Belajar jadi Guru

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK DENGAN MEDIA PERANGKO DI SEKOLAH DASAR NEGERI 1 SALATIGA

Posted on: August 6, 2010


  1. A. JUDUL

PENINGKATAN  PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK DENGAN MEDIA PERANGKO DI SEKOLAH DASAR NEGERI  1 SALATIGA

  1. B. PENDAHULUAN
    1. 1. Latar Belakang Masalah

Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi dann kondisi lingkungan yang ada, pengaruh  informasi dan kebudayaan, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kondisi di lapangan saat ini menunjukkan bahwa masih diberlakukannya sistem guru kelas di SD, cara pendekatan konvensional yang tidak efektif dan menimbulkan pada kejenuhan siswa di dalam kelas, serta pendekatan keterampilan proses dengan pembelajaran teoritis.

Pemecahan masalah pendidikan dengan kondisi di lapangan saat ini seperti tersebut di atas, sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah (Depdiknas) dengan berbagai pembaharuan, antara lain dengan pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana, serta meningkatkan sistem manajemen sekolah, agar pendidikan selanjutnya berorientasi lokal, berwawasan nasional dan global.

Konsekuensi dari semua upaya tersebut, guru merupakan kunci dan sekaligus ujung tombak pencapaian misi pembaharuan pendidikan, mereka berada di titik sentral untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan dan misi pendidikan nasional yang dimaksud. Oleh karenanya secara tidak langsung guru dituntut untuk lebih profesional, inovatif, perspektif, dan proaktif dalam melaksanakan tugas pembelajaran.

  1. 2. Permasalahan dan Rumusan Masalah

Permasalahan ketidakefektifan pembelajaran di kelas itu cukup banyak. Dari sekian masalah tersebut adalah penerapan pembelajaran konvensional, yang hanya menekankan otoritas guru tanpa melibatkan aktivitas murid. Contoh yang paling banyak ditemui adalah penggunaan metode ceramah. Tentu bukan berarti metode ini tidak baik, tetapi menempatkan ceramah sebagai satu-satunya metode akan mengebiri potensi murid, sekaligus menjadikan pembelajaran tidak memberdayakan.

Maka perlu dikembangkan model pembelajaran yang menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran. Salah satunya dalah model pembelajaran konstruktivistik. Dengan model ini kebiasaan guru yang otoriter menjadi fasilitator, mengubah kegiatan pembelajaran ego-involvement, menjadi task-involvement, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif serta dapat (1) membangkitkan minat siswa untuk belajar menemukan sendiri, (2) bekerja sama dan mengomunikasikan hasil belajarnya, dan (3) siswa semakin aktif serta kooperatif.

Wujud atau aplikasi model pembelajaran konstruktivistik mata pelajaran IPS adalah dengan menggunakan variasi alat peraga IPS, di antaranya penggunaan Perangko (Filateli) sebagai media pembelajaran IPS.

Masalah dalam PTK ini adalah kesulitas siswa dalam memahami pengertian IPS, khususnya materi sejarah zaman penjajahan (peran tokoh-tokoh sejarah melawan Belanda di Indonesia). Adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

  1. Apakah pembelajaran dengan model konstruktivistik dapat meningkatkan prestasi belajar IPS?
  2. Bagaimanakah aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan model konstruktivistik?
  3. Sejauh manakah keterampilan kooperatif siswa dapat dimunculkan dalam pembelajaran model ”konstruktivistik”?

  1. 3. Tujuan Penelitian

Tujuan PTK ini adalah upaya meningkatkan prestasi belajar siswa mata pelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran “konstruktivistik”.

  1. 4. Hipotesis Tindakan

Hipotesis Tindakan dalam PTK ini adalah:

1)      Hasil belajar IPS akan meningkat dengan penggunaan model pembelajaran “konstruktivitik”, dengan media perangko.

2)      Aktivitas siswa akan meningkat dengan kegiatan menyimak penjelasan teman dan penyampaian pemahamannya.

3)      Keterampilan kooperatif siswa akan muncul lebih banyak melalui pembelajaran konstruktivistik.

  1. 5. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat bagi pengelolaan pembelajaran, khususnya bagi guru yang mengajar IPS, yaitu sebagai berikut:

  1. Memiliki gambaran tentang pembelajaran IPS yang efektif
  2. Dapat mengidentifikasikan permasalahan yang timbul di kelas, sekaligus mencari solusi pemecahannya
  3. Dipergunakan untuk menyusun program peningkatan efektivitas pembelajaran IPS pada tahap berikutnya.

  1. C. KAJIAN PUSTAKA

1.  Model Pembelajaran Konstruktivistik

Pembelajaran Konstruktivistik atau Constructivist Theories of Learning adalah model pembelajaran yang mengutamakan siswa secara aktif membangun pembelajaran mereka sendiri secara mandiri dan memindahkan informasi yang kompleks. Mengacu pada pemikiran Aronson (1978) yang mengatakan bahwa pada proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan siswa dalam proses belajar dan sosialisasi yang berkesinambungan, berorientasi pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

Di bawah ini pemecahan masalah-masalah belajar (pembelajaran), implikasi teori kontruksional:

  1. Proposisi:

Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru. Belajar adalah penyusunan  pengetahuan dari pengalaman konkret, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Implikasinya terhadap pembelajaran atau evaluasi, yaitu sebagai berikut:

1)      Dorong munculnya diskusi terhadap pengetahuan baru yang dipelajari.

2)      Dorong munculnya berfikir divergent, kaitan dan pemecahan ganda, bukan hanya ada satu jawaban yang benar.

3)      Dorong munculnya berbagai jenis luapan pikiran / aktivitas, seperti main peran, debat dan pemberian penjelasan kepada teman.

4)      Tekanlah pada keterampilan berfikir kritis seperti analisis, membandingkan, generalisasi, memprediksi dan menghipotesis.

5)      Kaitan informasi baru ke pengalaman pribadi atau pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa.

6)      Gunakan informasi pada situasi baru.

  1. Proposisi:

Strategi yang dipakai siswa dalam belajar akan menentukan proses dan hasil belajarnya. Implikasinya terhadap pembelajaran atau evaluasi, yaitu sebagai berikut:

1)      Berikan kesempatan untuk menerapkan cara berpikir yang paling cocok dengan dirinya.

2)      Suruh siswa melakukan evaluasi diri tentang cara berfikirnya, belajarnya dan mengapa ia menyukai tugas tertentu.

Menurut Degeng dalam Aqib (2001) terdapat komparasi mendasar antara pembelajaran model Behavioristik dengan konstruktivistik. Belajar menurut behavioristik adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah meningkat-kan pengetahuan kepada yang pembelajar. Adapun belajar menurut konstruktivistik adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkret, aktivitas kolaboratif dan refleksi serta interaksi. Sedangkan ’mengajar’ adalah menata lingkungan agar pembelajar termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan. Skedul pelaksanaan pembelajaran model konstuktivistik dapat digambarkan sebagai berikut.

TAHAP I TAHAP II TAHAP III
  • Pembelajaran kelompok
  • Penyampaian materi dan masalah dari guru
  • Siswa memilih sendiri masalah untuk kelompoknya
  • Siswa diskusi dengan kelompoknya
  • Tiap siswa harus menguasai hasil pembahasannya
  • Penyampaian hasil diskusi kelompok pada kelas
  • Siswa kelompok lain memberikan tanggapan

Dalam proses pembelajaran dengan tahapan tersebut di atas, guru berfungsi sebagai fasilitator yang selalu menampingi kegiatan masing-masing kelompok sekaligus mengarahkan bila terjadi penyimpangan jalannya diskusi.

  1. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Dasar
a.      Pengertian

Ilmu Sosial adalah suatu bahan kajian yang terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi dan modifikasi yang diorganisasikan dari   konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan Sejarah, Geografi, Sosiologi, Antropologi, dan Ekonomi

  1. b. Fungsi dan Tujuan

Mata Pelajaran Ilmu Sosial di SD/MI berfungsi mengembangkan pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan sosial siswa untuk dapat menelaah kehidupan sosial yang dihadapi sehari-hari serta menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap perkembangan masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini. Sedangkan tujuannya adalah agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan, nilai dan sikap, serta keterampilan sosial yang berguna bagi dirinya, mengembangkan pemahaman tentang pertumbuhan masyarakat Indonesia masa lampau hingga kini sehingga siswa bangga sebagai bangsa Indonesia.

  1. c. Kompetensi Umum

Kompetensi Umum merupakan kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai siswa sebagai berikut:

1).   Kompetensi Ilmu Sosial

Kompetensi Ilmu Sosial adalah kompetensi yang harus dikuasai siswa setelah mempelajari Ilmu Sosial selama mengikuti pendidikan sejak SD/MI, SLTP/MTs, SMU/MA

a)         Memahami keanekaragaman struktur dan dinamika sosial budaya dalam kehidupan bermasyarakat.

b)         Memahami usaha memenuhi kebutuhan hidup dengan keterbatasan sumber daya.

c)         Memahami keanekaragaman gejala alam dan kehidupan di muka bumi, proses kejadian, interaksi dan interelasinya.

d)        Memahami proses perkembangan dan perubahan masyarakat, identitas, dan pengalaman pada masa lampau.

e)         Menganalisis secara kritis situasi sosial  budaya yang dihadapi untuk melangsungkan interaksi sosial dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan bangsa.

f)          Mampu melakukan tindakan ekonomi (menentukan pilihan dan memanfaatkan peluang).

g)         Menganalisis persebaran gejala alam dan kehidupan di muka bumi dalam dimensi ruang dan lingkungan.

h)         Mampu berpikir kronologis, menganalisis, dan merekonstruksi masa lalu untuk memahami kekinian.

2). Kompetensi jenjang/mata pelajaran adalah kompetensi yang harus dikuasai siswa setelah melalui proses pembelajaran Ilmu Sosial di SD/MI

  1. Memiliki identitas diri berdasarkan pemahaman terhadap masa lalu dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara.
  2. Memahami cara hidup bermasyarakat dan memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
  3. Mengamati dan mengidentifikasi kemajemukan masyarakat Indonesia agar dapat saling menghargai.
  4. Mengidentifikasi sumber-sumber alam Indonesia dan memanfaatkannya bagi kehidupan masa kini dan yang akan datang.
  5. Memahami hubungan antarmanusia dengan lingkungan sosial, budaya dan alam, serta dapat menunjukkan contoh dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Memahami bentuk-bentuk globalisasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menentukan sikap terhadap perubahan yang terjadi.

d.  Pendekatan dan Pengorganisasian Materi

Ilmu Sosial merupakan mata pelajaran yang mengkaji kehidupan manusia dalam lingkungan sosial, alam, dan budaya. Pemahaman terhadap kehidupan tidak bisa dipahami secara terpisah-pisah. Berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial, dan budaya memiliki hubungan yang sangat erat. Fenomena kehidupan yang timbul merupakan integrasi dari aspek-aspek kehidupan tersebut.

Bagi siswa sekolah dasar, belajar akan lebih bermakna jika apa yang dipelajari berkaitan dengan pengalaman hidupnya, dan mereka memandang suatu obyek yang ada di lingkungannya secara utuh. Dengan pemahaman seperti itu, maka pendekatan kurikulum yang digunakan adalah pendekatan kurikulum terpadu. Pendekatan yang terpadu berarti kajian geografi, ekonomi, sejarah, antropologi, dan sosiologi terpadu dalam sajian materi yang akan diberikan kepada siswa. Materi pelajaran Ilmu Sosial di SD/MI adalah kehidupan sehari-hari yang langsung dapat diamati dan dipahami siswa, maka pengorganisasian materi yang dilakukan adalah mulai dari lingkungan terdekat sampai pada lingkungan yang jauh, yaitu dari lingkungan keluarga, tetangga, sekolah, masyarakat sekitar, Indonesia, dan dunia.

Demikian juga penggunaan alat peraga atau media IPS sangat penting. Adapun alat peraga atau media IPS di Sekolah Dasar dapat berupa: Peta, Atlas, Globe, Planetarium, Solar System, gambar-gambar (pahlawan, rumah adat, dsb), lingkungan sekitar, alat peraga buatan siswa atau guru dan sebagainya.

  1. Penelitian Tindakan Kelas
  1. a. Pengertian PTK

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pertama kali diperke-nalkan oleh ahli psikologi sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946. Inti gagasan Lewin inilah yang selanjutnya di-kembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin Mc Tanggart, John Elliot, Dave Ebbutt, dan sebagainya. PTK di Indonesia baru dikenal pada akhir dekade 80-an. Oleh karenanya, sampai dewasa ini keberadaannya sebagai salah satu jenis peneliti-an masih sering menjadi perdebatan jika dikaitkan dengan bobot keilmiahannya.

Menurut Stephen Kemmis (1983), PTK adalah suatu bentuk kegiatan penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilaku-kan  oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebe-naran dari (a) praktik-praktik sosial atau pendidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman mereka terhadap praktik-praktik tersebut, dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan (David Hopkins, 1993: 44). Sedangkan Tim Pelatih Proyek PGSM (1999) mengemukakan bahwa PTK adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan (M. Nur, 2001)

  1. b. Tujuan PTK

Sebagaimana diisyaratkan di atas, PTK antara lain bertuju-an untuk memperbaiki dan / atau meningkatkan praktik pembela-jaran secara berkesinambungan yang pada dasarnya ”melekat” pe-nunaian misi profesional pendidikan yang diemban oleh guru. Dengan kata lain, tujuan PTK adalah untuk perbaikan dan pening-katan layanan profesional guru. Di samping itu, sebagai tujuan pe-nyerta PTK adalah untuk meningkatkan budaya meneliti bagi guru guna memperbaiki kinerja di kelasnya sendiri.

Dalam hubungannya dengan peningkatan profesionalisme guru, kegiatan PTK penting untuk dilakukan dengan alasan:

1)      PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya.

2)      PTK dapat meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional.

3)      Dengan melaksanakan tahapan-tahapan PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran di kelas.

4)      Pelaksanaan PTK tidak mengganggu tugas pokok seorang guru karena tidak perlu meninggalkan kelasnya.

5)      Dengan PTK guru akan menjadi kreatif.

  1. c. Manfaat PTK

Manfaat yang dapat dipetik jika guru mau dan mampu me-laksanakan PTK:

1)      Guru semakin diberdayakan untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri, sehingga berkembang inovasi-inovasi pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan dan pembelajaran.

2)      PTK juga bermanfaat untuk pengembangan kurikulum dan untuk peningkatan profesionalisme guru.

  1. d. Prinsip-prinsip PTK

Terdapat enam prinsip yang mendasari PTK yang dijelaskan Hopkins dalam Kardi (2000). Keenam prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

1)      Tugas utama guru adalah mengajar, dan apapun metode PTK yang diterapkannya, sebaiknya tidak mengganggu komotmennya sebagai pengajar.

2)      Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.

3)      Metodologi yang digunakan harus cukup reliabel, sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, serta memperoleh data yang dapat digunakan untuk ”menjawab” hipotesis yang dikemukakannya.

4)      Masalah penelitian yang diambil oleh guru hendaknya masalah yang cukup merisaukannya, dan bertolak dari tanggung jawab profesionalnya, guru sendiri memiliki komitmen terhadap pemecahan masalah.

5)      Dalam penyelenggaraan PTK, guru haruslah bersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya.

6)      Meskipun kelas merupakan cakupan tanggung jawab seorang guru, namun dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin harus digunakan classroom-exceeding perspective, dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas dan / atau mata pelajaran tertentu (skala mikro), melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan (skala makro).

  1. e. Tahap-Tahap PTK

PTK memiliki empat tahap yang dirumuskan oleh Lewin (Kemmis dan Mc Taggar, 1992) yaitu Planning (Rencana), Action (Tindakan), Observation (Pengamatan), dan Reflection (Refleksi). Berikut ini adalah penjelasannya:

1)      Planning (Rencana)

Rencana merupakan tahapan awal yang harus dilakukan guru sebelum melakukan sesuatu. Diharapkan rencana tersebut berpandangan ke depan, serta fleksibel untuk menerima efek-efek yang tak terduga dan dengan rencana tersebut secara dini kita dapat mengatasi masalah. Dengan perencanaan yang baik seorang prak-tisi akan lebih mudah untuk mengatasi kesulitas dan mendorong para praktisi tersebut untuk bertindak dengan lebih efektif. Sebagai bagian dari perencanaan, partisipan harus bekerja sama dalam diskusi untuk membangun suatu kesamaan bahasa dalam menganalisis dan memperbaiki pengertian maupun tindakan mereka dalam situasi tertentu.

2)      Action (Tindakan)

Tindakan ini merupakan penerapan dari perencanaan yang telah dibuat yang dapat berupa suatu penerapan model pembelajaran tertentu yang bertujuan untuk memperbaiki atau menyempurnakan model yang sedang dijalankan. Tindakan tersebut dapat dilakukan oleh mereka yang terlibat langsung dalam pelaksanaan suatu model pembelajaran yang hasilnya juga akan diperguna-kan untuk penyempurnaan pelaksanaan tugas.

3)      Observation (Pengamatan)

Pengamatan ini berfungsi untuk melihat dan mendoku-mentasikan pengaruh-pengaruh yang diakibatkan oleh tindakan dalam kelas. Hasil pengamatan ini merupakan dasar dilakukannya refleksi sehingga pengamatan yang dilakukan harus dapat menceritakan  keadaan yang sesungguhnya. Dalam pengamatan, hal-hal yang perlu dicatat oleh peneliti adalah proses dari tindakan, efek-efek tindakan, lingkungan dan hambatan-hambatan yang muncul.

4)      Reflection (Refleksi)

Refleksi disini meliputi kegiatan: analisis, sintesis, penafsiran (penginterpretasian), menjelaskan dan menyimpulkan.  Hasil dari refleksi adalah diadakannya revisi terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan, yang akan dipergunakan untuk memperbaiki kinerja guru pada pertemuan selanjutnya. Dengan demikian, PTK tidak dapat dilaksanakan dalam sekali pertemuan karena hasil refleksi membutuhkan waktu untuk melakukannya sebagai planning untuk siklus selanjutnya.

Untuk memperjelas fase-fase dalam PTK, siklus spiral-nya dan bagaimana pelaksanaannya, Stephen Kemmis menggambarkannya dalam siklus sebagaimana tampak pada gambar 1.

Gambar 1 : Penelitian Tindakan Model Kemmis dan Mc Taggart

  1. f. Perbandingan PTK dengan Penelitian Lainya

Berikut ini perbandingan PTK dengan Penelitian lainnya:

Penelitian Formal PTK
  1. Dilakukan oleh orang luar
  2. Sampel harus representatif
  3. Instrumen harus valid
    1. Menuntut penggunaan analisis statistik
    2. Mempersyaratkan hipotesis
    3. Mengembangkan teori/konsep baru
    4. Hasil penelitian bersifat general
  1. Dilakukan oleh guru sendiri
  2. Tidak perlu sampel
  3. Instrumen bersifat fleksibel dan adaptif
  4. Tidak perlu analisis statistik yang rumit
  5. Hipotesis berupa tindakan yang bersifat nyata dan fleksibel
  6. Memperbaiki praktik pembelajaran secara langsung
  7. Hasil penelitian bersifat spesifik dan kontekstual
  1. D. METODE PENELITIAN
    1. 1. Objek Tindakan

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas. Adapun jenis tindakan yang diteliti adalah sebagai berikut:

  1. Minat siswa untuk belajar menemukan sendiri
  2. Kerjasama dalam mengomunikasikan hasil belajarnya, dan
  3. Keaktifan dan sikap kooperatif siswa selama mengikuti pembelajaran.
  4. 2. Subyek/Setting Penelitian

Setting atau lokasi PTK ini adalah SDN 1 Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga, kelas IV, dengan jumlah siswa 20 siswa. Mata Pelajaran IPS, Pokok Bahasan Zaman Penjajahan, semester 2, Tahun Pelajaran 2006 – 2007.

  1. 3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan melalui catatan observasi dan hasil evaluasi yang dilakukan sejak awal penelitian sampai dengan siklus terakhir bersama mitra kolaborasi.

Catatan observasi dipergunakan untuk mengetahui peningkatan aktivitas siswa dan pemunculan keterampilan kooperatis siswa, sedangkan evaluasi dilakukan untuk mengukur peningkatan prestasi belajar siswa.

Pada bagian refleksi dilakukan analisis data mengenai proses, masalah dan hambatan yang dijumpai, kemudian dilanjutkan dengan refleksi dampak pelaksanaan tindakan yang dilaksanakan. Salah satu aspek penting dari kegiatan refleksi adalah evaluasi terhadap keberhasilan dan pencapaian tujuan.

  1. 4. Validitas Data

Untuk kepentingan keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik trianggulasi, yaitu pengujian validitas data dengan cara membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat berbeda, dengan metode kualitatif. Hal ini dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, (2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, (3) membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu, (4) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang di berbagai tingkatan, (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dikumen yang berkaitan (Lexy J. Moleong, 2002 : 178).

  1. 5. Analisis Data

Teknik yang digunakan untuk analisis data pada penelitian ini adalah teknik deskriptif analitik dengan penjelasan sebagai berikut:

  1. Data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes diolah dengan menggunakan deskripsi persentase. Nilai yang diperoleh siswa dirata-rata untuk menemukan tingkat pemahaman konsep modernisasi para siswa dalam pembelajaran Sosiologi. Nilai persentase dihitung dengan ketentuan sebagai berikut:

NK

NP = ——  x 100%

R

Keterangan:

NP = Nilai persentase

NK = Nilai komulatif

R = Jumlah responden

  1. Data kualitatif yang diperoleh dari observasi, diklasifikasikan berdasarkan aspek-aspek yang dijadikan fokus analisis. Data kuantitatif dan kualitatif ini kemudian dikaitkan sebagai dasar untuk mendeskripsikan keberhasilan penerapan model pembelajaran konstruktivistik, yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman tentang pokok bahasan Zaman Penjajahan Belanda, dan perubahan tingkah laku yang berupa minat untuk belajar menemukan sendiri, kerja sama dalam mengkomunikan hasil belajar, dan keaktifan dan sikap kooperatif.

  1. 6. Indikator Kinerja

Indikator kinerja dari data kuantitatif ditetapkan kriteria bahwa semakin meningkat perolehan hasil tes pada kategori diatasnya menunjukkan kriteria peningkatan pembelajaran dalam penelitian tindakan kelas ini. Jadi seumpama pada siklus ke-2 kategori sangat paham lebih besar daripada siklus ke-1 berarti terjadi peningkatan yang positif sebagaimana terlihat pada tabel 1 berikut ini:

Indikator kinerja dari data kualitatif ditetapkan bahwa peningkatan partisipasi responden (siswa) dan peningkatan minat untuk belajar menemukan sendiri, kerja sama dalam mengkomunikan hasil belajar, dan keaktifan dan sikap kooperatif dari siklus ke siklus. Jika terjadi sebaliknya maka sebagai indikasi kurang berhasil dalam perlakuan Penelitian Tindakan Kelas ini.

  1. E. JADWAL KERJA

Contoh:

Kegiatan Siklus I                                                                    Waktu

  1. Persiapan  ………………………………………………………..
  2. Pelaksanaan …………………………………………………….

Kegiatan Siklus II                                                                   Waktu

  1. Persiapan ………………………………………………………..
  2. Pelaksanaan ……………………………………………………
  3. Penyusunan Laporann Akhir dan seminar …………..
  1. F. DAFTAR PUSTAKA

Hamzah, Upu. 2004. Makalah Workshop Metode-Metode Pembelajaran Problem Based-Learning. Sulawesi Selatan: Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan. http://www.eudel.edu/pbl

Moleong. J. Lexy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Mulyasa. E. 2005. Implementasi Kurikulum 2004, panduan pembelajaran KBfC\Jakarta: Rosda Karya

Safari. 2004. Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Dirken Dikdasmen Rirektorat Tenaga Kependidikan.

Sutarno. 2002. Pembelajaran Efektif: Upaya Peningkatan Kualitas Lulusan Menuju Penyediaan Sumber Daya Insani yang Unggul. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Surakarta: Sebelas Maret University Press.

  1. G. LAMPIRAN

  1. 1. Lampiran 1:

Lembar Observasi

  1. a. Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran
No Aspek Aktivitas Nomor Siswa
JML
1 Mendengarkan penjelasan guru/ teman
2 Membaca materi
3 Menulis Materi Penting
4 Mengerjakan LKS
5 Berdiskusi dengan guru
6 Mengajukan pertanyaan pada teman/guru
7 Menjadi pembicara kelompok

  1. b. Keterampilan Kooperatif Siswa
No Aspek Aktivitas Nomor Siswa
JML
1 Menghargai pendapat orang lain
2 Mengambil giliran dan berbagi tugas
3 Memberi kesempatan orang lain berbicara
4 Mendengarkan dengan aktif
5 Kerja sama dalam kelompok
6 Kemampuan menyampaikan informasi
About these ads

4 Responses to "PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK DENGAN MEDIA PERANGKO DI SEKOLAH DASAR NEGERI 1 SALATIGA"

coba lbih d prjelas mengenai macam dan bgaiman merefleksikan media tersebut trhadap siswa smp

Maaf bu, belum sempat tuh………he he he….coba anda modifikasi sendiri biar muannnterb gitu

downloadn ya gimana ya pak?

Kebetulan saya lupa kasih link dloadnya, copy saja …………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Email:

rppguswur@gmail.com

Belajar Inggris

BelajarInggris.Net 250x250

Blog Stats

  • 1,532,323 hits

Pengunjung

free counters

blogstat

Alexa Certified Site Stats for www.aguswuryanto.wordpress.com

Incoming traffic

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 158 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 158 other followers

%d bloggers like this: