Belajar jadi Guru

Kecerdasan Emosi Untuk Guru

Posted on: October 9, 2010


Kecerdasan Emosi Untuk Guru

Oleh . Drs. Abadi

Widya Iswara LPMP Jawa Tengah

Disampaikan dalam TOT Guru Pemandu SMA Jawa Tengah tahun 2008

Pendahuluan

Ketika filsafat hidup eksistensialisme menyebarkan pengaruhnya dalam kehidupan orang-orang barat, terutama setelah perang dunia ke dua eksistensi manusia menjadi tema sentral, kebebasan mutlak adalah ideologinya dan menopikan keberadaan orang lain adalah ajaranya. Sebgaimana difatwakan salah seorang tokoh eksistensialis yaitu Sarte, dia mengatakan : “ Orang lain itu adalah kematian yang tersembunyi bagi kemungkinan-kemungkinanku (B&N 264), dibagian lain diapun menulis “asal mula kejatuhanku adalh eksistensi orang lain (B&N 263).

Kemampuan berkarya berdasar keunggulan dirinya (intelegensinya)adalah ajaran yang selalu dikobarkan oleh Nietzche (tokoh eksistensialis), karena bagi dirinya mencipta menjadi mungkin oleh karena para Tuhan sudah mati. Sudah lama sekali mati, mencipta dan berkreasi, sekali lagi mencipta dan berkreasi itulah satu-satunya kebajikan bagi manusia.

Kehidupan yang kering dan kesepian itulah yang di dapat bagi oang-orang yang mendambakan kebebasan mutlak sebagai tuntutan eksistensinya tiada harmoni dalam dirinya apalagi harmoni dengan orang lain, menjadikan manusia hanya berfikir (kecerdasan intelektual) dan berfikir tanpa memperhatikan kemampuan beremosi, berimpati pada orang lain dan kecakapan-kecakapan social yang lain.

Tetapi banyak penemuan dari berbagai penelitian yang diungkapkan oleh Daniel Goleman (1995) yang ternyata menemukan, bahwa kecerdasan emosi mempunyai peran yang sangat penting dalam kesuksesan hidup seseorang.

 

Kecerdasan Intelektual dan Kecerdasan Emosional :

Sebelum dikenalkannya istilah kecerdasan emosional oleh Peter Salorey dari Harvard University dan John Meyer dari University of New Hampshire pada tahun 1990 dan dimasyarakatkan oleh Daniel Goleman (1995) kecerdasan diartikan dengan amat sempit, yaitu sebagai kemampuan menyerap, mengolah, mengekspresikan, mengantisipasi dan mengembangkan hal-hal yang bersangkut paut dengan pengetahuan, ilmu dan teknologi, dengan kata lain kecerdasan diartikan dengan “Kemampuan berfikir” yang hasilnya dapat diukur dengan angka-angka yang sering disebut dengan IQ, yang mengukur baik kemampuan verbal maupun non verbal, termasuk ingatan, perbendaharaan kata, wawasan, abtraksi, logika, ketrampilan motorik visual (faktor intelegensi umum) yang biasanya berkorelasi dengan ujian bakat seperti ujian masuk PT dsb.

Dan nilai dasa warsa terakhir abad 20 ini nilai dengan intensif dikembangkan konsep kecerdasan yang lebih luas, yaitu kecerdasan emosional.

Menurut Dr. Patricia Patton (1997) kecerdasan emosional adalah kekuatan dibalik singgasana kemampuan intelektual.

Makna yang dikemukakan di atas secara implisif bisa ditangkap adanya faktor-faktor lain yang sangat berperan terhadap keberhasilan seseorang diluar faktor IQ yang selama ini diagung-agungkan.

Salorey dan Meyer (1996) mendefiniskan kecerdasan emosional sebagai ; himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan menantau perasaan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan untuk membimbing pikiran dan tindakan.

Mereka memberikan batasan kecerdasan emosi sebagai kemampuan untuk mengerti emosi, menggunakan dan  untuk membantu pikiran, mengenal emosi dan intelek.

Dibukunya Goleman (1997) menguraikan tentang ciri-ciri kecerdasan emosi yang mencakup : kesadaran diri dan dorongan hari, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati dan kecakapan sosial.

Berkenaan dengan adanya dua kecerdasan itu, yaitu kecerdasan intelektual yang menyatu pada kemampuan berfikir, dan kecerasan emosional yang menyatu pada kemampuan beremosi, dapat dikatakan bahwa dimungkinkan orang-orang yang IQ tinggi mengalami kegagalan, sedangkan atau mereka yang ber IQ sedang –sedang saja dapat mencapai sukses besar. Goleman dalam  bukunya juga menyatakan bahwa prosentase kontribusi IQ dalm menunjang kesuksesan seseorang tak lebih dari 20 persen didukung oeh faktor lainnya, termasuk kecerdasan emosional.

Kedua jenis kecerdasan  merupakan kekayaan yang tidak ternilai bagi individu yang tidak bersangkutan, pengembangan dan penggunaan secara optimal dan seimbang akan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi kesuksesan seseorang ( di samping kuasanya Tuhan ).

Dan yang lebih menarik adalah bahwa IQ sangat di pengauhi oleh faktor keturunan tetapi EQ ( Kecerdasan Emosional ) bisa di latih dan di kembangkan, sehingga membuka kesempatan bagi orang tua dan pendidikan dan asuhan maupun perlakuan agar mereka mampu mengembangkn kecakapan-kecakapan emosionalnya dan pada akhirnya mampu membuka peluangnya lebih besar untuk mencapai keberhasilan.

 

Pengukuran Kecerdasan Emosional

Pengukuran kecerdasan emosional ( Emosional Quotient ) sebagai nama yang lazim di gunakan dalam pengukuran intelegeni Quoient ( pengukuran intelegensi ) sebagaimana yang di lakukan stanford-Briet mampu uji kecerdasan yang di lakukan olehWeeksler ( Weeksler Intellegence Scales ) belumlah banyak di lakukan orang .

Dari kepustakaan yang ada saat ini ( 2000 ) barulah Cooper dan Sowaf sebagaimana di sampaikan johana E Prawitasari ( peneliti UGM ) bahwa sudah mengembangkan pengukuran kecerdasan emosi untuk para eksekutif dalam mengelola organisasi.

Mereka mengembangkan 21 skala untuk menemukan EQ seorang ekskutif.

Bagian I         terdiri dari skala I sampai  dengan 3 yaitu pernyataan tentang peristiwa hidup yang menimbulkan ketegangan, tekanan kerja dan tekanan pribadi;

Bagian II       berisi skala 4 sampai dengan II, pernyataan tentang kenekatan emosi, ekpresi emosi dankecerdasan emosi orang lain.

Bagian III      berisi skala 7 sampai dengan 11, pernyataan dalam skala-skala itu meliputi intensiolitas, kreatifitas, kelenturan hubungan antar pribadi dan ketidakpuasan kontruksif.

Bagian IV      mengukur nilai dan keyakinan EQ dalam skala 12 sampai dengan skala 17 pernyataan-pernyataan dalam skala itu menyangkut keharuan, optimisme, intuisi, radius, kepercayaan, kekuatan pribadi dan integritas.

Bagian V       terdiri atas skala 18 sampai dengan 21 yang berisi tentang kesehatan umum, kualitas hidup, rasio hubungan dankinerja optimal.

Angka-angka yang di peroleh dari skala-skala itu di bandingkan dengan penilaian  melalui kisi-kisi pada peta EQ. Hasil yang di peroleh dari EQ yang optimal yang tertinggi di susul dengan cukup EQ rapuh dan hati-hati merupakan angka yang lebih ini perlu belajar dan berlatih untuk untuk mengembangkan kecerdasan emosinya.

Dalam skup yang lebih luas misal mengukur tentang empati, keramahan, percaya diri atau sikap hormat pada orang lain, kehidupan pribadidan sosial yang sejuk semangat tinggi, aktif mengendalikan amarah dsb.

Sebagaimana yang di akui sendiri oleh Goleman, belum ada pengukuran baku untuk menentukan kecerdasan emosi tersebut.

Tapi penerapan kecerdasan emosi bagi kehidupan bisa di latihkan dan di lakukan, sebagaimana yang di tulis dalam buku Daniel Goleman ( Emotional Intelegence, 1995 ) dan di uraikan lebih operasional oleh Lawrence E Shapiro ( How to Raise A Child With a High EQ, 1997 ) peranan EQ dalam pengembangan kesuksesan yang lebih bermakna oleh Patrici Patton ( EQ- Development From Succes to Significance 1997)

Penulis-penulis di atas telah menguraikan panjang lebar dengan mengutip penelitian-penelitian yang sudah ada maupun melakukan penelitian dan pengamatan sendiri-sendiri tentang peranan dan penerapan kecerdasan emosional pada bidang-bidang kehidupan.

Mayer dan Salovey ( 1997 ) yang bukunya banyak di ulas I buku Goleman ( dikutip dari Johana EP ) mencoba menerangkan lebih detil diagram kecerdasan emosi untuk mempermudah, memahami kecerdasan emosi.

Dalam diagram tersebut terdapat empat tahapan dan masing-masing tahapan terdiri dari empat hal : di bawah sendiri di tulis persepsi, penilaian dan ekspresi emosi. Dalam tahapann ini dibutuhkan empat kemampuan, yang pertama yaitu mengenal emosi secara fisik rasa dan pikir. Kedua perlu ada kemampuan untuk mengenal emosi orang lain, desain, karya seni dsb, melalui bahasa, bunyi, penampilan dan perilaku.

Ketiga yaitu kemampuan untuk membedakan ungkapan rasa antara tepat dan tidak tepat, jujur versus tidak jujur

Diatasnya yaitu pada kedua berisi fasilitas emosi untuk berfikir yang juga terdiri dari empat hal :

Pertama, emosi memberikan prioritas pada pikiran dengan menggerakkan perhatian pada informasi penting.

Kedua, emosi cukup gamblang dan tersedia sehingga emosi tersebut dapat digunakan sebagai bantaun untuk menilai dan mengingat yang berhubungan dengan rasa. Perubahan emosi mengubah perspektif individu dari optimis jadi pesimis, mendorong adanya perbedaan pandangan. Keadaan emosi mendorong adanya perbedaan pendekatan khusus dalam pemecahan masalah, misalnya ketika kebahagiaan memberikan fasilitas untuk penalaran induktif dan kreativitas. Tahapan ketiga adalah pengertian dan penguraian emosi, penggunaan pengetahuan. Disini ada empat kemampuan, yang pertama adalah kemampuan untuk memberikan label emosi, dan mengenal hubungan antara berbagai kata dan emosi itu sendiri, misalnya hubungan antara suka, menyukai dan menyintai. Kedua adalah kemampuan untuk mengartikan arti bahwa emosi berkaitan dengan hubungan, misalnya kesedihan sering menyertai kehilangan. Ketiga yaitu mengerti rasa komplex, rasa cinta bersamaan dengan benci, atau campuran seperti takjub adalah kombinasi takut dan terkejut. Keempat adalah kemampuan untuk mengenal adanya perpindahan diantara berbagai emosi, seperti adanya perpindahan dari marah ke puas atau dari marah ke malu.

Diatas sendiri ada pengarahan reflektif emosi untuk mempromosikan pengembangan emosi dan intelek, ada empat kemampuan disitu. Yang pertama adalah tetap terbuka untuk rasa. Kedua-duanya yaitu yang menyenangkan dan tak menyenangkan. Kedua adalah kemampuan untuk melibatkan diri atau menarik diri secara reflektif dari suatu emosi dengan mendasarkan pada pertimbangan adanya informasi dan kegunaan.

Ketiga yaitu kemampuan untuk memantau emosi secara  reflektif dalam hubungan dengan diri sendiri dan orang lain, misalnya mengenal betapa jelas, khusus, berpengaruh atau bernalar semuanya itu.

Keempat adalah kemampuan untuk mengelola emosi dalam diri sendiri dan orang lain dengan memadyakan emosi negatif dan memperbesar yang menyenangkan, tanpa menekan atau melebih-lebihkan informasi yang menyertainya.

 

 

Bebarapa Ketrampilan E Q

  1. EMPATI :

ada dua komponen dalam komponen empati :

Yang pertama adalah, reaksi emosi pada orang lain, yang normalnya berkembang dalam enam tahun pertama kehidupan anak. Kedua adalah reaksi kognitif dalam memandang sesuatu dari sudut pandang atau perspektif orang lain.

Perkembangan empati, menurut Martin Hoffman dalam bukunya Lawrence E Shapiro ; perkembangan empati dinilai sejak bayi lahir yang pertama adalah “empati global” anak usia lahir sampai 1 tahun, anak masih menafsirkan rasa tertekan bayi lain sebagai tertekannya sendiri karena belum mempunyai arah membedakan diri sendiri dan dunianya.

Empati yang kedua pada unsur satu sampai tiga tahun, mereka sudah mampu melihat kesusahan orang lain bukan kesusahan mereka sendiri. Anak usia ini mencoba (secara naluri) meringankan penderitaan orang lain.

Usia tiga sampai enam tahun mulai mengenal tanda-tanda kesedihan orang lain. Usia enam tahun dimulainya tahapan kognitif, kemampuan memandang sesuatu dari sudut pandang orang lain dan mencoba berbuat sesuai dengan itu.

Menjelang akhir masa kanak-kanak (10-12 th) anak-anak mengembangkan empati mereka tidak hanya pada mereka yang mereka kenal namun juga pada kelompok orang yang pernah mereka jumpai.

 

2.      KEJUJURAN

Sebagaimana yang di ketahui oleh orang tua, anak-anak berkata bohong hampir sejak mereka mulai berbicara , dan bila di telusuri latar belakang penyebab kebohongan biasanya, mereka untuk melindungi Privasinya dan kadang juga untuk menutupi rasa malu.

Walaupun sering berbohong sering di maklumi dari segi perkembangan anak tetapi berbohong yang sudah menjadi kebiasaan atau berbohong dalam hal yang penting bagi kesejahteraan mereka, akan sangat merugikan perkembanganpribadi mereka.

Karena berbohong akan mengikis  kedekatan dan keakraban, berbohong menumbuhkan benih ketidakpercayaan orang lain, berbohong membuat orang yang menjadi orang yng menjadi kurban merasa di sepelekan, dan hampir tidak mungkin kita tinggal bersam orang lain yang sering berbohong.

Penelitian dari Ekman menunjukkan bahwa anak yang  sering berbohong berasal dari rumah tangga yang orang tua juga dari anak-anak yang berasal dari rumah yang pengawasan minimum atau dilatih oleh orang tua sendiri seringkali bersikap tidak jujur .

Agar anak berkembang mempunyai kejujuran, tanggung jawab, peduli dan sayang orang lain yang merupakan  aspek penting dari EQ maka :

-     Mengajarkan nilai kejujuran mulai mereka masih kanak-kanak.

-     Menjadikan kejujuran dan etika sebagai bahan perbincangan sejak anak masih sangat muda.

3.      RASA MALU DAN RASA BERSALAH

Rasa malu bias di artikan sebagai salah satu bentuk rasa rendah diri, yang terjadi ketika kanak-kanak merasa gagal memenuhi harapan orang lain, dan rasa malu ini biasanya di barengi rasa bersalah bila anak gagal memenuhi standar prilaku yang di  tetapkan sendiri. Yang perlu di perhatikan adalah penggunaan rasa malu dan rasa bersalah bila anak gagal memenuhi standar prilaku yang di tetapkan sendiri. Yang perlu di perhatikan adalah penggunaan rasa malu dan rasa bersalah alam mendidik, tergantung pada temperamen anak. Bila penggunaannya tepat pada emosi ini akan mengintegrasikan kembali anak ke dalam dukungan keluarga. Rasa malu dan rasa bersalah bukan aspek emosi yang harus di jauhi, karena bila tepat penggunaannya, emosi-emosi penting bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai moral pada anak.

4.      BERFIKIR REALISTIS

Berfikir realistis adalah memandang dunia seperti apa adanya dan menanggapi dengan keputusan dan prilaku yang sesuai, walau kenyataan itu pahit sekalipun, Kejujuran orang tua dalam mengungkap perasaan apa adanya tidak menyembunyikan kesalahan dn selalu menceritakan kebenaran sama anak adalah modal dasar anak untuk berfikir realistis mengenai masalah dan kepentingan mereka bila orang tua berbuat serupa yaitu  telah menyembun ikan kebenaran dari mereka betapapun menyakitkan, Kisah-kisah keteladanan sebagai media yang cukup baik untuk melatihkan ketrampilan berfikir realistis.

5.      OPTIMISME

Sikap optimis adalah lawan sikap pesimis. Kaum optimis percaya bahwa peristiwa positif yang membahagiakannya adalah bersikap permanen ( akan terus terjadi sepanjang waktu ) . Orang optimis akan selalu berusaha utuk meningkatkan hal-hal yang baik terjadi, jika sesuatu yang butuh terjadi mereka menganggap itu hanya bersikap sementara dan orang yang pesimis adalah kebalikan dari itu, Anak-anak perlu di ajak untuk bersikap optimis sebagai jatah satu cara untuk bertahan terhadap depresi ancaman gangguan mental secara fisik lain. Optimisme juga bersumber dari berfikir realistic serta dari kesempatan untuk menghadapi tantangan-tantangan sesuai dengan usia, kemudian berusaha menguasai cara-cara menghadapi tantangan tersebut. Orang tua harus memberi teladan bersikap optimis, karena anak paling mudah belajar meniru perbuatan dan perkataan orang tuannya.

 

5.      KETRAMPILAN SOSIAL

Ketrampilan sosial atau ketrampilan bergaul dengan orang lain, akan paling banyak membantu dalam keberhasilan dan kepuasan dalam hidup, karena ketrampilan ini akan mempertemukan antara kebutuhan dan harapan orang lain, di mulai dengan ketrampilan menguasai, menafsirkan dan bereaksi secara tepat terhadap situasi-situasisocial. Di mulai dari lingkungan keluarga dan di lanjutkan pada kelompok bermain ( peer group ) anak-anak bias di latihkan ketrampilan social yaitu

Pertama ketrampilan bercakap-cakap yang menyangkut aspek mengungkapkan kebutuhan dan keinginan dengan jelas, bertanya pada orang lain pada diri mereka  menawarkan bantuan dan saran untuk umpan balik yang positif menunjukkan minat pada percakapan, menunjukkan bias menjadi pendengar yang baik, menunjukkan bias membutuhkan penerimaan, menunjukkan kedekatan dan mengungkapkan empati..

Ketrampilan bercakap-cakap ini dapat di latihkan yang akhirnya membantu mereka masuk ke dalam pergaulan baik dengan seorang maupun kelompok.

