dalam belajar diperlukan motif-motif yang dapat mendorong siswa untuk belajar. Dengan prinsip ini, guru harus berperan sebagai motivator siswa dalam belajar.

2)     Prinsip belajar sambil bekerja/mengalami, yaitu dalam mempelajari sesuatu, apalagi yang berhubungan dengan keterampilan haruslah melalui pengalaman langsung, seperti belajar menulis siswa harus menulis, belajar berpidato harus melalui praktik berpidato.

3)     Prinsip pemecahan masalah, yaitu dalam belajar siswa perlu dihadapkan pada situasi-situasi bermasalah dan guru membimbing siswa untuk memecahkannya.

4)     Prinsip perbedaan individual, yaitu setiap siswa memiliki perbedaan-perbedaan dalam berbagai hal, seperti intelegensi, watak, latar belakang keluarga, ekonomi, sosial, dan lain-lain. Dengan demikian, guru dalam kegiatan pembelajaran dituntut memperhitungkan perbedaa-perbedaan itu.

  1. Prinsip khusus, yaitu prinsip-prinsip pembelajaran yang hanya berlaku untuk satu mata pelajaran tertentu, seperti pembelajaran bahasa Indonesia. Setiap mata pelajaran memiliki banyak prinsip khusus. Prinsip-prinsip khusus pembelajaran bahasa Indonesia di antaranya sebagai berikut.

1)     Ajarkan bahasa, bukan tentang bahasa, yaitu pembelajaran bahasa merupakan aktivitas membina siswa mempergunakan bahasa sebagai alat komunikasi sebagai penutur bahasa. Artinya, siswa dilatih keterampilan berbahasa yang hanya dikuasai melalui praktik berbahasa. Jadi, pembelajaran bahasa merupakan kegiatan untuk menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi yang harus dilakukan melalui praktik menggunakan bahasa. Bukan sebaliknya, pembelajaran bahasa adalah aktivitas mempelajari teori atau pengetahuan tentang bahasa.

2)     Bahasa target bukan sekedar objek pembelajaran, tetapi juga wahana komunikasi dalam proses pembelajaran atau di kelas. Artinya, kegiatan pembelajaran tidak semata-mata ditujukan untuk mengenal dan menguasai bahasa target. Akan tetapi, proses pembelajaran harus menjadikan bahasa itu sebagai wahana dalam berkomunikasi, yaitu dengan menggunakan bahasa target dalam setiap kesempatan berkomunikasi tentang topik-topik di luar bahasa (pendekatan komunikatif).

3)     Sejauh mungkin gunakan bahasa otentik yang digunakan dalam konteks nyata sebagai sumber bahan ajar, seperti bahasa di surat kabar, bahasa nyata dalam kehidupan.

4)     Setiap bahasa memiliki sistem bahasanya sendiri. Untuk itu, dalam mempelajari bahasa kedua harus menjaga jangan sampai terjadi interferensi (pengaruh) bahasa pertamanya terhadap bahasa kedua yang dipelajari.

2.2 Pendekatan Pembelajaran

1. Pengertian Pendekatan

Istilah pendekatan berasal dari bahasa Inggris approach yang memiliki beberapa arti di anataranya diartikan dengan ’pendekatan’. Di dalam dunia pengajaran, kata approach lebih tepat diartikan a way of beginning something ‘cara memulai sesuai’. Karena itu, istilah pendekatan dapat diartikan cara memulai pembelajaran.

Dalam pengertian yang lebih luas, pendekatan mengacu kepada seperangkat asumsi mengenai cara belajar-mengajar. Pendekatan merupakan titik tolak dalam memandang sesuatu, suatu  filsafat atau keyakinan yang tidak selalu mudah membuktikannya. Jadi, pendekatan bersifat aksiomatis (Badudu 1996:17).  Aksiomatis artinya bahwa kebenaran kebenaran teori-teori yang digunakan tidak dipersoalkan lagi. Pendekatan pembelajaran (teaching approach) adalah suatu ancangan atau kebijaksanaan dalam memulai serta melaksanakan pengajaran suatu bidang studi/mata pelajaran yang memberi arah dan corak kepada metode pengajarannya dan didasarkan pada asumsi yang berkaitan.

2. Fungsi Pendekatan

Fungsi pendekatan bagi suatu pengajaran adalah sebagai pedoman umum dan langsung bagi langkah-Iangkah metode pengajaran yang akan digunakan. Sering dikatakan bahwa pendekatan melahirkan metode. Artinya, metode suatu bidang studi, ditentukan oleh pendekatan yang digunakan. Di samping itu, tidak jarang nama metode pembelajaran diambil dari nama pendekatannya. Sebagai contoh dalam pengajaran bahasa. Pendekatan SAS melahirkan metode SAS. Pendekatan langsung melahirkan metode langsung. Pendekatan komunikatif melahirkar metode komuniatif.

Bila prinsip lahir dari teori-teori bidang-bidang yang relevan,  pendekatan lahir dari asumsi terhadap bidang-bidang yang relevan pula. Misalnya, pendekatan pengajaran bahasa lahir dari asumsi-asumsi yang muncul terhadap bahasa sebagai bahan ajar, asumsi terhadap apa yang dimaksud dengan belajar, dan asumsi terhadap apa yang dimaksud dengan mengajar. Berdasarkan asumsi-asumsi itulah kemudian muncul pendekatan pengajaran yang dianggap cocok bagi asumsi-asumsi tersebut. Asumsi terhadap bahasa sebagai alat komunikasi dan bahwa belajar bahasa yang utama adalah melalui komunikasi, lahirlah pendekatan komunikatif.

3. Perbedaan Prinsip dan Pendekatan

Supaya tidak salah pengertian antara prinsip pengajaran dengan pendekatan pengajaran, berikut ini disajikan beberapa perbedaan penting antara keduanya.

Prinsip Pendekatan
Lahir dari teori-teori Lahir dari asumsi-asumsi
Berperan sebagai kerangka teori metode pembelajaran. Berperan sebagai ancangan atau pedoman langsung metode pembelajaran.
Memberi pedoman kepada metode pem-belajaran dalam  banyak hal, seperti bahan, siswa, guru, proses belajar mengajar. Memberi pedoman kepada metode pem-belajaran terutama dalam hal proses belajar mengajar.
Hubungannya dengan metode (penyusunan metode bersifat tak lagsung dalam bentuk saran). Hubungannya dengan penyusunan metode bersifat langsung dan menentukan wujud metode. Metode lahir dari pendekatan.

4. Macam Pendekatan

Pendekatan, seperti halnya prinsip, dibedakan menjadi 2, yaitu pendekatan umum dan pendekatan husus.

a.  Pendekatan Umum yaitu pendekatan yang berlaku bagi semua bidang studi di suatu sekolah program. Contoh pendekatan umum yang ditetapkan kurikulum antara lain:

  1. a. Pendekatan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif)

Pengajaran ini mengutamakan keaktifan siswa selama proses belajar mengajar berlangsung.

  1. b. Pendekatan Keterampilan Proses

Pengajaran ini tidak hanya ditujukan untuk penguasaan tujuan, tetapi juga penguasaan keterampilan untuk mencapai tujuan tersebut (keterampilan proses).

  1. c. Pendekatan Spiral

Pendekatan ini mengatur pengembangan materi yang dimulai dengan jumlah kecil yang terus meningkat. Dengan kata lain, dari materi dasar berkembang terus hingga materi lanjut.

  1. d. Pendekatan Tujuan

Pengajarannya dimulai dengan penetapan tujuan, terutama tujuan-tujuan operasional. Berdasarkan tujuan-tujuan itulah ditentukan bahan, metode, teknik, dan sebagainya.

b. Pendekatan khusus, yaitu pendekatan yang berlaku untuk bidang studi tertentu, misalnya pendekatan khusus pembelajaran bahasa Indonesia. Beberapa contoh pendekatan khusus yang pernah digunakan dalam pembelajaran bahasa misalnya:

  1. pendekatan komunikatif,
  2. pendekatan struktural,
  3. pendekatan Iisan (ora!),
  4. pendekatan langsung,

e. pendekatan tak langsung,

f. pendekatan alamiah.

2.3 Strategi Pembelajaran

Istilah strategi berasal dari Yunani strategia ’ilmu perang’ atau ’panglima perang’. Selanjutnya strategi diartikan sebagai suatu seni merancang operasi di dalam peperangan, seperti cara-cara mengatur posisi atau siasat berperang  angkatan darat atau laut.  Strategi dapat diartikan pula sebagai suatu keterampilan mengatur suatu kejadian atau hal ikhwal (Hidayat 2000:1).

Antony (dalam Hidayat 2000: 1) menyatakan bahwa strategi adalah suatu teknik yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Secara umum strategi diartikan suatu cara, teknik, taktik, atau siasat yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan (Pringgowidagda 2002: 88).

Dick dan Carey (1985) yang dikutip oleh Suparman (1993:155) mengatakan bahwa suatu strategi pembelajaran menjelaskan komponen-komponen umum dari suatu set bahan pembelajaran dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu pada siswa. Dick dan Carey menjelaskan lima komponen umum strategi pembelajaran, yaitu: a) kegiatan prapembelajaran, b) penyajian informasi, c) partisipasi siswa, d) tes, dan e) tindak lanjut. Kelima komponen tersebut bukanlah satu-satunya rumusan strategi pembelajaran.

Berkaitan dengan strategi ini, ada kesepakatan beberapa ahli. Mereka menyatakan bahwa strategi pembelajaran berkenaan dengan pendekatan pengajaran dalam mengelola kegiatan pembelajaran untuk menyampaikan materi atau isi pelajaran secara sistematik sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa secara efektif dan efisien. Berdasarkan pendapat ini, konsep strategi mencakupi empat  pengertian sebagai berikut (Suparman 1993:156).

  1. Urutan kegiatan pembelajaran, yaitu urutan kegiatan guru dalam menyampaikan isi pelajaran kepada siswa.
  2. Metode pembelajaran, yaitu cara pengajar mengorganisasikan materi pelajaran dan siswa agar terjadi proses belajar secara efisien dan efektif.
  3. Media pembelajaran, yaitu peralatan dan bahan pembelajaran yang digunakan guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
  4. Waktu yang digunakan oleh guru dan siswa dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan pembelajaran.

Dengan demikian, strategi pembelajaran merupakan perpaduan dari urutan kegiatan, cara pengorganisasian materi pelajaran dan siswa, peralatan dan bahan, serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Dengan kata lain, strategi pembelajaran adalah cara yang sistematik dalam mengkomunikasikan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.

Berikut ini akan dijelaskan empat komponen utama strategi pembelajaran, yaitu urutan kegiatan pembelajaran, metode, media, dan waktu.

Urutan kegiatan pembelajaran mengandung beberapa komponen, yaitu pendahuluan, penyajian, dan penutup. Pendahuluan terdiri atas tiga langkah, yaitu a) penjelasan singkat tentang isi pembelajaran, b) penjelasan relevansi isi pelajaran baru dengan pengalaman siswa (appersepsi), dan c) penjelasan tentang tujuan pembelajaran. Penyajian terdiri atas tiga langkah, yaitu a) uraian, b) contoh, dan c) latihan. Penutup terdiri atas dua langkah, yaitu a) tes formatif dan umpan balik dan b) tindak lanjut. Bila dibagankan urutan kegiatan pembelajaran sebagai berikut.

No. Komponen Langkah Kegiatan
1 Pendahuluan a.  Penjelasan singkat tentang isi pembelajaran

b.  Penjelasan relevansi isi pelajaran baru dengan pengalaman siswa (appersepsi)

  1. Penjelasan tentang tujuan pembelajaran
2 Penyajian a. Uraian

b. Contoh

c.  Latihan

3 Penutup a. Tes formatif dan umpan balik

b. Tindak lanjut

Metode pembelajaran terdiri atas berbagai macam metode yang digunakan dalam setiap langkah pada urutan kegiatan pembelajaran. Setap langkah itu mungkin menggunakan satu atau beberapa metode atau mungkin pula beberapa langkah menggunakan metode yang sama.

Media pembelajaran berupa media cetak dan atau media audiovisual yang digunakan pada setiap langkah pada urutan kegiatan pembelajaran. Seperti halnya penggunaan metode pembelajaran, ada kemungkinan beberapa media digunakan pada suatu langkah atau satu media digunakan pada beberapa langkah.

Berikut ini dibagankan hubungan keempat komponen yang membentuk strategi pembelajaran Suparman 1993:159).

Urutan Kegiatan Pembelajaran Metode Media Waktu

Pendahuluan

Deskripsi singkat
Relevansi
TIK

Penyajian

Uraian
Contoh
Latihan

Penutup

Tes formatif
Umpan balik
Tindak lanjut

Karena itu, dalam pemilihan strategi pembelajaran ada dua pertanyaan yang harus diperhatikan. Pertama, seberapa jauh strategi yang disusun itu didukung dengan teori-teori psikologi dan teori pembelajaran yang ada? Kedua, seberapa jauh strategi yang disusun itu efektif dalam membuat siswa mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan?

2.4 Metode Pembelajaran

Istilah metode berasal dari bahasa Yunani methodos ’jalan’, ’cara’. Karena itu, metode diartikan cara melakukan sesuatu.

Dalam dunia pembelajaran, metode diartikan ’cara untuk mencapai tujuan’. Jadi, metode pembelajaran  dapat diartikan sebagai cara-cara menyeluruh (dari awal sampai akhir) dengan urutan yang sistematis berdasarkan pendekatan tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Jadi, metode merupakan cara melaksanakan pekerjaan, sedangkan pendekatan bersifat filosofis, atau bersifat aksioma.

Dengan demikian, metode bersifat prosedural.  Artinya, menggambarkan prosedur bagaimana mencapai tujuan-­tujuan pengajaran. Karena itu, tepat bila dikatakan bahwa setiap metode pembelajaran mencakup kegiatan-kegiatan sebagai bagian atau komponen metode itu. Kegiatan-kegiatan sebagai bagian atau komponen metode itu bila digambarkan dalam bentuk bagan akan tampak sebagai berikut.

Tahap Kegiatan
I. Persiapan Seleksi (pemilihan bahan ajar dengan berpedo-man kepada kurikulum.
Gradasi (penyusunan bahan, tujuan, dan seba-gainya sehingga menjadi rencana pembelajaran (RPP).
II. Pelaksanaan Presentasi awal (penyajian atau pengenalan bahan kepada siswa)
Presentasi lanjut (pemantapan, latihan).
III. Penilaian Penilaian formatif (proses pembelajaran)
Penilaian sumatif sudah di luar metode

Jadi, secara keseluruhan metode pengajaran itu mencakup tiga tahap kegiatan, yaitu persiapan (preparasi), pelaksanaan (presentasi), dan penilaian (evaluasi). Setiap tahap diisi pula oleh langkah-Iangkah kegiatan yang lebih spesifik. Dari bagan di atas terlihat bahwa tahap I (persiapan) tidak kelihatan di sekolah karena biasa dilakukan guru di rumah. Ini membuktikan bahwa metode pengajaran itu luas cakupannya, mencakup kegiatan guru yang ada di rumah sampai ke sekolah dalam rangka mencapai tujuan-tujuan yang sudah ditetapkan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode pembelajaran adalah rencana pembelajaran yang mencakup pemilihan, penentuan, dan peyusunan secara sistematis bahan yang akan diajarkan, serta kemungkinan pengadaan remidi dan bagaimana pengembangannya. Karena itu,metode pengajaran dapat dikatan sebagai cara-cara guru mencapai tujuan pengajaran dari awal sampai akhir yang terdiri atas lima kegiatan pokok. Kegiatan-kegiatan tersebut sebagai berikut:

1)   pemilihan bahan,

2)   penyusunan bahan,

3)   penyajian,

4) pemantapan, dan

5) penilaian formatif.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa secara prosedural sebenarnya semua metode pengajaran itu sama. Yang membedakannya adalah pendekatan dan prinsip-prinsip yang dianutnya. Hal itu karena keduanya, terutama pendekatan, sangat menentukan corak sebuah metode pengajaran. Metode disusun (dilaksanakan tahap-tahapnya) dengan berpedoman kepada pendekatan dan prinsip-prinsip yang dianut. Pendekatan (dan juga prinsip) inilah yang mempengaruhi setiap langkah kegiatan metode, yaitu mempengaruhi pemilihan bahan, penyusunan, pengajian, pemantapan, dan juga penilaian. Karena itu, tidak heran bila nama-nama metode pengajaran bahasa banyak yang menggunakan nama-nama pendekatannya. Contohnya metode komunikatif berasal dari pendekatan komunikatif dan metode SAS berasal dari pendekatan SAS.

Sama seperti prinsip dan pendekatan, metode pengajaran juga terbagi atas dua bagian, yaitu metode umum dan metode khusus.

a.  Metode Umum (Metode Umum Pembelajaran)

Metode umum adalah metode yang digunakan untuk semua bidang studi/mata pelajaran, milik bersama semua bidang studi. Contoh metode umum ini antara lain:

  1. metode ceramah,
  2. metode tanya jawab,
  3. metode diskusi,

d. metode ramu pendapat,

e. metode demonstrasi,

f. metode penemuan,

  1. metode inkuiri,

h. metode pemberian tugas dan resitasi, dan

i. metode latihan.

b. Metode Khusus (Metode Khusus Pembelajaran Bidang Studi Tertentu)

Metode khusus adalah metode pembelajaran tiap-tiap bidang studi, misalnya metode khusus pengajaran bahasa. Metode khusus ini tentu sangat ditentukan oleh corak bidang studi yang bersangkutan dan tujuan pengajarannya. Bidang studi yang mirip tentu akan memiliki metode khusus yang mirip pula. Metode khusus pembelajaran bahasa dapat dibagi atas dua bagian besar, yaitu:

  1. metode pengajaran bahasa pertama (bahasa ibu), dan
  2. metode pengajaran bahasa kedua atau bahasa asing.

Di antara kedua jenis metode pengajaran bahasa ini, metode pengajaran bahasa kedualah yang lebih banyak ragamnya, lebih berkembang berkat pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua atau bahasa asing di seluruh dunia. Istilah bahasa kedua dalam hal ini mencakup pula bahasa ketiga, keempat, dan seterusnya yang dipelajari oleh seseorang.

Bahasa Indonesia bagi kebanyakan orang Indonesia adalah bahasa kedua. Hal itu karena sewaktu kecil mereka telah beroleh bahasa ibu, dalam hal ini bahasa ibu. Contoh metode-metode pengajaran bahasa kedua yang pernah populer adalah

  1. metode tata bahasa terjemahan,
  2. metode langsung,
  3. metode eklektik,
  4. metode audiolingual,
  5. metode SAS (Struktural Analitik Sintetik), dan
  6. metode komunikatif.

2.5 Teknik Pembelajaran

Bila Anda hanya mengenal pendekatan dan metode saja sebenarnya  Anda baru mengetaui penyampaian pelajaran secara teoretis (Hidayat dkk. 2000: 60). Karena ada suatu alat lain yang digunakan langsung oleh guru untuk mencapai tujuan pelajaran itu, yaitu teknik.

Teknik artinya cara, yaitu cara mengerjakan atau melaksanakan sesuatu. Jadi, teknik pengajaran atau mengajar adalah daya upaya, usaha-usaha, cara-cara yang digunakan guru untuk melaksanakan pengajaran atau mengajar di kelas pada waktu tatap muka dalam rangka menyajikan dan memantapkan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran (TIK/TPK pada kurikulum sebelum 2004, indikator setelah kurikulum 2004) saat itu.

Karena itu, teknik bersifat implementasional (pelaksanaan) dan terjadinya pada tahap pelaksanaan pengajaran (penyajian dan pemantapan). Kalau kita perhatikan guru yang sedang mengajar di kelas, maka yang tampak pada kegiatan guru – murid itu adalah teknik mengajar.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa teknik pembelajaran adalah siasat atau cara yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar untuk dapat memperoleh hasil yang optimal. Teknik pembelajaran ditentukan berdasarkan metode yang digunakan, dan metode disusun berdasarkan pendekatan yang dianut. Dengan kata lain, pendekatan menjadi dasar penentuan metode, dari metode  dapat ditentukan teknik. Karena itu, teknik yang digunakan guru dapat bervariasi sekali. Untuk metode yang sama dapat digunakan teknik pembelajaran yang berbeda-beda, bergantung pada berbagai faktor.

Karena itu, teknik pembelajaran yang digunakan guru tergantung pada kemmapuan guru itu mencarai akal atau siasat agar proses belajar mengajar dapat berjalan lancar dan berhasil dengan baik. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi  penentuan teknik pembelajaran di antaranya 1) situasi kelas, 2) lingkungan, 3) kondisi siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi yang lain.

Dalam percakapan sehari-hari kata metode dan taknik ini diartikan sama, yaitu cara. Dengan demikian, guru sering mencampuradukkan antara metode pengajaran dan teknik mengajar. Kalau teknik mengajar disebut metode mengajar masih bisa diterima karena metode mencakup teknik. Sebaliknya, kalau sebuah metode pengajaran disebut teknik pengajaran jelas tidak tepat sama sekali.

Agar lebih jelas, ada baiknya kita perbandingkan metode dan teknik ini dengan menampilkan perbedaannya sebagai berikut.

No. Metode Teknik
1 Mencakup semua tahap dalam proses belajar mengajar. Hanya tertuju kepada satu tahap proses belajar mengajar, yaitu pada tahap pelaksanaan.
2 Bersifat prosedural (menggam-barkan prosedur  langkag-lang-kah menyeluruh proses belajar mengajar). Bersifat implementasional (meng-gambarkan pelaksanaan pengajaran di kelas).
3 Tidak tampak, tidak bisa dide-teksi dengan jelas dengan melihat guru yang sedang mengajar di kelas. Tampak pada saat melihat guru yang sedang mengajar di kelas.
4 Ditunjukkan untuk mencapai tujuan umum pengajaran (TIU/ TPU pada kurikulum sebelum 2004, KD pada kurikulum setelah 2004). Ditujukan untuk mencapai tujuan khusus (TIK/TPK pada kurikulum sebelum 2004, indikator untuk kurikulum setelah 2004) suatu pertemuan.
5 Jumlahnya hanya satu (satu metode khusus) untuk satu bidang studi dalam satu program. Jumlahnya sangat banyak untuk setiap pengajaran bidang studi dalam suatu program.
6 Metode pengajaran (metode khusus) ditetapkan oleh kur-ikulum, guru tinggal mengi-kutinya. Guru bebas memilih teknik asal cocok dan dapat mencapai tujuan pengajaran bahan yang sedang diajarkannya.

Seperti halanya prinsip, pendekatan, dan metode, teknik pembelajaran dapat dibagi atas dua bagian, yaitu teknik umum dan teknik khusus.

1. Teknik Umum (Teknik Umum Mengajar)

Teknik umum adalah cara-cara yang dapat digunakan untuk semua bidang studi. Teknik umum di antaranya sebagai berikut.

a. teknik ceramah

b. teknik tanya jawab

c. teknik diskusi

d. teknik ramu pendapat

e. teknik pemberian tugas

f. teknik latihan

g. teknik inkuiri

h. teknik demonstrasi

i. teknik simulasi.

Nama-nama teknik umum ini sama seperti nama-nama metode umum, namun wujudnya tentu berbeda. Misalnya ceramah. Sebagai metode, ceramah mencakup pemilihan, penyusunan, dan penyajian bahan. Bahkan, metode ceramah juga mencakup bagaimana menyajikan bahan, dan biasanya teknik ceramah itu hanya salah satu teknik yang dipakai dalam suatu pertemuan atau kegiatan belajar mengajar.

b. Teknik Khusus (Teknik Khusus Pengajaran Bidang Studi Tertentu)

Teknik  khusus adalah cara mengajarkan (menyajikan atau memantapkan) bahan-bahan pelajaran bidang studi tertentu. Teknik khusus pengajaran bahasa mempunyai ragam dan jumlah yang sangat banyak. Hal ini karena teknik mengacu kepada penyajian materi dalam lingkup yang keci!. Sebagai contoh, teknik pengajaran keterampilan berbahasa terdiri atas teknik pembelajaran membaca, teknik pembelajaran menulis, teknik pembelajaran berbicara, teknik pembelajaran menyimak, teknik pembelajaran tata bahasa, dan teknik pembelajaran kosa kata. Pembelajaran membaca terbagi pula atas teknik pembelajaran membaca permulaan dan teknik pembelajaran membaca lanjut. Masing-masing terdiri pula atas banyak macam. Begitulah, teknik khusus itu banyak sekali macamnya karena teknik khusus itu berhubungan dengan rincian bahan pembelajaran.

Dalam setiap kegiatan belajar mengajar, misalnya guru bahasa Indonesia, hanya menggunakan satu metode, katakanlah metode khusus pembelajaran bahasa (yang ditunjang sejum!ah pendekatan dan prinsip), tetapi menggunakan sejumlah teknik, baik umum maupun khusus. Teknik ini setiap saat divariasikan.

2.6 Model Pembelajaran

1. Pengertian Model Pembelajaran

Istilah model pembelajaran sering dimaknai sama dengan pendekatan pembelajaran. Bahkan kadang suatu model pembelajaran diberi nama sama  dengan nama pendekatan pembelajaran. Sebenarnya model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada makna pendekatan, strategi, metode, dan teknik.

Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Dengan kata lain, model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau pola yang dapat kita gunakan untuk mendesain pola-pola mengajar secara tatap muka di dalam kelas dan untuk menentukan material/perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, media (film-film), tipe-tipe, program-program media komputer, dan kurikulum (sebagai kursus untuk belajar).

Hal ini sejalan dengan pendapat Joyce (1992) “Earch model guides us as we design instruction to helf students achieve various objectis” . Artinya, setiap model mengarahkan kita dalam merancang pembelajaran untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Sejalan dengan Joyce, Joyce dan Weil (1992:1) menyatakan “Models of teaching are really models of learning. As we help student acquire information, ideas, skills, value, ways of thinking and means of expessing themselves, we are also teaching them how to learn”. Artinya, model pembelajaran merupakan model belajar. Dengan model tersebut guru dapat membantu siswa mendapatkan atau memperoleh informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide diri sendiri. Selain itu, model belajar juga mengajarkan bagaimana mereka belajar.

Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran (kompetensi pembelajaran), dan pengelolaan kelas (Kardi dan Nur 2000:8). Hal ini sejalan dengan pendapat Arend (1997) “The term teaching model refers to a particular aproach to instruction that includes its goals, sintax, enviroment, and management system”. Artinya, model pembelajaran mengarah pada suatu pendekatan pembelajaran tertentu, termasuk tujuannya, langkah-langkahnya (syntax), lingkungannya, dan sistem pengelolaannya.

Arend (1997) memilih istilah model pembelajaran didasarkan pada dua alasan penting. Pertama, istilah model memiliki makna yang lebih luas daripada pendekatan, strategi, metode, dan teknik. Kedua, model dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting, apakah yang dibicarakan tentang mengajar di kelas, atau praktik mengawasi anak-anak.

Atas dasar pendapat di atas, model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai berikut. Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur sistematik (teratur) dalam pengorganisasian kegiatan (pengalaman) belajar untuk mencapai tujuan belajar (kompetensi belajar). Dengan kata lain, model pembelajaran adalah rancangan kegiatan belajar agar pelaksanaan KBM dapat berjalan dengan baik, menarik, mudah dipahami, dan sesuai dengan urutan yang lagis.

2. Fungsi Model Pembelajaran

Fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman perancangan dan pelaksanaan  pembelajaran. Karena itu, pemilihan model sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan dibelajarkan, tujuan (kompetensi) yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, serta tingkat kemampuan peserta didik.

3. Ciri Model Pembelajaran

Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas dari  pendekatan, strategi, metode, dan teknik.  Karena itu, suatu rancangan pembelajaran atau rencana pembelajaran disebut menggunakan model pembelajaran apabila mempunyai empat ciri khusus, yaitu (a) rasional teoretik yang logis yang disusun oleh penciptanya atau pengembangnya, (b) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai), (c) tingkah laku yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil, dan (d)  lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai (Kardi dan Nur dalam Trianto 2007).

Suatu model pembelajaran akan memuat antara lain: (a) deskripsi lingkungan  belajar, (b) pendekatan, metode, teknik, dan strategi, (c) manfaat pembelajaran, (d) materi pembelajaran (kurikulum), (e) media, dan (f) desain pembelajaran.

4. Macam Model Pembelajaran

Model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajaran, sintaknya (langkah-langkahnya), dan sifat lingkungan belajarnya. Arends (1997) menyebutkan enam model pembelajaran yang sering dan praktis digunakan guru dalam pembelajaran, yaitu: presentasi, pengajaran langsung (direct instruction), pengajaran konsep, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berdasarkan masalah (problem base instruction), dan diskusi kelas.

Ada banyak model pembelajaran yang dapat digunakan dalam implementasi pembelajaran di antaranya sebagai berikut (lihat Karli dan Yuliariatiningsih 2002).

(a)         model pembelajaran kontekstual (CTL),

(b)         model pembelajaran berdasarkan masalah,

(c)         model pembelajaran konstruktivisme,

(d)         model dengan pendekatan lingkungan,

(e)         model pengajaran langsung,

(f)           model pembelajarn terpadu, dan

(g)         model pembelajaran interaktif.

5.  Cara Memilih Model Pembelajaran

Dalam pembelajarkan suatu materi (tujuan/kompetensi) tertentu, tidak ada satu model pembelajaran yang lebih baik dari model pembelajaran lainnya. Artinya, setiap model pembelajaran harus disesuaikan dengan konsep yang lebih cocok dan dapat dipadukan dengan model pembelajaran yang lain untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, dalam memilih suatu model pembelajaran harus mempertimbangkan antara lain materi pelajaran, jam pelajaran, tingkat perkembangan kognitif siswa, lingkungan belajar, dan fasilitas penunjang yang tersedia. Dengan cara itu, tujuan (kompetensi) pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai.

Hal itu sejalan dengan pemikiran Arends (1997:7) yaitu model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pengajaran, tahap-tahapkegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan engelolaan kelas. Hal itu dengan harapan bahwa setiap model pembelajaran dapat  mengarahkan kita mendesain pembelajaran untuk membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa dalam pemilihan model pembelajaran sangat dipengaruhi oleh 1) sifat dari materi yang akan diajarkan, 2) tujuan akan dicapai dalam pengajaran, 3) tingkat kemampuan peserta didik, 4) jam pelajaran (waktu pelajaran), 5) lingkungan belajar, dan 6) fasilitas penunjang yang tersedia.

Kualitas model pembelajaran dapat dilihat dari dua aspek, yaitu proses dan produk. Aspek proses mengacu apakah pembelajaran mampu menciptakan situasi belajar yang menyenangkan  (joyful learning) serta mendorong siswa  untuk aktif belajar dan berpikir kreatif.  Aspek produk mengacu apakah pembelajaran mampu mencapai tujuan (kompetensi), yaitu meningkatkan kemampuan siswa sesuai dengan standar kemampuan atau kompetensi yang ditentukan. Dalam hal ini sebelum melihat hasilnya, terlebih dahulu aspek proses sudah dapat dipastikan berlangsung baik.

Karena itu, setiap model memerlukan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang berbeda. Setiap model memberikan peran yang berbeda kepada siswa, pada ruang fisik, dan pada sistem sosial kelas. Sifat materi dari sistem saraf (penerimaan/proses berpikir) banyak konsep dan informasi-informasi dari teks buku bacaan materi ajar siswa, di samping banyak kegiatan pengamatan gambar-gambar. Tujuan yang akan dicapai meliputi aspek kognitif (produk dan proses) dari kegiatan pemahaman bacaan dan lembar kegiatan siswa (Trianto 2007: 5-6).

Berikut ini diberikan contoh model pembelajaran yang mengaitkan antara tema, subtema, pembelajaran menjadi unit kegiatan pembelajaran yang terpadu dan berkesinambungan.

Contoh 1

Topik/Tema   : Lingkungan

Subtopik         : Beberapa subtopik yang dapat dipilih

  1. Kebersihan lingkungan
  2. Pencemaran lingkungan
  3. Ketertiban lingkungan
  4. Peran pemuda dalam melestarikan lingkungan

Aspek keterampilan bahasa  yang dikembangkan

1. Membaca (menangkap isi bacaan)

2. Menulis (menggunakan kata baru dalam konteks)

3. Berwawancara

4. Menulis (menulis karangan atau surat)

5. Membaca (membaca cerpen kemudian membicarakan hal-hal yang menarik)

Apabila subtopik yang dipilih adalah kebersihan lingkungan maka pengembangannya menjadi program belajar dapat berwujud, misalnya, seperti berikut ini.

  1. Membaca bacaan tentang pentingnya kebersihan lingkungan
  2. Menyusun dan menjawab pertanyaaan tentang isi bacaan
  3. Mencari kata sulit, sinonim, dan lawan kata.
  4. Menggunakan kata sulit dalam kalimat
  5. Melakukan pengamatan tentang masalah kebersihan di lingkungan setempat
  6. Mencatat hasil pengamatan
  7. Membuat daftar pertanyaan tentang masalah kebersihan lingkungan
  8. Berwawancara dengan penduduk setempat tentang kebersihan lingkungan
  9. Mencatat dan membuat laporan hasil wawancara
  10. Menulis karangan singkat tentang masalah kebersihan lingkungan
  11. menulis surat pembaca atau surat kepada Kepala Desa mengenai kebersihan
  12. Membaca cerpen dan mendiskusikan hal-hal yang menarik dalam cerpen itu. Misalnya tentang pelukisan atau suasana.

Contoh 2

Tema              : Teknologi

Subtema        : Beberapa anak tema yang dapat dipilih

1. Teknologi untuk kepentingan sehari-hari

2. Teknologi dalam rumah tangga

3. Teknologi di pedesaan

4. Manfaat teknologi untuk meningkatkan produksi

Aspek keterampilan bahasa yang dikembangkan

1. Menyimak penjelasan dan menangkap maksudnya

2. Mengamati

3. Mencatat sesuatu yang diamati

4. Menjelaskan cara kerja atau atau cara menggunakan sesuatu alat

5. Menulis karangan

Apabila yang dipilih teknologi dalam rumah tangga maka pengembangan model pembelajarannya dapat berwujud sebagai berikut.

  1. 1. Menyimak penjelasan apa yang dimaksud dengan teknologi dan manfaatnya bagi manusia.
  2. 2. Menceritakan kembali secara lisan hasil simakannya.
  3. 3. Mencatat manfaat tiap macam teknologi.
  4. 4. Menjelaskan apa akibatnya jika tidak ada teknologi.
  5. 5. Menjelaskan bagaimana cara kerja dan cara menggunakan alat rumah tangga dan merawatnya (tertulis).
  6. 6. Membuat karangan fiksi, misalnya apa yang terjadi apabila teknologi tidak berkembang seperti sekarang.

PUSTAKA RUJUKAN

Arends, R. 1997. Classroom Instruction Management. New York: The Mc Graw-Hill Company.

Badudu, J.S. 1996. Pintar Berbahasa Indonesia 1: Petunjuk Guru Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama. Jakarta: Balai Pustaka.

Hastuti, Sri. 1996/1997. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen, Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D III.

Hidayat, Kosadi, dkk. 2000. Seri Pengajaran Bahasa Indonesia I: Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Tanpa Kota: Putra Abardin.

Karli, Hilda dan Yuliariatiningsih, Margaretha Sri. 2002. Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi: Model-model Pembelajaran.

Sapani, H. Suardi, dkk. 1997/1998. Teori Pembelajaran Bahasa. Jakarta: Dirjen Dikdasmen, Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D III

Suparman, Atwi. 1993. Desain Intruksional. Jakarta: PAU untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional Dirjen Dikti.

Syafi’i, Imam. 1994. Terampil Berbahasa Indonesia 1: Petunjuk Guru Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Umum Kelas 1. Jakarta: Balai Pustaka.

Syamsudin, Hifna. 1999. ”Teori Belajar dalam Buku Teks”,  Bahan Pelatihan Penulisan Buku Teks yang diselenggarakan atas Kerjasama SEAMEO-RECSAM-DEPDIKNAS di Universitas Negeri Semarang tanggal 22 Nopember – 24 Desember 1999.

Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.



Berikut ini kami unggah modul-modul yang digunakan dalam Pelatihan Terintegrasi Pembelajaran Bahasa Inggris berbasis Teks. Biasanya yang dikirim ke SMP-SMP adalah buku hard covernya. Semoga bermanfaat.

A. Landasan Filosofis Pembelajaran Bahasa

TOT-landasan-filosofis

TOT-Media-Landasan Filosofis (LCD)

B. Pembelajaran Berbasis Teks

TEKS PROSEDUR

TEKS DESKRIPTIF

TEKS NARATIF

Recount1

Recount

Report

C.  Penilaian Pembelajaran

Pendahuluan

Penilaian Kelas

Evaluasi Pembelajaran

D. Media Pembelajaran

Media Pembelajaran Bahasa Inggris

E.  Ungkapan Berbahasa

Scaffolding Talk dalam pembelajaran bahasa Inggris

ungkapan bahasa Inggris (transp)

F. Landasan Kurikulum Bahasa Inggris

Revised-naskah akademik kurikulum bahasa Inggris SMP


Inquiry based learning

MEMBERDAYAKAN PEMELAJAR MELALUI

INQUIRY BASED TEACHING[1]

Joko Nurkamto

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris

FKIP Universitas Sebelas Maret


[1] Makalah yang disampaikan dalam Lokakarya Pengembangan Metode Pengajaran Discovery and Presentation di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 28 – 29 April 2005.

1. Pendahuluan

Dilihat dari kuantitas, pembangunan pendidikan di Indonesia dapat dikatakan berhasil. Dalam tiga dasa warsa terakhir (antara tahun 1970-an hingga 2000-an) jumlah siswa/mahasiswa meningkat tajam. Jumlah siswa sekolah dasar (SD) meningkat sekitar 14 juta orang (dari 13 juta menjadi 27 juta); jumlah siswa sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) meningkat sekitar 6,5 juta (dari 1,5 juta menjadi 8 juta); jumlah siswa sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) meningkat sekitar 5 juta (dari 1 juta menjadi 6 juta); dan jumlah mahasiswa meningkat sekitar 3 juta (dari 0,5 juta menjadi 3 juta).

Namun demikian, dilihat dari kualitas, pembangunan pendidikan di Indonesia masih memprihatinkan. Sebagai gambaran, tidak ada satu pun perguruan tinggi (PT) Indonesia masuk dalam 500 PT terbaik dunia, sementara Amerika Serikat memasukkan 159 buah, Inggris 42 buah, Cina 9 buah, Hongkong 5 buah, dan Singapura 2 buah. Demikian juga, tidak ada satu pun PT Indonesia masuk dalam deretan 100 PT terbaik Asia, sementara Jepang dominan dengan memasukkan 36 buah, Korea Selatan 9 buah, India 3 buah, dan Singapura 2 buah (Sunardi, 2004). Pada tahun 1999 perguruan tinggi terkemuka Indonesia seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah Mada (UGM), dan Universitas Diponegoro (UNDIP) masing-masing hanya menduduki peringkat 70, 67, dan 77 di antara 104 perguruan tinggi di Asia (Djagal W. Marseno, 2004).

Rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia juga tercermin dari posisi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang hanya menduduki peringkat 102 dari 174 negara. Peringkat 1, 2, dan 3 masing-masing diduduki oleh Kanada, Amerika, dan Jepang. Singapura dan Malaisia, tetangga kita, masing-masing menduduki peringkat 34 dan 53.  Jumlah doktor Indonesia juga hanya 65 orang per satu juta penduduk, sementara negara sekecil Israil memiliki 16.500 orang, Jepang 6.500 orang, Amerika 6.500 orang, dan Jerman 4.000 orang (Djagal W. Marseno, 2004).

Pertanyaan yang muncul adalah mengapa kualitas pendidikan di Indonesia rendah dan bagaimana meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Sudah barang pasti banyak faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan. Dalam kaitan ini, Soedijarto (1993) menyatakan bahwa mutu pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas proses belajar-mengajar; dan oleh karenanya, apabila terjadi penurunan mutu pendidikan, yang pertama kali harus dikaji adalah kualitas proses belajar-mengajar tersebut. Hal itu karena bentuk konkret pendidikan adalah proses belajar-mengajar.

Soedijarto, Memantapkan Sisten Pendidikan Nasional (Jakar-ta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 1993), pp.27-28.

Kualitas proses belajar-mengajar ditentukan antara lain oleh pendekatan atau metode pengajaran yang digunakan oleh guru. Dulu — mungkin sekarang masih — guru sering menggunakan metode ceramah ketika mengajar; guru aktif berbicara di depan kelas sedangkan pemelajar mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru itu sambil, bilamana perlu, membuat catatan. Metode yang dimikian jelas tidak membuat pemelajar belajar secara optimal. Akhir-akhir ini dikenalkan berbagai macam pendekatan atau metode mengajar yang mampu memberdayakan  pemelajar. Salah satu di antaranya adalah metode inquiry (inquiry-based teaching). Makalah ini akan membahas masalah tersebut. Pembicaraan metode tersebut bersifat umum, yang dapat diterapkan untuk berbagai mata kuliah atau bidang studi. Namun demikian, contoh-contoh dalam pengajaran bahasa (Inggris) akan diberikan.

2. Konsep Belajar

Menurut Raka Joni (1993) belajar berarti mengubah pengetahuan dan pemahaman secara terus menerus yang dilakukan oleh pemelajar melalui proses pemberian makna terhadap pengalamannya. Kebermaknaan pengalaman tersebut memiliki dua sisi, yaitu sisi intelektual dan sisi emosional. Kebermaknaan intelektual dicapai melalui dua proses, yaitu proses kognisi dan proses meta-kognisi. Proses kognisi mengacu pada terasimilasikannya isi pengalaman ke dalam struktur kognitif yang telah ada atau termodifikasinya struktur kognitif untuk mengakomodasikan isi pengalaman yang baru. Proses asimilasi kognitif terjadi apabila struktur kognitif yang telah ada mampu menampung isi pengalaman yang baru, sedangkan struktur akomodasi terjadi apabila isi pengalaman yang baru tidak dapat ditampung dalam struktur kognitif yang telah ada. Sementara itu, proses meta-kognisi mengacu pada kesadaran pemelajar atas proses kognisi yang sedang dilakukannya serta kemampuannya mengendalikan proses kognisinya itu. Dengan kata lain, di samping menangkap pesan kegiatan belajar yang tengah dihayatinya, pemelajar juga membentuk kemampuan untuk belajar (learning how to learn).

Sisi emosional dari kebermaknaan pengalaman mengacu pada rasa memiliki pengalaman itu oleh pemelajar. Hal ini ditandai oleh kesadaran pemelajar bahwa isi pengalaman tersebut penting baginya, baik pada saat ia mengalaminya maupun untuk waktu-waktu yang akan datang. Penghayatan terhadap pentingnya isi pengalaman tersebut akan memotivasi pemelajar melakukan aktivitas yang merupakan bagian dari pengalaman belajarnya itu. Inilah yang dimaksud dengan motivasi intrinsik. Motivasi semacam itu menjadi landasan bagi terbentuknya kemampuan serta kebiasaan belajar secara mandiri (self-directed learning) (Raka Joni, 1993).

Dalam konteks pembelajaran bahasa, belajar bahasa berarti belajar menggunakan bahasa itu untuk berkomunikasi, yaitu saling tukar pesan (message) antara dua orang atau lebih. Satu orang berperan sebagai pengirim pesan dan yang lain berperan sebagai penerima pesan. Pesan tersebut dapat berbentuk  pertanyaan, informasi, pujian, perintah,  sapaan, dan lain-lainnya. Dengan demikian, belajar berbahasa berarti belajar bertanya, memberi informasi, memuji, memerintah, menyapa, dan lain-lain dalam bahasa target (Widdowson, 1987). Pandangan tersebut berbeda dengan pandangan yang dikemukakan oleh Kaum Strukturalis bahwa mempelajari  bahasa berarti mempelajari kaidah atau sistem bahasa  yang antara lain mencakup struktur kata, struktur kalimat, kosakata, makna kata/kalimat, ejaan, dan lafal (Nunan, 1997).

Pandangan senada dikemukakan oleh Jane Willis (1996), yang mengatakan bahwa dalam mempelajari bahasa (terutama bahasa asing) yang terpenting adalah  menggunakan bahasa itu. Dia menunjuk orang-orang yang sering bepergian ke luar negeri,  orang-orang yang bekerja di luar negeri, atau orang-orang yang menjalin kerja sama dengan penutur asli bahasa target sebagai contoh. Mereka memperlihatkan kemampuan komunikatif yang memadai meskipun mereka tidak pernah secara formal mempelajari kaidah bahasa target tersebut di sekolah. Mereka memiliki kemampuan komunikatif yang cukup baik karena mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat berkomunukasi dengan menggunakan bahasa target, menerima pajanan (exposure) yang cukup memadai, dan memiliki kesempatan untuk menggunakan bahasa target tersebut. Menurutnya tanpa pengajaran formal pemelajaran dapat berlangsung karena pengajaran bukan satu-satunya fungsi pemelajaran.

Penggunaan bahasa sebagaimana dimaksud di atas dapat berbentuk menyimak, berbicara, membaca, atau menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut berkaitan satu sama lain. Menyimak berkaitan dengan berbicara karena keduanya menggunakan media lisan; sedangkan membaca berkaitan dengan menulis karena keduanya menggunakan media visual. Sementara itu, menyimak berhubungan dengan membaca karena keduanya merupakan keterampilan reseptif; sedangkan berbicara berhubungan dengan menulis karena keduanya merupakan keterampilan produktif (Widdowson, 1983). Dalam prakteknya keempat keterampilan berbahasa tersebut tidak digunakan satu per satu secara terpisah tetapi digunakan secara simultan dan terpadu. Kegiatan berbicara, misalnya, mengimplikasikan perlunya kegiatan menyimak; demikian juga, kegiatan menulis mengimplikasikan perlunya kegiatan membaca (Brown, 2000)

3. Konsep Mengajar

Menurut Raka Joni (1993) mengajar adalah menggugah dan membantu terjadinya gejala belajar di kalangan pemelajar. Pendapat senada dikemukakan oleh Brown (2000), yang mengatakan bahwa mengajar adalah memberikan bimbingan dan fasilitas yang memungkinkan pemelajar dapat belajar. Sementara itu, Bowden dan Ference (1998) mengatakan bahwa mengajar bukan berarti mentransfer pengetahuan kepada pemelajar, tetapi membantu pemelajar mengembangkan pengetahuan mereka. Tugas guru adalah merancang kesempatan belajar yang mampu menghadapkan pemelajar pada pelbagai persoalan yang menuntut mereka mengidentifikasi dan memanipulasi variabel-variabel kritis untuk dapat mencapai hasil yang diharapkan. John Bowden dan Marton Ference, The University of Learning : Beyond Quality and Competence in Higher Education (London: Kogan Page, 1998), http://www. unca.edu/et/br110698.html.

Pendapat para ahli tentang mengajar di atas mengandung dua implikasi utama. Pertama, sebagai pengajar guru berperan hanya sebagai orang yang membantu pemelajar belajar. Bantuan tersebut berbentuk pemberian motivasi dan bimbingan belajar serta penyediaan fasilitas belajar. Pemberian motivasi berkenaan dengan upaya mendorong pemelajar untuk belajar, baik melalui penyadaran (motivasi intrinsik) maupun melalui sistem ganjaran dan hukuman (motivasi ekstrinsik). Pemberian bimbingan mengacu pada pemberian arah agar pemelajar dapat belajar secara benar. Ini dapat dilakukan antara lain dengan menjelaskan tujuan pelajaran, menjelaskan hakikat tugas (tasks) yang mereka kerjakan, dan menjelaskan strategi pengerjaan tugas tersebut. Penyediaan fasilitas belajar berkenaan dengan upaya guru mempermudah terjadinya kegiatan belajar. Ini mencakup kegiatan yang luas seperti merancang kesempatan belajar, menciptakan kondisi yang kondusif bagi terjadinya pemelajaran, dan menyediakan sarana belajar (Richards dan Rodgers, 2001).

Writing Lesson Plans : Teachers’ Roles (www. huntington.edu/education/Lessonplanning/roles.html).

Kedua, yang bertanggung jawab atas terjadinya kegiatan belajar adalah pemelajar. Meskipun guru aktif mengajar, proses pemelajaran tidak terjadi apabila pemelajar tidak mau belajar. Di sini pemelajar menjadi subjek pemelajaran yang aktif dan mandiri (autonomous learner). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cotteral dan Crabbe (1992) terhadap pemelajar bahasa menunjukkan bahwa pemelajar yang mandiri adalah pemelajar yang (1) merencanakan dan mengorganisasi sendiri pengalaman belajarnya, (2) mengetahui bidang-bidang yang menjadi fokus pemelajaran, (3) memantau sendiri kemajuan belajarnya, (4) mencari kesempatan untuk berlatih, (5) memiliki antusiasme terhadap bahasa dan belajar bahasa, dan (6) memiliki kepercayaan diri untuk menggunakan bahasa dan mencari bantuan apabila diperlukan.

Uraian tentang konsep mengajar di atas menyanggah pandangan tradisional yang mengatakan bahwa mengajar adalah menyalurkan pengetahuan kepada pemelajar. Pemelajar dianggap tabung kosong yang siap diisi oleh guru. Pemelajar duduk dengan tenang di bangku yang ditata berjajar sambil mendengarkan keterangan guru, sedangkan guru sibuk di depan kelas menyampaikan materi pelajaran. Konsep mengajar mutakhir sebagaimana diuraian di atas juga mengakibatkan berubahnya peran guru, dari sebagai sumber informasi tunggal menjadi fasilitator pemelajaran.

Dalam konteks pembelajaran bahasa, mengajar bahasa berarti membantu pemelajar belajar bahasa. Guru membantu siswa belajar menggunakan bahasa target agar siswa memiliki kemampuan komunikatif yang memadai. Dengan kata lain, tujuan pembelajaran bahasa adalah mengembangkan kemampuan komunikatif siswa. Menurut Hymes (1987)  kemampuan komunikatif mengacu pada tidak saja pengetahuan tentang kaidah-kaidah kebahasaan (tacit knowledge) untuk mengkonstruksi kalimat-kalimat yang gramatikal, tetapi juga  kemampuan menggunakan (ability to use) kalimat-kalimat itu untuk memahami dan/atau mengungkapkan makna. Kedua hal tersebut terkait dengan empat parameter, yaitu kegramatikalan (grammaticality), kelayakan (feasibility), kesesuaian dengan konteks (appropriacy), dan kemungkinan yang terjadi dalam sistem komunikasi (accepted usage).D.H.Hymes, “On Communicative Competence,” The Communica­tive Approach in Language Teaching (ed). C.J. Brumfit dan K. Johnson,  (Oxford:  Oxford  University  Press,  1987), pp. 18-21.

parameter Hymes tersebut mempunyai cakupan yang luas karena dalam  kemampuan komunikatif tidak hanya bahasa yang gramatikal yang harus diperhatikan,  tetapi  juga bahasa yang  sesuai dengan kemampuan psikologis pembicara-pendengar, bahasa yang sesuai dengan konteks pembicaraan, dan bahasa yang benar-benar digunakan dalam masyarakat meskipun kadang-kadang tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan.

Brown, op.cit., pp.7-8.

Menurut Allwright (1987), apabila kemampuan berkomunikasi dianggap sebagai tujuan akhir pembelajaran bahasa, maka kemampuan tersebut hendaknya tidak hanya dipandang sebagai hasil (product) tetapi juga sebagai proses. Implikasinya adalah bahwa kemampuan berkomunikasi harus diajarkan. Menurutnya dengan diajarkannya kemampuan berkomunikasi maka akan tercakup pula kemampuan linguistik karena kemampuan linguistik merupakan  bagian dari  kemampuan  berkomunikasi;  tetapi dengan diajarkannya kemampuan linguistik secara komprehensif maka sebagian besar elemen pembentuk kemampuan berkomunikasi tidak akan tersentuh. Itulah sebabnya, mengajarkan sistem dan kaidah-kaidah bahasa secara intensif tidak dapat menja­min terbentuknya kemampuan berkomunikasi.

5. Pengajaran yang Efektif

Pengajaran yang efektif adalah pengajaran yang mampu melahirkan proses belajar yang berkualitas, yaitu suatu proses belajar yang melibatkan partisipasi dan penghayatan pemelajar secara intensif. Makin intensif partisipasi dan penghayatan pemelajar terhadap pengalaman belajarnya, makin tinggilah kualitas proses belajar yang dimaksud (Soedijarto, 1993). Soedijarto, Memantapkan Sisten Pendidikan Nasional (Jakar-ta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 1993), pp.27-28.

Tingkat partisipasi dan penghayatan pemelajar yang tinggi dalam kegiatan belajar-mengajar dapat dicapai apabila mereka memiliki kesempatan untuk secara langsung (1) melakukan berbagai bentuk pengkajian untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman, (2) berlatih berbagai keterampilan kognitif, personal-sosial, dan psikomotorik, baik yang terbentuk sebagai efek langsung pengajaran maupun sebagai dampak pengiring pelaksanaan berbagai kegiatan belajar yang memiliki sasaran pembentukan utama lain, dan (3) menghayati berbagai peristiwa sarat nilai baik secara pasif dalam bentuk pengamatan dan pengkajian maupun secara aktif melalui keterlibatan langsung di dalam berbagai kegiatan serta peristiwa sarat nilai (Raka Joni, 1993). Kegiatan belajar-mengajar yang sebagian besar waktunya digunakan oleh pemelajar untuk mendengarkan dan mencatat penjelasan guru jelas bukan merupakan kegiatan belajar-mengajar yang berkualitas. T. Raka Joni, “Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif: Acuan Konseptual Peningkatan Mutu Kegiatan Belajar-Mengajar,” Pendekatan Pembelajaran: Acuan Konseptual Pengelolaan Ke-giatan  Belajar Mengajar di Sekolah, (ed). Conny R. Semia­wan dan T.Raka Joni (Jakarta: Konsorsium Ilmu Pendidikan, Dit-jen Dikti, Depdikbud, 1993), p.50.

Tingkat partisipasi pemelajar dalam proses belajar banyak ditentukan oleh upaya guru sebagai pemimpin kelas dalam mendinamisasikan mereka.  Hal itu tergantung antara lain pada metode mengajar yang digunakan.  Yang dimaksud metode mengajar dalam hubungan ini meliputi pendekatan, rancangan, dan prosedur pengajaran. Pendekatan pengajaran berkenaan dengan hakikat materi pelajaran dan teori belajar. Rancangan pengajaran berkenaan dengan aspek-aspek seperti tujuan pengajaran, model kurikulum, jenis dan prosedur kegiatan belajar-mengajar (KBM), jenis dan fungsi materi pelajaran dalam KBM, peran pemelajar dalam KBM, dan peran guru dalam KBM. Sementara itu, prosedur pengajaran berkenaan dengan teknik-teknik yang digunakan guru dalam pengajaran di dalam kelas. Ketiga unsur metode di atas berhubungan secara hierarkhis. Pendekatan mendasari rancangan dan rancangan mendasari prosedur pengajaran. Dengan demikian, implementasi teknik-teknik pengajaran di dalam kelas harus sejalan dengan rancangan dan pendekatan pengajaran yang digunakan (Richards dan Rodgers, 2001).

Pada masa lampau pengajaran banyak dilakukan dengan metode ceramah.  Guru menjelaskan suatu konsep dan pemelajar mendengarkan sambil mencatat penjelasan guru tersebut. Penerapan metode ceramah dalam pengajaran menghasilkan corak belajar-mengajar yang menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber informasi di kelas itu dan menempatkan pemelajar sebagai pihak yang menerima informasi tersebut tanpa memperoleh kesempatan untuk mengkritisi informasi yang diterimanya itu. Cara mengajar yang demikian jelas tidak sejalan dengan konsep mengajar sebagaiamana telah diuraikan di atas.

Dalam dua dasawarsa terakhir ini telah dikembangkan suatu metode pengajaran yang mengarah pada keterampilan proses, yaitu suatu metode  yang memungkinkan pemelajar belajar bagaimana mempelajari sesuatu (meta-kognisi).  Yang menjadi penekanan adalah proses belajar tentang suatu konsep atau kejadian di lingkungan sekitarnya. Untuk itu diperlukan pemilihan konsep atau keterampilan yang dianggap penting berdasarkan kriteria tertentu sesuai dengan karakteristik bidang yang dikaji. Alasan yang melandasi dikenalkannya metode tersebut adalah bahwa hal itu merupakan cara yang khas dalam menghadapi pengalaman yang berkaitan dengan semua segi kehidupan.  Keterampilan proses tersebut membantu pemelajar membentuk dan mengembangkan konsep secara wajar dan sekaligus memberi kemungkinan untuk menemukan sendiri konsep tersebut.  Hal itu pada gilirannya memberikan sumbangan bagi perkembangan mental mereka dalam mengaktualisasikan diri.  Di samping itu, dengan keterampilan itu pemelajar dibekali dengan peranti untuk memahami dan mengembangkan konsep yang saat ini belum diketahuinya, serta dibantu memahami konsep abstrak yang apabila hanya diceritakan kepada mereka belum tentu mena­rik perhatian mereka untuk menguasainya (Semiawan, 1991).

Penggunaan pendekatan proses dalam pengajaran dapat memberikan sumbangan nyata kepada upaya pencapaian tujuan pendidikan yang utuh. Sebagaimana diketahui, menurut wawasan kependidikan, setiap episode belajar-mengajar hendaknya sekaligus merupakan perwujudan pendidikan. Artinya, selain menyampaikan pesan khusus yang merupakan bagian dari bahan ajar yang sedang dikaji, seorang guru harus secara sadar dan sistematis memanfaatkan setiap momentum dalam episode belajar-mengajar tersebut sebagai sarana menyampaikan pesan pendidikan. Sumbangan yang dimaksud adalah (1) hasil langsung pengajaran dan (2) dampak pengiring, yaitu sasaran pembentukan yang terwujud secara tidak langsung sebagai akibat dari keterlibatan pemelajar di dalam akumulasi pengalaman dan penghayatan yang dirancang untuk tujuan utama lainnya (Raka Joni, 1992). Sebagai ilustrasi, guru yang mengajarkan topik erosi dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan metode discovery learning bukan saja menjadikan pemelajar memahami konsep erosi, tetapi juga menjadikan mereka orang yang mandiri dan kreatif. Dalam konteks ini, pemahaman pemelajar terhadap konsep erosi merupakan hasil langsung pengajaran, sedangkan sikap mandiri dan kreatif merupakan dampak pengiring digunakannya metode discovery learning tersebut.

6. Inquiry Based Teaching (IBT)

Dari bagian akhir uraian di atas tampak jelas bahwa pembelajaran yang berdasarkan discovery/inquiry jauh lebih baik dibandingkan dengan cara-cara lama. Dalam bagian ini akan dibahas lebih lanjut konsep metode pengajaran tersebut. Pembahasan tersebut meliputi (a) pengertian, (b) manfaat, (3) tahapan, (4) tipe, dan (5) contoh aplikasi dalam pembelajaran bahasa.

a. Pengertian IBT

Inquiry adalah kata yang memiliki banyak makna bagi banyak orang dalam berbagai konteks yang berbeda. Dalam bidang sains, inquiry berarti seni atau ilmu bertanya tentang alam dan menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Inquiry dilakukan melalui langkah-langkah seperti observasi dan pengukuran, hipotesis, interpretasi, dan penyusunan teori. Inquiry memerlukan eksperimentasi, refleksi, dan pengenalan terhadap kekuatan dan kelemahan metode yang digunakan (Hebrank, 2000). Pendapat senada dikemukakan oleh Budnitz (2003), yang mengatakan bahwa inquiry berarti mengajukan pertanyaan yang dapat dijawab melalui justifikasi dan verifikasi.

Dalam bidang pembelajaraan, dikenal pendekatan pemelajaran yang disebut Inquiry-Based Learning (IBL) dan pendekatan pengajaran yang disebut Inquiry-Based Teaching (IBT). IBL adalah cara memperoleh pengetahuan melalui proses inquiry (Hebrank, 2000). Sementara itu, IBT adalah sebuah pendekatan pengajaran yang memandatkan guru untuk menciptakan situasi yang memposisikan pemelajar sebagai ilmuwan. Pemelajar mengambil inisiatif untuk mempertanyakan suatu fenomena, mengajukan hipotesis, melakukan observasi di lapangan, menganalisis data, dan menarik simpulan, serta menjelaskan temuannya itu kepada orang lain. Jawaban yang diharapkan atas pertanyaan tersebut tidak bersifat tunggal tetapi jamak. Yang penting adalah bahwa dalam mencari jawaban, pemelajar bekerja dengan menggunakan standar tertentu yang jelas sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, dimungkinkan pemelajar mengintegrasikan dan mensinergikan berbagai disiplin ilmu dan/atau metode yang berbeda (Budnitz, 2003).

b. Manfaat IBT

IBT  bermanfaat bagi pemelajar karena beberapa alasan sebagai berikut: (1) materi pelajaran yang dipelajari terkait dengan pengalaman sehari-hari pemelajar, yang kadangkala menimbulkan keingintahuan mereka; (2) IBT dapat membuat pemelajar aktif karena IBT meminimalisir metode ceramah; (3) IBT dapat mengakomodasi perbedaan perkembangan pemelajar; (4) metode penilaian pada IBT memungkinkan pemelajar memperlihatkan kompetensi dengan berbagai cara; (5) IBT dapat mensinergikan berbagai mata pelajaran dan metode mengajar/belajar yang berbeda; (6) IBT dapat mengembangkan kompetensi komunikasi pemelajar karena mereka harus menyampaikan temuannya dengan cara yang mudah dipahami; (7) IBT dapat mengembangkan berpikir kritis pemelajar; dan (8) akhirnya, IBT dapat membuat pemelajar lebih mandiri (Hebrank, 2000).

Bagi guru, IBT dapat menciptakan kesempatan untuk mempelajari bagaimana pikiran pemelajar bekerja. Pemahaman tersebut dapat digunakan untuk menciptakan situasi belajar dan memfasilitasi mereka dalam memperoleh pengetahuan. Ketika menerapkan IBT guru dapat mengetahui : (1) kapan memberikan dorongan, (2) petunjuk apa yang dapat diberikan kepada setiap pemelajar, (3) apa yang tidak perlu diberikan kepada pemelajar, (4) bagaimana membaca perilaku pemelajar ketika mereka sedang bekerja, (5) bagaimana membantu pemelajar berkolaborasi dalam memecahkan masalah secara bersama-sama, (6) kapa pengamatan, hipotesis, atau eksperimen bermakna bagi pemelajar, (7) bagaimana mentolelir ambiguitas, (8) bagaimana memanfaatkan kesalahan (mistakes) secara konstruktif, dan (9) bagaimana membimbing pemelajar secara tepat (Budnitz, 2003).

Pembelajaran dengan pendekatan IBT juga dapat memberikan intake lebih baik. Magnesen (dalam Deporter, Reardon, dan Singer-Nourie, 2000) memberikan klasifikasi prosentase retensi pengetahuan berdasarkan metode belajar yang digunakan: 10% dari dari yang dibaca, 20% dari yang didengar, 30% dari yang dilihat, 50% dari yang dilihat dan didengar, 70% dari yang dikataakan, dan 90% dari yang dikatakan dan dilakukan. Menurut hemat saya, IBT sangat erat kaitannya dengan  yang terakhir karena pemelajar harus melakukan inquiry dan menyampaikannya kepada orang lain, baik guru maupun koleganya.

c. Tahap-Tahap dalam IBT

Barman dan Kotar (1989)  memberikan tahap-tahap inquiry dalam IBT sebagai berikut: eksplorasi, pengenalan konsep, dan aplikasi konsep. Pada tahap eksplorasi, pemelajar bebas menemukan dan memanipulasi materi pelajaran. Pengajaran tentang konsep belum diberikan; oleh karena itu, pemelajar bebas bereksplorasi dan mengajukan pertanyaan dan/atau gagasan. Pemelajar, baik secara individu maupun dalam kelompok, melakukan observasi dan mencatat data. Guru berperan sebagai fasilitator – mengamati, mengajukan pertanyaan, dan memberikan saran. Tahap ini disebut tahap penemuan terbimbing (oleh guru).

Pada tahap pengenalan konsep, pemelajar, di bawah bimbingan guru, mengorganisasikan data yang telah dikumpulkan dan mencari pola yang muncul. Selanjutnya, mereka saling menyampaikan dan membandingkan temuannya dengan teman atau kelompok lain. Pada tahap ini guru dapat memberikan tambahan informasi yang berupa referensi atau sumber-sumber lain yang relevan. Selanjutnya pemelajar dapat melanjutkan pencariannya atau melakukan penguatan atas temuannya itu dengan cara membaca referensi tersebut dan mengkomunikasikannya kepada guru atau teman lain.

Pada tahap aplikasi konsep, pemelajar diberi permasalahan yang harus mereka pecahkan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui penemuan di lapangan dan membaca referensi. Pada tahap ini biasanya guru memberi aktifitas tambahan yang dapat memberi penguatan hasil belajar sebelumnya.

d. Tipe-Tipe IBT

Ada tiga tipe kegiatan pembelajaran yang dapat dijalankan dengan IBT: kegiatan rasional, kegiatan eksperimental, dan kegiatan penemuan (discovery). Pada kegiatan rasional, generalisasi dibuat melalui pemberian pertanyaan dan penguatan oleh guru. Langkahnya adalah: (1) Guru mengajukan pertanyaan atau memberikan permasalahan; (2) Guru memberikan referensi; dan (3) Pemelajar, melalui pertanyaan, diarahkan ke jawaban yang benar.

Pada kegiatan eksperimental, pemelajar menguji validitas suatu hipotesis. Langkahnya adalah: (1) Guru mengajukan persoalan; (2) Pemelajar mengajukan sejumlah variabel dan cara-cara untuk menguji efek setiap variabel; (3) Pemelajar dan guru merencanakan eksperimen; dan (4) Pemelajar melakukan eksperimen: mengumpulkan data, menganalisis data, dan menarik simpulan.

Pada kegiatan penemuan (discovery), pemelajar mengeksplorasi konsep secara langsung. Kegiatan ini meliputi tiga tahap: tahap belajar, inquiry terbimbing, dan inquiry mandiri. Pada tahap belajar, generalisasi dibuat melalui eksplorasi. Langkahnya adalah: (1) Guru memberikan materi untuk eksplorasi, (2) Pemelajar menggunakan materi di bawah bimbingan guru; dan (3) Guru membantu menyimpulkan atas konsensus kelompok. Pada tahab inquiry terbimbing, pemelajar dibimbing melakukan eksplorasi. Langkahnya adalah: (1) Guru memberikan persoalah dan memberikan referensi; (2) Pemelajar diberi kebebasan untuk bereksplorasi; (3) Pemelajar menguji hipotesis dan membuat simpulan sementara; dan (4) Guru membantu membuat simpulan berdasarkan konsensus kelompok. Pada tahap inquiry mandiri, pemelajar diberi kebebasan total untuk bereksplorasi. Langkahnya adalah: (1) Guru memberikan materi eksplorasi; (2) Guru memberi petunjuk hanya dalam kaitannya dengan kesalamatan dan peralatan kerja; dan (3) Pemelajar melakukan eksplorasi berdasarkan kemampuan mereka sendiri.

e. IBT dalam Pengajaran Bahasa

Dalam pengajaran bahasa, IBT juga sering digunakan. Pada masa pemberlakukan Pendekatan Komunikatif, guru mengajarkan gramatika dengan teknik EGRA: Exposure, Generalization, Reinforcement, dan Application. Pada tahap exposure, guru memberikan teks dengan ciri-ciri tertentu (kalimat pasif, misalnya) untuk dicermati oleh pemelajar. Pada tahap generalization, guru meminta pemelajar untuk menemukan pola teks yang diamati itu. Pada tahap reinforcement, guru memberi penguatan tentang apa yang telah ditemukan oleh pemelajar sehingga mereka menjadi mantap. Penguatan dapat berupa informasi tambahan untuk memperkaya wawasan pemelajar. Pada tahap application, pemelajar menerapkan pola atau rumus yang telah ditemukan itu untuk memahami dan/atau menyusun teks baru.

7. Menuju Pemelajaran Mandiri

Dari uraian pada butir nomor 5 (Pengajaran yang Efektif) dapat dipahami bahwa PBM yang berkualitas adalah PBM yang mampu membuat pemelajar belajar secara efektif; dan uraian pada butir nomor 6 (Inquiry-Based Teaching) mengisyaratkan bahwa pemelajaran yang efektif cenderung bersifat mandiri. Dalam kaitan ini, Benson (2001) mengatakan bahwa kemandirian (autonomy) merupakan prasyarat atau prakondisi pemelajaran yang efektif. Oleh karena itu, dalam bagian ini akan dibahas secara singkat konsep belajar mandiri, yang tampaknya menjadi kecenderungan (trend) di masa yang akan datang.

Menurut Benson (2001: 47) kemandirian dalam belajar berarti “the capacity to take control of one’s own learning”. Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa kemandirian dalam belajar mengacu pada kemampuan seseorang untuk melakukan pengaturan terhadap kegiatan belajarnya sendiri. Pengaturan belajar dalam hal ini dapat mengambil berbagai bentuk. Dengan kata lain, kemandirian merupakan kemampuan multidimensional yang termanifestasikan dalam berbagai bentuk untuk orang-orang yang berbeda, bahkan untuk orang yang sama tetapi dalam konteks atau pada waktu yang berbeda.

Menurut Holec (1981), “mengatur” dalam konteks ini berarti memiliki dan memikul tanggungjawab atas semua keputusan dalam kaitannya dengan aspek-aspek belajar. Aspek belajar yang dimaksud meliputi: (1) penentuan tujuan belajar, (2) penetapan materi ajar, (3) pemilihan metode dan teknik belajar, (4) penentuan waktu, tempat, irama belajar, dll., dan (5) penilaian hasil belajar. Dengan demikian, pemelajar yang mandiri mampu mengelola kegiatan belajarnya sendiri yang meliputi semua aspek di atas.

Satu hal yang perlu ditegaskan di sini adalah bahwa belajar mandiri tidak sama dengan belajar sendirian atau belajar tanpa guru. Pemelajar yang mandiri memiliki kebebasan penuh untuk menentukan tujuan belajarnya, materi belajar, setting belajar, dan metode belajar, serta menentukan pihak-pihak yang dapat diajak berinteraksi dalam rangka mencapai tujuannya itu. Dengan demikian, belajar mandiri juga memiliki dimensi dan konsekuensi sosial. Hal lain adalah bahwa kemandirian dalam belajar tidak bersifat “hitam-putih” melainkan lebih bersifat hierarkhis. Kita tidak akan mengatakan bahwa seseorang mandiri atau tidak mandiri dalam belajarnya; alih-alih, kita mengatakan bahwa tingkat kemandirian orang itu tinggi atau rendah (Benson, 2001).

Secara historis gagasan belajar mandiri dalam bidang pendidikan atau pembelajaran bahasa muncul dan berkembang pada awal tahun 1970-an. Namun demikian, kemandirian belajar di luar bidang bahasa sudah ada sejak lama. Berkenaan konsep belajar-mengajar, Galileo (dalam Benson, 2001: 23), yang hidup antara tahun 1564 dan 1642,  mengatakan, “You cannot teach a man anything; you can only help him find it within himself”. Demikian pula Rousseau (1712 –1778) (dalam Benson, 2001: 24) dengan pernyatannya yang antara lain berbunyi:

Make your pupil attend to the phenomena of nature, and you will soon arouse his curiosity. But to nourish this curiosity, be in no hurry to satisfy it. Suggest problems but leave the solving of them to him. Whatever he knows, he should know not because you have told him, but because he has grasped it himself. Do not teach him science: let him discover it. If ever you substitute authority for reason in his mind, he will stop reasoning and become the victim of other people’s opinion…

Dua kutipan di atas cukup menunjukkan pada kita bahwa gagasan tentang belajar mandiri sudah lama berkembang, dan barangkali kita dapat berspekulasi bahwa para ilmuwan besar di masa lalu dapat berkembang karena tingkat kemandirian mereka dalam belajar sangat tinggi.

Derajad kemandirian dalam belajar dapat ditingkatkan. Benson (2001) mengusulkan enam pendekatan pengembangan kemandirian belajar, yaitu: (1) resource-based approaches, yang menekankan penggunaan sumber-sumber belajar; (2) technology-based approaches, yang menekankan penggunaan teknologi pendidikan; (3) learner-based approaches, yang menekankan pengembangan keterampilan belajar mandiri; (4) teacher-based approaches, yang menekankan peran guru dan pendidikan guru;  (5) classroom-based approach, yang menekankan pentingnya pengaturan kegiatan di dalam kelas; dan (6) curriculum-based approach, yang menekankan pentingnya pengaturan isi kurikulum. Dalam prakteknya, keenam pendekatan di atas digunakan secara terpadu.

8. Penutup

Sebagai guru atau dosen, kita menjadi ujung tombak kegiatan pendidikan, khususnya pendidikan sekolah, karena kitalah yang memimpin kegiatan belajar-mengajar. Sebagaimana diketahui, inti pendidikan adalah proses belajar-mengajar. Oleh karena itu, apabila kualitas pendidikan menurun, hal pertama yang harus dilakukan adalah melihat kualitas kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas. Corak kegiatan belajar-mengajar di dalam kelas, dalam banyak hal, ditentukan oleh pendekatan pengajaran yang digunakan oleh guru. Pendekatan pengajaran yang baik adalah pendekatan yang mampu membuat pemelajar belajar secara efektif. Di antara sekian banyak pendekatan yang dikenalkan oleh para pakar pendidikan adalah inquiry-based teaching (IBT). Dengan IBT pemelajar diberdayakan untuk secara aktif mencari dan membentuk sendiri pengetahuannya. Prakondisi untuk mencapai tataran itu adalah belajar mandiri (autonomous learning).

REFERENSI

Allwright, Richards . (1987). “Language Learning through Practice,” The Communicative Approach to Language Teaching, (ed). C.J. Brumfit dan K. Johnson, 167-182. Oxford: Oxford University Press.

Barman and Kotar. (1989). “Inquiry Based Learning”. http://www.usoe.k12.ut.us/ curr/science/core/6th/TRB6/inquiry.htm

Benson, Phil. (2001). Teaching and Researching  Autonomy in Language Learning. Harlow, England: Longman.

Bowden, John dan Ference, Marton.  (1998). The university of learning: Beyond quality and competence in higher education. London: Kogan Page. http://www.unca. edu/et/br110698.html.

Brown, H. Douglas. (2000). Principles of language learning and teaching. Englewood Cliffs, NJ.: Prentice Hall Regents.

Budnitz, Norman. (2003). “What do We Mean by Inquiry?” <http://www.biology. duke.edu/cibl/inquiry/what_is_inquiry.htm>

Cotteral, Sara dan Crabbe, David. (1992). “Fostering autonomy in the language classroom: Implications for teacher education,” Guidelines, vol. 14 No. 2 Desember. Singapura: SEAMEO Regional Language Centre.

Djagal W. Marseno. (2004). Aplikasi Konsep Mutu Pendidikan Tinggi. Makalah yang disampaikan dalam Lokakarya Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi di UGM Yogyakarta.

Hebrank, Mary. (2000). “Why Inquiry-Based Teaching and Learning in the Middle School Science Classroom?” <http://www.biology.duke.edu/cibl/inquiry/ why_is_inquiry.htm>

Holec. H. (1981). Autonomy in Foreign Language Learning. Oxford: Pergamon.

Hymes, D.H. (1987). “On Communicative Competence,” The Communicative Approach in Language Teaching (ed.) C.J. Brumfit dan K. Johnson, 5-26. Oxford: Oxford University Press.

Nunan, David. (1991). The Learner-Centred Curriculum. Cambridge: Cambridge University Press.

Raka Joni, T. (1992). Pokok-pokok pikiran mengenai pendidikan guru. Jakarta: Konsorsium Ilmu Pendidikan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

_______________.(1993). “Pendekatan cara belajar siswa aktif: Acuan konseptual peningkatan mutu kegiatan belajar-mengajar.” Dalam Conny R. Semiawan dan T. Raka Joni (Eds.).  Pendekatan pembelajaran: Acuan konseptual  pengelolaan kegiatan belajar-mengajar di sekolah. Jakarta: Konsorsium Ilmu Pendidikan, Ditjen Dikti, Depdikbud.

Richards, Jack C.  dan Rodgers, Theodore S.  (2001). Approaches and methods in language teaching. Cambridge: Cambridge University Press.

Semiawan, Conny R. (1991). “Strategi pembelajaran yang efektif dan efisien.” Dalam Conny R. Semiawan dan Soedijarto (Eds.). Mencari strategi pengembangan pendidikan nasional menjelang abad XXI. Jakarta: Grasindo.

Soedijarto. (1993). Memantapkan sistem pendidikan nasional. Jakarta: Gramedia Widiarsa Indonesia.

Sunardi. (2004). “Baku Mutu dalam Penjaminan Mutu di Perguruan Tinggi”. Makalah yang disampaikan dalam Lolakarya Penjaminan Mutu Pendidikan di Tawangmangu, 3 Juli 2004.

Widdowson, H.G. (1983). Teaching Language as Communication. Oxford: Oxford University Press.

______________. (1987). “The teaching of English as Communication,” The Communicative Approach to Language Teaching, (ed). C.J. Brumfit dan K. Johnson. Oxford: Oxford University Press.

Willis, Jane. (1996). A Framework  for Task-Based  Learning. England: Longman.


[1] Makalah yang disampaikan dalam Lokakarya Pengembangan Metode Pengajaran Discovery and Presentation di Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 28 – 29 April 2005.


Yoko S. Passandaran:

SAJAK KECIL BUAT GURU TENTANG KURIKULUM

Kurikulum bukan kitab suci

Pemerintah bukan Dewa atau Tuhan

Negara bukan agama

Pengawas dan kepala sekolah bukan malaikat

Sekolah bukan surga atau neraka

Apa yang harus kau takutkan?

Jangan kaubiarkan hatimu cemas

Jangan kaubiarkan langkahmu gamang

Tatap bola mata anak-anak itu

Pijarnya menyiratkan

Mereka ingin kaujadikan manusia

Mereka ingin menjadi diri sendiri

Apa yang harus kau risaukan?

Biarkan otak mereka mengolah isi dunia

Biarkan tangan mereka mengaji alam semesta

Biarkan hati mereka menggapai Sang Maha Pencipta

Ajari mereka dengan kearifan matahari

tentang apa yang perlu dan yang tidak perlu dikelola

dengan bijaksana

Ajari mereka dengan tembang kasih sayang

tentang perbedaan bukan untuk dipertentangkan

Untuk masa depan mereka

Untuk masa depan bangsa

Untuk masa depan manusia

Kurikulum bukan kitab suci

Pemerintah bukan Dewa atau Tuhan

Negara bukan agama

Pengawas dan kepala sekolah bukan malaikat

Sekolah bukan surga atau neraka

Tatap bola mata anak-anak itu

Pijarnya menyiratkan

Mereka ingin kaujadikan manusia

Mereka ingin menjadi diri sendiri

Jangan kaubiarkan mereka dilanda nestapa

Jangan kaubiarkan masa depan dijarah gerhana angkara

keserakahan, kemaksiatan, dan narkoba

Jangan kaujadikan mereka robot-robot dunia

yang harus senantiasa taat akan kehendakmu

yang selalu ketakutan pada tiran dan ketidakadilan

Katakan, otak dan rasa butuh keseimbangan

Teknologi dan estetika butuh etika

Karena keseimbangan dan etika

akan melahirkan makna dan manfaat tak terbatas

Seperti Tuhan telah menata

langit dan bumi, rembulan dan matahari

bukan untuk dipertentangkan

Tanpa olah rasa, otak adalah bencana bagi manusia

Tanpa olah otak, rasa adalah tiran bagi manusia

Seperti halnya mengajar

Belajar itu kompetensi yang menyenangkan

Belajar itu kebenaran merambah siang dan malam

Belajar itu perjuangan menata kehidupan

Belajar itu ibadah meniti usia

Belajar itu wajib hukumnya

Belajar itu bisa di mana-mana

Dan, Tuhan telah sediakan kurikulumnya: Iman kepada-Nya!

Silabusnya: Hati nurani kita!

Satuan pelajarannya: Amal dan perbuatan kita!

Hasil Evaluasinya: Surga atau neraka!

Yogyakarta, 8 Agustus 2005

NB. File ini didapat dalam pelatihan guru di LPMP Jawa Tengah


KISAH SEDIH PBM DI SEKOLAH

(Dinyanyikan Dengan Lagu “ Kisah Kasih Di Sekolah” Karya Obbie Mesakh

RESAH DAN GELISAH

BELAJAR TAK BETAH

BOSAN DAN MENJEMUKAN

SISWA TERLIHAT PASIF

GURU AKTIF CERAMAH

SISWA DUDUK DENGARKAN

SUNGGUH AMAT MEMBOSANKAN

MALU AKU MALU, IA NGAJAR MASIH BEGITU

PADAHAL TLAH DITATAR ,UANG BANYAK KELUAR

SEAKAN CUEK SAJA , OGAH PEMBAHARUAN

  • (“PAK GURU KOK NGAJARNYA GITU-GITU  AJA SIH”)
  • “Ginipun Lulus” Jawabnya
  • Sungguh Aneh Tapi Nyata, Di Negeri Sana
  • Cara Ngajar Tak Berubah, Sejak Jaman Abah
  • Pada Siapa Minta Bantu, Untuk Meningkatkan Mutu
  • Proses Belajar Mengajar Yng Kembangkan Bakat Siswa
  • Proses Belajar Mengajar, Aktif Kreatif Mengasyikkan

Lagu ini dijadikan “Ice Breaker”  dalam beberapa pelatihan yang pernah kami ikuti. Penggubah tidak diketahui. Sumber file: Data laptop di LPMP Jawa Tengah


Email:

rppguswur@gmail.com

Belajar Inggris

BelajarInggris.Net 250x250

Blog Stats

  • 1,631,425 hits

Pengunjung

free counters

blogstat

Alexa Certified Site Stats for www.aguswuryanto.wordpress.com

Incoming traffic

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 166 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 166 other followers