Belajar jadi Guru

Archive for the ‘PTK Bahasa Inggris’ Category


ENGLISH WEBLOG

ENGLISH WEBLOG

PEMBELAJARAN PORTOFOLIO BERDASAR TEKNOLOGI

INFORMASI DAN KUMUNIKASI UNTUK MENGOPTIMALKAN

KOMPETENSI MENULIS BAHASA INGGRIS

Disusun untuk Mengikuti

Lomba Keberhasilan  Guru ( LKG ) Tingkat Nasional

Tahun 2006

Oleh :

Nikmah Nurbaity S.Pd

Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo

SMA Negeri 7 Purworejo

Jl. Ki Mangunsarkoro no. 1 Purworejo Jawa Tengah

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam memepelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan mampu membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain. Selain itu, pembelajaran bahasa juga membantu peserta didik mampu mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisispasi dalam masyarakat, dan bahkan menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif dalam dirinya.

Pembelajaran Bahasa Inggris dalam Kurikulum Berbasisi Kompetensi menekankan penguasaan berkomunikasi pada siswa. Berkomunikasi disini adalah memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan dan mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi dan budaya. Siswa diharapkan menguasai kemampuan berkomunikasi dalam pengertian utuh yaitu kemampuan berwacana atau Discourse Competence, yakni kemampuan memahami dan / atau menghasilkan teks lisan dan / atau teks tulis yang direalisasikan dalam ke empat ketrampilam berbahasa yaitu listening (mendengarkan), speaking (berbicara) reading (membaca) dan writing        (menulis)

Pembelajaran diarahkan untuk membantu siswa mampu memahami dan menghasilkan berbagai jenis teks, yang dimaksud teks adalah segala sesuatu bentuk konunikasi yang bermakna & mempunyai arti. kemampuan siswa dalam memahami berbagai jenias teks cenderung lebih maksimal karena bersifat receptive atau pasif menerima, sedangkan kemampuan untuk menghasilkan berbagai jenis teks lebih sulit dikuasai siswa karena bersifat productive atau memproduksi.

Kendala signifikan yang dihadapi guru dan siswa untuk mencapai kompetensi menulis yang optimal, untuk mempu menghasilkan berbagai jenis teks adalah kurangnya pengetahuan dan latihan proses writing serta tidak adanya ruang pamer hasil tulisan siswa.

Guru dan siswa sering belum dan tidak memahami proses menulis, dan hanya langsung pada kegiatan siswa disuruh menulis tanpa mengetahui teori menulis, langkah-langkah  yang tepat dalam menulis, cara menulis serta topik apa yang harus ditulis. Setelah penugasan nenulis, karya siswa pun biasanya hanya dibaca oleh satu guru dan tidak ada siswa lain yang membacanya, beberapa kutipan berikut adalah pendapat siswa yang diobservasi:

-         Saya tidak tahu bagaimana harus memulai menulis, bagaimana bentuk teks yang harus saya tulis, jadi ya asal saja saya menulis dalam bahasa Inggris ( Natiqotul XI Bahasa)

-         Saya suka menulis, tetapi tidak bisa sekali jadi , saya harus memperbaiki berulang kali tulisan-tulisan saya. Saya sulit menuliskan ide ide saya dalam bentuk tulisan yang baik ( Hanindita XI Bahasa)

-         Bu, bagaimana saya bisa menulis, kalau saya tidak pernah latihan menulis dan tidak tahu caranya ? ( Agus XI bahasa)

-         Saya senang menuliskan ide-ide saya dalam buku, tapi siapa yang mau membacanya ? ( Mia Bella Vita XI Bahasa)

Bertolak dari wacana di atas dan kutipan pendapat pendapat siswa serta pe ntingnya mempersiapkan kemampuan siswa seiring dengan tuntutan kompetensi menulis yang juga diukur dalam ujian akhir siswa SMA, maka di kelas XI Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo dilaksanakan pemebelajaran writing menggunakan model pembalajaran PORTOFOLIO berdasarkan Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan WEB LOG untuk mengoptimalkan kompetensi menulis Bahasa Inggris Siswa.

Pemanfaatan WEBLOG untuk melaksanakan pembelajaran writing dengan model portofolio merupakan cara terbaru yang belum dilakukan oleh guru Bahasa Inggris maupun guru-guru lain karena program  ini baru dikenal dan dimanfaatkan dalam 2 tahun terakhir ini.

  1. B. Ruang Lingkup

Berdasarkan latar belakang dalam pembahasan sebelumnya, ruang lingkup penulisan karya tulis ini adalah:

Mengoptimalkan kemampuan menulis siswa melalui ENGLISH WEBLOG, pembelajaran potofolio berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Pemilihan Ruang lingkup tersebut berdasarkan beberapa alasan sebagai berikut:

-         Kemampuan menulis siswa masih rendah

-         Pembelajaran writing di kelas belum melalui proses yang benar

-         Kurangnya praktik pembelajaran writing di kelas

-         Kurangnya media mempublikasikan hasil writing siswa

-         Maraknya penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi di kehidupan siswa

-         Adanya  pembelajaran T.I.K di kurikulum yang bisa dimanfaatkan untuk pembelajaran lintas mata pelajaran.

-         Tersedianya layanan Weblog, pembuatan situs pribadi yang sangat mudah aplikasinya.

  1. C. Tujuan

Pelaksanaan pembelajaran writing dengan English weblog, pembelajaran portofolio berdasar Teknologi Informasi dan Komunikasi di SMA 7 Purworejo bertujuan untuk:

  1. Mengoputimalkan kompetensi menulis siswa
  2. Memberikan proses writing yang benar dengan tahapan-tahapan generating ideas, planning, drafting,  revising, editing, publising,
  3. Memeberikan latihan writing yang lebih intensif kepada siswa secara global dengan web.
  4. Memanfatakan penguasaan TIK untuk mengoptimalkan pembelajaran
  5. Melaksanakan lintas mata pembelajaran, bahasa Inggris dengan TIK
  6. Memanfaatkan layanan TIK yang membrikan kemudahan dengan Weblog.
  1. D. Sajian Definisi

D.1. Kompetensi Menulis

Kompetensi menulis atau writing skill adalah satu dari 4 ketrampilan berbahasa Inggris selain listening, speaking dan reading. Writing termasuk productive skill atau ketrampilam memproduksi selain speaking. Pembelajaran writing di sekolah sekolah belum melalui proses yang benar. Guru sering sekali hanya memberikan tugas writing tanpa memberikan langkah-langkah yang benar untuk bisa menghasilkan karya yang baik.

Carderonello dan Edwards ( 1986:5 ) menjelaskan dalam buku mereka Raugh Draft sebagai berikut:

Writing is not simply a matter of putting words together, it is a recursive process, It is a process of revision and rewriting. Teaching writing means we create a pedagogy that helps students see writing as continous process of revising and rewriting as they invent, plan, darft their text.

Menulis bukanlah hanya kegiatan menggabungkan kata-klata . menulis adalah proses yang berulang ulang,  yaitu proses yang merevisi dan menulis kembali. Mengajar writing berarti kita menciptakan ilmu pendidikan yang membantu siswa melihat bahwa menulis kembali karena mereka akan menemukan, merencanakan dan membuat draft teks.

Lebih jauh Cartdenonello memerinci bahwa ada lima komponen dalam proses writing yaiatu:

-         Inventing: Yaitu menemukan dan menbangkitkan idea/gagasan dari siswa, apa yang akan siswa tulis atau siswa sampaikan, langkah menemukan ide bisa dengan sebanyak cara seperti membaca, berbicara, curah gagasan, pertanyaan, mindmapping dll.

-         Planning : yaitu tahap begaimana siswa mencoba menentukan bagaimana menyampaikan gagasan. Tahap ini siswa akan mengemukakan masalah, tujuan, pembaca, struktur text dan Tone dari teks yang akan ditulis.

-     Drafting: Pada tahap ini siswa berusaha membentuk materi atua bahan menjadi text. Draft ditulis berkelanjutan, dari draft 1, draft 2 dan draft 3 sampai menjadi hasil akhir.

-     Revising : merevisi termasuk menambah ide baru, gagasan lain  menghilangkan sebagian kata atau gagasan yang tidak perlu atau menyusun kembali apa yang telah di tulis dalam draft.

-     Editing: Mengedit berarti memoles sebuah karya tulisan dari berbagai segi seperti, spelling, tenses, pilihan kata dan lain-lain.

D.2 Portofolio

Pembelajaran menulis dengan portofolio diharapkan bisa menjadi optimal karena dilaksanakan sesuai teori pembelajaran writing. Portofolio sendiri berarti kumpulan hasil karya yang mampu menunjukkan kompetensi siswa. Portofolio adalah sutu koleksi pekerjaan siswa yan menunjukkan segala usaha siswa, kemajuan dan pencapaian belajar siswa dalam satu bidang atau lebih yang harus menunjukkan koleksi pekerjaan terbaik siswa atau usaha terbaik siswa, contoh terbaik dari penglaman kerjanya yang berhubungan dengan hasil belajar yang akan diukur dan dokumen dokumen yangsesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ke arah penguasaan hasil belajar yang diidentifikasi.

Portoflio memperlihatkan tingkatketrampilan dan pemahaman siswa, mendukung tujuan pembelajaran, mereflesikan perubahan dan pertumbuhan selama kurun waktu tertentu, mendorong refleksi oleh siswa, guru dan orang tua, serta memungkinkan adanya kesinambungan dalam pendidikan dari waktu ke waktu. ( Gultom, 2003:140)

Ramli ( 1990 ) dan Tierney ( 1991) mengemukakan bahwa portofolio adalah dokumentasi yang dapat (1) memberikan gmbaran perkembangan belajar siswa secara konkret dalam periode tertentu kepada guru, siswa , administrator, orang tua dan pihak lain yang berkepentingan, (2) mengemangkan kemandirian siswa dalam mengarahkan proses belajarnay. Dengan portofolio siswa dilatih mengoleksi, memilih, dan merefleksikan karyanya sendiri sehingga dapat mengukur sendiri perolehan belajaranay.

Dalam menulis menggunakan portofolio, Tomkins (1994) mengemukakan langkah langkahnya yaitu : (1) menyusun naskah singkat,(2) menulis naskah kasar,(3) merevisi naskah kasar dan menyuntingnya, (4) menulis naskah jadi dan (5) mempublikasikan naskah jadi. Penilaian portofolio di mulai dari proses awal, perbaikan dan revisi hasil karya sampai hasil akhir dan publikasi.

Langkah-langkah Pembelajaran Portofolio dalam writing.

-         Student Teacher Conference

Yaitu langkah menentukan thesis , masalah atau topik yang akan ditulis siswa.

-         Pembuatan draft 1

Siswa menuliskan draft 1 dari sebuah text

-         Revising and Editing

Siswa berkonsultasi dengan guru atau teman untuk memperbaiki Draft 1,2 atau 3 dan memperbaiki draft setelah mendapatkan masukan.

-     Hasil akhir

Draft yang sudah direvisi dan diedit menjadi hasil akhir atau karya terbaik.

-         Publising

Hasil karya anak dipamerkan untuk dibaca dan diapresiasi oleh siswa lain tidak hanya guru.

Portofolio dalam writing berisi kumpulan hasil karya terbaik siswa setelah mengalami tahapan tahapan tersebut di atas.

D.3 English Weblog

Layanan teknologi Informasi dan komunikasi atau dalam karya tulis ini menekankan pada penggunaan Internet, memberikan kemudahan yang tak terbatas. Salah satu program layanan terbaru yang banyak dimanfaatkan berbagai perusahaan, kantor dan individu adalah pembuatan situs atau web yang sangat mudah dan gratis. Layanan ini ada di berbagai penyedia situs gartis seperti www. Geociteies.com , http://www.blogger.com. http://www.freehost.com yang memungkinkan setiap orang ( disini siswa) memiliki halaman web pribadi dengan gratis. Halaman web pribadi ini bisa diisi apa saja dengan cepat, mudah diakses, dan dapat di baca, dan diakses oleh siapa saja di seluruh dunia.

Dengan layanan blogger, siswa mempunyai halaman web sendiri dengan nama web mudah di kenal seperti : www.baity’s.blogspot.com , www.bahasawriting.blogspot.com, www.whoemai.blogspot.com, www.blokir.blogspot.com ,dan lain lain.Materi yang dapat diupload di halaman weblog bisa berupa tulisan, gambar, data dan lainnya.

BAB II

LAPORAN KEGIATAN

  1. A. Penyusunan Program Pembelajaran

A.1              ENGLISH WEBLOG pembelajaran portofolio berbasis TIK untuk mengoptimalkan kompetensi menulis.

English weblog, adalah pemanfaatan layanan yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam hal ini Internet. Program program yang ditawarkan oleh perusahaan teknologi informasi dan komunikasi selalau bertambah keunggulannya setiap saat. Weblog dari www.Blogger.com, memberikan kemudahan untuk membuat web pribadi dengan sangat mudah. Siswa dapat membuatnya dalam hitungan menit.

English Weblog merupakan alternatif pemanfaatan weblog yang belum banyak dikenal di dalam proses belajar Mengajar. English weblog yang dikembangkan dan dilaksanakan di SMA 7 Purworejokhususnya kelas XI Bahasa, memberikan wadah bagi siswa untuk membuat weblog bahasa Inggris.

Setiap siswa membuat weblog pribadi dan diisi dengan hasil tulisan berbahasa Inggris. Siswa bisa menulis karya mereka dalam bahasa Inggris untuk mengisi weblog. Siswa bisa memasang foto & gambar untuk mendukung penampilan weblog. Pemanfatan weblog  adalah penggunaan media pembelajaran yang bersifat By utilation, artinya media yang tidak sengaja dirancang untuk media pembelajaran tetapi dapat ditemukan, diaplikasikan dan digunakan untuk keperluan belajar. Pemanfaatan berbagai sumber belajar yang termasuk didalamnya media pembelajaran dalam hal ini internet akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam keefektifan pencapaian tujuan pembelajaran.

English Weblog memberikan ruang tak terbatas bagi siswa untuk mempraktekkan pemebelajaran writing dan mengoptimalkan kompetensi writing, beberapa alasan yang mendasari pemanfaatan English weblog di kelas XI jurusan Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo dengan jumlah siswa 24, dan diyakini masih merupakan model pembelajaran yang belum dilaksanakan oleh guru-guru lain adalah :

  1. Weblog atau halaman web pribadi dari www.blogger.com adalah produk layanan internet terbaru untuk saat ini, belum dikenal secara luas oleh kalangan pendidikan, tetapi sudah dikenal oleh ramaja remaja siswa SMA.
  2. Pemanfaatan Internet sebagai media pembelajaran merupakan kerjasama kolaborasi atau langkah nyata memanfaatkan pembelajaran T.I.K di sekolah.
  3. Akses internet sekarang mudah, sudah ada di sekolah sekolah. Bagi yang belum bisa diakses di internet atau warung internet dengan biaya yang relatif murah dijangkau oleh siswa.
  4. Dengan English Weblog, siswa mempunyai wadah mempublikasikan hasil karya tulisan dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca oleh orang dan siswa diseluruh dunia, sehingga mendorong siswa untuk berfikir global di jaman global ini.
  5. Dengan English weblog, proses menulis dalam pembelajaran sesuai dengan prinsip pembelajaran writing yang benar dan sesuai dengan prinsip pembelajaran Portofolio yaitu untuk memperolah hasil akhir sampai diterbitkan harus melalui tahapan tahapan seperti inventing, menemukan gagasan, planning merencanakan jenis text, struktur text dan ciri kebahasaannya, revising yaitu merevisi draft, editing yaitu membetulkan kesalahan  grammar, spelling dan diction serta publishing yaitu memamerkan hasil akhir.

English weblog mengakomodasi proses dan tahapan dalam pembelajaran writing yang benar karena karya yang sudah di post atau diupload atau ditampilkan di halaman web bisa diedit.

  1. Dengan English weblog, siswa lebih meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya baik mengenai Vacabulary, grammar, jenis-jenis text maupun spelling, diction dan proses menulis itu sendiri. Siswa mempunyai motivasi lebih besar karena karyanya terbaca oleh orang lain dan siswa siswa lain yang tak terbatas jumlahnya.
  2. Dengan English weblog, siswa meningkatkan Love learning karena siswa akan belajar benyak tentang IT sendiri maupun IT sebagai sumber belajar

Pelaksanaan pembuatan Weblog siswa.

  1. Siswa bersama guru mengakses internet di laboratorium intrnet sekolah. Satu komputer untuk dua orang siswa.
  2. Siswa membuka layanan di www. Blogger.com

Di halamn Home, siswa memilik create new blog mengisi data register dengan lengkap, membuat alamat weblog misalnya: http://www.baity.blogspot.com www.whoemai.blogspot.com

Siswa harus mengingat pasword, untuk membuka lagi atau sign in dilain waktu, untuk mengedit atau posting artikel baru. Setelah selesai, siswa memilih lay out atau model halaman yang disukai

  1. Siswa melaksanakan posting atau mengupload tulisan, dilakukan setelah proses pendaftaran selesai
  2. Siswa bisa mengetik tulisan di rumah sebagai tugas untuk menghemat waktu,  dalam bentuk word, disimpan di disket atau flashdick dan di kopi paste dihalaman posting.
  3. Siswa memperoleh hasil posting langsung di halaman web

Postig naskah akan seketika bisa dilihat oleh teman-teman lain yang sudah diberitahu alamatnya.

  1. Siswa melaksanakan 2 bagian dari 5 tahap :

Proses menulis tahap awal, dilakkukan di kelas sebelum siswa menuju laboratorium internet, yaitu tahap generating idea, planning dan drafting.

  1. Siswa melaksanakan tahap revising dan editing.

Dihalaman weblog, karena layanan weblog, memungkinkan naskah yang sudah diposting direvisi lagi bahkan diedit.

  1. Siswa bersama guru melihat halaman weblog yang sudah

Halaman weblog akan  muncul, sebanyak naskah yang diupload siswa, memanjang dari atas ke bawah. Siswa dan guru membahas.

  1. Siswa melaksanakan peer editing. Siswa satu melihat dan membaca halaman weblog siswa lainnya dan saling memberikan masukan, kemudian siswa melakukan editing .
  2. Siswa dan guru membahas tulisan siswa, membahas kesalahan umum yang muncul dan memberikan bentuk yang benar sepert pilihan kata sesuai, spelling yang tepat dan tata bahasa yang benar.
  3. Guru membuat blog untuk satu kelas , yang memuat seluruh tulisan siswa dari masing masing blog untuk mngantisipasi kemungkinan kesalahan teknis atau hilangnya blog karena virus.

A.2   Materi pembelajaran

Target Writing Skill

Materi pembelajaran writing di SMA bisa dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu : Free writing, creative writing, guided writing atau genre based writing, yang masing-masing mempunyai tujuan yang berbeda

- Free writing:

Menulis bebas adalah cara yang baik untuk mengawali ketrampilan manulis siswa. Siswa diberi waktu terbatas di kelas misalnya sepuluh menit, diberi rangsangan untuk membangkitkan ide/ gagasan dan dibiarkan mereka menulis apapun yang ada di pikiran mereka. Rangsangan harus diberikan oleh guru, karena tanpa rangsangan yang diberikan, tugas menulis yang tiba tiba akan membuat siswa frustasi dan tidak tahu bagaimana harus memulai. Pemberian rangsangan atau eksposure untuk generating ideas/ membangkitkan gagasan bisa dengan berbagai teknik seperti:

-     Memberikan gambar gambar provokatife

-         Memberikan pertanyaan yang provokatife

-         Memberikan situasi yang provokatife

-         Memberikan curah gagasan

-         Mengguanakan mindmap/peta pikiran

-         Menggunakan 5W  1H :what, who, when, why, dan how.

-         Creative writing

Istilah creative writing berarti tulisaan imajinasi seperti puisi, cerita, narasi, cerita pendek dann drama, seperti dijelaskan dalam:

The term “ creative writing” suggests imaginative tasks such as writing poetry, stories and plays, such activities have number of features to recommend them, chief among these is that the end result is often felt to be some kind of achiefvement and that people feel pride in their work and want it to be read    ( Vr 1996: 169)

Menulis kreatif akan mengembangkan kebanggaan siswa. Menulis kreatif sudah mencapai tingkat tertinggi dalam 4 tingkatan bahasa untuk keindahan , imaginasi dan sastra.

Gaffiel-Vile menegaskan,”Creative writing is a journey of self discovery and self discovery promotes effective learning, when teachers set up imaginative tasks so their students are  thoroughly are engaged and those student fre strive harder  than usual to produce a greater varity of correct and appropriate language than routine assigment” ( Gaffield-Vile 1989:31 )

Menurut Gaffield-Vile menulis creatif adalah perjalanan menemukan kesejatian dan menemukan kesejatian akan meningkatkan pembelajaran yang efektif. Ketika guru memberikan tugas menulis kreatif, siswa biasanya terlibat sekali sehingga mereka mau berusaha lebih keras dalam memproduksi tulisan daripada tugas rutin lainnya.

Tulisan kreatif siswa bisa berupa puisi, cerita pendek, naskah drama, legenda, mitos dan certia fable tentang binatang.

-         Guided Writing : Genre Based Writing

Kompetensi menulis yang paling banyak dikembangkan dan sesuai dalam     pembelajaran berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah menulis terpandu atau dituntun yaitu Genre Based Writing,  menulis Genre atau berbagai jenis teks.

Menulis dengan genre ini adalah menulis berdasarkan maksud & tujuan siswa menulis. Siswa menyadari benar apa tujuan menulis, siapa pelakunya, bagaimana struktur teksnya, dan linguistic feature apa yang signifikan.

Ada 12 jenis teks yang diajarkan di SMA sebagai common genre: yaitu:

    1. Recount  untuk menceritakan peristiwa di waktu lampau
    2. Narasi untuk menghibur pembaca, berupa cerita, dongeng dll
    3. Prosedure untuk menceritakan langkah mengerjakan sesuatu
    4. News items untuk mrenceritakan peristiwa yang pantas diberitakan
    5. Deskripsi untuk menceritakan seseorang, sesuatu atau suatu tempat
    6. Report untuk menceritakan gejala alam & gejala sosial
    7. Ekspossu analitis untuk membujuk. Berargumentasi
    8. Eksposisis hortattory untuk membujuk dan merekomendasikan
    9. Review untuk mengkritik/ mengevaluasi karya sastra
    10. Eksplanasi untuk menceritakan mangapa dan bagaimana sesuatu terjadi

Untuk kelas XI Bahasa target genre yang dipelajari adalah Recount, Narasi, Prosedure, Deskripsi dan Eksposisi ,sebagian genre adalah target genre di kelas X. Tetapi genre yang sudah dipelajari di kelas X tetap bisa ditulis oleh siswa karena sistem pembelajaran bahasa Inggris bersifat spiral, artinya materi baru tidak bisa terpisah nyata dari materi sebelumnya

Skenario Pembelajaran untuk melaksanakan tiga target writing atau menulis di kelas XI jurusan Bahasa dilaksanakan sebagai berikut:

Persiapan

-         Mempersiapkan ruang internet untuk melaksanakan pembuatan weblog

-         Bagi sekolah yang belum mempunyai laboratoruim , siswa bisa pergi ke warung internet

-         Guru memberikan target writing dan memberikan modeling pembelajaran

-         Siswa membuat weblog

Pelakasanaan

-         Siswa menulis karangan melalui berbagai tahap dari inventing / generating idea, planning, drafting, revising, editing

-         Siswa mengupload tulisan di weblog sebagai langkah publishing

Penilaian

-         Guru melaksanakan penilaian dengan kriteria yang sudah diberitahukan lebih dahulu kepada siswa yang mampu mengukur dan menilai kompetensi siswa dengan tepat

  1. B. Penyajian

Pembelajaran writing dilaksanakan secara integrated tidak terpisah dari kegiatan pembelajaran., terintegrasi bersama listening, speaking dan reading.

B.1. Untuk menulis free writing

Free writng adalah jenis kegiatan menulis yang lebih menekankan pada generating ideas atau memantik ide/ gagasan/ Hasil yang diharapkan adalah siswa mampu mengekspresikan apa saja yang ada dipikirannya. Tidak ada target berapa banyak kata yang ditulis atau bahkan kohesi gagasan. Free writing dipantik dengan berbagai stimulan. Contoh contoh kegiatan yang dilaksanakan di kelas untuk memantik siswa mengemukakan gagasan dalam tulisan bebas atau free writing :

a.  Guru memberikan gambar yang provokatife

Misalnya gambar seorang anak kecil yang menangis, gambar seorang ditengah kota yang sangat bersih,bangunan yang indah, korban bencana alama, sekuntum bunga dan gambar lain yang mampu membangkitkan gagasan pada pikiran siswa.

b.  Guru memberikan pertanyaan yang provokatife

Guru memberikan pertanyaan yang membangkitkan gagasan sebagai pemantik gagasan. Siswa diberi waktu terbatas di ruangan kelas misalnya dengan menjawab pertanyaan guru. Contoh pertanyaan:

-     Apa yang akan kamu lakukan jika kamu………………………..

-         What would you do if tommorow were your last day?

-         What would happen to you to express your anger?

-         What do you you do to express your anger?

-         What can make you sad ?

-         Who is the most loveable person in your life ?

Siswa diberi waktu untuk menyatakan apa saja pendapat mereka untuk menjawab pertanyaan tersebut, siswa diminta menuliskan apa saja yang datang ke pikiran mereka, atau spontanitas association mereka terhadap pertanyaan guru. Dinmungkinkan guru membantu siswa dengan kosa kata yang diperlukan siswa tetapi tidak diketahui.

c. Guru memberikan situasi yang provokatife

Guru memperdengarkan musik, mengatur ruangan berbeda dari biasanya menceritakan sebuah kisah yang menyentuh sehingga siswa terstimulasi untuk menyampaikan gagasan dalam tulisan. Menonton VCD berupa film atau potongan film, menonton fragment, menyetel lagu adalah kegiatan yang bisa digunakan untuk menciptakan situasi yang provokative sebagai pemantik gagasan dalam free writing.

d.  Curah gagasan atau brain strorming

Curah gagasan atau brainstorming merupakan pemantik ide dalam free writing yang sangat bermanfaat. Guru memberikan satu tema, topik atau bahkan kata. Berikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan apa saja yang mereka pikirkan dan sampaikan di kelas. Kemudian siswa diberikan kersempatan untuk menulis.

e. Mindmap atau Peta Pikiran

Guru memberikan satu topik atau tema. Menuliskan di papan tulis dan biarkan siswa menyampaikan gagasannya dalam bentuk mindmap. Mindmap memberi gambaran yang jelas untuk hubungan antar begian./ Contoh mindmap :

Siswa menulis apa saja yang terpikir dalam pikiran mereka berdasarkan mindmap yang dibuat bersama dalam kelas atau sendiri-sendiri.Mind map atau peta pikiran membantu siswa ngengorganisasikan gagasan dengan lebih mudah dan membantu siswa menulis dengan gagasan yang terdiri dari beberapa point sehingga siswa tidak akan kehabisan gagasan saat proses menulis dilaksanakan.

f .Five W 1 H atau: apa, siapa, mengapa, di mana dan   bagaimana

Guru memberikan satu pokok permasalah dan mengajarkan siswa menggali ide dengan pertanyaan who, what, why where dan how.Siswa mengembangkan free writing dari menjawab pertanyaan  5W 1 H

B.2 Menulis untuk Creative Writing

Guru menugaskan penulisan writing sebagai proyek atau pekerjaan di rumah. Bentuknya disesuaikan dengan materi yang sedang di bahas di kelas.Bentuk tulisan yang ditugaskan berupa puisi, cerita pendek  dan drama. Bentuk narasi bisa bervariasi dari fable, dongeng tentang binatang, mitos atau legenda (Myth or Legend) .

Guru menugaskan siswa membaca sebuah karya bahasa Inggis. Misalnya Romeo & Juliet karya Shakespeare. Kemudian siswa menulis tulisan kreatif berdasar pemahaman dari Romeo Juliet. Tulisan kreatifnya bisa berupa metaforma yaitu diangkat berdasar inspirasi dari cerita tersebut atau meringkasnya

Guru menceritakan sebuah cerita pendek di kelas dan meminta  siswa menulis cerita tersebut atau menulis cerita baru dari cerita lama yang didengarkan.

Guru memberikan penjelasan penulisan drama., diangkat dari cerita Indonesia untuk memudahkan siswa mengorganisasikan ide.

B.3  Menulis untuk Genre Based Writing

Untuk bisa mengoptimalkan kemampuan menulis Genre Based Writing  guru menerapkan Two Cycle Four Stages atau 2 siklus yaitu lisan dan tulis dan 4 stage. 4 tahap yaitu building knowledge of field, modellling, joint construction of the text dan independent construction. ( Bevely Derewianka 1946; 7)

Skenario  pembelajarannya adalah sebagai berikut:

1.Building Knowledge of thre field

Guru memberikan pertanyaan kepada siswa untu mengantar kesiapan siswa ke target genre, Contoh untuk Recount

Where did you go last holiday

Did you g to tourism place ?

Well with whom did yo go there ?

Did you enjoy is very much ?

2.Modelling of text

Guru menerangkan kepada siswa tentang materi utama pembelajaran Genre atau the English text type. Tahap ini adalah tahap utama setelah siswa diarahkan dalam building knowledje of the field . Guru menerangkan hal hal sebagai berikut:

-     The Social function of the text

-         The Generic of the text ( it cant be comprehended by  the students themself. Guided by the teacher)

-         The language Feature of the text

3.Joint construction of the text

Siswa di dalam kelompok memproduksi text setelah melewati BKOF dan Modelling yang cukup lama. Siswa telah memahami dan mengalami 2 tahap sebelumnya. Dalam tahap ini,. Tiap kelompok memproduksi text bersama, melelalui tahapan proses menulis yang benar : Generating Ideas, planning, Revising,editing dan publishing ( Calderonello & Edward 1973: 6) Langkah ini diperkuat oleh Tompkins ( 1994: 9) dalam bukunya Balancing Process and Product , ada 5 tahapan dalam menulis yaitu :Pre writing ,Drafting ,Revising Editing, dan Publising.

4. Independent Construction of TheText

Siswa secara mandiri memproduksi text yang ditargetkan. Langkah-langkah tahapan dalam menulis dilaksanakan sesuai prinsip pembelajaran portofolio, yaitu dimulai dari teachers conferencing, pambuatan draft, merevisi. mengedit dan mempubikasikan

C. Penilaian

Penilaian berbasis pembelajaran Portofolio., dimulai dari proses sampai hasil akhir, tidak hanya hasil akhir saja, Tahapan tahapan dari conferencing. Planning, drafting. Revising sampai editing dan publishing merupakan aspek yang dinilai.

Penilaian tulisan siswa meliputi beberapa unsur yang signifikan yaitu:

-         Konten./ Isi  gagasan ( kejelasan makna )

-         Diction  / pilihan kata ( vocabulary)

-         Language feature ( grammar )

-         Struktur teks

-         Koherensi

Penilaian meliputi 3 aspek yaitu, kognitife, psikomotor dan afektif siswa. Kognitif dan psikomotor dinilai dalam angka rentang 1- 100 sedangkan afektif dinilai dengan huruf AB, C. A untuk sempurna, B baik, C cukup.

Penilaian kompetensi writing menurut Dr Helena dalam Prinsip Prinsip Penilaian Berbahasa, Kurikulum Bahasa Inggris Berbasis Kompetensi  meliputi 4 hal, grammar dan vocabulary, managemen wacana, kejelasan makna dan hubungan antar gagasan. Penskoran menggunakan angka 0 sampai 4. Urutan skor 4 ke 0 menggambarkan kompetensi yang berbeda sebagai berikut : untuk grammar dan vocabulary ; wacana , kejelasan makna dan hubungan antar gagasan urutan skor dari 4 ke 0 menggambarkan tingkat kompetensi dari sempurna ke tingkat lebih rendah.

( terlampir).

Sumber :Blog bu Nikmah Nurbaity


PERCAKAPAN IMAJINER

PERCAKAPAN IMAJINER

APLIKASI ROLE PLAY UNTUK MEMPERCEPAT

PENGUASAAN KOMPETENSI LISAN DAN TULIS

BAHASA INGGRIS

Disusun Untuk Mengikuti Lomba Keberhasilan

Guru ( LKG ) Tingkat Nasional

Tahun 2005

Oleh

Nikmah Nurbaity, S.Pd

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN PURWOREJO

SMA NEGERI 7 PURWOREJO

Jl. Ki Mangunsarkoro No. 1 Purworejo


PENGESAHAN

Karya Tulis dengan judul Percakapan Imajiner Aplikasi Role Play untuk Memepercepat Penguasaan Kompetensi Lisan dan Tulis Bahasa Inggris, telah disetujui dan disyahkan oleh Kepala SMA Negeri 7 Purworejo Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah pada :

Hari                  : Sabtu

Tanggal            : 10 September 2005

Purworejo,  10 September 2005

Kepala SMA N 7 Purworejo

Drs. Bambang Ariyawan, M.M

NIP. 131 610 433


KATA PENGANTAR

Pembelajaran Bahasa Inggris dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) bertujuan pada penguasaan Kompetensi wacana lisan dan tulis. Kompetensi lisan dan tulis adalah kompetensi produktif yang pada kurikulum sebelumnya belum dikembangkan secara maksimal, karena di kurikulum itu kompetensi yang dikembangkan dan diukur adalah kompetensi reseptive atau menerima yaitu kompetensi mendengar dan membaca.

Kendala yang signifikan dalam mencapai Penguasaan Kompetensi lisan dan tulis adalah rendahnya kemampuan siswa mengorganisasikan gagasan. Siswa tidak terbiasa menyampaikan gagasan dengan lancar dan jelas. Bahkan sering siswa tidak bisa menemukan gagasan untuk materi percakapan atau menulis.

Percakapan Imajiner sebagai aplikasi Role Play, dilaksanakan di kelas III Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo adalah salah satu alternatif yang tepat untuk meningkatkan kemampuan siswa mengorganisasikan gagasan untuk mempercepat penguasaan kompetensi lisan dan tulis Bahasa Inggris.

Dari pelaksanaan dan observasi yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa pembelajaran untuk menguasai kompetensi lisan dan tulis melalui Percakapan Imajiner ternyata terbukti memepercepat penguasaan Kompetensi Bahasa Inggris siswa di kelas III Bahasa SMA N 7 Purworejo. Harapan kami model pembelajaran ini bisa dilaksanakan di sekolah-sekolah lain di Indonesia disesuaikan dengan kondisi dan situasi di masing-masing sekolah.

Inovasi pembelajaran yang dilaksanakan di SMAN 7 merupakan satu dari usaha nyata untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Akhirnya kami mohon masukan, kritikan yang membengun demi tersempurnanya pelaksanaan pembelajaran selanjutnya. Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu, memberi inspirasi dan memungkinkan penulisan karya ilmiah terlaksana dengan baik.

Purworejo, 10 September 2005

Nikmah Nurbaity S.Pd

NIP. 132 051 903


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………….. …….. i

HALAMAN PENGESAHAN……………………………………………………………………….. ii

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………… …… iii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………….. …… iv

BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………………………………… ……. 1

  1. Latar Belakang ………………………………………………………………………….. ……. 1
  2. Ruang Lingkup…………………………………………………………………………… ……. 2
  3. Tujuan………………………………………………………………………………………. …. .. 3

BAB II. LAPORAN KEGIATAN YANG DILAKSANAKAN…………………… ……. 5

A.      Penyusunan Program Pembelajaran………………………………………………… ……. 5

B.      Penyajian………………………………………………………………………………….. ……. 8

C.      Penilaian Proses Hasil Pembelajaran……………………………………………………. 18

BAB III. LAPORAN HASIL………………………………………………………………….. ….. 20

BAB IV PENUTUP…………………………………………………………………………………… 26

  1. Simpulan…………………………………………………………………………………… ….. 26
  2. Saran……………………………………………………………………………………….. ….. 26

LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. Daftar Pustaka

2. Lampiran Kerja Siswa

3. Biodata

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menghadapi era global, tuntutan penguasaan Bahasa Inggris bagi penduduk dunia tidak dapat diingkari. Penguasaan Bahasa Inggris merupakan kunci untuk bisa berperan serta di dalamnya, untuk mampu berkomunikasi, mengakses informasi, menyesuaikan diri dan bersaing dengan bangsa lain.

Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) menjawab tuntutan global tersebut. Pembelajaran Bahasa Inggris yang dahulu hanya diukur dan bermuara pada perolehan nilai EBTANAS, yang didalamnya ditentukan oleh kemampuan membaca dan menguasai struktur bahasa, berubah ke pembelajaran yang mengacu pada kompetensi lisan dan tulis yaitu kompetensi produktif untuk mampu menggunakan Bahasa Inggris secara aktif yang diukur dengan Penilaian authentic / authentic assessment.

Aplikasi nyata dalam pembelajaran adalah ekspresi pribadi yang kreatif (creative self expression) menjadi lebih bernilai dari sekedar menghafal dialog. Menyampaikan dan memahami arti serta makna menjadi aspek yang penting. Fokus penguasaan syllabus diperluas dari penguasaan aturan-aturan bahasa seperti grammar ke penguasaan discourseskill atau kompetensi wacana.

Kompetensi yang dituntut dalam pembelajaran Bahasa Inggris dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah kemampuan untuk berkomunikasi secara aktif baik lisan maupun tulis.

Kendala signifikan yang dihadapi guru dan siswa untuk mencapai kompetensi lisan dan tulis dalam Bahasa Inggris adalah rendahnya kemampuan siswa untuk mampu membangun ide atau mengorganisasikan gagasan Siswa tidak mampu menyampaikan idenya secara lancar dan jelas. Bahkan kadang siswa tidak mempunyai ide sama sekali ketika dihadapkan pada satu topik untuk dibahas. Kendala rendahnya kemampuan siswa untuk membangun ide atau mengorganisasikan gagasan merupakan kendala besar disamping kendala yang lain seperti rendahnya penguasaan kosa kata, tata bahasa, kurang sarana, kelas besar, aspek psikologi dan lain-lain.

Beberapa kutipan berikut adalah pendapat siswa yang diobservasi.

-         Ada kendala yang sangat besar untuk mampu berkomunikasi dengan lancar bagi saya. Ternyata berbicara membutuhkan ide gagasan yang sangat luas. Dan saya meski dengan gagasan-gagasan itu. ( Meiria III Bahasa )

-         Ternyata berbahasa Inggris sebagai alat komunikasi yang sebenarnya tidak hanya “ How are you ? dan I am Fine.” tetapi menuntut ide dan gagasan yang sangat luas. Dan saya mengalami kesulitan membangun ide di kepala saya.” ( Dhita Seoreni )

-         Menulis surat kepada teman-teman diluar negeri tidak hanya membutuhkan Bahasa Inggris seperti “Where are you form” tetapi menuntut kemampuan menggambarkan gagasan tentang banyak hal seperti tentang tempat-tempat wisata, pulau-pulau di Indonesia, budaya dan lain-lain. Siswa sangat perlu dilatih bagaimana menyampaikan apa yang kita pikirkan. ( Ganjar Widiantoro )

-         Bu, bagaimana saya bisa berbicara dengan lancar dalam Bahasa Inggris, dalam Bahasa Indonesia saja saya sering tidak punya aide untuk berbicara apa. (Melisa Lutfi III Bahasa).

Bertolak dari wacana dan contoh kutipan pendapat para siswa, seiring dengan tuntutan kompetensi yang juga diukur dalam ujian akhir siswa SMA dengan menulis, berbicara dan mendengarkan, di kelas III Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo dilaksanakan pembelajaran dengan menerapkan Percakapan Imajiner untuk mempercepat penguasaan Kompetensi Bahasa Inggris.

B. Ruang Lingkup.

Ruang lingkup penelitian dalam penulisan karya ilmiah ini adalah :

Meningkatkan kemampuan siswa untuk membangun ide dalam berbicara dan menulis Bahasa Inggris melalui model PERCAKAPAN IMAJINER

Ruang lingkup ini kami pilih dengan melihat fakta dilapangan bahwa :

a.       Paradigma yang salah bahwa berbicara Bahasa Inggris terbatas pada translaksional discourse atau percakapan untuk menanyakan kabar, asal, keadaan, dan lain-lain.

b.      Kurangnya kondisi yang menuntut siswa mampu menyampaikan ide dan gagasan dengan baik.

c.       Tidak hanya pembelajaran yang memberikan kompetensi bagaimana berfikir tetapi lebih banyak apa yang dipikir atau bagaimana belajar tetapi apa yang dipelajari.

d.      Kurangnya kondisi yang menuntut siswa menggunakan Bahasa Inggris untuk berkomunikasi lisan.

e.       Kurangnya kondisi yang menuntut siswa mampu menyampaikan ide dan gagasan dengan baik.

f.        Rendahnya kemampuan siswa untuk mengeksploitasi suatu topik dari berbagai perspektif.

C. TUJUAN

Tujuan  penulisan penelitian pelaksanaan Percakapan Imajiner di kelas III Bahasa SMA Negeri 7 Purworejo adalah :

-         Meningkatkan kemampuan siswa mengorganisasikan gagasan

-         Meningkatkan kemampuan siswa mengeksplorasi suatu topik.

-         Meningkatkan kreativitas berbahasa siswa.

-         Mempercepat kompetensi lisan Bahasa Inggris siswa.

-         Mempercepat penguasaan kompetensi tulis siswa.

-         Meningkatkan rasa percaya diri siswa untuk Berbahasa Inggris aktif.

-         Meningkatkan love learning / cinta belajar.

-         Mengembangkan critical thinking / cara berpikir kritis.

Langkah-langkah yang diambil untuk mencapai tujuan tersebut adalah ;

-         Memberikan tugas kelompok pada kelompok siswa.

-         Melaksanakan pelatihan

-         Melaksanakan kegiatan

-         Mempresentasikan hasil

-         Mengadakan evaluasi

Indikator utamanya adalah :

a.       Siswa dapat menyampaikan ide atau gagasan tentang suatu topik dengan lancar.

b.      Siswa dapat membangun ide secara luas.

c.       Siswa dapat menyampaikan ide dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

d.      Siswa dapat menampilkan kreatifitas berbahasa.

e.       Siswa dapat menuliskan gagasan dengan mudah.

f.        Siswa dapat berbicara Bahasa Inggris dengan lancar.

g.       Siswa menjadi love learning / suka belajar.

h.       Siswa tambah percaya diri dalam presentasi.

i.         Siswa dapat merespon dengan lancar.

BAB II

LAPORAN KEGIATAN YANG DILAKUKAN

A. Penyusunan Program Pembelajaran

A.1  Materi Pokok Percakapan Imajiner

Percakapan imajiner, adalah model pembelajaran bahasa yang merupakan aplikasi Role Play. Percakapan Imajiner mendekati BRAIN GYM atau senam otak. Bisda kita memakai istilah sederhana : Berandai-andai. Latihan Brain gym atau berandai-andai atau bercakap dalam percakapan imajiner adalah latihan yang merupakan model untuk mengoptimalkan seluruh bagian otak. Dr H. TaufiqPaisak M.Pd menyarankan brain gym sering dilakukan. (dalam bukunya : Membangunkan Raksasa Tidur ).

Ada 8 model Percakapan Imajiner yang dikembangkan.

  1. An outstanding person
  2. If I….
  3. Being a presenter / reporter / news reader.
  4. In this picture
  5. Generation gap
  6. The doctors say
  7. Online chat
  8. Literature Based

Masing-masing model menggambarkan fokus kemampuan yang berbeda untuk berkreativitas dan berimajinasi serta membangun gagasan untuk melakukan percakapan.

Di model An Outstanding person, siswa menemukan dirinya menjadi tokoh terkenal dari penyanyi, politisi, guru sampai presiden. Siswa akan membangun ide seandainya dia benar-benar tokoh yang diperankannya maka dia akan menyampaikan  gagasan, ide, pendapat sesuai tokoh tersebut. Experience background atau latar belakang perjalanan siswa tentang materi akan menentukan percakapannya. Apabila dia berperan sebagai presiden George Bush, maka pengetahuannya tentang Amerika sangat menentukan jalannya percakapan. Percakapan Imajiner mengembangkan kemampuan yang luas dalam model An Outstanding Person ini.

Model If I… menuntut siswa mengembangkan imajinasi liar yang terbatas. Seandainya saya…….kreativitas berbahasa dan imajinasi berpikir seorang siswa membedakan hasil percakapan yang ditulis maupun di presentasikan. Siswa menulis dari seandainya ia bisa terbang samapi seandainya saya diangaksa luar sekarang.

Model Percakapan Being a presenter / reporter / news reader mengembangkan kemampuan siswa untuk berinteraksi aktif dengan orang-orang di sekelilingnya. Model ini menuntut siswa mampu berkomunikasi dengan orang lain untuk mendapatkan informasi secara langsung. Model ini menuntut kemampuan verbal yang tinggi.

Model In This Picture mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir assosiasi, siswa meneruskan cerita yang terbuka dari gambar-gambar sebagai pemicu atau pencetus ide. Kemampuan siswa melihat hubungan-hubungan antar hal-hal terpisah akan menentukan cerita atau Percakapan Imajiner yang dibuat.

Model Generation Gap, mengembangkan kemampuan siswa untuk memahami cara berfikir pihak lain. Disini siswa diminta sebagian menjadi orang tua, guru atau kakak dan yang lain sebagai anak, mund atau adik. Siswa akan mencoba memahami bagaimana orang lain berfikir, berpendapat dan berbuat. Model ini mengembangkan emphati siswa dan kecerdasan emosi.

The Doctors Say adalah model lain yang mengembangkan kemampuan siswa memahami masalah kesehatan. Masalah ini penting dan dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari, pengetahuan tentang nama penyakit, gejala umum, bagaimana mengatasinya akan menjadi bekal yang bermanfaat bagi kehidupan siswa.

On Line Chat mengembantgkan kemampuan siswa melakukan percakapan imajiner antar bangsa. Model ini selain mengembangkan kemampuan berbahasa juga mengembangkan kemampuan memahami budaya antar bangsa, menanamkan cinta budaya dan menanamkan pemahaman wawasan global / Global Minsed.

Model Literature Based, menanamkan kepada anak didik kemampuan melaksanakan percakapan imajinasi berdasarkan karya sastra dunia dan Indonesia serta daerah. Selain mengembangkan kemampuan berimajinasi tinggi, menggunakan bahasa, siswa juga diharapkan memahami karya-karya sastra popular dan klasik.

Percakapan Imajiner memberikan kemampuan kepada siswa sebagai berikut :

1.      Membangun ide, menyusun dan mengorganisasikan gagasan.

Ketika seorang siswa dihadapkan kepada situasi percakapan di kelas dan ditanya “ What do you think about Education in our school ? atau in Indonesia?”. Hampir semua siswa “blank” tidak bisa menyampaikan pendapat, karena tidak tahu harus memulai dari mana. Tetapi dengan percakapan imajiner, siswa  diminta memerankan diri menjadi Kepala Sekolah, dengan memulai percakapannya dengan If I were the principal. Seandainya saya kepala sekolah. Siswa mempunyai bayangan yang kuat tentang perannya, dia mampu membayangkan apa yang akan dilakukan untuk memajukan sekolah karena pendidikan disekolahnya sekarang masih kurang optimal dibidang ini, bidang lain dan serterusnya.

Ketika siswa memerankan diri dalam percakapan ini, dia melakukan lebih dari Role Play. Dia menyampaikan gagasan pribadinya tentang sesuatu, pandangan-pandangannya, pendapatnya dan cara berfikirnya.

Percakapan Imajiner memberikan path atau jalan, seperti mengarahkan kepada siswa tentang apa yang akan disampaikan mengenai suatu topik. Dengan menempatkan diri sebagai tokoh imajinasi yang diambilnya siswa bisa mengubah posisinya menjadi tokoh yang dimainkannya. Siswa akan mendapatkan gagasan dari pengalaman sehari yang dilihat, dibaca, didengar, atau dihayalkannya.

Ketika seorang siswa memerankan seorang tokoh penyanyi terkenal, dia akan membicarakan banyak tentang musik, album dan jenis-jenis lagu. Percakapan imajiner memberikan ruang untuk menjadi seseorang dan pembicaraan akan berjalan sesuai gagasan yang dibangun berdasar pengetahuan dan pengalaman siswa tentang tokoh tersebut.

2.      Percakapan Imajiner meningkatkan kreativitas Berbahasa.

Ide dan gagasan yang disusun siswa sangat bervariasi dari imajinasi liar ( wild imagination) seperti karya JK ROWLING dalam Herry Porter sampai tulisan  ilmiah popular tergantung kepada kreativitas siswa. Disini diterapkan bahwa keperbedaan adalah kekuatan .

3 Percakapan Imajiner menggali kemampuan siswa melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang

Kemampuan melihat suatu hal dari berbagi perspektif atau sudut pandang dikembangkan seklai dalm percakapan imajiner, Semakin luas kemampuan siswa melihat berbagai sudut , semakin baik karya yang dihasilkan, Kemampuan menggali informasi sebagai salah satu life skill berbahasa sigali di percakapan imajiner

4 Percakapan imajiner  membekali siswa dengan rasa percaya diri

Menguasai banyak materi dari percakapan imajiner melatih siswa percaya diri, praktik berbicara didepan umum dan menuliskan ide ide yang berbeda mengembangkan potensi tersembunyi dari diri siswa .

5 Percakapan imajiner mengembangkan Love learning atau cinta belajar

Ketika siswa diminta menggali informasi tentang sesuatu, dia harus mencari sumber dan dia belajar. Semakin dalam siswa mempelajari sesuatui, semakin merasa butuh akan belajar. Model pembelajaran ini menciptakan kebutuhan belajar pada diri siswa

A.2  Persiapan Pelaksanaan

Tindakan pendahuluan dilaksanakan sebagai berikut :

a.       Membentuk kelompok-kelompok kerja didalam kelas.

b.      Menyiapkan media yang diperlukan : sumber seperti majalah, Koran, poster, buku, film, VCD, dan lain-lain.

c.       Memberikan job description kepada siswa.

d.      Menjelaskan tujuan dan target kegiatan.

e.       Merekam pelaksanaan kegiatan.

f.        Membuat lembar evaluasi dan observasi.

g.       Melaksanakan evaluasi.

A.3 Skenario Tindakan

a.       Memberikan penjelasan program kerja untuk melaksanakan percakapan Imajiner dalam pembelajaran.

b.      Melaksanakan pembelajaran dengan dengan mengembangkan cara menyusun, membangun dan mengorganisasikan gagasan.

c.       Menempelkan presentasi siswa.

d.      Menempelkan tulisan-tulisan siswa.

e.       Melaksanakan penilaian.

B. Penyajian

Siswa kelas III Bahasa dibagi menjadi beberapa kelompok. Jumlah siswa tiap kelompok tergantung pada perbedaan tugas percakapan imajiner yang diperlukan, dari berpasangan, tiga, empat sampai sepuluh siswa.

Pemberian tugas atau job description tiap kelompok dilakukan dengan conferencing atau persetujuan antara siswa dan guru. Dimulai dari mudah ke sulit, dari topik sederhana ke topik yang semakin menuntut pemikiran dan pembangunan ide mendalam.

Contoh pelaksanaan kegiatan imajiner, bervariasi dan bertingkat dari sederhana ke sulit :

1. AN OUTSTANDING PERSON

Tiap kelompok siswa terdiri dari 3 orang, lalu berperan sebagai orang yang terkenal, bisa bintang film, guru teladan, presiden Indonesia, presiden Amerika, penyanyi, musisi, sampai petinju. Dua siswa lain berperan sebagai presenter. Anggota kelas lainnya adalah audience yang akan mengajukan berbagai pertanyaan kepada “ Sang Bintang “ di kelas itu.

Contoh percakapan imajiner suatu kelompok dengan peran Guru Teladan Nasional.

Diah Ismi          : Good morning audience. It is a great time for us, to have Ibu Indah with us today. She is the best achieving teacher in Indonesia this year. Please, welcome Mrs Indah Ediyati, “Thank you.and I am Diah Ismi accompanied by Meirina will be with you for a half hour in this program.

Well know let’s give the opportunity for Mrs Endah to deliver her experience to you all.

Indah                : Thank you so much Diah. Fisrt of all.let’s praise to God for is Blessing that were still given a chance to meet here in this great program.

I am Endah Ediyati, an English teacher of SMA 7 Purworejo, and have just got an award from the Indonesian Government to be the Best Achieving Teacher this year. Well. It’s better to make dialog interactive, please the floor is yours to ask me a lot of question.

Ganjar              : Well Mrs Indah. One simple question, way do you want to be a teacher. What motivated you? U as we know most young people don’t like this job because this job is not worth enough money.

Endah               : Great question. I come from teachers family. My parents are both teachers in elementary school, both of my sisters are teachers too now. My parent motivated me a lot. My father was my idol who pictured the strong will to be a teacher.

Putri                 : Mrs Endah. You are awarded Best Achieving Teacher. I am sure, success can’t come to you in a sudden. What makes you get your place now?

Endah               : Well. Success is actually a small effort. Done day in and day out. I really believe it. We can’t jump in to the peak. We must walk step bay step. I worked hard to do my best in teaching. Thanks to God. God gives me a lot of chances like in 2002 I went to Finland, 2004 I went to Malaysia. Thank you.

Dian                 : Mrs Endah. What is the happiest time in being a teacher ?

Endah               : When I see my students master what he learns, when he wants to learn more and more.

Percakapan imajiner tersebut berlangsung selama 1,5 jam pelajaran ± 75 menit, siswa-siswa terus menanyakan seputar pendidikan kepada Tokoh Imajiner mereka yaitu Guru Berprestasi Tingkat Nasional.

Kelompok lain menampilkan tokoh imajiner : President George Bush. Pertanyaan-pertanyaan siswa menjadi sangat kreatif sampai ke tingkat audience. Siswa-siswa melakukan percakapan imajiner tanpa batas.

Tokoh Imajiner seperti penyanyi terkenal, gitaris, musisi, sampai bintang AFI menginspirasi siswa dengan gagasan yang terbangun dengan sangat baik.

2. IF I…… Seandainya Saya.

Siswa diberi kesempatan bekerja sendiri dengan model percakapan imajiner IF I.. Sendainya saya , siswa meneruskan sendiri percakapn imajiner yang dibayangkan. Siswa menyusun gagasan tentang apa yang dia lakukan senadainya dia menjadi sesuatu yang diimpikan. Tokoh imajiner yang dia perankan bebas, tergantung pada daya imajinasi siswa. Kreatifitas dan kemapuan berkreasi mewarnai tokoh imajiner yang dipilih siswa. Beberapa contoh cuplikan percakapn imajiner siswa dengan model IF I…….

-         If I have a lot money someday in my future life, I will build a scholl. It as a very good school to educate studenta. It has a lot facilities like internet laboratory, Language laboratory, digital library , Immerson class. The students will pay a little because the school will get a lot of fund from donators. The school will have good & maturated teachers. The student will use English and Bahasa Indonesia to study a lot of students will go to another contry each year and also the teacher well what I want to do with my dream school is to make Indonesia developed country.

( Andai Saya III Bahasa )

-         If I were a abroad as an exhange student. If I in America someday, I will be very happy. I will learn about country. I will try to know how American students study at school. Do their homework. How many hours do tey play a day. I will experience how the season changes from summer, autum, winter and spring. I will feel the falling leaves and I will write all those things in a boot & publish it.

Contoh percakapan imajiner yang ditulis dipresentasikan

-         If I were in the sky

-         If I were a bird

-         If I were your boyfriend

-         If I were  rich

-         If I go to the moon someday

-         If I win a very big prize

-         If I can see the future

Siswa diberi kesempatan untuk menuliskan gagasannya lebih dahulu, bisa juga dilaksanakan dirumah sebagai pekerjaan rumah dan dibawa oleh pemimpin dan mempresentasikan di depan kelas secara lisan.

3. BEING A PRESENTER OR REPORTER OR NEWS  READER

Percakapan imajiner model ini mengadopsi pengalaman sehari-hari siswa dari menontonn TV dan mendengarkan radio atau menyaksikan acara life show .Kelompok siswa bervariasi, jumlahnya tergantung pada jenis acara yang dipresentasikan. Media pembelajaran yang perlukan dibawa oleh siswa untuk mendukung presentasi.

Contoh presentasi siswa :

-         Celoteh anak dibawakan dalam bahasa Inggris, melibatkan + 12  siswa.

-         Kabar kabari

-         Breaking news

-         Liputan 6

-         Sunday Chat

-         Derap hukum

-         Clear top ten

-         Crosscek

-         Dunia lain

-         Who want to be mellionare dan lain-lain.

Siswa memerankan diri dalam percakapan imajiner menjadi tokoh seperti Dewi Huges dari celoteh anak, menjadi pembaca berita dalam breaking news, Liputan 6 maupun Sunday chat. Menjadi presenter dewi Sandra dalam clrear top ten. Hari Panca dalam dunia lain atau Tantowi Yahya dalam Who Want to be a Millionaire

Kompetensi tulis sangat dikembangkan dalm merencanakan prtesentasi dan kompetensi lisan teroptimalkan dalam presentasi.

4. IN THIS PICTURE,……

Model percakapan Imajiner ini, menjadi kreativitas berfikir siswa yang tinggi. Dirangsang dengan gambar-gambar yang mengarah pada OPEN-ENDED STORY. Dimungkinkan sekali dari gambar yang sama sebagai awal cerita yang sangat berfariasi dan tak terbayangkan . Potongan-potongan gambar dipilih yang membrikan rangsangan kuat untuk imajinasi siswa.

Contoh potongan –potongan gambar untuk model IN THIS PICTURE

-         Potongan gambar Pesawat jatuh ditengah hutan

-         Potongan gambar mobil dengan ban kempes di jalan sepi

-         Potongan gambar bunga-bunga mekar di musim semi.

-         Potongan gambar terperangkap hujan lebat di tengah jalan

-         Potongan gambar anak kecil di perumahan kumuh.

-         Potongan gambar bencana alam, banjir / Tsunami

-         Potongan gambar Mr Bean dalam sebuah film.

-         Potongan gambar seorang peri dengan sayap.

-         Potongan gambar seseorang, Titanic di dalam laut.

-         Potongan gambar pertunjukan music dengan puluhan ribu penonton.

-         dan lain-lain.

5. GENERATION GAP

Percakapan Imajiner ini mengembangkan pemahaman psikologis siswa. Model ini mengajak siswa perperan sebagai dirinya sendiri dan berperan menjadi orang tua atau guru. Dengan peran yang kontradiktif, siswa menghasilkan perbedaaaan pandangan tentang berbagai aspek kehidupan terutama kehidupan remaja. Orang tua cenderung mengukur dan menilai segala sesuatu sesuai jaman mereka muda dan remaja mengikuti jaman sekarang Generation gap mengajak siswa bercakap-cakap imajiner dan mengajari siswa bagaiaman orang tua menghendaki anak- anak yang mengerti orang tua. Percakapan imanjiner berkembang sesuai dengan kultur di rumah tangga para siswa sendiri, contoh topik yang dikembangkan.

-         Minta ijin tentang peserta ulang tahun

-         Cara berdandan siswa

-         Car belajar siswa

-         Cta-cita siswa

-         Minta kendaraan motor untuk ke sekolah

-         Cara menggunakan uang dalam satu bulan

-         Membantu orang tua di rumah

-         Pacaran untuk siswa

-         Sopan santun & sikap

-         Kenakalan remaja.

Dan topik lain yang diangkat dalam kehidupan sehari hari. Karena siswa mengalami sendiri masalah-masalah yang disodorkan, siswa lebih mudah dan tertarik untuk mengembangkan percakapan model ini. Penanaman nilai-nilai tentang kehidupan juga terlakasana tanpa disadari oleh siswa.

6. THE DOCTORS SAY…….

Model Percakapan ini menggali kemapuan siswa untuk memahami dan menggunakan kosa kata dalam bidang kesehatan secara umum maupun detil. Peran Imajiner yang diperankan sebagai dokter akan menuntut siswa membangun gagasan tentang bagaimana merespon keluhan kesehatan. Peran pasien menuntut kemapuan siswa menyusun gagasan tentang bagaimana menyampaikan keluhan penyakitnya.

Contoh percakapan imajinernya.

-         Getting an accident

-         Burning accident

-         Headache

-         Toothache

-         Stomichache

-         Heart attach

-         Can’t sleep for more than 3 days.

-         Feel worried al the time

-         Pregnancy

-         Getting operation dan lain-lain.

7. ON LINE CHAT

Model percakapan yang paling terakhir sesuai dengan kemudahan yang ditawarkan oleh kemajuan bidang informasi dan komunikasi adalah percakapan imajiner dengan internet. Pada layanan Mirc atau Yahoo Messenger, siswa melakasanakan percakapan imajiner tak terbatas dalam dunia maya. Siswa bisa berperan menjadi siapa saja dan apa saja tanpa perlu merasa canggung, tetapi tetap bertanggung jawab. Bervariasinya percakapan bisa berawal dari nickname yang dipakai. Misalnya siswa akan memakai nickname: Yuliet percakapan berkembang seputar kisah romeo Yuliet. Dengan mekanisme Lonesome in the desert. Percakapan akan berkembang di sekitar masalah kehidupan.

Percakapan imajiner di chatting bisa tak  terbatas kreativitasnya. Bisa dipengaruhi oleh umur. Ketika seseorang membayangkan berperan sebagai bapak berusia 50 tahun maka percakapan berkembang seputar keluarga. Apabila nickname yang dipakai King atau Queen, percakapan akan berkemabng sekitar politik dan pemerintahan.

Contoh percakapan imajiner siswa :

Swampthing      : Hi, morning.

Guest               : Hi Swampthing. How is your pond? How is the swamp?

Swampthing      : JJ great here, I get a lot of friends

And you ?

Guest               : It is my first time to visit this cyber place are you happy in the swamp ?

How do you look like ?

Swampthing      : I am swamphing. Have you ever seen me.

Gues                : Yes, once in TV

Yes look “sorry” frightening

With grey skin, sticky, by eyes.

Swampthing      : LOL. You are right. But I am a kind creative

Iam kindhearted

Guest               : Wow, It is nice to know you.

Swampthing      : OK don’t judge somebody from the appearance only

Guest               : Sure.I can feel you are a good friend.

Swampthing      : L.O.L Where are you from?

Guesst              : I am from a Kingdom, nobody can see me,

Only smart creature can see me.

e.t.c

Pecakapan imajiner dengan on line chat bias terus berlanghusng dengan lancar tergantug kreativitas siswa dan lawan on line nya, Semakin kreatif siswa, semakin bagus hasil percakapannya. Penggunaan bahasa menyangkut vocabulary dan perluasan cirri-ciri kebahasaan/ Langustic feature atau tata bahasa.

Siswa bekerja didepan internet, dua orang siswa untuk tiap computer dengan durasi waktu + 60 menit. Hasil on line chat di save di print out dan dipresentasikan di depan kelas.

8. LITERATURE-BASED

Percakpan imajiner metode ini adalah percakapan imajiner yang didasrkan pada pengalamn sastra. Siswa tinggal mengadopsi percakapan dari kisah terkenal di dunia sastra dunia atau sastra Indonesia. Untuk tingkat dunia misalnya dua orang siswa bisa berperan menjadi Romeo & Yuliet, atau Samson dan Delila, siswa bisa menjadi peran imanjiner sepertri Zeus dan Dewi-dewi di langit misalnya.

Dari cerita di Indonesia, siswa bisa menjadi Suminten, Roromendut, Rama & Sinta, Sampe Intai dan lain-lain.

Percakapan imajiner ini bisa berkembang menjadi drama , hanya biasanya lebih pendek. Kisah seperrti Cinderella, Putri Salju dan dongeng lainnya memotivasi siswa dengan sangat mudah untuk melakukan percakapan imajiner berdasar pada karya sastra.

Pelaksanaan pembelajaran dengan percakapan Imajiner mengaktifkan seluruh siswa di kelas. Ketika kelompok yang bertugas melakukan presentasi, kelompok lain berperan sebagai audience atau penonton yang aktif dengan menjawab pertanyaan, memberikan tanggapan dan memberikan masukan.

Pelaksanaan percakapan Imajiner dioptimalkan pada jam pelajaran khusus speaking selama dua jam pelajaran dan bisa ditambahkan dalam jam bahasa Inggris lain, saat pre activity di pembelajaran reading, struktur, maupun listening, atau bagi sekolah yang sudah melaksanakan KBK dengan Genre Based Learning, pelakasanan Percakapan imajiner dapat dilaksanakan di dua siklus berbahasa lisan dan tulis di ke 4 tahap baik Building Knowledge of the field, Modeling of the text, Join construction maupun Independent Construction. Model percakapan Imajiner disesuaikan dengan jenis genre yang sedang dibahas.

C.  Penilaian Proses Hasil Pembelajaran

Penilaian proses pembelajaran mengacu pada penilain KBK yaitu     AUTHENTIC ASSESSMENT atau penilaian berkelanjutan. Untuk kompetensi lisan dan tulis siswa melalui berbagai tahap, dari penulisan draft, revisi satu , revisi dua sampai hasil akhir baru presentasi.  Penilaian berlangsung juga dari proses bukan hanya hasil akhir. Aspek penilain meliputi aspek kognitif, affective dan psikomotor siswa.

Aspek kognitif menilai tulisan siswa dari unsure linguistic features atau tata bahasanya, kosa kata atau dictionnya, pronounciationnya, intonasinya dan isi percakapan serta tulisan siswa.

Aspek affective menilai kerjasama siswa antar kelompok, minat siswa dalam mengikuti pembelajaran, empati siswa, kemampuan mendengarkan, dan motivasi siswa.

Aspek psikomotor siswa menilai kemampuan verbal siswa pada saat presentasi, performance atau unjuk kerja siswa dalam percakapan imajiner, dan kemampuan berbicara secara umum.

Penskoran penilaian mengacu pada petunjuk EBTANAS 2003 untuk kemmampuan berbicara dan menulis, dan unsure yang dinilai dalam percakapan meliputi : isi atau ide atau gagasan siswa, pilihan kata, ucapan atau fluency, dan penampilan. Untuk menulis , unsure yang dinilai adalah: isi atau gagasan, kesesuaian, pilihan kata, tata bahasa dan tampilan.

Hasil observasi selama 3 tahap dan wawancara dengan siswa menunjukkan bahwa pembelajaran dasar menerapkan percakapan imajiner sebagai aplikasi Role Play untuk mempercepat penguasaan kompetensi lisan dan tulis Bahasa Inggris memberikan perubahan-perubahan diantaranya :

-         Kompetensi Bahasa Inggris siswa dalam berbicara / lisan meningkat banyak.

-         Kompetensi Bahasa Inggris siswa dalam menulis meningkat nyata.

-         Kemampuan menyatakan gagasan secara lancar meningkat.

-         Kemampuan menyampaikan gagasan terhadap satu topik dari berbagai perspektif / sudut pandang meningkat.

-         Kemampuan menggali informasi meningkat.

-         Kemampuan berkreasi dalam  menggunakan bahasa meningkat.

-         Kemampuan berfikir kritis / critical thinking meningkat.

-         Menumbuhkan Cinta Belajar atau love learning yang tinggi.

Sumber : Blog bu Nikmah Nurbaity S.Pd, M.Pd


ABSTRACT

ENGLISH COMMUNICATION COMPETENCY IMPROVEMENT

ON SPOKEN AND WRITTEN NARRATIVE TEXT

THROUGH “VCD CUTTING” MEDIA

IN SEMARANG 7 SENIOR HIGH SCHOOL

Sri Muryati , Semarang 7 Senior High School

This is an abstract of  a classroom action research, It’s title was English Communication Competency Improvement on Spoken And Written Narrative Text Through “VCD Cutting” Media In Semarang 7 Senior High Shool. The aim of this action research was to improve students’ English learning result. The learning process was implemented with two cycles (modes) , spoken and written English.  Each cycle covered four steps, namely   “Building Knowledge of the field, “Modelling Text”,  “Joint Construction of the Text”  and  “ Indpendent/ Individual Construction of the Text. The implementation of these steps  was devided into 3 cycles in action research, cycle I, II and III. Each cycle covered : Planning, Implementation, Observation and Reflection.

The research area covered :

  1. Genre         : Narrative Text for students of Grade XII Language Program , semester 1.
  2. The problems proposed  : How to improve students’ creativity, activities, and scores to express and response meaning in monolog  teks in spoken and written accurately and acceptably on narrative text.

This research is for students of  Semarang 7 Senior High School grade XII Language Program. Motivation and scientific atitude was measured with questionaires. Activities and skill process to communicate in spoken and written were measured with rubric assesment when they presented their groupwork of narrative reaching the Joint Construction of the Text. It was typed in Power Point completed with animation, sound, colour, the depth of the material and “VCD Cutting”. Cognitive domain was measured with pre-test and post-test.

The result of the research were  as follows:

The result of the tes in cycle I was 63 Í SKBM  ( School Passing Grade 64 ) , it  didn’t fulfil the action achievement indicator. In cycle II, III fulfilled  the action achievement indicator Ê SKBM  ( School Passing Grade 64 ). The students’ average score were 71 in Cycle II and 79 in cycle III.

Students’ motivation and sciencetific result fulfill the achievement  indicator. There were 21 out of  25 students  gave positive response by stating agree towards the  questionaires so there were only 4 students who didn’t agree with the questionaires.

The average score in cycle II on the spoken groupwork presentation  was 84  Ê 64 and on the written group work presentation was 84  Ê 64 and this result really fulfilled the result of an action research.

In cycle III the students’ average score on the independent/ Individual  Construction of Text was 70 which meant Ê the school passing grade 64. It meant that it fulfilled the achievement Indicator.

Key words: Senior High School English learning on narrative, VCD Cutting.

CHAPTER  I

INTRODUCTION

A. Background of the Research.

The implementation of the 2004  curriculum was started step by step in the academic year 2004/2005. There were significant changes from 1994  curriculum. These changes may cause  some problems for most English teachers to implement the curriculum in the classroom

The writer teaches at  Semarang  7 Senior High School  which on the academic year  2004/2005 has started to implement  2004 curriculum. The new thing for the writer is that the 2004 curriculum suggested English teachers  to use text type or genre based instruction. This means that rasionally,  places language as  function. One of the function of language is to deliver message, instruction, describtion of a thing or a person, telling stories, delivering procedure, expressing opinion, critizizing, etc.

According to the book of  Standard Competence for English lesson for Senior High School  students  2004 curriculum, standard competence which should be mastered by the students is  that they should be able to communicate in spoken and written English    acceptably  and accurately in interactional dan short monolog especially on  procedure, description, report, news item, narrative, recount/ spoof, exposition, discussion, explanation and review text. These texts are known as text types or ”genre” which really someting new for students as well as teachers. Because the 1994 curriculum was a kind of thematic based instruction.

It was mentioned in the Competency Based Curriculum that narrative text should be given  to grade XII students. And the method  of teaching English  suggested in the curriculum is bicycle , spoken and written. Each cycle covers four stages namely,  “Building Knowledge of the field ”, Modelling Text, Joint Construction of the Text, and  Individual Construction of the Text” (CBC 2004).

In teaching narrative text, what is meant by cycle here is different from that in action research. So the meaning of cycle, spoken and written  in teaching language has nothing to do with the meaning of cycle in action research. With these stages,  students are guided  to be able to create their own narrative texts  in spoken or written form.      According to the writer’s experience to teach in the classrom and the  discussion of  semarang 7 Senior High school English teachers  in MGMP ( English Teachers Forum), most problem faced by the students is when they reach the stage of  “Joint Construction of Text”  and  “Individual Construction of Text”  both in spoken or written cycle. The writer found the problem  when students  try to express and response meaning in  monolog text  using  spoken and written English accurately and acceptably. This difficulty effected  the students’ English score. They did not  reach the passing grade score.  On the graduation meeting academic year  2005/2006, It was decided that there were   31  students failed . Most of them were caused  by  English score  which did not reach the school passing grade.  For grade   X  was  61  and for grade  XI was  63. While  the students everage score who failed was  52.

This problem had to  be resolved. The writer, therefore, tried to find a solution. Because  the problem was  to express and response meaning in  monolog text  using  spoken and written English accurately and acceptably ,  the writer tried to increase their performance  by using suitable , interesting and exciting media, film.  Average students at the age of  Senior High  like film stories that they watch  on   TV, VCD,  or movie. By watching the visualism of a story there would  be  ideas appeared  from them to  tell stories about the film they  watched in spoken or written form. The 2004 Curriculum also includes computer skill or Information Technology (IT)  as a cmpulsory subject. This  subject was very helpful for the students’ performance when they wre  studying English.  They could  tell stories in spoken or written  using  media   Microsoft Office Power Point  completed with  interesting colur, animation, and  VCD cutting  taken from motion pictures which  reflected  the stories  they presented in front of their classmates.

Through their presentation , two cycles, spoken and written could  be obtained at once.  Spoken cycle could be seen when  they told stories  about the film and  written cycle could be seen  on the   narrative  text which they wrote in  Power Point.  But  by using media VCD Cutting, is there any students’ improvement   to express and to response meaning in monolog text  in spoken and written form accurately and acceptably on narrative text?   The writer formulated this question  in a title : ENGLISH COMMUNICATION COMPETENCY IMPROVEMENT ON SPOKEN AND WRITTEN NARRATIVE TEXT THROUGH “VCD CUTTING” MEDIA IN SEMARANG 7 SENIOR HIGH SCHOOL

B. Research Area.

The area of the research  was  as the followings:

  1. The main material of the research was genre Narrative  and as the subject of the research was students of grade   XII  Language Program, semester 1:
    1. Cycle 1 : – Building knowledge of the Field. ( 6 p/ 3 meeting).

- Modelling  Text ( 8 p/ 4 meeting).

  1. Cycle 2 : Joint construction of the  Text ( 8 p/ 4 meeting)
    1. Cycle 3 : Independent Construction of the Text ( 6 p/ 3 meeting )
    2. Process quality  : It was seen from the students’ participation in their group work and individual assignment.
    3. Result quality    : It was seen from the students’ score in mid semester test.
    4. Based on the background above the writer proposed a problem how to improve students English communication competency  on spoken and written narrative text through “VCD cutting” media in semarang 7 senior high school
    5. The  Primary problem could be elaborated into the following subproblems:
      1. How to improve studentss creativity to express and to response meaning in monolog text  on spoken and written   narrative text accurately and acceptably?
      2. How to improve students’ activity to express and to response meaning in monolog text  on spoken and written   narrative text accurately and acceptably?
      3. How to improve students’ cognitive score to express and to response meaning in monolog text  on spoken and written   narrative text accurately and acceptably?

C. The Objectives of the research.

In accordance with the above problems, the objectives of the research were:

  1. To improve students’ creativity to express and to response meaning in monolog text  on spoken and written   narrative text accurately and acceptably.
  2. To improve students’ activity to express and to response meaning in monolog text  on spoken and written   narrative text accurately and acceptably.
  3. To improve students’ cognitive score to express and to response meaning in monolog text  on spoken and written   narrative text accurately and acceptably.
  4. To get school input from the teachers as the basis of making school decision so that it would fulfil the students’ need.

D. Review of Related Literature.

a. Explanation of Terminology.

  1. Improvement. 

Improvement  is from the word improve which means  make or become better.   ( Hornby , 1973: 494). So what was meant by improvement in this research   was the improvement of the students learning achievement.

According to  Moh. Uzer Usman,  to know the level of teaching  learning  achievement based on  the curriculum implemented were as the followings:

  1. Maximum  :  If all the learning  material is able to be mastered by the students.
  2. Very good / optimum  :  If most of the learning material  (85 % to  94 % is able to be mastered by the students.
  3. Good/ minimum :  If most of the learning material  (75 % to . 84 %. is able to be mastered by the students.
  4. Fail :  If  less than 75 % of the learning material is able to be mastered by the students.
  5. So what is meant by improvement in this action research was to create the best situation for students to improve their ability to to express and to response meaning in monolog text  on spoken and written   narrative text accurately and acceptably through  media “VCD Cutting” to reach  the minimal level of achievement ( school passing grade ).
  6. “VCD Cutting”.

“VCD Cutting”  is the result of  cutting film from VCD using  VCD Cutter software.

  1. Teaching and  Learning Narrative Text.

Sardiman in  Sudibyo AP said that teaching and learning means teaching and learning activity  in interactive way between a teacher and students to reach  a learning objective ( Sudibyo AP, 2006: 6).

Narrative is a piece of text which tells a story and , in doing so , entertains or informs the reader or listener.  ( Mark & Kathy Anderson -  Book 2 : 8)

According to Tri Wiratno, Narrative text is a text functions a media to reconstruct   past experience. In general, narrative text is used to entertain readers or listeners by making past events alive again.. (Tri Wiratno, 2003:13).

According to CBC 2004  narrative text is a text which has the following characteristics: .

Social Function:

To amuse, entertain and to deal with actual or vicarious exoerience in different ways. Narratives deal with problematic events which lead to crisis or turning point some kind, which in turn find a resolution.

Generic Structure:

  • ORIENTATION

: sets the scene (when & where) and introduces participants/character (who)

  • COMPLICATION

: a crisis arises, something happened unexpectedly

  • RESOLUTION

: the crisis is resolved, for better or for worse

  • RE-ORIENTATION

: closing to the narrative (optional)

Language Features of Narrative:

–        Specific participants, for example, John and Harry rather than senior high school students.

–        Past tense form, because we are describing things that happened in the past.

–        Words giving details of people, animals, places, things and actions such as adjectives and adverbs.                                                                     Connectors of time, such as last week, then, etc.

–        Direct (the actual words spoken by a person), and reported or indirect speech ( the meaning of what the person said without using their actual words.) (Kurikulum 2004,2003:80)

So teaching and learning narrative text in this research means teaching and learning activity  in interactive way between a teacher and students to reach  learning objective –  to express and to response meaning in monolog text  on spoken and written   narrative text accurately and acceptably.

4. Spoken and Written Cycle.

2004  Competency Based Curriculum differenciates  spoken and written cycle as follows:

Cycles (modes) , spoken and written language are different in some cases: Spoken language  has many verbs , the complexities of  the connection between sentences, gambits and other fillers.  . William R. Lee uses  fillers such as  :  Well, You know/You see, etc.

While written mode, has the density of  vocabularies,  noun phrases, etc.   Realizing the differences CBC  2004  highlights the language features  of those two language modes. Hopefully, the language users  pay  a close attention  to  them  so that they will not tend  to use the language  “speaking like a book”  and  “ writing like casual conversation” (  CBC 2004 :12).

b. The Meaning  Media.

Media or medium means by which something is done. (Hornby 1973: 610). So in this research media means   any possible thing which is able to deliver  learning messages  in a communication so that it can stimulate students to learn.  (Kukuh, 2003). The media which is used in an instruction should be interactive  which means  media as instructional message deliverer involved students actively in the process of communication. So interactive instructional media  can be used to improve learning models . For example , by giving a model of a narrative text students can create other narratives.

The term  audio visual means all materials which present pictures and sound that can be combined as follows:

a. Paintings and recored human sound.

b. Paintings and music,

c. Photos, sound , music and  human sound..

d. . film with narration, sound effect and music.

  1. The need of media in  teaching and learning process.

In teaching learning process, there will be a comminication between a teacher  a a message source and  students message receivers.

To plan teaching and learning activity a teaher should choose media which is really effective and efficient.

When the media is an interactive one, the students are not only as listeners or  wievers, but also  involved actively in the learning process.

More over, media can overcome the teacher’s lack for example it can present sound effect, pictures and motion so that the message delivered will be more interesting and real. The weakness of media is that it can not replace  teachers’ function.

Media will help teachers in  teaching and learning process such as:

  1. Media  audio with the native sound can help teachers and students  pronounce difficult letters and words correctly.
  2. Media help teachers and students  pronounce sentences and certain expressions using correct intonation.
  3. Modeling text helps students  use grammar and cultural setting correctly.
  4. Media presents information or message consitently and can be repeated whenever it is needed.
  5. Information and Technology Media ( radio, TV, Internet/ Computer) presents information or message  which overcome the limitation of time and place at once..

There are some choices of media which can be used  in the English teaching and learning activities :

  1. Tape recorder nd cassette with native speakers is very good for modeling pronounciation and intonation.
  2. Film, very good for modelling situation.
  3. LCD (Liquid Crystal Display), is a practical hard ware and more interesting than Video, OHP. LCd is connected to computer using VCD player and camera so that it can be  watched by the audience in the classroom.
  4. IT (Information Technology) or  ICT (Information Communication Technology), is a  multi media which can be improved through computer and internet where every person can possibly access learning information without the limitaion of time and place.

The usage  of media in teaching and lerning process at school to increase the quality of education has often  been done but  not all schols can do that. This is because of the condition of the school and the teachers’ lack of competence in instructional media.

From the explanation about media, the writer chose  media IT, computer and  LCD with  Microsoft Office Power Point and VCD Cutter software . Therefore,  the writer used available instructional source  (By Utilization)  and design instructional source  with  Power Point and VCD Cutting (By Design).

c. Learning Cycle.

Hammond et.al ( 1992:17) divides language learning into 2 cycles, spoken and written language. Each cycle covered four steps, namely   “Building Knowledge of the field, “Modelling Text”,  “Joint Construction of the Text”  and  “ Indpendent/ Individual Construction of the Text .

d. Way of Thinking

What makes a good teacher? –Jeremy Harmer  answered the questions from the result of an interview with students from different countries, two of them are:

  1. They should make their lessons interesting so you don’t fall asleep in them.
  2. A teacher must love his/her job. If  he /she really enjoys his/her job that’ll make the lesson more interesting.

(Harmer,2003: 1)

From this point of view, early reflection and the formulation of the problems, and the way how to solve the problem by making the situation of the class more interesting and enjoyable for both students and teachers by using VCD Cutting it was expected that the result of the teaching and learning on spoken written Narrative text

for the students of Grade XII Language program  semester 1  , Semarang 7 Senior High School   was able to improve . So , it could be formulated the way of thinking as follows:

1. Students

Work individually

Not creative

Not active

Have less competence  in expressing and responding meaning on spoken and written monolog text  accurately and acceptably.

2. The process of teaching and learning

It was done mechanically

3. Facility

Not enough media available

4. Teacher

Not yet/ never use authentic material.

Had less creativity to make interesting and enjoyable  classroom situation and supported students to work in groups before they work individualy..

The effect : Low learning result on Narrative texts

Solution : Teaching and learning activity with VCD Cutting media

The result :The quality of the teaching and learning process on narrative text improved

F. Research Metodology

a.  Action Hypothesis .

Hypothesis  is a temporary assumption or theory of which the truth is still necessary to be investigated . (Suharsimi. 1998:68).

Therefore, in this research, the hypothesis proposed was :

“VCD cutting” media  ‘ could improve the English communication competency on spoken and written narrative text in semarang 7 senior high school academic year 2006/2007

b. Relevan Research.

­­­­

The use of accurate  research methodology  will not find  a speculative  truth  so that  it will really be an  objective, accurate research  and  able to be responsible for the research..

Basically, the writer wanted to know  the  competency  of the students of grade XII  to express and response the meaning  in the monolog text  using spoken and written language accurately and acceptably on narrative text.

Planning of a research canbe devided onto 7 catagories , namely:

  1. historical research.
  2. development research
  3. case study
  4. co relational study
  5. causal comparative study
  6. experimental study
  7. action research

(Sumadi,1983:15)

Based on the above categories,  the relevant research  was  Action Research of which its procedure were : planning, acting, observing, and reflecting.

c.  Setting of the research

This action research was conducted  in the early semester 1, on the mid of July until September  academic year 2006/2007 in Semarang 7 Senior High School for students of grade XII Language Program.

d. Subject of the Research.

The subject of the research  was the students  of grade XII Language Program. The reason why this class was used as the sample of the research because the students in this class had got  the lesson about Information Technology (IT) so that it was easy for them  to insert VCD cutting in their presentation with  Microsoft Office Power Point.

e. Steps.

This action research consisted of 3 cycles of which each cycle had  the following actions:

1. Preparation.

    1. To construct teaching kits such as : development of syllaby, lesson plan, Narrative text material written in Microsoft Office Power Point completed with VCD Cutting.
    2. To construct peper and pencil test instrument for the pre and the post-test.
    3. To construct observation instrument for the individual and group work.
    4. To construct instrument to investiaget the students’ atutude towards the lesson.
  1. Implementation of the Action.

a.  The first  stage , Building Knowledge of the field  (BKOF) , is very important for the students as it is the point at which overall knowledge of the cultural and social contexts of the topic is built and developed. It is also important for the students to have an understanding of the topic before they are asked  to write about it.

b. The second stage,  Modelling of Text (MOT) , the students are given a model of the text type or  a genre they will be reading or writing.  There is an explicit focus  on analysing the genre through a model text related to the course topic.

c. The third stage,  joint construction of text (JOT) , the  aim is for the teacher to work with the students to construct  a similar text that has been modeled before. Further group  work may need to be done before the actual construction of the text begins. This may covers :

  1. gathering relevan information,
  2. having additional reading,
  3. watching the film chosen,
  4. learning how to do VCD cutting,
  5. writing  notes to be used as the basis for writing the text. If the students still have difficulties about the text, they are guided to be back to the modeling text or even to the building knowledge of the field.
  6. writing a short story based on the film they watched on Power Point.
  7. having group work presentation and supporting the students  in order to change the language from spoken to written mode. The emphasis at this stage is on the teacher giving guidance

d. The fourth stage , Independent Construction of Text (ICOT) . The students are  guided  to construct  their own writing. The teaher’s duty is being available to consult with the student individually as they need an assistance. The teacher’s role is to provide constructive comments to the student for his or her development.

According to CBC 2004 Senior High School , the text types which should be mastered by the students of grade XII are   narrative, explanation, discussion dan review.  The writer conducted action research on two cycles, spoken and written  for the students of grade XII Language Program , semester 1  who focused on the narrative text.

3. Observation .

On the stage of the observation  the writer (as the researcher) and the observer (other English teacher) were involved actively. The observation for the students performance was done by the researcher and the observer used focused rubric

4. Evaluation   dan Reflection.

Evaluatin for the action in  each cycle  was done based on the principle that the teacher could rivise or made a remedial teaching in cycle 2 based on the data taken during the action in cycle 1. And the evaluation in cycle 3 based on the data taken from cycle 2 , so that the process of evaluation , the effectiveness of the action was not only measured based on the  result of the cognitive test but also measured based on  the focused observation assessment , performance and  atitude (affective)  assessments.

5. Method of Collecting Data.

To cllect the data the writer designed the following instruments:

  1. Paper-pencil test.
  2. Rubric
  3. Performance assessment
  4. Systematic observation
  5. Portofolio

Sumber : Data komputer di LPMP Jawa Tengah


PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

SEKOLAH DASAR NEGERI 01 MENJING KECAMATAN JENAWI

KABUPATEN KARANGANYAR

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

A. JUDUL PENELITIAN

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN  BAHASA INDONESIA STANDAR KOMPETENSI MENULIS KOMPETENSI DASAR MENGISI FORMULIR DENGAN BENAR MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN  KONTEKSTUAL PADA SISWA  KELAS VI SD NEGERI 01 MENJING JENAWI SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2009/2010

B. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Sekolah memiliki peranan dan tanggung jawab yang sangat penting dalam mempersiapkan warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan adalah menyelenggarakan program pendidikan yang memberikan berbagai kemampuan sebagai seorang warga negara melalui berbagai mata pelajaran termasuk salah satunya Pendidikan Bahasa Indonesia.

Kemampuan dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar yang dicantumkan dalam Standar Nasional merupakan bahan minimal yang harus dikuasai siswa. Oleh karena itu, di daerah, sekolah atau guru dapat mengembangkan, menggabungkan, atau menyesuaikan bahan yang disajikan dengan situasi dan kondisi setempat. Realitanya hasil belajar siswa dalam materi Pendidikan Bahasa Indonesia belum menunjukkan hasil yang diinginkan.

Salah satu Standar kompetensi yang masih rendah hasil capaiannya adalah menulis. Dari empat  standar kompetensi menulis yang yang harus dikuasai siswa,  kompetensi dasar yang rendah capaiaanya adalah kompetensi Mengisi Formulir dengan benar.  Kondisi rendahnya hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar  tercermin juga dalam hasil belajar siswa pada siswa kelas  SD 01 Menjing Jenawi. Hal itu dapat diketahui dari rata-rata nilai harian siswa. Pada dua kali ulangan harian yang diadakan guru dengan kompetensi dasar mengisi formulir dengan benar menunjukkan rata-rata kurang dari nilai 70. Dari ulangan harian yang pernah dilakukan, + 60 % siswa mendapatkan nilai dibawah 70,00. Angka-angka tersebut dapat diartikan, bahwa pemahaman siswa terhadap kompetensi dasar tersebut relatif masih rendah.

Secara tidak disadari, karena rutinitas tugasnya mengakibatkan guru tidak begitu menghiraukan/peduli apakah siswanya telah atau belum memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Sejauh mana siswa telah mengerti (understanding) dan tidak hanya sekedar tahu (knowing), tentang konsep Pendidikan Bahasa Indonesia yang sudah disampaikan dalam proses pembelajaran? Rutinitas yang dilakukan para guru tersebut meliputi penggunaan metode pembelajaran yang cenderung monoton yaitu kapur dan tutur (chalk-and-talk), kurangnya pelaksanaan evaluasi selama proses kegiatan belajar dan mengajar (KBM) berlangsung, serta kecenderungan penggunaan soal-soal bentuk pilihan ganda murni pada waktu ulangan harian maupun ulangan sumatif tiap akhir semester.

Sebelum penelitian dilakukan guru memang belum mengoptimalkan metode kontekstual. Guru baru sebatas memanfaatkan metode ceramah serta penugasan (PR) kepada siswa. Kalaupun ada penugasan, siswa hanya di beri pekerjaan rumah yang dinilai secara individual oleh guru tanpa didiskusikan di kelas. Secara operasional, guru menjelaskan materi kepada siswa kemudian memberikan contoh-contoh di papan tulis. Setelah selesai menerangkan materi, guru menyuruh siswa untuk mengerjakan soal.

Kenyataan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar yang rendah tersebut perlu diperbaiki sebab Pendidikan Bahasa Indonesia termasuk mata pelajaran inti dengan nilai minimum ketuntasan belajar 70. Untuk itu perlu dicoba pendekatan/metode pembelajaran lain. Dari penelusuran pustaka tentang berbagai metode yang ada, penulis menemukan bahwa metode  kontekstual diperkirakan mampu mengatasi permasalahan tersebut diatas.

Dari uraian di atas, kerangka pemikiran penulis adalah  bahwa rendahnya nilai mata pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia dikarenakan siswa kurang memahami konsep mengisi formulir dengan benar yang selama ini hanya diajarkan guru melalui metode ceramah. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah pelaksanaan kegiatan tindak lanjut berupa pengajaran dengan menerapkan metode kontekstual. Hal itu dimaksudkan agar siswa dapat mudah memahami dan menerima materi yang disampaikan guru yang secara tidak langsung memberi penekanan agar siswa memperhatikan penjelasan guru dan pada akhirnya siswa akan lebih memahami konsep mengisi formulir dengan benaryang dipelajarinya. Dengan demikian adanya pemahaman konsep tersebut maka akan dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa dan akhirnya akan dapat mengatasi rendahnya hasil belajar siswa.

2.      Rumusan Masalah

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman di lapangan terungkap bahwa guru belum memberdayakan seluruh metode pembelajaran yang ada. Hal ini disebabkan karena dalam mengajar mereka yang terpenting adalah materi pelajaran dapat disampaikan secara keseluruhan sesuai dengan alokasi waktunya. Dengan demikian penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

Apakah melalui penerapan pendekatan  kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar ?

3. Tujuan Penelitian

1.    Tujuan Umum

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar bagi siswa SD Negeri 01 Menjing Kecamatan Jenawi .

2.    Tujuan Khusus

Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar melalui penerapan metode kontekstual bagi siswa kelas VI semester I SD Negeri  01 Menjing Kecamatan Jenawi tahun pelajaran 2009/2010.

4.  Manfaat Penelitan

Dalam mengadakan penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam menjawab masalah yang dihadapi di sekolah dalam mengajar mata pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia. Oleh sebab itu penulis secara rinci mengemukakan manfaat penelitian ini adalah mendorong guru untuk menggunakan metode kontekstual dengan manfaat:

1.    Manfaat Teoritis

a.   Mendapatkan pengetahuan atau teori baru tentang upaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar melalui penerapan metode kontekstual bagi siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Menjing Kecamatan JenawiJenawi.

b.    Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan bahan acuan bagi penelitian selanjutnya.

2.    Manfaat Praktis

a.    Manfaat bagi Siswa

Meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar bagi siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 01 Menjing Kecamatan Jenawi

b.    Manfaat bagi Guru

Melatih guru dalam memodifikasi sekaligus menerapkan berbagai metode pembelajaran sekaligus dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

c.   Manfaat bagi Sekolah

Memberikan pengetahuan umum tentang penerapan metode kontekstual dalam proses pembelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar sehingga dapat dijadikan pedoman guru lain.

d.    Manfaat bagi Perpustakaan Sekolah

Menambah khasanah perpustakaan sekolah tentang upaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar melalui penerapan metode kontekstual.


C. KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

1.  Kajian Teori

a.1.  Keterampilan Menulis

a.1.1. Hakikat Menulis

Menulis merupakan suatu aktivitas komunikasi bahasa yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Tulisan itu terdiri atas rangkaian huruf yang bermakna dengan segala kelengkapan lambang tulisan seperti ejaan dan pungtuasi. Seseorang bisa disebut sebagai penulis karena memiliki kemahiran menuangkan secara tertulis ide, gagasan, dan perasaan dengan  runtut. Apa yang dituliskan mengandung arti dan manfaat yang membuat orang lain merasa perlu membaca dan menikmatinya. (Sabarti Akhadiah, dkk, 2001: 1.3)

Ketika menulis, yang digunakan adalah simbul-simbul grafis, yaitu huruf-huruf atau kumpulan huruf yang berhubungan. Pada kenyataannya, dapat ditegaskan bahwa menulis itu lebih dari sekedar produksi simbul-simbul grafis. Simbul-simbul tersebut harus disusun menurut kaidah-kaidah tertentu untuk membentuk kata-kata dan kata-kata itu harus disusun menjadi kalimat. (Donn Byrne, 1988: 1).

Menulis merupakan suatu proses. Proses itu merupakan sesuatu yang kompleks. Berbagai masalah dapat timbul secara simultan sehingga seorang penulis perlu memiliki pemahaman yang lebih baik untuk menciptakan proses kerja yang efektif sehingga menghasilkan tulisan yang baik. (Tricia Hedge, 1988: 19).

Berdasarkan uraian  di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan menulis diperlukan suatu keterampilan dalam pengorganisasian ide-ide ke dalam bentuk tulisan yang runtut dan padu. Dalam tulisan tersebut harus diperhatikan kaidah-kaidah penulisannya.

Menulis adalah sebuah keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditujuakan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan. Sekurang-kurangnya, ada tiga komponen yang tergabung dalam perbuatan menulis, yaitu: (1) penguasaan bahasa tulis, meliputi kosakata, struktur, kalimat, paragraf, ejaan, pragmatik, dan sebagainya; (2) penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis, dan (3) penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esei, artikel, cerita pendek, makalah, dan sebagainya. (Khaerudin Kurniawan, http:// http://www.ialf.edu/kipbipa/papers/khaherudinkurniawan.doc.)

Menulis adalah bentuk keterampilan dan pengetahuan yang banyak melibatkan kemampuan siswa. Dalam sebuah tulisan terkandung ide sang penulis untuk disampaikan kepada orang lain. Ketika akan menyampaikan ide, penulis harus mampu mencari kata bahasa yang dapat dimengerti orang lain, baik dari sisi urutan kata-kata maupun bentuk kalimat. Dengan begitu, pengetahuan penulis (dalam hal ini siswa)  dapat dibaca atau dipahami orang lain. ( Gerbang, 2005: 45).

Tulisan yang efektif harus mengandung unsur-unsur: singkat, jelas, tepat, aliran logika lancar, serta kohern. Artinya, dalam tulisan itu tidak perlu menambahkan hal-hal di luar isi pokok tulisan, tidak mengulang-ulang yang sudah dijelaskan (redudant), tidak mempunyai arti ganda (ambiguous, dan paparan ide pokok didukung oleh penjelasan dan simpulan. Ide-ide pokok tersebut saling berkaitan, mendukung ide utama sehingga seluruh bagian tulisan merupakan kesatuan yang saling berhubungan atau bertautan (cohernce). (Etty Indriyati, 2002, 34).

Berdasarkan hakikat menulis di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis tidak hanya sekedar menuangkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana tulisan itu dapat dipahami oleh pembaca.

a.1.2. Pembelajaran  Menulis

Siswa mempelajari bahasa sebagai alat komunikasi lebih daripada sekedar pengetahuan tentang bahasa. Pembelajaran bahasa, selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa dan bersastra, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. Selain itu, juga diarahkan untuk mempertajam perasaan siswa. Siswa tidak hanya diharapkan mampu memahami informasi yang disampaikan secara lugas atau langsung, tetapi juga yang disampaikan secara terselubung atau secara tidak langsung. Siswa tidak hanya pandai dalam bernalar, tetapi memiliki kecakapan di dalam interaksi sosial dan dapat menghargai perbedaan baik di dalam hubungan antarindividu maupun di dalam kehidupan bermasyarakat, yang berlatar dengan berbagai budaya dan agama. ( Depdiknas: 2003: 4)

Agar siswa mampu berkomunikasi, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk membekali siswa terampil berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, tidak dituntut untuk menguasai pengetahuan tentang bahasa.

Yang perlu ditandaskan adalah pelajaran menulis haruslah dipentingkan dan diberi waktu secara cukup dan diberikan secara tetap. Jika tidak, berarti guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih berbahasa secara tertulis, yang sangat berguna dalam kehidupannya kelak.

Mengingat pentingnya menulis, dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah perlu lebih diefektifkan. Dengan diajarkan materi menulis tersebut diharapkan siswa mempunyai keterampilan yang lebih baik. (Pusbuk, 2005: 30) Seseorang yang dapat membuat suatu tulisan dengan baik  berarti ia telah menguasai tata bahasa, mempunyai perbendaharaan kata, dan mempunyai kemampuan menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, tulisan siswa dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia.

Untuk mengetahui atau mengukur kualitas tulisan (selain diukur oleh guru lewat instrumen penilaian), siswa bisa mengikuti lomba menulis artikel antarpelajar. Dengan mengikuti lomba tersebut, siswa (guru) dapat mengetahui sejauh mana mutu tulisan yang dihasilkan.

b.1. Metode Pembelajaran Contextual Teaching and Learning

b.1.1. Pengertian Metode Pembelajaran

Menurut Seels and Richey (1994 : 32) metode pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi dan mengurutkan peristiwa atau langkah-langkah dalam sebuah pembelajaran. Snelbecker (1982 : 115) mengemukakan metode pembelajaran adalah suatu cara yang dilakukan oleh guru untuk melaksanakan suatu proses pembelajaran dengan memahami perbedaan karakteristik dan kemampuan siswa, sehingga diharapkan guru dapat membantu kesulitan belajar siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa harus diusahakan dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran, artinya guru harus mampu memahami bahwa di antara siswa terdapat perbedaan-perbedaan karakteristik. Hal itu karena siswa berasal dari kondisi ekonomi dan kemampuan orang tua yang berbeda, sehingga dalam mengikuti proses pembelajaran terdapat perbedaan pula.

Dengan memahami perbedaan karakteristik siswa, dalam proses pembelajaran, oleh guru dapat menentukan dan memilih metode pembelajaran yang sesuai, guru dapat memberikan suatu perlakuan, dan penilaian, serta keputusan yang tepat kepada siswa, sehingga siswa merasa dirinya dihargai dan diperhatikan dalam proses pembelajaran tersebut. Proses pembelajaran merupakan sistem yang terdiri atas beberapa komponen seperti siswa, guru, dan metode, serta materi pembelajaran yang saling berinteraksi datam mencapai tujuan. Dalam menyajikan materi pembelajaran guru perlu menentukan dan memilih metode pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Metode pembelajaran yang tepat adalah metode yang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa.

Menurut Muhibbin Syah (1995 : 190) metode pembelajaran adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Semakin baik metode pembelajaran maka semakin efektif pula pencapaian tujuan. Untuk menetapkan lebih dahulu apakah suatu metode pembelajaran disebut baik, diperlukan ketentuan yang bersumber dari beberapa faktor. Adapun faktor utama yang menentukan adalah tujuan yang akan dicapai. Metode pembelajaran di dalam kelas selain faktor tujuan, juga faktor murid, faktor situasi, dan faktor guru ikut menentukan efektif tidaknya suatu metode pembelajaran.

Menurut Wasty Soemanto (1998 : 102) metode pembelajaran merupakan salah satu cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan komunikasi dengan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran. Oleh karena itu, peranan metode pembelajaran sebagai alat untuk menciptakan proses pembelajaran. Dengan metode pembelajaran diharapkan terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru harus dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa, serta menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi.

b.1.2. Metode Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning

Contextual Teaching and Learning (CTL) atau metode kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat monerapkannya daiam kehidupan mereka (Wina Sanjaya, 2006: 109).

Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama, menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks metode kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.

Kedua, metode kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.

Ketiga, metode kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya metode kontekstual bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks metode kontekstual bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.

Untuk mencapai kompetensi yang sama dengan menggunakan metode kontekstual guru melakukan langkah-langkah pembelajaran seperti di bawah ini:

a.  Pendahuluan

1)    Guru menjelaskan kompetensi yang hams dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.

2)    Guru menjelaskan prosedur pembelajaran kontekstual:

a)    Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa;

b)    Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi, misalnya kelompok 1 dan 2 mengobservasi kegiatan A, dan kelompok 3 dan 4 mengobservasi kegiatan B;

c)    Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan pada masing-masing kegiatan tersebut.

3)    Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa

b. Inti di Lapangan

1)    Siswa melakukan observasi sesuai dengan pembagian tugas kelompok.

2)    Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.

Di dalam Kelas

1)    Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.

2)    Siswa melaporkan hasil diskusi.

3)    Setiap kelompok mynjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.

c.   Penutup

1)    Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah demokrasi sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai.

2)    Guru menugaskan siswa untuk membuat rangkuman tentang pengalaman belajar mereka dengan materi demokrasi.

Hal yang dapat ditangkap dari pembelajaran dengan menggunakan metode kontekstual adalah pada metode kontekstual untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep anak mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi dari guru, akan tetapi kelas digunakan untuk saling membelajarkan.

b.1.3.  Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Kontekstual

Sudah dijelaskan bahwa menulis tidak hanya sekedar menuangkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana tulisan itu dapat dipahami oleh pembaca. Pembelajaran menulis perlu ditekankan pada segi-segi praktis, bukan teoretis. Dengan diterapkannya pendekatan kontekstual, peranan siswa dalam pembelajaran menulis menjadi lebih  diberdayakan.

Peranan pembelajar (siswa) dalam pembelajaran bahasa ( menulis) adalah:

1) Siswa dapat melaksanakan program pembelajaran mereka sendiri. Dengan  demikian, pada akhirnya mereka memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang  mereka lakukan di kelas.

2) Siswa dapat memantau dan mengevaluasi kemajuan mereka sendiri.

3) Siswa adalah anggota suatu kelompok dan belajar dengan berinteraksi  dengan yang lain-lainnya.

4) Siswa dapat berperan sebagai tutor bagi siswa  lainnya.

5) Siswa dapat saling bertukar pemikiran atau mendapatkan pengetahuan dari  siswa lainnya, dari guru, atau dari sumber materi pembelajaran. (Depdiknas, 2004g: 77).

Pandangan konstruktivisme berpendapat bahwa manusia mengonstruksi sendiri pengetahuan yang diperolehnya berdasarkan pada skemata atau prior knowledge yang dimilikinya. Oleh sebab itu, kemajemukan cara memperoleh pengetahuan dan memerikan sesuatu sah adanya. Konstruktivisme sangat menghargai kemajemukan dan tidak menyarankan keseragaman. (Depdiknas, 2004g: 26).

Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus agar proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat berlangsung secara optimal, di antaranya: 1) perlu mengubah kebiasaan siswa yang terbiasa pasif sebagai penerima materi pelajaran dari guru menjadi siswa yang aktif. Mengubah paradigma  belajar siswa ini bukan merupakan hal yang mudah. 2) Perlu memotivasi siswa agar mau bertanya, memberikan tanggapan atau pendapat yang berkaitan dengan materi pelajaran. 3)Guru perlu ‘memenej’ waktu sebaik-baiknya, misalnya pada saat mengatur kelompok, memajang hasil karya siswa.    (Widya Tama, 2005: 34-35).

Dalam pembelajaran menulis, jam perlajaran yang tersedia hendaknya  dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sedapat mungkin pembelajaran menulis ini harus lebih banyak berupa praktik daripada teori.  Jam pelajaran yang terbatas diimbangi dengan tema tulisan (karangan) yang menarik dan aktual. Pada gilirannya siswa bisa terdorong untuk berlatih menulis di luar jam pelajaran. (Pusbuk, 2005: 31)

Secara garis besar, penerapan pendekatan CTL di dalam kelas dapat dilaksanakan dengan langkah:

1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menentukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya!

2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik!

3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya!

4) Ciptakan ‘masyarakat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok)!

5) Hadirkan ‘model’ sebagai contoh pembelajaran!

6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan

7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. (Nurhadi, 2004: 106)

  1. 2. Kerangka Berpikir

Yang menjadi fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah hasil pembelajaran bahasa khususnya keterampilan menulis masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Kekurangberhasilan tersebut disebabkan oleh sistem pembelajaran yang masih terpusat pada guru. Siswa kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya. Di samping itu, dari sisi siswa sendiri juga masih terbiasa pasif. Siswa kurang berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

Untuk mengatasi hal ini, perlu diterapkan bentuk  pembelajaran menulis yang lebih memberdayakan siswa, yakni pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

Di dalam pembelajaran kontekstual, terdapat tujuh komponen utama yakni konstruktivisme (Constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Asessment).

Ketujuh unsur tersebut diterapkan secara intensif di dalam pembelajaran sehingga siswa dapat mengkonstruksikan sendiri pengetahuannya, menemukan sendiri konsep-konsep materi yang sedang dihadapi. Pengetahuan dan keterampilan siswa lebih diberdayakan. Siswa lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan ide-idenya, banyak berlatih, dan praktik. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi ketika siswa sedang belajar menulis, dapat didiskusikan secara kelompok. Bahkan, kelompok satu dapat menilai hasil pekerjaan kelompok yang lain. Siswa mendapatkan model-model pembelajaran yang lebih konkret. Pada akhir pembelajaran, siswa dapat merefleksi terhadap apa yang dipelajarinya.

Dengan demikian, dapat diduga bahwa penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran dapat mendorong ke arah peningkatan  keterampilan menulis siswa.

Secara lebih konkret, kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah berawal dari permasalahan bahwa hasil belajar menulis siswa rendah. Agar hasil belajar menulis siswa meningkat, perlu ditentukan alternatif pemecahannya dengan cara melakukan penelitian tindakan kelas yakni dengan menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menulis. Penelitian tindakan kelas ini direncanakan sebanyak tiga siklus. Pelaksanaan setiap siklus diobservasi, dianalisis, dan direfleksi untuk menentukan perencanaan tindak lanjut pada siklus berikutnya.

Dalam pelaksanaannya, digunakan kerangka berpikir yang dikembangkan oleh Raka Joni, dkk. (dalam Depdiknas, 2004a: 16), yakni mencakup tahap-tahap: 1) pengembangan fokus masalah penelitian, 2) perencanaan tindakan perbaikan, 3) pelaksanaan tidakan perbaikan, observasi, dan interpretasi, 4) analisis dan refleksi, 5) perencanaan tindak lanjut.

Kerangka berpikir tersebut dapat disajikan dalam bagan berikut:

3.   Perumusan Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan, dapat diajukan sebuah hipotesis tindakan bahwa dengan menggunakan pendekatan kontekstual, keterampilan menulis siswa kelas VI Sekolah Dasar  Negeri 01 Menjing Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar  dapat meningkat.


D.  METODOLOGI PENELITIAN

1.   Setting Penelitian

1.   Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2009/2010 yaitu minggu Bulan Agustus s.d. November   2009.

  1. Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SD 01 Menjing Jenawi dalam pembelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia siswa kelas VI semester I tahun pelajaran 2009/2010. Alasan penelitian dilaksanakan di sekolah tersebut karena peneliti merupakan Pengawas Sekolah di sekolah tersebut. Di samping itu, dari hasil supervisi guru tentang  analisis hasil belajar siswa pada materi mengisi formulir dengan benar di sekolah tersebut rata-rata rendah.

2.  Subjek Penelitian

Mengingat dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti adalah pengawas sekolah maka subyeknya adalah guru mata pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia dan  siswa kelas VI SD 01 Menjing Jenawi semester I tahun pelajaran 2009/2010 yang terdiri atas 1 guru  dan 40 siswa. Dalam penelitian ini penulis  berperan sebagai kolaborator bagi guru.

3.    Data dan  Sumber Data

Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini berasal dari subyek penelitian yaitu  guru kelas dan siswa kelas VI serta, yang merupakan sumber data primer, yaitu nilai ulangan harian siswa baik nilai ulangan harian sebelum tindakan kelas maupun setelah dilakukanya tindakan kelas oleh guru.

4.   Teknik dan Alat Pengumpulan Data

a.  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dapat berbentuk tes maupun non tes. Namun dalam penelitian tindakan kelas ini yang dipergunakan adalah teknik pengumpulan data berbentuk tes. Pengertian tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi, 1996: 138). Adapun tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes prestasi atau achievement test yaitu test yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu (Suharsimi Arikunto, 1996: 139).

Tes diberikan sesudah siswa yang dimaksud mempelajari hal-hal sesuai dengan yang akan diteskan yaitu tes ulangan harian. Mengingat penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas maka juga dipergunakan metode pengamatan (observe). Maksudnya bahwa data dikumpulkan dari hasil kegiatan yang dilaksanakan dari satu siklus ke siklus berikutnya.

b.      Alat Pengumpulan Data

Mengingat teknik yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini berbentuk tes dan observasi, maka alat pengumpulan data yang dipergunakan adalah butir soal tes ketrampilan menulis dalam bentuk uraian dan lembar observasi.

5.   Teknik Validitas Data

Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data dalam penelitian ini adalah  trianggulasi dan review informasi kunci

6.  Teknik  Analisis Data

Teknik analisis data dalam PTK ini bersifat deskriptif analitis. Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data penelitian adalah :

  1. Klasifikasi Data

Klasifikasi data merupakan pengelompokan data berdasarkan kriteria tertentu untuk mencari homogenitas yang diinginkan. Dalam penelitian ini klasifikasi digunakan untuk mengelompokkan hasil belajar siswa dari kegiatan penerapan metode kontekstual.

  1. 2.     Penafsiran Data

Penafsiran data bertujuan untuk mengambil kesimpulan sementara data yang telah diperoleh. Penafsiran merupakan langkah awal untuk pembahasan masalah secara mendalam.

  1. 3.     Evaluasi Data

Data yang telah diklasifikasi kemudian dievaluasi untuk mendapatkan kebenaran antara hasil penafsiran dengan realitas sesungguhnya. Apakah data tersebut dapat dipertanggungjawabkan dalam penelitian atau tidak, apakah penafsiran yang disampaikan sesuai dengan rumusan yang telah ditetapkan dan sebagainya. Hasil evaluasi dapat dipergunakan sebagai feed back (umpan balik) untuk mengukur sejauh mana data yang diperoleh dalam penelitian tersebut merupakan sesuatu yang bermanfaat ataukah tidak. Apabila dirasa kurang dapat mencapai tujuan yang diinginkan, maka prosedur penelitian dapat dilakukan secara berulang.

  1. 4.     Penarikan Kesimpulan

Tujuan akhir dari setiap penelitian adalah mendapatkan kesimpulan mengenai apa yang telah disampaikan dengan hasil penelitian. Kesimpulan merupakan hasil tertinggi dalam suatu penelitian. Dengan diperolehnya kesimpulan, maka masalah yang disajikan, dibahas dan carikan jalan keluarnya akan nampak dengan jelas. Dengan demikian maka kesimpulan merupakan penjabaran sistematis dari seluruh kegiatan penelitian.

7.  Indikator Kinerja

Peningkatan kemampuan menulis ketrampilan mengisi formulir dengan benar (sebelum penelitian adalah 40 % siswa). Setelah siklus pertama diharapkan ada  60% siswa yang mengisi formulir dengan benar .

8.  Prosedur Penelitian

  1. Tahap Perencanaan

Rancangan-rancangan yang dilakukan pada tahapan ini adalah:

  1. Membuat lembar observasi untuk melihat suasana pembelajaran, aktivitas guru dan aktivitas siwa selama proses belajar mengajar dengan menerapkan metode kontekstual.
  2. Membuat analisa hasil ulangan harian setiap siklus, untuk melihat apakah siswa kelas X-1 dalam proses belajar mengajar ada peningkatan penguasaan materi mengisi formulir dengan benar melalui penerapan metode kontekstual dengan menganalisis hasil belajar siswa.

2.   Tahap Pelaksanaan / Tindakan

Guru melaksanakan tindakan kelas dengan strategi pembelajaran cara belajar siswa aktif melalui optimalisasi metode kontekstual yang diterapkan dengan tugas kelompok menggunakan bantuan berbagai media. Tugas yang telah dilakukan kemudian dipresentasikan di depan kelas, disini guru sebagai fasilitator yang memberi penguat dan simpulan untuk kejelasan materi mengisi formulir dengan benar.

3.   Tahap Pemantauan / observing

Pada tahap pemantauan dikumpulkan data dan informasi dari beberapa sumber untuk mengetahui seberapa jauh efektifitas dari tindakan yang dilakukan. Data tentang penguasaan materi mengisi formulir dengan benar diperoleh dari nilai ulangan harian.

4.   Tahap Refleksi

Refleksi adalah kegiatan yang mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada siswa, suasana kelas dan guru. Guru merefleksi capaian hasil belajar siswa sebelum dan sesudah tindakan kemudian merumuskan keberhasilan maupun kekurangannya untuk ditindaklanjuti dengan langkah-langkah program berikutnya berupa penyempurnaan dan pengembangan.

Rencana tindakan penelitian dilaksanakan atau disusun terperinci setiap siklusnya, sesuai jadwal dan alokasi waktu berdasarkan rancangan penelitian. Bentuk tindakan yang akan dilaksanakan dalam tindakan kelas pada tiap-tiap siklusnya dijelaskan sebagai berikut :

Siklus I

a.   Perencanaan

1)      Mempersiapkan materi pembelajaran

2)      Mempersiapkan sumber belajar yang diperlukan

3)      Mempersiapkan lembar kerja siswa

4)      Mempersiapkan kelas dalam setting pembelajaran klasikal

5)      Membuat lembar observasi tentang aktivitas siwa selama proses belajar mengajar

  1. Tindakan

1) Pertemuan 1

a)   Kegiatan pendahuluan

Motivasi dan apersepsi

b)      Kegiatan Inti

(1)   Guru menjelaskan materi dan memberikan contoh-

contoh formulir yang sering ditemui di dunia nyata

(2)   Siswa mendengarkan penjelasan guru dan mencatat.

(3)   Siswa berlatih mengisi formulir seperti yang

dicontohkan oleh guru.

(4)   Siswa mendiskusikan materi.

c)    Kegiatan Penutup

(1)               Siswa membuat rangkuman

(2)               Guru memberikan tugas pekerjaan rumah

2.  Pertemuan 2  (dst)….

c.  Observasi dan Evaluasi

1)      Mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar agar berjalan seoptimal mungkin

2)      Mengamati dan mencatat tindakan aktifitas siswa

d.  Refleksi

1)   Mengevaluasi hasil pemantauan dan mengolah data hasil evaluasi serta menentukan keberhasilan pencapaian tujuan tindakan.

2)   Mencatat perkembangan kemampuan siswa.

3)   Mengadakan refleksi I dengan meneliti kembali tindakan yang telah dilakukan.

4)   Memberi penguatan dan motivasi kepada siswa agar belajar lebih giat.

Indikator untuk melanjutkan ke siklus berikutnya adalah peningkatan hasil belajar yang dicapai siswa dengan capaian minimal sekurang-kurangnya 50% siswa telah mencapai nilai tuntas (di atas minimal).

Berlanjut ke siklus II…..(dst)

E.  JADWAL PENELITIAN

Jadwal   pelaksanaan  penelitian ini terjabarkan dalam tabel berikut:

No Kegiatan Tahun / bulan  2006
Juli Agust Sept Okt Nov
1 Persiapan Penelitian

a. Pengajuan Proposal

b. Persiapan penelitian

x

x

2 Pelaksanaan Penelitian

a. Pengumpulan data

b. Analisis data

c. Interpretasi

d.Evaluasi data

x

x

x

x

3 Penyelesaian

a. Penyusunan draf laporan

b. Revisi draf laporan

c. Penyelesaian akhir

x

x

x

x

G.  DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Rofi’uddin. http://www. malang.ac.id/jurnal/fip/sd/1999a.htm, diakses 22    Juni 2006.

Ano Karsana. 1986. Keterampilan Menulis. Buku Materi Pokok Jakarta: Karunika   Universitas Terbuka.

Byrne, Donn. 1988. Teaching Writing Skills. New Edition. Longman Group UK         Limited.

Depdiknas.  2002.  Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And Learning)

Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

.  2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia  SMP

dan M Ts . Jakarta .

. 2004a. Penelitian Tindakan Kelas, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004b.  Pembelajaran Penulisan Karya Ilmiah, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004c. Bahasa dalam Pembelajaran Bahsa Indonesia, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004d. Menjabarkan Kurikulum Bahasa dan sastra Indonesia, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004e. Pengembangan Kemampuan Menyunting, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004f. Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004g. Prinsip dan Pendekatan Belajar Bahasa, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2005. Penilaian Berbasis Kelas dalam Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Rumpun Mata Pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Jakarta : Balitbang Depdiknas

Etty Indriyati. 2002. Menulis Karangan Ilmiah, Artikel, Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Jakartaa: Gramedia.

Gerbang. 2005. Majalah Pendidikan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Pengembangan pendidikan.

Hedge, Tricia.1988. Resourse Books for Teachers. Series editor Alan Moley. New

York: Oxford University Press.

Khaerudin Kurniawan, http:// www.ialf.edu/kipbipa/papers/

khaherudinkurniawan.doc.)

Mulyani Sumantri dan Johar Permana, 1999, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Sabarti Akhadiah, dkk. 2001. Menulis I. Buku Materi Pokok. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Sarwiji Suwandi. 2004. Penilaian Portofolio dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Surakarta: Unversitas Sebelas Maret.

Sri Harjani. 2005. Pengembangan Kemampuan Membaca dan Menulis Permulaan dengan Pendekatan Kontekstual. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Suharsimi Arikunto. 1996. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rhineka Cipta.

Toeti Soekamto dan Udin Saripudin Winataputra, 1997, Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran, Jakarta : PAU Ditjen Dikti Depdikbud

Winarno Surakhmad, 1994, Pengantar Interaksi Mengajar Belajar, Bandung : Tarsito.

WS. Winkel. 2001. Psikogi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.


IMPROVING STUDENTS’ ENGLISH INTERACTION

THROUGH JAZZ CHANTS MODEL

By Wasimin, S Pd., M Pd.

(Teacher of SMP 34 Semarang, Central Java)

Paper

Presented in the 53rd TEFLIN (Teachers of English as A Foreign Language in Indonesia) International Conference 2005

Yogyakarta, December 6-8th 2005

Departemen Pendidikan Nasional

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah

Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama

IMPROVING STUDENTS’ ENGLISH INTERACTION

THROUGH JAZZ CHANTS MODEL

By Wasimin, S Pd., M Pd.

(Teacher of SMP 34 Semarang, Central Java)

Abstract

The ability in making interaction in English of class IIIA students of SMP 34 Semarang is low. This is because they do not know how to give responses to someone’s statements. They do not have appropriate act ional competence. This is due to their lack knowledge of the use of finite in natural conversation. This problem must be solved because when in their future they will need to communicate in English fluently and accurately in its social context. Students are also hoped to be able to express their meaning (interpersonal, ideational, and textual) in various spoken text that have communicative purposes, in certain text and linguistics.

To solve the problem, I used Jazz Chants technique for 20 minutes in every meeting. Jazz Chants is a drill using interpersonal dialogue in relaxed rhythm and beat like simple jazz music. Chants mean short songs that are easy to imitate.

The purpose of the research is to improve the students’ ability to interact in English. The focus of the research, which is put in the indicators of the success of the research, is the improvements of (1) the use of finite (2) pronunciation and intonation and (3) the fluency in giving responses.

The Action Research was done in 3 cycles beginning from August 2004 and ended in the end of November 2004. Gradually, the students who had difficulties in giving responses to others in English decreased. This was seen through the data taken from three aspects (1) the use of finite (2) pronunciation and intonation (3) fluency in giving responses that increased in every meeting. In the end of cycle 1, the ability of the students in using finite in simple present tense increased from 4 to 33, pronunciation and intonation increased from 2 to 33 students; the fluency in giving responses increased from 2 to 29 students. In the second cycle, which I focused on the use of simple past tense, the ability to use finite in simple past tense increased from 31 to 33 students, pronunciation and intonation increased from 29 to 33 students. Fluency in giving responses increased from 28 to 32 students. In the third cycle, which I focused on the use of simple future tense indicated the improvements in the three aspects I investigated. The ability in the use of finite in simple future tense increased from 20 to 38 students, pronunciation and intonation increased from 25 to 38 students, and fluency in giving responses increased from 21 to 35 students. In the end of cycle 3 or in the fourth meeting, I contrasted the use of the three primary tenses and the result showed that 29,6% of the students were able to use the three aspects properly.

Using the Jazz Chants model, my students felt happy and relaxed, so they were able to improve their competency in making interaction in English. However, this research underwent obstacles. At the beginning of the research, my students found difficulties in imitating the utterances from the tape because they found some unfamiliar vocabulary. Besides that, I did not cover all kinds of finite, so the ability to give responses was still limited. Then I asked my students to find their own material in order that they would not find difficulties in unfamiliar vocabulary.

I.   INTRODUCTION

A. Background

The Indonesian government has done many efforts to build good quality human resource. However, the target of students’ competence has not been satisfying. One-important students’ competence for them to survive in the future is the ability to communicate in English. There are 40 state Junior High Schools and tens of private ones that undergo the same problem.

The implementation of the English 2004 curriculum is hoped that students will have the competency in using both spoken and written English in the appropriate social context. In spoken English, students are hoped to be able to convey meanings (interpersonal, ideational and textual) in various spoken texts that have certain communicative purpose, text structure and linguistics. Again, the condition is still far from the teaching and learning objectives.

I teach at SMP 34 Semarang. The school is located in east Semarang that has poorer condition compared with other school located in the city center. As I was teaching, there were some problems arouse. Most students had difficulties in interacting using English. The difficulty was caused by the lack ability of the students to use the appropriate finite in the mood in the utterances. Finite is an important thing that enables the students to give responses when someone speaks to them. Together with the subject, finite forms mood, as the main part in building interpersonal meaning in English utterance. The following example gives a clear illustration of how my students could not interact in simple English. When someone said: You are a student here. The response they gave was just yes or even they had nothing to say, or just smiled. The response we need from the utterance is: I am. The word am is the finite from the utterance I am. Then the communication simply broke down, as they did not know the way to give responses as they did not have adequate competence in using the finite.

Realizing the important problem to solve, I tried a way to find the solution. I tried to use a strategy in teaching that made students interested and at the same time helped them to be able to give responses when someone gave statements to them.

B. Problem Formulation

From the explanation above, I formulate the problem as follows:

Does the ability to interact in English of class IIIA SMP 34 Semarang in odd semester in the academic year of 2004/2005 improve through the use of Jazz Chants model?

C. Research Objectives

  1. The students’ ability in interacting using English improves, that is seen through (1) the use of proper finite (2) the improvement of pronunciation and intonation, (3) the more fluency to give responses to other people who gave statements in English.
  2. To build active and responsive English class.

D. Significance of the study

  1. Students were able to eliminate their difficulties in making interaction, as it was an important competency in using English.
  2. The teacher would improve his performance in improving the teaching strategy.
  3. The study gave input to the headmaster to make policy to fulfill the students’ needs.

II. Theoritical Review

A.   Interaction

What I mean by interaction in my study is the ability of the students to make sustained conversation in English. It means that the students are not only able to respond in one-sided dialogue, but then he/she is able to give a prompt for his/her partner to give responses and vice versa.  Diknas (2004:34) states that natural conversation is not like an interrogation. An authentic discourse does not last ‘cleanly’ and ‘neatly’ like we can find in educative dialogue texts. The texts often cover a dialogue between A and B, where A asks, B answers. When students are able to interact, meaning that they are able to give responses as well as to give a prompt to others, it means that they are able to interact in English.

B. Jazz Chants Model

To overcome the problem faced by my students, I used Jazz Chants model. Graham (1978) stated that Jazz Chants is a rhythmic expression of Standard American English as it occurs in situational contexts. The rhythmic expressions were recorded as a model that was imitated by the students in jazz tempo and beat. Echols (1996:327) states that chant means simple and short songs. So Jazz Chants technique is the technique to practice the English utterances in short jazz beats that is easy to be followed by the students. As we know that the teaching and learning process is a complex phenomenon that involves many components and competencies, including words, mind, and our action. Through attractive learning, learning process can be effective. The jazz chants model is a way to build an effective learning. The implementation of jazz chants is suitable with the principle of quantum teaching in classrooms that drives students in a happy atmosphere while learning.

III. RESEARCH PROCEDURE

A.  Setting

The research was done at SMP 34 Semarang class IIIA in the odd

semester in the academic year of 2004/2005. The number of the students is 41

people, consisting of 20 male students and 21 female students.

B.   Research Implementation

The research was done from July 2004 to November 2004. The following

is the  phenomena occurred from July 2004 to November 2004.

  1. Planning

In this phase, I did the observation to find how my students gave responses to English utterances in July 2004. I noted the phenomenon down during my first days in my teaching. Then I tried to find the reason of the problem faced by my students. I found that the reason was that they were lack of the ability to express their ideas because they do not have competency of the use of finite in English. Then I had an idea of using Jazz Chants model.  I prepared myself with the recording of Jazz Chants and the player. I also arranged the research in three cycles. In the first cycles, I focus on the use one of primary tenses: simple present tense, that lasted for a month, August 2004. Then I continued with the second primary tense: simple past tense in September 2004 and in the mid of October 2004. In the third cycle, I trained my students the use of the third primary tense: simple future tense in the mid of October until November 2004.

  1. Action

Cycle 1

  1. I taught in class IIIA as usual without changing the schedule. In the first 20 minutes, I trained my students with Jazz Chants model.
  2. First, I gave the students the context of situation where the dialogue we learned was going to be about. Then, I gave example of how to pronounce the utterances done in restaurants. After that, I played the recorder that was imitated by the students. The following is the example of the utterances learned by the students from the tape.

Major Decisions

How do you like your coffee?

Black! Black!

How do you like your tea?

With lemon, please.

How do you like your steak?

Medium rare.

How do you like your eggs?

I don’t care!

Poached on toast?

I don’t care!

It doesn’t mean different to me.

It doesn’t matter.

It’s all the same to me.

(Graham, 1978:39).

In the last stage, I asked my students to work in pairs while I was making observation. The students gave prompts and responses individually.

Cycle 2

In cycle 2, which lasted from September to mid of October 2004, my focus

was practicing students to interact in simple past tense. This is the example of

the utterances learned by the students.

Sh! Sh! Baby’s Sleeping!

I said, Sh! Sh! Baby’s sleeping!

I said, Sh! Baby’s sleeping!

What did you say?

What did you say?

I said, Hush! Hush! Baby’s sleeping!

I said, Hush! Baby’s sleeping!

What did you say?

What did you say?

I said, Please be quiet, Baby’s sleeping!

I said, Please be quiet, Baby’s sleeping!

What did you say? What did you say?

I said, Shut up! Shut up! Baby’s sleeping!

I said, Shut up! Shut up! Baby’s sleeping!

WAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA.

Not anymore.

(Graham: 1978:3)

Cycle 3

In cycle 3, which lasted from the mid of October to the end of November 2004, the focus was to train the students to interact in simple future tense. The example of the utterance is as follows:

Love Song

Does she love him?

Yes, she does.

Is she happy?

Yes, she is.

Does he know it?

Yes, she does, yes, he knows it.

Will she hug him?

Yes, she will.

Will she leave him?

Yes, she will, if she has to. ….

In the implementation of the three cycles, I did the observation on the phenomena occurred in each meeting. To do the observation, a colleague of  mine, an English teacher helped me. Besides that, I also interviewed some students about the activity during the research. I collected the data to make my reflections about what I had done to my class.

IV. Research Result

The data I collected during the research can be explained as follows:

In the first cycle, the students admitted that it was strange for them to do the activity. They got enthusiastic doing the activity. Then they got most excited when I played the tape giving example of jazz chants model. It was still strange for them to listen to native speaker’s voice. They also found it strange with the beat of Jazz Chants they listened from the tape, but they got very happy and interested in it. In the next meeting, they got more familiar and began to enjoy imitating the rhythm from the tape.

In the end of the first cycle, I gave them feedback in the form of prompts they had to give responses. Some of them gave responses faster than before and they also had better self-confidence with better spontaneity. They admitted that they had better self-confidence and felt proud with their ability to respond in English.

In the second cycle, which was begun from September until mid October 2004, the students got ready more in doing the activity. Most of them did the activity well in simple past tense. But when I contrasted the finite of did and was/were, they were confused. It happened in the first and second meeting of cycle 2.  This cycle yielded better understanding of how to make conversation in English. They began to be able to give reaction using appropriate finite. An example of dialogue produced by a pair of students is as follows:

A       :           You’re lazy!

B       :           No, I’m not.

A       :           Yes, you are!

B       :           No, I am not!  And so on.

Other dialogue:

A       :           You did not do your homework.

B       :           I did!

A       :           No, you did not!

B       :           I did! Look at this.

A       :           You did not do it! Your sister did!

B       :           I did it myself!

In the third cycle, which lasted from the mid of October to the end of November 2004, the focus was interaction using simple future tense. Compared with the second cycle, it was faster and the students reached the ability to interact better than before. They admitted that the tense was much simpler than present tense and simple past tense.

In the reflection stage, I gathered the data as follows:

Cycle 1, lasted for 7 meetings can be seen in the following figure.

Figure 1

The number of students who used finite appropriately in cycle 1

From the figure above we learn that the number of students who used finite correctly gradually increased from meeting to meeting. In the contrary, the number of students who made mistakes in using finite gradually decreased.

Figure 2

The improvement of the number of students to make

appropriate pronunciation and intonation in cycle 1

From the figure above we learn that the number of students who used the appropriate pronunciation and intonation gradually increased and the number of students who used pronunciation and intonation inappropriately decreased gradually.

Figure 3

The improvement of the number of students in fluency

Fluent

Fluent enough

Not fluent

From the figure above we learn that the number of students who interacted in English fluently gradually increased.

Cycle 2

To anticipate the student’s difficulty in giving responses in the simple past tense, I gave them modeling in how to give responses in simple past tense. The phenomena happened in this cycle that lasted for ten meetings were as follows:

In meeting 1 and 2, most students (about 75%) gave responses to their friends in relaxed way. Yet, they still made mistakes in the use of was, were and did.  Some students, about 60% failed in giving responses when the tenses were varied among the use of was, were and did. While in meetings 5 and 6 a half students (50%) still had difficulties in the use of finite. In meeting 7 and 8, the number of students who made mistakes gradually decreased, that is from 50% of the students decreased to 30% of the students. When I interviewed them, they were able to give responses correctly. This is what they said in front of me:

T        :           You enjoyed the English class better than before.

S        :           I did, sir. Thank you.

In meeting 9 and 10, I combined the two different tenses. In meeting 9, they needed to think before they gave responses, but in the last meeting, they found it relaxed and happy to combine the two kinds of tenses, simple present tense and the simple past tense.

Cycle 3

To anticipate the students’ difficulties in giving responses in the future tense, I gave them the modeling. The phenomena occurred in this cycle was that they found it easier to cope with future tense. Because students did not have serious problem, I just had 4 meetings in cycle 3. The data I collected in the last cycle can be seen in the following table.

Table 1

The improvement of the students’ interaction in English in Cycle 3

Meeting Finite Pronunciation And Intonation Fluency Average
1 20 25 21 22
2 37 37 35 36.3
3 38 38 35 37
4 39 39 36 38

V.        CONCLUSION AND RECOMMENDATION

A.        Conclusion

From the data analysis above, the following conclusion can be drawn as follows:

The students’ competency to interact in English improved after they practiced Jazz Chants for twenty minutes in every meeting, which lasted for 2 cycles (from August to mid October 2004) in limited tenses focus.

  1. This research was able to improve the students’ interaction in English that can be seen through the improvement in the use of finite, pronunciation and intonation as well as the fluency in giving responses to statements given to them.
  2. The students who had difficulties in giving responses because of their lack competency in the use of finite gradually decreased in every meeting.
  3. Although positive phenomena occurred during the research, there were some obstacles. Some students were not familiar with the vocabulary used in the recording. Besides that, the noisy class disturbed other classes near IIIA where the research was conducted.

B.    Recommendation

1.  This activity should be modified using the material suggested by the students. They should be given homework to observe dialogues around them to be put in English. This could be done to overcome the obstacles in comprehending the unfamiliar vocabulary used in the recording.  When they made their own material, it is hoped they will not have difficulties in comprehending the vocabulary.

2.  To overcome the noisy class, the school should think of providing a classroom for English class. If it can be fulfilled, similar activities can be done freely without disturbing other classes.

References

Diknas. 2004. Landasan Filosofis Teoretis Pendidikan Bahasa Inggris. Jakarta:

Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

Diknas. 2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris Sekolah

Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Diknas. 2003. Pedoman Teknis Pelaksanaan Classroom Action Research. (CAR).

Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama.

De Porter, Bobbi at all, 1999. Quantum Teaching. Terjemahan Anry Nilandari.

Bandung: Kaifa.

Gerot, Linda dan Wignel, Peter. 1995. Making Sense of Funtional Grammar.

Sidney: Gerd Stabler Antipodean Educational Enterprises (AEE).

Graham, Carolyn, 1978. Jazz Chants, Rhythm of American English for Students

of English as a Second Language. New York: Oxford University Press.

Pelangi, Buletin. 2001. Pedoman Teknis Pelaksanaan Classroom Action Research

(CAR). Jakarta: Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP, Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.


Email:

rppguswur@gmail.com

Belajar Inggris

BelajarInggris.Net 250x250

Blog Stats

  • 1,463,724 hits

Pengunjung

free counters

blogstat

Alexa Certified Site Stats for www.aguswuryanto.wordpress.com

Incoming traffic

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 151 other followers

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 151 other followers