Kedua pentingnya humor.Humor merpakan sesuatu yang penting dan istimewa dan perkembangan ketrampilan social karena sulit untuk tidak menyukai orang yang membuat kita tertawa. Kemampuan membuat humor dimulai sejak bulan-bulan pertama dalam kehidupan seseoranganak.Humor sejati lebih dari sekedar reaksi fisik atau persepsi dimulai pada tahun kedua ketika anak mulai memahami sifat simbolis kata-kata dan benda-benda. Pada usia 3 tahun anak-anak juga menemukan bahwa kata-kata dapat menjadi lucu dan keganjilan-keganjilan konsep anak lainnya.Walau humor sering disebut sebagai bakat tetapi sebagai ketrampilan social,humor bias dilatihkan paling tidak setip anak terlahir dengan selera humor.

6.      MENJALIN PERSAHABATAN

Waktu seorang anak berusia 7 atau 8 tahun yang mulai menjauh dari pengaruh orang tuanya dan tahun demi tahun selanjutnya ia mulai berpaling pada teman-temannya,baik teman sekelas maupun teman lain. Untuk mendapatkan dukungan perhatian persetujuan,penghargaan dari temannya. Menurut Harry S Sulivan persahabatan di kalangan anak-anak akan meninggalkan kebiasan yang tercetak seumur hidup cara anak mendapatkan teman. Anak-anak dalam mendapatkan teman melewati 4 tahap yaitu      :

a.  Tahap Egosentris (3-7) tahun ,teman bagi tahap ini adalah orang yang paling dekat tinggal dengannya, secara kasar anak-anak pada tahap ini sedang mencari teman  yang dapat mereka memanfaatkan mereka yang mempunyai mainan yang dapat dipinjam atau makanan atau mereka yang mempunyai atribut pribadi yang mereka tidak mempunyai.

b.   Tahap pemenuhan kebutuhan (4-9) Tahun. Mereka menghargai teman sebagai individu tidak lagi berdasarkan yang mereka miliki tapi berdasar kebutuhan khusus akan terpenuhi, anak pada tahap ini memilih teman yang  diajak bermain atau yang bisa menerima pemberian kue (makanan) tetapi balasan yang dianggap penting oleh mereka, pada tahap ini anak-anak umumnya sulit bertemu dengan lebih dari satu orang.

c.   Tahap Balas Jasa (6-12) Tahun. Tahap ini dicirikan melakui alat balas jasa dan kesamaan hak mereka menilai persahabatanya berdasarkan perbandingan yang tidak sungkan-sungkan mengenai siapa berbuat apa untuk siapa sehingga persahabatan pada fase ini cenderung terbatas pada pasangan-pasangan (dalam jenis kelamin yang sama).

d.   Tahap akrab (9-12) Tahun. Pada tahap ini tidak saja hal-hal yang nampak tapi mereka lebih berkepentingan dengan masalah dari kebahagiaan orang tersebut banyak psikolog memandang tahapan ini bagi pondasi-pondasi untuk semua keluarga akrab. Kesediaan untuk berbagi emosi, masalah dan konflik. Pada tahapan ini membentuk ikatan emosional mendalam yang oleh anak-anak akan dikenang sebagai lembar kerja yang paling bekesan seumur hidup. Karena criteria yang betul-betul penting dalam persahabatan pada setiap anak adalah berbagai informasi. Dengan itu mendorong anak-anak memperoleh kesempatan-kesempatan yang sesuai dengan usia untuk mendapatkan ketrampilan mencari teman merupakan tindakan yang bijaksana. Sebagai sarana mencari teman fungsi kelompok bermain adalah sangat penting. Diterima bergaul dengan kelompok teman sebaya sebagai tahapan paling penting yang dapat mempengaruhi hubungan sosial anak itu sesudah remaja dan dewasa. Dan hal ini perlu keteladanan dari orang dewasa di sekelilingnya atau orang tua.

7.      TATA KRAMA

Kemampuan anak bergaul dengan orang dewasa khususnya orang-orang yang mempunyai otoritas-otoritas merupakan aspek penting perkembangan social dan merupakan bakat yang dihargai secara tinggi. Maka sopan santun sebagai salah satu ketrampilan EQ harus dilatihkan dan diajarkan karena mempunyai pengaruh luasr biasa pada keberhasilan mereka dalam pergaulan yang di kemudian hari.

 

8.      MOTIVASI DIRI

Merupakan pendekatan dari EQ orang yang motivasi tinggi (termotivasi) mempunyai keinginan dan kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi rintangan-rintangan dan bagi banyak orang motivasi diri sama dengan kerja keras yang akan membuahkan keberhasilan dan kepuasan pribadi. Untuk perlu kiranya seorang anak dilarang untuk mengharapakan keberhasilan juga pendidikan yang relevan. Dengan minat dan gaya belajar anak juga tidak lekas pentingnya mengajari anak untuk tidak mudah menyerah dalam hal menghadapi dan mengatasi kegagalan. Alat itu dapat dinilai dari harapan yang tinggi pada anak dan membuat mereka berbuat lebih banyak lebih berharga keras dan meluangkan waktu lebih banyak untuk mengerjakan tugas-tugas meluaskan wawasan agar anak terdorong untuk menguasai dunia.

9.      KETEKUNAN DAN USAHA

Ketekunan dan kerajinan dan kemauan termasuk dalam daftar ketrampilan EQ bagi seorang anak ketiganya berhubungan erat dengan motivasi (kognitif). Jadi kognitiflah yang lebih bertanggung jawab bila seseorang menemui motivasinya. Menurut Martin Covington, pemahaman tentang usaha dan kemampuan yang berubah seiring dengan bertambahnya usia jadi orang dewasa (orang tua, guru harus mengajari mereka menghargai ketekunan berusaha demi usaha itu sendiri sebagai contoh ungkapan rajin pangkal pandai, berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang senang kemudian. Unsur penting dalam melatih ketrampilan ini adalah bagaimana seseorang menangani/ mengelola waktu dengan baik. Diantara kegiatan yang mampu mengajarai anak secara tidak langsung secara untuk menghargai usaha adalah dengan menyalurkan hoby karena di dalamnya ada unsure bermain dan bekerja dan diberi pengertian pada mereka bahwa kebrhasilan sering dibangun atas kegagalan.

Banyak hal yang harus dilakukan oleh orang tua atau guru untuk mengembangkan kecerdasan emosional anak. Pertama adalah menyadari emosi-emosi anak. Kedua mengakui emosi sebagai peluang untuk kedekatan dan mengajar. Ketiga mendengarkan dengan empati dan menjauhkan perasaan anak. Keempat menolong anak memberi nama emosi dengan kata-kata. Kelima menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah. Kelima hal tersebut dilakukan dengan memakai strategi.

  1. Hindarkan kritik yang berebihan, komentar yang menghina dan mengolok-ngolok anak.
  2. Melakukan pujian yang wajar dan terperinci.
  3. Jangan mencoba, jangan memaksakan pemcahan orang tua/ guru pada masalah anak.
  4. Bersikap jujur pada anak.
  5. Bersabarlah dengan prosesnya.

Itulah sekilas tentang kecerdasan emosional banyak hal yang masih perlu kita pikirkan dan kembangkan dalam kegiatan melatih anak agar mempunyai kecerdasaan emosional yang baik. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda semua.

 

 

EMOSI DAN KESEHATAN JIWA

 

A.     Konsep jiwa sehat

Manusia terdiri atas : fisik, psikologis dan sosial.

Jiwa psikologis terdiri atas ( yang penting ) : proses berfikir, emosi dan prilaku.

Jiwa yang sehat :

1.      Dapat berusaha tanpa banyak mengeluarkan tenaga

2.      Cita-cita ambisi dan keinginannya selalu dalam batas-batas kemampuannya sendiri.

3.      Tahu secara pasti kemampuan dan kelemahan dirinya.

4.      Suka menolong dan mau menerima pertolongan orang lain.

5.      Tatap elastis dalam kegagalan

6.      Tatap tenang dalam keberhasilan

7.      Bersedia menjadi kawan, kalau perlu menjadi lawan

8.      Ada ketetapan hati dan percaya kepada diri sendiri

9.      Tidak mmerasa bahwa sekitarnya menuntut lebih dari yang semestinya.

B.     Emosi Positip dan Negatip

Di bawah ini adalah contoh dari keadaan emosi yang positip dan negatip.

Positip                             Negatip

Bahagia                           Sedih

Gembira                          Cemas

Mesra                             Gelisah

Bergairah                         Tegang

Berminat                          Marah

Bangga                            Benci

Mencintai                        Iri hati

Dicintai                            Menyesal

Bersyukur                        Malu

Penggunaan dari emosi positip dan negatip tergantung dari situasi yang dihadapi saat itu oleh seseorang. Bukan berarti selalu yang positip adalh baik, yang negatip adalah jelek.

 

C.     Sasaran Perkembangan Emosi

  1. Kemampuan mengenal, mengolah dan mengontrol emosi.
  2. Memberikan respon yang positip(sesuai) terhadap semua rangsng semua baik yang datang diri dalm dirinya maupun dari luar dirinya.

 

D.     Ranah Emosi

Ranah atau daerah emosi yang harus dikembangkan adalah:

  1. Mengenali emosi yang ada pada diri sendiri.
  2. Mengelola dan mengekspresikan emosi secara wajar.
  3. Memberikan motivasi kepada diri sendiri untuk berbuat yang lebih baik.
  4. Mengenal emosi yang ada pada orang lain
  5. Mampu membina hubungan yang baik dengan orang lain, bagaimanapun bentuk emosinya, walaupun berbeda dengan dirinya.

 

E.      Perkembangan Emosi

Menurut Anna Freud, perkembangan emosi seorang dari anak menuju dewasa terdapat 6 jalur perkembangan. Pada emosi yang berkembang dengan baik,jalur-jalur ini akan berkembang sesuai dengan bertambahnya usia anak. Demikian pula jalur-jalur ini akan berkembang secara seimbang dan harmoni. Keenam jalur perkembangan tersebut adalah:

  1. Dari seorang anak yang tergantung secara total, menjadi seorang yang mampu mandiri dan bertanggung jawab.
  2. Dari seorang anak yang semula hanya akan (minum) ASI atau susu yang bersifat pasif, menjadi seorang yang mampu memilih dan menentukan makanan yang menjadi seleranya, sesuai dengan keberadaan dirinya.
  3. Dari seorang anak yang ngompol dan ngobrok, menjadi seorang yang mampu untuk menahan dan mengatur kapan harus buang air kecil dan buang ir besar.
  4. dari seorang anak yang dalam mengurus dirinya tergantung kepada orang lain, misalnya mandi, berpakaian, mengurus diri, menjadi orang yang mandiri.
  5. Dari seorang anak yang egosentris, menjadi seorang yang toleran kepada orang lain.
  6. Dari seorang anak yang mendapatkan kepuasan dengan bermain, menjadi seorang yang menapatkankepuasan dengan bekerja dan melakukan hobinya.

Perkembangan dari tiap jalur harus diperhatikan dan pencapaiannya harus dibandingkan dengan usia yang normal pada umumnya.

 

F.      Masalah Emosi pada Anak dan Remaja

Masalah emosi pada anak yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Frustasi (kecewa), yang dapat berlanjut menjadi depresi.
  2. Konflik, yang dapat berlanjut menjadi cemas.
  3. Hiperesional, emosi berlebihan.
  4. Malu
  5. Menolak dipeluk, dicium dan disayang
  6. Motivasi diri yang kurang
  7. Sulit mengejspresikan emosi
  8. Sulit untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain (empati)
  9. Sulit untuk mendapatkan teman, khususnya yang akrab.

10.  Kurang percaya diri.

 

G.     Masalah Emosi pada Dewasa

Pada orang yang sudah dewasa, masalah emosi lebih sering berkaitan dengan masalah kehidupan yang dihadapi sehari- hari. Yang terbanyak adalah cemas dan depresi.

H.     Percaya Diri

Percaya diri terdiri dari 2 unsur yang penting, yaitu unsur internal dan unsur eksternal. Unsur internal yang menimbulkan perasaan dan anggapan, bahwa diri kita dalam keadaan baik. Unsur eksternal yang memungkinkan kita tampil dan berperilaku yang dapat diterima oleh lingkungan.

Unsur internal terdiri dari 4 aspek.

