Belajar jadi Guru

Archive for December 2010


download: Kerucut Media Pembelajaran

JENIS-JENIS MEDIA PEMBELAJARAN

Rudi Bretz (1977) mengklasifikasi ciri utama media pembelajaran pada tiga unsur pokok, yaitu suara, visual dan gerak. Bentuk visual itu sendiri dibedakan lagi pada tiga bentuk, yaitu gambar visual, garis, dan simbol. Menurut Oemar Hamalik (1985: 63) ada 4 klasifikasi media pembelajaran, yaitu:

1.      Alat-alat visual yang dapat dilihat, misalnya filmstrip, transparansi, micro projection, papan tulis, buletin board, gambar-gambar, ilustrasi, chart, grafik, poster, peta dan globe.

2.      Alat-alat yang bersifat auditif atau hanya dapat didengar misalnya; phonograph record, transkripsi electris, radio, rekaman pada tape recorder.

3.      Alat-alat yang bisa dilihat dan didengar, misalnya film dan televisi, benda-benda tiga dimensi yang biasanya dipertunjukkan, misalnya; model, spicemens, bak pasir, peta elektris, koleksi diorama.

4.      Dramatisasi, bermain peran, sosiodrama, sandiwara boneka, dan lingkungan.

Bila jenis-jenis media pembelajaran dihubungkan dengan klasifikasi pengalaman belajar anak mulai hal-hal yang paling konkrit sampai kepada hal-hal yang dianggap paling abstrak dapat dilihat diagram Edgar Dale di bawah ini. Klasifikasi pengalaman tersebut diikuti secara luas oleh kalangan pendidik dalam menentukan alat bantu apa seharusnya yang sesuai untuk pengalaman belajar tertentu. Klasifikasi pengalaman tersebut lebih dikenal dengan Kerucut Pengalaman (Cone of Experience).

Abstrak

Verbal
Simbol
Visual (1)
Visual (2)
Radio
Film
Televisi
Pameran
Karyawisata
Demonstrasi
Pengalaman dramatisasi
Pengalaman tiruan
Pengalaman langsung

Konkrit

Dari gambar di atas terlihat bahwa kerucut pengalaman tersebut terdiri dari 12 macam klasifikasi media pembelajaran yang digunakan, yaitu:

1.      Pengalaman langsung dan bertujuan, pengalaman ini diperoleh dengan berhubungan secara langsung dengan benda, kejadian, atau objek yang sebenarnya. Di sini siswa secara aktif bekerja sendiri, memecahkan masalah sendiri yang kesemuanya didasarkan atas tujuan yang ditetapkan sebelumnya.

2.      Pengalaman tiruan, pengalaman ini diperoleh melalui benda-benda atau kejadian-kejadian tiruan yang sebenarnya.

3.      Pengalaman melalui dramatisasi, pengalaman ini diperoleh dalam bentuk drama dari berbagai gerakan.

4.      Demonstrasi, yaitu pengalaman melalui percontohan atau pertunjukan mengenai sesuatu hal atau sesuatu proses.

5.      Pengalaman melalui karyawisata, pengalaman semacam ini diperoleh dengan mengajak kelas ke objek di luar kelas dengan maksud memperkaya dan memperluas pengalaman siswa.

6.      Pengalaman melalui pameran. Pengalaman tersebut diperoleh melalui pertunjukan hasil pekerjaan siswa, perkembangan dan kemajuan sekolah.

7.      Pengalaman melalui televisi.

8.      Pengalaman melalui gambar hidup atau film.

9.      Pengalaman melalui radio.

10. Pengalaman melalui gambar visual. Pengalaman ini diperoleh dari segala sesuatu yang diwujudkan secara visual dalam bentuk dua dimensi sebagai curahan perasaan dan pikiran, misalnya lukisan ilustrasi, karikatur, kartun, poster, potret, slide, dan sebagainya.

11. Pengalaman melalui lambang visual. Pengalaman ini diperoleh melalui lambang-lambang visual; seperti hasil lukisan yang bentuknya lengkap atau tidak lengkap (sketsa), kombinasi garis dengan gambar, dan sebagainya.

12. Pengalaman melalui lambang kata. Pengalaman ini diperoleh dalam buku dan bahan bacaan.

Sumber File: Materi Diklat  PAI SD/MI dari Pak Sutarno, S.Pd.I Guru Agama Islam SDN Petung Jatiyoso Karanganyar


PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL DAN

BERBASIS MULTIPLE INTELLIGENCES

1. Pendekatan Kontektual

a. Pengertian

Pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.

Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata  dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat

b. Pemikiran Tentang Belajar

Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.

Proses belajar

  • Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri
  • Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru
  • Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan
  • Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisak, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
  • Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
  • Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi didrinya, dan bergelut dengan ide-ide
  • Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang.

Transfer Belajar

  • Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain
  • Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)
  • Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu

Siswa sebagai Pembelajar

  • Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru
  • Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting
  • Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui.
  • Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.

Pentingnya  lingkungan Belajar

  • Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.
  • Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya
  • Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar
  • Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.

c. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Tradisional

No CTL Tradisional
1 Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa Pemilihan informasi ditentukan oleh guru
2 Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima informasi
3 Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
4 Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan
5 Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu
6 Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok) Waktu belajar siswa se-bagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, men-dengar ceramah, dan mengisi latihan yang membosankan (melalui kerja individual)
7 Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
8 Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
9 Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor
10 Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tsb keliru dan merugikan Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman
11 Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik
12 Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
13 Hasil belajar diukur  melalui penerapan penilaian autentik Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.

2. Multiple Intelligences dan Gaya Belajar

Manusia diciptakan unik. Tidak seorang pun manusia di dunia ini yang diciptakan sama, meski kembar sekalipun. Inilah yang sejak lama dalam ilmu pendidikan dikenal dengan konsep perbedaan individual (individual differences). Oleh karena itu, sistem klasikal sebenarnya tidak sesuai dengan konsep perbedaan individual, karena sistem klasikal menganggap semua siswa yang ada di kelas itu dalam banyak aspek dipandang homogin (sama).

Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan penggunaan metode ceramah dalam proses belajar mengajar. Dengan metode ceramah, materi yang diajarkan sama, prasyarat kemampuan yang dimiliki siswa (prerekuisit) siswa dianggap sama, tugas-tugas yang diberikan kepada siswa juga sama, dan media dan alat peraga yang digunakan juga sama. Akhirnya, hasil akhir pengetahuan, sikap, dan keterampilan atau yang disebut sebagai tujuan instruksional yang diharapkan juga sama. Bahkan tes hasil belajar yang digunakan untuk mengukur kompetensi siswa juga sama. Itulah karakteristik sistem klasikal dalam proses pembelajaran.

Pelaksanaan sistem itulah yang kemudian memperoleh kritik dari banyak pakar yang berpihak kepada sistem pendidikan individual. Salah satunya adalah Howard Gardner, seorang professor ilmu syaraf (neurology) dari Universitas Harvard pada tahun 1984 (Suparlan, 2004: 198). Kontribusi Gardner yang sangat besar dalam ilmu pendidikan dan ilmu pengetahuan pada umumnya adalah teori tentang kecerdasan ganda, sebagaimana tertuang dalam bukunya bertajuk Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelligence yang menyebutkan tujuh tipe kecerdasan manusia, yakni:

1.            linguistic intelligence atau kecerdasan linguistik (bahasa).

2.            musical intelligence atau kecerdasan musikal

3.            logical-mathematical intelligence atau kecerdasan logical-matematikal

4.            visual/spatial intelligence atau kecerdasan visual/spasial

5.            body/kinesthetic intelligence atau kecerdasan ragawi/kinestetis

6.            intrapersonal intelligence atau kecerdasan intrapersonal

7.            interpersonal intelligence atau kecerdasan interpersonal.

 

Menurut Gardner, jenis pekerjaan, karir, atau profesi tertentu akan melibatkan kombinasi dari beberapa macam kecerdasan. Jarang sekali jenis pekerjaan tertentu itu yang hanya memerlukan satu dari ketujuh kecerdasan tersebut. Namun, dapat juga dipastikan bahwa jenis pekerjaan tersebut akan memerlukan satu kecerdasan yang sangat dominan. Sebagai missal, jenis pekerjaan wartawan atau penulis, pasti akan memerlukan kecerdasan bahasa. Selain itu, jenis pekerjaan itu pasti akan memerlukan kecerdasan interpersonal, yakni satu tipe kecerdasan yang membutuhkan keahlian dalam berkomunikasi dengan orang lain. Seorang pelaut, seperti orang Puluwat yang tinggal di Pulau Caroline yang memiliki kemahiran dalam mendayung kano di laut bebas, atau bandingkan dengan orang Raas di Kepulauan Kangean, Madura, Provinsi Jawa Timur yang konon memiliki kemahiran dalam menyelam sampai beberapa jam untuk mencari kerang di laut dalam. Mereka pasti harus memiliki satu kecerdasan yang dominan, yakni kecerdasan ragawi atau kinestetis dan juga kecerdasan spasial. Namun demikian, mereka juga pasti akan memiliki paduan dengan tipe kecerdasan yang lainnya.

Tipe kecerdasan tidak hanya satu. Setiap orang memiliki gaya belajar yang unik, sama halnya dengan sidik jari. Oleh karena itu, sekolah yang efektif harus dapat mengenali secara dini kecerdasan masing-masing peserta didik, dan kemudian memberikan layanan yang sesuai dengan tipe kecerdasan yang mereka miliki. Peran penting pendidikan dalam mengembangkan kecerdasan minimal ada dua macam. Pertama, mengenalinya secara dini tipe kecerdasan setiap peserta didik, (2) memberikan model layanan pendidikan yang sesuai dengan kecerdasan tersebut, (3) mengasah dan mengembangkan kecerdasan semua peserta didik secara optimal.

Dengan demikian, peserta didik yang dikenali memiliki kecerdasan bahasa, sebagai misal, harus diberikan kesempatan untuk dapat membaca, menulis, dan mendengarkan kata-kata yang terkait dengan topik mata pelajaran yang diajarkan. Siswa yang dikenali memiliki kecerdasan logis-matematis, harus diberikan lebih banyak kesempatan untuk mempelajari prinsip-prinsip matematika, seperti operasi hitung, dan lain sebagainya. Demikian juga dengan siswa yang telah dikenali memiliki kecerdasan ganda ragawi-kinestetik, atau satu jenis kecerdasan musikal, yang ternyata jika dikembangkan secara optimal, peserta didik diharapkan mampu menekuni pekerjaan sebagai olahragawan, atau penari terkenal, bukan hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional, dan bahkan internasional.

Dalam proses belajar mengajar, pendidik setidaknya harus memperhatikan kecenderungan kecerdasan potensial masing-masing peserta didik. Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan logis-matematis pasti akan memiliki gaya belajar (learning style) yang berbeda dengan peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan linguistik, bahkan dengan peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan ragawi-kinestetis. Peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan ragawi-kinestetis akan merasa lega jika diberikan kesempatan untuk terjun ke lapangan olahraga atau ke tempat latihan tari-menari. Demikian juga dengan peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan yang lainnya. Pada prinsipnya, ada tiga gaya mengajar yang paling umum dapat diamati oleh pendidik. Pertama, gaya visual (visual learning), yakni gaya belajar yang lebih suka menggunakan gambar-gambar, bahan bacaan yang dapat dilihat. Kedua, tipe audio, yang lebih suka mendengarkan, misalnya mendengarkan ceramah atau penjelasan dari gurunya, atau mendengarkan bahan audio seperti radio kaset, dan sebagainya. Ketiga, tipe taktil, yang lebih suka menggunakan tangan dan badannya. Peserta didik tipe taktil akan tidak suka diminta duduk manis untuk mendengarkan ceramah guru seperti yang disukai oleh peserta didik yang memiliki gaya audio. Peserta didik gaya taktil akan senang untuk diminta untuk mengerjakan pekerjaan tangan atau mengotak-atik mesin perkakas. Demikianlah keragaman potensi kecerdasan ganda dan gaya belajar peserta didik yang harus medapatkan perhatian pendidik secara seimbang, tidak pilih kasih, tidak diskriminatif.

Metode penyampaian harus bisa mengkombinasikan gaya belajar visual, auditori, dan kinestetis dan bila memungkinkan juga mengakomodasi gaya penciuman dan pengecapan. Pada tahap ini, memori jangka panjang akan dapat diakses apabila proses pemsukan informasi bersifat unik dan menarik. Gunakan strategi yang berbeda sesuai dengan situasinya, misalnya active concert, membaca dengan cara dramatisasi, menggunakan poster, gunakan pendekatan mendengar secara aktif dan berikan juga waktu untuk melakukan refleksi, review.

Lalu bagaimana tepatnya metode pengajaran/pemasukan informasi untuk mengakomodasi masing-masing gaya belajar?

Visual:

  • gerakan tubuh/body language
  • buku/majalah
  • grafik, diagram
  • peta pikiran/mind mapping
  • OHP/LCD/Komputer
  • poster
  • kolase
  • flowchart
  • Highlighting (memberikan warna pada bagian yang dianggap penting)
  • kata-kata kunci yang dipajang di sekeliling kelas
  • tulisan dengan warna yang menarik
  • model/peralatan

Auditori:

  • instruksi guru
  • suara yang jelas dengan intonasi yang terarah dan bertenaga
  • membaca dengan keras
  • pembicara tamu
  • sesi tanya jawab
  • rekaman ceramah/kuliah
  • diskusi dengan teman
  • belajar dengan mendengarkan atau menyampaikan informasi
  • kuliah
  • role play / permainan peran
  • musik
  • kerja kelompok

Kinestetik:

  • merancang dan membuat aktivitas
  • keterlibatan fisik
  • field trip
  • membuat model
  • memainkan peran/skenario
  • highlighting
  • berjalan
  • membuat mind mapping
  • menggunakan gerakan tubuh untuk menjelaskan sesuatu
  • waktu istirahat yang teratur

Sumber File: Materi Diklat PAI SD/MI dari pak Sutarno, S.Pd.I Guru Agama Islam SDN Petung Jatiyoso Karanganyar

 


Download:Makalah model pembelajaran

MODEL DAN STRATEGI  PEMBELAJARAN

B.   Pengertian

Istilah model pembelajaran amat dekat dengan pengertian strategi pembelajaran dan dibedakan dari istilah strategi, pendekatan dan metode pembelajaran. Istilah model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi,  metode, dan teknik. Sedangkan istilah “strategi “ awal mulanya dikenal dalam dunia militer terutama terkait dengan perang atau dunia olah raga, namun demikian makna tersebut meluas tidak hanya ada pada dunia militer atau olahraga saja akan tetapi bidang ekonomi, sosial, pendidikan. Menurut Ruseffendi (1980), istilah strategi, metode, pendekatan dan teknik mendefinisikan  sebagai berikut :

1. Strategi pembelajaran adalah separangkat     kebijaksanaan yang terpilih, yang telah dikaitkan dengan faktor yang menetukan warna atau strategi tersebut, yaitu :

a.   Pemilihan materi pelajaran  (guru atau siswa)

b. Penyaji materi pelajaran (perorangan atau kelompok, atau belajar mandiri)

c.   Cara menyajikan materi pelajaran (induktif atau deduktif, analitis atau sintesis, formal atau non formal)

d.  Sasaran penerima materi pelajaran ( kelompok,   perorangan, heterogen, atau  homogen.

2. Pendekatan Pembelajaran adalah jalan atau arah yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran  dilihat bagaimana materi itu disajikan. Misalnya memahami suatu prinsip dengan  pendekatan induktif atau deduktif.

3. Metode Pembelajaran adalah cara mengajar secara umum yang dapat diterapkan pada semua mata pelajaran, misalnya mengajar dengan ceramah, ekspositori, tanya jawab, penemuan terbimbing dan sebagainya.

4.  Teknik mengajar adalah penerapan secara khusus suatu metode pembelajaran yang telah disesuaikan dengan kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan media pembelajaran serta kesiapan siswa. Misalnya teknik mengajarkan perkalian dengan penjumlahan berulang.

Sedangkan Model Pembelajaran adalah sebagai suatu disain yang menggambakan proses rincian dan penciptaan situasi lingkungan yang memungkinkan siswa berinteraksi sehingga terjadi perubahan atau perkembangan pada diri siswa (Didang : 2005)

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998 : 203), pengertian strategi (1) ilmu dan seni menggunakan sumber daya bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam dan perang damai, (2) rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.

Soedjadi (1999 :101) menyebutkan strategi pembelajaran adalah suatu siasat melakukan kegiatan pembelajaran yang bertujuan mengubah keadaan pembelajaran menjadi pembelajaran yang diharapkan. Untuk dapat mengubah keadaan itu dapat ditempuh dengan berbagai pendekatan pembelajaran. Lebih lanjut Soedjadi menyebutkan bahwa dalam satu pendekatan dapat dilakukan lebih dari satu metode dan dalam satu metode dapat digunakan lebih dari satu teknik. Secara sederhana dapat dirunut sebagai rangkaian :

teknik          metode            pendekatan          strategi                  model

Istilah  “ model pembelajaran” berbeda dengan strategi pembelajaran, metode pembelajaran, dan pendekatan pembelajaran. Model pembelajaran meliputi suatu model pembelajaran yang luas dan menyuluruh. Konsep model pembelajaran lahir dan berkembang dari pakar psikologi dengan pendekatan dalam setting eksperimen yang dilakukan. Konsep model pembelajaran untuk pertama kalinya dikembangkan oleh Bruce dan koleganya (Joyce, Weil dan Showers, 1992)

Lebih lanjut  Ismail (2003) menyatakan  istilah Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus yang tidak dipunyai oleh strategi atau metode tertentu yaitu :

1.     rasional teoritik yang logis disusun oleh perancangnya,

2.     tujuan pembelajaran yang akan dicapai,

3.     tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil dan

4.     lingkungan belajar  yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.

Berbedanya  pengertian antara model, strategi, pendekatan dan metode serta teknik  diharapkan guru mata pelajaran umumnya dan khususnya matematika mampu memilih model dan mempunyai strategi pembelajaran yang sesuai dengan materi dan standar kompetensi serta kompetensi dasar dalam standar isi.

C. Pemilihan Model Pembelajaran Sebagai Bentuk Implementasi Strategi Pembelajaran.

Dalam pembelajaran guru diharapkan mampu  memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Dimana dalam pemilihan  Model pembelajaran meliputi pendekatan suatu model pembelajaran yang luas dan menyeluruh. Misalnya  pada model pembelajaran berdasarkan masalah, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru. Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama diantara siswa-siswa. Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.

Model-model pembelajaran dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks  (pola urutannya) dan sifat lingkungan belajarnya. Sebagai contoh pengklasifikasian berdasarkan tujuan adalah pembelajaran langsung, suatu model pembelajaran yang baik untuk membantu siswa mempelajari keterampilan dasar seperti tabel perkalian atau untuk topik-topik yang banyak berkaitan dengan penggunaan alat. Akan tetapi ini tidak sesuai bila digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep matematika tingkat tinggi.

Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran adalah pola yang menggambarkan urutan alur tahap-tahap keseluruhan yang pada umumnya disertai dengan serangkaian kegiatan pembelajaran. Sintaks (pola urutan) dari suatu model pembelajaran tertentu menunjukkan dengan jelas kegiatan-kegiatan apa yang harus dilakukan oleh guru atau siswa. Sintaks (pola urutan) dari bermacam-macam model pembelajaran memiliki komponen-komponen yang sama. Contoh, setiap model pembelajaran diawali dengan upaya menarik perhatian siswa dan memotivasi siswa agar terlibat dalam proses pembelajaran. Setiap model pembelajaran diakhiri dengan tahap menutup pelajaran,  didalamnya meliputi kegiatan merangkum pokok-pokok pelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan bimbingan guru.

Tiap-tiap model pembelajaran membutuhkan sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Misalnya, model pembelajaran kooperatif memerlukan lingkungan belajar yang fleksibel seperti tersedia meja dan kursi yang mudah dipindahkan. Pada model pembelajaran diskusi para siswa duduk dibangku yang disusun secara melingkar atau seperti tapal kuda. Sedangkan model pembelajaran langsung siswa duduk berhadap-hadapan dengan guru.

Pada model pembelajaran kooperatif siswa perlu berkomunikasi satu sama lain, sedangkan pada model pembelajaran langsung siswa harus tenang dan memperhatikan guru.

Pemilihan model dan metode pembelajaran menyangkut strategi dalam pembelajaran. Strategi pembelajaran adalah perencanaan dan tindakan yang tepat dan cermat mengenai kegiatan pembelajaran agar kompetensi dasar dan indikator pembelajarannya dapat tercapai. Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa. Di madrasah, tindakan pembelajaran ini dilakukan nara sumber (guru) terhadap peserta didiknya (siswa). Jadi, pada prinsipnya strategi pembelajaran sangat terkait dengan pemilihan model dan metode pembelajaran yang dilakukan guru dalam menyampaikan materi bahan ajar kepada para siswanya.

Pada saat ini banyak dikembangkan model-model pembelajaran. Menurut penemunya, model pembelajaran temuannya tersebut dipandang paling tepat diantara model pembelajaran yang lain. Untuk menyikapi hal tersebut diatas, maka perlu kita sepakati hal-hal sebagai berikut :

1.      Siswa Pendidikan Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah banyak yang masih berada dalam tahap berpikir konkret. Model dan metode apapun yang diterapkan, pemanfaatan alat peraga masih diperlukan dalam menjelaskan beberapa konsep matematika.

2.      Kita tidak perlu mendewakan salah satu model pembelajaran yang ada. Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan dan kekuatan.

3.      Kita dapat memilih salah satu model pembelajaran yang kita anggap sesuai dengan materi pembelajaran kita; dan jika perlu kita dapat menggabungkan beberapa model pembelajaran.

4.      Model apa pun yang kita terapkan, jika kita kurang menguasai meteri dan tidak disenangi para siswa, maka hasil pembelajaran menjadi tidak efektif.

5.      Oleh kerena itu komitmen kita adalah sebagai berikut :

a.       Kita perlu menguasai materi yang harus kita ajarkan, dapat mengajarkannya, dan terampil dalam menggunakan alat peraga.

b.      Kita berniat untuk memberikan yang kita punyai kepada para siswa dengan sepenuh hati, hangat, ramah, antusias, dan bertanggung jawab.

c.       Menjaga agar para siswa “mencintai” kita, menyenangi materi yang kta ajarkan, dengan tetap menjaga kredibilitas dan wibawa kita sebagai guru dapat mengembangkan model pembelajaran sendiri. Anggaplah kita sedang melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas.

Model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh para guru sangat beragam. Model pembelajaran adalah suatu pola atau langkah-langkah pembelajaran tertentu yang diterapkan agar tujuan atau kompetensi dari hasil belajar yang diharapkan akan cepat dapat di capai dengan lebih  efektif dan efisien.

D. Macam-Macam Model Pembelajaran

  1. Pembelajaran mencari dan bermakna
  2. Pembelajaran terpadu
  3. Pembelajaran kooperatif
  4. Pembelajaran Picture and Picture
  5. Pembelajaran cooperative integrated Reading and composition (CIRC)
  6. Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah
  7. Model Penemuan Terbimbing
  8. Model Pembelajaran Langsung
  9. Model Missouri Mathematics Project (MMP)
  10. Model Pmbelajarn Problem solving
  11. Model Pmbelajarn Problem posing

12. Pembelajaran kontekstual.

Langkah-langkah pada Madel model Pembelajaran

1. Model Pembelajaran Langsung

Sintaknya :

 

No. Langkah-langkah Peran Guru
1

 

 

2

 

 

3

 

 

4

 

 

5

Menjelaskan tujuan pembela-jaran dan mempersiapkan siswa

 

Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan

 

Membimbing pelatihan

 

 

Menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik

 

Memberikan kesempatan untuk pelatihan dan penerapan

 

 

Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pembelajaran, pentingnya pelajaran dan memotivasi siswa

 

Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau memberi informasi tahap demi tahap

 

Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal

 

 

Guru mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik dan memberikan umpan balik

 

Guru mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, khusus penerapan pada situasi kompleks dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

2. Model Pembelajaran Kooperatif

 

1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memberi motivasi siswa agar dapat belajar dengan aktif dan kreatif

 

2 Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan cara demonstrasikan atau lewat bahan bacaan

 

3 Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas-tugas

 

5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari dan juga terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok

 

6 Memberi penghar-gaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar individu maupun kelompok

 

3. Model Pembelajaran Kooperatif tipe STAD

 

1 Langkah 1 Guru menyampaikan materi pembelajaran ke siswa secara klasikal (paling sering menggunakan model pembelajaran langsung,

 

 

2 Langkah 2 Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok (setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa yang heterogen, baik dari segi kemampuan, agama, jenis kelamin, atau lainnya).
3 Langkah 3 Dilanjutkan diskusi kelompok untuk penguatan materi (saling bantu membantu untuk memperdalam materi yang sudah diberikan)
4 Langkah 4

 

Guru memberikan tes individual, masing-masing mengerjakan tes tanpa boleh saling bantu membantu diantara anggota kelompok.
5 Langkah 5

 

 

 

Guru memberi penghargaan pada kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan individual dari skor dasar ke skor kuis (cara penilaian akan dijelaskan di akhir bab ini)

 

4. Model pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw

a.       Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok (disebut dengan kelompok asal, setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang heterogen). Setiap anggota kelompok nantinya diberi tugas untuk memilih dan mempelajari materi yang telah disiapkan oleh guru (misal ada 5 materi/topik).  (Gambar dapat dilihat di versi download)

b. Di kelompok asal, setelah masing-masing siswa menentukan pilihannya , mereka langsung membentuk kelompok ahli berdasarkan materi yang dipilih. Ilustrasinya adalah sebagai berikut: (gambar dapat dilihat di versi download)

c.       Setelah setiap kelompok ahli mempelajari (berdiskusi) tentang materinya masing-masing, setiap anggota dalam kelompok ahli kembali lagi ke kelompok asal untuk menjelaskan/menularkan apa-apa yang telah mereka pelajari/diskusikan di kelompok ahli. Ilustrasinya adalah sebagai berikut:

d.      Dalam tipe ini peran guru lebih banyak sebagai fasilitator, yaitu memfasilitasi agar pelaksanaan kegiatan diskusi dalam kelompok ahli maupun penularan dalam kelompok asal berjalan secara efektif dan optimal.

e.       Setelah masing-masing anggota dalam kelompok asal selesai menyampaikan apa yang dipelajari sewaktu dalam kelompok ahli, guru memberikan soal/kuis pada seluruh siswa. Soal harus dikerjakan secara individual.

f.        Nilai dari pengerjaan kuis individual digunakan sebagai dasar pemberian nilai penghargaan untuk masing-masing kelompok. Teknik penilaian/penghargaan akan dijelaskan tersendiri di akhir bab pembelajaran kooperatif ini.

 

4. Model Pembelajaran Kooperatif tipe think Pair and Share

•         Guru mengajarkan materi seperti biasa, alat peraga disarankan .

•         Dengan tanya jawab, guru memberikan contoh soal.

•         Guru membrikan soal yg dikerjakan siswa berdasar persyaratan soal sebagai problem.

•         Siswa di pandu guru menyelesaikan soal.

•         Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya

•         Berawal dari kegiatan tersebut mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diuangkapkan para siswa

•         Guru memberi kesimpulan

•         Penutup

 

5. Langkah-langkah model pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP) yaitu :

Langkah pertama : Review

  • dengan cara mengulah ulang mata   pelajaran yang lalu,
  • membahas tugas yang diberikan /pekerjaan rumah.

Langkah kedua :Pengembangan

  • penyajian ide baru atau perluasan  konsep matematika yang  terdahulu
  • penjelasan tentang diskusi, demonstrasi, dengan contoh kongkret yang sifatnya piktoral dan simbolik.

Langkah ketiga :   Latihan Terkontrol

  • siswa merespon soal
  • guru mengamati
  • belajarnya kooperatf

Langkah keempat :  Seatwork

  • siswa bekerja sendiri untuk latihan atau perluasan konsep

Langkah kelima :  Pekerjaan Rumah

  • Tugas membuat pekerjaan  rumah.

 

6. Langkah-langkah model pembelajaran Penemuan Terbimbing

Langkah yang ditempuh  oleh guru dalam pembelajaran    adalah sebagai berikut :

  • Merumuskan masalah yang diberikan kepada siswa dengan data secukupnya. Perumusan  harus jelas, hindari pernyataan yang menimbulkan salah tafsir sehingga arah yang di tempuh siswa tidak salah.
  • Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang di perlukan. Bimbingan sebaiknya mengarah siswa untuk melangkah ke arah yang hendak dituju, melalui pertanyaan-pertanyaan, atau lembar kerja siswa (work sheet).
  • Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasi analisis yang dilakukan
  • Konjektur yang telah dibuat siswa, diperiksa oleh guru. Hal ini digunakan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, sehingga akan menuju arah yang hendak dicapai.
  • Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur teresbut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan kepada siswa untuk menyusunnya.
  • Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan atau soal tambahan.

 

7. Langkah-langkah Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah

Fase Indikator

Kegiatan Guru

1 Orientasi siswa kepada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang diperlukan, memotivasi siswa terlibat aktif dan kreatif dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya
2 Mengorganisasikan siswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

 

3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai  dan melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah
4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya
5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

 

8. Langkah-langkah Model pembelajaran Problem posing

Prinsipnya:mewajibkn siswa unt mengjukn soal sndiri melalui belajar soal scr mandiri.

Sintaknya

a.       guru menjelaskan materi pelajaran, alat peraga disarankan.

b.      .memberikn latihan soal secukupnya.

c.       siswa mengajukan soal yang menantang,& dapat menyelesaikan. Bisa secara kelompok.

d.      pertemuan berikutnya, guru menyuruh siswa menyajikan soal temuan di depan kelas.

e.       guru memberikan tugas rumah secara individual

9.. Langkah-langkah Model pembelajaran TGT

•        Beri informasi secara klasikal

•        Bentuk kelompok beranggotakan 4-5 siswa (kemampuan siswa heterogen)

•        Diskusi kelompok untuk penguatan pemahaman materi yang dikaitkan dengan kuis/latihan yang telah diberikan (mempelajari kembali)

•        Permainan/turnamen (dalam setiap kelompok diwakili satu orang)

•        Beri soal untuk dilombakan

•        Beri penghargaan pada kelompok yang wakilnya dapat maju terus sampai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

10. Langkah Model Pembelajaran Problem Solving

syarat (siswa)

a.       Memlki prasyarat untk mngrjakn soal tsb.

b.      Belum tahu cara pmchan soal tsb.

c.       Soal terjangkau

d.       Siswa mau dan berkehendak untk menyelesaikan soal tsb

Langkah guru

a.       Guru mengjarkn materi seperti biasa, alat peraga disarankan .

b.      Dngan tanya jawab, guru memberikan contoh soal.

c.       Guru membrikn soal yg dikerjakan siswa brdsar persyaratan soal sbgai problem.

d.      Siswa di pandu guru menyelesaikan soal.

11. Komponen Model Pembelajaran Kontekstual

1. Konstruktivisme

•         Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal

•         Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan

2. Inquiri (menemukan)

•         Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman

•         Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis

3.Questioning (bertanya)

•       Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa

•       Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry

4. Learning Community (masyarakat belajar)

•         Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar

•         Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri

•         Tukar pengalaman

•         Berbagi ide

5. Modeling  (pemodelan)

•         Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar

•         Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya

6. Authentic Assesment (penilaian yang sebenarnya)

•         Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa

•         Penilaian produk (kinerja)

•         Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual

7. Reflection (refleksi)

•         Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari

•         Mencatat apa yang telah dipelajari

•         Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok

 

12. Langkah Model Pembelajaran Example Non Example

CONTOH DAPAT DARI KASUS/GAMBAR YANG RELEVAN DENGAN KD

Langkah-langkah :

1.      Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran

2.      Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui OHP

3.      Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk memperhatikan/menganalisa gambar

4.      Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas

5.      Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya

6.      Mulai dari komentar/hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai

7.      Kesimpulan

13. Langkah Model Pembelajaran Role Playing

Langkah-langkah :

1.      Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan

2.      Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum kbm

3.      Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang

4.      Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai

5.      Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan

6.      Masing-masing siswa duduk di kelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan

7.      Setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas

8.      Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya

9.      Guru memberikan kesimpulan secara umum

10.  Evaluasi

11.  Penutup

14. Langkah Model Pembelajaran Group Investigation

Langkah-langkah :

1.      Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen

2.      Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok

3.      Guru memanggil ketua-ketua untuk satu materi tugas sehingga satu kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain

4.      Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif berisi penemuan

5.      Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan hasil pembahasan kelompok

6.      Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan

7.      Evaluasi

8.      Penutup

15. Langkah Model Pembelajaran Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

Langkah-langkah :

1.      Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang yang secara heterogen

2.      Guru memberikan wacana/kliping sesuai dengan topik pembelajaran

3.      Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/kliping dan ditulis pada lembar kertas

4.      Mempresentasikan/membacakan hasil kelompok

5.      Guru membuat kesimpulan bersama

6.      Penutup

Referensi:

•         Depdiknas. (2003). Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka

•         Ismail. (2003). Media Pembelajaran (Model-model Pembelajaran), Modul Diklat Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Matematika. Jakarta: Direktorat PLP.

•         Rahmadi Widdiharto. (2006). Model-model Pembelajaran Matematika. Makalah diklat guru pengembang matematika SMP. Yogyakarta: PPPG Matematika.

•         Slavin (1994). Cooperative Learning, Theory, Research, and Practice (Second Edition).

Sumber file:  DIKLAT PAI SD/MI dari Pak Sutarno, S.Pd.I Guru SD N Petung Jatiyoso Karanganyar


TENSES QUIZ

TENSES QUIZ ini biasanya saya berikan di pertemuan ke-dua atau ketiga untuk siswa kelas XII  semester 1. Tenses Quiz ini bertujuan untuk menguji kemampuan kognitif siswa tentang  pemahaman  mereka  mengenai “The Seven Basic English Tenses” yang harus mereka kuasai dengan baik.

Mengapa hanya tujuh tenses?. Berdasarkan pengalaman saya pribadi  dalam proses pembelajaran bahasa Inggris berbasis jenis teks, hanya ada tujuh jenis  tenses yang secara dominan didiskusikan dan dipelajari dalam berbagai jenis teks yang ada; mulai dari  procedure text sampai dengan review text. Semoga bermanfaat.

TENSES  QUIZ

Name                                 : _________________________

Student’s Number        : _________________________

 

No. Tenses Pattern Time Reference Examples
1 Simple Present  

(+)

 

(-)

 

(?)

 

 

   
2 Simple past  

(+)

 

(-)

 

(?)

 

   
3 Simple future  

(+)

 

(-)

 

(?)

 

   
4 Present continuous  

(+)

 

(-)

 

(?)

 

 

   
5 Past continuous  

(+)

 

(-)

 

(?)

 

 

   
6 Present perfect  

(+)

 

(-)

 

(?)

 

 

   
7 Past perfect  

(+)

 

(-)

 

(?)

 

 

   

 

 

 

 

 

 


Basic Questions

Basic Questions adalah pertanyaan-pertanyaan ringan yang sering saya gunakan sebagai kegiatan “warming up” di hari pertama-atau di awal semester  bagi siswa kelas X baru. Kegiatan ini bersifat menguji kemampuan listening dan writing siswa serta membuka kembali memori siswa setelah hampir sebulan libur.

Pertanyaan no 1 s.d 22 mengingatkan kembali siswa kosa kata tentang personal information and interest, pertanyaan nomor 23 s,d 30 tentang numbers dan pertanyaan no 31 s.d 35 mengingatkan kembali siswa tentang tenses.

Prosedur:

1. Siswa diminta menyiapkan alat tulis (pulpen, kertas dll)

2. Siswa diminta membagi kertas menjadi dua bagian, sebelah kiri untuk menuliskan pertanyaan lisan yang diperdengarkan oleh guru, sebelah kanan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

3. Guru mulai mengungkapkan pertanyaan secara lisan dan siswa diminta menulis pertanyaan yang diungkapkan oleh guru. Guru mengulang pertanyaan maksimal 3 kali

4. Setiap selesai satu pertanyaan, siswa diberi kesempatan 2-3 menit untuk menjawab

  1. Spell your name!
  2. How old are you?
  3. When were you born?
  4. Where do you live?
  5. How many brothers  or sister do you have?
  6. What  are your father and mother’s  professions?
  7. Where do your parents work?
  8. How old are your parents?
  9. Do you live with your parents?
  10. How far is your house from this school?
  11. How do you go to school?
  12. What time do you leave from your house in the morning?
  13. How long do you need to go school?
  14. What  is your favourite’s colour?
  15. What is your house’s colour?
  16. What kind of pet do you like?
  17. What is your hobby?
  18. What is your favourite food?
  19. What is your favourite drink?
  20. What is your favourite music?
  21. What is your favourite movie?
  22. What kind of book do you like?
  23. 4 + 2    = 6
  24. 5 – 3    = 2
  25. 5 x 6    = 30
  26. 25 / 4   = 5
  27. ¼
  28. ½
  29. 1/3
  30. 2/3
  31. Kami sering bermain game di computer
  32. Andi memperbaiki sepeda motornya di halaman rumahnya kemarin pagi
  33. Kinta dan saya akan mendatangi  rumahmu nanti malam
  34. Sinta tidak masuk  ke sekolah dua hari yang lalu
  35. Saya baru saja sarapan

Selamat memodifikasi pertanyaan dan selamat mencoba!!!!


BRITISH OR AMERICAN ? : An Introduction

By: Indri Wuryaningsih, S.Pd

Before 1500s, English language was only used in great Britain and the area around it. After the century, English started to spread around the world. The spreading, possibly, is caused by the great emigration from England to America and Australia. Nowadays, hundreds of years after the great emigration, English becomes the international language and second language in many countries. This fact tends to raise many kinds of English : British English (English used by Englishman), American English (English used by American people), Australian English (English used by Australian), Black English(English used by Afro-American people or generally known as “Negro”).

From the kinds of English above, however, there are only two styles  which have great influence; those are British English and American English. It doesn’t mean that the other styles is not important. Briefly, in this paper the writer just wants to discuss about the differences between British and American English.  How can we know the differences?

If  we read English book we will soon know whether the author of the book uses British English or American English from the diction he chooses. The following are some examples of words written differently in   British English or American English:

British American British American
Centre 

Sombre

Theatre

Armour

Colour

Honour

Neighbour

Rumour

Plough

cheque

Center 

Somber

Theater

Armor

Color

Honor

Labor

Rumor

Plow

check

Grey 

Programme

Jewellery

Storey (tingkat)

Pyjamas

Tyre

Connexion

gaol

Gray 

Program

Jewelry

Story

Pajamas

Tire

Connection

jail

The second way in detecting whether  British English or American English used in a text is by  referring to “marker”.  There are many kinds of things which have different name in England or America. Gasoline, for example, in England is called petrol but in America is named gas. So “pompa bensin” is called petrol station in England and gas station in America. The others are as in the following examples:

British American British American
Zebra crossing 

Waist coast

Underground train

Time table

Telephone box

Taxi

Sweet biscuits

Rubbish

Ring

pavement

Pedestrian crossing 

Vest

Subway

Schedule

Telephone booth

Cab

Cookies

Garbage

Call (up)

Side walk

Railway 

Public school

Public lavatory

Post

Lorry

Jumper

Holiday

Flat

Picture, film

autumn

Railroad 

Private school

Rest room (WC)

Mail

Truck

Sweater

Vacation

Apartment

Movie

fall

The third way is by checking the grammar used in the conversation or text. For example, the use of  verb have in a sentence.

British American

I haven’t time                                                  I don’t have time.

Have you time for me?                         Do you have time for me?

In the use of subjunctive:

British American

The commander demanded the soldiers             The commander demanded the soldiers

should assemble on fort Knox soon.                 assemble on  fort Knox soon.

The dentist suggested that she should The dentist suggested that she brush

brush her teeth before sleeping.             her teeth before sleeping.

As what we see in the examples above, British English put on should + infinitive without to after that …phrase preceded by certain verbs (demand, suggest, insist, urge) while American English doesn’t use should but infinitive without to regardless the subject or the tenses of the sentence.

In spoken British English, to express future tense modal shall is often  used with first pronouns ( I and We) . But American English uses will to shall.

Spoken British English                                        Spoken American English

We shall go to Paris next week                       We will go to Paris next week.

I shall finish this report tomorrow                     I will finish this report tomorrow

The use of preposition in the front of street name is also different:

British                                                             American

My Family used to live in Lela street                 My Family used to live on Lela street

We saw the differences between British English and American English. Which one is better?. Both of them are good.  We can choose one of it as long as we are consistence with our choice.

Choose one chair!

Skh, July 20 2003

Dimuat di Majalah “Suara Al-Hadi”, dalam rubrik “English Corner”.  Majalah  Bulanan di SMP Al Hadi Mojolaban Sukoharjo tahun 2003. Diringkas  dari : Bahasa Inggris, Wishnubroto Widarso,  Penerbit  Kanisius, 1989

(Sebuah tulisan ketika kami dulu “belajar menulis  dalam bahasa Inggris“. Guru pun ketika jarang berlatih menulis ternyata mengalami banyak  kesulitan. Ketika kami membaca ulang tulisan ini, kami sering tertawa sendiri, betapa banyaknya kesalahan yang kami buat-dalam berbagai aspek penulisan. JADI, KALAU KITA MEMINTA SISWA MENULIS SEBUAH TEKS, SUDAHKAH KITA MENULIS TEKS BUATAN KITA SENDIRI?…….JANGAN-JANGAN KETIKA KITA DISURUH MENULIS……HASILNYA LEBIH BURUK DARI SISWA KITA…….HE HE HE)


Download: RPP-Lomba

Sumber : http://www.scribd.com

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

(Descriptive – Tour Guide)

Nama Sekolah              : SMA YPPI 1 Surabaya

Nama Guru                  : Hamzah Fauzi S.Pd

Jenjang Pendidikan : SMA

Mata Pelajaran             : Bahasa Inggris

Materi Pokok               : Descriptive Text

Kelas/Semester            : X/1

Alokasi waktu              : 7 x 45 menit

I. Standar Kompetensi

  1. Memahami/ mengungkapkan makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal dalam konteks kehidupan sehari- hari.
  2. Memahami/ mengungkapkan makna teks fungsional pendek dan teks monolog sederhana descriptive, narrative dan  dalam konteks kehidupan sehari- hari.
  3. Memahami/ mengungkapkan makna teks tulis fungsional pendek dan esei sederhana dalam bentuk descriptive, narrative dalam konteks kehidupan sehari- hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan.

II. Kompetensi Dasar

Speaking – Writing

III. Indikator

  1. Siswa mendiskripsikan tempat – tempat di objek wisata dengan struktur teks yang tepat.
  2. Siswa mempresentasikan tempat – tempat di objek wisata di depan siswa lain untuk kemudian mempresentasikannya ke pengunjung lain (tour guide).
  3. Siswa bertanya dan merespon pertanyaan WH maupun YES/NO questions dengan tepat.
  4. Siswa membuat/menulis brosur atau poster sederhana secara descriptive dengan menggunakan struktur dan fitur bahasa yang tepat.

IV. Tujuan Pembelajaran

  1. Siswa dapat mendiskripsikan secara lisan tempat-tempat di objek wisata berdasarkan gambar atau data yang mereka dapatkan
  2. Siswa dapat mempresentasikan tempat – tempat di objek wisata tersebut di depan siswa lain dan para pengunjung (tour guide).
  3. Siswa dapat berinteraksi dengan bertanya dan merespon pertanyaan WH maupun YES/NO questions dengan tepat.
  4. Siswa dapat membuat/menulis brosur atau poster sederhana secara descriptive berdasarkan gambar/data yang mereka dapatkan dengan menggunakan struktur dan fitur bahasa yang tepat.

V. Materi Pembelajaran

  1. Tema                : Descriptive text

Sub Tema         : Describing Places

A kind of text which is to describe a particular person, place, or thing. The generic structure of the text is identification and description.

  1. 2. WH and YES/NO questions: What is the building used for? Do the visitors often come here?

VI. Strategi Pembelajaran

Descriptive

Tatap Muka Terstruktur Mandiri
  • Mengamati gambar-gambar yang tersedia.
  • Menuliskan kata sifat yang berkaitan dengan penampilan gambar atau model gambar.
  • Menyusun kata – kata sifat tersebut sehingga menjadi kalimat yang bagus.

 

  • Mencari dan mengumpulkan data tempat-tempat yang ada di objek wisata, meliputi siapa yang sering berkunjung disana, apa saja yang dapat dibeli di tempat itu, fungsi tempat, dan lain-lain.
  • Mengambil gambar untuk dijadikan brosur/poster sederhana.
  • Siswa berlatih mendiskripsikan tempat-tempat yang sudah mereka dapat data-datanya di hadapan siswa lain dengan struktur yang benar.
  • Mempresentasikan dengan mengajak pengunjung lain (tour guide) ke tempat-tempat yang ada di objek wisata tersebut. Kegiatan ini dilakukan secara dwi bahasa dengan komposisi 75 % bahasa Inggris dan 25 % bahasa Indonesia.
  • Siswa berlatih mendiskripsikan tempat-tempat yang sudah mereka dapat data-datanya di hadapan siswa lain dengan struktur yang benar.

Mempresentasikan dengan mengajak pengunjung lain (tour guide) ke tempat-tempat yang ada di objek wisata tersebut. Kegiatan ini dilakukan secara dwi bahasa dengan komposisi 75 % bahasa Inggris dan 25 % bahasa Indonesia

WH – YES/NO Questions

Tatap Muka Terstruktur Mandiri
  • Mengamati model interaksi interpersonal yang diperagakan oleh guru atau teman dengan menggunakan beberapa pertanyaan.
  • Menggolongkan pertanyaan-pertanyaan yang diamati ke dalam tabel WH or YES/NO yang tersedia.

 

  • Membuat 10 jenis pertanyaan WH – YES/NO questions di handout yang sudah tersedia.
  • Mempraktekannya secara berpasangan.
  • Siswa membiasakan diri untuk menggunakan pertanyaan WH –YES/NO questions kepada guru dan teman dalam bahasa Inggris setiap kali ada kesempatan yang tepat, terutama dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.
  • Permainan hunting game
  • Siswa membiasakan diri untuk menggunakan pertanyaan WH –YES/NO questions kepada guru dan teman dalam bahasa Inggris setiap kali ada kesempatan yang tepat, terutama dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.
  • Permainan hunting game

Langkah – langkah Pembelajaran:

Kegiatan awal (45 menit)

  1. Siswa mereview descriptive text dan penggunaan WH – YES/NO questions diikuti dengan tanya jawab.
  2. Siswa melakukan permainan hunting game untuk menemukan kelompoknya dan sekaligus mempraktekan WH – YES/NO questions.
  3. Pembagian kelompok.

Kegiatan Inti 1 (2 x 45 menit)

  1. Siswa dibagi menjadi 9 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang.
  2. Siswa mencari tempat-tempat dalam lokasi wisata untuk kemudia diamati, dicatat data-data yang diperlukan, mengambil gambar, dan mereka diperbolehkan untuk melakukan wawancara dengan pengunjung lain atau petugas yang berwenang dilokasi.
  3. Siswa kemudian menuliskan data-data yang mereka peroleh di descriptive sheet yang sudah disediakan oleh pengajar.

Kegiatan Inti 2 (2 x 45 menit)

  1. Dengan bimbingan guru, siswa mendiskripsikan tempat-tempat yang sudah mereka kunjungi atau mereka dapatkan data-datanya di depan kelompok lain. Mereka melakukan role-play ada yang berperan sebagai tour guide dan visitors. Mereka diharuskan membuat pertanyaan dengan menggunakan WH – YES/NO questions dengan baik dan benar.
  2. Dengan pengawasan guru dan petugas yang berwenang siswa mempresentasikan dengan mengajak pengunjung lain (tour guide) ke tempat-tempat yang ada di objek wisata tersebut. Kegiatan ini dilakukan secara dwi bahasa dengan komposisi 75 % bahasa Inggris dan 25 % bahasa Indonesia.

Kegiatan Akhir (2 x 45 menit)

  1. Siswa diberi tugas membuat brosur/poster sederhana dari data yang sudah mereka dapatkan dengan struktur bahasa yang tepat.
  2. Guru melakukan penilaian (evaluasi).

VII. Alat dan Bahan Pembelajaran

  1. Internet digunakan untuk mengakses materi yang berkaitan dengan descriptive.
  2. Flash cards/wallpaper digunakan dalam pengajaran descriptive dan digunakan untuk mempermudah siswa dalam menyebutkan kata sifat yang berkaitan dengan gambar.
  3. Kamera digital digunakan siswa untuk mengambil gambar tempat-tempat di objek wisata.
  4. Handy cam digunakan untuk mengambil gambar bergerak, dokumentasi, dan alat perekam untuk melakukan penilaian/evaluasi.
  5. Block notes digunakan untuk mencatat tugas/data.
  6. Descriptive organizer handouts digunakan siswa untuk mengumpulkan data-data yang terdapat di lapangan dan menggunakannya sebagai alat bantu tour guide.
  7. Laptop digunakan untuk membuat draft brosur/poster sederhana.
  8. Kertas dan alat tulis (pensil warna/crayon) untuk membuat brosur/poster sederhana.
  9. Sampel brosur/poster yang akan digunakan siswa sebagai acuan dalam menulis/membuat brosur/poster sederhana.

VIII. Evaluasi

Speaking (Descriptive – tour guide/describing places; WH – YES/NO Questions)

Kognitif meliputi: content (comprehension)

Psikomotor meliputi: Fluency, pronunciation.

Afektif meliputi: perfomance

Format Penilaian untuk semua jenis kegiatan speaking

No Name Content 

25%

Fluency 

25%

Pronunciation 

25%

Performance 

25%

Score 

100%

Writing (Brosur dan poster)

Format Penilaian untuk semua jenis kegiatan writing (kebahasaan)

No Name Content 

25%

Accuracy 

25%

Coherency & Cohesiveness 

25%

Punctuation 

25%

Score 

100%

Format Penilaian untuk semua jenis kegiatan writing (social)

No Name Pictures 

25%

Word 

Power

25%

Marketable 

25%

Persuasion 

25%

Score 

100%

IX. Sumber Pembelajaran

Eather Jenny. 2006. Writing Fun: Descriptive Organizer. ____________

Hasley, Brendon. 1999. English for Communication 3, Jakarta: Penerbit Erlangga

Oller, John W.Jr.1979. Language Test at School. London: Longman Group Ltd.

Permaty Gandes Cukat, Yuliani marta. 2005. English for a better Life. Bandung: Pakar Raya.

www.englishmaterial.net

www.eslflow.com

www.eslteachersboard.com

www.inmagine.com

www.understandingtypesoftext.com (blog by Bludus)

Mengetahui:                                                                       Guru Mata Pelajaran,

Kepala SMA YPPI 1 Surabaya

Dra. Theresia Henywati                                       Hamzah Fauzi S.Pd

DVD Conversation Bahasa Inggris berformat MP3 dan PDF, komputer oke HP juga Oke. Cukup Rp. 150.000,- saja. Info selengkapnya, klik iklan dibawah ini:
BelajarInggris.net Tempat Kursus Bahasa Inggris Online cepat dan Mudah tanpa grammar Full Conversation / Percakapan Bersertifikat


Email:

rppguswur@gmail.com

Belajar Inggris

BelajarInggris.Net 250x250

Blog Stats

  • 4,207,899 hits

Pengunjung

free counters

blogstat

Alexa Certified Site Stats for www.aguswuryanto.wordpress.com

Incoming traffic

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 231 other followers