Belajar jadi Guru

Panduan Guru: Pendidikan Karakter Terintegrasi dalam Pembelajaran Seni Budaya SMP

Posted on: December 29, 2011


Download:

Panduan Guru Seni Rupa

BAGIAN II: PANDUAN KHUSUS

MATA PELAJARAN SENI BUDAYA

(SENI RUPA)

 

            Untuk mata pelajaran Seni Rupa, karakter yang acuan adalah karakter pokok dan karakter utama. Untuk karakter utama, selain karakter yang telah dipetakan di atas, perlu ditambahkan karakter yang khas yaitu kreativitas dan kepekaan estetik.

 

A.       Nilai-nilai Karakter Utama untuk Mata Pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa)

1.    Apresiasi Seni Rupa

Nilai-nilai karakter utama untuk Pembelarajan Apresiasi Seni Rupa antara lain sebagai berikut.

 

Nilai Utama

Indikator

Kereligiusan
  • Memberikan penilaian yang positif terhadap pengalaman religius sebagai tema/makna karya seni rupa
  • Menghubungkan karya seni rupa dengan pengalaman religious
Kejujuran
  • Memberikan pendapat tentang karya seni rupa berdasarkan pikiran dan perasaan diri sendiri
  • Memberikan pendapat tentang karya seni rupa dengan menunjukkan sumber acuannya
Kecerdasan
  • Menangkap makna karya seni rupa secara cermat, tepat, dan cepat
  • Memberikan tanggapan terhadap karya seni rupa secara cermat, tepat, dan cepat
Ketangguhan
  • Menanggapi karya seni rupa dengan berbagai argumentasi
  • Membahas karya seni rupa dengan mencari berbagai sumber
Kepedulian
  • Memperhatikan tindakan orang lain dalam menanggapi karya seni rupa
  • Membantu orang lain dalam menanggapi karya seni rupa
Kedemokratisan
  • Memberikan penilaian positif terhadap pendapat orang lain dalam menanggapi karya seni rupa secara berkelompok
  • Melakukan kesepakatan dalam menanggapi karya seni rupa secara berkelompok
Menghargai  keberagaman
  • Memberikan penilaian positif terhadap keberagaman jenis, tema, gaya, dan teknik berkarya seni rupa
  • Memberikan penilaian positif terhadap ungkapan keberagaman suku bangsa dan budaya dalam karya seni rupa
Nasionalisme
  • Memberikan penilaian yang tinggi terhadap karya seni rupa Indonesia
  • Memberikan penilaian positif terhadap ungkapan/tema nasionalisme/patriotism dalam karya seni rupa
Menghargai karya orang lain
  • Memberikan penilaian positif terhadap karya orang lain
  • Memperlakukan karya orang lain dengan baik
Keingintahuan
  • Mempelajari karya seni rupa dari berbagai sumber
  • Melihat pameran seni rupa
Disiplin
  • Mentaati tata tertib dalam proses pembelajaran seni rupa
  • Menyelesaikan tugas-tugas tepat pada waktunya.
Kesantunan
  • Memberikan tanggapan terhadap karya seni rupa dengan bahasa yang santun
  • Memperlakukan bahan, alat, dan hasil karya seni rupa dengan tindakan yang santun
Tanggung jawab
  • Memberikan apresiasi seni rupa yang bermanfaat bagi kehidupan
  • Memberikan apresiasi seni rupa yang bermanfaat bagi pengalaman estetik
  • Menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran apresiasi seni rupa dengan baik
Kreativitas
  • Mengidentifikasi ciri-ciri baru pada karya seni rupa.
  • Menggunakan ungkapan baru dalam menanggapi karya seni rupa
Kepekaan estetik
  • Mengidentifikasi bentuk-bentuk keindahan pada karya seni rupa dan lingkungan
  • Memberikan tanggapan  positif terhadap bentuk-bentuk keindahan pada karya seni rupa dan lingkungan

 

2.      Berkreasi Seni Rupa

Nilai-nilai karakter utama untuk Pembelarajan Berkreasi Seni Rupa antara lain sebagai berikut.

 

Nilai Utama

Indikator

Kereligiusan
  • Menghargai alam semesta ciptaan Tuhan sebagai bahan/sumber penciptaan karya seni rupa
  • Mengungkapkan makna religius melalui karya seni rupa
Kejujuran
  • Membuat karya seni rupa atas gagasan siswa sendiri
  • Menyadari kelemahan/kekurangan siswa sendiri dalam membuat karya seni rupa
Kecerdasan
  • Menyusun konsep karya seni rupa/pameran secara cepat dan cermat
  • Mewujudkan karya seni rupa/pameran secara cepat dan cermat
Ketangguhan
  • Menyusun konsep karya seni rupa/pameran dengan berbagai sumber
  • Mewujudkan karya seni rupa dengan mengoptimalkan penggunaan bahan dan alat
Kepedulian
  • Mengungkapkan perhatian terhadap lingkungan sosial atau alam melalui karya seni rupa
  • Membantu orang lain dalam membuat karya seni rupa secara kelompok
  • Membantu orang lain dalam berpameran seni rupa
Kedemokratisan
  • Menghargai pendapat orang lain dalam membuat karya seni rupa secara kelompok
  • Melakukan kesepakatan dalam membuat karya seni rupa secara kelompok
  • Melakukan kesepakatan dalam melaksanakan pameran secara kelompok
Menghargai  keberagaman
  • Menghargai keberagaman seni budaya sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
  • Mengungkapkan jenis (bentuk), tema/gaya/teknik dalam penciptaan karya seni rupa
  • Menghargai keberagaman jenis (bentuk), tema, gaya, dan teknik karya seni rupa dalam berpameran seni rupa
Nasionalisme
  • Menghargai alam dan budaya Indonesia sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
  • Menghargai seni rupa tradisional Indonesia sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
Menghargai karya orang lain
  • Menggunakan karya orang lain sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
  • Meperlakukan karya seni rupa orang lain dengan baik
Keingintahuan
  • Mempelajari sumber-sumber penciptaan karya seni rupa
  • Melakukan eksplorasi/eksperimen dalam berkarya seni rupa
Disiplin
  • Mengerjakan karya seni rupa sesuai dengan kriteria yang ditentukan
  • Menggunakan bahan dan alat sesuai dengan prosedur dalam berkarya seni rupa
Kesantunan
  • Membentuk gagasan yang halus dan baik dalam penciptaan karya seni rupa
  • Menggunakan ungkapan dan simbol-simbol yang baik dalam penciptaan karya seni rupa
Tanggung jawab
  • Menghasilkan karya seni rupa yang bermanfaat bagi kehidupan
  • Menghasilkan karya seni rupa yang berguna bagi pengalaman estetik
  • Menyelesaikan tugasnya dalam berkarya seni rupa secara kelompok
Kreativitas
  • Menyusun konsep karya seni rupa yang baru.
  • Mewujudkan karya seni rupa dengan komposisi dan teknik yang baru.
Kepekaan estetik
  • Menciptakan karya seni rupa/ lingkungan dengan menyusun unsur-unsur bentuk berdasarkan kaidah-kaidah komposisi.
  • Menggunakan bahan dan alat dengan mengoptimalkan nilai-nilai estetiknya yang intrinsic.

 

 

B.        Kegiatan Pembelajaran Seni Rupa yang Mengembangkan Karakter

 

Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran seni rupa dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Di antara prinsip-prinsip yang dapat diadopsi dalam membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksanakan proses pembelajaran, dan evaluasi yang mengembangkan karakter adalah prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selama ini telah diperkenalkan kepada guru, termasuk guru-guru SMP seluruh Indonesia sejak tahun 2002, yang diintensifkan dalam pelaksanaan KTSP secara bertahap mulai tahun 2006.

Pada dasarnya pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata siswa, dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Pembelajaran kontekstual menerapkan sejumlah prinsip belajar. Prinsip-prinsip tersebut secara singkat dijelaskan berikut ini.

 

a.   Pembelajaran Seni Rupa berdasarkan Prinsip Konstruktivisme

 

Seperti dijelaskan di muka, konstrukstivisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa seseorang menyusun atau membangun pemahaman mereka terhadap sesuatu berdasarkan pengalaman-pengalaman baru dan pengetahuan awal serta kepercayaannya.

Berdasarkan prinsip konstruktivisme, guru seni rupa dapat mengembangkan pemahaman siswa tentang konsep-konsep seni rupa secara mendalam melalui pengalaman-pengalaman belajar otentik dan bermakna. Dalam proses pembelajaran, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mendorong aktivitas berpikirnya. Untuk membangun sendiri pengetahuannya guru harus melibatkan secara aktif dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, guru harus merancang pembelajaran seni rupa dalam bentuk kegiatan berapresiasi dan berkreasi seni rupa yang mengaktifkan dan menyenangkan siswa, baik dalam kegiatan individual maupun kelompok.

Secara umum, tugas guru seni dalam pembelajaran konstruktivis adalah memfasilitasi proses pembelajaran seni rupa dengan:

 

1)      menjadikan pembelajaran apresiasi dan berkreasi seni rupa bermakna dan relevan bagi siswa,

2)      memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri dalam berapresiasi maupun berkreasi seni rupa,

3)      menyadarkan siswa agar menerapkan strateginya sendiri dalam belajar berapresiasi dan berkreasi seni rupa.

 

 

b.      Memfasilitasi Pembelajaran Apresiasi Seni Rupa

Untuk melaksanaan pembelajaran apresiasi seni rupa, guru dapat melakukan kegiatan-kegiatan antara lain sebagai berikut:

1)      mempelajari seni rupa melalui sumber-sumber tertulis atau elektronik  (buku, majalah, ensiklopedia, VCD, internet, dan sebagainya) dan membuat laporannya

2)      mengunjungi pameran seni rupa, galeri seni rupa, museum seni rupa, pasar seni, pusat-pusat kerajinan, dan sebagainya serta membuat laporannya

3)      mengunjungi atau mengundang seniman atau pengrajin untuk melakukan wawancara tentang pandangan dan karyanya serta membuat laporannya.

4)      membuat sajian apresiasi seni rupa berdasarkan berbagai sumber dalam bentuk berbagai media, misalnya artikel untuk majalah dinding atau blog internet, VCD, video untuk diunggah di internet, dan sebagainya

5)      Membuat kliping seni rupa

 

Dalam menentukan kegiatan tersebut, guru perlu mempertimbangkan kelayakannya sebagai kegiatan individu atau kegiatan kelompok. Sebagai contoh, Membuat kliping seni rupa cocok untuk kegiatan individu, karena setiap siswa mampu mengerjakannya dan hasilnya juga merupakan koleksi pribadi. Dari segi pengembangan karakter, kegiatan ini berguna untuk melatih kemandirian, percaya diri, kreativitas, dan sebagainya. Sebaliknya untuk tugas yang cukup kompleks, misalnya membuat sajian media apresiasi seni rupa, cocok untuk kegiatan kelompok. Kegiatan kelompok ini penting bagi pengembangan nilai-nilai seperti kerja sama, tanggung jawab, demokratis, dan sebagainya. Meskipun kegiatan pembelajaran apresiasi seni rupa dilakukan secara bersama-sama, misalnya mengunjungi pameran atau galeri seni rupa, guru tetap dapat memberikan tugas individual, misalnya meminta siswa membuat tanggapan tentang salah satu karya seni rupa yang dipilihnya dalam bentuk laporan.

 

c.       Memfasilitasi Kegiatan Berkreasi Seni Rupa

Pembelajaran berkreasi seni rupa pada dasarnya berbentuk tugas praktik membuat karya seni rupa, yang dilengkapi dengan pameran seni rupa, baik di kelas, sekolah, atau masyarakat. Dalam hal ini, guru juga perlu memberikan tugas individual maupun kelompok. Untuk pengembangan karakter, tugas individual berguna untuk mengembangkan nilai-nilai seperti mandiri, percaya diri, tanggung jawab, kreatif, inovatif, tangguh, dan sebagainya. Tugas kelompok berguna bagi pengembangan nilai-nilai seperti kerja sama, demokratis, peduli, menghargai karya orang lain, dan sebagainya.

Untuk mengefektifkan pengembangan karakter dalam pembelajaran praktik berkarya seni rupa, guru perlu berupaya mendorong siswa melakukan hal-hal sebagai berikut:

1)      mengembangkan konsep atau gagasannya sendiri dalam mengerjakan tugas individual, antara untuk mengembangkan nilai-nilai seperti percaya diri, jujur, dan mandiri,

2)      mengerjakan karyanya dengan usahanya sendiri, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai seperti percaya diri, tanggung jawab, jujur, dan mandiri,

3)      melakukan eksplorasi dan eksperimen dalam mengembangkan karyanya, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai seperti ingin tahu, kreatif, dan inovatif,

4)      menangani bahan dan alat sesuai prosedur, untuk mengembangkan nilai-nilai seperti disiplin, peduli lingkungan, dan tanggung jawab,

5)      melibatkan diri secara aktif dalam melaksanakan tugas kelompok, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai seperti demokratis, kerja sama, tanggung jawab, dan menghargai karya orang lain ,

6)      menghasilkan karya seni rupa yang berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain

7)      menghasilkan karya seni rupa yang berkualitas, untuk mengembangkan nilai-nilai seperti tanggung kreatif, tangguh, dan tanggung jawab,

8)      memperlakukan dengan sebaik-baiknya karya sendiri maupun karya orang lain, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai menghargai karya dan prestasi sendiri dan orang lain, tanggung jawab, dan peduli.

 

 

d.  Bertanya (Questioning)

Penggunaan pertanyaan untuk menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

 

Dalam pembelajaran seni rupa yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

 

1)      menggali informasi, baik teknis maupun akademis tentang penciptaan dan pameran seni rupa

2)      mengecek pemahaman siswa tentang konsep-konsep seni rupa

3)      membangkitkan respon siswa terhadap karya seni rupa

4)      mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa tentang makna karya seni rupa atau teknik penciptaan seni rupa

5)      mengetahui konsep-konsep seni rupa yang sudah diketahui siswa

6)      memfokuskan perhatian siswa pada karya seni rupa yang sedang dibahas

7)      menyegarkan kembali pengetahuan siswa tentang konsep-konsep seni rupa

 

Pembelajaran seni rupa yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk menuntun siswa mencapai tujuan belajar dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis dan logis, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, dan percaya diri.

 

e.   Inkuiri (Inquiry)

 

Inkuiri adalah proses pembelajaran yang diawali dengan pengamatan dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Dalam pelajaran IPA inkuiri dilaksanakan melalui siklus menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian hipotesis, membuat pengamatan, dan menyusun teori serta konsep yang berdasar pada data dan pengetahuan.

Dalam seni rupa, metode inkuiri dapat digabungkan dengan kritik seni rupa. Kritik seni rupa mencakup unsur-unsur: (1) deskripsi, (2) analisis, (3) interpretasi, dan (4) evaluasi. Penggabungan ini dapat dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan sebagai berikut:

 

1)      Merumuskan Masalah

Dalam mengkaji karya seni rupa dapat dirumuskan pertanyaan-pertanyaan seperti: (1) Bagaimana identitas karya (Apakah jenisnya? Apakah nama atau judulnya? Siapa penciptanya? Apakah objek atau temanya?) (2) Bagaimana bentuk atau komposisinya? (3) Bagaimana teknik pembuatannya? (4) Bagaimana maknanya? Bagaimana kualitasnya?

2)      Pengamatan (Observasi) dan Deskripsi

Observasi dapat dilakukan terhadap karya seni rupa dan proses pembuatan karya seni rupa. Observasi terhadap hasil karya seni rupa murni (lukisan, patung, dan seni grafis) dilakukan untuk mengidentifikasi ciri-ciri objek, bentuk, dan teknik. Objek (tema) misalnya manusia, pemandangan alam, alam benda, binatang, atau tumbuh-tumbuhan. Bentuk (komposisi) adalah susunan unsur-unsur seni rupa (garis, bidang, warna, gelap-terang, tekstur volume,  dan ruang). Teknik adalah cara menggunakan bahan dan alat untuk mewujudkan karya seni rupa. Observasi terhadap proses pembuatan karya seni rupa dilakukan untuk mengidentifikasi prosedur dan teknik pembuatan karya seni kerajinan, yaitu langkah-langkah dalam menggunakan bahan dan alat untuk mewujudkan karya seni rupa.

Hasil pengamatan tersebut diuraikan dalam deskripsi tertulis. Jadi, deskripsi adalah uraian secara tertulis tentang apa saja yang dapat dilihat atau diidentifikasi pada karya seni rupa.

3)      Analisis, Interpretasi, dan Evaluasi

Analisis dilakukan untuk memahami hubungan antara objek (tema), bentuk (komposisi), dan teknik pada suatu karya. Interpretasi adalah menyimpulkan makna-makna yang diungkapkan dalam karya tersebut, sedangkan evaluasi adalah pertimbangan tentang kualitas karya.

 

4)      Pembuatan Laporan

Deskripsi, analisis, interpretasi, dan evaluasi tersebut diuraikan secara tertulis dalam bentuk laporan, yang dilengkapi dengan gambar-gambar seperlunya.

 

5)      Pengkomunikasian Hasil Kajian

Hasil pengkajian karya seni rupa dapat dikomunikasikan melalui berbagai bentuk, seperti makalah untuk diskusi kelas, artikel majalah dinding, artikel intuk blog internet, atau media lainnya.

 

Pembelajaran seni rupa yang menerapkan prinsip inkuiri  dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis,  logis, kreatif, dan inovatif, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, jujur, dan tanggung jawab.

 

f.        Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih dalam. Dalam pembelajaran seni rupa, konsep masyarakat belajar dapat diterapkan dalam bentuk tugas kelompok, baik dalam kegiatan apresiasi maupun berkreasi seni rupa. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk memberikan pendapat dan berbagi gagasan, mendengarkan gagasan siswa lain dengan cermat, dan bekerja sama untuk membangun pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa belajar secara bersama lebih baik daripada belajar secara individual.

 

Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi jika tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu. Semua pihak mau saling mendengarkan.

 

Praktik masyarakat belajar dalam seni rupa antara terwujud dalam:

1)      Tugas berapresiasi dan berkreasi dalam kelompok kecil atau kelompok besar

2)      Mendatangkan ‘ahli’ ke kelas (seniman, pengrajin, kritikus/pengamat seni rupa)

3)      Bekerja sama dengan kelas sederajat, kelas di atasnya, atau masyarakat  dalam penyelenggaraan pameran seni rupa

 

Penerapan prinsip masyarakat belajar dalam pembelajaran seni rupa dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain kerjasama, menghargai pendapat orang lain, santun, demokratis, patuh pada turan sosial, dan tanggung jawab.

 

g.      Pemodelan (Modeling)

 

Pemodelan adalah proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Dalam pembelajaran seni rupa, pemodelan dilakukan baik dalam kegiatan apresiasi maupun berkreasi seni rupa. Pemodelan dapat dilakukan oleh guru, atau melalui media, atau melibatkan siswa.

 

Contoh praktik pemodelan di kelas:

1)      Memberi contoh membuat bentuk elips dan asir dalam menggambar bentuk.

2)      Mendatangkan seorang seniman (pelukis, pematung, atau pengrajin) ke kelas, lalu siswa diminta bertanya jawab dengan tokoh tersebut.

3)      Menunjukkan contoh hasil karya seni kerajinan sebagai contoh siswa dalam membuat karyanya.

4)      Mendemonstrasikan penggunaan bahan dan alat dalam membuat karya seni rupa.

 

Pemodelan dalam pembelajaran seni rupa antara lain dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, menghargai orang lain, dan rasa percaya diri.

 

h.      Refleksi (Reflection)

 

Refleksi dilakukan agar siswa memikirkan kembali apa yang telah mereka pelajari dan lakukan selama proses pembelajaran untuk membantu mereka menemukan makna personal masing-masing. Dalam pembelajaran seni rupa, refleksi biasanya dilakukan pada akhir pembelajaran antara lain melalui diskusi, tanya-jawab, penyampaian kesan dan pesan, saling memberi komentar tentang karya yang dihasilkan, dan mengisi instrument penilaian diri. Contoh instrumen penilaian diri untuk apreseiasi dan berkreasi seni rupa sebagai berikut.

 

Contoh Instrumen Penilaian Diri untuk Apresiasi Seni Rupa:

Berikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut dengan membuat tanda cek () pada kolom jawaban “Ya” atau “Tidak”.

Setelah mengikuti pembelajaran dan melaksanakan tugas-tugas apresiasi seni rupa terapan di DKI Jakarta , apakah Kamu dapat:

Ya

Tidak

1.      Memahami pengertian seni rupa murni?    
2.      Memahami pengertian seni rupa terapan?    
3.      Mengenal karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
4.      Memahami asal-usul seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
5.      Memahami teknik pembuatan karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
6.      Memahami ciri-ciri bentuk karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
7.      Memahami fungsi dan makna karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
8.      Menikmati keindahan karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
9.      Menghargai karya-karya seni rupa terapan sebagai hasil ciptaan seniman/pengrajin?    

 

Contoh Instrumen Penilaian Diri untuk Berkresiasi Seni Rupa

Berikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut dengan membuat tanda cek () pada kolom jawaban “Ya” atau “Tidak”.

 

Setelah mengikuti pembelajaran dan melaksanakan tugas-tugas berkreasi gambar bentuk apakah Kamu dapat:

Ya

Tidak

1.      Memahami pengertian tentang gambar bentuk?    
2.      Memahami langkah-langkah dan teknik menggambar bentuk?    
3.      Menghasilkan karya gambar bentuk yang bagus?    
4.      Mengerjakan tugas menggambar bentuk dengan percaya diri?    
5.      Menghargai karya gambar bentuk saya sendiri?    
6.      Menghargai karya gambar bentuk saya teman sekelas?    

 

Refleksi dalam pembelajaran seni rupa antara lain dapat menumbuhkan kemampuan berfikir logis dan kritis, mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri, dan menghargai pendapat orang lain.

 

 

i.        Penilaian Otentik (Authentic Assessment)

 

Penilaian autentik sesungguhnya adalah suatu istilah yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance) yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Strategi penilaian yang cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa teknik penilaian.

Penilaian dalam pembelajaran seni rupa mencakup penilaian dalam berapresiasi dan berkreasi seni rupa. Penilaian otentik dalam berapresiasi seni misalnya tugas menulis ulasan atau artikel tentang karya seni rupa, membuat kliping seni rupa, dan membuat sajian apresiasi seni rupa untuk diunggah di blog internet atau media berbagi informasi (Youtube, Twetter, Facebook). Penilaian otentik dalam berkreasi seni rupa adalah tugas membuat karya seni rupa dan melaksanakan pameran. Penilaian karakter juga perlu dilakukan selama proses belajar, yaitu melalui observasi, misalnya dengan instrumen berikut.

 

Contoh Instrumen Observasi Proses Pembelajaran Apresiasi Seni

 

Nama

Nilai Karakter

Skor

Santun

Displin

Demo-kratis

Meng-hargai karya orang lain

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1.

2.

3.

dst.

 

 

 

                         

Keterangan: 1 = kurang, 2 = cukup, 3 = baik

 

 

Contoh Instrumen Observasi Proses Pembelajaran Berkreasi Seni

 

Nama

Nilai Karakter

Skor

Tang-guh

Displin

Peduli

Meng-hargai karya orang lain

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1.

2.

3.

dst.

 

 

 

                         

Keterangan: 1 = kurang, 2 = cukup, 3 = baik

 

 

Penilaian autentik dalam pembelajaran seni rupa dapat mengembangkan berbagai karakter antara lain kejujuran, kreativitas, inovasi, tanggung jawab, menghargai karya dan prestasi orang lain, kedisiplinan, dan cinta ilmu.

 

C.    Penggunaan BSE Mata Pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) untuk Pendidikan Karakter

 

1.      Gambaran Umum BSE Mata Pelajaran Seni Rupa

a.      Isi

Isi BSE Seni Rupa untuk Kelas VII, VIII, dan IX secara umum telah sesuai dengan SK dan KD, dengan kelengkapan, keluasan, kedalaman, dan keaktualan. Namun demikian, khususnya untuk KD Kelas 7, berkaitan dengan seni rupa daerah setempat, BSE difokuskan pada seni rupa terapan di DKI Jakarta. Oleh karena itu, materi tersebut tidak cocok untuk daerah-daerah lain, sehingga harus dimodifikasi, disesuaikan dengan seni rupa rupa di daerah tersebut. Untuk menekankan karakter yang khas dalam seni rupa, yaitu kepekaan estetik, perlu pula diberikan materi analisis bentuk karya seni rupa, untuk memahami aspek komposisinya.

 

b.     Metode pembelajaran

BSE untuk mata pelajaran Seni Rupa telah mengacu pada pembelajaran aktif. Namun demikian, agar dapat lebih mengaktifkan siswa dan mengembangkan karakter, langkah-langkah pembelajaran perlu dikembangkan lagi. Untuk pembelajaran apresiasi seni rupa, dalam pengalaman-pengalaman belajar yang lebih mengintensifkan interaksi siswa dengan karya seni rupa, yaitu dengan menerapkan metode inkuiri yang digabungkan dengan kritik seni rupa dalam taraf sederhana.

 

c.       Bahasa

Secarara umum BSE mata pelajaran Seni Rupa menggunakan bahasa sesuai dengan criteria yang ditetapkan oleh BSNP.

 

d.     Grafika

Dari segi tata cetak, BSE mata pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) secara umum telah memenuhi standar grafika yang ditetapkan oleh BSNP.

 

2.   Potensi BSE Mata Pelajaran Seni Rupa untuk Pendidikan Karakter

Karena disusun berdasarkan CTL dan life skill, penyajian materi dalam BSE mata pelajaran seni rupa secara berpotensi untuk pengembangan karakter. Namun demikian, guru perlu melakukan revisi seperlunya untuk menambahkan atau menegaskan karakter yang ingin dikembangkan, baik pada aspek materi, penyajian, maupun evaluasi.

Sebagai contoh, untuk materi pembelajaran, guru dapat menambahkan keterangan tertentu yang mengandung nilai tertentu, misalnya nilai simbolik yang mengandung nilai religius. Untuk penyajian, misalnya guru dapat menambahkan kegiatan tertentu untuk mengembangkan nilai tertentu, misalnya tugas kelompok untuk mengembangkan nilai kerja sama. Demikian juga untuk evaluasi, guru dapat menambahkan penilaian afektif untuk mengukur pencapaian nilai-nilai yang diinginkan.

 

3.         Strategi Penggunaan BSE Mata Pelajaran Seni Rupa untuk Pendidikan Karakter

Adaptasi BSE mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa juga harus disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia. BSE Seni Rupa disusun berdasarkan asumsi alokasi waktu dua jam pelajaran. Sementara itu, sesuai dengan Standar Isi, satuan pendidikan dapat membuat kebijakan untuk melaksanakan salah satu, dua, tiga atau keempat bidang seni (Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, dan Seni Teater), sehingga jumlah waktu yang tersedia untuk pembelajaran seni rupa tergantung pada kebijakan tersebut. Dengan kata lain, dalam mengadaptasi BSE tersebut, guru dapat mengambil bagian-bagian tertentu saja sesuai dengan waktu yang tersedia.

Penggunaan BSE dapat dilakukan adaptasi sebagai berikut:

a.   Adaptasi lengkap

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam tiga aspek sekaligus, yaitu isi, kegiatan pembelajaran, dan teknik evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

Sebagai contoh, untuk pembelajaran apresiasi seni rupa daerah setempat di Kelas 1 Semester 1, guru mengambil seluruh materi Unit 1 Semester 1 pada BSE Seni Rupa Kelas 7, dengan membuat adaptasi dari segi isi dengan memberikan pernyataan-pernyataan untuk menegaskan nilai-nilai karakter tertentu. (Lampiran 1).

 

b.      Adaptasi sebagian/parsial

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, atau reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

Sebagai contoh, untuk pembelajaran apresiasi seni rupa daerah setempat di Kelas 1 Semester 1, guru mengambil sebagian materi Unit 1 Semester 1 pada BSE Seni Rupa Kelas 7, dengan membuat adaptasi dari segi isi dengan memberikan pernyataan-pernyataan untuk menegaskan nilai-nilai karakter tertentu. (Lampiran 2).

Sumber: Pelatihan Pendikar untuk SMP

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Email:

rppguswur@gmail.com

Belajar Inggris

BelajarInggris.Net 250x250

Blog Stats

  • 1,595,079 hits

Pengunjung

free counters

blogstat

Alexa Certified Site Stats for www.aguswuryanto.wordpress.com

Incoming traffic

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 162 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 162 other followers

%d bloggers like this: