Belajar jadi Guru

Archive for the ‘English Teaching Methods’ Category


1) Metode Audiolingual

Metode audiolingual sangat mengutamakan drill (pengulangan). Metode itu muncul karena terlalu lamanya waktu yang ditempuh dalam belajar bahasa target. Padahal untuk kepentingan tertentu, perlu penguasaan bahasa dengan cepat. Dalam audiolingual yang berdasarkan pendekatan struktural itu, bahasa yang diajarkan dicurahkan pada lafal kata, dan pelatihan pola-pola kalimat berkali-kali secara intensif. Guru meminta siswa untuk mengulang-ulang sampai tidak ada kesalahan.  Langkah-langkah yang biasanya dilakukan adalah :

(a) penyajian dialog atau teks pendek yang dibacakan guru berulang-ulang dan siswa menyimak tanpa melihat teks yang dibaca,

(b) peniruan dan penghafalan teks itu setiap kalimat secara serentak dan siswa menghafalkannya,

(c) penyajian kalimat dilatihkan dengan pengulangan,

(d) dramatisasi dialog atau teks yang dilatihkan kemudian siswa memperagakan di depan kelas, dan

(e) pembentukan kalimat lain yang sesuai dengan yang dilatihkan

2) Metode Komunikatif

Desain yang bermuatan komunikatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa. Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikkan ke dalam tujuan konkret yang merupakan produk akhir. Sebuah produk di sini dimaksudkan sebagai sebuah informasi yang dapat dipahami, ditulis, diutarakan, atau disajikan ke dalam nonlinguistis. Sepucuk surat adalah sebuah produk. Demikian pula sebuah perintah, pesan, laporan, atau peta, juga merupakan produk yang dapat dilihat dan diamati. Dengan begitu, produk-produk tersebut dihasilkan melalui penyelesaian tugas yang berhasil.  Contohnya menyampaikan pesan kepada orang lain yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan itu dapat dipecah menjadi:

(a) memahami pesan,

(b) mengajukan pertanyaan untuk menghilangkan keraguan,

(c) mengajukan pertanyaan untuk memperoleh lebih banyak informasi,

(d) membuat catatan,

(e) menyusun catatan secara logis, dan

(f) menyampaikan pesan secara lisan. Dengan begitu, untuk materi bahasan penyampaian pesan saja, aktivitas komunikasi dapat terbangun secara menarik, mendalam, dan membuat siswa lebih intensif.

3) Metode Produktif

Metode produktif diarahkan pada berbicara dan menulis. Siswa harus banyak berbicara atau menuangkan gagasannya. Dengan menggunakan metode produktif diharapkan siswa dapat menuangkan gagasan yang terdapat dalam pikirannya ke dalam keterampilan berbicara dan menulis secara runtun. Semua gagasan yang  disampaikan dengan menggunakan bahasa yang komunikatif. Yang dimaksud dengan komunikatif di sini adalah adanya respon dari lawan bicara. Bila kita berbicara lawan bicara kita adalah pendengar, bila kita menulis lawan bicara kita adalah pembaca.

4) Metode Langsung

Metode langsung berasumsi bahwa belajar bahasa yang baik adalah belajar yang langsung menggunakan bahasa secara intensif dalam komunikasi. Tujuan metode langsung adalah penggunaan bahasa secara lisan agar siswa dapat berkomunikasi secara alamiah seperti penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat.  Siswa diberi latihan-latihan untuk mengasosiasikan kalimat dengan artinya melalui demonstrasi, peragaan, gerakan, serta mimik secara langsung.

5) Metode Partisipatori

Metode pembelajaran partisipatori lebih menekankan keterlibatan siswa secara penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukkan sebagai subjek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru hanya bersifat sebagai pemandu atau fasilitator.  Dalam metode partisipatori siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai subjek. Namun, bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi belajar siswa dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh dengan motivasi, pandai berperan sebagai moderator dan kreatif. Konteks siswa menjadi tumpuan utama.

6) Metode Membaca

Metode membaca bertujuan agar siswa mempunyai kemampuan memahami teks bacaan yang diperlukan dalam belajar siswa.  Berikut langkah-langkah metode membaca:

(1) pemberian kosakata dan istilah yang dianggap sukar dari guru ke siswa. Hal ini diberikan dengan definisi dan contoh ke dalam kalimat

(2) Penyajian bacaan di kelas. Bacaan dibaca dengan diam selama 10-15 menit (untuk mempercepat waktu, bacaan dapat diberikan sehari sebelumnya)

(3) Diskusi isi bacaan dapat melalui tanya jawab

(4) Pembicaraan tata bahasa dilakukan dengan singkat. Hal itu dilakukan jika dipandang perlu oleh guru

(5) Pembicaraan kosakata yang relevan

(6) Pemberian tugas seperti mengarang (isinya relevan dengan bacaan) atau membuat denah, skema, diagram, ikhtisar, rangkuman, dan sebagainya yang berkaitan dengan isi bacaan.

7) Metode Tematik

Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan. Yang perlu dipahami adalah bahwa tema bukanlah tujuan tetapi alat yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tema tersebut harus diolah dan disajikan secara kontekstualitas, kontemporer, konkret, dan konseptual.  Tema yang telah ditentukan haruslah diolah dengan perkembangan lingkungan siswa yang terjadi saat ini. Begitu pula isi tema disajikan secara kontemporer sehingga siswa senang. Apa yang terjadi sekarang  di lingkungan siswa juga harus terbahas dan terdiskusikan di kelas. Tema tidak disajikan secara abstrak tetapi diberikan secara konkret. Semua siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan logika yang dipunyainya. Konsep-konsep dasar tidak terlepas. Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.

8) Metode Kuantum

Quantum Learning (QL) merupakan metode pendekatan belajar yang bertumpu dari metode Freire dan Lozanov. QL mengutamakan kecepatan belajar dengan cara partisipatori peserta didik dalam melihat potensi diri dalam kondisi penguasaan diri. Gaya belajar mengacu pada otak kanan dan otak kiri menjadi ciri khas QL. Menurut QL bahwa proses belajar mengajar adalah fenomena yang kompleks. Segala sesuatu dapat berarti setiap kata, pikiran, tindakan, dan asosiasi, serta sejauh mana guru mengubah lingkungan, presentasi, dan rancangan pengajaran maka sejauh itulah proses belajar berlangsung. Hubungan dinamis dalam lingkungan kelas merupakan landasan dan kerangka untuk belajar. Dengan begitu, pembelajar dapat mememori, membaca, menulis, dan membuat peta pikiran dengan cepat.

9) Metode Diskusi

Diskusi adalah proses pembelajaran melalui interaksi dalam kelompok. Setiap anggota kelompok saling bertukar ide tentang suatu isu dengan tujuan untuk memecahkan suatu masalah,menjawab suatu pertanyaan, menambah pengetahuan atau pemahaman, atau membuat suatu keputusan. Apabila proses diskusi melibatkan seluruh anggota kelas, pembelajaran dapat  terjadi secara langsung dan bersifat student centered  (berpusat pada siswa). Dikatakan pembelajaran langsung karena guru menentukan tujuan yang harus dicapai melalui diskusi, mengontrol aktivitas siswa serta  menentukan fokus dan keberhasilan pembelajaran. Dikatakan berpusat kepada siswa karena sebagian besar input  pembelajaran berasal dari siswa, mereka secara aktif dan meningkatkan belajar, serta mereka dapat menemukan hasil diskusi mereka.

10)  Metode Kerja Kelompok Kecil (Small-Group Work)

Mengorganisasikan siswa dalam kelompok kecil merupakan metode yang banyak dianjurkan oleh para pendidik. Metode ini dapat dilakukan untuk mengajarkan materi-materi khusus. Kerja kelompok kecil merupakan metode pembelajaran yang berpusat kepada siswa. Siswa dituntut untuk memperoleh pengetahunan sendiri melalui bekerja secara bersama-sama. Tugas guru hanyalah memonitor apa yang dikerjakan siswa. Yang ingin diperolah melalui kerja kelompok adalah kemampuan interaksi sosial, atau kemampuan akademik atau mungkin juga keduanya

Sumber : Modul KKG BERMUTU  Bahasa Indonesia SD


Munculnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa bermula dari adanya perubahan-perubahan dalam tradisi pembelajaran bahasa di Inggris pada tahun 1960-an menggunakan pendekatan situasional (Tarigan, 1989:270). Dalam pembelajaran bahasa secara situasional, bahasa diajarkan dengan cara mempraktikkan/melatihkan struktur-struktur dasar dalam berbagai kegiatan berdasarkan situasi yang bermakna. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, seperti halnya teori linguistik yang mendasari audiolingualisme, ditolak di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1960-an dan para pakar linguistik terapan Inggris pun mulai mempermasalahkan asumsi-asumsi yang mendasari pengajaran bahasa situasional. Menurut mereka, tidak ada harapan/masa depan untuk meneruskan mengajar gagasan yang tidak masuk akal terhadap peramalan bahasa berdasarkan peristiwa-peristiwa situasional. Apa yang dibutuhkan adalah suatu studi yang lebih cermat mengenai bahasa itu sendiri dan kembali kepada konsep tradisional bahwa ucapan-ucapan mengandung makna dalam dirinya dan mengekspresikan makna serta maksud-maksud pembicara dan penulis yang menciptakannya (Howatt, 1984:280, dalam Tarigan, 1989:270).

Pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa, juga mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembelajaran 4 keterampilan berbahasa (menyimak, membaca, berbicara, dan menulis), mengakui dan menghargai saling ketergantungan bahasa.   Ciri utama pendekatan komunikatif  adalah adanya 2 kegiatan yang saling berkaitan erat, yakni adanya kegiatan-kegiatan komunikatif fungsional (functional communication activies ) dan kegiatan-kegiatan yang sifatnya interaksi sosial (social interaction activies

). Kegiatan komunikatif fungsional terdiri atas 4 hal, yakni:

a) mengolah infomasi;

b) berbagi dan mengolah informasi;

c) berbagi informasi dengan kerja sama terbatas; dan

d) berbagi informasi dengan kerja sama tak terbatas.

Kegiatan interaksi sosial terdiri atas 6 hal, yakni:

a) improvisasi  lakon-lakon pendek yang lucu;

b) aneka simulasi;

c) dialog dan bermain peran;

d) sidang-sidang konversasi;

e) diskusi; dan

f) berdebat.

Ada delapan aspek yang berkaitan erat dengan pendekatan komunikatif (David Nunan, 1989, dalam Solchan T.W., dkk. 2001:66), yaitu:

a. Teori Bahasa Pendekatan Komunikatif berdasarkan teori bahasa menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa adalah suatu sistem untuk mengekspresikan makna, yang menekankan pada dimensi semantik dan komunikatif daripada ciri-ciri gramatikal bahasa. Oleh karena itu, yang perlu ditonjolkan adalah interaksi dan komunikasi bahasa, bukan pengetahuan tentang bahasa.

b. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini adalah teori pemerolehan bahasa kedua secara alamiah.

c. Tujuan mengembangkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi (kompetensi dan performansi komunikatif).

d. Silabus harus disusun searah dengan tujuan pembelajaran dan tujuan yang dirumuskan dan materi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan siswa.

e. Tipe kegiatan tukar menukar informasi, negosiasi makna atau kegiatan lain yang bersifat riil.

f. Peran guru fasilitator proses komunikasi, partisipan tugas dan tes, penganalisis kebutuhan, konselor, dan manajer proses belajar

g. Peran siswa pemberi dan penerima, sehingga siswa tidak hanya menguasai bentuk bahasa, tapi juga bentuk dan maknanya.

h. Peranan materi pendukung usaha meningkatkan kemahiran berbahasa dalam tindak komunikasi nyata.  Prosedur-prosedur pembelajaran berdasarkan pendekatan komunikatif lebih bersifat evolusioner daripada revolusioner. Adapun garis kegiatan pembelajaran yang ditawarkan mereka adalah:  penyajian dialog singkat, pelatihan lisan dialog yang disajikan, penyajian tanya jawab, penelaah dan pengkajian, penarikan simpulan, aktivitas interpretatif, aktivitas produksi lisan, pemberian tugas, pelaksanaan evaluasi.

Sumber : Modul MGMP BERMUTU bahasa Indonesia SD


Pendekatan kontekstual  mengasumsikan bahwa secara natural pikiran mencari makna konteks sesuai dengan situasi nyata lingkungan seseorang melalui pencarian hubungan masuk akal dan bermanfaat. Melalui pemaduan materi yang dipelajari dengan pengalaman keseharian siswa akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan yang mendalam. Siswa akan mampu menggunakan pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru yang belum pernah dihadapinya dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuannya.  Siswa diharapkan dapat membangun pengetahuannya yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan memadukan materi pelajaran yang telah diterimanya di sekolah.  Nathan Gage in Brown mendefinisikan pengajaran sebagai berikut, “Teaching is guiding and facilitating learning, enabling the learner to learn, setting the conditions for learning,”

(H. Douglas Brown, 1994:7).  Mengajar berarti memandu dan memfasilitasi belajar memungkinkan pemelajar untuk belajar, menciptakan kondisi belajar.   Definisi di atas menunjukkan bahwa pengajaran tidak dapat dipisahkan dari pembelajaran. Pengajaran merupakan kegiatan yang diciptakan oleh guru untuk memfasilitasi siswa dalam proses pembelajaran. Pengajaran merupakan kegiatan yang sangat memerlukan keterlibatan siswa. Demikian juga dengan pendekatan kontekstual  yang berpusat pada siswa.  Kontekstual adalah kaidah yang dibentuk berazaskan maksud kontekstual itu sendiri. kontekstual seharusnya mampu membawa pelajar ke pemelajaran isi dan konsep yang berkenaan atau relevan bagi mereka, dan juga memberi makna dalam  kehidupan seharian mereka. Jadi,  pemelajaran kontekstual merupakan satu konsepsi pengajaran dan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan bahan subjek yang dipelajari dengan situasi dunia sebenarnya dan memotivasikan pemelajar untuk membuat hubungan antara pengetahuan dengan aplikasinya dalam kehidupan harian mereka sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan pekerja.  Elaine B. Johnson memberikan penjelasan bahwa Contextual  Teaching Learning (CTL) adalah sebuah sistem belajar yang didasarkan pada filosofi bahwa siswa mampu menyerap pelajaran apabila mereka menangkap makna dalam materi akademis yang mereka terima, dan mereka menangkap makna dalam tugas-tugas sekolah jika mereka bisa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah mereka miliki sebelumnya. (Elaine B. Johnson, 2007:14).

Dalam pendekatan kontekstual, ada delapan komponen yang harus ditempuh, yaitu:

1) Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna,

2) melakukan pekerjaan yang berarti,

3) melakukan pembelajaran yang diatur sendiri,

4) bekerja sama,

5) berpikir kritis dan kreatif,

6) membantu individu untuk tumbuh dan berkembang,

7) mencapai standar yang tinggi,

8) menggunakan penilaian autentik (Elaine B. Johnson,  2007:65-66).

Berdasarkan pengertian di atas dapat dijelaskan bahwa pendekatan kontekstual  adalah mempraktikkan konsep  belajar yang mengaitkan materi yang dipelajari dengan situasi dunia nyata siswa. Siswa secara bersama-sama membentuk suatu sistem yang memungkinkan mereka melihat makna di dalamnya.   Pendekatan kontekstual dapat diterapkan dalam mata pelajaran apa saja. Tidak terkecuali dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut konsep CTL, “Belajar akan lebih bermakna jika anak didik ‘mengalami’  apa yang dipelajarinya, bukan sekedar ‘mengetahui’  apa yang dipelajarinya”.

Pembelajaran yang berorientasi pada target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi ‘mengingat’ jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak didik memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang (Hernowo, 2005:61).  CTL merupakan konsep belajar yang membantu para guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki  dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka (Sanjaya, 2005:109).  Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus kita pahami.

Pertama,  CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi. Artinya, proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, tetapi yang diutamakan adalah proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.

Kedua , CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata. Artinya, siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting sebab dengan dapat mengkorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, materi yang dipelajarinya itu akan bermakna secara fungsional dan tertanam erat dalam memori siswa sehingga tidak akan mudah terlupakan.

Ketiga , CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan. Artinya, CTL tidak hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, tetapi bagaimana materi itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks CTL tidak untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan, tetapi sebagai bekal bagi mereka dalam kehidupan nyata.  Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan CTL:

a. Dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan  pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge). Artinya, apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.

b. Pembelajaran yang kontekstual adalah pembelajaran dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge ). Pengetahuan baru itu dapat diperoleh dengan cara deduktif. Artinya, pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan kemudian memperhatikan detailnya.

c. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge) berarti pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal, melainkan untuk dipahami dan diyakini.

d. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge). Artinya, pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

e. Melakukan refleksi (reflecting knowledge ) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.

Di sisi lain, Hernowo (2005:93) menawarkan langkah-langkah praktis menggunakan strategi pembelajaran berdasarkan CTL.

a. Kaitkan setiap mata pelajaran dengan seorang tokoh yang sukses dalam menerapkan mata pelajaran tersebut.

b. Kisahkan terlebih dahulu riwayat hidup sang tokoh atau temukan cara-cara sukses yang ditempuh sang tokoh dalam menerapkan ilmu yang dimilikinya.

c. Rumuskan dan tunjukkan manfaat yang jelas dan spesifik kepada anak didik berkaitan dengan ilmu (mata pelajaran) yang diajarkan kepada mereka.

d. Upayakan agar ilmu-ilmu yang dipelajari di sekolah dapat memotivasi anak didik untuk mengulang dan mengaitkannya dengan kehidupan keseharian mereka.

e. Berikan kebebasan kepada setiap anak didik untuk mengkonstruksi ilmu yang diterimanya secara subjektif sehingga anak didik dapat menemukan sendiri cara belajar alamiah yang cocok dengan dirinya.

f. Galilah kekayaan emosi yang ada pada diri setiap anak didik dan biarkan mereka mengekspresikannya dengan bebas.

g. Bimbing mereka untuk menggunakan emosi dalam setiap pembelajaran sehingga anak didik penuh arti (tidak sia-sia dalam belajar di sekolah).

Berdasarkan penjelasan di atas, berarti pendekatan kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan ke permasalahan lain dan dari satu konteks  ke konteks lainnya. Dengan transfer diharapkan: (a) siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari ‘pemberian orang lain’; (b) keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit) sedikit demi sedikit; (c) Penting bagi siswa tahu ‘untuk apa’ ia belajar, dan ‘bagaimana’ ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.

Sumber : Modul MGMP BERMUTU bahasa Indonesia SD


Whole language  adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa  yang menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah. (Edelsky, 1991; Froese, 1990; Goodman, 1986; Weafer, 1992, dalam Santosa, 2004). Para ahli  whole language berkeyakinan bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah-pisah (Rigg, 1991). Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik. Pengajaran tentang penggunaan tanda baca, umpamanya, diajarkan sehubungan dengan pembelajaran keterampilan menulis. Demikian juga pembelajaran membaca dapat diajarkan bersamaan dengan pembelajaran berbicara, pembelajaran sastra dapat disajikan bersamaan dengan pembelajaran membaca dan menulis ataupun berbicara. Selain itu, dalam pendekatan whole language ,  pembelajaran bahasa dapat juga disajikan sekaligus dengan materi pelajaran lain, umpamanya bahasa-matematika, bahasa-IPS, bahasa-sains, bahasa-agama.  Pendekatan whole language didasari oleh paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh (whole ) dan terpadu (integrated ) (Robert dalam Santosa, 2004:2.3). Anak termotivasi untuk belajar jika mereka melihat bahwa yang dipelajarinya memang bermakna bagi mereka. Orang dewasa, dalam hal ini guru, berkewajiban untuk menyediakan lingkungan yang Metodologi Pembelajaran  menunjang untuk siswa agar mereka dapat belajar dengan baik. Fungsi guru dalam kelas whole language berubah dari fungsi desiminator informasi menjadi fasilitator (Lamme & Hysmith, 1993).

Ciri-ciri Kelas Whole Language

Ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole language

a. Kelas yang menerapkan whole language  penuh dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut kabinet dan sudut belajar. Poster hasil kerja siswa menghiasi dinding dan  bulletin board.  Karya tulis siswa dan chart  yang dibuat siswa menggantikan bulletin board  yang dibuat oleh guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakaan yang dilengkapi berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus, buku petunjuk dan berbagai barang cetak lainnya.

b. Siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara.

c. Siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.

d. Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language  hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru.

e. Siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Dalam hal ini interaksi guru adalah multiarah.

f. Siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru tidak mengharapkan kesempurnaan, yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa dapat diterima.

g. Siswa mendapat balikan (feed back)  positif baik dari guru maupun temannya. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri.  Dari ketujuh ciri tersebut dapat terlihat bahwa siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas meyampaikan materi. Sebagai fasilitator guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.

Penilaian dalam Kelas Whole Language

Dalam kelas whole language  guru senantiasa memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Secara informal selama pembelajaran berlangsung guru memperhatikan siswa menulis, mendengarkan siswa berdiskusi baik dalam kelompok maupun diskusi kelas. Ketika siswa bercakap-cakap dengan temannya atau dengan guru, penilaian juga dilakukan. Bahkan, guru juga memberikan penilaian saat siswa bermain selama waktu istirahat. Kemudian, penilaian juga berlangsung ketika siswa dan guru mengadakan konferensi. Walaupun guru tidak terlihat membawa-bawa buku, guru menggunakan alat penilaian seperti lembar observasi dan catatan anekdot. Dengan kata lain, dalam kelas whole language  guru memberikan penilaian pada siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selain penilaian informal, penilaian juga dilakukan dengan menggunakan portofolio. Portofolio adalah kumpulan hasil kerja selama kegiatan pembelajaran. Dengan portofolio perkembangan siswa dapat terlihat secara otentik.

Sumber : Modul MGMP BERMUTU  Bahasa Indonesia SD


A. Pengertian Pendekatan, Metode, Teknik,  dan Strategi

Banyak yang tidak paham dengan perbedaan antara pendekatan, metode, dan teknik. Sebelum kita membahas mengenai perbedaan tiga hal di atas, terlebih dahulu kita membahas pengertian model pembelajaran. Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.Nah, berikut ini ulasan singkat tentang perbedaan istilah tersebut.

Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif  (Sanjaya,  2008:127).

Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode. Metode  adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan. Teknik dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran.

Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Misalnya, cara yang bagaimana yang harus dilakukan agar metode ceramah yang dilakukan berjalan efektif dan efisien? Dengan demikian sebelum seorang melakukan proses ceramah sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi.

Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu.  Strategi digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan.

Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didisain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (J.R. David dalam  Sanjaya, 2008:126).  Selanjutnya dijelaskan strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Kemp dalam Sanjaya, 2008:126).  Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang selalu sama. Dalam konteks pengajaran strategi bisa diartikan sebagai suatu pola umum tindakan guru-peserta didik dalam manifestasi aktivitas pengajaran (Ahmad Rohani, 2004 : 32). Sementara itu, Joyce dan Weil lebih senang memakai istilah model-model mengajar daripada menggunakan strategi pengajaran (Joyce dan Weil  dalam Rohani, 2004:33

Nana Sudjana menjelaskan bahwa strategi mengajar (pengajaran) adalah “taktik” yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar (pengajaran) agar dapat mempengaruhi para siswa (peserta didik) mencapai tujuan pengajaran secara lebih efektif dan efisien (Nana Sudjana dalam Rohani, 2004:34). Jadi menurut Nana Sudjana, strategi mengajar/pengajaran ada pada pelaksanaan, sebagai tindakan nyata atau perbuatan guru itu sendiri pada saat mengajar berdasarkan pada rambu-rambu dalam satuan pelajaran.  Berdasarkan pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan tentang metode/prosedur dan teknik yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain, strategi pembelajaran mempunyai arti yang lebih luas daripada metode dan teknik. Artinya, metode/prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran.  Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan secara aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat pembelajaran berlangsung.

Sumber : Modul MGMP BERMUTU Bahasa Indonesia SD


Scaffolding talk

TESOL2006Scaffolding

BAHASA INGGRIS UNTUK TUJUAN PENGAJARAN

(Scaffolding Talk)

Dra. Helena I.R. Agustien, MA., Ph.D

Universitas Negeri Semarang

Fathur Rohim, SS.

PPPG Bahasa

BAB I

PENDAHULUAN

  1. KOMPETENSI YANG TERCAKUP

Menggunakan bahasa Inggris lisan untuk keperluan instruksional dan pengelolaan seluruh kegiatan kelas.

  1. PENTINGNYA MEMPELAJARI BAHAN PELATIHAN INI

lum 2004 mensyaratkan kemampuan mengelola seluruh kegiatan kelas dalam bahasa Inggris, mulai memeriksa presensi hingga membubarkan kelas. Para guru perla memiliki ketrampilan berbicara yang khusus diperuntukkan untuk tujuan ini.

    1. Bahasa guru yang sering didengar anak selama kegiatan berlangsung dapat menjadi model bahasa interaksi yang diperlukan dalam kelas maupun. Tanpa adanya teacher talk atau scaffolding talk yang memperlihatkan bagaimana bahasa Inggris digunakan dalam konteks sehari-hari, sulit diharapkan siswa akan memiliki kompetensi komunikatif yang memadai. Guru adalah ‘agen bahasa Inggris’ pertama dan terdekat yang dapat diakses siswa sehingga guru perla menguasai bahasa lisan untuk konteks pengajaran bahasa.
  1. TUJUAN

Peserta mampu menyelenggarakan seluruh kegiatan dalam kelas dalam bahasa Inggris yang menyertai tindakan (language accompanying action) mulai dari membuka hingga menutup pelajaran  serta mampu menggunakan bahasa Inggris untuk tujuan instruksional seperti reinforcing, basic questioning, variability, explaining, introductory procedures and closure dan advanced questioning..

BAB  II

BAHASA INGGRIS UNTUK TUJUAN PENGAJARAN

1. PENGANTAR

Sebagaimana tertera dalam BAB I, tujuan modul ini ialah memberikan bekal bahasa Inggris lisan kepada Anda agar Anda dapat menyelenggarakan pengajaran sepenuhnya dalam bahasa Inggris. Mengapa demikian? Karena Kurikulum 2004 mensyaratkan kemampuan ini agar siswa juga dapat mengembangkan kemampuan bahasa lisan. Bahasa lisan Anda yang lancar dan mudah difahami akan membentuk konteks belajar bahasa Inggris yang menunjang pemerolehan bahasa lisan siswa. Untuk itu, modul ini menyajikan bahasa Inggris otentik yang digunakan guru penutur asli dalam menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar.

Seluruh materi yang ada berasal dari dua sumber, yakni English for Primary Teachers: A hand book of activities & Classroom language oleh Mary Slattery dan Jane Willis (2001) dan Sydney Micro Skills ( Turney et al.1983) yang memuat transkrip pengajaran beberapa mata pelajaran dalam konteks sekolah Australia. Kedua sumber ini membuka mata kita terhadap bahasa atau ungkapan-ungkapan apa saja yang benar-benar digunakan guru penutur asli. Bagi guru yang belum pernah berkunjung atau mengamati kegiatan kelas dalam konteks kelas penutur asli, informasi ini sangat diperlukan untuk menghindarkan penggunaan bahasa Inggris yang ‘tidak Inggris’ atau yang tidak digunakan penutur asli. Misalnya, untuk memeriksa kehadiran siswa guru mengatakan Lets’s call the roll. Ungkapan ini tidak akan pernah digunakan jika guru menerjemahkan bahasa Indonesia “Mari kita absen dulu’ ke, misalnya, Let’s have the absence. Untuk menghindari kesalahan atau kejanggalan ungkapan, akan sangat bermabfaat jika Anda meneliti benar dan menirukan ungkapan-ungkapan otentik dalam modul ini agar siswa terbiasa mendengar ungkapan yang berterima.

  1. LANGUAGE ACCOMPANYING ACTION (Bahasa yang menyertai tindakan)

Di bagian ini Anda dapat menemukan banyak contoh otentik mengenai

ungkapan-ungkapan guru penutur asli yang digunakan untuk mengelola kelas. Ungkapan-ungkapan ini menyertai tindakan mereka sehingga mulai dari memeriksa kehadiran hingga meninggalkan atau membubarkan kelas.

Ungkapan-ungkapan ini diharapkan dapat ditiru oleh para guru agar guru semakin meningkatkan kemampuannya berbicara seperti guru penutur asli. Disadari benar bahwa untuk mencapai kemampuan tersebut tanpa memiliki pengalaman belajar di negara penutur asli sangatlah sulit. Sering kali guru ragu-ragu atau takut kalau-kalau ungkapan yang diciptakannya bukan ungkapan penutur asli meskipun tata bahasa dan kosa katanya benar. Untuk menanggulangi masalah budaya ini, bagian modul ini menyajikan contoh-contoh ungkapan yang perlu dilatihkan.

Latihan dapat dimulai dengan membaca ungkapan-ungkapan jadi (fixed expressions) yang ada di sini. Pertama, Anda membaca dengan ucapan yang tepat. Sangat disarankan agar Anda menggunakan kamus untuk melihat cara pengucapannya. Jangan pernah merasa begitu yakin bahwa ucapan sebuah kata sama seperti yang kita duga atau kita pikirkan sebab kita belum memiliki intuisi seorang penutur asli. Misalnya, untuk mengucapkan kata yang terdiri atas satu suku kata seperti ‘roll’, kita perlu membuka kamus dan memastikan bagaimana ucapan yang diharapkan.

Setelah Anda memeriksa ucapannya, mulailah membaca setiap ungkapan dengan intonasi yang berterima bersama instruktur Anda. Setelah itu, Anda perlu mengulang-ulang dan menghafalkan ungkapan-ungkapan yang ada dengan kecepatan yang semakin tinggi. Artinya, Anda perlu melatih speech dan speed agar Anda dapat menggunakan ungkapan-ungkapan ini dengan lancar. Setelah itu, Anda diharapkan dapat mendemonstrasikan pengajaran yang sepenuhnya diselenggarakan dalam bahasa Inggris yang menggunakan kombinasi-kombinasi ungkapan yang ada di sini dengan ungkapan-ungkapan lain yang diperlukan.

Greetings and forms of address (Menyapa dan bentuk panggilan)

Teacher Children
Good morning

Good afternoon

Hello

children

everybody

boys and girls

girls and boys

Good morning

Good afternoon

Hello

Miss/Mrs / Mr

[surname]

[first name]

Teacher

Checking attendance (Memeriksa kehadiran)

Let’s call the roll.

Let’s take the register.

Let’s check to see who’s here.

Remember to answer “I’m here”.

Thank you everybody

So, everyone is here except…

So, only two people away.

Is everybody here?

Is anyone away?

No-one absent today?

Who is missing?

Let’s all count to see if everyone is here-girls first, then boys.

Oh good, Paula, you’re back. Nice to see you.

Are you all right now.

Oh, John’s away.

Who knows why?

Is he ill?

So, how many is 13 and 15?

Ok…Yes?

So that is 28 altogether.

Maybe he’s gone to the dentist. What do you think?

Is that more than yesterday?

Or less than yesterday?

Or the same?

Organizing the classroom (mengatur kelas)

1. Get your books and pencils  out.

2. Pick your pencils up.

3. Move the tables back.

4. Turn your face around to face the wall chart.

5. Put all your things away.

6. Close the window beside you.

7. Put your pencils down.

8. Turn back to face the front.

9. Leave these tables here.

10. Leave the windows open.

Ending lessons (Mengakhiri pelajaran)

  1. Ok, that’s all for now.
  2. Right. We’ve no time for anything else – don’t do any more – we don’t have any more time today.
  3. Ok – just one more time before going out for a short break.
  4. Ok, now stop! We haven’t enough time to finish the monster today. So stand up…
  5. Ok – just one more time and then that’s it.
  6. Ok, pick up all your things-and put the books in the cupboard.
  7. That’s all for today. On Monday, there’ll be more.
  8. Ok children, make a line to say goodbye – following the leader. Bye bye.
  9. Ok, it’s break time, So you can go out to play. But first-line up quietly by the door.

Giving instructions in English (Memberi instruksi dalam bahasa Inggris)

Sitting down and standing up Moving around
Come in and please sit down.

Ok – sit down now please.

Sit down together at your tables.

Ok – everyone – sit down – quietly.

Ana – sit down over there – with your friend.

Midori, turn around and face the front.

Ok, everybody, stop talking now and listen carefully.

Ok, please stand up. And don’t make too much noise.

Everybody up! that’s right!

Stand still! Don’t move .

Stay in your places! Stay where you are.

Right, Taro, can you come here please?

Ok, come out here to the front of the class.

Ok, your group, come up to the front.

Right, now, you, you, and you…come over here

Now, get into a line. Stand in a line.

I want you to make two lines, along here…

Like this, one behind the other.

Let’s see…move up a bit…good, that’s nice and straight!

Can you make a circle? A nice round circle. Good?

Not too close…a bit further apart…step back a bit, that’s better

Suresh…come forward a bit…Yes, that’s it.

Ok, thank you. Now go back to your places.

Being good – a positive approach to discipline (Berperilaku baik – pendekatan yang positif terhadap disiplin)

  • Please stop talking now. No more talking for a bit. Good you lot. That is nice and quiet. You others…shh. Calm down now, OK. That’s better.
  • Quite please! Settle down and listen. That’s good Eva. Thank you Emilio.
  • Everyone is sitting nicely…except for Tom! Tom, could you sit down like the others please? Thank you. Ok…
  • Ok, we need to be quieter to hear what everybody is saying. These two groups are doing an excellent job. Thank you for being quiet. And now we are waiting for…
  • Now who can tell me the name of the book? Lots of hands raised. Excellent.

Recalling routines: what we do when …(Mengingatkan hal-hal rutin: apa yang kita lakukan ketika…)

What do we do When we are learning a new song?

When we are having a story?

When we’re reading a big book?

When we’re playing follow the leader?

After cutting out and singing?

At the end of the lesson?

everybody stand up

come up and sit on the map

come and stand round the board

everyone come out here to the front

clear everything up nicely

line up – one behind the other

get our/your bags

line up in rows beside our/your tables

push the front desks/tables back

line up quietly by the door

Turn-giving (Memberi giliran)

  1. Everybody-all of you! Ready?
  2. Just this row.
  3. Maria, your turn
  4. Ok, this group now…
  5. Anybody else? Hands up…one at a time…don’t just shout out.
  6. Blue team – you start. Then red, then yellow
  1. Ok, yellow, your turn next.
  2. Right, now boys and girls…all together.
  3. Class – you’re in two halves…OK, this half first.
  4. Back row, then front row.
  5. Second row, then third row.
  6. Ok, you two, then you two, next.

Explaining and demonstrating (Menjelaskan dan memperagakan)

Today we are going to Do some colouring.

Do some drawing

Do some painting

Do some sticking

Look, like this…

Look at what we are going to make.

Next we are going to Make a monster Here’s one class 3 made.

Look here’s a picture for you to colour.

Over the next few lessons we are going to

make an Easter card.

Colour some animals.

Make a farm.

Make a circus pictures.

Here’s a sticker sheet for you to share.

We’ll start like this.

You can all choose a different animal.

Let’s do some together as a class first, so you’ll see. What I mean.

What it might be like.

What to do.

How to do it.

Asking for helpers and giving things out (Meminta bantuan siswa dan membagikan barang)

I need two helpers please So, you can give out these pictures?

One each.

Who’d like to help? You three? Fine.

Can you pass round these sheets of paper? So everyone has one?
Sachiko, can you help me?

Can you give out the cards? Three for each table.
Ann and Pat – you can help me. Hand these back down your rows.

Can you find the box of crayons and give them out?

Can you collect in the cards please? Thanks.

Phrases describing position (Frasa yang menyatakan posisi)

  1. On the left.
  2. In the middle – a bit to the left.
  3. In the corner, at the front.
  4. at the top of the tree
  5. at the back
  6. next to the tree
  7. right at the front of the picture.
  8. behind the tree
    1. in the background, far away
    2. under the tree
    3. at the front
    4. in the corner at the back
    5. on the right
    6. in the middle – a bit to the right
    7. by the bus stop

Asking who wants a turn (Bertanya siapa yang ingin mendapat giliran)

  • Who wants to start? Hands up!
  • Whose go is it?
  • Whose turn is it to do a mime?
  • One more go. Who wants the last go?
  • Blue team? But you started lat time.
  • Maria again? But you’ve just had a go.
  • Who has still not had a turn?
  • Who still wants a go?
  • Which group has not been?

What can you do with cards? (Apa saja yang bisa kita lakukan dengan kartu?)

Here are some cards.

These are picture cards.

These are word cards.

Here are some cards with phrases on.

Here are some cards with actions on.

Can you

Will you

Give them out?

Deal them out?

Share them round?

Mix them up?

Put them face down on your table?

You should have three each.

Each pair should have six.

Check you have eight on each table.

Put the rest in a pile face down.

Don’t look at them yet.

Just look at your own.

Spread them out so you can see them all.

Don’t show them to anyone else.

Don’t look at anyone else’s.

Which one makes a pair?

Whoop’s!

Oh dear!

Watch out!

Careful!

Wait a minute!

One’s gone in your lap.

One’s fallen in your bag.

One’s gone under your chair.

One’s fallen on the floor.

You’ve got an extra one.

You’re one short.

Can you pick it up?

Can you reach it?

Who hasn’t got all six?

Who’s got one missing?

Who’s got one extra?

Extra phrases for ball games (Frasa lain untuk permainan bola)

  1. Oh dear! You dropped it!
  2. Can you get it?
  3. Can you reach it?
  4. Kick it over here.
  5. Throw it gently.
  6. Who can catch it?
  7. Pass it back to me.
  8. Get a goal.
  9. Roll it don’t bounce it.
  10. Throw it away now.
  11. Mind the windows.
  12. Oh no it’d gone into the flower bed.
  13. No other ball games allowed in the classroom.

Asking children to guess or remember (Meminta anak untuk menebak dan mengingat)

Who can guess what

Can you say/ ask them what

Hands up if you can guess what

Can you remember what

They are doing?

They are going to do next?

Amanda and Martha were doing?

Setting up pairs and groups (Membuat pasangan dan pengelompokan)

Are you ready?

Ok, everyone.

So now everybody.

Quite please!

Listen carefully.

You’re going to do this

You’re going to work

You will be playing this

In pairs.

In twos.

In threes.

In groups of three or four.

Here are two pictures, but don’t look at them yet.

Keep them face down!

You must not show them to anyone else.

Keep them like this!

You can look at them both/all together

So, you two together.

You two and you three.

Go and sit with Laura please and make a pair.

Children in pairs or groups (Anak-anak berpasangan atau dalam kelompok)

Child 1 Child 2
Who wants to start?

Whose turn is it?

Who’s next?

You’re next/ I’m next.

Me! / Not me!

Mine! Yours! Ana’s!

Me! Ana!

OK.

I’ll draw and you colour, OK?

I’ll ask and you answer, OK?

You first and then me, OK?

Have we / you finished?

Yes.

All right.

Yes / No, you first!

Yes! / Not yet! / Just a minute!

Can you pass me a blue pencil / yellow crayon?

Can I have the rubber / the eraser please?

Oh, I need the ruler / the scissor.

Who’s got the red marker?

Here you are.

Here it is!

Here you are / Oh! Wait a minute!

Me! Here you are / here it is.

Letter and word recognition (Pengenalan huruf dan kata)

Can you find your

Who can find their

Name card on the table?

Favorite colour among these words?

Favorite food or drink?

Pick it up and show us…

Can you put it on your desk?

Can you read it out to us/

Good – can you tell us what it says?

How many other colour words can you read?

Who can find A word for a colour?

The word for blue?

The card which says blue?

A card with an animal name on?

What other animal words can you read?

What does this one say?

Phonic approach (Pendekatan fonik)

Who can

Can you

Can anyone

Find

Point to

see

A letter which says ssss

A word beginning with a w sound

A word that starts with a b

The letters for a th sound

A word that ends with a n sound

A word that rhymes with cat

Like a sssnake like in your name, Sam

As in wolf?

Like b for banana?

Like you get in three?

Like green, man?

Like hat, sat?

Finding the place (Menemukan tempat)

You need your

Please open your

Find where we go to last time

Find your place in your

Coursebook

Activity book

Workbook

reader

Page 13

Page 22

Page 30

Middle of page 14

Read what it says…

Can you read it on your own?

Can you do what it says?

Story questions and prompts (Pertanyaan tentang ceritera dan arahan)

Who

Was eating the cheese (at the beginning of the story)?

Saw the bird eating the cheese?

Wanted the cheese?

Asked the bird some questions?

Sang a beautiful song?

Dropped the cheese?

Ate the cheese in the end?

What

Was the bird eating?

Was the fox thinking?

Did the fox ask first?

Did he do then?

Do you think they both did next?

Do you think will happen next?

He asked him to sing a song.

He flew away to another wood.

Why do you think he asked the bird to sing? Because he liked listening to birds singing?

To make him open his mouth wide?

To make him drop the cheese?

How do you think The bird felt, at first?

He felt at the end?

The fox felt, at first?

At the end?

Happy? Pleased? Sad?

Hungry? jealous?

Proud? Cross? Angry?

A bit silly? Stupid?

Starting a feedback chat (Memulai obrolan yang bersifat balikan)

That’s a

That’s

Very nice

Lovely

Wonderful

Fantastic

Really good

Pretty good

Very neat

Caterpillar!

Picture!

Colouring

Writing

drawing

Can you tell me more about it?

Why did you do that bit yellow?

How many things has he eaten?

Wow, has he eaten all those things? Or only some?

What things does he like best?

My goodness – he’s got a lot of legs! Can he walk very fast?

So now, what are you going to draw/ write/ colour next?

When and how to correct (Kapan dan bagaimana mengoreksi)

Teacher

Vanessa

Teacher

Vanessa

Teacher

Vanessa

Teacher

Vanessa

Teacher

Interaction

Yes – it was a beautiful party. OK, now, who wants to tell the whole story?

I!

OK, Vanessa, you start.

Croc is sad, Croc is young. Croc is crocodil…

Crocodile

I have got…

He has got…

He has got a big mouth, big teeth and sad.

He is sad, yes. Why is he sad?

Commentary

(this was the end of the first retelling).

Should be Me or Can I? or Please! Teacher ignores it, as the meaning and intention are both clear.

Pronunciation error. Teacher corrects by putting emphasis on Crocodile, as this word occurs many times in this story.

Error affecting meaning, so teacher corrects.

Error of form – verb is omitted. Teacher rephrases to correct, and then picks up Vanessa’s idea to extend it.

Instructions for true/ false activities (instruksi untuk kegiatan yang memerlukan tanggapan benar/salah)

If it is true

If I’m right

Clap once like this.

Nod your head, like this.

Shout out “yes”.

Put one hand up.

If it is not true

If I’m not right

If I’m wrong

Clap twice – two claps.

Shake your head, like this.

Shout out “no”.

Put both hands up, two hands up>

What learners need to say and ask (Yang perlu dikatakan dan ditanyakan siswa)

Children

I haven’t got

I’ve lost

I’ve forgotten

Look, I’ve got

My pencils.

My colours.

My book

A new bag/ pencil case.

Some new felt tip pens.

Teacher

Has anyone seen Giorgio’s pencil/ book/ colours?

Can someone lend Giorgio a pencil/ some colours?

Who’s got a spare pencil?

Don’t worry, I’ve got a spare one/ set here.

Did you leave it at home? OK, never mind.

Here’s one/ Here you are.

Go and get one from my table.

Leila – can he look at your book?

Can he share with you?

That’s lovely. Who gave you that/ those?

Child

Excuse me! can you help me?

Please Miss X! Is this right?

I don’t know what to do.

Please can I ask in Spanish?

Teacher

Yes – of course, just coming.

Wait a moment Ana, I’m just helping Peter.

Yes…what is it you need?

That’s fine like that.

Yes… What do you need to know?

B. Bahasa Inggris untuk Tujuan Instruksional

Di bagian A di atas, Anda telah berlatih mendemonstrasikan ungkapan-ungkapan bahasa Inggris yang lazim dikatakan guru penutur asli. Di bagian ini Anda dapat membaca sejumlah transkrip atau rekaman bahasa Inggris yang digunakan penutur asli dalam proses belajar mengajar yang tersusun sedemikian rupa sehingga membentuk wacana kelas. Transkrip ini pada mulanya disajikan untuk tujuan pelatihan micro teaching (Turner et al. 1983) yang menunjukkan bagaimana caranya memberi peneguhan, memberi dan membagi pertanyaan dan sebagainya. Akan tetapi, karena tujuan modul ini lebih terfokus kepada bahasa yang digunakan untuk melakukan fungsi-fungsi micro teaching tersebut maka Anda diharapkan dapat memfokuskan diri kepada aspek bahasa.

Dengan melihat interaksi kelas yang utuh ini Anda diharapkan dapat memperoleh informasi otentik bagaimana guru penutur asli berbicara atau menggunakan ungkapan-ungkapan dalam rangka menyampaikan pesan atau content, menyusun kegiatan belajar, dan menciptakan wacana kelas.

Dalam membaca, pusatkan perhatian Anda kepada ketiga hal di atas. Perhatikan pula ungkapan-ungkapan yang digunakan untuk merealisasikan setiap ketrampilan. Misalnya, ungkapan-ungkapan ada saja yang digunakan untuk melakukan reinforcement atau peneguhan dan sebagainya. Keterangan mengenai konteks situasinya diberikan dalam tanda kurung (…).


Model Pembelajaran Teks Review

Model Pembelajaran Teks REVIEW (SMA)

Helena I. R. Agustien

Universitas Negeri Semarang

A. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Literasi:

Sesuai dengan PP No 10. 2005, pembelajaran bahasa diharapkan mengembangkan empat keterampilan berbahasa dengan penekanan pada reading dan writing. Ini berarti pembelajaran mencakup oracy (listening dan speaking) untuk komunikasi sosial, tetapi dengan menekankan fungsi bahasa untuk belajar, yakni literacy (reading dan writing). Maka, setiap rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis teks memiliki target yang sama, yakni membuat siswa sampai mampu menulis dalam bahasa Inggris.

Untuk mencapai kompetensi komunikatif tersebut semua kegiatan guru dan pengalaman pembelajaran siswa diatur dalam skenario yang membantu guru mengintegrasikan pembelajaran keempat skills. Skenario ini berupa dua siklus (lisan dan tulis) dan empat tahap (Building Knowledge of the Field, Modelling of Text, Joint Construction of Text, dan Independent Construction of Text) (lihar bagian B).  Dalam pendekatan berbasis literacy, guru diharapkan menyusun kegiatan untuk memberi pengalaman pembelajaran (learning experiences) untuk mencapai kompetensi. Dalam menyusun pengalaman pembelajaran tersebut guru memperhatikan tujuh prinsip literacy (The New London Group, 1998) yakni: interpretation (interpretasi), convention (konvensi), collaboration (kolaborasi), cultural knowledge (pengetahuan budaya), reflection (refleksi), dan language use (penggunaan bahasa).

B. Metode Pembelajaran

Yang menjadi dasar pengembangan sebuah rencana pengembangan pembelajaran berbasis teks adalah tujuan komunikatif sebuah teks. Misalnya, tujuan komunikatif sebuah teks review adalah memberi penilaian, pendapat, komentar dll. Dengan alasan ini, maka tindak tutur maupun materi ajar yang digunakan untuk mengembangkan pembelajaran dipilih berdasarkan kriteria memberi penilaian, pendapat, komentar dll. Berikut adalah contoh skenario pelaksanaan pembelajaran berbasis teks review yang tujuan komunikatifnya adalah memberi penilaian, pendapat, komentar dll.

  1. Siklus Lisan
    1. Building knowledge of the Field (tata bahasa, kosa kata, ungkapan dll.)
    2. Modelling of text (Listening)
    3. Joint Construction of Text (Speaking: dialogues, conversations)
    4. Independent Construction (Speaking: Monologue)
  2. Siklus Tulis
    1. Building Knowledge of the Field (tata bahasa, kosa kata, ungkapan dll.)
    2. Modelling of Text (Reading)
    3. Joint Construction of Text (Writing, berkelompok)
    4. Independent Construction of Text (Writing, individual)

C. Teknik Mengajar:

Teknik mengajar apapun yang telah dipelajari dan dimiliki guru selama ini dapat digunakan dalam skenario metode di bagian B di atas. Misalnya, guru bebas mengadakan latihan membuat kalimat menggunakan modality, kosa kata yang biasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan, pendapat (berbagai adjectives) dll. pada tahap BKOF sebab siswa tidak akan mungkin mampu menulis sebuah review tanpa kemampuan tata bahasa. Teknik mengajarnya diserahkan kepada guru. Di sini terlihat bahwa tata bahasa memperoleh tempat yang penting dalam pendekatan berbasis literacy. Tata-bahasa, kosa kata dll. adalah modal utama untuk mengembangkan keterampilan. Namun demikian, perlu diingat bahwa tujuan pendidikan bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan tata bahasa dll., melainkan untuk maju ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu merespon dan menciptakan teks mulai dari listening sampai writing.

D. Materi Ajar dan Media

Bahan ajar dan media mencakup semua resources yang berguna untuk mengembangkan kompetensi tindak bahasa, linguistik, sosio-kultural, strategi dan kompetensi berwacana.

E. Penilaian

Penilaian dilakukan dengan teknik tes biasa maupun dengan menggunakan lembar observasi untuk portofolio (lihat lembar-lembar observasi berdasarkan Brown 2004, O”Malley dan Pierce 2000). Prinsip-prinsip, teknik penilaian serta scoring yang terdapat dalam D. H. Brown, 2004 sangat sesuai untuk diterapkan dalam pengajaran bahasa berbasis literacy (lihat Modul Penilaian).

Model Pembelajaran Teks REVIEW (SMA)

Helena I. R. Agustien

Universitas Negeri Semarang

Siklus Tahap Kegiatan Scaffolding Guru Kegiatan Siswa Keterangan
LISAN BKOF

(Grammar, vocabulary, cultural knowledge dll)

Prinsip Literasi:

Interpretation

Collaboration

Convention

Cultural- Knowledge

Reflection

Language- use

Membangun konteks

Good morning… dsb.

Let me ask you something. Did anyone of you go to Gramedia bookshop on the sixteenth of July… about a month ago?

What happened? What was so special about that date?

Right. Did you see many people in the bookshop?

Was it easy to get the book?

So, you ordered the book, didn’t you? Why?

That’s clever. Cheaper and to make sure you get one.

Did you? Was it a long queue?

So how much did you pay for it?

Wow…, That’s a lot of money, isn’t it?

But why did you buy it?

So, you think it’s good, right?

How do you know it’s good?

Good. After reading something, you can say that something is good, or not very good, or bad… depending on what you think about something.

Do you watch Harry Potter films too?

What do you think? Are they good?

Awesome! Great! So you like them, don’t you?

Listen… When you say that a book or a film is good… very good… awesome… cool and so on … you actually evaluate something. And evaluation is an important part when you review something.

Do you understand what I mean by REVIEWING?

When you review a Harry Potter film, for example, you say what is good or what is not good about it so that other people learn something about the film. When you say that a film or a book is good, people will be interested and then they buy or watch it. Have you seen such a review on newspaper?

What do they call it here?

Yes. Exactly.

The purpose of Resensi Buku is to review… or to give critique on a work or event. When doing so, the writer evaluates the work or the event. Do you understand?

Now let me hear your personal comments about Harry Potter 6. Everyone can give me one word, JUST ONE WORD to give me ideas about Harry Potter 6.

Okay. What else?

Right. What else?

Good. Anything else?

Anything else?

More ideas, please…

Boring? Anything worse?

Right. You came up with a negative comment.

Yes. Another critique, you see.

So… you have mentioned at least 8 adjectives. Those adjectives represent your opinion, your evaluation about a book.

Now you see that you need to know many adjectives so that you will be able to express your opinions or what you think about something. Adjectives convey your feelings. So you need to be careful in using adjectives because people can find out about your feelings just by hearing the adjectives you use.

For example, when you say “This is a stupid book!” people will know that you do not like the book. But, if you want to let your feelings out… you have adjectives to do the job, for example “This book is awesome.”

Now, look here. I have got some nouns, and you are supposed to put some adjectives before the nouns. Make sure the combinations make sense.

Now you can have another try. This time, you put more than one adjective to the nouns. For example, “This is a cheap boring story.”

Good. Now let’s try to add more words to express more feelings of yours. For example “This is the most disgusting boring story I’ve read in my life.”

You see… You can express your strong feelings and opinions through adjectives. To review something you need to use all kinds of adjective.

Once you know how to create noun phrases with different adjectives,  you can create a REVIEW text.

To review something you can do it in different ways. Sometimes you only need one word, few words or many words. A complete review has a structure involving ORIENTATION, INTERPRETATIVE RECOUNT, EVALUATION, and EVALUATIVE SUMMATION.

At the orientation stage, you introduce the thing you want to review… to put your review in a context. Then you can go on by summarizing the whole or the parts of the book that interest you. This is called an interpretative recount. And then you give your comments on that recount, and this is called evaluation. This is where you use a lot of adjectives. And, finally, you give a punch line of emphasis on your evaluation. This is called evaluative summation.

Let’s have a look at some short examples here by Lianna B. She uses many words. Try to indicate the structure the text.

Komentar pendek (boleh ada, boleh tidak)

Shocking Revelations!

Orientation

Harry Potter and the Half Blood Prince was the much anticipated book of the summer. And, really, of the last two years since Book 5 came out. I waited to read it while I was on vacation this past week and I have to admit, I could not put it down. I read it at the beach, by the pool, in the condo, during meals, everywhere!

Evaluation

The beginning I found to be a little slow, but the drama did pick up towards the 10th chapter and from then on I couldn’t put it down. It was shocking and intriguing all at once.

Evaluative summation

I cannot wait for the final installment now! One recommendation, make sure you’ve read all the preceding books first, because there are a lot of references to previous events that were in books 4 and 5 in this one and if you haven’t read them you may be a little lost.

Now try to find some adjectives used in the text. In which part does the writer use adjectives most?

In the evaluation part you can find two verbs that end with “ing”. “Shocking” and “intriguing”. They end with “ing”, but they function as adjective. So you can use “true” adjectives such as “good, excellent” and so on, but you can also use verb plus “ing” to create adjectives.

Let’s try to make adjectives from verbs plus “ing”. Look at these verbs. They are usually used as adjectives when you put “ing”.

Now… think about things that bear those adjectives.

Right. “Confusing news… amusing film… boring lesson… surprising gift… frightening situation… exhausting exercise… interesting movie” and so on.

To make people know that you are expressing your own feelings you can also use some gambits such as “I think…, in my opinion…, to my mind…, I personally feel, l would say that…” and so on. Now let’s use both gambits and adjectives together. For example:

  • I think the book is interesting
  • In my opinion the game was exciting
  • To my mind it was a surprising party
  • I personally feel that it was an exhausting game.

Okay now… before you go… I want you to read a story… any story… it can be a story for children, a novel, a comic, news or whatever you can find. Then you will tell me what you think about it.

Yes, I did, Ma’am!

Harry Potter! Harry Potter sixth!

Yes. Many people.

Well… sort of… I ordered the book.

Cheaper, Ma’am. Make sure I get one.

But we had to queue, Ma’am.

Pretty long. But Okay.

Two hundred thousand, Ma’am.

Yes. Very expensive.

It’s good. I love Harry Potter.

Yes.

After reading it.

Yes. Of course!

Yes. Awesome!

Very much.

Not really.

Yes.

Resensi Buku, Ma’am.

Yes, Ma’am.

Good

Funny

Scary

Awesome

Exciting

Interesting

Boring

Disappointing

Siswa mencoba memberi adjective yang tepat untuk kata benda tertentu.

Siswa mengucapkan noun phrase dengan dua adjectives atau lebih.

Siswa mencoba latihan yang lain.

Membaca contoh-contoh pendek.

Siswa mengidentifikasi struktur teks.

Siswa menggaris bawahi adjectives yang banyak digunakan dalam evaluation.

Siswa menambahkan “ing”

-          confusing

-          amusing

-          boring

-          surprising

-          frightening

-          exhausting

-          interesting

Siswa membuat penilaian terhadap sesuatu menggunakan adjektiva participle “ing” dan menggunakan gambits pada awal kalimat secara lisan.

Guru membangun konteks agar siswa mengetahui hubungan teks dengan tata bahasa, kosa kata serta membuat pelajaran menjadi interaktif.
Modeling of Text

(LISTENING)

Prinsip Literasi:

Interpretation

Collaboration

Language- use

Convention

Reflection

Good morning… dst.

Today we are going to listen to conversations and see how well you understand them. In the conversations you will learn how people criticize or complain in English. Now, listen to this:

(1)

Toni: Hi Jane. What are you doing here?

Jane: Nothing. Just getting some fresh air. It’s so stuffy inside.

T: Yeah. You’re right. I think so too. That’s why I went out here.

J: What do you think of the party?

T: It’s pretty boring… there’s nothing much to do.

J: You’re right… They could have made it more exciting, though… with games, dances…

T: Yeah… all we can find here is food.

J: That’s true… and not good food either

T: I don’t think the party is well planned.

J: You’re right. No.

(2)

Prita: Hi Bayu… May I borrow your Harry Potter, please ?

Bayu: Sure. I’ve just finished reading it. I read until midnight last night.

P: Did you?

B: I did. I couldn’t stop until I finished it. It was so exciting.

P: Really? I can’t wait to read it.

B: You should read it. There are a lot of surprises there… you know… things that you didn’t expect to happen.

P: Wow… it sounds interesting.

B: I think it’s more than just interesting. Some parts are so frightening, intriguing, surprising, amusing… but certainly not boring.

P. Oh please… please don’t tell me more about it. I want to find out myself when I read it.

B: Fair enough. I’ll bring it for you tomorrow.

P: Thanks.

B: My pleasure.

(3)

Andre: Sari… Come here! Look what’s happened!

Sari: Oh my God! My budgie is dead!

A: Poor bird… who could have done this?

S: Yeah… who did this?

A: I think… maybe… it’s a cat.

S: How could a cat get here?

A: I have no idea… Oh… there it is! I think somebody had left the door open.

S: What did you say?

A: We forgot to lock door.

S: Yes… but why? Why didn’t anyone of us notice that?

A: Right… You shouldn’t have left your budgie here. You should have brought it home. I am so sorry…

S: I can’t blame anyone, can I? Oh… my sweet budgie…

A: Let’s get another budgie at the bird market. And don’t leave it at school next time.

S: Thank you, Andre.

(4)

Monolog

Hey… I tell you what. We went on a trip last Sunday to Kopeng. Twenty of us going together and we spent the night in a villa. It was quite cheap because we paid only three hundred thousand rupiahs for four bedrooms. But things didn’t turn quite good during the night, you know… It was freezing cold and there were only eight blankets for twenty people. There was no room heater… and the worst was that the water heaters did not work. None of them did. So… we had very cold showers and some of us did not dare to have shower. It was horrible! Staying in a cheap place is not always a smart decision.

Siswa mendengarkan, merespon pertanyaan guru, menirukan dsb.

Guru memilih percakapan-percakapan yang mendemonstrasikan berbagai tindak tutur seperti mengkritik, menyalahkan, tidak menyalahkan, dan sebagainya.

Guru dapat juga membaca teks secara langsung dan tidak harus dengan tape recorder. Disarankan agar guru memeriksa ucapan setiap kata dalam kamus sebelum membaca nyaring.

Joint Cosntruction of Text

(SPEAKING IN GROUPS)

Prinsip Literasi:

Problem- solving

Cultura-l knowledge

Convention

Interpretation

Reflection

Collaboration

Language-use

Good morning … dst.

Today we are going to practice our conversations. I am going to give you some situations and try to figure out what kind of dialogues you are likely to have. Now we are going to work in groups of three. Please make groups of three and I’ll give you the assignments.

(1)

You and your friends were joining a cooking competition at your school. However, one of your friends came late, and he forgot to bring a cooking utensil you need. In such an emergency, you had to use whatever you had. The food did not turn out good and your team lost.

(2)

You and your class organized a trip to Bali. Many of you wanted the cheapest way to go there, so you chose the cheapest package tour. However, you had to spend some nights in the bus, many of you got sick and tired, you could not enjoy your days there because you were sleepy, and the hotel did not have enough bathrooms for so many people. Plus, the bus’s air conditioning didn’t work well. Some of your friends were not punctual. They always came back to the bus late every time you had a stop at a tourist spot.

(3)

You organized a fund-raising activity for a trip. Your group had to go to some companies to sponsor a film show at the movies. Some companies were good, but many of them were not cooperative. These companies didn’t give money; they said that students didn’t want to work hard. All they wanted to do was asking for donation. You were upset. You didn’t make enough money from the show, in fact you lost money.

All right everyone… I think you did a great job here. Your conversations sound interesting. Next week we are going to talk about the books you have read and see what you think about them.

Yes, Ma’am.

Siswa membuat percakapan yang mengandung tindak tutur menyalahkan, mengkritik, meminta maaf, mengeluh, mengakui kesalahan, menyesali  dll.

Siswa diingatkan akan tugas membaca buku yang diberikan dua minggu sebelumnya.

Assignments semacam ini melatih siswa melakukan problem solving, reflection, dan language use.

Independent Construction of Text

(SPEAKING IN MONOLOGUE)

Reflection

Interpretation

Convention

Language-use

Morning everyone… I think you are ready to say something about the books. Use some adjectives that best describe the books. Mention

  1. the name of the book
  2. what the book is about
  3. what you think about the book, and
  4. summarize your opinion in one sentence
Siswa diarahkan untuk bermonolog dengan tujuan mereview. Review dapat direalisasikan dalam lima kalimat atau lebih.
TULIS BKOF

(Grammar, vocabulary etc.)

Prinsip Literasi:

Interpretation

Collaboration

Convention

Cultural- Knowledge

Reflection

Language- use

Hello everyone…

Today we are going to talk about the differences between facts and opinions.

Last week we talk about the books that you read, right? So, when somebody asks you about the story, you can tell her or him the story. But, it would be very difficult for you to tell the story using the exact same words as you find in the book. Do you think it would be possible at all to do it?

Right. So you tell the story in a summary form. It’s shorter than the original… kind of to cut the story short. When retelling the story, you are talking about ‘facts’, the things that are really there in the story. You do not make things up; you do not give your opinion. When you do this you actually give an interpretative recount. Interpretative recount sometimes occur in a review text, but not always.

When your friends ask you what you think about the story, you can say “I THINK the story is good” (or bad). Once you say I THINK, you actually give your opinion or evaluation about the book. So, in order to distinguish an interpretative recount from an evaluation, try to put I THINK before the sentence. This can be a good test. When you say I THINK, then, you are not talking about facts; you are talking about opinion, about evaluation.

Now, Ari, could you retell your story to the class, please?

Very good, Ari.

Now what do you think about the story? Anyone can tell me?

You see… now you can make your evaluation. Those words are yours and you can put I THINK before the adjectives. You can say I THINK IT IS INTERESTING.

Look at the following short reviews. They go straight to the point, to the evaluation, because evaluation is the heart of a review.

(1)

Paul R.:Very poor ending

I did not enjoy the sixth installment of the harry potter series. JK Rowling really dissapointed me with her horribly low creative skills. I will not spoil the ending, but why did he have to die? I think that the book chain is now just trying to get money, and not please her fanbase.

The writer uses “I” as Subjects to show that the things said are seen from his/her point of view. Let’s have a good look at some more.

(2)

Linda P.:Excellent Book!

I am a big fan!! The first chapter starts with all this history and the oo’s and aah’s of how other branches of the stories comes into place. I was just dying to get a copy of the book from my library but it was all taken. A co-worker lent me his copy and the book has kept me reading on the subway. Rowling has a knack of bringing a sense of humor in her writing and this book is no exception. There is also some serious drama in the story and seems to have been building in each of her books.
Love this book!

(3)

Rachel G: I know you’ve been wondering

Pros: Exciting, readable, surprising

Cons: Doesn’t answer questions from previous books

So was it really up to?
I think that Rowling might have tried to tone with book down compared to the emotionally turmoil in book 5: The Order of the Phoenix.
It was entirely entertaining, but I’m not sure it answered quite as many questions as I would have liked. It does draw you into the conclusion, however, by riling you up against a certain Half-Blood Prince, but I’ll let you find out why on your own.

I give it four stars because it was a good read, but I do not give it five stars because there was just too much that was left out and unanswered. I’m still trying to figure out what happened to the Weasley family member named Charlie.

Now, you can go to the Internet and find more short reviews of Harry Potter 6. I want you to share the comments with your friends.

Try to find a long review that has ORIENTATION, INTERPRETATIVE RECOUNT, EVALUATION and EVALUATIVE SUMMATION.

No. Impossible.

Ari menceriterakan kembali isi buku yang dibacanya secara singkat.

Siswa lain menjawab:

Interesting, Ma’am.

Good, Ma’am.

Funny, Ma’am

Siswa mendiskusikan dan mengidentifikasi berbagai pendapat mengenai buku Harry Potter 6.

Siswa membuat daftar EVALUATION dari pembaca Harry Potter 6.

Modeling of Text

(READING)

Prinsip Literasi:

Interpretation

Collaboration

Language- use

Convention

Reflection

Okay class…  Today we are going to look at a complete type of review. Look at the text written by Raj. I think he is a big fan of Harry Potter.

By Raj S: The long awaited book

ORIENTATION

After nearly two years of waiting the anticipation alone is enough to ruin Harry Potter before it even gets published. Fans of the wizarding boy and his adventures are often so strung out for a new book that they tend to build up the greatness of the writing and it has to be hard to continuously live up to those high expectations time and again. Well, J.K. Rowling has lived up to the expectation for the 6th time in her newest addition to the series ” Harry Potter and The Half Blood Prince” .

EVALUATION

I have to admit I was immediately thrown for a loop as the new novel was presented in a different way. Previously every single book started and basically concluded the same way.

INTERPRETATIVE RECOUNT

Each book starts out as Harry is miserably surviving the summer at the Dursley’s. He has a problem and they move on to school the main story always takes place here and then after the conflict is resolved it peacefully concludes with all the kids promising to write over the summer as they head off once more to spend the summers at home. This book didn’t even get to Harry or the Dursley’s house until the second chapter.

EVALUATION

The reader immediately found them selves thrown into a tumultuous time in both Britain and the Wizarding world. This change hooked you for sure , which is the ultimate goal, but at the same time set an uncomfortable feeling of change where that predictability from the other novels was gone.

INTERPRETATIVE RECOUNT

This book finds the characters turning 16 so they are getting up there in age and their behavior is starting to reflect it. They are suddenly interested in the opposite sex and spend time “snogging” which is kissing.

EVALUATION

Of course this is behavior today seen in 12 year olds but still I found it quite pathetic and unsettling as an adult reading the book . I have no doubt a certain population of youngsters at the right age will be begging for more “snogging”. But, whatever! This book answers a lot of questions and goes deep into the past to help Harry understand his opponent better so that he may learn how to defeat him. The book also progresses into what I feel is the creepiest scenes by far. Even as an adult , I found my self uncomfortably scared reading some of the trials Harry had to go through in this book . And yes, someone very important dies. This has changed the face of Harry Potter forever and the book takes a decidedly different turn.

INTERPRETATIVE RECOUNT

The reader is left not knowing who to trust and even whether Hogworts will exist for the next school year. In any event Harry and his faithful Friends don’t intend to return for their final year! Yes , they will become drop outs in their mission to ultimately end the rein of terror brought about by Lord Voldemort and  his following. Some one has to do it .

EVALUATION

So that sets the stage for book 7. Just in case you are a robotic machine and were not all ready hooked, this book leaves you no other choice but to continue when book 7 is issued to actually find out how it all ends , because this book offers no real conclusion. That is most unsettling to have that feeling of no conclusion knowing it will most likely be another long two year wait for the next book.

EVALUATIVE SUMMATION

In conclusion , although drastically different this is no exception to the wonderful work of J.K. Rowling. You will not put this book down and wish you had taken longer to read it once your done because it is a long wait we are looking at for the next Harry Potter!

Sesuai petunjuk guru, siswa mengidentifikasi bagian dan struktur teks.

Siswa menjawab comprehension questions.

Dengan pancingan dari guru siswa mendiskusikan fungsi adverbs, adjectives dalam teks. Jenis-jenis kata ini menunjukkan sikap penulisnya.

Secara berkelompok siswa mencoba manghapus adverbs yang ada dalam tiap paragraph. Siswa diminta pendapatnya tentang kualitas teks setelah adverbsnya hilang.

Secara berkelompok, siswa diminta menghlangkan adjectives yang ada dalam teks. Siswa diminta pendapatnya apa yang terjadi jika adjective dihilangkan.

Latihan ini dimaksudkan untuk menyadarkan siswa tentang pentingnya adverbs dan adjectives dalam teks tertentu.

Joint Construction of Text

(WRITING IN GROUPS)

Prinsip Literasi:

Collaboration

Problem- solving

Reflection

Convention

Interpretation

Language- use

Good morning… dst.

Today we are going to write small texts and you can work in pairs. I am going to give you the assignments. You are supposed to write a short review about different events. Don’t forget to use adjectives and adverbs.

(1)

Your school band won the first prize in a competition. You watched them perform in the event.

(2)

Your friends perform an English drama at an ENGLISH NIGHT in your school theatre. The audience fell asleep.

(3)

Your class has just displayed a wall magazine at your school. It invites a lot of readers.

(4)

Your friend wrote a short story. It was published in a national newspaper.

(5)

You ate in a new restaurant and you enjoyed the meals a lot. However, you paid a lot too.

Siswa menulis berpasangan dengan teman di sebelahnya. Latihan ini membiasakan siswa untuk berani berpendapat, baik nagatif maupun positif.
Independent Construction of Text

(WRITING INDIVIDUALLY)

Prinsip Literasi:

Interpretation

Reflection

Convention

Cultural- knowledge

Language- use

Good morning… dst.

I think you did a great job last week with your small reviews. Now it’s time for you to try a bigger one.

Let’s watch a Harry Potter film. I have with me Harry Potter number 1. So, watch it very closely and think which parts are interesting or boring or disappointing or… whatever you think.

I giving out these sheets and you can see that you are supposed to write according to the text structure available in the sheet. Are you ready?

Siswa mencoba menulis berdasarkan:

ORIENTATION

INTERPRETATIVE RECOUNT

EVALUATION

EVALUATIVE SUMMATION

Process writing dilakukan pada tahap ini.

Email:

rppguswur@gmail.com

Belajar Inggris

BelajarInggris.Net 250x250

Blog Stats

  • 1,532,077 hits

Pengunjung

free counters

blogstat

Alexa Certified Site Stats for www.aguswuryanto.wordpress.com

Incoming traffic

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 158 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 158 other followers