1.   Mencintai diri sendiri

2.   Memahami diri sendiri

3.   Mempunyai tujuan yang jelas

4.   Berpikir yang positif.

Unsur eksternal terdiri dari 4 aspek :

1.   Kemampuan komunikasi yang baik

2.   Mempunyai ketegasan dalam bertindak

3.   Menjaga dan menyesuaikan penampilan diri

4.   Mempunyai kemampuan dalam pengendalian emosi.

Dari keterangan diatas, jelas bahwa percaya diri (PD) unsur utamanya pada emosi. Dengan demikian dapat disebut bahwa orang yang percaya dirinya bagus, mempunyai kecerdasan emosi yang bagus pula.

 

I.       Gangguan Emosi pada anak dan Remaja

Yang paling sering adalah gangguan cemas dan depresi. Kecemasan pada seorang anak dari remaja dapat ditimbulkan oleh karena adanya masalah dalm kelurga. Sering ditandai dengan keluhan fisik, walaupun tidak ada kelainan fisik. Pusing, mual, sesak nafas, berdeba-debar serta rasa tak enak pada perut. Khususnya bila mau berangkat sekolah. Pada keadaan berat bisa terjadi fobia sekolah, sehingga anak menolak untuk sekolah.

Pada gangguan depresi, pada anak terjadi rasa kehilangan terhadap sesuatu yang dicintai. Anak menjadi murung, malas bermain dan berfantasi adalah dengan kesedihan. Penanggulangan gangguan emosi pada anak dan remaja terdiri atas langkah:

  1. Mencari dan memperbaiki penyebab.
  2. Konseling dengan kelurga untuk mwmperbaiki hubungan orang tua dan anak.
  3. Psikoterapi dengan anak, khususnya terapi bermain.
  4. Memperbaiki prestasi sekolah anak.
  5. Bila diperlukan diberikan obat-obatan anti cemas.

 

J.      Gangguan Emosi pada Dewasa

Yang paling sering juga gangguan cemas dan depresi. Pada umumnya disebabkan oleh karena situasi kehidupan yang dihadapi oleh seseorang, baik dari kelurga, lingkungan pekerjaan maupun lingkungan masyarakat.

Gejala yang sering muncul adalah sulit tidur, adanya keluhan fisik yang mengganggu, fungsi bekerja terganggu, sosialisasi terganggu, dari sering menggunakan waktu senggang tidak efektif (sering dipakai untuk melamun). Emosi sering tidak terkendali, sehingga sering marah-marah, mudah tersinggung dan membayangkan suatu malapetaka yang akan menimpa, walaupun belum terjadi.

Penanggulangan gangguan emosi pada dewasa terdiri dari:

  1. Mencari dan memperbaiki penyebab
  2. Konsultasi dan sekaligus psikoterapi.
  3. Bila diperlukan dapat diberikan obat anti cemas dan anti depresi

Itulah sekilas tentang kecerdasan emosional yang masih perlu kita kembangkan dan pikirkan. Baik dari sudut pengembangan kemampuan EQ nya maupun keterkaitan antara EQ dengan kesehatan jiwa seseorang, karena makin baik EQ seseorang ada hubungan yang signifikan dengan semakin baik kesehatan jiwa seseorang
KARAKTERISTIK DAN PROGRAM PENGEMBANGAN

Dalam pengembangan dan pembentukan kecerdasan emosional pada seseorang, pendidik, orang tua, pelatih, ataupun guru, haruslah mengetahui karakteristik EQ sehingga mampu dilatihkan agar berkembang seiring perkembangan seseorang tersebut, karena salah satu perbedaan antara IQ dan EQ adalah apabila IQ merupakan potensi yang dibawa sejak lahir (anak lahir membawa bakat-bakat yang menyertainya) dan dimanfaatkan secara optimal untuk memperoleh prestasi yang setinggi-tingginya. Sedangkan EQ adalah potensi yang berkembang sejak manusia lahir karena dikondisikan dan dilahirkan terus menerus.

Karakteristik EQ adalah sebagai berikut :

A.     Self Awarences

Kemampuan mengenali perasaan yang ada pada diri sendiri, kemampuan ini adalah dasar kecerdasan emosional, seseorang yang tahu benar akan emosi sendiri akan lebih dapat mengarahkan hidup mereka, meredam ego yang kadang selalu ingin berkuasa. Mengenal dengan baik sifat-sifat yang kurang baik dan mengenal betul sifat-sifat yang baik sebagai kelebihan yang semua itu akan menjadi kaya kalau seseorang dan pemahaman tentang perasaan sendiri merupakan dasar pembangunan fundamentalis kecerdasan emosional seseorang.

Untuk pengembangan kemampuan ini, kita harus peka terhadap apa yang disebut “tanda somatik” yaitu perasaan yang didasari emosi yang melanda seseorang (yang tidak selalu diisolasi). Sebagai contoh, seseorang yang takut ular (phobia), bila melihat gambar ular, kulitnya di bawah sensor akan kelihatan (suatu tanda takut) dengan usaha sungguh-sungguh seseorang dapat lebih mengenali “tanda somatik” nya.

Untuk menghindari agar seseorang banyak terkena “ tanda somatik “ ( gut felling ) dan untuk mengembangkan self awarennes secara sehat pendidik / orang tua perlu mencamkan dan memperhatikan apa yang di katakan oleh Dorothy Law Notle

*    Jika anak di besarkan dengan ketakutan ia belajar gelisah

*    Jika anak di besarkan dengan olok-olok ia belajar rendah diri

*    Jika anak di besarkan dengan iri hati ia belajar kedengkian

*    Jika anak di besarkan dengan di permalukan ia belajar merasa bersalah

*    Jika anak di besarkan dengan dorongan ia belajar percaya diri

*    Jika anak belajar dengan toleransi ia belajar menahan diri

*    Jika anak di besarkan dengan pujian ia belajar menghargai

*    Jika anak di besarkan dengan penerimaan ia belajar mencintai

*    Jika anak di besarkan dengan dukungan ia belajar menyenangi diri

B.     Mood Management

Pengelolaan perasaan merupakan kunci dari kecerdasan emosional, seseorang secara manusiawi akan selalu mengalami dua hal, senang dan sedih tenang dan gaduh, marah dan sabar dsb. Dalam pengelolaan perasaan yang paling penting adalah keseimbangan, beraneka ragamnya suasananya hati merupakan bumbu kehidupan, menjaga keseimbangan suasana hati dapat menciptakan ketentraman dan kebahagiaan dalam kehidupan. Seseorang sering lepas kontrol bila di tanda emosi, tetapi seberapa lama emosi itu  mendominasi haruslah di kontrol, kemarahan adalah suasana hati yang harus dihindari, tetapi juga yang paling mudah menyusup di dalam diri seseorang, untuk mengelola perasaan, amarah haruslah betul-betul diwaspadai, amarah yang diumbar tidak akan meredakan suasana justru akan tambah memanaskan. Semakin dipikirkan semakin naik tensi darahnya, cara untuk mengendalikan amarah adalah membingkai kembali masalah yang memicu amarah dengan mencoba memikirkan latar belakang.

Seseorang berbuat yang dapat memicu amarah kita atau dengan menarik nafas panjang-panjang, mengosongkan pikiran atau mengalihkan pikiran pada hal-hal lain. Mengelola perasaan merupakan tugas manusia secara terus menerus, dan dapat dibiasakan mulai kecil, kita menahan diri terhadap keinginan-keinginan, sportif, mau mengaku salah , memahami situasi dirinya dan orang lain (lewat cerita atau menanggapi kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya.), bermain-main (tidak biasa menyendiri),menghindari perasaan benci, iri dengki dan menghindari kebiasaan mengolok-olok dsb.

Kunci lain untuk good management adalah sabar, (bukanlah sabar itu sebagaian dari pada iman), menahan diri, mau menerima keadaan, (menerima dirinya apa adanya).


C.     Self Motivation

Motivasi diri yang positip disertai semangat dan kepercayaan pada diri sendiri, memotivasi diri sendiri akan menimbulkan gairah berkarya, gairah bekerja ditambah dengan visi yang jelas dan aksi untuk mewujudkan merupakan rumus kesuksesan (keberhasilan), gairah dan visi tanpa aksi juga tak mungkin mewujudkan kesuksesan, punya visi dan aksi tetapi tanpa gairah, motivasi, keberhasilan yang diperoleh tidak mungkin optimal (serba tanggung).

Hambatan yang paling besar untuk mewujudkan self motivasi adalah pandangan pesimis, seseorang yang pesimis, akan ragu-ragu untuk melakukan aksi.

Proses pendidikan bagi seseorang agar terbiasa timbul dalam dirinya motivasi adalah proses pendidikan yang bernuansa toleransi, penerimaan, dukungan, pujian, dorongan dan pengakuan, dan penuh rasa aman ketentraman bagi seorang anak.

D.     Impulse Control

Sari dari  pengendalian diri adalah menahan dorongan hati, menurut penelitian seseorang anak yang terlatih menahan keinginan bila sudah dewasa mereka lebih supel dalam pergaulan, lebih yakin akan dirinya sendiri, dan lebih dapat menangani frustasi, begitu juga sebaliknya anak yang terlatih tidak maupun menunda kesenangan, akan tumbuh menjadi orang yang keras kepala, kurang tegas, cepat frustasi, bersikap ragu-ragu, gampang putus asa dsb.

Kemampuan menahan diri dapat dikembangkan melalui latihan dan pendidikan, dengan cara ditumbuhkan pengertian pada diri anak, bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi seketika, lewat permainan kelompok, diskusi kelompok, sosio drama, dsb.

E.      People Skills

Kemampuan memahami apa yang orang lain rasakan (Internal Frame of Reference), kepekaan terhadap yang dipikirkan, dirasakan atau empati pada orang lain, adalah sesuatu yang sangat penting dalam pekerjaan, hubungan cinta, persahabatan dan keluarga. Apa yang orang lain rasakan kita mampu memahami dan merasakannya, begitupun sebaliknya apa yang kita rasakan orang lain dapat menangkapnya bagaimanapun halusnya.

Semakin pandai seseorang menebak perasaan dibalik tanda, semakin hati-hati seseorang dengan tanda yang ia kirimkan. Hubungan yang baik dan harmonis dengan orang lain, adalah modal dasar untuk membentuk relasi (jaringan) dengan orang lain, adalah modal dasar untuk membentuk relasi (jaringan) dengan orang lain, yang pada akhirnya dapat membantu seseorang untuk lebih berhasil. Pola  pendidikan dengan banyak melakukan diskusi, dialog, pemberian tugas yang dilakukan bersama kelompok, pembentukan kelompok belajar, kelompok kerja, dan sebagainya. Semua akan sangat membantu seorang anak mengembangkan “people skills”ini.


KECERDASAN SPIRITUAL

Dalam khasanah ilmu psikologi, kecerdasan spiritual pembahasannya muncul diawal millennium ini (th 2000). Temuan SQ ini melengkapi kecerdasan – kecerdasan lainnya dalam memandang manusia secara lebih utuh. Tokohnya adalah pasangan suami isteri Danah Zohar dan lan Marshal, yang dituangkan dalam buku mereka. SQ Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence. Kecerdasan Spiritual adalah ragam kecerdasan yang menyadarkan kita akan makna hidup, serta memungkinkan kita berfikir kontektual dan transformative, sehingga kita benar-benar utuh sebagai pribadi secara intelektual spiritual maupun emosional.

Kecerdasan ini merupakan sumber dari kebijaksanaan serta kesadaran akan nilai. SQ juga menunjukkan bahwa setiap manusia mempunyai kesadaran dan kebebasan untuk mengembangkan diri secara bertanggung jawab, dan mampu memliki wawasan mengenai kehidupan serta memungkinkan untuk menciptakan suatu kreasi-kreasi baru. Yang menarik dalam paparan SQ ini oleh suami isteri itu adalah adanya penemuan system syaraf yang dinamakan God Spot pada otak manusia. Syaraf ini ternyata akan melakukan aktifitas yang lebih intensive, bila seseorang berbicara atau memikirkan hal-hal spiritual.

Walaupun begitu menurut kedua penulis buku tersebut. Kecerdasan sipiritual tidak sama dengan bearagama dan tidak perlu berkaitan denga agama formal. Mungkin bagi sementara orang SQ terungkap melalui agama formal yang dianutnya, tetapi beragama tidak selalu menjamin adanya SQ yang tinggi.

Perbedaan penting antara SQ dengan EQ  terletak pada daya ubahnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Daniel Goleman, kecerdasan eomsional memungkinkan  saya untuk memutuskan dalam situasi apa saya berada lalu bersikap secara tepat didalamnya. Ini berarti bekerja di dalam batasan situasi dan membiarkan situasi tersebut mengarahkan saya. Akan tetapi, kecerdasan spiritual memungkinkan saya bertanya apakah saya memang ingin berada pada situasi tersebut. Apakah saya lebih suka mengubah situasi tersebut, memperbaikinya? Ini berarti bekerja dengan batasan situasi saya, yang memungkinkan saya untuk mengarahkan situasi itu.


A.     Menguji SQ

Tanda-tanda dari SQ yang telah berkembang dengan baik mencakup hal-hal berikut :

  • Kemampuan bersikap fleksibel (adaptif secara spontan dan aktif)
  • Tingkat kesadaran diri yang tinggi
  • Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan
  • Kemampuan untuk menghadapi dan melampuai rasa sakit.
  • Kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai
  • Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu
  • Kecenderungan untuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (pandangan “holistik”)
  • Kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa?” atau “Bagaimana jika?” untuk mencari jawaban-jawaban yang mendasar
  • Menjadi apa yang disebut oleh para psikolog sebagai “bidang mandiri”  – yaitu memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

Seseorang yang tinggi SQ nya juga cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian – yaitu seseorang yang bertanggung jawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih tinggi kepada orang lain dan memberikan petunjuk penggunaannya. Dengan perkataan lain, seseorang yang memberi inspirasi kepada orang lain. Buku ini akan mengajukan pertanyaan yang dapat digunakan pembaca untuk menilai SQ mereka dan mendiskusikan beberapa orang terkenal yang ber SQ tinggi dan rendah.

 

B.     Meningkatkan SQ

SQ kolektif dalam masyarakat modern adalah rendah. Kita berada dalam budaya yang secara spiritual bodoh yang ditandai oleh materialisme, ketergesaan, egoisme diri sempit, kehilangan makna dan komitmen. Namun, sebagai individu, kita dapat meningkatkan SQ kita  evolusi lebih jauh dari masyarakat bergantung pada individu yang melakukan peningkatan itu. Secara umum, kita dapat meningkatkan SQ kita dengan meningkatkan penggunaan proses tersier psikologis kita – yaitu kecenderungan kita untuk bertanya mengapa, untuk mencari keterkaitan antara segala sesuatu, untuk membawa ke permukaan asumsi-asumsi mengenai makna di balik atau di dalam sesuatu, menjadi lebih suka merenung, sedikit menjangkau di luar kita, bertanggung jawab, lebih sadar diri, lebih jujur terhadap diri sendiri, dan lebih pemberani.

Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 2001 seorang penulis Indonesia Ary Ginanjar Agustian, menulis sebuah buku “Emosional Spiritual Quotient” ia merasa tertarik pada isu kontemporer mengenai IQ, EQ dan SQ yang ketiganya merupakan potensi dan kemampuan luar biasa pada manusia. Menurut penulis buku ESQ ini, melalui EQ kita melihat suatu potensi sangat hebat dan positif dalam meraih keberhasilan hidup, namun hanya berkaitan dengan dimensi kebendaan dan hubungan antar manusia semata-mata. Sedangkan dengan SQ sekalipun menurut Zohar dan Marshal tak ada kaitannya dengan keagamaan, menurut Ary Ginanjar, dengan ditemukannya God Spot berpotensi untuk menjembatani psikologi dengan agama. Konsep ESQ menginterogasikan wawasan EQ dan SQ sehingga konsep ini mencakup sekaligus azaz-azaz hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Ginanjar membuat rumus ESQ tentang Pengembangan Insan Paripurna

IP        =    (GS-S) x PPM x (KP + KS)

IP :     Insan Paripurna

Yaitu pribadi yang sudah mampu mengembangkan secara optimal fitrah dan suara hati nuraninya, sehingga dirinya tanguh dalam menjalani hidupnya.

GS       :     God Spot

Fitrah ruhaniyah (hati nurani/suara hati) yang dianugerahkan Tuhan

S          :     selubung

Belenggu-belenggu kejiwaan yang menghambat fitrah, belenggu itu berupa pengaruh prasangka negatip dsb.

PPM    :     Prinsip Pembangunan Mental

KP       :     Ketangguhan pribadi yaitu kondisi fisik mental dan spiritual

KS       :     Ketangguhan sosial yaitu sikap peduli sosial yang didasari dengan empati, kepercayaan dan kerjasama

Dengan terintegrasinya hanya IQ, EQ, SQ dalam pengembangan kecakapan hidup seseorang diharapkan terjadi sinergi dalam diri seseorang agar menjadi

 

SUKSES.

S          : Sehat Fisik dan Mental

U         : Ulet dalam Bekerja

K         : Kebebasan Berfikir dan Kebebasan dalam Hal Waktu

S          : Seimbang dalam kehidupan, rumah tangga, pekerjaan, pergaulan, jiwa dan raga

E          : Etika dan agama menjadi pedoman hidup

S          : Senang membantu orang lain menjadi sukses seperti dirinya sendiri

DAFTAR BACAAN

1.      Fuad Hasan (1992)

Berkenalan dengan eksis tensiatisme : Pustaka Jaya

2.      John Gottman, J. De Claire (1999)

Kiat-kiat membesarkan anak yang memiliki kecerdasan emosional, PT. Gramedia

Pustaka Utama, Jakarta.

3.      Goleman Daniel (1995)

Emotional Intelligence, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

4.      Shapiro E. Lawrence (1999)

Mengajarkan emosional Intelligence pada anak, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

5.      Prayitno (1997)

Pelayanan Unggul mengembangkan kecerdasan Intelektual dan Emosional, Makalah.

6.      Prawitosari JE (1998)

Kecerdasan Emosi (Makalah) Fakultas Psikolog UGM, Yogyakarta.

7.      Danah Zohar dan Ian Marshall (2002)

SQ, Mizan Bandung

8.      Ari Ginanjar Agustian (2002)

ESQ, Emotional Spiritual Quotient, Arga Jakarta

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Email:

rppguswur@gmail.com

Belajar Inggris

BelajarInggris.Net 250x250

Blog Stats

  • 1,527,631 hits

Pengunjung

free counters

blogstat

Alexa Certified Site Stats for www.aguswuryanto.wordpress.com

Incoming traffic

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 157 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 157 other followers

%d bloggers like this: