Belajar jadi Guru

Archive for December 2011


Download:

Panduan Guru Seni Rupa

BAGIAN II: PANDUAN KHUSUS

MATA PELAJARAN SENI BUDAYA

(SENI RUPA)

 

            Untuk mata pelajaran Seni Rupa, karakter yang acuan adalah karakter pokok dan karakter utama. Untuk karakter utama, selain karakter yang telah dipetakan di atas, perlu ditambahkan karakter yang khas yaitu kreativitas dan kepekaan estetik.

 

A.       Nilai-nilai Karakter Utama untuk Mata Pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa)

1.    Apresiasi Seni Rupa

Nilai-nilai karakter utama untuk Pembelarajan Apresiasi Seni Rupa antara lain sebagai berikut.

 

Nilai Utama

Indikator

Kereligiusan
  • Memberikan penilaian yang positif terhadap pengalaman religius sebagai tema/makna karya seni rupa
  • Menghubungkan karya seni rupa dengan pengalaman religious
Kejujuran
  • Memberikan pendapat tentang karya seni rupa berdasarkan pikiran dan perasaan diri sendiri
  • Memberikan pendapat tentang karya seni rupa dengan menunjukkan sumber acuannya
Kecerdasan
  • Menangkap makna karya seni rupa secara cermat, tepat, dan cepat
  • Memberikan tanggapan terhadap karya seni rupa secara cermat, tepat, dan cepat
Ketangguhan
  • Menanggapi karya seni rupa dengan berbagai argumentasi
  • Membahas karya seni rupa dengan mencari berbagai sumber
Kepedulian
  • Memperhatikan tindakan orang lain dalam menanggapi karya seni rupa
  • Membantu orang lain dalam menanggapi karya seni rupa
Kedemokratisan
  • Memberikan penilaian positif terhadap pendapat orang lain dalam menanggapi karya seni rupa secara berkelompok
  • Melakukan kesepakatan dalam menanggapi karya seni rupa secara berkelompok
Menghargai  keberagaman
  • Memberikan penilaian positif terhadap keberagaman jenis, tema, gaya, dan teknik berkarya seni rupa
  • Memberikan penilaian positif terhadap ungkapan keberagaman suku bangsa dan budaya dalam karya seni rupa
Nasionalisme
  • Memberikan penilaian yang tinggi terhadap karya seni rupa Indonesia
  • Memberikan penilaian positif terhadap ungkapan/tema nasionalisme/patriotism dalam karya seni rupa
Menghargai karya orang lain
  • Memberikan penilaian positif terhadap karya orang lain
  • Memperlakukan karya orang lain dengan baik
Keingintahuan
  • Mempelajari karya seni rupa dari berbagai sumber
  • Melihat pameran seni rupa
Disiplin
  • Mentaati tata tertib dalam proses pembelajaran seni rupa
  • Menyelesaikan tugas-tugas tepat pada waktunya.
Kesantunan
  • Memberikan tanggapan terhadap karya seni rupa dengan bahasa yang santun
  • Memperlakukan bahan, alat, dan hasil karya seni rupa dengan tindakan yang santun
Tanggung jawab
  • Memberikan apresiasi seni rupa yang bermanfaat bagi kehidupan
  • Memberikan apresiasi seni rupa yang bermanfaat bagi pengalaman estetik
  • Menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran apresiasi seni rupa dengan baik
Kreativitas
  • Mengidentifikasi ciri-ciri baru pada karya seni rupa.
  • Menggunakan ungkapan baru dalam menanggapi karya seni rupa
Kepekaan estetik
  • Mengidentifikasi bentuk-bentuk keindahan pada karya seni rupa dan lingkungan
  • Memberikan tanggapan  positif terhadap bentuk-bentuk keindahan pada karya seni rupa dan lingkungan

 

2.      Berkreasi Seni Rupa

Nilai-nilai karakter utama untuk Pembelarajan Berkreasi Seni Rupa antara lain sebagai berikut.

 

Nilai Utama

Indikator

Kereligiusan
  • Menghargai alam semesta ciptaan Tuhan sebagai bahan/sumber penciptaan karya seni rupa
  • Mengungkapkan makna religius melalui karya seni rupa
Kejujuran
  • Membuat karya seni rupa atas gagasan siswa sendiri
  • Menyadari kelemahan/kekurangan siswa sendiri dalam membuat karya seni rupa
Kecerdasan
  • Menyusun konsep karya seni rupa/pameran secara cepat dan cermat
  • Mewujudkan karya seni rupa/pameran secara cepat dan cermat
Ketangguhan
  • Menyusun konsep karya seni rupa/pameran dengan berbagai sumber
  • Mewujudkan karya seni rupa dengan mengoptimalkan penggunaan bahan dan alat
Kepedulian
  • Mengungkapkan perhatian terhadap lingkungan sosial atau alam melalui karya seni rupa
  • Membantu orang lain dalam membuat karya seni rupa secara kelompok
  • Membantu orang lain dalam berpameran seni rupa
Kedemokratisan
  • Menghargai pendapat orang lain dalam membuat karya seni rupa secara kelompok
  • Melakukan kesepakatan dalam membuat karya seni rupa secara kelompok
  • Melakukan kesepakatan dalam melaksanakan pameran secara kelompok
Menghargai  keberagaman
  • Menghargai keberagaman seni budaya sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
  • Mengungkapkan jenis (bentuk), tema/gaya/teknik dalam penciptaan karya seni rupa
  • Menghargai keberagaman jenis (bentuk), tema, gaya, dan teknik karya seni rupa dalam berpameran seni rupa
Nasionalisme
  • Menghargai alam dan budaya Indonesia sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
  • Menghargai seni rupa tradisional Indonesia sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
Menghargai karya orang lain
  • Menggunakan karya orang lain sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
  • Meperlakukan karya seni rupa orang lain dengan baik
Keingintahuan
  • Mempelajari sumber-sumber penciptaan karya seni rupa
  • Melakukan eksplorasi/eksperimen dalam berkarya seni rupa
Disiplin
  • Mengerjakan karya seni rupa sesuai dengan kriteria yang ditentukan
  • Menggunakan bahan dan alat sesuai dengan prosedur dalam berkarya seni rupa
Kesantunan
  • Membentuk gagasan yang halus dan baik dalam penciptaan karya seni rupa
  • Menggunakan ungkapan dan simbol-simbol yang baik dalam penciptaan karya seni rupa
Tanggung jawab
  • Menghasilkan karya seni rupa yang bermanfaat bagi kehidupan
  • Menghasilkan karya seni rupa yang berguna bagi pengalaman estetik
  • Menyelesaikan tugasnya dalam berkarya seni rupa secara kelompok
Kreativitas
  • Menyusun konsep karya seni rupa yang baru.
  • Mewujudkan karya seni rupa dengan komposisi dan teknik yang baru.
Kepekaan estetik
  • Menciptakan karya seni rupa/ lingkungan dengan menyusun unsur-unsur bentuk berdasarkan kaidah-kaidah komposisi.
  • Menggunakan bahan dan alat dengan mengoptimalkan nilai-nilai estetiknya yang intrinsic.

 

 

B.        Kegiatan Pembelajaran Seni Rupa yang Mengembangkan Karakter

 

Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran seni rupa dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Di antara prinsip-prinsip yang dapat diadopsi dalam membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksanakan proses pembelajaran, dan evaluasi yang mengembangkan karakter adalah prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selama ini telah diperkenalkan kepada guru, termasuk guru-guru SMP seluruh Indonesia sejak tahun 2002, yang diintensifkan dalam pelaksanaan KTSP secara bertahap mulai tahun 2006.

Pada dasarnya pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata siswa, dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Pembelajaran kontekstual menerapkan sejumlah prinsip belajar. Prinsip-prinsip tersebut secara singkat dijelaskan berikut ini.

 

a.   Pembelajaran Seni Rupa berdasarkan Prinsip Konstruktivisme

 

Seperti dijelaskan di muka, konstrukstivisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa seseorang menyusun atau membangun pemahaman mereka terhadap sesuatu berdasarkan pengalaman-pengalaman baru dan pengetahuan awal serta kepercayaannya.

Berdasarkan prinsip konstruktivisme, guru seni rupa dapat mengembangkan pemahaman siswa tentang konsep-konsep seni rupa secara mendalam melalui pengalaman-pengalaman belajar otentik dan bermakna. Dalam proses pembelajaran, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mendorong aktivitas berpikirnya. Untuk membangun sendiri pengetahuannya guru harus melibatkan secara aktif dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, guru harus merancang pembelajaran seni rupa dalam bentuk kegiatan berapresiasi dan berkreasi seni rupa yang mengaktifkan dan menyenangkan siswa, baik dalam kegiatan individual maupun kelompok.

Secara umum, tugas guru seni dalam pembelajaran konstruktivis adalah memfasilitasi proses pembelajaran seni rupa dengan:

 

1)      menjadikan pembelajaran apresiasi dan berkreasi seni rupa bermakna dan relevan bagi siswa,

2)      memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri dalam berapresiasi maupun berkreasi seni rupa,

3)      menyadarkan siswa agar menerapkan strateginya sendiri dalam belajar berapresiasi dan berkreasi seni rupa.

 

 

b.      Memfasilitasi Pembelajaran Apresiasi Seni Rupa

Untuk melaksanaan pembelajaran apresiasi seni rupa, guru dapat melakukan kegiatan-kegiatan antara lain sebagai berikut:

1)      mempelajari seni rupa melalui sumber-sumber tertulis atau elektronik  (buku, majalah, ensiklopedia, VCD, internet, dan sebagainya) dan membuat laporannya

2)      mengunjungi pameran seni rupa, galeri seni rupa, museum seni rupa, pasar seni, pusat-pusat kerajinan, dan sebagainya serta membuat laporannya

3)      mengunjungi atau mengundang seniman atau pengrajin untuk melakukan wawancara tentang pandangan dan karyanya serta membuat laporannya.

4)      membuat sajian apresiasi seni rupa berdasarkan berbagai sumber dalam bentuk berbagai media, misalnya artikel untuk majalah dinding atau blog internet, VCD, video untuk diunggah di internet, dan sebagainya

5)      Membuat kliping seni rupa

 

Dalam menentukan kegiatan tersebut, guru perlu mempertimbangkan kelayakannya sebagai kegiatan individu atau kegiatan kelompok. Sebagai contoh, Membuat kliping seni rupa cocok untuk kegiatan individu, karena setiap siswa mampu mengerjakannya dan hasilnya juga merupakan koleksi pribadi. Dari segi pengembangan karakter, kegiatan ini berguna untuk melatih kemandirian, percaya diri, kreativitas, dan sebagainya. Sebaliknya untuk tugas yang cukup kompleks, misalnya membuat sajian media apresiasi seni rupa, cocok untuk kegiatan kelompok. Kegiatan kelompok ini penting bagi pengembangan nilai-nilai seperti kerja sama, tanggung jawab, demokratis, dan sebagainya. Meskipun kegiatan pembelajaran apresiasi seni rupa dilakukan secara bersama-sama, misalnya mengunjungi pameran atau galeri seni rupa, guru tetap dapat memberikan tugas individual, misalnya meminta siswa membuat tanggapan tentang salah satu karya seni rupa yang dipilihnya dalam bentuk laporan.

 

c.       Memfasilitasi Kegiatan Berkreasi Seni Rupa

Pembelajaran berkreasi seni rupa pada dasarnya berbentuk tugas praktik membuat karya seni rupa, yang dilengkapi dengan pameran seni rupa, baik di kelas, sekolah, atau masyarakat. Dalam hal ini, guru juga perlu memberikan tugas individual maupun kelompok. Untuk pengembangan karakter, tugas individual berguna untuk mengembangkan nilai-nilai seperti mandiri, percaya diri, tanggung jawab, kreatif, inovatif, tangguh, dan sebagainya. Tugas kelompok berguna bagi pengembangan nilai-nilai seperti kerja sama, demokratis, peduli, menghargai karya orang lain, dan sebagainya.

Untuk mengefektifkan pengembangan karakter dalam pembelajaran praktik berkarya seni rupa, guru perlu berupaya mendorong siswa melakukan hal-hal sebagai berikut:

1)      mengembangkan konsep atau gagasannya sendiri dalam mengerjakan tugas individual, antara untuk mengembangkan nilai-nilai seperti percaya diri, jujur, dan mandiri,

2)      mengerjakan karyanya dengan usahanya sendiri, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai seperti percaya diri, tanggung jawab, jujur, dan mandiri,

3)      melakukan eksplorasi dan eksperimen dalam mengembangkan karyanya, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai seperti ingin tahu, kreatif, dan inovatif,

4)      menangani bahan dan alat sesuai prosedur, untuk mengembangkan nilai-nilai seperti disiplin, peduli lingkungan, dan tanggung jawab,

5)      melibatkan diri secara aktif dalam melaksanakan tugas kelompok, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai seperti demokratis, kerja sama, tanggung jawab, dan menghargai karya orang lain ,

6)      menghasilkan karya seni rupa yang berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain

7)      menghasilkan karya seni rupa yang berkualitas, untuk mengembangkan nilai-nilai seperti tanggung kreatif, tangguh, dan tanggung jawab,

8)      memperlakukan dengan sebaik-baiknya karya sendiri maupun karya orang lain, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai menghargai karya dan prestasi sendiri dan orang lain, tanggung jawab, dan peduli.

 

 

d.  Bertanya (Questioning)

Penggunaan pertanyaan untuk menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

 

Dalam pembelajaran seni rupa yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

 

1)      menggali informasi, baik teknis maupun akademis tentang penciptaan dan pameran seni rupa

2)      mengecek pemahaman siswa tentang konsep-konsep seni rupa

3)      membangkitkan respon siswa terhadap karya seni rupa

4)      mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa tentang makna karya seni rupa atau teknik penciptaan seni rupa

5)      mengetahui konsep-konsep seni rupa yang sudah diketahui siswa

6)      memfokuskan perhatian siswa pada karya seni rupa yang sedang dibahas

7)      menyegarkan kembali pengetahuan siswa tentang konsep-konsep seni rupa

 

Pembelajaran seni rupa yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk menuntun siswa mencapai tujuan belajar dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis dan logis, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, dan percaya diri.

 

e.   Inkuiri (Inquiry)

 

Inkuiri adalah proses pembelajaran yang diawali dengan pengamatan dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Dalam pelajaran IPA inkuiri dilaksanakan melalui siklus menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian hipotesis, membuat pengamatan, dan menyusun teori serta konsep yang berdasar pada data dan pengetahuan.

Dalam seni rupa, metode inkuiri dapat digabungkan dengan kritik seni rupa. Kritik seni rupa mencakup unsur-unsur: (1) deskripsi, (2) analisis, (3) interpretasi, dan (4) evaluasi. Penggabungan ini dapat dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan sebagai berikut:

 

1)      Merumuskan Masalah

Dalam mengkaji karya seni rupa dapat dirumuskan pertanyaan-pertanyaan seperti: (1) Bagaimana identitas karya (Apakah jenisnya? Apakah nama atau judulnya? Siapa penciptanya? Apakah objek atau temanya?) (2) Bagaimana bentuk atau komposisinya? (3) Bagaimana teknik pembuatannya? (4) Bagaimana maknanya? Bagaimana kualitasnya?

2)      Pengamatan (Observasi) dan Deskripsi

Observasi dapat dilakukan terhadap karya seni rupa dan proses pembuatan karya seni rupa. Observasi terhadap hasil karya seni rupa murni (lukisan, patung, dan seni grafis) dilakukan untuk mengidentifikasi ciri-ciri objek, bentuk, dan teknik. Objek (tema) misalnya manusia, pemandangan alam, alam benda, binatang, atau tumbuh-tumbuhan. Bentuk (komposisi) adalah susunan unsur-unsur seni rupa (garis, bidang, warna, gelap-terang, tekstur volume,  dan ruang). Teknik adalah cara menggunakan bahan dan alat untuk mewujudkan karya seni rupa. Observasi terhadap proses pembuatan karya seni rupa dilakukan untuk mengidentifikasi prosedur dan teknik pembuatan karya seni kerajinan, yaitu langkah-langkah dalam menggunakan bahan dan alat untuk mewujudkan karya seni rupa.

Hasil pengamatan tersebut diuraikan dalam deskripsi tertulis. Jadi, deskripsi adalah uraian secara tertulis tentang apa saja yang dapat dilihat atau diidentifikasi pada karya seni rupa.

3)      Analisis, Interpretasi, dan Evaluasi

Analisis dilakukan untuk memahami hubungan antara objek (tema), bentuk (komposisi), dan teknik pada suatu karya. Interpretasi adalah menyimpulkan makna-makna yang diungkapkan dalam karya tersebut, sedangkan evaluasi adalah pertimbangan tentang kualitas karya.

 

4)      Pembuatan Laporan

Deskripsi, analisis, interpretasi, dan evaluasi tersebut diuraikan secara tertulis dalam bentuk laporan, yang dilengkapi dengan gambar-gambar seperlunya.

 

5)      Pengkomunikasian Hasil Kajian

Hasil pengkajian karya seni rupa dapat dikomunikasikan melalui berbagai bentuk, seperti makalah untuk diskusi kelas, artikel majalah dinding, artikel intuk blog internet, atau media lainnya.

 

Pembelajaran seni rupa yang menerapkan prinsip inkuiri  dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis,  logis, kreatif, dan inovatif, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, jujur, dan tanggung jawab.

 

f.        Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih dalam. Dalam pembelajaran seni rupa, konsep masyarakat belajar dapat diterapkan dalam bentuk tugas kelompok, baik dalam kegiatan apresiasi maupun berkreasi seni rupa. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk memberikan pendapat dan berbagi gagasan, mendengarkan gagasan siswa lain dengan cermat, dan bekerja sama untuk membangun pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa belajar secara bersama lebih baik daripada belajar secara individual.

 

Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi jika tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu. Semua pihak mau saling mendengarkan.

 

Praktik masyarakat belajar dalam seni rupa antara terwujud dalam:

1)      Tugas berapresiasi dan berkreasi dalam kelompok kecil atau kelompok besar

2)      Mendatangkan ‘ahli’ ke kelas (seniman, pengrajin, kritikus/pengamat seni rupa)

3)      Bekerja sama dengan kelas sederajat, kelas di atasnya, atau masyarakat  dalam penyelenggaraan pameran seni rupa

 

Penerapan prinsip masyarakat belajar dalam pembelajaran seni rupa dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain kerjasama, menghargai pendapat orang lain, santun, demokratis, patuh pada turan sosial, dan tanggung jawab.

 

g.      Pemodelan (Modeling)

 

Pemodelan adalah proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Dalam pembelajaran seni rupa, pemodelan dilakukan baik dalam kegiatan apresiasi maupun berkreasi seni rupa. Pemodelan dapat dilakukan oleh guru, atau melalui media, atau melibatkan siswa.

 

Contoh praktik pemodelan di kelas:

1)      Memberi contoh membuat bentuk elips dan asir dalam menggambar bentuk.

2)      Mendatangkan seorang seniman (pelukis, pematung, atau pengrajin) ke kelas, lalu siswa diminta bertanya jawab dengan tokoh tersebut.

3)      Menunjukkan contoh hasil karya seni kerajinan sebagai contoh siswa dalam membuat karyanya.

4)      Mendemonstrasikan penggunaan bahan dan alat dalam membuat karya seni rupa.

 

Pemodelan dalam pembelajaran seni rupa antara lain dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, menghargai orang lain, dan rasa percaya diri.

 

h.      Refleksi (Reflection)

 

Refleksi dilakukan agar siswa memikirkan kembali apa yang telah mereka pelajari dan lakukan selama proses pembelajaran untuk membantu mereka menemukan makna personal masing-masing. Dalam pembelajaran seni rupa, refleksi biasanya dilakukan pada akhir pembelajaran antara lain melalui diskusi, tanya-jawab, penyampaian kesan dan pesan, saling memberi komentar tentang karya yang dihasilkan, dan mengisi instrument penilaian diri. Contoh instrumen penilaian diri untuk apreseiasi dan berkreasi seni rupa sebagai berikut.

 

Contoh Instrumen Penilaian Diri untuk Apresiasi Seni Rupa:

Berikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut dengan membuat tanda cek () pada kolom jawaban “Ya” atau “Tidak”.

Setelah mengikuti pembelajaran dan melaksanakan tugas-tugas apresiasi seni rupa terapan di DKI Jakarta , apakah Kamu dapat:

Ya

Tidak

1.      Memahami pengertian seni rupa murni?    
2.      Memahami pengertian seni rupa terapan?    
3.      Mengenal karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
4.      Memahami asal-usul seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
5.      Memahami teknik pembuatan karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
6.      Memahami ciri-ciri bentuk karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
7.      Memahami fungsi dan makna karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
8.      Menikmati keindahan karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
9.      Menghargai karya-karya seni rupa terapan sebagai hasil ciptaan seniman/pengrajin?    

 

Contoh Instrumen Penilaian Diri untuk Berkresiasi Seni Rupa

Berikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut dengan membuat tanda cek () pada kolom jawaban “Ya” atau “Tidak”.

 

Setelah mengikuti pembelajaran dan melaksanakan tugas-tugas berkreasi gambar bentuk apakah Kamu dapat:

Ya

Tidak

1.      Memahami pengertian tentang gambar bentuk?    
2.      Memahami langkah-langkah dan teknik menggambar bentuk?    
3.      Menghasilkan karya gambar bentuk yang bagus?    
4.      Mengerjakan tugas menggambar bentuk dengan percaya diri?    
5.      Menghargai karya gambar bentuk saya sendiri?    
6.      Menghargai karya gambar bentuk saya teman sekelas?    

 

Refleksi dalam pembelajaran seni rupa antara lain dapat menumbuhkan kemampuan berfikir logis dan kritis, mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri, dan menghargai pendapat orang lain.

 

 

i.        Penilaian Otentik (Authentic Assessment)

 

Penilaian autentik sesungguhnya adalah suatu istilah yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance) yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Strategi penilaian yang cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa teknik penilaian.

Penilaian dalam pembelajaran seni rupa mencakup penilaian dalam berapresiasi dan berkreasi seni rupa. Penilaian otentik dalam berapresiasi seni misalnya tugas menulis ulasan atau artikel tentang karya seni rupa, membuat kliping seni rupa, dan membuat sajian apresiasi seni rupa untuk diunggah di blog internet atau media berbagi informasi (Youtube, Twetter, Facebook). Penilaian otentik dalam berkreasi seni rupa adalah tugas membuat karya seni rupa dan melaksanakan pameran. Penilaian karakter juga perlu dilakukan selama proses belajar, yaitu melalui observasi, misalnya dengan instrumen berikut.

 

Contoh Instrumen Observasi Proses Pembelajaran Apresiasi Seni

 

Nama

Nilai Karakter

Skor

Santun

Displin

Demo-kratis

Meng-hargai karya orang lain

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1.

2.

3.

dst.

 

 

 

                         

Keterangan: 1 = kurang, 2 = cukup, 3 = baik

 

 

Contoh Instrumen Observasi Proses Pembelajaran Berkreasi Seni

 

Nama

Nilai Karakter

Skor

Tang-guh

Displin

Peduli

Meng-hargai karya orang lain

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1.

2.

3.

dst.

 

 

 

                         

Keterangan: 1 = kurang, 2 = cukup, 3 = baik

 

 

Penilaian autentik dalam pembelajaran seni rupa dapat mengembangkan berbagai karakter antara lain kejujuran, kreativitas, inovasi, tanggung jawab, menghargai karya dan prestasi orang lain, kedisiplinan, dan cinta ilmu.

 

C.    Penggunaan BSE Mata Pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) untuk Pendidikan Karakter

 

1.      Gambaran Umum BSE Mata Pelajaran Seni Rupa

a.      Isi

Isi BSE Seni Rupa untuk Kelas VII, VIII, dan IX secara umum telah sesuai dengan SK dan KD, dengan kelengkapan, keluasan, kedalaman, dan keaktualan. Namun demikian, khususnya untuk KD Kelas 7, berkaitan dengan seni rupa daerah setempat, BSE difokuskan pada seni rupa terapan di DKI Jakarta. Oleh karena itu, materi tersebut tidak cocok untuk daerah-daerah lain, sehingga harus dimodifikasi, disesuaikan dengan seni rupa rupa di daerah tersebut. Untuk menekankan karakter yang khas dalam seni rupa, yaitu kepekaan estetik, perlu pula diberikan materi analisis bentuk karya seni rupa, untuk memahami aspek komposisinya.

 

b.     Metode pembelajaran

BSE untuk mata pelajaran Seni Rupa telah mengacu pada pembelajaran aktif. Namun demikian, agar dapat lebih mengaktifkan siswa dan mengembangkan karakter, langkah-langkah pembelajaran perlu dikembangkan lagi. Untuk pembelajaran apresiasi seni rupa, dalam pengalaman-pengalaman belajar yang lebih mengintensifkan interaksi siswa dengan karya seni rupa, yaitu dengan menerapkan metode inkuiri yang digabungkan dengan kritik seni rupa dalam taraf sederhana.

 

c.       Bahasa

Secarara umum BSE mata pelajaran Seni Rupa menggunakan bahasa sesuai dengan criteria yang ditetapkan oleh BSNP.

 

d.     Grafika

Dari segi tata cetak, BSE mata pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) secara umum telah memenuhi standar grafika yang ditetapkan oleh BSNP.

 

2.   Potensi BSE Mata Pelajaran Seni Rupa untuk Pendidikan Karakter

Karena disusun berdasarkan CTL dan life skill, penyajian materi dalam BSE mata pelajaran seni rupa secara berpotensi untuk pengembangan karakter. Namun demikian, guru perlu melakukan revisi seperlunya untuk menambahkan atau menegaskan karakter yang ingin dikembangkan, baik pada aspek materi, penyajian, maupun evaluasi.

Sebagai contoh, untuk materi pembelajaran, guru dapat menambahkan keterangan tertentu yang mengandung nilai tertentu, misalnya nilai simbolik yang mengandung nilai religius. Untuk penyajian, misalnya guru dapat menambahkan kegiatan tertentu untuk mengembangkan nilai tertentu, misalnya tugas kelompok untuk mengembangkan nilai kerja sama. Demikian juga untuk evaluasi, guru dapat menambahkan penilaian afektif untuk mengukur pencapaian nilai-nilai yang diinginkan.

 

3.         Strategi Penggunaan BSE Mata Pelajaran Seni Rupa untuk Pendidikan Karakter

Adaptasi BSE mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa juga harus disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia. BSE Seni Rupa disusun berdasarkan asumsi alokasi waktu dua jam pelajaran. Sementara itu, sesuai dengan Standar Isi, satuan pendidikan dapat membuat kebijakan untuk melaksanakan salah satu, dua, tiga atau keempat bidang seni (Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, dan Seni Teater), sehingga jumlah waktu yang tersedia untuk pembelajaran seni rupa tergantung pada kebijakan tersebut. Dengan kata lain, dalam mengadaptasi BSE tersebut, guru dapat mengambil bagian-bagian tertentu saja sesuai dengan waktu yang tersedia.

Penggunaan BSE dapat dilakukan adaptasi sebagai berikut:

a.   Adaptasi lengkap

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam tiga aspek sekaligus, yaitu isi, kegiatan pembelajaran, dan teknik evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

Sebagai contoh, untuk pembelajaran apresiasi seni rupa daerah setempat di Kelas 1 Semester 1, guru mengambil seluruh materi Unit 1 Semester 1 pada BSE Seni Rupa Kelas 7, dengan membuat adaptasi dari segi isi dengan memberikan pernyataan-pernyataan untuk menegaskan nilai-nilai karakter tertentu. (Lampiran 1).

 

b.      Adaptasi sebagian/parsial

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, atau reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

Sebagai contoh, untuk pembelajaran apresiasi seni rupa daerah setempat di Kelas 1 Semester 1, guru mengambil sebagian materi Unit 1 Semester 1 pada BSE Seni Rupa Kelas 7, dengan membuat adaptasi dari segi isi dengan memberikan pernyataan-pernyataan untuk menegaskan nilai-nilai karakter tertentu. (Lampiran 2).

Sumber: Pelatihan Pendikar untuk SMP


Download:

1. RPP IPA VII 1.3 (PENGUKURAN PANJANG) FINAL

3. RPP FISIKA VII 3.2 (MASSA JENIS) FINAL

3. RPP IPA VII 3.1 (PERUBAHAN WUJUD) FINAL

4. RPP FISIKA VII 3.3 (PEMUAIAN) FINAL

RPP IPA VII 5.4 (KslamatnKerja) FINAL

BAGIAN II: PANDUAN KHUSUS

MATA PELAJARAN IPA

 

  1. A.   Nilai-nilai Karakter untuk Mata Pelajaran IPA
  2. 1.    Pengertian IPA

Sains atau IPA mempelajari permasalahan yang berkait dengan fenomena alam dan berbagai permasalahan dalam kehidupan masyarakat. Fenomena alam dalam IPA dapat ditinjau dari objek, persoalan, tema, dan tempat kejadiannya. Dalam buku UNESCO Handbook for Science Teacher (Unesco, dalam Karso, 1994) dikatakaan bahwa IPA adalah suatu kumpulan teori-teori yang telah diuji kebenarannya, menjelaskan tentang pola-pola dan keteraturan maupun gejala alam yang telah diamati secara seksama.

Metode pembelajaran IPA menurut Bernal (1969) merupakan kegiatan mental maupun fisik, termasuk di dalamnya adalah observasi, eksperimentasi, klasifikasi, pengukuran  dan juga melibatkan teori-teori hipotesis serta hukum-hukum, lebih spesifik disampaikan bahwa IPA dapat dilihat sebagai suatu metode. Metode IPA ini merupakan suatu perangkat aturan-aturan untuk memecahkan masalah, untuk mendapatkan atau mengetahui penyebab dari suatu kejadian dan untuk mendapatkan hukum-hukum ataupun teori dari objek yang diamati. Metode ilmiah merupakan suatu logika yang umum digunakan untuk menilai suatu masalah. Metode ilmiah memiliki perangkat norma-norma yang dibakukan sehingga kesimpulan yang didapatkan masuk akal dan dapat dipercaya.

Muslimin Ibrahim, dkk (2004) menjelaskan bahwa metode ilmiah adalah suatu cara dalam memperoleh pengetahuan, yaitu suatu rangkaian prosedur tertentu harus diikuti untuk mendapatkan jawaban tertentu dari pernyataan tertentu pula dengan langkah: (1) Kesadaran dan perumusan masalah; (2) Pengamatan dan pengumpulan data; (3) Penyusunan dan klasifikasi data; (4) Perumusan hipotesis; (5) Deduksi dan hipotesis; (6) Tes dan pengujiaan kebenaran (verifikasi) dari hipotesis.

Pembelajaran IPA memerlukan kegiatan penyelidikan, baik melalui observasi maupun eksperimen, sebagai bagian dari kerja ilmiah yang melibatkan keterampilan proses yang dilandasi sikap ilmiah. Selain itu, pembelajaran IPA mengembangkan rasa ingin tahu melalui penemuan berdasarkan pengalaman langsung yang dilakukan melalui kerja ilmiah. Melalui kerja ilmiah, peserta didik dilatih untuk memanfaatkan fakta, membangun konsep, prinsip, teori sebagai dasar untuk berpikir kreatif, kritis, analitis, dan divergen. Pembelajaran IPA diharapkan dapat membentuk sikap peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka akhirnya menyadari keindahan, keteraturan alam, dan meningkatkan keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Proses memecahkan masalah dalam IPA menggunakan metode-metode yang dikenal dengan nama metode ilmiah dengan alur kegiatan sebagai berikut:

Pada saat menggunakan metode ilmiah, kita mengikuti suatu proses untuk memecahkan masalah suatu masalah dalam IPA. Diagram di bawah ini adalah proses yang dimaksud. (Terlampir di file)

  1. 2.    Nilai-nilai IPA
    1. a.        Nilai-nilai sosial dari IPA

IPA baik sebagai suatu kumpulan pengetahuan ilmiah maupun sebagai suatu proses untuk mendapatkan ilmu itu sendiri, mempunyai nilai-nilai etik dan estetika yang tinggi. Nilai-nilai itu terletak pada sistem yang menetapkan “kebenaran yang objektif” pada tempat yang paling utama. Proses IPA itu sendiri dapat dianggap sebagai suatu latihan untuk mencari, meresapkan, dan menghayati nilai-nilai luhur itu.

Selain itu dalam kalangan ilmuwan terdapat hubungan “saling percaya“, mereka mempunyai kebebasan dengan caranya sendiri merumuskan hukum-hukum yang mereka temukan dengan metode yang mereka gunakan. Temuan pada masa lalu yang kurang sempurna merupakan jembatan untuk temuan yang lebih sempurna.

  1. b.        Nilai-nilai Psikologis/Pedagogis dari IPA

 

Nilai Psikologis/Pedagogis

Definisi

Sikap Mencintai Kebenaran IPA selalu mendambakan kebenaran yaitu kesesuaian pikiran dan kenyataan, yaitu selalu terlibat dalam proses yang dapat mendorong untuk berlaku jujur dan objektif dalam segala aktivitasnya.
Sikap Tidak Purbasangka IPA membimbing kita untuk tidak berfikir secara prasangka. Kita boleh saja mengadakan dugaan yang masuk akal (hipotesis) asal dugaan itu diuji kebenarannya sesuai kenyataan atau tidak, baru menetapkan kesimpulan.
Menyadari Kebenaran Ilmu Tidak Mutlak Atas kesadarannya bahwa kesimpulan yang didapat hanya berlaku sementara(tidak mutlak) atau menyadari bahwa pengetahuan yang di dapat itu baru sebagian yang bisa dicapai, maka hal ini akan menjadikan orang itu “bersikap rendah hati dan tidak sombong“.
Keyakinan Bahwa Tatanan Alam Tidak Teratur Mempelajari tentang hubungan antar gejala alam dan menemukan adanya kaidah-kaidah atau hukum-hukum alam yang ternyata begitu konsisten aturan-aturannya maka orang akan menyadari bahwa alam semesta itu telah ditata dengan sangat teratur. Hal ini dapat memberikan pengaruh positif untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bersifat Toleran Terhadap Orang Lain Menyadari bahwa pengetahuan yang ia miliki bersifat tidak mutlak sempurna maka ia dapat menghargai pendapat orang lain yang ternyata lebih mengetahuinya atau lebih sempurna untuk memperbaiki, melengkapi maupun untuk meningkatkan pengetahuannya. Ia juga tidak bersikap memaksakan pendapatnya untuk diterima orang lain.
Bersikap Ulet Aktivitas mencari kebenaran dalam IPA akan menciptakan sikap tidak putus asa dan selalu berusaha untuk mencari kebenaran itu walaupun seringkali tidak memperoleh apa-apa.
Sikap Teliti dan Hati-hati Metode ilmiah yang dilaksanakan dengan benar akan mendorong seseorang memiliki sifat-sifat yang baik yaitu teliti dalam melakukan sesuatu serta hati-hati dalam mengambil kesimpulan ataupun dalam mengeluarkan pendapatnya.
Sikap Ingin Tahu (Corious) Rasa ingin tahu merupakan titik tolak atau titik awal dari pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Sikap ini mendorong manusia untuk mencari tahu lebih banyak. Ilmu pengetahuan yang mereka peroleh tentunya bermanfaat bagi dirinya ataupun orang lain. 

Nilai Psikologis/Pedagogis

Definisi

Sikap Optimis Ilmuwan IPA selalu optimis, karena mereka sudah terbiasa dengan suatu eksperimentasi yang tak selalu menghasilkan sesuatu yang mereka harapkan, namun bila berhasil, temuannya itu akan memberikan imbalan kebahagiaan yang tak ternilai dengan uang. Oleh karena itu ilmuwan IPA berpendirian bahwa segala sesuatu tidaklah ada yang tak mungkin dikerjakan. Sesuatu permasalahan yang muncul dihadapinya dengan ungkapan kata-kata “akan saya pikirkan”, “mari kita coba” atau “berilah saya kesempatan”, yaitu ungkapan kata-kata dari seorang yang optimis.

 

Berdasarkan karakteristik IPA tersebut maka potensi untuk diintegrasikan dengan nilai karakter seperti yang telah dijelaskan dalam Bab I adalah sebagai berikut.

1)        Karakter Pokok

 

Nilai karakter utama pada matapelajaran IPA dapat dikemukakan, dideskripsikan, dan dirumuskan indikatornya seperti berikut.

 Nomor

 

Nilai/Karakter

 

Indikator

Kereligiusan
  • Menggunakan fakta keteraturan fenomena alam sebagai rujukan membangun konsep, teori, atau hukum untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME
  • Mengagumi kebesaran ciptaan Tuhan
  • Melakukan konservasi sumber daya alam
  • Selalu berdoa dalam melakukan usaha
Kejujuran
  • Melakukan pengamatan sesuai prosedur ilmiah yang digunakan
  • Menyajikan data berdasarkan hasil pengamatan atau percobaan
  • Menganalisis data sesuai kaidah ilmiah
  • Menarik kesimpulan hasil percobaan berdasar hasil analisis data yang telah dilakukan
Kecerdasan
  • Mampu mengambil kesimpulan/keputusan secara cepat dan tepat berdasar hasil analisis yang telah dilakuakan
  • Mampu memilah dan menggunakan alat lab yang cocok untuk suatu kegiatan percobaan
  • Mampu memberikan solusi yang tepat

 

Ketangguhan
  • Yakin dengan pendapatnya
  • Melakukan pengulangan pengamatan/eksperimen untuk mendapatkan data yang akurat

 

Demokratis
  • Memiliki kebebasan bertindak yang bertanggungjawab dan kesamaan hak
  • Memberi kesempatan orang lain untuk menyampaikan pendapatnya
  • Melaksanakan pengamatan/eksperimen yang dibebankan
  • Memberikan beban tugas yang sama pada siswa pada saat pengamatan/eksperimen
Kepedulian
  • · Berbagi tugas dalam melaksanakan kegiatan eksperimen
  • · Menggunakan alat lab sesuai prosedur keselamatan yang ada
  • · Menaruh perhatian secara penuh pada aspek keselamatan dan kesehatan kerja di lab
  • Membantu temannya yang mengalami kesulitan/kecelakaan kerja di lab

2)   Karakter utama IPA

 

Sejalan dengan rumusan karakter yang dikembangkan pada jenjang SMP dan karakteristik IPA, maka dalam mata pelajaran IPA secara spesifik peserta didik akan dididik dan dilatih untuk mengembangkan karakter sebagai berikut.

Nomor

Nilai/Karakter

Indikator

Keingintahuan
  • Suka bertanya secara mendalam dan meluas
  • Membaca untuk menemukan informasi
  • Mengajukan pertanyaan
Berpikir logis
  • Mampu menggunakan pikiran rasional untuk mengambil keputusan.

 

Berpikir kritis, kreatif, dan inovatif
  • Mampu menggunakan pikiran untuk menghasilkan ide asli.
Gaya hidup sehat
  • Memiliki kegiatan positif untuk menjaga pola hidup sehat
Percaya diri
  • Mampu menyampaikan ide atau melakukan sesuatu dengan yakin dan benar

 

Menghargai keberagaman
  • Menghargai pendapat orang lain tanpa memperhatikan latar belakangnya atau tanpa memperhatikan perbedaan bentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.
Kedisiplinan
  • Mampu melakukan sesuatu secara berkelanjutan sesuai prosedur yang berlaku
  • Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
Kemandirian
  • Mampu melakukan kegiatan akademik secara sendiri

 

Tanggung jawab
  • Berhati-hati saat bekerja dengan alat dan bahan.
  • Melakukan kegiatan sesuai dengan prosedur yang diberikan.
  • Mampu mencapai tujuan melalui kegiatan individual maupun kelompok
Cinta ilmu
  • Mampu menjadi pebelajar sepanjang hayat
Ketelitian dan kecermatan
  • Memiliki sikap hati-hati, seksama, dan teliti

 

Kesantunan
  • Mampu berkomunikasi secara efisien dan efektif tanpa menyinggung perasaan orang lain.
  1. Kegiatan Pembelajaran yang Mengembangkan Karakter pada Pembelajaran IPA  

      

prinsip-prinsip Contextual Teaching and Learning seperti yang telah dijabarkan pada Bab I, disarankan diaplikasikan pada semua tahapan pembelajaran karena prinsip-prinsip pembelajaran tersebut sekaligus dapat memfasilitasi terinternalisasinya nilai-nilai. Selain itu, perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik.

Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran IPA berorientasi pada siswa. Peran guru bergeser dari menentukan “apa yang akan dipelajari” ke “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa”.  Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif  dengan teman, lingkungan, dan sumber lain.

Ada beberapa model pembelajaran  yang telah dikembangkan sebagai aplikasi dari Contextual Teaching and Learning dalam melaksanakan pembelajaran IPA model-model tersebut adalah : Direct instruction (pengajaran langsung) dan cooperative learning (pembelajaran kooperatif) keduanya dapat digunakan untuk memperkaya pelaksanaan pembelajaran mengintegrasikan pendidikan karakter.

Aktivitas atau metode pembelajaran juga model pembelajaran yang dominan dan biasa dipergunakan  pada matapelajaran IPA adalah:

MODEL

METODE

Potensi Nilai Karakter yang Mungkin

Direct Instruction Pengamatan (Mengajukan pertanyaan, mendata, mengklasifikasi, menganalisis data, dan  menyimpulkan) Kereligiusan, kejujuran, berpikir logis, Berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, demokratis, tanggung jawab, menghargai keberagaman Ketelitian dan kecermatan, kesantunan, gaya hidup sehat, percaya diri, kedisiplinan.

 

Berikut contoh aplikasi penggunaan model, metode, integrasi nilai karakter dalam pembelajaran Direct Instruction:

Fase-fase

Aktivitas yang difasilitasi oleh Guru

Fase 1Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa Menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar
Fase 2Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan Mendemonstrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap

Fase-fase

Aktivitas yang difasilitasi oleh Guru

Fase 3Membimbing pelatihan Merencanakan dan memberi bimbingan awal
Fase 4Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik
Fase 5Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari
   

 

Contoh pada materi pengukuran

 

1. KEGIATAN PENDAHULUAN

  1. Peserta didik diminta pendapat tentang pentingnya pengukuran dalam kehidupan sehari-hari dan diminta memberikan contoh manfaat dilakukannya pengukuran (Fase 1) (berpikir logis)
  2. Guru menyampaikan tujuan/kompetensi yang akan dicapai serta cakupan materi yang akan dipelajari (Fase 1)

 

2. KEGIATAN INTI

  1. Guru melakukan demonstrasi pengukuran panjang dengan menggunakan jangka sorong, dengan menyajikan informasi tahap demi tahap (Fase 2)
  2. Peserta didik mendemonstrasikan pengukuran panjang dengan menggunakan jangka sorong yang benar (Fase 3) (ketelitian dan kecermatan)
  3. Guru memberi bimbingan pelatihan awal dilanjutkan dengan memberikan kesempatan peserta didik berinteraksi dalam diskusi kelompok dan memberi umpan balik untuk memperoleh kesimpulan tentang tingkat ketelitian alat ukur panjang (Fase 3) (menghargai pendapat)
  4. Peserta didik melakukan presentasi tentang hasil pengukuran yang dilakukan tiap kelompok dan peserta didik diminta melakukan refleksi untuk memperoleh langkah-langkah pengukuran yang benar (Fase 4) (percaya diri dan kesantunan)
  5. Guru meberikan tugas kepada peserta didik untuk melakukan pengukuran yang relevan dengan jangka sorong terhadap benda-benda di sekitarnya  dalam kehidupan sehari – hari (Fase 5) (ketelitian dan kecermatan)

3. KEGIATAN PENUTUP

  1. Peserta didik menyimpulkan tingkat ketelitian hasil pengukuran dengan menggunakan penggaris dan jangka sorong (tanggung jawab)
  2. Guru memberi penghargaan pada peserta didik yang berperan aktif dalam kegiatan diskusi dan presentasi (Kepedulian)

 

 

MODEL

METODE

Potensi Nilai Karakter yang Mungkin

Cooperative Learning Pengamatan (Mengajukan pertanyaan, mendata, mengklasifikasi, menganalisis data, dan  menyimpulkan) Kereligiusan, kejujuran, berpikir logis, Berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, demokratis, tanggung jawab, menghargai keberagaman Ketelitian dan kecermatan, kesantunan, gaya hidup sehat, percaya diri, kedisiplinan.
Eksperimen/Penyelidikan/penemuan (merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang percobaan, mendata, mengklasifikasi, menganalisis data, menyimpulkan) Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, keingintahuan, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, gaya hidup sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, cinta ilmu, kecermatan dan ketelitian.

Berikut contoh aplikasi penggunaan model, metode, integrasi nilai karakter dalam pembelajaran Cooperative Learning:

 

Fase-fase

Aktivitas yang difasilitasi oleh Guru

Fase 1Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyampaikan  semua tujuan yang ingin dicapai selama pembelajaran dan memotivasi siswa belajar
Fase 2Menyajikan informasi Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi  atau lewat bahan bacaan
Fase 3Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4Membimbing kelompok bekerja dan belajar Membimbing kelompok belajar pada saat  mereka mengerjakan tugas mereka

 

Fase 5Evaluasi Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta kelompok mempresentasikan hasil karyanya
Fase 6Memberikan penghargaan Menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Contoh pada materi ekosistem

Pendahuluan

1) Mengajak peserta didik berdoa/mensukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa, Menyampaikan salam dan menanyakan keadaan peserta didik apakah dalam kondisi sehat dan siap belajar IPA, mengecek kehadiran, kebersihan dan kerapian kelas (Kereligiusan)
2) Peserta didik mempresentasikan hasil tugas mencari berita tentang akibat banjir. (Pada pertemuan sebelumnya, peserta didik diberi tugas membaca artikel tentang banjir dan akibatnya)(Keingintahuan, Cinta Ilmu)
3) Guru menyampaikan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai.
  1. a.      Kegiatan Inti
1) Peserta didik diminta membaca materi tentang kerusakan lingkungan dan menggarisbawahi konsep penting dengan  kecermatan dan ketelitian
2) Peserta didik memperhatikan penjelasan tentang aturan diskusi untuk mengkaji hasil pengamatan lingkungan alami dan lingkungan yang mengalami kerusakan.
3) Peserta didik dikelompokkan dalam kelompok kooperatif yang beranggotakan 4 atau 5 siswa dengan memperhatikan heterogenitas akademik dan jenis kelamin.
4) 

 

 

5)

Peserta didik melakukan pengamatan dengan keingintahuan dan menuliskan hasil pengamatan dengan kejujuran, kecermatan dan ketelitian serta bertanggungjawab dengan anggota kelompok.Peserta didik  bertanggungjawab mendiskusikan hasil pengamatan pada lingkungan alami dan lingkungan yang mengalami kerusakan dengan memperhatikan ciri, faktor penyebab, akibat, dan upaya penanggulangan kerusakan.

Selama diskusi perserta didik mendapat bimbingan dari guru.

6) Beberapa kelompok mempresentasikan hasil kegiatannya, dan kelompok lain memberikan tanggapannya (menghargai keberagaman)
7) Penghargaan diberikan pada kelompok yang kinerjanya paling baik dan baik.

 

  1. b.      Penutup
1) Peserta didik menyimpulkan konsep kerusakan lingkungan dan Guru membantu peserta didik bila ada kesulitan (Kepedulian)
2) Setiap kelompok diminta untuk membawa 10 ekor ikan hias kecil-kecil dan sabun detergen untuk percobaan pertemuan berikutnya.

 

*)  Contoh integrasi nilai karakter pada perencanaan pembelajaran silabus dan RPP untuk kelas VII lengkap terlampir.

 

  1. C.  Penggunaan BSE Mata Pelajaran IPA untuk Pendidikan Karakter

 

  1. 1.     Gambaran umum BSE Mata Pelajaran IPA

Secara umum bahan ajar BSE IPA yang beredar di sekolah untuk kelas VII (Penulis Ani dkk., Teguh dkk.; dan Wasis dkk.)  adalah sebagai berikut:

No

Aspek

Hasil Telaah

a.

Isi Telah baik dan sesuai dalam hal: Cakupan dan kedalaman materi pokok sesuai dengan yang diamanatkan SK dan KD, kebenaran konten (fakta, konsep, teori dan prinsip/ hukum), kemutakhiran isi sesuai dengan perkembangan ilmu, materi yang disajikan dapat memotivasi siswa menimbulkan gagasan baru, menumbuhkan rasa ingin tahu, mengembangkan kecakapan hidup (personal, sosial, akademik dan vokasional), memperhatikan keterkaitan sains, teknologi dan masyarakatCatatan:  untuk BSE dengan penulis Ani dkk, Teguh dkk dari sisi isi hanya berisi informasi saja

 

No

Aspek

Hasil Telaah

b.

Metoda Pembelajaran Telah baik dan sesuai dalam hal: Memenuhi konsep konstruktivis, siswa membangun pemahaman sendiri dari pengalaman baru berdasarkan pada pengalaman awal, menumbuhkan rasa ingin tahu, mendorong untuk mencari informasi lebih jauh, memenuhi komponen bertanya (pertanyaan untuk mengecek pemahaman siswa), Memotivasi siswa untuk berkomunikasi, berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain, dan menciptakan umpan balik.Catatan:  untuk BSE dengan penulis Ani dkk, Teguh dkk dari kegiatan hanya menyediakan kegiatan yang bersifat resep saja.

c.

Bahasa Telah baik dan sesuai dalam hal: Bahasa yang dipakai sesuai dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, materi disajikan dengan bahasa yang menarik, bahasa yang digunakan dapat memotivasi siswa untuk belajar, memungkinkan siswa seolah-olah berkomunikasi dengan penulis buku siswa, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, istilah yang digunakan tepat dan dapat dipahami, dan menggunakan istilah dan simbol secara ajeg.

d.

Grafika Menarik, memperjelas konsep,  relevan dengan bahasan yang ada dan banyak gambar untuk memperjelas konsep yang masih abstrak.

e.

Berdasarkan karakteristik buku BSE kelas VII yang dipergunakan sekolah, maka potensi nilai karakter dapat di sisipkan pada setiap komponen buku ajar.

 

2. Strategi Penggunaan BSE untuk Pendidikan Karakter

Berikut adalah contoh penggunaan BSE untuk pendidikan karakter adaptasi lengkap sebelum pembelajaran dilaksanakan dan adaptasi tersebut dari sisi isi, kegiatan pembelajaran,dan evaluasi.

Contoh IPA-Biologi

SK: Memahami keanekaragaman makhluk hidup.

KD: Mendeskripsikan keragaman pada sistem organisasi kehidupan mulai dari tingkat   sel  sampai organisme.

Judul:  Contextual Teaching and Learning Ilmu Pengetahuan Alam  Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah

Sumber : Materi Pelatihan Pendikar SMP


Download:

Kata Pengantar_Panduan Guru

PETUNJUKGURU MAT

RPP KD 5.1 Desember 2010 edited4

RPP KD 6.4 Solo Des 2010

RPP Solo KD 1.1 Final Sahid Solo

RPP KD 2.3 Final Sahid Solo

lembar penilaian diri KD1.1

BAB II

PANDUAN KHUSUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA

 

            Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan modern,  mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Untuk membekali peserta didik menjadi seorang penguasa teknologi yang mampu memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidaklah cukup hanya dengan membekali penguasaan kognitif saja, namun diperlukan pembentukan karakter peserta didik. Berikut adalah nilai-nilai karakter utama dan pokok dalam pembelajaran matematika.

  1. A.    Karakter utama untuk pelajaran Matematika

Karakter utama untuk pelajaran matematika meliputi berpikir logis, kritis, kerja keras, keingintahuan, kemandirian, percaya  diri. Tabel 1.2 berikut mendeskripsi-kan  nilai karakter dan indikatornya

Tabel 1.2 Nilai-Nilai Karakter dan Indikatornya

No

Nilai Karakter Utama

Indikator

1 Berpikir logis, kritis, reatif, dan inovatif  1)   memaparkan pendapat didasarkan pada fakta empirik
2)   menunjukkan kekuatan dan kelemahan suatu permasalahan
3)   memberikan pemikiran alternatif pada permasalahan yang dihadapi
4)   memaparkan cara atau hasil baru dan mutakhir dari apa yang telah dimiliki
  5)   memberikan gagasan dengan cara-cara yang asli atau bukan klise
2 Kerja keras  1) menyelesaikan semua tugas dengan  baik dan tepat waktu
2)    tidak putus asa dalam menghadapi  masalah
3)    tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah
3 Keingintahuan  1)    menanyakan segala sesuatu yang belum diketahui
2)    mengamati perubahan-perubahan dari hal-hal atau kejadian
3)    berupaya mencari sumber belajar tentang konsep atau masalah yang dipelajari /dijumpai
4)    berupaya untuk mencari masalah yang lebih menantang
5)    aktif dalam mencari informasi
4 Kemandirian  1)     memiliki keyakinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
2)    memiliki  keyakinan akan kemampuan dirinya
3)    mencatat hal-hal penting yang terkait dengan materi pelajaran matematika
  4)  mencari strategi untuk mengatasi kesulitan tersebut dengan pemikirannya sendiri
  5)  mempunyai kemampuan untuk mengatur belajarnya sendiri
  6)  memiliki perilaku yang dapat menentukan tujuan belajar, sumber belajar, materi yang dipelajari, dan bagaimana mempelajarinya
5. Percaya diri  1)  menguasai materi prasyarat untuk menyelesaikan materi berikutnya
2)  mempunyai inisiatif
3)   memiliki keyakinan dapat menyelesaikan masalah yang  dihadapi
4)   tidak menunjukkan keragu-raguan dalam melakukan sesuatu
5)   menunjukkan keberanian menyampaikan pendapat saat berdiskusi di kelas
6)   tidak mengeluh saat menyelesaikan masalah yang diberikan guru
  1. B.           Karakter pokok pada pelajaran Matematika

Karakter pokok pada pelajaran matematika meliputi religius, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian,  dan demokratis. Tabel 2.1 menguraikan deskripsi masing-masing nilai karakter tersebut beserta indikatornya

Tabel 2.1 Deskripsi Nilai-Nilai Karakter dan Indikatornya

No

Nilai Karakter Pokok

Indikator

1 Kereligiusan  1) mengagumi kebesaran Tuhan melalui berbagai model matematika
2) mengagumi kebesaran Tuhan karena kemampuan dirinya untuk hidup sebagai anggota masyarakat
3) mengagumi kekuasaan Tuhan yang telah mencipta kan berbagai alam semesta
4)  mengagumi kebesaran Tuhan karena adanya agama sebagai sumber keteraturan hidup masyarakat
2 Kejujuran 1) tidak menyontek ataupun menjadi plagiat dalam mengerjakan setiap tugas
2) mengemukakan rasa senang atau tidak senang terhadap pelajaran
3) menyatakan sikap terhadap suatu materi diskusi kelas
4)  mengemukakan pendapat tanpa ragu tentang suatu pokok diskusi
5)  menyelesaikan masalah dilakukan sesuai dengan kemampuannya sendiri
3 Kecerdasan 1) pikiran dan perilaku yang berupa reaksi yang cermat, tepat dan  cepat/akurat terhadap pengalaman baru
2) cermat, tepat dan cepat/tangkas menyelesaikan masalah
3) mampu menerapkan pengetahuan yang diperolehnya terhadap hal-hal yang baru
4 Ketangguhan  1)   sikap dan perilaku pantang menyerah /tidak mudah  putus asa dalam mengahadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
2)   kokoh mempertahankan pendapatnya
3)  mampu mengatasi berbagai masalah menjadi tugasnya atau apa yang diinginkannya
4) berpendirian kuat untuk mempertahankan hati nuraninya
5) tidak mudah berubah sikap dalam menghadapi masalah
5 Kedemokratisan 1) memilih ketua kelompok berdasarkan suara terbanyak
2)   mendukung hasil kesepakatan
3)   mengemukakan pikiran tentang idenya
4) memberi kesempatan orang lain untuk mengemukakan pendapat sesuai dengan cara masing-masing
6 Kepedulian 1) sikap simpati dan empati bagi orang lain atau kelompok yang kurang  beruntung
3)   memberikan bantuan sesuai dengan kemampuannya terhadap  orang lain  yang mempunyai masalah
3) membantu teman lain menyelesaikan masalah  dalam segala situasi
4)   memberikan bimbingan teman lain yang menemui masalah
  1. C.           Kegiatan Pembelajaran yang Mengembangkan Karakter pada Pembelajaran Matematika

Dalam kegiatan pembelajaran matematika diperlukan strategi pembelajaran yang dapat mengintegrasikan pembentukan karakter peserta didik. Tabel 2.2 berikut adalah contoh kegiatan pembelajaran matematika yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang ingin ditanamkan.

Tabel 2.2 Contoh Kegiatan Pembelajaran Matematika yang Mengintegrasikan Nilai-Nilai Karakter

No

Nilai Karakter

Kegiatan Pembelajaran

1 Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif  1)      melakukan kegiatan investigasi/penelitian
2)      menyelesaikan persoalan pemecahan masalah
3)      menyelesaikan persoalan open-ended untuk memberikan pemikiran alternatif pemecahannya
4)      melakukan kegiatan laboratorium untuk mengumpul kan fakta empirik sebagai dasar pengambilan ke simpulan
5)      melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif
  6)      melakukan analisis dari masalah yang dihadapi
2 Kerja keras  1)      menyelesaikan tugas di dalam kelas, tugas pekerjaan rumah, tugas terstruktur
2)      menyelesaikan tugas sesuai batas waktu yang ditetapkan
3)      menyelesaikan tugas proyek
4)      tidak berhenti menyelesaikan masalah sebelum selesai
5)      melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kerja keras
3 Keinginta-huan  1)      melakukan kegiatan tanya jawab saat kegiatan apersepsi
2)      melakukan kegiatan tanya jawab pada kegiatan diskusi
3)      menugaskan peserta didik membuat pertanyaan  (mengunakan metode problem posing )
4)      menugaskan peserta didik mencari sumber belajar
5)      melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai keingintahuan
4 Kemandirian  1)      melakukan penilaian secara individu
2)     menyelesaikan sendiri tugas yang menjadi tanggung jawabnya
3)      melakukan kegiatan penyelidikan untuk penemuan konsep
4)      melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kemandirian
5)      aktif dalam melakukan refleksi
  6)   tidak ada keragu-raguan  menyampaikan pendapat saat berdiskusi di kelas
  7)   dengan rela  menyelesaikan sendiri masalah yang diberikan guru
5 Percaya diri  1)      melakukan tanya jawab saat apersepsi tentang materi prasyarat
2)      mengajukan pertanyaan dan pernyataan atas suatu masalah
3)      menyelesaikan masalah yang dihadapi
4)      melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai percaya diri
6 Kereligiusan  1)  menyiapkan peserta didik dimulai dengan berdoa apabila jam pertama, absensi, kebersihan kelas,  dst
2) mengagumi kebesaran Tuhan melalui penyampaian materi matematika secara kontekstual yang terkait dengan dunia peserta didik dan materi, misalnya adanya keteratuan bentuk geometri, keteratuan dan lain sebagainya
7 Kejujuran 1) mengerjakan soal ujia secara individu tanpa menyontek
2) mengerjakan tugas pekerjaan rumah secara individu dan tidak menjadi plagiat dalam mengerjakan setiap tugas
3) melakukan kegiatan refleksi sehingga peserta didik dapat mengemukakan rasa senang atau tidak senang terhadap pelajaran
4) melakukan kegiatan diskusi agar peserta didik dapat mengemukakan pendapat tanpa ragu tentang suatu pokok diskusi
5) melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kejujuran
8 Kecerdasan 1)   memberikan latihan/soal pemecahan masalah
2)   melakukan kegiatan penemuan
3) melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kecerdasan
9 Ketangguhan  1)   sikap dan perilaku pantang menyerah /tidak mudah  putus asa dalam mengahadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
1)   mengikuti kegiatan pembelajaran dalam berbagai situasi
2)   menyelesaikan  berbagai masalah yang menjadi tugasnya atau apa yang diinginkannya
3)   mempertahankan pendapatnya dalam kelompok diskusi atau aktivitas lain
2) mampu mengatasi berbagai masalah menjadi tugasnya atau apa yang diinginkan nya
3) berpendirian kuat untuk mempertahankan hati      nuraninya
4) tidak mudah berubah sikap dalam menghadapi      masalah
5) melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai ketangguhan
10 Kedemokra-tisan 1) memberikan kesempatan pada peserta didik untuk memilih ketua kelompok saat kegiatan diskusi
2) memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok
3) memberi kesempatan pada peserta didik ntuk mengemukakan pendapat sesuai dengan cara masing-masing saat kegiatan diskusi
4) memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok
5) melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kedemokratisan
5)  menghargai pendapat orang lain yang sedikit berbeda atau berbeda sama sekali dengan dirinya
11 Kepedulian 1)   memberikan tanggapan atas pertanyaan yang disampaikan teman lain
2)   memberikan kesempatan pendapat teman lain  saat kegiatan tanya jawab
 3) memberikan bantuan terhadap teman sesuai dengan kemampuannya terhadap  teman lain yang memiliki masalah
4) memberikan penghargaan pada kegiatan diskusi saat teman lain menyelesaikan masalah
5) melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kepedulian
  1. D.          Penggunaan BSE Mata Pelajaran Matematika untuk Pendidikan Karakter

Secara umum buku pelajaran BSE Matematika yang beredar saat ini dari segi isi atau konsep, grafis, bahasa, tampilan layak untuk digunakan, dan memuat nilai karakter.

Beberapa bagian dalam BSE Matematika dapat dipilih sebagai bahan rujukan untuk pendidikan karakter. Berikut adalah salah satu cuplikan gambaran umum BSE mata pelajaran Matematika didasarkan pada hasil content analysis sebagai berikut.

  1. BSE memiliki tujuan pembelajaran sesuai dengan pengembangan standar isi dan pendidikan karakter.

Contoh :

Dalam buku BSE tercantum secara eksplisit tujuan pembelajaran yang akan membantu siswa menguasai Standar Kompetensi yang berbunyi : (6) Memahami konsep segitiga dan segi empat serta menentukan ukurannya, dengan kompetensi dasar : (6.1) Mengidentifikasi sifat-sifat segitiga berdasarkan sisi dan sudutnya; (6.2) Mengidentifikasi sifat-sifat persegi panjang, persegi, trapesium, jajargenjang, belah ketupat dan layang-layang; (6.3) Menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah; (6.4) Melukis segitiga, garis tinggi, garis bagi, garis berat dan garis sumbu

Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. 2008

  1. BSE berpotensi menyajikan bahan ajar yang menciptakan siswa aktif dan bahasa membumi serta tidak multi tafsir

Contoh :

Dalam materi ini memungkinkan terciptanya aktivitas siswa melalui kegiatan penyelidikan yang diawali dengan aktivitas melukis semua garis tinggi pada segitiga yang telah ditentukan seperti yang ditunjukkan dalam gambar, sehingga tidak menyebabkan multi tafsir. Disamping itu dapat diamati keaktifan siswa dalam melukis garis bagi. Keaktifan tersebut dilakukan siswa atas dasar informasi yang menyatakan :

  1. “Dengan menggunakan penggaris dan jangka, lukislah semua garis tinggi pada segitiga ABC berikut”. Redaksi pada perintah tersebut menggunakan bahasa yang mudah dipahami peserta didik kelas VII sehingga peserta didik melaksanakan tersebut yaitu melukis ketiga garis tinggi.
  2. “Apa yang dapat kamu simpulkan dari ketiga garis tinggi tersebut “ juga menggunakan kalimat yang sederhana yang mudah dipahami, yaitu menyelidiki perpotongan ketiga garis tinggi yang dilukis tersebut

Melalui cara menggunakan penggaris dan jangka dapat dilakukan penilaian autentik dengan instrumen non tes berupa rubrik. Penilaian dilakukan pada saat peserta didik melukis garis tinggi. Dengan cara yang sama pada saat peserta didik melukis garis bagi pada segitiga yang digambar pada bukunya. Gambar segitiga tidak jauh berbeda dengan gambar yang ada pada  buku BSE.

Atik Wintarti dkk.2008.

  1. BSE memuat bahan ajar dengan gambar menarik, relevan dengan konsep yang disajikan dan tidak mengandung multi tafsir

Contoh:

Bahan ajar yang menampilkan gambar-gambar menarik , jelas, relevan dengan konsep, mudah untuk diikuti untuk melakukan kegiatan. Gambar bekas goresan jangka berupa dua buah busur lingkaran dapat di amati dengan jelas. Demikian pula gambar titik potong kedua busur lingkaran dapat dilihat secara jelas pula.

  Atik Wintarti dkk.2008

  1. BSE adalah bahan ajar yang memiliki nilai karakter, baik secara implisit maupun eksplisit.

Contoh :

Dalam materi ini tampak bahwa tugas mandiri diberikan dengan maksud untuk menumbuhkan kerja keras dan ketangguhan dan percaya diri. Kegiatan tersebut melatih berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif  dalam menyelidiki dua segitiga yang kongruen. Peserta didik akan menyusun bangun baru dari dua segitiga yang sebangun. Kegiatan menyusun bangun baru dari dua segitga yang sebangun tersebut dapat mendorong peserta didik agar  kerja keras dan percaya diri dalam melakukan penyelidikan .

                                                                        Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. 2008

  1. E.           Strategi penggunaan BSE mata pelajaran matematika untuk pendidikan karakter

Banyak strategi penggunaan BSE Matematika sebagai bahan ajar yang mengintegrasikan nilai karakter. Berikut adalah beberapa contoh strategi dalam penggunaan BSE yang dapat dipilih

  1. Adaptasi lengkap sebelum pembelajaran dilaksanakan.

Sub topik melukis segitiga yang termuat dalam salah satu buku BSE. Dari segi isi, metode dan evaluasi sudah cukup layak sebagai bahan ajar, namun belum menunjukkan adanya integrasi  pendidikan karakter. Berikut adalah adaptasi lengkap yang dapat dilakukan baik dari isi, metode pembelajaran maupun pengembangan evaluasi yang dapat mengintegrasikan pendidikan karakter.

Contoh:

Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. 2008

Adaptasi yang dapat dilakukan melalui isi, metode dan evaluasi. Berikut adalah contoh adaptasi yang dapat dilakukan.

Dari segi isi/materi guru dapat memberikan materi yang kontekstual, persoalan kontekstual yang disampaikan misalnya akan dibuat pelengkap bangunan masjid secara bergotong royong,. Ssaat ini dibuat pelengkap bangunan berbentuk segitiga sama kaki dengan besar salah satu sudut 45o dengan panjang salah satu sisi adalah 2 m. Untuk keperluan tersebut dibutuhkan gambar segitiga yang tepat. Melalui penyampaian materi ini, peserta didik dapat berinovasi,  dan berkreativitas dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Agar karaktekr demokrasi, serta kepedulian timbul, materi tersebut dapat dilakukan dengan meminta peserta didik menyelesaikan dalam diskusi kelompok dan mempresentasikan penyelesaian permasalahan tersebut.

Evaluasi yang dilakukan masih pada evaluasi kognitif, untuk itu dapat ditambahkan evaluasi  untuk mengukur kemampuan lainnya sebagai contoh:

 Lembar Penilaian Diri

 

Nama : …………………          Kelas  : ……………                 Tanggal         …………

Petunjuk:

Berilah tanda Ö sesuai dengan keadaanmu yang sebenarnya!

Skala Penilaian

5 4 3 2 1
Selalu dibantu teman saat mengerjakan tugas Tidak pernah dibantu saat mengerjakan tugas
Mengerjakan soal ujian sendiri Melihat pekerjaan teman bila diperlukan
Selalu mencontoh pekerjaan teman Tidak pernah mencontoh pekerjaan teman
Selalu merefleksi setiap kegiatan pembelajaran Tidakpernah merefleksi kegiatan pembelajaran
Selalu ragu menge-mukakan pendapat Tidak pernah ragu mengemukakan pendapat
Selalu memeriksa kembali  pekerjaan nya sebelum di kumpulkan Tidak pernah  me meriksa  kembali pe kerjaannya sebelum di kumpulkan

Selalu melirik hasil akhir teman disebelahnya     Tidak pernah melirik hasil akhir teman disebelahnya

b. Adaptasi sebagian/parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan.

Beberapa bagian dalam BSE sangat mungkin tidak sesuai dengan situasi pembelajaran yang akan diciptakan, misalnya dalam contoh (a) kesimpulan sudah dicantumkan dalam BSE, sehingga dikhawatirkan siswa tidak melakukan kegiatan eksplorasi, dan tidak melatih berpikir logis dikarenakan hasil sudah ditunjukkan dalam kesimpulan, sehingga kesimpulan disarankan untuk dihilangkan.

  1. Adaptasi sebagian/parsial selama pembelajaran dilaksanakan

Dalam penggunaan sumber BSE pada bagian  (a) saat pembelajaran, sangat mungkin situasi yang tidak diharapkan muncul, misalnya kegiatan penyelidikan untuk melatih befikir kritis belum muncul dikarenakan persoalan yang kurang beragam, sehingga diperlukan perubahan pada saat siswa mendiskusikan permasalahan tersebut, gantilah/tambahkan persoalan yang lebih sederhana dengan ukuran sudut istimewa, sehingga peserta didik lebih mudah untuk melakukan eksplorasi.

Contoh berikut merupakan masalah yang lebih sederhana, karena gambar segitiga yang dibuat adalah segitiga samakaki (yang memiliki dua sisi sama panjang) disertai langkah-langkah yang masih memungkinkan siswa untuk melakukan eksplorasi

Adaptasi yang dapat dilakukan dengan mengubah persoalan, sehingga peserta didik dapat melakukan kegiatan eksplorasi:

1. Coba lukis segitiga samasisi KLM

  1. Buatlah sketsa dari unsur-unsur yang diketahui dan berilah tanda pada sketsa tersebut.
  2. Langkah apa yang kamu lakukan dahulu untuk melukis DKLM?
  3. Sebutkan langkah-lankah yang kamu gunakan untuk melukis DKLM?
  4. Adakah cara lain untuk melukis  DKLM?Jelaskan!
  5. Coba lukis segitiga samakaki  ABC dengan besar sudut ÐB = ÐC
    1. Buatlah sketsa dari unsur-unsur yang diketahui dan berilah tanda pada sketsa tersebut.
    2. Langkah apa yang kamu lakukan dahulu untuk melukis DKLM?
    3. Sebutkan langkah-langkah yang kamu gunakan untuk melukis DKLM?
    4. Jenis segitiga apakah DKLM, jika dilihat dari besar sudur dan panjang sisi?
    5. Adakah cara lain untuk melukis  DKLM?Jelaskan!

Sumber:  Pelatihan Pendikar untuk SMP


Download:

PANDUAN GURU MODEL Bahasa Indonesia SMP

01. Sillabus B. Ind. VII-1 Revisi

02. RPP B. IND. DG KARAKTER

 

BAGIAN  II

PANDUAN PENDIDIKAN KARAKTER

MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA

 

 

  1. A.             Nilai-nilai Karakter untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Nilai karakter yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran untuk semua mata pelajaran pada dasarnya sama, yaitu nilai karakter manusia dalam berkehidupan, berketuhanan, dan bersesama. Lebih rinci, nilai karakter itu berkenaan dengan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan bangsa. Artinya, dalam kehidupan, nilai karakter itu berfungsi mengontrol dan dimanifestasikan dalam hubungan seseorang dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, lingkungan alam, dan bangsa. Demikian pula, nilai karakter untuk mata pelajaran bahasa Indonesia.

Sesuai dengan anjuran yang telah dikemukakan di atas, nilai karakter yang dapat diitegrasikan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia terdiri dari beberapa nilai karakter pokok atau utama. Ketentuan yang berkenaan dengan nilai karakter pokok atau utama itu bukan berarti membatasi pengenalan, pengembangan, dan pembudayaan nilai karakter yang lain. Artinya, nilai karakter yang lain, sepanjang memungkinkan diitegrasikan dalam pembelajaran, juga dianjurkan untuk dikenalkan, dikembangkan, dan dibudayakan dalam kehidupan nyata peserta didik. Nilai karakter pokok, dalam hal ini, ialah nilai karakter yang dijadikan pangkal tolak pengembangan nilai karakter yang lain. Melalui penanaman, pengembangan, dan pembudayaan nilai karakter pokok ini diharapkan nilai karakter yang lain dapat dikembangkan pula. Nilai karakter utama ialah nilai karakter yang diprioritaskan untuk ditanamkan, dikembangkan, dan dibudayakan bagi dan oleh peserta didik. Beberapa nilai karakter utama juga disebutkan dalam nilai karakter pokok karena nilai karakter itu merupakan dasar atau pangkal tolak pengenalan, pengembangan, dan pembudayaan nilai karakter yang lain.

Satu hal yang perlu disadari ialah tidak ada nilai karakter kehidupan manusia yang berdiri sendiri, terpisah satu dengan yang lain. Nilai karakter yang satu dan nilai karakter yang lain senantiasa saling bersinggungan, tumpang tindih, dan atau terkait; bahkan nilai karakter yang satu kadang merupakan prasyarat bagi nilai karakter yang lain; nilai karakter yang satu kadang juga merupakan manifestasi atau perwujudan dari nilai karakter yang lain.

Untuk mata pelajaran bahasaIndonesia, nilai karakter pokok dan nilai karakter utama yang dianjurkan untuk diitegrasikan dalam pembelajaran dapat dikemukakan sebagai berikut.

 

 

  1. 1.     Nilai Karakter Pokok dan Indikatornya

Di antara butir-butir nilai karakter yang dianjurkan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran, ada enam butir nilai yang dipilih sebagai nilai karakter pokok, yaitu nilai karakter yang menjadi pangkal tolak pengembangan nilai karakter yang lain. Enam nilai karakter pokok tersebut dapat dirumuskan indikatornya berdasarkan empat kompetensi keterampilan berbahasa seperti pada tabel berikut.

 

Nilai Karakter

Indikator

Kereligiusan

  • Berkata dan bertindak sesuai norma keagamaan
  • Menjauhi hal-hal yang dilarang oleh agama
  • Melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh agama
    • memiliki kepekaan dalam memahami dan atau menguasai aspek-aspek keimanan (kereligiusan) dalam konteks keterampilan mendengarkan; misalnya, mampu mengidentifikasi, memahami, dan menerapkan aspek-aspek kereligiusan melalui kegiatan mendengarkan.
    • memiliki kepekaan dalam memahami dan atau menguasai aspek-aspek keimanan  (religius) dalam konteks keterampilan berbicara; misalnya, mampu menerapkan aspek-aspek kereligiusan melalui kegiatan berbicara
    • memiliki kepekaan dalam memahami dan atau menguasai aspek-aspek keimanan  (religius) dalam konteks keterampilan membaca; misalnya, mampu mengidentifikasi, memahami, dan menerapkan aspek-aspek kereligiusan melalui kegiatan membaca.
    • memiliki kepekaan dalam memahami dan atau menguasai aspek-aspek keimanan  (religius) dalam konteks keterampilan menulis; misalnya, mampu menerapkan aspek-aspek kereligiusan melalui kegiatan menulis.
Kejujuran

  • berkata dan bertindak apa adanya
  • berkata dan bertindak dengan ikhlas

 

  • memiliki kebiasaan menghargai dan menerapkan nilai kejujuran dalam konteks keterampilan mendengarkan; misalnya, mampu mengidentifikasi, memahami, dan menerapkan aspek nilai kejujuran melalui kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kebiasaan menghargai dan menerapkan nilai kejujuran dalam konteks keterampilan berbicara; misalnya, mampu menerapkan aspek-aspek nilai kejujuran melalui kegiatan berbicara.
  • memiliki kebiasaan menghargai dan menerapkan nilai kejujuran dalam konteks keterampilan membaca; misalnya, mampu mengidentifikasi, memahami, dan menerapkan aspek nilai kejujuran melalui kegiatan membaca.
  • memiliki kebiasaan menghargai dan menerapkan nilai kejujuran dalam konteks keterampilan menulis; misalnya, mampu menerapkan aspek-aspek nilai kejujuran melalui kegiatan menulis.
Kecerdasan

  • berpikir rasional
  • berpikir faktual
  • berpikir cermat
  • berpikir kritis
  • berpikir kreatif
  • berpikir inovatif
    • memiliki kebiasaan berupaya untuk mendapatkan dan atau menerapkan berbagai aspek nilai kecerdasan dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya, mampu mengidentifikasi, memahami, dan menerapkan aspek nilai kejujuran melalui kegiatan mendengarkan.
    • memiliki kebiasaan berupaya untuk mendapatkan dan atau menerapkan berbagai aspek nilai kecerdasan dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya, mampu menerapkan aspel nilai kecerdasan dalam kegiatan berbicara.
    • memiliki kebiasaan berupaya untuk mendapatkan dan atau menerapkan berbagai aspek nilai kecerdasan dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya, mampu mengidentifikasi, memahami, dan menerapkan aspek nilai kecerdasan melalui kegiatan membaca.
    • memiliki kebiasaan berupaya untuk mendapatkan dan atau menerapkan berbagai aspek nilai kecerdasan dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya, mampu menerapkan aspel nilai kecerdasan dalam kegiatan menulis.
Ketangguhan

  • ulet dalam melakukan pekerjaan
  • pantang menyerah ketika mendapatkan kendala atau tatangan
  • tahan dlm menghadapi permasalahan
    • memiliki berbagai aspek nilai ketangguhan dalam konteks penguasan keterampilan mendengarkan; misalnya, dapat mengidentifikasi, memahami, dan menerapkan aspek nilai ketangguhan dalam kegiatan mendengarkan.
    • memiliki berbagai aspek nilai ketangguhan dalam konteks penguasan keterampilan berbicara; dapat menerapkan aspek nilai ketangguhan dalam kegiatan berbicara.
    • memiliki berbagai aspek nilai ketangguhan dalam konteks penguasan keterampilan membaca; misalnya, dapat mengidentifikasi, memahami, dan menerapkan aspek nilai ketangguhan dalam kegiatan membaca.
    • memiliki berbagai aspek nilai ketangguhan dalam konteks penguasan keterampilan menulis; dapat menerapkan aspek nilai ketangguhan dalam kegiatan menulis.
Kedemokratisan

  • menghargai hak orang lain
  • menyadari kewajiban diri sendiri
    • menyadari, menghargai, dan menerapkan berbagai aspek nilai demokratis dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya, dapat mengidentifikasi dan menghargai hak dan kewajiban orang lain melalui kegiatan mendengarkan.
    • menyadari, menghargai, dan menerapkan berbagai aspek nilai demokratis dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya, dapat menghargai dan menyadari hak dan kewajiban diri dan orang lain melalui kegiatan berbicara.
    • menyadari, menghargai, dan menerapkan berbagai aspek nilai demokratis dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya, dapat mengidentifikasi dan menghargai hak dan kewajiban orang lain melalui kegiatan membaca.
    • menyadari, menghargai, dan menerapkan berbagai aspek nilai demokratis dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya, dapat menghargai dan menyadari hak dan kewajiban diri dan orang lain melalui kegiatan menulis.
Kepedulian

  • memperhatikan sesama dan lingkungan
  • menghiraukan sesama dan lingkungan
  • mengindahkan sesama dan lingkungan

 

  • memiliki kepekaan dan kebiasaan menerapkan berbagai aspek nilai kepedulian dalam kontek penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya, dapat mengidentifikasi, memahami, dan menerapkan aspek nilai kepedulian dalam kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kepekaan dan kebiasaan menerapkan berbagai aspek nilai kepedulian dalam kontek penguasaan keterampilan berbicara; misalnya, dapat menerapkan aspek nilai kepedulian dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki kepekaan dan kebiasaan menerapkan berbagai aspek nilai kepedulian dalam kontek penguasaan keterampilan membaca; misalnya, dapat mengidentifikasi, memahami, dan menerapkan aspek nilai kepedulian dalam kegiatan membaca.
  • memiliki kepekaan dan kebiasaan menerapkan berbagai aspek nilai kepedulian dalam kontek penguasaan keterampilan menulis; misalnya, dapat menerapkan aspek nilai kepedulian dalam kegiatan menulis.

 

 

  1. 2.      Nilai Karakter Utama dan Indikatornya

Beberapa butir nilai karakter utama yang dianjurkan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia sudah dikemukakan di atas dan di antaranya sudah sebutkan pula pada uraian mengenai nilai karakter pokok. Oleh karena itu, nilai karakter yang termasuk nilai karakter pokok tidak dikemukakan lagi dalam daftar nilai karakter utama berikut. Selebihnya, nilai karakter utama yang diprioritaskan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran dapat dikemukakan melalui tabel berikut ini.

 

Nilai Karakter

Indikator

Kelogisan
  • memiliki kebiasaan berpikir logis dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat menerapkan aspek nilai kelogisan dalam kegiatan mendengarkan informasi.
  • memiliki kebiasaan berpikir logis dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya dapat menerapkan aspek nilai kelogisan dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki kebiasaan berpikir logis dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat menerapkan aspek nilai kelogisan dalam menerima informasi melalui kegiatan membaca.
  • memiliki kebiasaan berpikir logis dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya dapat menerapkan aspek nilai kelogisan dalam kegiatan menulis.
Kekritisan
  • memiliki kebiasaan berpikir kritis dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat menerapkan aspek kekritisan dalam menerima informasi melalui kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kebiasaan berpikir kritis dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya, dapat menerapkan aspek kekritisan dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki kebiasaan berpikir kritis dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat menerapkan aspek kekritisan dalam menerima informasi melalui kegiatan membaca.
  • memiliki kebiasaan berpikir kritis dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; dapat menerapkan aspek kekritisan dalam kegiatan menulis.
Kreativitas
  • memiliki atau menunjukkan kreativitas dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat menghargai aspek kreativitas dalam menerima informasi melalui kegiatan mendengarkan .
  • memiliki atau menunjukkan kreativitas dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; dapat menerapkan nilai kreatif dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki atau menunjukkan kreativitas dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; dapat menghargai aspek kreativitas dalam menerima informasi melalui kegiatan membaca.
  • memiliki atau menunjukkan kreativitas dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya dapat menerapkan aspek kreatif dalam kegiatan menulis.
Inovasi
  • memiliki kemauan untuk mengidentifikasi dan menghargai aspek inovasi dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya, dapat mengidentifikasi aspek inovasi dalam informasi yang diperoleh melalui kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kemauan dan kemampuan berpikir dan berbuat secara inovatif dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya, dapat menerapkan dan menyampaikan aspek inovasi dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki kemauan untuk mengidentifikasi dan menghargai aspek inovasi dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya, dapat mengidentifikasi aspek inovasi dalam informasi yang diperoleh melalui kegiatan membaca.
  • memiliki kemauan dan kemampuan berpikir dan berbuat secara inovatif dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya, dapat menerapkan dan menyampaikan aspek inovasi dalam kegiatan menulis.
Percara diri
  • memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi dalam melakukan kegiatan mendengarkan.
  • memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya dapat menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi dalam melakukan kegiatan berbicara.
  • memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi dalam melakukan kegiatan membaca.
  • memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya dapat menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi dalam melakukan kegiatan menulis.
Tanggung jawab
  • memiliki dan atau menerapkan berbagai aspek nilai tanggung jawab dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat menunjukkan aspek tanggung jawab dalam kegiatan mendengarkan.
  • memiliki dan atau menerapkan berbagai aspek nilai tanggung jawab dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya dapat menunjukkan aspek tanggung jawab dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki dan atau menerapkan berbagai aspek nilai tanggung jawab dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat menunjukkan aspek tanggung jawab dalam kegiatan membaca.
  • memiliki dan atau menerapkan berbagai aspek nilai tanggung jawab dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya dapat menunjukkan aspek tanggung jawab dalam kegiatan menulis.
Kesantunan
  • memiliki kebiasaan menerapkan berbagai aspek nilai kesantunan dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat menunjukkan kesantunan dalam kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kebiasaan menerapkan berbagai aspek nilai kesantunan dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya dapat menunjukkan kesantunan dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki kebiasaan menerapkan berbagai aspek nilai kesantunan dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat menunjukkan kesantunan dalam kegiatan membaca.
  • memiliki kebiasaan menerapkan berbagai aspek nilai kesantunan dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya dapat menunjukkan kesantunan dalam kegiatan menulis.
Keingintahuan
  • memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat menunjukkan intensitas dan efektivitas yang tinggi dalam kegiatan mendengarkan.
  • memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya memiliki keinginan yang tinggi untuk menguasai keterampilan berbicara.
  • memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat menunjukkan intensitas dan efektivitas yang tinggi dalam kegiatan membaca.
  • memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya memiliki keinginan yang tinggi untuk menguasai keterampilan menulis.
Nasionalisme
  • memiliki dan menerapkan berbagai aspek nilai nasionalisme dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat menghargai atau mengapresiasi nilai nasionalisme dalam informasi yang diterima melalui kegiatan mendengarkan.
  • memiliki dan menerapkan berbagai aspek nilai nasionalisme dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya memiliki dan dapat menerapkan nilai nasionalisme dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki dan menerapkan berbagai aspek nilai nasionalisme dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat menghargai atau mengapresiasi nilai nasionalisme dalam informasi yang diterima melalui kegiatan membaca.
  • memiliki dan menerapkan berbagai aspek nilai nasionalisme dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya memiliki dan dapat menerapkan nilai nasionalisme dalam kegiatan menulis.
Gayahidup sehat
  • memiliki kepekaan dan atau kebiasaangayahidup sehat dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat mengidentifikasi dan memahami informasi tentanggayahidup sehat  yang diterima melalui kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kepekaan dan atau kebiasaangayahidup sehat dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya memilikigayahidup sehat dan dapat menginformasikannya kepada orang lain melalui kegiatan berbicara.
  • memiliki kepekaan dan atau kebiasaangayahidup sehat dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat mengidentifikasi dan memahami informasi tentanggayahidup sehat  yang diterima melalui kegiatan membaca.
  • memiliki kepekaan dan atau kebiasaangayahidup sehat dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya memilikigayahidup sehat dan dapat menginformasikannya kepada orang lain melalui kegiatan berbicara.
Kedisiplinan
  • memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai kedisiplinan dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat mengidentifikasi dan menerapkan aspek kedisiplinan dalam kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai kedisiplinan dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya memahami dan dapat menerapkan kaidah kebahasaan secara taat asas dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai kedisiplinan dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat mengidentifikasi dan menerapkan aspek kedisiplinan dalam kegiatan membaca.
  • memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai kedisiplinan dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya memahami dan dapat menerapkan kaidah kebahasaan secara taat asas dalam kegiatan menulis.
Kerja keras
  • memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai kerja keras dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya, memiliki kebiasaan dan dapat menunjukkan nilai kerja keras dalam kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai kerja keras dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya dapat menunjukkan nilai kerja keras dalam menguasai keterampilan berbicara.
  • memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai kerja keras dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya, memiliki kebiasaan dan dapat menunjukkan nilai kerja keras dalam kegiatan membaca.
  • memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai kerja keras dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya dapat menunjukkan nilai kerja keras dalam menguasai keterampilan menulis.
Berjiwa Kepemimpinan
  • memiliki kebiasaan mengarahkan atau mengajak orang lain untuk mencapai tujuan tertentu dengan berpegang pada asas kepemimpinan dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat mengidentifikasi dan memahami informasi mengenai jiwa kepemimpinan dalam kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kebiasaan mengarahkan atau mengajak orang lain untuk mencapai tujuan tertentu dengan berpegang pada asas kepemimpinan dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya memiliki dan dapat menerapkan nilai-nilai kepemimpinan dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki kebiasaan mengarahkan atau mengajak orang lain untuk mencapai tujuan tertentu dengan berpegang pada asas kepemimpinan dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat mengidentifikasi dan memahami informasi mengenai jiwa kepemimpinan dalam kegiatan membaca.
  • memiliki kebiasaan mengarahkan atau mengajak orang lain untuk mencapai tujuan tertentu dengan berpegang pada asas kepemimpinan dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya memiliki dan dapat menerapkan nilai-nilai kepemimpinan dalam kegiatan menulis.
Keberanian mengambil risiko
  • memiliki kesiapan untuk menanggung risiko yang mungkin timbul akibat dari tindakan yang dilakukan dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan
  • memiliki kesiapan untuk menanggung risiko yang mungkin timbul akibat dari tindakan yang dilakukan dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara
  • memiliki kesiapan untuk menanggung risiko yang mungkin timbul akibat dari tindakan yang dilakukan dalam konteks penguasaan keterampilan membaca
  • memiliki kesiapan untuk menanggung risiko yang mungkin timbul akibat dari tindakan yang dilakukan dalam konteks penguasaan keterampilan menulis
Berorientasi pada tindakan
  • memiliki kebiasaan berpikir yang berorientasi pada tindakan nyata dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat mengidentifikasi dan memahami informasi yang beorientasi pada tindakan melalui kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kebiasaan berpikir yang berorientasi pada tindakan nyata dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya dapat menyampaikan informasi yang berorientasi pada tindakan melalui kegiatan berbicara.
  • memiliki kebiasaan berpikir yang berorientasi pada tindakan nyata dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat mengidentifikasi dan memahami informasi yang beorientasi pada tindakan melalui kegiatan membaca.
  • memiliki kebiasaan berpikir yang berorientasi pada tindakan nyata dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya dapat menyampaikan informasi yang berorientasi pada tindakan melalui kegiatan menulis.
Kemandirian
  • memiliki kepekaan dan kebiasaan menerapkan aspek nilai kemandirian dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat menunjukkan kemandirian dalam menerima dan memahami informasi yang diperoleh melalui kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kepekaan dan kebiasaan menerapkan aspek nilai kemandirian dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya dapat menunjukkan kemandirian dalam menyampaikan informasi melalui kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kepekaan dan kebiasaan menerapkan aspek nilai kemandirian dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat menunjukkan kemandirian dalam menerima dan memahami informasi yang diperoleh melalui kegiatan membaca.
  • memiliki kepekaan dan kebiasaan menerapkan aspek nilai kemandirian dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya dapat menunjukkan kemandirian dalam menyampaikan informasi melalui kegiatan menulis.
Kecintaan terhadap ilmu
  • memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai cinta-ilmu dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat menunjukkan rasa kecintaan yang tinggi terhadap ilmu dalam kegiatan mendengarkan.
  • Memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai cinta-ilmu dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya dapat menunjukkan rasa kecintaan yang tinggi terhadap ilmu dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai cinta-ilmu dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat menunjukkan rasa kecintaan yang tinggi terhadap ilmu dalam kegiatan membaca.
  • memiliki kebiasaan menerapkan aspek nilai cinta-ilmu dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya dapat menunjukkan rasa kecintaan yang tinggi terhadap ilmu dalam kegiatan menulis.
Kesadaran terhadap hak dan kewajiban diri dan orang lain
  • menghargai dan menerapkan nilai kesadaran terhadap hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya, dapat mengidentifikasi dan menghargai hak dan kewajiban orang lain melalui kegiatan mendengarkan.
  • menghargai dan menerapkan nilai kesadaran terhadap hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya, dapat menghargai dan menyadari hak dan kewajiban diri dan orang lain melalui kegiatan berbicara.
  • menghargai dan menerapkan nilai kesadaran terhadap hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya, dapat mengidentifikasi dan menghargai hak dan kewajiban orang lain melalui kegiatan membaca.
  • menghargai dan menerapkan nilai kesadaran terhadap hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya, dapat menghargai dan menyadari hak dan kewajiban diri dan orang lain melalui kegiatan menulis.
Kepatuhan terhadap aturan sosial
  • memiliki kepekaan dan kebiasaan mematuhi aturan sosial dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya dapat mengidentifikasi dan memahami informasi tentang berbagai aturan sosial yang diperoleh melalui kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kepekaan dan kebiasaan mematuhi aturan sosial dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya dapat membiasakan diri mematuhi berbagai aturan sosial dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki kepekaan dan kebiasaan mematuhi aturan sosial dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya dapat mengidentifikasi dan memahami informasi tentang berbagai aturan sosial yang diperoleh melalui kegiatan membaca.
  • memiliki kepekaan dan kebiasaan mematuhi aturan sosial dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya dapat membiasakan diri mematuhi berbagai aturan sosial dalam kegiatan menulis.
Menghargai karya dan prestasi orang lain

  • menuliskan kutipan dengan benar
  • menulis daftar sumber pustaka dengan tepat
  • menyebutkan sumber informasi lisan dengan benar
  • menyitir pendapat orang lain dengan benar dan santun dalam berbicara
    • memiliki kepekaan dan kebiasaan menghargai karya dan prestasi orang lain dalam kontek penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya, dapat mengidentifikasi dan menghargai informasi yang merupakan karya dan prestasi orang lain dalam kegiatan mendengarkan.
    • memiliki kepekaan dan kebiasaan menghargai karya dan prestasi orang lain dalam kontek penguasaan keterampilan berbicara; misalnya, dapat memahami dan menghargai karya dan prestasi orang lain dalam kegiatan berbicara.
    • memiliki kepekaan dan kebiasaan menghargai karya dan prestasi orang lain dalam kontek penguasaan keterampilan membaca; misalnya, dapat mengidentifikasi dan menghargai informasi yang merupakan karya dan prestasi orang lain dalam kegiatan membaca.
    • memiliki kepekaan dan kebiasaan menghargai karya dan prestasi orang lain dalam kontek penguasaan keterampilan menulis; misalnya, dapat memahami dan menghargai karya dan prestasi orang lain dalam kegiatan menulis.
Menghargai keberagaman
  • memiliki kebiasaan menghargai keberagaman dalam konteks penguasaan keterampilan mendengarkan; misalnya, dapat mengidentifikasi, memahami, dan menghargai nilai-nilai keberagaman dalam informasi yang diperoleh melalui kegiatan mendengarkan.
  • memiliki kebiasaan menghargai keberagaman dalam konteks penguasaan keterampilan berbicara; misalnya dapat menghargai adanya keberagaman pendengar dalam kegiatan berbicara.
  • memiliki kebiasaan menghargai keberagaman dalam konteks penguasaan keterampilan membaca; misalnya, dapat mengidentifikasi, memahami, dan menghargai nilai-nilai keberagaman dalam informasi yang diperoleh melalui kegiatan membaca.
  • memiliki kebiasaan menghargai keberagaman dalam konteks penguasaan keterampilan menulis; misalnya dapat menghargai adanya keberagaman pembaca dalam kegiatan menulis.

 

 

  1. B.              Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

Pembelajaran bahasa Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan media pendidikan karakter karena pada dasarnya merupakan pembelajaran keterampilan berbahasa Indonesia dalam semua aspek dan konteks kehidupan. Pendidikan karakter dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran empat keterampilan berbahasa Indonesia, yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, sebaiknya empat keterampilan berbahasa itu tidak disajikan secara terpisah, tetapi dikemas secara terpadu. Melalui pembelajaran terpadu itulah, integrasi pendidikan karakter di dalam pembelajaran bahasa Indonesia menjadi semakin mudah dan memiliki cakupan yang luas.

 

Lebih lanjut, kemudahan dan keluasan penerapan pendidikan karakter dalam pembelajaran bahasa Indonesia itu dapat diperoleh melalui penerapan prinsip-prinsip pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning) dalam pembelajaran. Melalui pendekatan itu, salah satu di antaranya, pembelajaran bahasa Indonesia dapat disajikan secara tematik. Berbagai tema dapat dipilih, termasuk tema-tema yang bersentuhan dengan atau mengenai pendidikan karakter. Hal itu ditunjukkan oleh sajian materi pembelajaran bahasa Indonesia dalam hampir semua buku sekolah elektronik (BSE) yang diterbitkan oleh BSNP dan pusat perbukuan.

 

Sebagai contoh, di dalam salah satu buku sekolah elektronik (BSE),  pembelajaran bahasa Indonesia disajikan melalui beberapa tema, misalnya belajar dari penghalaman, kobarkan terus rasa nasionalisme, belajar dari berbagai peristiwa, menjaga warisan budaya, berkomunikasi secara santun, meraih prestasi lewat kreasi, membangun rasa percaya diri, memilih aktivitas yang berguna, hidup sehat dan bermanfaat. Melaui tema-tema itu, pengintegrasian pendidikan karakter dalam pembelajaran menjadi mudah dan luwes (fleksibel). Misalnya, melalui sajian materi pembelajaran yang bersifat tematik itu guru dapat mengintegrasikan nilai karakter nasionalisme, ingin tahu, peduli, santun, kreatif, percaya diri, inovatif, hidup sehat, dan sebagainya.

 

Untuk mengintegrasikan pendidikan karakter di dalam pembelajaran, guru dapat memilih salah satu cara berikut: (i) adaptasi lengkap sebelum pembelajaran, (ii) adaptasi parsial sebelum pembelajaran, atau (iii) adaptasi parsial selama pembelajaran. Namun, agar pengintegrasian nilai karakter dalam pembelajaran lebih efektif, cara pertama lebih dianjurkan, yaitu adaptasi lengkap atau penuh sebelum proses pembelajaran dilaksanakan. Melalui adaptasi itu, guru dapat merevisi atau menyusun kembali materi pembelajarannya berdasarkan materi pembelajaran yang ada di dalam buku sekolah elektronik (BSE) tertentu. Revisi yang perlu dilakukan berkenaan dengan isi, kegiatan pembelajaran, dan teknik evaluasinya.

 

(i)         Pada bagian isi, guru dapat mengubah atau menambahkan materi pembelajaran yang memiliki muatan pendidikan karakter tertentu.

(ii)      Pada bagian kegiatan pembelajaran, guru dapat mengubah atau menambahkan kegiatan tertentu yang dapat memfasilitasi peserta didik dalam mengenal, mengembangkan, atau membudayakan nilai karakter dalam kehidupannya. Dalam hal ini, metode atau beberapa metode yang diterapkan harus disertai penjelasan mengenai cara atau mekanisme pelaksanaannya agar peserta didik dapat melakukan kegiatan secara efektif dan efisien, sesuai yang diharapkan.

(iii)    Pada bagian evaluasi, guru dapat mengubah teknik evaluasi yang ada atau menambah teknik evaluasi baru yang dapat digunakan untuk mengukur pencapaian pendidikan karakter yang diharapkan.

 

Setelah adaptasi itu selesai dilakukan, guru dapat mencetak hasilnya dan memberikannya kepada peserta didik. Tentu saja, cara ini membutuhkan waktu yang agak banyak dan kesungguhan dalam mengerjakannya. Namun, jika dibandingkan dengan tujuan pembelajaran dan pendidikan yang begitu mulia, jerih payah guru seperti itu sungguh jauh dari sebanding. Segala aktivitas guru, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun penilaian, sebaiknya diarahkan pada pencapaian tujuan pembelajaran dan tujuan pendidikan. Dengan demikian, aktivitas guru menjadi bermakna dan mermanfaat bagi perkembangan dan masa depan peserta didik.

 

Berikut ini dikemukakan contoh kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia dengan muatan pendidikan karakter di dalamnya. Kegiatan pembelajaran itu disusun dan dilaksanakan dengan pendekatan kontekstual dengan berpedoman pada prinsip belajar tertentu. Di antaranya, prinsip belajar yang dapat diterapkan ialah konstruktivisme, bertanya, inquiri, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian otentik.

 

Contoh

Kegiatan Pembelajaran

Tujuan Kegiatan Pembelajaran

Nilai Karakter yang dapat diintegrasikan

Apresiasi:

Siswa mendengarkan pembacaan pantun atau melihat orang berbalas pantun sebagai kegiatan apresiasi

mendapatkan pencitraan mengenai pantun dan dapat mengapresiasi aspek estetika atau keindahannya
  • mencintai keindahan
Eksplorasi:

  • Siswa mengamati pantun dan mengindentifikasi ciri bentuk dan maknanya secara individual atau kelompok
  • Siswa mempresentasikan hasil pengamatannya di depan kelas
dapat mengetahui dan mengidentifikasi jumlah baris, jumlah kata setiap baris, jumlah suku kata setiap baris, persajakan pada akhir baris, pilihan kata, dan makna pantun
  • keingintahuan
  • kecermatan
Elaborasi:

Siswa mengamati dan mengindentifikasi jenis-jenis pantun secara individual atau kelompok

dapat mengidentifikasi berbagai jenis pantun
  • keingintahuan
  • kecermatan
Konfirmasi:

Siswa mendiskusikan ciri dan jenis pantun dalam kelompok

dapat mengkomfirmasikan hasil identifikasi ciri dan jenis pantun, baik kepada teman maupun guru
  • berpikir logis dan kritis
  • kerja sama
Inkulkasi:

Guru memberikan penjelasan dan penegasan mengenai ciri dan jenis pantun

  • dapat melakukan refleksi terhadap aktivitas yang sudah dilakukan dan pemahaman yang sudah diperoleh
  • mendapatkan kebenaran atau keyakinan pemahaman mengenai ciri dan jenis pantun
  • kebenaran ilmu
Produksi:

Siswa melakukan kegiatan berikut.

  • melengkapi pantun rumpang, baik rumpang bagian sampiran maupun rumpang bagian isi
  • mengganti kata-kata pada posisi rima
  • menulis bait pantun berdasarkan tema yang sudah ditetapkan
  • menulis bait pantun berdasarkan tema yang ditentukan sendiri
  • beradu cepat menulis bait pantun
  • dapat melengkapi pantun rumpang
  • dapat mengubah atau mengganti kata-kata pada posisi rima
  • dapat menulis pantun berdasarkan tema yang ditetapkan oleh guru atau ditentukan sendiri
  • dapat menulis pantun dengan cepat
  • kreativitas
  • keberanian
  • rasa percaya diri

 

Dalam kegiatan pembelajaran di atas, muncul muatan nilai karakter bermacam-macam. Walaupun demikian, suatu kegiatan pembelajaran harus difokuskan pada salah satu nilai, misalnya rasa percaya diri. Hal itu dilakukan agar kegiatan pembelajaran dapat diselenggarakan dan dievaluasi dengan lebih efektif.

 

Evaluasi pelaksanaan kegiatan pembelajaran menulis pantun di atas dapat dilakukan melalui evaluasi proses dan evaluasi produk. Demikian pula evaluasi yang berkenaan dengan pengembangan nilai karakter. Baik melalui evaluasi proses maupun produk, guru harus mempersiapkan dan menggunakan alat evaluasi, baik yang berupa tes maupun nontes. Evaluasi tidak bisa dilakukan hanya dengan cara improvisasi atau tanpa persiapan. Artinya, alat evaluasi itu harus dipersiapkan sebelum pembelajaran dilaksanakan.

 

Alat evaluasi pengembangan nilai karakter dapat berupa panduan observasi atau daftar pertanyaan evaluasi diri. Untuk masing-masing karakter memiliki aspek atau komponen yang berbeda-beda. Artinya, aspek penilaian yang digunakan untuk mengukur ketercapaian pengembangan nilai karakter kreativitas, misalnya, berbeda dengan aspek penilaian yang digunakan untuk mengukur ketercapaian pengembangan nilai karakter kerja sama. Demikian pula, untuk nilai karakter yang lain.

 

Pengembangan nilai karakter siswa dalam mata pelajaran bahasa Indonesia dilakukan melalui pembelajaran keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Hal itu sesuai dengan tujuan pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu mengembangkan kompetensi siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia sesuai dengan konteks kehidupan siswa. Terkait dengan pendidikan nilai karakter, pengembangan kompetensi siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia itu akan bermuara pada penguasaan keterampilan berbahasa yang berkarakter; penguasaan keterampilan berbahasa yang mencerminkan dan berdampak pada penguasaan nilai-nilai karakter. Dengan demikian, misalnya, keterampilan siswa dalam mendengarkan tidak terbatas pada keterampilan mendengarkan semata, tetapi keterampilan mendengarkan yang dilandasi oleh nilai-nilai karakter. Demikian pula, keterampilan berbicara, membaca, dan menulis. Hal itu merupakan kekhasan tujuan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia; termasuk kekhasan tujuan dan pelaksanaan kegiatan pendidikan nilai yang terintegrasi di dalamnya.

 

Lebih jauh lagi, dampak pembelajaran bahasa Indonesia yang diharapkan ialah siswa dapat memanfaatkan keterampilan berbahasa Indonesia yang dilandasi oleh nilai karakter itu dalam mempelajari ilmu pengetahuan atau mata pelajaran yang lain. Hal itu dilandasi oleh asumsi bahwa keberhasilan siswa dalam mempelajari ilmu atau mata pelajaran yang lain, salah satunya ditentukan oleh faktor keberhasilan siswa dalam menguasai keterampilan berbahasa Indonesia. Artinya, penguasaan bahasa (Indonesia) ikut menentukan keberhasilan siswa dalam menguasai ilmu pengetahuan atau mata pelajaran yang lain.

 

  1. C.             Penggunaan BSE Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Karakter
    1. 1.      Gambaran Umum BSE Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
      1. a.      Isi

Berdasarkan hasil analisis terhadap tujuh buku sekolah elektronik (BSE) mata pelajaran bahasa Indonesia sekolah menengah pertama untuk kelas tujuh, yang dipilih secara acak, dapat dikemukakan bahwa pada umumnya BSE telah memenuhi standar isi sebagaimana dituangkan dalam Permen Diknas nomor 22 tahun 2006. Pada umumnya, BSE disusun dengan mengacu pada SK dan KD yang ada di dalam Permendiknas itu. Materi pelajaran yang ada di dalam BSE disusun secara tematik dan dibagi menjadi 9 atau 10 unit/pelajaran.

Pada setiap pelajaran yang disusun secara tematik itu, disajikan 4 sampai 5 topik kegiatan  belajar yang harus dilakukan peserta didik. Topik-topik kegiatan belajar itu pada umumnya diarahkan untuk mencapai kompetensi sebagaimana dituangkan di dalam SK dan KD. Artinya, pengembangan yang mengarah pada keluasan, kevariasian, dan kedalaman materi kegiatan masih terbatas atau belum diupayakan secara maksimal. Pada umumnya, upaya itu masih berkisar pada bentuk penugasan yang bersifat terbatas pula.

Diduga, sebagian besar penulis BSE bahasa Indonesia untuk SMP kelas VII mengalami kesulitan untuk menyajikan contoh bacaan, teks prosa, teks puisi, dan teks-teks lain yang seluruhnya sesuai dengan tema-tema unit pelajarannya. Hal itu terjadi apabila penulis memilih dan menggunakan tema-tema yang bersifat terlalu spesifik, misalnya ekonomi, politik, profesi, teknologi, hiburan, dan sejenisnya. Misalnya, penulis sulit memperoleh teks puisi, teks pantun, atau teks drama yang sesuai dengan tema politik, teknologi, atau ekonomi. Akibatnya, kesesuaian teks puisi, pantun, dan drama yang disajikan dengan tema unit pelajaran yang ditulisnya tidak dihiraukan.

Sehubungan dengan pengintegrasian pendidikan karakter di dalam pembelajaran, pada umumnya materi pembelajaran yang ada di dalam BSE memungkinkan untuk itu. Artinya, melalui adaptasi guru dapat menambahkan materi kegiatan yang harus dilakukan peserta didik agar mengenal, mengembangkan, dan menginternalisasikan nilai-nilai karakter tertentu. Sebagai alternatif, untuk itu, guru juga dapat mengubah metode atau teknik pembelajaran yang ada. Tentu saja, sebagai konsekuensinya, guru juga harus menyesuaikan sistem penilaiannya sebagai alat ukur pencapaian kompetensinya.

 

  1. b.     Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran yang digunakan di dalam BSE pada umumnya ialah observasi, diskusi, tanya-jawab, pelatihan, demonstrasi, kompetisi, dan pemodelan. Metode pembelajaran itu pada umumnya diulang-ulang penggunaannya pada setiap unit pelajaran, dari unit pelajaran pertama sampai dengan unit pelajaran terakhir. Dengan menggunakan metode itu, peserta didik diarahkan untuk melakukan kegiatan eksplorasi, elaborasi, konfirmasi, dan refleksi.

Metode yang digunakan dalam BSE seperti dikemukakan di atas sebenarnya sudah cukup bervariasi dan dapat mengakomodasi tujuan pembelajaran yang direncanakan. Kelemahannya, penggunaan masing-masing metode itu kadang tidak disertai penjelasan mengenai teknik pelaksanaannya, tidak dilengkapi dengan instrumen atau alat yang digunakan, dan penjelasan mengenai wujud dan indikator capaian targetnya. Di dalam beberapa buku, kadang instruksi yang diberikan kepada peserta didik kurang jelas dan atau kurang lengkap prosedur dan kinerja operasionalnya. Ada beberapa buku yang  di dalamnya disediakan instrumen bagi peserta didik dalam melakukan kegiatan eksplorasi, elaborasi, konfirmasi, dan refleksi yang diinginkan, tetapi beberapa buku yang lain tidak demikian. Penulis buku cenderung menganggap peserta didik sudah dapat melakukan kegiatan apa pun yang dimintanya, sehingga tidak melengkapi permintaannya dengan rambu-rambu atau panduan kegiatan. Penulis menganggap peserta didik sudah mengetahui prosedur dan kinerja operasional kegiatan pengamatan, diskusi, tanya-jawab, pendemonstrasian, pelatihan, dan kompetisi. Dengan demikian, penjelasan yang dikemukakan cenderung ala kadarnya.

Lebih lanjut, di dalam BSE peran guru dalam kegiatan belajar tidak dinyatakan secara eksplisit. Demikian pula peran peserta didik. Patut diduga, tidak setiap guru memiliki buku petunjuk penggunaannya. Jika demikian, guru perlu dan harus pandai-pandai mengambil keputusan mengenai peran yang harus dilakukannya pada setiap unit atau topik pelajaran. Demikian pula, mengenai peran peserta didik pada setiap kegiatan pembelajaran.

Sehubungan dengan pengintegrasian pendidikan karakter di dalam pembelajaran, pada umumnya metode pembelajaran yang digunakan di dalam BSE sudah cukup memadai. Artinya, metode yang digunakan di dalam BSE juga dapat dipakai untuk mengenalkan, mengembangkan, dan membudayakan nilai-nilai karakter. Apabila penggunaan metode itu tidak disertai dengan penjelasan teknik pelaksanaannya, tidak dilengkapi dengan instrumen, dan penjelasan mengenai wujud dan indikator capaian targetnya, guru sebaiknya secara kreatif mengambil keputusan terbaik untuk melengkapinya. Melalui adaptasi guru dapat mengubah, menambah, dan mereformulasikan metode dan teknik yang digunakan di dalam BSE sehingga pendidikan karakter yang diharapkan dapat terakomodasi.

Sebagai contoh, metode observasi dapat digunakan untuk mengembangkan nilai karakter keingintahuan, metode diskusi untuk menumbuhkan nilai karakter kerja sama dan menghargai karya dan prestasi orang lain, metode tanya-jawab untuk mengembangkan nilai karakter kesantunan, metode pelatihan untuk mengembangkan nilai karakter kerja keras, metode demonstrasi untuk mengembangkan nilai karakter keberanian dan rasa percaya diri, metode kompetisi untuk mengembangkan nilai karakter berani menanggung risiko, dan metode pemodelan dapat digunakan untuk menumbuhkan berbagai nilai karakter sesuai dengan model yang digunakan dan tujuan yang ingin dicapai.

 

  1. c.       Bahasa

 

Bahasa yang digunakan di dalam BSE pada umumnya sudah sesuai dengan usia dan perkembangan kemampuan kebahasaan peserta didik. Diduga, BSE memiliki keterbacaan yang cukup tinggi. Untuk usia anak pada awal memasuki sekolah menengah pertama, bahasa yang digunakan dalam BSE cukup sederhana dan mudah dipahami. Baik pilihan kata, struktur kalimat, ejaan, tanda baca, maupungayabahasa yang digunakan dalam BSE sesuai dan efektif bagi usia dan perkembangan kemampuan peserta didik.

 

  1. d.     Grafika

 

Sebagian besar BSE disusun dengan memperhatikan dan memenuhi prinsip-prinsip kegrafikaan.  Materi ditulis dengan huruf Tahoma, Book Antiqua, atau Time New Roman dengan font 11 atau 12. Dengan demikian, semua materi dapat dibaca dengan jelas. Tata letak atau layout digarap dengan memperhatikan aspek keruangan, kemenarikan, dan keindahan. Ilustrasi, tanda dan gambar pada umumnya fullcolor dan disajikan dengan ukuran yang proporsional serta relevan dengan materi pembelajaran yang didukungnya. Jadi, secara keseluruhan, kegrafikaan dalam BSE memenuhi syarat dan menarik. Kemenarikan itu diharapkan dapat merangsang dan menimbulkan minat baca peserta didik. Demikian pula gambar-gambar yang disajikan sebagai sarana pendukung penyempaian materi pembelajaran.

 

  1. e.      Potensi BSE Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Karakter

Sudah dikemukakan di atas bahwa BSE memiliki potensi yang cukup besar untuk dimuati pendidikan karakter di dalamnya. Adanya potensi itu di antaranya disebabkan oleh pendekatan yang digunakan dalam menyajikan materi pembelajaran, yaitu pendekatan kontekstual (contextual teaching and learning). Dengan pendekatan kontekstual, materi pembelajaran disajikan secara tematik; bahkan tema-tema yang dipilih sebagian sudah berkenaan dengan nilai karakter tertentu. Tema-tema yang digunakan dalam BSE, di antaranya, ialah aktif dan kreatif, menjalin persahabatan, hidup penuh perjuangan, belajar dari pengalaman, kobarkan terus rasa nasionalisme, berkomunikasi secara santun, meraih prestasi melalui kreasi, membangun rasa percaya diri, hidup sehat dan bermanfaat, dan sebagainya. Di dalam tema-tema itu sudah tercermin nilai karakter tertentu, misalnya kreativitas, kerja sama, kepedulian, kejuangan, ingin tahu, evaluasi diri, keteladanan, nasionalisme, kesantunan, rasa percaya diri, hidup sehat, dan sebagainya. Di samping itu, nilai karakter pokok religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, dan demokratis pun sangat memungkinkan dan mudah untuk diintegrasikan di dalamnya.

Di samping itu, metode dan teknik kegiatan belajar yang digunakan dalam BSE juga sangat mendukung diintegrasikannya pendidikan karakter di dalam pembelajaran. Sebagai contoh, penggunaan metode observasi dengan teknik pengamatan, wawancara, percobaan (eksperimen), perbandingan, dan sebagainya, di dalamnya, sudah terkandung atau memungkinkan untuk dimuati pendidikan karakter tertentu. Melalui observasi dapat dikembangkan nilai karakter cinta ilmu, ingin tahu, berpikir logis, kritis, dan inovatif, jujur, disiplin, percaya diri, bertanggung jawab, dan sebagainya. Melalui wawancara dapat dikembangkan nilai karakter menghargai pendapat orang lain, berperilaku sopan, dan berbahasa dengan santun. Melalui percobaan dapat dikembangkan nilai karakter cinta ilmu, rasa ingin tahu,  jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan berpikir logis, kritis, dan inovatif. Melalui perbandingan dapat dikembangkan nilai karakter jujur, bertangung jawab, menghargai karya orang lain, ingin tahu, dan sebagainya. Melalui metode diskusi dengan teknik presentasi dan tanya jawab dapat dikembangkan nilai karakter menghargai pendapat orang lain, disiplin, jujur, bertanggung jawab, berperilaku sopan, dan berbahasa dengan santun. Demikian pula, melalui metode dan teknik yang lain.

Walaupun aspek materi pembelajaran dan penyajiannya serta metode dan teknik yang digunakan dalam BSE sangat memungkinkan untuk dimuati pendidikan karakter tertentu; bahkan sebagian sudah berkenaan dengan pendidikan karakter tertentu, pada kenyataannya para penulis BSE belum secara sadar dan sengaja memfokuskan pembelajarannya pada pendidikan karakter. Setidaknya, target atau tujuan pembelajaran yang dirumuskan pada setiap unit pelajaran tidak difokuskan untuk itu. Oleh karena itu, para guru harus secara sadar dan kreatif mengambil keputusan untuk mereformulasi setiap unit pelajaran dalam BSE dengan memasukkan pendidikan nilai karakter di dalamnya. Cara yang dapat digunakan untuk itu di antaranya dengan mengubah, menambah, atau mempertegas setiap butir materi yang ada pada setiap unit pelajaran sehingga pengembangan nilai karakter tertentu dapat terakomodasi. Pengubahan, penambahan, dan penegasan itu tentu saja berkenaan dengan isi, kegiatan pembelajaran, dan sistem evaluasinya.

Berikut ini dikemukakan contoh unit pelajaran bahasa Indonesia yang diambil dari BSE yang di dalamnya dapat diintegrasikan nilai-nilai karakter.

 

  1. f.    Contoh Unit Pembelajaran dari BSE

 

 

 

 

 

 

Setiap subunit dalam contoh unit pelajaran ini dapat dimuati dengan pendidikan karakter, baik pada subunit menceritakan pengalaman yang paling mengesankan, membaca cepat dan menyimpulkan isi bacaan, maupun pada subunit menulis pantun. Pendidikan karakter itu dapat diintegrasikan pada materi, kegiatan, dan evaluasi. Perhatikan dengan saksama kemungkinan pengintegrasian nilai karakter pada masing-masing subunit pelajaran berikut ini.

 

 

 

 

PELAJARAN I

BELAJAR DARI PENGALAMAN

 

Topik Pembelajaran:

A. Menceritakan Pengalaman yang Paling Mengesankan

B. Membaca Cepat dan Menyimpulkan Isi Bacaan

C. Menulis Pantun

 

  1. A.    Belajar dari Pengalaman

 

Amatilah semua acara reality show di televisi. Hampir semua acara tersebut mengharuskan semua peserta untuk dapat bercerita. Nah, pada pembelajaran ini kamu pun akan belajar bercerita yang baik, runtut, mudah dipahami, dan pengalaman yang kamu ceritakan dapat diambil hikmahnya oleh para pendengar. Kemampuanmu bercerita akan lengkap apabila kamu juga memiliki pengetahuan yang luas melalui kegiatan membaca. Dalam pembelajaran ini kamu akan belajar membaca cepat sekaligus belajar menarik simpulan dari teks yang kamu baca. Keterampilan berbahasamu akan lengkap jika kamu juga bisa bersastra, yaitu menulis pantun. Kemampuanmu dalam menulis pantun ini akan memberi nilai tambah penampilanmu dalam berbahasa lisan di depan umum karena pantun dapat dimanfaatkan untuk menghangatkan suasana.

 

 

  1. 1.      Bercerita tentang Pengalaman yang paling Mengesankan

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada pengalaman yang sia-sia. Ada pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Ini berarti kita dapat belajar dari pengalaman, baik pengalaman yang kita alami sendiri maupun pengalaman orang lain. Agar kamu dapat menceritakan pengalamanmu yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan ungkapan peribahasa yang menarik, kamu akan melakukan serangkaian aktivitas berikut: (1) mengamati contoh pengalaman yang mengesankan, (2) menemukan ciri pengalaman yang mengesankan, (3) memilih pengalamanmu yang paling mengesankan untuk kamu ceritakan, (4) membuat kerangka cerita, dan (5) menyampaikan cerita yang telah kamu susun kerangkanya tersebut secara lisan dengan memberdayakan ungkapan/peribahasa.

 

 

  1. 2.      Mengamati Contoh Pengalaman yang Mengesankan

 

Kita dapat belajar mengungkapkan pengalaman yang mengesankan dengan membaca contoh berikut!

 

 

 

Pengalaman 1

 

Watashiwa wa …

 

Aku bersemangat sekali ikut kursus bahasa Jepang di Surabaya karena di samping tertarik dengan huruf-hurufnya, kudengar tempat kursus yang kutuju juga mempunyai sensei (guru) orang Jepang. Hari itu kami masuk kelas dengan gembira. Pada saat awal kami diberitahu oleh petugas administrasi bahwa di kelas kami ada dua nama yang sama, yaitu: Joko Bagus. Oleh sebab itu, petugas kemudian menambahkan inisial A dan B pada akhir kedua nama itu.

Pelajaran pertama diisi oleh sensei dari Jepang. Dia mengajak kami untuk saling memperkenalkan diri dengan memberikan contoh. Pertama, dia mencontohkan dengan memperkenalkan diri sendiri. Setelah itu, dia melihat daftar presensi dan mulai membaca nama yang ada untuk contoh. Dia katakan: “Watashi wa Larasati des, dozoo yoroshiku”. Kami mengangguk-angguk tanda mengerti. Setelah itu dia membaca presensi lagi dan mengatakan, “Watashi wa, Joko Bagus Be des…” (baca: watashi wa joko bagus bedes) sampai di situ sontak kami tertawa riuh bahkan ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Joko Bagus pun menggerutu dan bergumam dengan bahasa Suroboyo-an: “Aduuuh…mosok, bagus-bagus ngene dikira bedes, Rek” (‘Masak, cakep-cakep begini dikira kera.’), Tawa kami pun semakin meledak dan sensei kami akhirnya ikut tersenyum-senyum walaupun wajahnya terlihat bingung (KL, Ajisai, Vol.1, No.1, Oktober 2002 dalam Kisyani, 2004).

 

 

Pengalaman 2

 

Perjuangan Menjadi Finalis Pildacil

 

Teman, namaku Trismunandar, kelas 5 SD. Aku ditunjuk oleh pihak sekolah untuk mengikuti pildacil, yaitu pemilihan dai cilik ke-3 di Lativi. Audisi di Yogyakarta dilaksanakan Januari lalu. Saat itu aku memilih tema tentang akhlak manusia. Aku grogi banget sampai lupa dan mengulang dua kali. Sebulan kemudian aku dipanggil kepala sekolah untuk mengikuti final pildacil di Jakarta.

Teman, aku menangis sedih, karena aku buta dan membuatku tidak percaya diri. Rasa rendah diri terus menghantuiku. Aku takut, di Jakarta nanti tidak punya teman. Tapi, guru, teman-teman dan keluargaku terus memompa semangatku. Didampingi ibu, aku berangkat ke Jakarta. Di tempat karantina aku merasa tidak kerasan dan meminta Ibu untuk mengajakku pulang saja ke rumah. Namun Ibuku dengan sabar terus menasihatiku.

Teman, ternyata dugaanku selama ini salah, keenam belas finalis lain selalu menghibur dan berkawan akrab denganku. Mereka tidak memandang sebelah mata terhadap keadaanku yang buta. Aku semakin kerasan dan tumbuh rasa percaya diriku. Aku juga semakin berani tampil di depan lensa kamera karena dibimbing kakak-kakak pembina. Setiap hari jadwal kegiatanku sudah ditentukan, seperti membaca materi, hafalan, kegiatan sosial, dan juga jalan-jalan lho!

Sebenarnya aku tidak memiliki pengalaman berceramah, paling-paling cuma menjadi pewara atau MC di sekolah. Pengalamanku menjadi anggota Junior Yaketonis Band sebagai pemegang keyboard dan sering diundang tampil di berbagai acara dan sekaligus memenangkan beberapa kejuaraan di Yogyakarta mudah-mudahan bisa menambah rasa percaya diriku dan doakan ya mudah-mudahan dapat mengantarku menjadi juara.

Aku menyesal telah meratapi keadaanku. Mudah-mudahan Allah mengampuni segala kekhilafanku ini. Amin.

(Dikutip dengan beberapa perubahan

dari Mentari, Edisi 320 tahun XXIV 2006)

 

 

Pelajaran Nenek Penjual Sapu

 

Seorang teman menceritakan kekagumannya pada seorang nenek yang mangkal di depan Pasar Godean, Sleman, Yogyakarta. Ketika itu hari Minggu, saat dia dan keluarganya hendak pulang usai silaturahmi bersama kerabat, mereka melawati pasar Godean. Ibu dari teman saya tergoda memebeli ayam goreng di depan pasar untuk sajian makan malam. Kebetulan hari mulai gelap.

Di samping warung ayam goreng tersebut ada seorang nenek berpakaian lusuh bak pengemis, duduk bersimpuh tanpa alas, sambil merangkul tiga ikat sapu ijuk. Keadaannya terlihat payah, lemah, dan tak berdaya. Setelah membayar ayam goreng, ibu teman saya bermaksud memberi Rp1.000,00 karena iba dan menganggap nenek itu pengemis. Saat menyodorkan lembaran uang tadi, tidak diduga si nenek malah menunduk kecewa dan menggeleng pelan. Sekali lagi diberi uang, sekali lagi nenek itu menolak.

Penjual ayam goreng kebetulan melihat kejadian itu kemudian menjelaskan bahwa nenek itu bukanlah pengemis, melainkan penjual sapu ijuk. Paham akan maksud keberadaan sang nenek yang sebenarnya, ibu teman saya akhirnya memutuskan membeli tiga sapunya yang berharga Rp1.500,00 per ikat, meskipun ijuknya jarang-jarang dan tidak bagus, ikatannya pun longgar.

Setelah menerima uang Rp5000,00 si nenek tampak ngedumel sendiri. Ternyata tidak punya kembalian. “Ambil saja uang kembaliannya,” kata ibu dari teman saya. Namun, si nenek ngotot untuk mencari uang kembalian Rp500,00. Dia lalu bangkit dan dengan susah payah menukar uang di warung terdekat.

Ibu teman saya terpaku melihat polah sang nenek. Sesampainya di mobil, ia masih terus berpikir, bagaimana mungkin di zaman sekarang masih ada yang begitu jujur, mandiri, dan mempunyai harga diri yang begitu tinggi.

Sumber: Intisari, Agustus 2004

 

 

 

  1. 3.      Menemukan Ciri Pengalaman yang Mengesankan

 

Setelah kamu membaca tiga contoh pengalaman tersebut, diskusikanlah jawaban pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dalam kelompokmu masing-masing!

 

Pada bagian ini dapat ditambahkan tata cara atau etika dalam berdiskusi yang berfokus pada pengembangan nilai karakter menghargai pendapat orang lain seperti berikut ini.

  1. dapat menahan emosi atau dapat bersabar
  2. dapat menghargai pendapat orang lain
  3. dapat bersikap dan berbahasa secara santun dalam menyampaikan pertanyaan, pendapat, atau tanggapan
  4. dapat menyadari bahwa orang lain juga memiliki hak untuk berbicara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertanyaan Pemandu Diskusi

 

1)      Apakah yang dimaksud dengan pengalaman mengesankan menurut kelompokmu?

2)      Apakah pengalaman mengesankan itu dapat berisi peristiwa lucu atau kocak, menyedihkan, menyenangkan, mengharukan, atau menegangkan?

3)      Menurut kelompokmu manakah pengalaman yang mengesankan dari bacaan tersebut?

4)      Berikan alasan mengapa mengesankan?

5)      Aspek-aspek apa yang membuat kelompokmu terkesan?

6)      Selain dari segi isi yang diceritakan, apakah pengalaman mengesankan juga dapat dilihat dari cara menceritakan dan bahasa yang digunakan?

7)      Apakah penggunaan ungkapan atau peribahasa dapat menambah kemenarikan cerita tersebut?

8)      Catatlah ungkapan atau peribahasa yang terdapat pada contoh-contoh itu dan temukan maknanya!

 

Daftar pertanyaan pemandu diskusi di atas dapat ditambah dengan pertanyaan yang berfokus pada pengembangan nilai karakter tertentu. Hal itu bertujuan untuk mengenalkan atau memberi contoh nilai-nilai karakter orang lain dan untuk menginternalisaiskan dalam kehidupan siswa. Misalnya:

  1. Nilai-nilai karakter apa yang terdapat pada cerita pengalaman di atas?
  2. Nilai karakter apa yang dapat diambil dari cerita pengalaman di atas dan dapat dimanfaatkan dalam kehidupan Anda?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 4.      Mengidentifikasi Beragam Pengalaman Diri yang Mengesankan

 

Setelah kamu mengamati beragam contoh pengalaman yang mengesankan tersebut, secara individual daftarlah beberapa pengalamanmu yang berkesan selama ini!

 

Pada permintaan di atas dapat ditambah dengan pernyataan yang dapat memberikan dorongan kepada siswa untuk membiasakan diri suka berbagi pengalaman dengan orang lain.

 

 

 

 

 

 

 

Contoh:

  • Kejutan di pesta ulang tahunku
  • Bajuku sama dengan baju temanku
  • Menerimasuratdari teman sekelas
  • Memperoleh NUN tertinggi
  • Pandangan pertama yang tak bisa kulupakan

 

Setelah kamu daftar, pilihlah satu pengalaman yang menurutmu paling mengesankan untuk kamu ceritakan!

 

  1. 5.      Menyusun Kerangka Cerita

 

Kembangkanlah kerangka cerita dari pengalaman yang telah kamu pilih tersebut dengan cara mengurutkan peristiwa demi peristiwa yang kamu alami seperti contoh berikut ini.

 

Contoh:

Kejutan di pesta ulang tahunku

  • Ayah dan ibu pergi pada hari ulang tahunku
  • Aku sedih, kecewa, dan marah
  • Pulang sekolah suasana rumah sepi
  • Aku curiga banyak hiasan di ruang makan
  • Ternyata semua keluarga berkumpul dan membuat kejutan untukku

 

  1. 6.      Menyampaikan Pengalaman secara Lisan

 

Ceritakanlah secara lisan pengalaman yang telah kamu susun kerangkanya tersebut! Perhatikan bagaimana kamu memulai cerita, mengembangkan inti cerita, dan mengakhiri cerita! Jangan lupa selipkan ungkapan atau peribahasa agar ceritamu menjadi lebih menarik/berkesan!

 

 

 

 

 

 

 

  1. 7.      Menilai Kemampuan Menceritakan Pengalaman yang Mengesankan

 

Nilailah kemampuan temanmu yang sedang bercerita dengan menggunakan pedoman penilaian atau rubrik berikut!

 

Rubrik Penilaian Kemampuan Menceritakan Pengalaman

 

No.

Aspek Penilaian

Deskripsi

Ya

Tidak

1 Isi
  1. Apakah isi menarik dan ada hikmah dari pengalaman yang diceritakan temanmu?
    1. Apakah ada kesesuaian antara kejadian satu dan kejadian berikutnya?
   
2 Penggunaan Bahasa
  1. Apakah kalimat-kalimat yang digunakan dapat kamu pahami!
  2. Apakah pilihan kata yang digunakan tepat?
  3. Apakah dengan pilihan kata dan kalimat yang digunakan mampu menarik perhatian pendengar?
   
3 Kelancaran
  1. Apakah temanmu bercerita dengan lancar, tidak tersendat?
  2. Apakah dari tatapan mata dan gerak tubuhnya, tercermin rasa percaya diri yang kuat?
   

 

Rubrik di atas dapat ditambah dengan aspek penilaian yang terkait dengan keberanian dan rasa percaya diri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. B.     Membaca Cepat dan Menyimpulkan Isi Bacaan

 

 

 

 

 

 

 

 

Kecepatan membaca terkait erat dengan pemahaman terhadap bacaan. Seseorang yang dapat menyelesaikan bacaan dalam waktu yang cepat, tetapi sedikit sekali yang dapat dipahami dari bacaan itu, maka ia tidak dapat dikategorikan sebagai pembaca cepat. Demikian juga seseorang yang dapat memahami bacaan dengan baik, tetapi kecepatan membacanya sangat lambat, juga tidak dapat dikategorikan sebagai pembaca cepat.

Nah, apakah kamu termasuk pembaca cepat? Untuk mengetahui jawabannya, cobalah kamu ikuti serangkaian kegiatan berikut: (1) mengidentifikasi manfaat membaca cepat, (2) membaca sambil menghitung waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan bacaan, (3) menjawab pertanyaan terkait dengan isi bacaan, (4) mengukur kecepatan membaca, (5) membuat simpulan isi bacaan, dan (6) berlatih meningkatkan kemampuan membaca, (7) mencatat perkembangan kemampuan membaca, dan (8) mengidentifikasi kata dasar dan imbuhan.

 

  1. 1.      Menemukan Manfaat Membaca Cepat

 

 

 

 

 

 

Seberapa seringkah kamu melakukan kegiatan membaca dalam sehari? Sebagai pelajar, kamu tentu setiap hari melakukan kegiatan membaca. Bacaan apa saja yang kamu baca? Berilah tanda contreng (√) pada bacaan yang sering, pernah, atau kadang kamu baca!

 

No.

Jenis Bacaan

Pernah/sering

1

 Buku Pelajaran  

2

 Novel  

3

 Cerpen  

4

 Komik  

5

 Majalah  

6

 Koran  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di antara bacaan tersebut di atas, manakah yang harus dibaca dengan cepat? Mengapa harus dibaca dengan cepat? Berikan alasan!

 

 

  1. 2.      Menghitung Waktu Membaca

 

Bacalah bacaan berikut ini! Hitunglah berapa detik kamu menyelesaikan bacaan berikut!

 

Waktu mulai : ………………..….

 

Waktu selesai : ……………………

 

 

ORANG-ORANG BUTA DAN SEEKOR GAJAH

 

Suatu ketika, Budha menceritakan sebuah ceritera tentang orang-orang buta dan seekor gajah. Budha tak mengerti mengapa banyak ajaran waktu itu, contohnya ajaran keagamaan, saling mempersoalkan kebenaran dan masing-masing menyatakan hanya ajarannya sendiri yang paling benar, sementara ajaran agama lain salah. Setelah Budha wafat, ceritera ini tersebar tidak hanya di India saja, tetapi juga di negara dan budaya lain, ceritera ini dikenal dan diceritakan. Sampai saat ini, cerita ini masih menjadi bacaan wajib dalam buku-buku pelajaran di sekolah.

Suatu ketika, seorang raja di India utara memerintahkan pegawai-pegawainya untuk mengumpulkan orang-orang yang buta sejak lahir ke istana kota raja. Sang raja juga memerintahkan pegawainya untuk membawa seekor gajah ke istana. Orang-orang buta ini sepanjang hidupnya belum pernah sama sekali mengerti apa itu gajah. Mereka tidak tahu seperti apakah gajah itu. Sekarang, sang raja memerintahkan mereka untuk menyentuhnya. Mereka hanya diperbolehkan menyentuh bagian-bagian tertentu saja, bukan gajah secara keseluruhan. Setelah beberapa waktu menunggu, mereka dipersilahkan mengatakan, bagaimana dan apa itu gajah.

Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengangelondong kayu. Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya dengan sebuah balon. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya dengan sebatang kayu yang bulat dan halus. Seorang buta yang telah meraba kepalanya membandingkannya dengan sebuah panci. Seorang buta yang telah meraba belalainya membandingkannya dengan selang air. Akhirnya seorang buta lain yang telah meraba bagian ekornya tidak mau ketinggalan. Ia membandingkan seekor gajah dengan tali tambang yang sudah rusak.Masing-masing dari mereka memiliki penjelasannya sendiri tentang seekor gajah.

Oleh karena gambaran mereka tentang gajah berbeda, mulailah mereka bertengkar. Masing-masing sangat yakin bahwa hanya penjelasannyalah yang paling benar dan kepunyaan yang lainnya salah. Akhirnya mereka saling berantem dan dengan demikian sang raja terhibur.

Siapakah yang salah dan siapakah yang benar? Adakah seorang dari mereka memiliki kebenaran? Yang pasti sang rajalah yang salah karena telah mempermainkan orang buta. Bagi orang-orang buta sejak lahir, sangatlah sulit mendeskripsikan gajah tanpa merabanya secara utuh. Masing-masing dari mereka telah menggambarkan dengan tepat apa yang mereka rasakan. Mereka telah melakukannya dengan benar. Masing-masing mengatakan kebenaran. Tak seorang pun berbohong karena mereka hanya diperbolehkan meraba bagian-bagian tertentu saja. Kesalahan dari masing-masing orang buta tersebut bukan soal kualitas dari penjelasannya, melainkan keyakinan dan pernyataan tentang gajah secara keseluruhan dan menganggap penjelasannyalah yang paling benar. Tak seorang pun memiliki gagasan bahwa masing-masing hanya menjelaskan satu bagian saja.cara keseluruhan.

Kesalahan dari masing-masing orang buta tersebut bukan soal kualitas dari penjelasannya, melainkan keyakinan dan pernyataan tentang gajah secara keseluruhan dan menganggap penjelasannyalah yang paling benar. Tak seorang pun memiliki gagasan bahwa masing-masing hanya menjelaskan satu bagian saja.

Bayangkan seumpama satu di antara mereka seorang ilmuwan, maka ia akan mencari penyelesaian dengan gaya para ilmuwan, yaitu dengan metode persentase atau statistik. Ia akan segera mendata berapa banyak orang buta yang membandingkan dengan selang air, berapa persen yang membandingkannya dengan gelondongan kayu, dan seterusnya.

Akhirnya ia memperoleh hasil sebagai berikut: 40% membandingkannya dengan gelondongan kayu, 20% dengan batang kayu yang bulat dan halus, dan masing-masing 10% dari mereka yang membandingkannya dengan panci besar, sebuah balon, selang air dan tali tambang yang rusak. Sangat logis bukan? Seekor gajah memiliki 4 kaki besar seperti gelondong kayu (40%) dan 2 taring (20%), Sedangkan untuk kepala, belalai, perut dan ekor hanya 1 (10%). Sebagaimana para ilmuwan meyakini bahwa kemayoritasan memainkan peranan, cenderung yakin bahwa mayoritas adalah kebenaran, maka ia menyatakan bahwa seekor gajah itu seperti gelondongan kayu karena hampir setengah menyatakannya. Jadi di dalam kasus ini, mayoritas tidak otomatis sebuah kebenaran.

Oleh sebab itu, hanya ada satu pemecahan dari persoalan ini. Orang-orang buta yang hanya meraba bagian-bagian tertentu tersebut harus bekerja sama. Mereka harus bekerja seperti merangkai gambar dari sebuah gambar yang telah dipotong-potong. Lantas katakanlah, seekor gajah itu terdiri dari 4 gelondongan kayu, 2 batang kayu yang bulat dan halus, 1 balon, 1 panci, 1 selang air dan satu tali tambang buntut. Dengan demikian, mereka akan mampu memperolah gambaran tentang seekor gajah secara keseluruhan. Mereka harus menghentikan perselisihan dan bekerja sama. Mereka harus menyatukan gambaran masing-masing dengan gambaran yang didapat temannya. Mereka harus mau belajar dari yang lain. Masing-masing harus menerima dan memahami bahwa ada kebenaran dari penjelasan orang lain. Masing-masing harus mempertimbangkan bahwa mereka bukan satu-satunya pemaham kebenaran.

Barangsiapa mau membagi pengetahuan dengan orang lain, ia tak akan sedikit pun kehilangan. Justru sebaliknya, jika pengetahuan dibagi, pengetahuannya tidak akan berkurang melainkan bertambah. Kita manusia memang seperti dongeng orang-orang buta ini. Kita tetap buta, kita mirip mereka ini.

(1)       Kita hanya mengambil sebagian (secuil) dari keseluruhan sebuah kenyataan.

(2)       Kita hanya memahami sebagian (secuil) dari kekompleksan sebuah kenyataan.

(3)       Kita hanya memegang sebuah pengertian yang terbatas dari seluruh kenyataan.

(4)       Kita hanya ingin selalu melawan dan menentang apa yang berbeda dari kita.

(5)       Kita berjuang mati-matian mempertahankan pernyataan kita sebagai satu-satunya kebenaran.

(6)       Kita hanya ingin tampak pandai dengan perselisihan, bukan belajar.

(7)       Kita harus bertindak ini (menerima, mendengarkan, dan memahami apa yang dikatakan orang lain), jika kita ingin mengetahui lebih banyak.

Sankt Augustin, 151204

sarikata.com

 

  1. 3.      Menjawab Pertanyaan Bacaan

 

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut secara tepat tanpa harus melihat teks!

 

  1. Cerita tentang Orang-orang Buta dan Seekor Gajahitu pada mulanya diceritakan oleh ….
    1. Sang raja diIndia
    2. Sang Budha
    3. pegawai Istana
    4. tersebar begitu saja dari mulut ke mulut

 

  1. Cerita Orang-orang Buta dan Seekor Gajahitu pada mulanya diceritakan sebagai salah satu bentuk ….
    1. ajaran Sang Budha
    2. hiburan Raja
    3. humor
    4. lelucon dari mulut ke mulut

 

  1. Tujuan utama Cerita Orang-orang Buta dan Seekor Gajahitu diciptakan adalah untuk menyadarkan kita agar ….
    1. tidak main hakim sendiri
    2. tidak saling berselisih mempersoalkan kebenaran ajarannya dan memandang ajaran lain salah
    3. tidak suka mempermainkan binatang yang dianggap suci.
    4. tidak mudah diadu domba oleh orang yang tidak bertanggung jawab

 

  1. Pernyataan berikut manakah yang sesuai dengan teks tersebut?
    1. Ilmuwan meyakini bahwa kemayoritasan memainkan peranan, sehingga mayoritas cenderung sebagai sebuah kebenaran.
    2. Kelima orang buta itu membandingkan seekor gajah dengan gelondongan kayu, batang kayu yang bulat dan halus, panci besar, dan sebuah balon.
    3. Kita harus mengambil sebagian dari keseluruhan sebuah kenyataan.
    4. Mayoritas bukanlah sebuah kebenaran.

 

  1. Kesalahan apakah yang dibuat oleh orang-orang buta?
    1. Soal kualitas dari penjelasannya yang tidak masuk akal.
    2. Mereka saling memaksakan kehendaknya, seolah jawabannyalah yang paling benar.
    3. Karena pada dasarnya, mereka sejak lahir tidak pernah melihat gajah.
    4. Karena orang-orang buta itu tak memiliki pengetahuan yang baik.

 

  1. Simpulan yang paling tepat dari isi bacaan tersebut adalah ….
    1. tidak menganggap diri paling benar
    2. orang harus belajar dari kelebihan orang lain
    3. jika pengetahuan dibagi, pengetahuan tidak akan berkurang melainkan bertambah.
    4. mayoritas adalah kebenaran

 

  1. Manakah dari pernyataan di bawah ini yang tidaktermasuk penjelasan dari orang-orang buta mengenai gajah?
    1. Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengan gelondong kayu
    2. Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya dengan sebuah balon
    3. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya dengan sebatang kayu yang bulat dan halus
    4. Seorang buta yang telah meraba belalainya membandingkannya dengan sebuah tali.

 

  1. Kejadian dalam cerita tersebut dapat diidentikkan dengan perilaku kita, kecuali ….
    1. hanya mengambil sebagian dari keseluruhan sebuah kenyataan
    2. hanya memahami sebagian dari kekompleksan sebuah kenyataan
    3. hanya memaegang sebuah pengertian yang terbatas dari seluruh kenyataan
    4. hanya ingin selalu dihargai dan menghargai orang lain

 

  1. Penulis cerita yang berjudul “Orang-orang Buta dan Seekor Gajah” adalah….
    1. Sankt Augustin
    2. Gendhotwukir
    3. Walter Krahe
    4. S.G Goodrich

 

  1. Manakah pesan berikut ini yang sesuai dengan cerita Orang-orang Buta dan Seekor Gajah tersebut?
    1. Barang siapa mau berusaha, pastilah ia akan mendapatkan jalan
    2. Setiap manusia harus mau saling bekerja sama
    3. Kemayoritasan merupakan suatu kebenaran
    4. Perbedaan pendapat selalu menyebabkan pertikaian.

 

Keterangan:

  • Kunci jawaban (tersedia pada lampiran): 1. B, 2. A, 3. B, 4. A, 5. B, 6. A, 7. C, 8. D, 9. A, 10. B
  • Skor per butir soal : 10
  • Skor Maksimal : 100

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 4.      Mengukur Kecepatan Membaca

 

Ukurlah kecepatan membacamu dengan rumus menghitung kecepatan membaca per menit untuk melihat apakah kecepatan membacamu bagus atau perlu peningkatan.

 

 

 

 

 

 

 

Rumus Menghitung Kecepatan Membaca

 

 

 

 

 

Keterangan:

K           =          jumlah kata yang dibaca

Wd        =          waktu tempuh baca (dalam detik)

B            =          skor yang diperoleh

Sm         =          skor maksimal

Kpm     =          kecepatan membaca per menit

 

Hasil:

Jika kecepatan membaca per menit (Kpm) >200 berarti kemampuan membaca cepatmu sudah bagus

Jika kecepatan membaca per menit (Kpm) <200 berarti kemampuan membaca cepatmu perlu ditingkatkan

 

Contoh perhitungan:

 

Diketahui

K           : 352 kata

Wd        : 65 detik

B            : 80

SM        : 100

 

 

Maka

Kpm     =          (K/Wd X 60) X (B/Sm)

(352/65 X 60) X (80/100)

(324, 92) X (80/100)

=       259,934

 

 

 

  1. 5.      Membuat Simpulan Isi Bacaan

 

Membuat simpulan isi bacaan berarti mengambil inti sari bacaan. Dalam sebuah paragraf eksposisi atau argumentasi, simpulan paragraf biasanya tercermin pada kalimat topik. Oleh sebab itu, simpulan berkaitan dengan ide pokok paragraf. Perhatikan contoh berikut!

 

 

Contoh

Suatu ketika, Budha menceritakan sebuah ceritera tentang orang-orang buta dan seekor gajah. Budha tak mengerti mengapa banyak ajaran waktu itu, contohnya ajaran keagamaan, saling mempersoalkan kebenaran dan masing-masing menyatakan hanya ajarannya sendiri yang paling benar, sementara ajaran agama lain salah. Setelah Budha wafat, ceritera ini tersebar tidak hanya diIndiasaja, tetapi juga di negara dan budaya lain, ceritera ini dikenal dan diceritakan. Sampai saat ini, cerita ini masih menjadi bacaan wajib dalam buku-buku pelajaran di sekolah.

 

Simpulan:

Cerita tentang orang-orang buta dan seekor gajah masih menjadi bacaan wajib dalam buku-buku pelajaran di sekolah.

 

 

Buatlah simpulan dari tiap paragraf berikut!

 

Suatu ketika, seorang raja diIndiautara memerintahkan pegawai-pegawainya untuk mengumpulkan orang-orang yang buta sejak lahir ke istanakotaraja. Sang raja juga memerintahkan pegawainya untuk membawa seekor gajah ke istana. Orang-orang buta ini sepanjang hidupnya belum pernah sama sekali mengerti apa itu gajah. Mereka tidak tahu seperti apakah gajah itu. Sekarang, sang raja memerintahkan mereka untuk menyentuhnya. Mereka hanya diperbolehkan menyentuh bagian-bagian tertentu saja, bukan gajah secara keseluruhan. Setelah beberapa waktu menunggu, mereka dipersilahkan mengatakan, bagaimana dan apa itu gajah.

 

Simpulan:

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

 

Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengan gelondong kayu. Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya dengan sebuah balon. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya dengan sebatang kayu yang bulat dan halus. Seorang buta yang telah meraba kepalanya membandingkannya dengan sebuah panci. Seorang buta yang telah meraba belalainya membandingkannya dengan selang air. Akhirnya seorang buta lain yang telah meraba bagian ekornya tidak mau ketinggalan. Ia membandingkan seekor gajah dengan tali tambang yang sudah rusak. Masing-masing dari mereka memiliki penjelasannya sendiri tentang seekor gajah.

 

Simpulan:

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

 

Kesalahan dari tiap-tiap orang buta tersebut bukan soal kualitas dari penjelasannya, melainkan keyakinan dan pernyataan tentang gajah secara keseluruhan dan menganggap penjelasannyalah yang paling benar. Tak seorang pun memiliki gagasan bahwa masing-masing hanya menjelaskan satu bagian saja. Seandainya mereka sadar bahwa mereka hanya menjelaskan satu bagian saja, sebenarnya mereka mampu mengerti kebenaran gajah secara keseluruhan.

 

Simpulan:

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

 

  1. 6.      Berlatih Meningkatkan Kecepatan Membaca

Kamu tentu sudah tahu manfaat membaca cepat. Sekarang, tingkatkan kemampuan membaca cepatmu dengan mencatat perkembangan dalam satu bulan.

 

Berikut adalah tips untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat.

(1)       Membiasakan banyak membaca

Biasakanlah membaca seperti makan. Jika sehari saja tidak makan, maka badan kita akan lemas. Begitu juga dengan membaca, jika sehari saja tidak membaca, kita akan merasa lapar. Banyaklah membaca segala jenis buku, namun mulailah dari jenis buku yang kamu suka, misalnya cerpen atau novel.

(2)       Membaca dengan teknik yang tepat

Hindari membaca dengan bersuara.

(3)       Meningkatkan konsentrasi

 

 

  1. 7.      Mencatat Perkembangan Kemampuan Membaca Cepat

 

Untuk mencatat perkembangan kemampuan membaca cepatmu, lakukanlah kegiatan berikut ini!

 

(1)     Catatlah judul buku apa saja yang telah kamu baca dalam satu minggu!

(2)     Catat juga nama pengarang masing-masing buku yang telah kamu baca!

(3)     Hitunglah berapa jam waktu yang kamu perlukan untuk menyelesaikan membaca buku-buku tersebut sampai selesai! Lakukan semua itu dengan suka cita, ikhlas, dan jujur.

 

  1. 8.      Mengidentifikasi Kata Dasar dan Imbuhan

 

Coba kamu baca kembali kalimat berikut!

 

Suatu ketika, Budha menceritakan sebuah ceritera tentang orang-orang buta dan seekor gajah

 

Kalimat tersebut terdiri atas dua belas kata. Jika kamu amati dengan saksama, dari kedua belas kata tersebut terdapat tiga kata berimbuhan, yaitu: menceritakan, sebuah, dan seekor. Kata sebuah berasal dari kata dasar buah dan mendapatkan imbuhan berupa awalan, yaitu se-. Demikian juga dengan kata seekor, berasal dari kata dasar ekor dan awalan se-. Pada sisi lain kata menceritakan berasal dari kata ceritakan dan mendapat awalan meN-. Kata ceritakan berasal dari kata dasar cerita dan mendapatkan akhiran –kan.

 

Coba kamu bandingkan dengan kata keagamaan dalam kalimat berikut!

 

Budha tak mengerti mengapa banyak ajaran waktu itu, contohnya ajaran keagamaan, saling mempersoalkan kebenaran dan masing-masing menyatakan hanya ajarannya sendiri yang paling benar, sementara ajaran agama lain salah.

 

Kata keagamaan berasal dari kata agama dan mendapat konfiks (gabungan awalan dan akhiran yang mengapit kata dasar secara serentak dan membentuk satu kesatuan), yaitu ke-an. Kata keagamaan tidak beraal dari kata agamaan dan awalan ke-, karena tidak ada kata agamaan dalam bahasa Indonesia.

 

Nah, dari uraian tersebut dapat kamu temukan bahwa afiks atau imbuhan dalam bahasa Indonesia ada beberapa macam, yaitu:

(1)       awalan (prefiks) adalah imbuhan yang diletakkan di muka kata dasar

(2)       akhiran (sufiks) adalah imbuhan yang diletakkan di belakang kata dasar

(3)       konfiks adalah imbuhan yag mengapit kata dasar secara serentak dan membentuk satu kesatuan

(4)       sisipan (infiks) adalah imbuhan yang disisipkan di tengah kata dasar, misalnya kata kinerja berasal dari kata kerja dan mendapat sisipan –in-.

 

Identifikasilah kata-kata berimbuhan yang terdapat pada paragraf berikut!

 

Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengan gelondong kayu. Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya dengan sebuah balon. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya dengan sebatang kayu yang bulat dan halus. Seorang buta yang telah meraba kepalanya membandingkannya dengan sebuah panci. Seorang buta yang telah meraba belalainya membandingkannya dengan selang air. Akhirnya seorang buta lain yang telah meraba bagian ekornya tidak mau ketinggalan. Ia membandingkan seekor gajah dengan tali tambang yang sudah rusak.

 

  1. C.    Menulis Pantun

 

Pantun adalah wujud konkret warisan budaya leluhur yang harus kita lestarikan. Coba kamu amati kegunaan pantun dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, di radio, di televisi, atau di media cetak! Coba kamu sebutkan beberapa lagu yang di dalamnya terdapat bait-bait pantun! Nah, ternyata acara di radio atau televisi juga menggunakan pantun sebagai sarana untuk memperindah atau menghangatkan suasana. Melihat begitu banyak kegunaan pantun dalam kehidupan kita, pada pembelajaran ini kamu akan belajar menulis pantun. Agar kamu dapat menulis pantun yang memenuhi syarat-syarat pantun, lakukanlah aktivitas berikut: (1) menemukan ciri-ciri pantun, (2) menemukan jenis-jenis pantun, (3) menyanyikan lagu berbentuk pantun, (4) melengkapi pantun yang rumpang dan pantun karmina (dua baris) (5) adu cepat berbalas pantun.

 

  1. 1.      Menemukan Ciri Pantun

 

Bacalah contoh pantun berikut!

 

Contoh pantun

 

(1)

Jual pepaya dengan kandil

Kandil buatan orang Inggris

Melihat buaya menyandang bedil

Sapi dan kerbau tegak berbaris

 

(2)

Anak bakau di rumpun salak

Patah taruknya ditimpa genta

Riuh kerbau tergelak-gelak

Melihat beruk berkaca-mata

 

(3)

Pohon manggis pohon embacang

Ketiga dengan pohon lulita

Duduk menangis abang pincang

Katanya jalan tidak rata

 

(4)

Kalau ada sumur di ladang

Bolehkah kita menumpang mandi

Kalau ada umurku panjang

Bolehlah kita bertemu lagi

 

Diskusikan dengan anggota kelompokmu ciri-ciri pantun yang telah kamu baca (identifikasi) tersebut dengan berpedoman pada pertanyaan pemandu diskusi berikut ini!

 

Pada bagian ini perlu ditambahkan permintaan agar siswa juga mendiskusikan pesan-pesan moral dan nilai budi pekerti yang terkandung di dalam pantun.

 

 

 

 

 

 

 

No.

Aspek

Pertanyaan Pemandu diskusi

1

Bentuk:

  • Baris
  • Suku kata
  • Persajakan
  1. Berapa jumlah baris dalam satu bait?
  2. Berapa jumlah suku kata dalam tiap baris?
  3. Apakah yang dimaksud dengan persajakan?
  4. Bagaimana persajakan pada tiap-tiap bait pantun?

2

Isi Setiap bait pantun terdapat sampiran dan isi

  1. Apakah yang dimaksud dengan sampiran?
  2. Apakah yang dimaksud dengan isi?
  3. Terletak di baris ke berapakah sampiran pantun?
  4. Terletak di baris ke berapakah isi pantun?

 

Pada tabel di atas perlu ditambah dengan aspek pesan moral dan nilai budi pekerti serta pertanyaan pemandu diskusinya.

 

 

 

 

 

 

  1. 2.      Menemukan Jenis-jenis Pantun

Pantun dapat dibedakan menjadi beberapa jenis menurut tujuannya. Pertama, pantun nasihat, yaitu pantun yang bertujuan memberi nasihat dan pesan moral. Kedua, pantun cinta atau remaja, yaitu pantun yang bertujuan untuk mengungkapkan perasaan terkait dengan masalah cinta. Ketiga, pantun jenaka, yaitu pantun yang hanya bertujuan untuk menghibur atau berkelakar.

Klasifikasikanlah pantun-pantun berikut sesuai dengan jenisnya, kemudian berilah alasan!

 

Pantun 1

Pulau pandan jauh ke tengah

Gunung Daik bercabang tiga

Hancur badan dikandung tanah

Budi yang baik dikenang juga

 

Pantun 2

Pohon manggis di tepi rawa

Tempat kakek 1 tidur beradu

Sedang menangis nenek tertawa

Melihat kakek bermain gundu

 

Pantun 3

Dari mana datangnya lintah

Dari sawah turun ke kali

Dari mana datangnya cinta

Dari mata turun ke kali

 

Pantun 4

Tanam jerangau di bukit tinggi

Mati dipijak anak badak

Melihat sang bangau sakit gigi

Gelak terbahak penghulu katak

 

Pantun 5

Anak bakau di rumpun salak

patah taruknya6 ditimpa genta

Riuh kerbau tergelak-gelak

Melihat beruk berkaca mata

 

Format panduan diskusi

 

No.

No. Pantun

Jenis Pantun

Alasan

1 Pantun 1    
2 Pantun 2    
3 Pantun 3    
4 Pantun 4    
5 Pantun 5    

 

 

  1. 3.      Menyanyikan Lagu Berbentuk Pantun

 

Nyanyikan lagu di bawah ini secara bersama-sama!

 

CINDAI

Penyanyi: Siti Nurhaliza

 

Cindailah mana tidak berkias

Jalinnya lalu rentah beribu

Bagailah mana hendak berhias

Cerminku retak seribu

 

Mendendam unggas liar di hutan

Jalan yang tinggal jangan berliku

Tilamku emas cadarnya intan

Berbantal lengan tidurku

 

Hias cempaka kenanga tepian

Mekarnya kuntum nak idam kumbang

Puas kujaga si bunga impian

Gugurnya sebelum berkembang

 

Hendaklah hendak hendak kurasa

Puncaknya gunung hendak ditawan

Tidaklah tidak tidak kudaya

Tingginya tidak terlawan

 

Janganlah jangan jangan kuhiba

Derita hati jangan dikenang

Bukanlah bukan bukan kupinta

Merajuk bukan berpanjangan

 

Akar beringin tidak berbatas

Cuma bersilang paut di tepi

Bidukku lilin layarnya kertas

Seberang laut berapi

 

Gurindam lagu bergema takbir

Tiung bernyanyi pohonan jati

Bertanam tebu di pinggir bibir

Rebung berduri di hati

 

Laman memutih pawana menerpa

Langit membiru awan bertali

Bukan dirintih pada siapa

Menunggu sinarkan kembali

 

Setelah kamu menyanyikan lagu tersebut, coba kelompokkan mana yang termasuk sampiran dan mana yang termasuk isi. Kemudian, carilah maksud atau arti isi pantun tersebut!

 

Panduan diskusi

 

Bait

Sampiran

Isi

Maksud Isi

1

Cindailah mana tidak berkias/

Jalinnya lalu rentah beribu

Bagailah mana hendak berhias/

Cerminku retak seribu

Bagaimana mau bercermin, kalau cermin kita pecah berkeping-keping.

dst.

dst.

dst.

dst.

 

 

  1. 4.      Melengkapi Pantun

 

Lengkapilah rumpang pada pantun berikut!

 

 

Dari Yogya pergi ke Malang

Naik bus melewati Batu

………………………………

………………………………

 

Beli obat di warung Pak Syukri

Pulangnya singgah ke pasar kembang

…………………………………………….

…………………………………………….

 

Bang Sakur pergi ke Cibubur

Menengok kerabat yang sedang sakit

………………………………………….

…………………………………………….

 

Bang Jaja kepalanya botak

Bang Sueb rambutnya pirang

………………………………………….

…………………………………………….

 

  1. 5.      Adu Cepat Menulis Pantun

(1)       Bentuklah kelompok yang terdiri atas 4  s.d. 5 siswa!

(2)       Dalam waktulimamenit, buatlah paling sedikit dua bait pantun! Perhatikan syarat-syarat yang telah kalian pelajari di atas!

(3)       Tempelkan hasil terbaik kalian di majalah dinding!

 

  1. 6.      Menilai Pantun yang Telah Ditulis

 

Nilailah pantun yang ditulis oleh kelompok lain dengan menggunakan kriteria penilaian berikut ini! Lakukan dengan cermat dan jujur!

 

No.

Aspek yang Diamati dan Bobot

Skor

1

Kesesuaian dengan syarat pantun dari segi bentuk (Tiap bait terdiri atas 4 baris, tiap baris terdiri atas 8 s.d. 12 suku kata, persajakan abab)

Alternatif penilaian:

  • sesuai dengan semua syarat pantun (dengan bobot 5)
  • hanya sesuai dengan 2 syarat pantun  (dengan bobot 3)
  • tidak sesuai dengan semua syarat pantun  (dengan bobot 1)
 

2

Kesesuaian dengan syarat pantun dari segi isi (baris 1 dan 2

adalah sampiran dan baris 3 dan 4 adalah isi)

Alternatif penilaian:

  • sesuai dengan semua syarat pantun (dengan bobot 5)
  • hanya sesuai dengan 1 syarat pantun  (dengan bobot 3)
  • tidak sesuai dengan semua syarat pantun  (dengan bobot 1)
 

3

Kemenarikan isi pantun

Alternatif penilaian:

  • isi bermakna dan bervariasi (dengan bobot 5)
  • isi bermakna namun kurang bervariasi (dengan bobot 3)
  • isi tidak bermakna dan tidak bervariasai  (dengan bobot 1)
 

4

Ketepatan penulisan ejaan dan tanda baca

  • tidak ada kesalahan penulisan ejaan dan tanda baca (dengan bobot 5)
  • ada 2 atau 3 kesalahan penulisan ejaan dan tanda baca  (dengan bobot 3)
  • lebih dari 3 kesalahan penulisan ejaan dan tanda baca  (dengan bobot 1)
 

SKOR MAKSIMAL

25

SKOR PEROLEHAN

 

Pada tabel di atas dapat ditambah dengan aspek penilaian yang berkenaan dengan pesan moral dan nilai budi pekerti lengkap dengan bobot penilaiannya.

 

 

 

 

 

 

  1. D.    Rangkuman

 

Pada unit 1, kamu telah belajar menceritakan pengalaman yang paling mengesankan. Dari pembelajaran ini kamu telah belajar bercerita dengan memperhatikan intonasi, dan ekpresi. Kamu juga telah belajar membaca cepat dan menarik simpulan dari teks yang kamu baca. Mengidentifikasi kata dasar dan kata berimbuhan juga telah kamu lakukan dalam pembelajaran ini. Pembelajaran diakhiri dengan kegiatan bersastra, yaitu menulis pantun. Kamu telah belajar mengenali ciri pantun, jenis-jenis pantun, melengkapi pantun yang rumpang, dan menulis pantun.

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. E.     Evaluasi

 

  1. 1.      Pilihlah satu jawaban yang tepat dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d!

 

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Dari pengalamanlah kita bisa belajar banyak hal. Kita bisa belajar bagaimana mengatasi masalah yang rumit, yang sulit dipecahkan. Dari pengalaman juga kita belajar bersosialisasi menghadapi segala macam persoalan yang sangat kompleks. Seringkali tanpa sengaja kita dapat bertindak arif dan bijak, padahal semua itu sebenarnya buah dari pengalaman yang mungkin tidak kita sadari.

 

(1)       Ide pokok paragraf tersebut di atas adalah …

  1. Pengalaman adalah guru yang terbaik.
  2. Kita bisa belajar dari pengalaman.
  3. Kita bisa bertindak arif dari pengalaman.
  4. Dari pengalaman kita bisa belajar banyak.

 

Kumur-kumur dengan air putih dapat membantu mencegah pilek. Menurut para ahli, kumur dengan air putih biasa bisa mencegah pilek sampai 30%. Para periset membagi sekitar 400 orang ke dalam 3 grup. Masing-masing berkumur dengan antiseptic, air biasa, dan tidak kumur sama sekali. Hasilnya, grup yang kumur dengan air putih 36% lebih rendah terkena infeksi. Kumur-kumur menurunkan risiko karena membilas virus keluar dari mulut. Selain itu, menjaga jaringan tetap basah menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi pathogen.

 

(2)   Ide pokok paragraf tersebut di atas adalah …

  1. Kumur dengan air putih menurunkan risiko terkena penyakit.
  2. Kumur-kumur dengan air putih mencegah pilek.
  3. Kumur-kumur dapat membilas virus keluar dari mulut.
  4. Kumur-kumur berguna untuk menjaga jaringan agar tetap basah.

 

Kadang kita diserang rasa lapar pada malam hari yang membuat kita ingin ngemil. Untuk mengatasinya, coba minum air putih dengan disesap secara perlahan ketimbang dalam regukan besar pada saat makan. Minum terlalu banyak secara sekaligus mengencerkan cairan pencerna yang dikeluarkan di dalam mulut. Mengakibatkan makanan sulit dipecah secara tepat sehingga nutrient yang mengenyangkan banyak yang dikeluarkan ketimbang diabsorp. Minum dengan disesap mengoptimalkan pencernaan, membuat perut dapat memproses makanan secara baik dan mengirimkan sinyal kenyang ke otak. Hasilnya, Anda akan merasa kenyang sampai pagi hari. (Dikutip dari Majalah Aura Edisi Minggu ke-1 Tanggal 7-13 Februari 2005)

 

(3)   Simpulan paragraf tersebut di atas adalah …

  1. Mengurangi ngemil dengan cara minum air putih dengan cara disesap secara perlahan.
  2. Kiat minum agar makanan dapat diproses dengan baik.
  3. Kiat mengoptimalkan pencernaan dengan cara minum air putih dengan disesap.
  4. Kiat agar tetap kenyang sepanjang hari.

 

Akhirnya ia memperoleh hasil sebagai berikut: 40% membandingkannya dengan gelondongan kayu, 20% dengan batang kayu yang bulat dan halus, dan masing-masing 10% dari mereka yang membandingkannya dengan panci besar, sebuah balon, selang air dan tali tambang yang rusak. Sangat logis bukan? Seekor gajah memiliki 4 kaki besar seperti gelondong kayu ( 40%) dan 2 taring ( 20%), Sedangkan untuk kepala, belalai, perut dan ekor hanya 1 ( 10%). Sebagaimana para ilmuwan meyakini bahwa kemayoritasan memainkan peranan, cenderung yakin bahwa mayoritas adalah kebenaran, maka ia menyatakan bahwa seekor gajah itu seperti gelondongan kayu karena hampir setengah menyatakannya. Jadi di dalam kasus ini, mayoritas tidak otomatis sebuah kebenaran.

 

(4)   Tujuan utama paragraf tersebut di atas adalah …

  1. Memberikan informasi yang tidak lazim
  2. Memberikan informasi yang aneh.
  3. Membuktikan bahwa pendapat mayoritas tidak secara otomatis sebuah kebenaran.
  4. Menyatakan pendapat yang sama dengan pendapat umum.

 

(5)   Simpulan paragraf tersebut di atas adalah …

  1. Pendapat mayoritas tidak otomatis sebuah kebenaran.
  2. Pendapat mayoritas otomatis sebuah kebenaran.
  3. Kemayoritasan adalah sebuah kebenaran.
  4. Mayoritas memegang peranan penting.

 

 

Makanan Pembunuh

 

Maksud judul itu bukanlah ………….yang ……………oleh pembunuh, melainkan makanan yang dapat membunuh manusia yang ……………..

 

(6)   Kata berimbuhan yang tepat untuk melengkapi kalimat yang rumpang tersebut adalah …

  1. makan, memakan, dimakan.
  2. makanan, dimakan, memakan.
  3. makanan, memakan, memakannya.
  4. makanan, dimakan, memakannya.

 

(7)   Penulisan kata berimbuhan asing yang bergaris bawah berikut telah benar, kecuali

  1. Warga desa membangun gedung pertemuan secara swadaya.
  2. Bulan depan, mereka akan mengikuti lomba voli antarprovinsi.
  3. Paratunawisma di bawah jembatan Semanggi akan ditertibkan.
  4. Mereka tidak menyukai kegiatan yang bersifat nonteknis.

 

(8)   Kalimat yang menggunakan tanda koma secara tepat adalah ….

  1. Untuk mengurangi kebiasaan ngemil coba minum air putih, dengan disesap secara perlahan.
  2. Untuk mengurangi kebiasaan ngemil, coba minum air putih, dengan disesap secara perlahan.
  3. Untuk mengurangi kebiasaan ngemil, coba minum air putih dengan disesap secara perlahan.
  4. Untuk mengurangi kebiasaan ngemil, coba minum air putih dengan disesap, secara perlahan.

 

  1. 2.  Uji Praktik

 

  1. Ceritakanlah pengalamanmu yang paling berkesan secara singkat (tiga menit), dan dengan ekspresi dan intonasi yang sesuai serta bahasa yang efektif!
  2. Tulislah dua bait pantun karyamu sendiri!

 

Pada bagian evaluasi ini dapat ditambahkan instrumen penilaian yang berkenaan dengan pencapaian pengembangan nilai karakter, misalnya dengan panduan observasi, lembar evaluasi diri, dan lembar evaluasi antarteman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. F.  Refleksi

 

Setelah kamu berdiskusi, berlatih, dan melaksanakan semua kegiatan dalam pembelajaran ini, cobalah kamu renungkan kembali apa yang telah kamu kuasai dan belum kamu kuasai. Ungkapkan pula kesanmu terhadap pembelajaran yang telah kamu laksanakan. Untuk itu, berikanlah tanda centang (√) pada panduan berikut ini dengan jujur dan objektif atau apa adanya!

 

No.

Pertanyaan Pemandu

Ya

Tidak

1

Saya dapat bercerita dengan ekspresi, intonasi yang sesuai dan menggunakan kalimat efektif    

2

Saya memahami perbedaan kata dasar dan kata berimbuhan    

3

Saya dapat menghitung kecepatan membaca saya    

4

Saya dapat menjawab pertanyaan dari isi bacaan yang saya baca    

5

Saya dapat menyimpulkan isi teks yang saya baca    

6

Saya bangga dapat menulis pantun yang memenuhi syarat-syarat pantun    

7

Saya dapat menilai pantun yang ditulis teman dan saya tulis sendiri    

8

 Menurut saya, latihan-latihan dalam bab ini mudah diikuti dan membuat saya senang belajar bahasaIndonesia    

 

 

 

 

 

  1. 2.      Strategi Penggunaan BSE Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Pendidikan Karakter

 

  1. a.      Adaptasi lengkap secara terintegrasi

 

Salah satu strategi penggunaan BSE mata pelajaran bahasa Indonesia untuk pendidikan karakter dapat dilakukan dengan adaptasi lengkap secara terintegrasi sebelum pembelajaran dilaksanakan. Strategi ini dilakukan dengan cara merevisi materi atau isi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran yang ada pada setiap unit pembelajaran dalam BSE sebelum pembelajaran dilaksanakan. Revisi itu dapat dilakukan dengan menambah atau mengubah isi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran yang ada di dalam BSE. Setelah revisi dilakukan, unit pembelajaran itu dicetak dan diberikan kepada peserta didik.

 

 

  1. b.     Adaptasi sebagian secara terintegrasi

 

Strategi penggunaan BSE mata pelajaran bahasa Indonesia untuk pendidikan karakter juga dapat dilakukan dengan adaptasi sebagian secara terintegrasi sebelum pembelajaran. Strategi ini dilakukan dengan cara merevisi isi pembelajaran atau kegiatan pembelajaran atau evaluasi pembelajaran yang ada pada setiap unit pembelajaran dalam BSE sebelum pembelajaran dilaksanakan. Revisi itu dapat dilakukan dengan menambah atau mengubah isi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, atau evaluasi pembelajaran yang ada di dalam BSE. Setelah revisi dilakukan, unit pembelajaran itu dicetak dan diberikan kepada peserta didik.

 

Melalui contoh adaptasi lengkap yang sudah dikemukakan di atas, para guru dapat mengambil bagian yang menunjukkan bagaimana cara mengadaptasi sebagian secara terintegrasi tersebut.

 

 

  1. c.       Adaptasi parsial-terpisah

 

Strategi penggunaan BSE mata pelajaran bahasa Indonesia untuk pendidikan karakter juga dapat dilakukan dengan adaptasi sebagian secara terpisah sebelum pembelajaran. Strategi ini dilakukan dengan cara menambah isi pembelajaran atau kegiatan pembelajaran atau evaluasi pembelajaran yang ada pada setiap unit pembelajaran dalam BSE sebelum pembelajaran dilaksanakan. Tambahan itu dicetak secara terpisah dan digunakan oleh guru sebagai panduan dalam pengembangan nilai karakter peserta didik.

 

Berikut ini disajikan contoh adaptasi lengkap secara terintegrasi sebelum pembelajaran dilaksanakan. Contoh ini dapat dijadikan rambu-rambu bagi guru dalam mengintegrasikan nilai karakter pada penggunaan BSE pelajaran bahasa Indonesia. Artinya, diharapkan guru dapat secara kreatif mempersiapkan pembelajarannya dengan lebih baik. Di samping itu, melalui contoh adaptasi lengkap secara terintegrasi itu, diharapkan para guru juga bisa melakukan adaptasi sebagian secara terintegrasi.  Melalui contoh itu, diharapkan pula para guru bisa melakukan adaptasi sebagian secara terpisah.

 

 

  1. d.     Contoh adaptasi lengkap terintegrasi

 

 

PELAJARAN I

BELAJAR DARI PENGALAMAN

 

Topik Pembelajaran:

A. Menceritakan Pengalaman yang Paling Mengesankan

B. Membaca Cepat dan Menyimpulkan Isi Bacaan

C. Menulis Pantun

 

A.  Belajar dari Pengalaman

Amatilah semua acara reality show di televisi. Hampir semua acara tersebut mengharuskan semua peserta untuk dapat bercerita. Nah, pada pembelajaran ini kamu pun akan belajar bercerita yang baik, runtut, mudah dipahami, dan pengalaman yang kamu ceritakan dapat diambil hikmahnya oleh para pendengar. Kemampuanmu bercerita akan lengkap apabila kamu juga memiliki pengetahuan yang luas melalui kegiatan membaca. Dalam pembelajaran ini kamu akan belajar membaca cepat sekaligus belajar menarik simpulan dari teks yang kamu baca. Keterampilan berbahasamu akan lengkap jika kamu juga bisa bersastra, yaitu menulis pantun. Kemampuanmu dalam menulis pantun ini akan memberi nilai tambah penampilanmu dalam berbahasa lisan di depan umum karena pantun dapat dimanfaatkan untuk menghangatkan suasana.

 

 

  1. 1.      Bercerita tentang Pengalaman yang paling Mengesankan

 

Tidak ada pengalaman yang sia-sia. Ada pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Ini berarti kita dapat belajar dari pengalaman, baik pengalaman yang kita alami sendiri maupun pengalaman orang lain. Agar kamu dapat menceritakan pengalamanmu yang paling mengesankan dengan menggunakan pilihan kata dan ungkapan peribahasa yang menarik, kamu akan melakukan serangkaian aktivitas berikut: (1) mengamati contoh pengalaman yang mengesankan, (2) menemukan ciri pengalaman yang mengesankan, (3) memilih pengalamanmu yang paling mengesankan untuk kamu ceritakan, (4) membuat kerangka cerita, dan (5) menyampaikan cerita yang telah kamu susun kerangkanya tersebut secara lisan dengan memberdayakan ungkapan/peribahasa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tambahan penjelasan:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 2.      Mengamati Contoh Pengalaman yang Mengesankan

 

Kita dapat belajar mengungkapkan pengalaman yang mengesankan dengan membaca contoh berikut!

 

Pengalaman 1

 

Watashiwa wa …

 

Aku bersemangat sekali ikut kursus bahasa Jepang di Surabaya karena di samping tertarik dengan huruf-hurufnya, kudengar tempat kursus yang kutuju juga mempunyai sensei (guru) orang Jepang. Hari itu kami masuk kelas dengan gembira. Pada saat awal kami diberitahu oleh petugas administrasi bahwa di kelas kami ada dua nama yang sama, yaitu: Joko Bagus. Oleh sebab itu, petugas kemudian menambahkan inisial A dan B pada akhir kedua nama itu.

Pelajaran pertama diisi oleh sensei dari Jepang. Dia mengajak kami untuk saling memperkenalkan diri dengan memberikan contoh. Pertama, dia mencontohkan dengan memperkenalkan diri sendiri. Setelah itu, dia melihat daftar presensi dan mulai membaca nama yang ada untuk contoh. Dia katakan: “Watashi wa Larasati des, dozoo yoroshiku”. Kami mengangguk-angguk tanda mengerti. Setelah itu dia membaca presensi lagi dan mengatakan, “Watashi wa, Joko Bagus Be des…” (baca: watashi wa joko bagus bedes) sampai di situ sontak kami tertawa riuh bahkan ada yang tertawa terpingkal-pingkal. Joko Bagus pun menggerutu dan bergumam dengan bahasa Suroboyo-an: “Aduuuh…mosok, bagus-bagus ngene dikira bedes, Rek” (‘Masak, cakep-cakep begini dikira kera.’), Tawa kami pun semakin meledak dan sensei kami akhirnya ikut tersenyum-senyum walaupun wajahnya terlihat bingung (KL, Ajisai, Vol.1, No.1, Oktober 2002 dalam Kisyani, 2004).

 

 

Pengalaman 2

 

Perjuangan Menjadi Finalis Pildacil

 

Teman, namaku Trismunandar, kelas 5 SD. Aku ditunjuk oleh pihak sekolah untuk mengikuti pildacil, yaitu pemilihan dai cilik ke-3 di Lativi. Audisi di Yogyakarta dilaksanakan Januari lalu. Saat itu aku memilih tema tentang akhlak manusia. Aku grogi banget sampai lupa dan mengulang dua kali. Sebulan kemudian aku dipanggil kepala sekolah untuk mengikuti final pildacil di Jakarta.

Teman, aku menangis sedih, karena aku buta dan membuatku tidak percaya diri. Rasa rendah diri terus menghantuiku. Aku takut, di Jakarta nanti tidak punya teman. Tapi, guru, teman-teman dan keluargaku terus memompa semangatku. Didampingi ibu, aku berangkat ke Jakarta. Di tempat karantina aku merasa tidak kerasan dan meminta Ibu untuk mengajakku pulang saja ke rumah. Namun Ibuku dengan sabar terus menasihatiku.

Teman, ternyata dugaanku selama ini salah, keenam belas finalis lain selalu menghibur dan berkawan akrab denganku. Mereka tidak memandang sebelah mata terhadap keadaanku yang buta. Aku semakin kerasan dan tumbuh rasa percaya diriku. Aku juga semakin berani tampil di depan lensa kamera karena dibimbing kakak-kakak pembina. Setiap hari jadwal kegiatanku sudah ditentukan, seperti membaca materi, hafalan, kegiatan sosial, dan juga jalan-jalan lho!

Sebenarnya aku tidak memiliki pengalaman berceramah, paling-paling cuma menjadi pewara atau MC di sekolah. Pengalamanku menjadi anggota Junior Yaketonis Band sebagai pemegang keyboard dan sering diundang tampil di berbagai acara dan sekaligus memenangkan beberapa kejuaraan di Yogyakarta mudah-mudahan bisa menambah rasa percaya diriku dan doakan ya mudah-mudahan dapat mengantarku menjadi juara.

Aku menyesal telah meratapi keadaanku. Mudah-mudahan Allah mengampuni segala kekhilafanku ini. Amin.

(Dikutip dengan beberapa perubahan

dari Mentari, Edisi 320 tahun XXIV 2006)

 

 

Pelajaran Nenek Penjual Sapu

 

Seorang teman menceritakan kekagumannya pada seorang nenek yang mangkal di depan Pasar Godean, Sleman, Yogyakarta. Ketika itu hari Minggu, saat dia dan keluarganya hendak pulang usai silaturahmi bersama kerabat, mereka melawati pasar Godean. Ibu dari teman saya tergoda memebeli ayam goreng di depan pasar untuk sajian makan malam. Kebetulan hari mulai gelap.

Di samping warung ayam goreng tersebut ada seorang nenek berpakaian lusuh bak pengemis, duduk bersimpuh tanpa alas, sambil merangkul tiga ikat sapu ijuk. Keadaannya terlihat payah, lemah, dan tak berdaya. Setelah membayar ayam goreng, ibu teman saya bermaksud memberi Rp1.000,00 karena iba dan menganggap nenek itu pengemis. Saat menyodorkan lembaran uang tadi, tidak diduga si nenek malah menunduk kecewa dan menggeleng pelan. Sekali lagi diberi uang, sekali lagi nenek itu menolak.

Penjual ayam goreng kebetulan melihat kejadian itu kemudian menjelaskan bahwa nenek itu bukanlah pengemis, melainkan penjual sapu ijuk. Paham akan maksud keberadaan sang nenek yang sebenarnya, ibu teman saya akhirnya memutuskan membeli tiga sapunya yang berharga Rp1.500,00 per ikat, meskipun ijuknya jarang-jarang dan tidak bagus, ikatannya pun longgar.

Setelah menerima uang Rp5000,00 si nenek tampak ngedumel sendiri. Ternyata tidak punya kembalian. “Ambil saja uang kembaliannya,” kata ibu dari teman saya. Namun, si nenek ngotot untuk mencari uang kembalian Rp500,00. Dia lalu bangkit dan dengan susah payah menukar uang di warung terdekat.

Ibu teman saya terpaku melihat polah sang nenek. Sesampainya di mobil, ia masih terus berpikir, bagaimana mungkin di zaman sekarang masih ada yang begitu jujur, mandiri, dan mempunyai harga diri yang begitu tinggi.

Sumber: Intisari, Agustus 2004

 

 

 

  1. 3.      Menemukan Ciri Pengalaman yang Mengesankan

 

Setelah kamu membaca tiga contoh pengalaman tersebut, diskusikanlah jawaban pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dalam kelompokmu masing-masing!

 

Tambahan:

Permintaan kepada siswa untuk berdiskusi di atas dapat ditambah dengan penjelasan seperti di bawah ini.

 

Dalam melaksanakan diskusi kamu harus bisa memenuhi persyaratan atau aturan berikut.

  1. dapat menahan emosi atau dapat bersabar
  2. dapat menghargai pendapat orang lain
  3. dapat bersikap dan berbahasa secara santun dalam menyampaikan pertanyaan, pendapat, atau tanggapan
  4. dapat menyadari bahwa orang lain juga memiliki hak untuk berbicara

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertanyaan Pemandu Diskusi

 

Tambahan:

Daftar pertanyaan pemandu diskusi dapat ditambah dengan dua pertanyaan yang terkait dengan pendidikan karakter berikut ini.

 

  • Pesan moral atau nilai budi pekerti apa yang terdapat pada cerita 1, 2, dan 3?
  • Pesan moral atau nilai budi pekerti apa yang dapat kamu terapkan dalam kehidupanmu sehari-hari?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1)      Apakah yang dimaksud dengan pengalaman mengesankan menurut kelompokmu?

2)      Apakah pengalaman mengesankan itu dapat berisi peristiwa lucu atau kocak, menyedihkan, menyenangkan, mengharukan, atau menegangkan?

3)      Menurut kelompokmu manakah pengalaman yang mengesankan dari bacaan tersebut?

4)      Berikan alasan mengapa mengesankan?

5)      Aspek-aspek apa yang membuat kelompokmu terkesan?

6)      Selain dari segi isi yang diceritakan, apakah pengalaman mengesankan juga dapat dilihat dari cara menceritakan dan bahasa yang digunakan?

7)      Apakah penggunaan ungkapan atau peribahasa dapat menambah kemenarikan cerita tersebut?

8)      Catatlah ungkapan atau peribahasa yang terdapat pada contoh-contoh itu dan temukan maknanya!

 

 

 

 

 

 

  1. 4.      Mengidentifikasi Beragam Pengalaman Diri yang Mengesankan

 

Setelah kamu mengamati beragam contoh pengalaman yang mengesankan tersebut, secara individual daftarlah beberapa pengalamanmu yang berkesan selama ini!

 

 

Tambahan:

Permintaan di atas dapat ditambah dengan pernyataan yang dapat memberikan dorongan kepada siswa untuk membiasakan diri suka berbagi pengalaman dengan orang lain. Misalnya, seperti berikut ini.

 

Setelah belajar dan memetik hikmah dari pengalaman orang lain, kamu juga harus mau membagi pengalamanmu kepada teman. Dengan demikian teman-temanmu dapat belajar dari pengalamanmu. Berbagi pengalaman dengan orang lain merupakan perbuatan yang dapat membentuk kepribadian yang mulia. Nah, sekarang daftar apa saja pengalamanmu selama ini seperti contoh berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh:

  • Kejutan di pesta ulang tahunku
  • Bajuku sama dengan baju temanku
  • Menerimasuratdari teman sekelas
  • Memperoleh NUN tertinggi
  • Pandangan pertama yang tak bisa kulupakan

 

Setelah kamu daftar, pilihlah satu pengalaman yang menurutmu paling mengesankan untuk kamu ceritakan!

 

 

  1. 5.      Menyusun Kerangka Cerita

 

Kembangkanlah kerangka cerita dari pengalaman yang telah kamu pilih tersebut dengan cara mengurutkan peristiwa demi peristiwa yang kamu alami seperti contoh berikut ini.

 

Contoh:

Kejutan di pesta ulang tahunku

  • Ayah dan ibu pergi pada hari ulang tahunku
  • Aku sedih, kecewa, dan marah
  • Pulang sekolah suasana rumah sepi
  • Aku curiga banyak hiasan di ruang makan
  • Ternyata semua keluarga berkumpul dan membuat kejutan untukku

 

  1. 6.      Menyampaikan Pengalaman secara Lisan

 

Ceritakanlah secara lisan pengalaman yang telah kamu susun kerangkanya tersebut! Perhatikan bagaimana kamu memulai cerita, mengembangkan inti cerita, dan mengakhiri cerita! Jangan lupa selipkan ungkapan atau peribahasa agar ceritamu menjadi lebih menarik/berkesan!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 7.      Menilai Kemampuan Menceritakan Pengalaman yang Mengesankan

 

Nilailah kemampuan temanmu yang sedang bercerita dengan menggunakan pedoman penilaian atau rubrik berikut!

 

Rubrik Penilaian Kemampuan Menceritakan Pengalaman

 

No.

Aspek Penilaian

Deskripsi

Ya

Tidak

1 Isi
  1. Apakah isi menarik dan ada hikmah dari pengalaman yang diceritakan temanmu?
    1. Apakah ada kesesuaian antara kejadian satu dan kejadian berikutnya?
   
2 Penggunaan Bahasa
  1. Apakah kalimat-kalimat yang digunakan dapat kamu pahami!
  2. Apakah pilihan kata yang digunakan tepat?
  3. Apakah dengan pilihan kata dan kalimat yang digunakan mampu menarik perhatian pendengar?
   
3 Kelancaran
  1. Apakah temanmu bercerita dengan lancar, tidak tersendat?
  2. Apakah dari tatapan mata dan gerak tubuhnya, tercermin rasa percaya diri yang kuat?
   

 

 

 

Perubahan:

 

Rubrik di atas diganti dengan rubrik yang lebih lengkap berikut ini.

 

 

 

Rubrik Penilaian Kemampuan Menceritakan Pengalaman

No.

Aspek Penilaian

Deskripsi

Ya

Tidak

1 Isi cerita
  1. Apakah isi cerita temanmu mengesankan?
  2. Adakah aspek isi cerita yang mengesankan?
  3. Adakah hikmah yang dapat dipetik sebagai contoh pengalaman hidup?
   
2 Penggunaan Bahasa
  1. Apakah kalimat yang digunakan dalam bercerita dapat kamu pahami dengan mudah!
  2. Apakah kata-kata yang digunakan dalam bercerita tepat?
  3. Dalam bercerita, apakah temanmu memiliki gaya dan intonasi yang menarik?
   
3 Kelancaran dan Keruntutan
  1. Apakah temanmu bercerita dengan lancar atau tidak tersendat?
  2. Apakah isi cerita temanmu disajikan secara sistematis atau runtut?
   
4 Keberanian dan rasa percaya diri
  1. Apakah dalam bercerita temanmu menunjukkan keberanian yang tinggi?
  2. Apakah dari mimik muka, sorot mata, dan gerak tubuhnya tercermin rasa percaya diri yang kuat?
   

 

 

B.  Membaca Cepat dan Menyimpulkan Isi Bacaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jadi, kecepatan membaca terkait erat dengan pemahaman terhadap bacaan. Seseorang yang dapat menyelesaikan bacaan dalam waktu yang cepat, tetapi sedikit sekali yang dapat dipahami dari bacaan itu, maka ia tidak dapat dikategorikan sebagai pembaca cepat. Demikian juga seseorang yang dapat memahami bacaan dengan baik, tetapi kecepatan membacanya sangat lambat, juga tidak dapat dikategorikan sebagai pembaca cepat.

Nah, apakah kamu termasuk pembaca cepat? Untuk mengetahui jawabannya, cobalah kamu ikuti serangkaian kegiatan berikut: (1) mengidentifikasi manfaat membaca cepat, (2) membaca sambil menghitung waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan bacaan, (3) menjawab pertanyaan terkait dengan isi bacaan, (4) mengukur kecepatan membaca, (5) membuat simpulan isi bacaan, dan (6) berlatih meningkatkan kemampuan membaca, (7) mencatat perkembangan kemampuan membaca, dan (8) mengidentifikasi kata dasar dan imbuhan.

 

 

1.  Menemukan Manfaat Membaca Cepat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tambahan:

Bagaimana? Apakah kamu memiliki kegemaran membaca? Kegemaran seseorang dalam membaca dapat diukur berdasarkan jenis dan jumlah bacaan yang dibacanya serta frekuensi atau keseringannya dalam membaca. Jenis, jumlah, dan frekuensi itu diukur berdasarkan satuan atau kurun waktu tertentu, misalnya dalam sehari, seminggu, sebulan, satu semester, satu tahun, atau selama hidup. Nah, silakan kamu secara jujur menilai dirimu sendiri mengenai kegemaran dan kemampuanmu dalam membaca sejak kamu bisa membaca sampai sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Seberapa seringkah kamu melakukan kegiatan membaca dalam sehari? Sebagai pelajar, kamu tentu setiap hari melakukan kegiatan membaca. Bacaan apa saja yang kamu baca? Berilah tanda contreng (√) pada bacaan yang sering, pernah, atau kadang kamu baca!

 

No.

Jenis Bacaan

Pernah/sering

1

 Buku Pelajaran  

2

 Novel  

3

 Cerpen  

4

 Komik  

5

 Majalah  

6

 Koran  

 

 

 

 

 

 

 

 

Perubahan:

 

Tabel di atas diubah menjadi seperti berikut ini.

 

Cantumkan tanda contreng (√) pada kolom (3) s.d. (5) sesuai jenis bacaan yang kamu baca pada kolom (2).

 

No.

Jenis Bacaan

Keseringan

Pernah

Kadang-kadang

Sering

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

1

 Buku Pelajaran (Teks)      

2

 Buku Ilmu Pengetahuan      

3

 Novel      

4

 Cerpen      

5

 Puisi      

6

 Komik      

7

 Majalah/jurnal      

8

 Koran (suratkabar)      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di antara bacaan tersebut di atas, manakah yang harus dibaca dengan cepat? Mengapa harus dibaca dengan cepat? Berikan alasan!

 

 

2.  Menghitung Waktu Membaca

 

Bacalah bacaan berikut ini! Hitunglah berapa detik kamu menyelesaikan bacaan berikut!

 

Perubahan:

Perintah di atas diganti dengan perintah berikut ini

 

Bacalah bacaan (sebanyak 815 kata) berikut ini dengan cepat! Hitunglah berapa detik kamu menyelesaikan bacaan berikut! Untuk menghitungnya gunakan jam tangan atau stopwatch. Lakukan hal itu dengan jujur demi perkembangan kemampuan kamu sendiri dalam membaca.

 

Waktu mulai : ………………..….

Waktu selesai : ……………………

 

 

ORANG-ORANG BUTA DAN SEEKOR GAJAH

 

Suatu ketika, Budha menceritakan sebuah ceritera tentang orang-orang buta dan seekor gajah. Budha tak mengerti mengapa banyak ajaran waktu itu, contohnya ajaran keagamaan, saling mempersoalkan kebenaran dan masing-masing menyatakan hanya ajarannya sendiri yang paling benar, sementara ajaran agama lain salah. Setelah Budha wafat, ceritera ini tersebar tidak hanya di India saja, tetapi juga di negara dan budaya lain, ceritera ini dikenal dan diceritakan. Sampai saat ini, cerita ini masih menjadi bacaan wajib dalam buku-buku pelajaran di sekolah.

Suatu ketika, seorang raja di India utara memerintahkan pegawai-pegawainya untuk mengumpulkan orang-orang yang buta sejak lahir ke istana kota raja. Sang raja juga memerintahkan pegawainya untuk membawa seekor gajah ke istana. Orang-orang buta ini sepanjang hidupnya belum pernah sama sekali mengerti apa itu gajah. Mereka tidak tahu seperti apakah gajah itu. Sekarang, sang raja memerintahkan mereka untuk menyentuhnya. Mereka hanya diperbolehkan menyentuh bagian-bagian tertentu saja, bukan gajah secara keseluruhan. Setelah beberapa waktu menunggu, mereka dipersilahkan mengatakan, bagaimana dan apa itu gajah.

Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengan gelondong kayu. Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya dengan sebuah balon. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya dengan sebatang kayu yang bulat dan halus. Seorang buta yang telah meraba kepalanya membandingkannya dengan sebuah panci. Seorang buta yang telah meraba belalainya membandingkannya dengan selang air. Akhirnya seorang buta lain yang telah meraba bagian ekornya tidak mau ketinggalan. Ia membandingkan seekor gajah dengan tali tambang yang sudah rusak.Masing-masing dari mereka memiliki penjelasannya sendiri tentang seekor gajah.

Oleh karena gambaran mereka tentang gajah berbeda, mulailah mereka bertengkar. Masing-masing sangat yakin bahwa hanya penjelasannyalah yang paling benar dan kepunyaan yang lainnya salah. Akhirnya mereka saling berantem dan dengan demikian sang raja terhibur.

Siapakah yang salah dan siapakah yang benar? Adakah seorang dari mereka memiliki kebenaran? Yang pasti sang rajalah yang salah karena telah mempermainkan orang buta. Bagi orang-orang buta sejak lahir, sangatlah sulit mendeskripsikan gajah tanpa merabanya secara utuh. Masing-masing dari mereka telah menggambarkan dengan tepat apa yang mereka rasakan. Mereka telah melakukannya dengan benar. Masing-masing mengatakan kebenaran. Tak seorang pun berbohong karena mereka hanya diperbolehkan meraba bagian-bagian tertentu saja. Kesalahan dari masing-masing orang buta tersebut bukan soal kualitas dari penjelasannya, melainkan keyakinan dan pernyataan tentang gajah secara keseluruhan dan menganggap penjelasannyalah yang paling benar. Tak seorang pun memiliki gagasan bahwa masing-masing hanya menjelaskan satu bagian saja.cara keseluruhan.

Kesalahan dari masing-masing orang buta tersebut bukan soal kualitas dari penjelasannya, melainkan keyakinan dan pernyataan tentang gajah secara keseluruhan dan menganggap penjelasannyalah yang paling benar. Tak seorang pun memiliki gagasan bahwa masing-masing hanya menjelaskan satu bagian saja.

Bayangkan seumpama satu di antara mereka seorang ilmuwan, maka ia akan mencari penyelesaian dengan gaya para ilmuwan, yaitu dengan metode persentase atau statistik. Ia akan segera mendata berapa banyak orang buta yang membandingkan dengan selang air, berapa persen yang membandingkannya dengan gelondongan kayu, dan seterusnya.

Akhirnya ia memperoleh hasil sebagai berikut: 40% membandingkannya dengan gelondongan kayu, 20% dengan batang kayu yang bulat dan halus, dan masing-masing 10% dari mereka yang membandingkannya dengan panci besar, sebuah balon, selang air dan tali tambang yang rusak. Sangat logis bukan? Seekor gajah memiliki 4 kaki besar seperti gelondong kayu (40%) dan 2 taring (20%), Sedangkan untuk kepala, belalai, perut dan ekor hanya 1 (10%). Sebagaimana para ilmuwan meyakini bahwa kemayoritasan memainkan peranan, cenderung yakin bahwa mayoritas adalah kebenaran, maka ia menyatakan bahwa seekor gajah itu seperti gelondongan kayu karena hampir setengah menyatakannya. Jadi di dalam kasus ini, mayoritas tidak otomatis sebuah kebenaran.

Oleh sebab itu, hanya ada satu pemecahan dari persoalan ini. Orang-orang buta yang hanya meraba bagian-bagian tertentu tersebut harus bekerja sama. Mereka harus bekerja seperti merangkai gambar dari sebuah gambar yang telah dipotong-potong. Lantas katakanlah, seekor gajah itu terdiri dari 4 gelondongan kayu, 2 batang kayu yang bulat dan halus, 1 balon, 1 panci, 1 selang air dan satu tali tambang buntut. Dengan demikian, mereka akan mampu memperolah gambaran tentang seekor gajah secara keseluruhan. Mereka harus menghentikan perselisihan dan bekerja sama. Mereka harus menyatukan gambaran masing-masing dengan gambaran yang didapat temannya. Mereka harus mau belajar dari yang lain. Masing-masing harus menerima dan memahami bahwa ada kebenaran dari penjelasan orang lain. Masing-masing harus mempertimbangkan bahwa mereka bukan satu-satunya pemaham kebenaran.

Barangsiapa mau membagi pengetahuan dengan orang lain, ia tak akan sedikit pun kehilangan. Justru sebaliknya, jika pengetahuan dibagi, pengetahuannya tidak akan berkurang melainkan bertambah. Kita manusia memang seperti dongeng orang-orang buta ini. Kita tetap buta, kita mirip mereka ini.

(8)       Kita hanya mengambil sebagian (secuil) dari keseluruhan sebuah kenyataan.

(9)       Kita hanya memahami sebagian (secuil) dari kekompleksan sebuah kenyataan.

(10)   Kita hanya memegang sebuah pengertian yang terbatas dari seluruh kenyataan.

(11)   Kita hanya ingin selalu melawan dan menentang apa yang berbeda dari kita.

(12)   Kita berjuang mati-matian mempertahankan pernyataan kita sebagai satu-satunya kebenaran.

(13)   Kita hanya ingin tampak pandai dengan perselisihan, bukan belajar.

(14)   Kita harus bertindak ini (menerima, mendengarkan, dan memahami apa yang dikatakan orang lain), jika kita ingin mengetahui lebih banyak.

Sankt Augustin, 151204

sarikata.com

 

3.  Menjawab Pertanyaan Bacaan

 

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut secara tepat tanpa harus melihat teks!

 

(1)      Cerita tentang Orang-orang Buta dan Seekor Gajah itu pada mulanya diceritakan oleh ….

  1. Sang raja diIndia
  2. Sang Budha
  3. pegawai Istana
  4. tersebar begitu saja dari mulut ke mulut

 

(2)      Cerita Orang-orang Buta dan Seekor Gajah itu pada mulanya diceritakan sebagai salah satu bentuk ….

  1. ajaran Sang Budha
  2. hiburan Raja
  3. humor
  4. lelucon dari mulut ke mulut

 

(3)      Tujuan utama Cerita Orang-orang Buta dan Seekor Gajah itu diciptakan adalah untuk menyadarkan kita agar ….

  1. tidak main hakim sendiri
  2. tidak saling berselisih mempersoalkan kebenaran ajarannya dan memandang ajaran lain salah
  3. tidak suka mempermainkan binatang yang dianggap suci.
  4. tidak mudah diadu domba oleh orang yang tidak bertanggung jawab

 

(4)      Pernyataan berikut manakah yang sesuai dengan teks tersebut?

  1. Ilmuwan meyakini bahwa kemayoritasan memainkan peranan, sehingga mayoritas cenderung sebagai sebuah kebenaran.
  2. Kelima orang buta itu membandingkan seekor gajah dengan gelondongan kayu, batang kayu yang bulat dan halus, panci besar, dan sebuah balon.
  3. Kita harus mengambil sebagian dari keseluruhan sebuah kenyataan.
  4. Mayoritas bukanlah sebuah kebenaran.

 

(5)      Kesalahan apakah yang dibuat oleh orang-orang buta?

  1. Soal kualitas dari penjelasannya yang tidak masuk akal.
  2. Mereka saling memaksakan kehendaknya, seolah jawabannyalah yang paling benar.
  3. Karena pada dasarnya, mereka sejak lahir tidak pernah melihat gajah.
  4. Karena orang-orang buta itu tak memiliki pengetahuan yang baik.

 

(6)      Simpulan yang paling tepat dari isi bacaan tersebut adalah ….

  1. tidak menganggap diri paling benar
  2. orang harus belajar dari kelebihan orang lain
  3. jika pengetahuan dibagi, pengetahuan tidak akan berkurang melainkan bertambah.
  4. mayoritas adalah kebenaran

 

(7)      Manakah dari pernyataan di bawah ini yang tidak termasuk penjelasan dari orang-orang buta mengenai gajah?

  1. Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengan gelondong kayu
  2. Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya dengan sebuah balon
  3. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya dengan sebatang kayu yang bulat dan halus
  4. Seorang buta yang telah meraba belalainya membandingkannya dengan sebuah tali.

 

(8)      Kejadian dalam cerita tersebut dapat diidentikkan dengan perilaku kita, kecuali ….

  1. hanya mengambil sebagian dari keseluruhan sebuah kenyataan
  2. hanya memahami sebagian dari kekompleksan sebuah kenyataan
  3. hanya memaegang sebuah pengertian yang terbatas dari seluruh kenyataan
  4. hanya ingin selalu dihargai dan menghargai orang lain

 

(9)      Penulis cerita yang berjudul “Orang-orang Buta dan Seekor Gajah” adalah….

  1. Sankt Augustin
  2. Gendhotwukir
  3. Walter Krahe
  4. S.G Goodrich

 

(10)  Manakah pesan berikut ini yang sesuai dengan cerita Orang-orang Buta dan Seekor Gajah tersebut?

  1. Barang siapa mau berusaha, pastilah ia akan mendapatkan jalan
  2. Setiap manusia harus mau saling bekerja sama
  3. Kemayoritasan merupakan suatu kebenaran
  4. Perbedaan pendapat selalu menyebabkan pertikaian.

 

Keterangan:

  • Kunci jawaban (tersedia pada lampiran): 1. B, 2. A, 3. B, 4. A, 5. B, 6. A, 7. C, 8. D, 9. A, 10. B
  • Skor per butir soal : 10
  • Skor Maksimal : 100

 

 

 

 

 

 

 

 

4.  Mengukur Kecepatan Membaca

 

Ukurlah kecepatan membacamu dengan rumus menghitung kecepatan membaca per menit untuk melihat apakah kecepatan membacamu bagus atau perlu peningkatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Rumus Menghitung Kecepatan Membaca

 

 

Keterangan:

K           =          jumlah kata yang dibaca

Wd        =          waktu tempuh baca (dalam detik)

B            =          skor yang diperoleh

Sm         =          skor maksimal

Kpm     =          kecepatan membaca per menit

 

Hasil:

Jika kecepatan membaca per menit (Kpm) >200 berarti kemampuan membaca cepatmu sudah bagus

Jika kecepatan membaca per menit (Kpm) <200 berarti kemampuan membaca cepatmu perlu ditingkatkan

 

 

Contoh perhitungan:

 

Diketahui

K           : 352 kata

Wd        : 65 detik

B            : 80

SM        : 100

 

Maka

Kpm     =          (K/Wd X 60) X (B/Sm)

(352/65 X 60) X (80/100)

(324, 92) X (80/100)

=       259,934

 

 

5.  Membuat Simpulan Isi Bacaan

 

Membuat simpulan isi bacaan berarti mengambil inti sari bacaan. Dalam sebuah paragraf eksposisi atau argumentasi, simpulan paragraf biasanya tercermin pada kalimat topik. Oleh sebab itu, simpulan berkaitan dengan ide pokok paragraf. Perhatikan contoh berikut!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Contoh

Suatu ketika, Budha menceritakan sebuah ceritera tentang orang-orang buta dan seekor gajah. Budha tak mengerti mengapa banyak ajaran waktu itu, contohnya ajaran keagamaan, saling mempersoalkan kebenaran dan masing-masing menyatakan hanya ajarannya sendiri yang paling benar, sementara ajaran agama lain salah. Setelah Budha wafat, ceritera ini tersebar tidak hanya diIndiasaja, tetapi juga di negara dan budaya lain, ceritera ini dikenal dan diceritakan. Sampai saat ini, cerita ini masih menjadi bacaan wajib dalam buku-buku pelajaran di sekolah.

 

Simpulan:

Cerita tentang orang-orang buta dan seekor gajah masih menjadi bacaan wajib dalam buku-buku pelajaran di sekolah.

 

Buatlah simpulan dari tiap paragraf berikut!

 

Suatu ketika, seorang raja diIndiautara memerintahkan pegawai-pegawainya untuk mengumpulkan orang-orang yang buta sejak lahir ke istanakotaraja. Sang raja juga memerintahkan pegawainya untuk membawa seekor gajah ke istana. Orang-orang buta ini sepanjang hidupnya belum pernah sama sekali mengerti apa itu gajah. Mereka tidak tahu seperti apakah gajah itu. Sekarang, sang raja memerintahkan mereka untuk menyentuhnya. Mereka hanya diperbolehkan menyentuh bagian-bagian tertentu saja, bukan gajah secara keseluruhan. Setelah beberapa waktu menunggu, mereka dipersilahkan mengatakan, bagaimana dan apa itu gajah.

 

Simpulan:

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

 

Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengan gelondong kayu. Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya dengan sebuah balon. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya dengan sebatang kayu yang bulat dan halus. Seorang buta yang telah meraba kepalanya membandingkannya dengan sebuah panci. Seorang buta yang telah meraba belalainya membandingkannya dengan selang air. Akhirnya seorang buta lain yang telah meraba bagian ekornya tidak mau ketinggalan. Ia membandingkan seekor gajah dengan tali tambang yang sudah rusak. Masing-masing dari mereka memiliki penjelasannya sendiri tentang seekor gajah.

 

Simpulan:

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

 

 

Kesalahan dari tiap-tiap orang buta tersebut bukan soal kualitas dari penjelasannya, melainkan keyakinan dan pernyataan tentang gajah secara keseluruhan dan menganggap penjelasannyalah yang paling benar. Tak seorang pun memiliki gagasan bahwa masing-masing hanya menjelaskan satu bagian saja. Seandainya mereka sadar bahwa mereka hanya menjelaskan satu bagian saja, sebenarnya mereka mampu mengerti kebenaran gajah secara keseluruhan.

 

Simpulan:

…………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………….

 

6.  Berlatih Meningkatkan Kecepatan Membaca

 

Kamu tentu sudah tahu manfaat membaca cepat. Sekarang, tingkatkan kemampuan membaca cepatmu dengan mencatat perkembangan dalam satu bulan.

 

Berikut adalah tips untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat.

 

(1)   Membiasakan banyak membaca

Biasakanlah membaca seperti makan. Jika sehari saja tidak makan, maka badan kita akan lemas. Begitu juga dengan membaca, jika sehari saja tidak membaca, kita akan merasa lapar. Banyaklah membaca segala jenis buku, namun mulailah dari jenis buku yang kamu suka, misalnya cerpen atau novel.

 

(2)   Membaca dengan teknik yang tepat

Hindari membaca dengan bersuara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(3)   Meningkatkan konsentrasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7.  Mencatat Perkembangan Kemampuan Membaca Cepat

 

Untuk mencatat perkembangan kemampuan membaca cepatmu, lakukanlah kegiatan berikut ini!

 

(1)   Catatlah judul buku apa saja yang telah kamu baca dalam satu minggu!

(2)   Catat juga nama pengarang masing-masing buku yang telah kamu baca!

(3)   Hitunglah berapa jam waktu yang kamu perlukan untuk menyelesaikan membaca buku-buku tersebut sampai selesai! Lakukan semua itu dengan suka cita, ikhlas, dan jujur.

 

 

Perubahan:

Perintah di atas diganti dengan perintah berikut.

 

Kamu pasti ingin mengetahui perkembangan kecepatan bacamu. Bagus! Jika demikian, kamu harus giat berlatih membaca. Setiap kali latihan, kamu harus mengukur kecepatannya dan merumuskan simpulan atau inti sari informasinya. Nah, lakukan kegiatan itu dengan suka cita, ikhlas, dan jujur dengan berpedoman pada permintaan berikut ini.

(1)   cari dan tentukan bacaan  yang menarik perhatianmu

(2)   hitung jumlah kata yang ada dalam bacaan itu (kira-kira 250 – 300 kata)

(3)   siapkan jam tangan atau stopwatch untuk mengukur waktu baca

(4)   bacalah bacaan itu secara intensif atau saksama, tanpa bersuara, dan jangan lupa mengukur waktu bacanya

(5)   buatlah simpulan bacaan atau rumusan inti sari informasinya tanpa membaca ulang atau tanpa melihat bacaan

(6)   hitunglah kecepatan bacamu dengan menggunakan rumus berikut.

 

 

Bagaimana hasilnya? Bagus, bukan? Selamat atas keberhasilanmu!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8.  Mengidentifikasi Kata Dasar dan Imbuhan

 

Coba kamu baca kembali kalimat berikut!

 

Suatu ketika, Budha menceritakan sebuah ceritera tentang orang-orang buta dan seekor gajah

 

Kalimat tersebut terdiri atas dua belas kata. Jika kamu amati dengan saksama, dari kedua belas kata tersebut terdapat tiga kata berimbuhan, yaitu: menceritakan, sebuah, dan seekor. Kata sebuah berasal dari kata dasar buah dan mendapatkan imbuhan berupa awalan, yaitu se-. Demikian juga dengan kata seekor, berasal dari kata dasar ekor dan awalan se-. Pada sisi lain kata menceritakan berasal dari kata ceritakan dan mendapat awalan meN-. Kata ceritakan berasal dari kata dasar cerita dan mendapatkan akhiran –kan.

 

Coba kamu bandingkan dengan kata keagamaan dalam kalimat berikut!

 

Budha tak mengerti mengapa banyak ajaran waktu itu, contohnya ajaran keagamaan, saling mempersoalkan kebenaran dan masing-masing menyatakan hanya ajarannya sendiri yang paling benar, sementara ajaran agama lain salah.

 

Kata keagamaan berasal dari kata agama dan mendapat konfiks (gabungan awalan dan akhiran yang mengapit kata dasar secara serentak dan membentuk satu kesatuan), yaitu ke-an. Kata keagamaan tidak beraal dari kata agamaan dan awalan ke-, karena tidak ada kata agamaan dalam bahasa Indonesia.

 

Nah, dari uraian tersebut dapat kamu temukan bahwa afiks atau imbuhan dalam bahasa Indonesia ada beberapa macam, yaitu:

 

(1)   awalan (prefiks) adalah imbuhan yang diletakkan di muka kata dasar

(2)   akhiran (sufiks) adalah imbuhan yang diletakkan di belakang kata dasar

(3)   konfiks adalah imbuhan yag mengapit kata dasar secara serentak dan membentuk satu kesatuan

(4)   sisipan (infiks) adalah imbuhan yang disisipkan di tengah kata dasar, misalnya kata kinerja berasal dari kata kerja dan mendapat sisipan –in-.

 

Identifikasilah kata-kata berimbuhan yang terdapat pada paragraf berikut!

 

Seorang buta yang telah meraba bagian kakinya membandingkan gajah dengan gelondong kayu. Seorang buta yang telah meraba perutnya membandingkannya dengan sebuah balon. Seorang buta yang telah meraba taringnya membandingkannya dengan sebatang kayu yang bulat dan halus. Seorang buta yang telah meraba kepalanya membandingkannya dengan sebuah panci. Seorang buta yang telah meraba belalainya membandingkannya dengan selang air. Akhirnya seorang buta lain yang telah meraba bagian ekornya tidak mau ketinggalan. Ia membandingkan seekor gajah dengan tali tambang yang sudah rusak.

 

C.  Menulis Pantun

 

Pantun adalah wujud konkret warisan budaya leluhur yang harus kita lestarikan. Coba kamu amati kegunaan pantun dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, di radio, di televisi, atau di media cetak! Coba kamu sebutkan beberapa lagu yang di dalamnya terdapat bait-bait pantun! Nah, ternyata acara di radio atau televisi juga menggunakan pantun sebagai sarana untuk memperindah atau menghangatkan suasana. Melihat begitu banyak kegunaan pantun dalam kehidupan kita, pada pembelajaran ini kamu akan belajar menulis pantun. Agar kamu dapat menulis pantun yang memenuhi syarat-syarat pantun, lakukanlah aktivitas berikut: (1) menemukan ciri-ciri pantun, (2) menemukan jenis-jenis pantun, (3) menyanyikan lagu berbentuk pantun, (4) melengkapi pantun yang rumpang dan pantun karmina (dua baris) (5) adu cepat berbalas pantun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 1.      Menemukan Ciri Pantun

 

Bacalah contoh pantun berikut!

 

Contoh pantun

 

(1)

Jual irri dengan kandil

Kandil buatan orang Inggris

Melihat buaya menyandang bedil

irrin kerbau tegak berbaris

 

(2)

Anak bakau di rumpun salak

Patah taruknya ditimpa genta

Riuh kerbau tergelak-gelak

Melihat beruk berkaca-mata

 

(3)

Pohon manggis pohon embacang

Ketiga dengan pohon lulita

Duduk menangis abang pincang

Katanya jalan tidak rata

 

(4)

Kalau ada sumur di irri

Bolehkah kita menumpang mandi

Kalau ada umurku panjang

Bolehlah kita bertemu lagi

 

Diskusikan dengan anggota kelompokmu irri-ciri pantun yang telah kamu baca (identifikasi) tersebut dengan berpedoman pada pertanyaan pemandu diskusi berikut ini! Jangan lupa diskusikan pula pesan moral dan nilai budi pekerti yang terkandung di dalam pantun di atas!

 

Tambahan:

Di samping itu, jangan lupa, kamu harus mematuhi tata cara dan sopan santun dalam berdiskusi, yaitu

(1)   dapat menahan emosi atau dapat bersabar

(2)   dapat menghargai pendapat orang lain

(3)   dapat bersikap dan berbahasa secara santun dalam menyampaikan pertanyaan, pendapat, atau tanggapan

(4)   dapat menyadari bahwa orang lain juga memiliki hak untuk berbicara

(5)   jangan memotong pembiaraan orang lain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No.

Aspek

Pertanyaan Pemandu diskusi

1

Bentuk:

  • Baris
  • Suku kata
  • Persajakan
  1. Berapa jumlah baris dalam satu bait?
  2. Berapa jumlah suku kata dalam tiap baris?
  3. Apakah yang dimaksud dengan persajakan?
  4. Bagaimana persajakan pada tiap-tiap bait pantun?

2

Isi Setiap bait pantun terdapat sampiran dan isi

  1. Apakah yang dimaksud dengan sampiran?
  2. Apakah yang dimaksud dengan isi?
  3. Terletak di baris ke berapakah sampiran pantun?
  4. Terletak di baris ke berapakah isi pantun?

 

Perubahan:

(Tabel di atas diganti dengan tabel yang lebih lengkap berikut ini.)

 

No.

Aspek

Pertanyaan Pemandu diskusi

1 Bentuk:

  • Baris
  • Suku kata
  • Bunyi akhir tiap baris (persajakan)
  1. Berapa jumlah baris dalam satu bait pada pantun yang sudah kamu amati?
  2. Berapa jumlah suku kata dalam tiap baris pada pantun yang sudah kamu amati?
  3. Apakah yang dimaksud dengan persajakan?
  4. Bagaimana persajakan pada tiap-tiap bait pantun yang kamu amati?

2

Isi:

  • Baris pertama dan kedua (sampiran)
  • Baris ketiga dan keempat (isi atau maksud)
Setiap bait pantun terdapat sampiran dan isi

  1. Apakah yang dimaksud dengan sampiran?
  2. Apakah yang dimaksud dengan isi?
  3. Terletak di baris keberapakah sampiran pantun?
  4. Terletak di baris keberapakah isi pantun?

3

Pesan moral dan nilai budi pekerti
  1. Pesan moral apa yang terkandung di dalam pantun (1) s.d. (4) di atas?
  2. Nilai budi pekerti apa yang terkandung di dalam pantun (1) s.d. (4) di atas?

 

  1. 3.      Menemukan Jenis-jenis Pantun

Pantun dapat dibedakan menjadi beberapa jenis menurut tujuannya. Pertama, pantun nasihat, yaitu pantun yang bertujuan memberi nasihat dan pesan moral. Kedua, pantun cinta atau remaja, yaitu pantun yang bertujuan untuk mengungkapkan perasaan terkait dengan masalah cinta. Ketiga, pantun jenaka, yaitu pantun yang hanya bertujuan untuk menghibur atau berkelakar.

Klasifikasikanlah pantun-pantun berikut sesuai dengan jenisnya, kemudian berilah alasan!

 

Pantun 1

Pulau pandan jauh ke tengah

Gunung Daik bercabang tiga

Hancur badan dikandung tanah

Budi yang baik dikenang juga

 

Pantun 2

Pohon manggis di tepi rawa

Tempat kakek 1 tidur beradu

Sedang menangis nenek tertawa

Melihat kakek bermain gundu

 

 

Pantun 3

Dari mana datangnya lintah

Dari sawah turun ke kali

Dari mana datangnya cinta

Dari mata turun ke kali

 

Pantun 4

Tanam jerangau di bukit tinggi

Mati dipijak anak badak

Melihat sang bangau sakit gigi

Gelak terbahak penghulu katak

 

Pantun 5

Anak bakau di rumpun salak

patah taruknya6 ditimpa genta

Riuh kerbau tergelak-gelak

Melihat beruk berkaca mata

 

Format panduan diskusi

 

No.

No. Pantun

Jenis Pantun

Alasan

1 Pantun 1    
2 Pantun 2    
3 Pantun 3    
4 Pantun 4    
5 Pantun 5    

 

 

  1. 7.      Menyanyikan Lagu Berbentuk Pantun

 

Nyanyikan lagu di bawah ini secara bersama-sama!

 

CINDAI

Penyanyi: Siti Nurhaliza

 

Cindailah mana tidak berkias

Jalinnya lalu rentah beribu

Bagailah mana hendak berhias

Cerminku retak seribu

 

Mendendam unggas liar di hutan

Jalan yang tinggal jangan berliku

Tilamku emas cadarnya intan

Berbantal lengan tidurku

 

Hias cempaka kenanga tepian

Mekarnya kuntum nak idam kumbang

Puas kujaga si bunga impian

Gugurnya sebelum berkembang

 

Hendaklah hendak hendak kurasa

Puncaknya gunung hendak ditawan

Tidaklah tidak tidak kudaya

Tingginya tidak terlawan

 

Janganlah jangan jangan kuhiba

Derita hati jangan dikenang

Bukanlah bukan bukan kupinta

Merajuk bukan berpanjangan

 

Akar beringin tidak berbatas

Cuma bersilang paut di tepi

Bidukku lilin layarnya kertas

Seberang laut berapi

 

Gurindam lagu bergema takbir

Tiung bernyanyi pohonan jati

Bertanam tebu di pinggir bibir

Rebung berduri di hati

 

Laman memutih pawana menerpa

Langit membiru awan bertali

Bukan dirintih pada siapa

Menunggu sinarkan kembali

 

Setelah kamu menyanyikan lagu tersebut, coba kelompokkan mana yang termasuk sampiran dan mana yang termasuk isi. Kemudian, carilah maksud atau arti isi pantun tersebut!

 

Panduan diskusi

 

Bait

Sampiran

Isi

Maksud Isi

1

Cindailah mana tidak berkias/

Jalinnya lalu rentah beribu

Bagailah mana hendak berhias/

Cerminku retak seribu

Bagaimana mau bercermin, kalau cermin kita pecah berkeping-keping.

Dst.

Dst.

Dst.

Dst.

 

 

  1. 4.      Melengkapi Pantun

 

Lengkapilah rumpang pada pantun berikut!

 

Dari Yogya pergi ke Malang

Naik bus melewati Batu

………………………………

………………………………

 

Beli obat di warung Pak Syukri

Pulangnya singgah ke pasar kembang

…………………………………………….

…………………………………………….

 

Bang Sakur pergi ke Cibubur

Menengok kerabat yang sedang sakit

………………………………………….

…………………………………………….

 

Bang Jaja kepalanya botak

Bang Sueb rambutnya pirang

………………………………………….

…………………………………………….

 

4.  Adu Cepat Menulis Pantun

(1)   Bentuklah kelompok yang terdiri atas 4  s.d. 5 siswa!

(2)   Dalam waktulimamenit, buatlah paling sedikit dua bait pantun! Perhatikan syarat-syarat yang telah kalian pelajari di atas!

(3)   Tempelkan hasil terbaik kalian di majalah dinding!

 

 

5.  Menilai Pantun yang Telah Ditulis

 

Nilailah pantun yang ditulis oleh kelompok lain dengan menggunakan kriteria penilaian berikut ini! Lakukan dengan cermat dan jujur!

 

No.

Aspek yang Diamati dan Bobot

Skor

1 Kesesuaian dengan syarat pantun dari segi bentuk (Tiap bait terdiri atas 4 baris, tiap baris terdiri atas 8 s.d. 12 suku kata, persajakan abab)

Alternatif penilaian:

  • sesuai dengan semua syarat pantun (dengan bobot 5)
  • hanya sesuai dengan 2 syarat pantun  (dengan bobot 3)
  • tidak sesuai dengan semua syarat pantun  (dengan bobot 1)
 

2

Kesesuaian dengan syarat pantun dari segi isi (baris 1 dan 2

adalah sampiran dan baris 3 dan 4 adalah isi)

Alternatif penilaian:

  • sesuai dengan semua syarat pantun (dengan bobot 5)
  • hanya sesuai dengan 1 syarat pantun  (dengan bobot 3)
  • tidak sesuai dengan semua syarat pantun  (dengan bobot 1)
 

3

Kemenarikan isi pantun

Alternatif penilaian:

  • isi bermakna dan bervariasi (dengan bobot 5)
  • isi bermakna namun kurang bervariasi (dengan bobot 3)
  • isi tidak bermakna dan tidak bervariasai  (dengan bobot 1)
 

4

Ketepatan penulisan ejaan dan tanda baca

  • tidak ada kesalahan penulisan ejaan dan tanda baca (dengan bobot 5)
  • ada 2 atau 3 kesalahan penulisan ejaan dan tanda baca  (dengan bobot 3)
  • lebih dari 3 kesalahan penulisan ejaan dan tanda baca  (dengan bobot 1)
 

5

Pesan moral dan nilai budi pekerti

  • mengandung pesan moral dan nilai budi pekerti (dengan bobot 5)
  • tidak mengandung pesan moral dan nilai budi pekerti (dengan bobot 1)
 

SKOR MAKSIMAL

25

SKOR PEROLEHAN

 

 

 

D.  Rangkuman

 

Pada unit kegiatan di atas, kamu telah belajar menceritakan pengalaman yang paling mengesankan. Dari pembelajaran ini kamu telah belajar bercerita dengan memperhatikan intonasi, dan ekpresi. Kamu juga telah belajar membaca cepat dan menarik simpulan dari teks yang kamu baca. Mengidentifikasi kata dasar dan kata berimbuhan juga telah kamu lakukan dalam pembelajaran ini. Pembelajaran diakhiri dengan kegiatan bersastra, yaitu menulis pantun. Kamu telah belajar mengenali ciri pantun, jenis-jenis pantun, melengkapi pantun yang rumpang, dan menulis pantun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. E.     Evaluasi

 

  1. 1.      Pilihlah satu jawaban yang tepat dengan memberi tanda silang (X) pada huruf a, b, c, atau d!

 

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Dari pengalamanlah kita bisa belajar banyak hal. Kita bisa belajar bagaimana mengatasi masalah yang rumit, yang sulit dipecahkan. Dari pengalaman juga kita belajar bersosialisasi menghadapi segala macam persoalan yang sangat kompleks. Seringkali tanpa sengaja kita dapat bertindak arif dan bijak, padahal semua itu sebenarnya buah dari pengalaman yang mungkin tidak kita sadari.

 

(1)          Ide pokok aragraph tersebut di atas adalah …

  1. Pengalaman adalah guru yang terbaik.
  2. Kita ara belajar dari pengalaman.
  3. Kita bisa bertindak arif dari pengalaman.
  4. Dari pengalaman kita bisa belajar banyak.

 

Kumur-kumur dengan air putih dapat membantu mencegah pilek. Menurut para ahli, kumur dengan air putih biasa bisa mencegah pilek sampai 30%. Para periset membagi sekitar 400 orang ke dalam 3 grup. Masing-masing berkumur dengan antiseptic, air biasa, dan tidak kumur sama sekali. Hasilnya, grup yang kumur dengan air putih 36% lebih rendah terkena infeksi. Kumur-kumur menurunkan risiko karena membilas virus keluar dari mulut. Selain itu, menjaga jaringan tetap basah menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi pathogen.

 

(2)          Ide pokok aragraph tersebut di atas adalah …

  1. Kumur dengan air putih menurunkan risiko terkena penyakit.
  2. Kumur-kumur dengan air putih mencegah pilek.
  3. Kumur-kumur dapat membilas virus keluar dari mulut.
  4. Kumur-kumur berguna untuk menjaga jaringan agar tetap basah.

 

Kadang kita diserang rasa lapar pada malam hari yang membuat kita ingin ngemil. Untuk mengatasinya, coba minum air putih dengan disesap secara perlahan ketimbang dalam regukan besar pada saat makan. Minum terlalu banyak secara sekaligus mengencerkan cairan pencerna yang dikeluarkan di dalam mulut. Mengakibatkan makanan sulit dipecah secara tepat sehingga nutrient yang mengenyangkan banyak yang dikeluarkan ketimbang diabsorp. Minum dengan disesap mengoptimalkan pencernaan, membuat perut dapat memproses makanan secara baik dan mengirimkan sinyal kenyang ke otak. Hasilnya, Anda akan merasa kenyang sampai pagi hari. (Dikutip dari Majalah Aura Edisi Minggu ke-1 Tanggal 7-13 Februari 2005)

 

(3)       Simpulan paragraf tersebut di atas adalah …

  1. Mengurangi ngemil dengan cara minum air putih dengan cara disesap secara perlahan.
  2. Kiat minum agar makanan dapat diproses dengan baik.
  3. Kiat mengoptimalkan pencernaan dengan cara minum air putih dengan disesap.
  4. Kiat agar tetap kenyang sepanjang hari.

 

Akhirnya ia memperoleh hasil sebagai berikut: 40% membandingkannya dengan gelondongan kayu, 20% dengan batang kayu yang bulat dan halus, dan masing-masing 10% dari mereka yang membandingkannya dengan panci besar, sebuah balon, selang air dan tali tambang yang rusak. Sangat logis bukan? Seekor gajah memiliki 4 kaki besar seperti gelondong kayu ( 40%) dan 2 taring ( 20%), Sedangkan untuk kepala, belalai, perut dan ekor hanya 1 ( 10%). Sebagaimana para ilmuwan meyakini bahwa kemayoritasan memainkan peranan, cenderung yakin bahwa mayoritas adalah kebenaran, maka ia menyatakan bahwa seekor gajah itu seperti gelondongan kayu karena hampir setengah menyatakannya. Jadi di dalam kasus ini, mayoritas tidak otomatis sebuah kebenaran.

 

(4)       Tujuan utama paragraf tersebut di atas adalah …

  1. Memberikan informasi yang tidak lazim
  2. Memberikan informasi yang aneh.
  3. Membuktikan bahwa pendapat mayoritas tidak secara otomatis sebuah kebenaran.
  4. Menyatakan pendapat yang sama dengan pendapat umum.

 

(5)       Simpulan aragraph tersebut di atas adalah …

  1. Pendapat mayoritas tidak otomatis sebuah kebenaran.
  2. Pendapat mayoritas otomatis sebuah kebenaran.
  3. Kemayoritasan adalah sebuah kebenaran.
  4. Mayoritas memegang peranan penting.

 

 

Makanan Pembunuh

 

Maksud judul itu bukanlah ………….yang ……………oleh pembunuh, melainkan makanan yang dapat membunuh manusia yang ……………..

 

(6)       Kata berimbuhan yang tepat untuk melengkapi kalimat yang rumpang tersebut adalah …

  1. makan, memakan, dimakan.
  2. makanan, dimakan, memakan.
  3. makanan, memakan, memakannya.
  4. makanan, dimakan, memakannya.

(7)       Penulisan kata berimbuhan asing yang bergaris bawah berikut telah benar, kecuali

  1. Warga desa membangun gedung pertemuan secara swadaya.
  2. Bulan depan, mereka akan mengikuti lomba voli antarprovinsi.
  3. Paratunawisma di bawah jembatan Semanggi akan ditertibkan.
  4. Mereka tidak menyukai kegiatan yang bersifat nonteknis.

(8)       Kalimat yang menggunakan tanda koma secara tepat adalah ….

  1. Untuk mengurangi kebiasaan ngemil coba minum air putih, dengan disesap secara perlahan.
  2. Untuk mengurangi kebiasaan ngemil, coba minum air putih, dengan disesap secara perlahan.
  3. Untuk mengurangi kebiasaan ngemil, coba minum air putih dengan disesap secara perlahan.
  4. Untuk mengurangi kebiasaan ngemil, coba minum air putih dengan disesap, secara perlahan.

 

  1. 2.      Uji Praktik
    1. Ceritakanlah pengalamanmu yang paling berkesan secara singkat (tiga menit), dan dengan ekspresi dan intonasi yang sesuai serta bahasa yang efektif!
    2. Tulislah dua bait pantun karyamu sendiri!

 

 

  1. 3.      Penilaian Pengembangan Nilai Karakter

 

Untuk mengukur ketercapaian pengembangan nilai karakter peserta didik digunakan pedoman observasi, lembar penilaian diri (evaluasi diri), dan lembar penilaian antarteman. Pada unit pelajaran ini, pengembangan nilai karakter difokuskan pada pengembangan nilai kepedulian.

 

  1. a.      Pedoman observasi

 

Nama Siswa : …………………………………………

Kelas             : …………………………………………

 

Aspek Penilaian dan Indikator Pencapaian

Skor

(1 s.d. 4)

Aspek Penilaian:

Kepedulian terhadap diri sendiri

Indikator Pencapaian:

bersikap sopan dan berbahasa dengan santun

   
Aspek Penilaian:

Kepedulian terhadap teman atau orang lain

Indikator Pencapaian:

menghargai pendapat dan hak orang lain

   
Aspek Penilaian:

Kepedulian terhadap lingkungan sekitar

Indikator Pencapaian:

dapat menjaga kebersihan dan ketenangan lingkungan sekitar

   

Total Skor Maksimal

12

 

Jumlah Perolehan Skor

   

 

 

Keterangan:

 

Skor terendah 1 dan skor tertinggi 4 dengan keterangan sebagai berikut.

Skor 1   =  kurang tampak, yaitu apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator

Skor 2   =  sudah tampak, yaitu apabila peserta didik sudah memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator, tetapi belum konsisten

Skor 3   =  berkembang, yaitu apabila peserta didik sudah memperlihatkan tandatanda perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator, tetapi kurang konsisten

Skor 4   =  membudaya, yaitu apabila peserta didik terus-menerus (selalu) memperlihatkan perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten

 

 

Penilaian:

 

Nilai = jumlah skor x 100 = ………..

skor maks (12)

 

 

  1. b.         Lembar evaluasi diri

 

Nama Siswa : …………………………………………

Kelas             : …………………………………………

 

Tentukan skor (1 s.d. 4) pada setiap aspek penilaian diri sendiri berikut ini. Lakukan secara jujur dan objektif sebagai rasa tanggung jawab Anda kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Aspek Penilaian dan Indikator Pencapaian

Skor

(1 s.d. 4)

Aspek Penilaian:

Kepedulian terhadap diri sendiri

Indikator Pencapaian:

bersikap sopan dan berbahasa dengan santun

   
Aspek Penilaian:

Kepedulian terhadap teman atau orang lain

Indikator Pencapaian:

menghargai pendapat dan hak orang lain

   
Aspek Penilaian:

Kepedulian terhadap lingkungan sekitar

Indikator Pencapaian:

dapat menjaga kebersihan dan ketenangan lingkungan sekitar

   

Total Skor Maksimal

12

 

Jumlah Perolehan Skor

   

 

 

 

 

Keterangan:

 

Skor terendah 1 dan skor tertinggi 4 dengan keterangan sebagai berikut.

Skor 1   =  kurang tampak, yaitu apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator

Skor 2   =  sudah tampak, yaitu apabila peserta didik sudah memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator, tetapi belum konsisten

Skor 3   =  berkembang, yaitu apabila peserta didik sudah memperlihatkan tandatanda perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator, tetapi kurang konsisten

Skor 4   =  membudaya, yaitu apabila peserta didik terus-menerus (selalu) memperlihatkan perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten

 

 

Penilaian:

 

Nilai = jumlah skor x 100 = ………..

skor maks (12)

 

 

  1. c.       Lembar penilaian antarteman

 

Nama Siswa yang Dinilai           : …………………………………………

Kelas                                              : …………………………………………

Nama Siswa yang Menilai          : …………………………………………

Kelas                                              : …………………………………………

 

Tentukan skor (1 s.d. 4) pada setiap aspek penilaian antarteman berikut ini. Lakukan secara jujur dan objektif sebagai rasa tanggung jawab Anda kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

 

Aspek Penilaian dan Indikator Pencapaian

Skor

(1 s.d. 4)

Aspek Penilaian:

Kepedulian terhadap diri sendiri

Indikator Pencapaian:

bersikap sopan dan berbahasa dengan santun

   
Aspek Penilaian:

Kepedulian terhadap teman atau orang lain

Indikator Pencapaian:

menghargai pendapat dan hak orang lain

   
Aspek Penilaian:

Kepedulian terhadap lingkungan sekitar

Indikator Pencapaian:

dapat menjaga kebersihan dan ketenangan lingkungan sekitar

   

Total Skor Maksimal

12

 

Jumlah Perolehan Skor

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

 

Skor terendah 1 dan skor tertinggi 4 dengan keterangan sebagai berikut.

Skor 1   =  kurang tampak, yaitu apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator

Skor 2   =  sudah tampak, yaitu apabila peserta didik sudah memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator, tetapi belum konsisten

Skor 3   =  berkembang, yaitu apabila peserta didik sudah memperlihatkan tandatanda perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator, tetapi kurang konsisten

Skor 4   =  membudaya, yaitu apabila peserta didik terus-menerus (selalu) memperlihatkan perilaku atau karakter yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten

 

Penilaian:

 

Nilai = jumlah skor x 100 = ………..

skor maks (12)

 

 

F.  Refleksi

 

Setelah kamu berdiskusi, berlatih, dan melaksanakan semua kegiatan dalam pembelajaran ini, cobalah kamu renungkan kembali apa yang telah kamu kuasai dan belum kamu kuasai. Ungkapkan pula kesanmu terhadap pembelajaran yang telah kamu laksanakan. Untuk itu, berikanlah tanda centang (√) pada panduan berikut ini dengan jujur dan objektif atau apa adanya!

 

No.

Pertanyaan Pemandu

Ya

Tidak

1

Saya dapat bercerita dengan ekspresi, intonasi yang sesuai dan menggunakan kalimat efektif    

2

Saya memahami perbedaan kata dasar dan kata berimbuhan    

3

Saya dapat menghitung kecepatan membaca saya    

4

Saya dapat menjawab pertanyaan dari isi bacaan yang saya baca    

5

Saya dapat menyimpulkan isi teks yang saya baca    

6

Saya bangga dapat menulis pantun yang memenuhi syarat-syarat pantun    

7

Saya dapat menilai pantun yang ditulis teman dan saya tulis sendiri    

8

 Menurut saya, latihan-latihan dalam bab ini mudah diikuti dan membuat saya senang belajar bahasaIndonesia    

Sumber: Materi Pelatihan Pendikan SMP 2011

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

  1. A.    Contoh Hasil Pengembangan Silabus

 

  1. B.     Contoh Hasil Penyusunan RPP

 

 

 


Download:

Panduan Guru Karakter BING sa- Shahid sala -3-

RPP BING Berbicara VII 2

RPP BING Mendengarkan VII 2

RPP BING Menulis VII 1

RPP Reading Writing.VII.2

Silabus Karakter Final

Panduan Guru Bahasa Inggris Pendidikan Karakter Terintegrasi dalam Pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama 

BAGIAN I: PANDUAN UMUM

 A.             Latar Belakang

Pasal 3 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Sehubungan dengan hal tersebut, salah satu program utama Kementerian Pendidikan Nasional dalam rangka meningkatkan mutu proses dan output pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah pengembangan pendidikan karakter.

Sebenarnya pendidikan karakter bukan hal yang baru dalam sistem pendidikan nasional Indonesia. Pada saat ini, setidak-tidaknya sudah ada dua mata pelajaran yang diberikan untuk membina akhlak dan budi pekerti peserta didik, yaitu Pendidikan Agama dan PKn. Namun demikian, pembinaan watak melalui kedua mata pelajaran tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan karena beberapa hal. Pertama, kedua mata pelajaran tersebut cenderung baru membekali pengetahuan mengenai nilai-nilai melalui materi/substansi mata pelajaran. Kedua, kegiatan pembelajaran pada kedua mata pelajaran tersebut pada umumnya  belum secara memadai mendorong terinternalisasinya nilai-nilai oleh masing-masing siswa sehingga siswa berperilaku dengan karakter yang tangguh. Ketiga, menggantungkan pembentukan watak siswa melalui kedua mata pelajaran itu saja tidak cukup. Pengembangan karakter peserta didik perlu melibatkan lebih banyak lagi mata pelajaran, bahkan semua mata pelajaran. Selain itu, kegiatan pembinaan kesiswaan dan pengelolaan sekolah dari hari ke hari perlu juga dirancang dan dilaksanakan untuk mendukung pendidikan karakter.

Merespons sejumlah kelemahan dalam pelaksanaan pendidikan akhlak dan budi pekerti yang telah diupayakan inovasi pendidikan karakter. Inovasi tersebut adalah:

1)         Pendidikan karakter dilakukan secara terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran. Integrasi yang dimaksud meliputi pemuatan nilai-nilai ke dalam substansi pada semua mata pelajaran dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang memfasilitasi dipraktikkannya nilai-nilai dalam setiap aktivitas pembelajaran di dalam dan di luar kelas untuk semua mata pelajaran.

2)         Pendidikan karakter juga diintegrasikan ke dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan kesiswaan.

3)         Selain itu, pendidikan karakter dilaksanakan melalui kegiatan pengelolaan semua urusan di sekolah yang melibatkan semua warga sekolah.

Pelaksanaan pendidikan karakter secara terpadu di dalam semua mata pelajaran (sebagaimana dimaksud oleh butir 1 di atas) merupakan hal yang baru bagi sebagian besar SMP di Indonesia. Oleh karena itu, dalam rangka membina pelaksanaan pendidikan karakter secara terpadu di dalam seluruh mata pelajaran, perlu disusun panduan pelaksanaan pendidikan karakter yang terintegrasi ke dalam pembelajaran di SMP, terutama ketika guru menggunakan Buku Sekolah Elektronik (BSE).

 

  1. B.              Pengertian Pendidikan Karakter Terintegrasi di dalam Pembelajaran

 

Yang dimaksud dengan pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang ditargetkan, juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai dan menjadikannya perilaku.

 

  1. C.             Strategi Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran

 

Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran.

  1. Perencanaan integrasi pendidikan karakter dalam pembelajaran

Pada tahap perencanaan dilakukan analisis SK/KD, pengembangan silabus, penyusunan RPP, dan penyiapan bahan ajar.

Analisis SK/KD dilakukan untuk mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang secara substansi dapat diintegrasikan pada SK/KD yang bersangkutan. Perlu dicatat bahwa identifikasi nilai-nilai karakter ini tidak dimaksudkan untuk membatasi nilai-nilai yang dapat dikembangkan pada pembelajaran SK/KD yang bersangkutan.

Pengembangan silabus dapat dilakukan dengan merevisi silabus yang telah dikembangkan dengan menambah komponen (kolom) karakter tepat di sebelah kanan komponen (kolom) Kompetensi Dasar. Pada kolom tersebut diisi nilai(-nilai) karakter yang hendak diintegrasikan dalam pembelajaran. Nilai-nilai yang diisikan tidak hanya terbatas pada nilai-nilai yang telah ditentukan melalui analisis SK/KD, tetapi dapat ditambah dengan nilai-nilai lainnya yang dapat dikembangkan melalui kegiatan pembelajaran (bukan lewat substansi pembelajaran). Setelah itu, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian, dan/atau teknik penilaian, diadaptasi atau dirumuskan ulang menyesuaikan karakter yang hendak dikembangkan.

Sebagaimana langkah-langkah pengembangan silabus, penyusunan RPP dalam rangka pendidikan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran dilakukan dengan cara merevisi RPP yang telah ada. Pertama-tama rumusan tujuan pembelajaran direvisi/diadaptasi. Revisi/adaptasi tujuan pembelajaran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) rumusan tujuan pembelajaran yang telah ada direvisi hingga satu atau lebih tujuan pembelajaran tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif dan psikomotorik, tetapi juga karakter, dan (2) ditambah tujuan pembelajaran yang khusus dirumuskan untuk karakter.

Ke dua, pendekatan/metode pembelajaran diubah (bila diperlukan) agar pendekatan/metode yang dipilih selain memfasilitasi peserta didik mencapai pengetahuan dan keterampilan yang ditargetkan, juga mengembangkan karakter. Ketiga, langkah-langkah pembelajaran direvisi. Kegiatan-kegiatan pembelajaran dalam setiap langkah/tahap pembelajaran (pendahuluan, inti, dan penutup), direvisi dan/atau ditambah agar sebagian atau seluruh kegiatan pembelajaran pada setiap tahapan memfasilitasi peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang ditargetkan dan mengembangkan karakter. Prinsip-prinsip pendekatan pembelajaran kontekstual dan pembelajaran aktif yang selama ini digalakkan aplikasinya oleh Direktorat PSMP sangat efektif mengembangkan karakter peserta didik.

Ke tiga, bagian penilaian direvisi. Revisi dilakukan dengan cara mengubah dan/atau menambah teknik-teknik penilaian yang telah dirumuskan. Teknik-teknik penilaian dipilih sehingga secara keseluruhan teknik-teknik tersebut mengukur pencapaian peserta didik dalam kompetensi dan karakter. Di antara teknik-teknik penilaian yang dapat dipakai untuk mengetahui perkembangan karakter adalah observasi, penilaian antar teman, dan penilaian diri sendiri. Nilai dinyatakan secara kualitatif, misalnya:

  • BT: Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator).
  • MT: Mulai Terlihat (apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten).
  • MB: Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten).
  • MK: Membudaya (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku/karakter yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten).

Ke empat, bahan ajar disiapkan. Bahan/buku ajar merupakan komponen pembelajaran yang paling berpengaruh terhadap apa yang sesungguhnya terjadi pada proses pembelajaran. Banyak guru yang mengajar dengan semata-mata mengikuti urutan penyajian dan kegiatan-kegiatan pembelajaran (task) yang telah dirancang oleh penulis buku ajar, tanpa melakukan adaptasi yang berarti.

Melalui program Buku Sekolah Elektronik atau buku murah, dewasa ini pemerintah telah membeli hak cipta sejumlah buku ajar dari hampir semua mata pelajaran yang telah memenuhi kelayakan pemakaian berdasarkan penilaian BSNP dari para penulis/penerbit. Guru wajib menggunakan buku-buku tersebut dalam proses pembelajaran.

Walaupun buku-buku tersebut telah memenuhi sejumlah kriteria kelayakan – yaitu kelayakan isi, penyajian, bahasa, dan grafika – bahan-bahan ajar tersebut masih belum secara memadai mengintegrasikan pendidikan karakter di dalamnya. Apabila guru sekedar mengikuti atau melaksanakan pembelajaran dengan berpatokan pada kegiatan-kegiatan pembelajaran pada buku-buku tersebut, pendidikan karakter secara memadai belum berjalan. Oleh karena itu, sejalan dengan apa yang telah dirancang pada silabus dan RPP yang berwawasan pendidikan karakter, bahan ajar perlu diadaptasi. Adaptasi yang paling mungkin dilaksanakan oleh guru adalah dengan cara menambah kegiatan pembelajaran yang sekaligus dapat mengembangkan karakter. Cara lainnya adalah dengan mengadaptasi atau mengubah kegiatan belajar pada buku ajar yang dipakai. Selain itu, adaptasi dapat dilakukan dengan merevisi substansi pembelajarannya.

Sebuah kegiatan belajar (task), baik secara eksplisit atau implisit terbentuk atas enam komponen. Komponen-komponen yang dimaksud adalah:

1)      Tujuan

2)      Input

3)      Aktivitas

4)      Pengaturan (Setting)

5)      Peran guru

6)      Peran peserta didik

Dengan demikian, perubahan/adaptasi kegiatan belajar yang dimaksud menyangkut perubahan pada komponen-komponen tersebut.

Secara umum, kegiatan belajar yang potensial dapat mengembangkan karakter peserta didik memenuhi prinsip-prinsip atau kriteria berikut.

  1. Tujuan

Dalam hal tujuan, kegiatan belajar yang menanamkan nilai adalah apabila tujuan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga sikap. Oleh karenanya, guru perlu menambah orientasi tujuan setiap atau sejumlah kegiatan belajar dengan pencapaian sikap atau nilai tertentu, misalnya kejujuran, rasa percaya diri, kerja keras, saling menghargai, dan sebagainya.

  1. Input

Input dapat didefinisikan sebagai bahan/rujukan sebagai titik tolak dilaksanakannya aktivitas belajar oleh peserta didik. Input tersebut dapat berupa teks lisan maupun tertulis, grafik, diagram, gambar, model, charta, benda sesungguhnya, film, dan sebagainya. Input yang dapat memperkenalkan nilai-nilai adalah yang tidak hanya menyajikan materi/pengetahuan, tetapi yang juga menguraikan nilai-nilai yang terkait dengan materi/pengetahuan tersebut.

  1. Aktivitas

Aktivitas belajar adalah apa yang dilakukan oleh peserta didik (bersama dan/atau tanpa guru) dengan input belajar untuk mencapai tujuan belajar. Aktivitas belajar yang dapat membantu peserta didik menginternalisasi nilai-nilai adalah aktivitas-aktivitas belajar aktif yang antara lain mendorong terjadinya autonomous learning dan bersifat learner-centered. Pembelajaran yang memfasilitasi autonomous learning dan berpusat pada siswa secara otomatis akan membantu siswa memperoleh banyak nilai. Contoh-contoh aktivitas belajar yang memiliki sifat-sifat demikian antara lain diskusi, eksperimen, pengamatan/observasi, debat, presentasi oleh siswa, dan mengerjakan proyek.

  1. Pengaturan (Setting)

Pengaturan (setting) pembelajaran berkaitan dengan kapan dan di mana kegiatan dilaksanakan, berapa lama, apakah secara individu, berpasangan, atau dalam kelompok. Masing-masing setting berimplikasi terhadap nilai-nilai yang terdidik. Setting waktu penyelesaian tugas yang pendek (sedikit), misalnya akan menjadikan peserta didik terbiasa kerja dengan cepat sehingga menghargai waktu dengan baik. Sementara itu kerja kelompok dapat menjadikan siswa memperoleh kemampuan bekerjasama, saling menghargai, dan lain-lain.

  1. Peran guru

Peran guru dalam kegiatan belajar pada buku ajar biasanya tidak dinyatakan secara eksplisit. Pernyataan eksplisit peran guru pada umumnya ditulis pada buku petunjuk guru. Karena cenderung dinyatakan secara implisit, guru perlu melakukan inferensi terhadap peran guru pada kebanyakan kegiatan pembelajaran apabila buku guru tidak tersedia.

Peran guru yang memfasilitasi diinternalisasinya nilai-nilai oleh siswa antara lain guru sebagai fasilitator, motivator, partisipan, dan pemberi umpan balik. Mengutip ajaran Ki Hajar Dewantara, guru yang dengan efektif dan efisien mengembangkan karakter siswa adalah mereka yang ing ngarsa sung tuladha (di depan guru berperan sebagai teladan/memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah-tengah peserta didik guru membangun prakarsa dan bekerja sama dengan mereka), tut wuri handayani (di belakang guru memberi daya semangat dan dorongan bagi peserta didik).

  1. Peran peserta didik

Seperti halnya dengan peran guru dalam kegiatan belajar pada buku ajar, peran siswa biasanya tidak dinyatakan secara eksplisit juga. Pernyataan eksplisit peran siswa pada umumnya ditulis pada buku petunjuk guru. Karena cenderung dinyatakan secara implisit, guru perlu melakukan inferensi terhadap peran siswa pada kebanyakan kegiatan pembelajaran.

Agar peserta didik terfasilitasi dalam mengenal, menjadi peduli, dan menginternalisasi karakter, peserta didik harus diberi peran aktif dalam pembelajaran. Peran-peran tersebut antara lain sebagai partisipan diskusi, pelaku eksperimen, penyaji hasil-hasil diskusi dan eksperimen, pelaksana proyek, dsb.

  1. Pelaksanaan pembelajaran

Kegiatan pembelajaran dari tahapan kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup, dipilih dan dilaksanakan agar peserta didik mempraktikkan nilai-nilai karakter yang ditargetkan. Sebagaimana disebutkan di depan, prinsip-prinsip Contextual Teaching and Learning disarankan diaplikasikan pada semua tahapan pembelajaran karena prinsip-prinsip pembelajaran tersebut sekaligus dapat memfasilitasi terinternalisasinya nilai-nilai. Selain itu, perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik. Diagram 1.1. berikut menggambarkan penanaman karakter melalui pelaksanaan pembelajaran.

Diagram 1.1: Penanaman Karakter melalui Pelaksanaan Pembelajaran

  1. D.             Nilai-nilai Karakter untuk SMP

 

Ada banyak nilai (80 butir) yang dapat dikembangkan pada peserta didik. Menanamkan semua butir nilai tersebut merupakan tugas yang sangat berat. Oleh karena itu perlu dipilih nilai-nilai tertentu sebagai nilai utama yang penanamannya diprioritaskan. Untuk tingkat SMP, nilai-nilai utama tersebut disarikan dari butir-butir SKL, yaitu:

  1. Kereligiusan

Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya.

  1. Kejujuran

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain.

  1. Kecerdasan

Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika  untuk  menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari  apa yang telah dimiliki.

  1. Ketangguhan

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan  guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.

  1. Kedemokratisan

Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama  hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

  1. Kepedulian

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah dan memperbaiki penyimpangan dan kerusakan (manusia, alam, dan tatanan) di sekitar dirinya.

  1. Bertanggung jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan YME.

  1. Bergaya hidup sehat

Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan.

  1. Kedisiplinan

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

  1. Kerja keras

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan  guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.

  1. Percaya diri

Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya.

  1. Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif

Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika  untuk  menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari  apa yang telah dimiliki.

  1. Kemandirian

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

  1. Keingintahuan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

  1. Cinta ilmu

Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap pengetahuan.

  1. Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain

Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.

  1. Patuh pada aturan-aturan sosial

Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan  kepentingan umum.

  1. Menghargai  karya dan prestasi orang lain

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.

  1. Kesantunan

Sifat yang halus dan baik  dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.

  1. Nasionalisme

Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.

  1. Menghargai keberagaman

Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.

  1. Berjiwa kepemimpinan

Kemampuan untuk dapat mengarahkan dan mengajak individu atau kelompok mencapai tujuan dengan berpegang pada asas-asas kepemimpinan yang berbudaya.

  1. Berorientasi pada tindakan

Kemampuan untuk mewujudkan gagasan menjadi tindakan nyata.

  1. Berani mengambil risiko

Kesiapan menerima risiko (akibat) yang mungkin timbul dari tindakan yang dilakukan.

Di antara butir-butir nilai tersebut di atas, enam butir dipilih sebagai nilai-nilai pokok sebagai pangkal tolak pengembangan, yaitu:

  1. Kereligiusan
  2. Kejujuran
  3. Kecerdasan
  4. Ketangguhan
  5. Kedemokratisan
  6. Kepedulian

Keenam butir nilai tersebut ditanamkan melalui semua mata pelajaran dengan intensitas penanaman lebih dibandingkan penanaman nilai-nilai lainnya.

  1. a.      Pemetaan Nilai-nilai Karakter untuk Integrasi dalam Mata Pelajaran

 

Apabila semua nilai tersebut di atas harus ditanamkan dengan intensitas yang sama pada setiap mata pelajaran, penanaman nilai menjadi sangat berat. Oleh karena itu perlu dipilih sejumlah nilai utama sebagai pangkal tolak bagi penanaman nilai-nilai lainnya pada setiap mata pelajaran. Dengan kata lain, tidak setiap mata pelajaran diberi integrasi semua butir nilai tetapi beberapa nilai utama saja walaupun tidak berarti bahwa nilai-nilai yang lain tersebut tidak diperkenankan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran tersebut. Dengan demikian setiap mata pelajaran memfokuskan pada penanaman nilai-nilai utama tertentu yang paling dekat dengan karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. Tabel 1.1 menyajikan contoh distribusi nilai-nilai pokok dan utama ke dalam semua mata pelajaran.

  1. E.              Pemetaan Nilai-nilai Karakter untuk Integrasi dalam Mata Pelajaran

 

Apabila semua nilai tersebut di atas harus ditanamkan dengan intensitas yang sama pada setiap mata pelajaran, penanaman nilai menjadi sangat berat. Oleh karena itu perlu dipilih sejumlah nilai utama sebagai pangkal tolak bagi penanaman nilai-nilai lainnya pada setiap mata pelajaran. Dengan kata lain, tidak setiap mata pelajaran diberi integrasi semua butir nilai tetapi beberapa nilai utama saja walaupun tidak berarti bahwa nilai-nilai yang lain tersebut tidak diperkenankan diintegrasikan ke dalam mata pelajaran tersebut. Dengan demikian setiap mata pelajaran memfokuskan pada penanaman nilai-nilai utama tertentu yang paling dekat dengan karakteristik mata pelajaran yang bersangkutan. Tabel 1.1 menyajikan contoh distribusi nilai-nilai pokok dan utama ke dalam semua mata pelajaran.

 

Mata Pelajaran

 

 

Nilai Utama

1.  Pendidikan Agama Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, santun, disiplin, bertanggung jawab, cinta ilmu, ingin tahu, percaya diri, menghargai keberagaman, patuh pada aturan sosial, bergaya hidup sehat, sadar akan hak dan kewajiban, kerja keras
2.  PKn Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, nasionalis, patuh pada aturan sosial, menghargai keberagaman, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain
3.  Bahasa Indonesia Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif, percaya diri, bertanggung jawab, ingin tahu, santun, nasionalis
4.  Matematika Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, berpikir logis, kritis, kerja keras, ingin tahu, mandiri, percaya diri
5.  IPS Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, nasionalis, menghargai keberagaman, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, peduli sosial dan lingkungan, berjiwa wirausaha, kerja keras
6.  IPA Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, ingin tahu, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, jujur, bergaya hidup sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, cinta ilmu
7.  Bahasa Inggris Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, menghargai keberagaman, santun, percaya diri, mandiri, bekerjasama, patuh pada aturan sosial
8.  Seni Budaya Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin tahu, disiplin
9.  Penjasorkes Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, bergaya hidup sehat, kerja keras, disiplin, percaya diri, mandiri, menghargai karya dan prestasi orang lain
10.TIK/ Keterampilan Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, mandiri, bertanggung jawab, dan menghargai karya orang lain
11.  Muatan Lokal Religius, jujur, cerdas, tangguh, peduli, demokratis, menghargai keberagaman, menghargai karya orang lain, nasionalis

Tabel 1.1. Contoh Distribusi Nilai-Nilai Utama ke dalam Mata Pelajaran

 

  1. F.               Pembelajaran yang Mengembangkan Karakter

 

Sebagaimana disebutkan di depan, integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran pada semua mata pelajaran. Di antara prinsip-prinsip yang dapat diadopsi dalam membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksanakan proses pembelajaran, dan evaluasi yang mengembangkan karakter adalah prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selama ini telah diperkenalkan kepada guru, termasuk guru-guru SMP seluruh Indonesia sejak 2002.

Pada dasarnya pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata siswa, dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Pembelajaran kontekstual menerapkan sejumlah prinsip belajar. Prinsip-prinsip tersebut secara singkat dijelaskan berikut ini.

  1. Konstruktivisme (Constructivism)

Konstrukstivisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa orang menyusun atau membangun pemahaman mereka terhadap sesuatu berdasarkan  pengalaman-pengalaman baru dan pengetahuan awal dan kepercayaan mereka.

Pemahaman konsep yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalaman belajar otentik dan bermakna; guru mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk mendorong aktivitas berpikirnya. Pembelajaran dikemas menjadi proses ‘mengkonstruksi’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Dalam proses pembelajaran, siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran dirancang dalam bentuk siswa bekerja, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan gagasan, dan sebagainya.

Tugas guru dalam pembelajaran konstruktivis adalah memfasilitasi proses pembelajaran dengan:

(b)      menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa,

(c)       memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri,

(d)     menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.

Penerapan teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis dan logis, mandiri, cinta ilmu, rasa ingin tahu, menghargai orang lain, bertanggung jawab, dan percaya diri.

  1. Bertanya (Questioning)

Penggunaan pertanyaan untuk menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

(a)         menggali informasi, baik teknis maupun akademis

(b)         mengecek pemahaman siswa

(c)          membangkitkan respon siswa

(d)        mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa

(e)         mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa

(f)           memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru

(g)         menyegarkan kembali pengetahuan siswa

Pembelajaran yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk menuntun siswa mencapai tujuan belajar dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis dan logis, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, dan percaya diri.

  1. Inkuiri (Inquiry)

Inkuiri adalah proses pembelajaran yang diawali dengan pengamatan dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut didapat melalui siklus menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian hipotesis, membuat pengamatan, dan menyusun teori serta konsep yang berdasar pada data dan pengetahuan.

Langkah-langkah kegiatan inkuiri:

a)         merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun)

b)        Mengamati atau melakukan observasi

c)         Menganalisis dan menyajikan hasil  dalam tulisan, gambar, laporan, bagan,  tabel, dan karya lain

d)        Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau yang lain

Pembelajaran yang menerapkan prinsip inkuiri  dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis,  logis, kreatif, dan inovatif, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, jujur, dan tanggung jawab.

  1. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih dalam. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk bicara dan berbagi ide, mendengarkan ide siswa lain dengan cermat, dan bekerjasama untuk membangun pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa belajar secara bersama lebih baik daripada belajar secara individual.

Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi jika tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu. Semua pihak mau saling mendengarkan.

Praktik masyarakat belajar terwujud dalam:

(a)         Pembentukan kelompok kecil

(b)         Pembentukan kelompok besar

(c)          Mendatangkan ‘ahli’ ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, petani, polisi, dan lainnya)

(d)        Bekerja dengan kelas sederajat

(e)         Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya

(f)           Bekerja dengan masyarakat

Penerapan prinsip masyarakat belajar di dalam proses pembelajaran dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain kerjasama, menghargai pendapat orang lain, santun, demokratis, patuh pada turan sosial, dan tanggung jawab.

  1. Pemodelan (Modeling)

Pemodelan adalah proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Pemodelan tidak jarang memerlukan siswa untuk berpikir dengan mengeluarkan suara keras dan mendemonstrasikan apa yang akan dikerjakan siswa. Pada saat pembelajaran, sering guru memodelkan bagaimana agar siswa belajar. Guru menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu  untuk mempelajari sesuatu yang baru. Guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.

Contoh praktik pemodelan di kelas:

a)         Guru olah raga memberi contoh berenang gaya kupu-kupu di hadapan siswa

b)        Guru PKn mendatangkan seorang veteran kemerdekaan ke kelas, lalu siswa diminta bertanya jawab dengan tokoh tersebut

c)         Guru Geografi menunjukkan peta jadi yang dapat digunakan sebagai contoh siswa dalam merancang peta daerahnya

d)        Guru Biologi mendemonstrasikan penggunaan thermometer suhu badan

Pemodelan dalam pembelajaran antara lain dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, menghargai orang lain, dan rasa percaya diri.

  1. Refleksi (Reflection)

Refleksi dilakukan agar siswa memikirkan kembali apa yang telah mereka pelajari dan lakukan selama proses pembelajaran untuk membantu mereka menemukan makna personal masing-masing. Refleksi biasanya dilakukan pada akhir pembelajaran antara lain melalui diskusi, tanya-jawab, penyampaian kesan dan pesan, menulis jurnal, saling memberi komentar karya, dan catatan pada buku harian.

Refleksi dalam pembelajaran antara lain dapat menumbuhkan kemampuan berfikir logis dan kritis, mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri, dan menghargai pendapat orang lain.

 

  1. Penilaian otentik (Authentic assessment)

Penilaian autentik sesungguhnya adalah suatu istilah yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance) yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Penilaian autentik seharusnya dapat menjelaskan bagaimana siswa menyelesaikan masalah dan dimungkinkan memiliki lebih dari satu solusi yang benar. Strategi penilaian yang cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa teknik penilaian.

Penilaian autentik dalam pembelajaran dapat mengembangkan berbagai karakter antara lain kejujuran, tanggung jawab, menghargai karya dan prestasi orang lain, kedisiplinan, dan cinta ilmu.

 

  1. G.             Penggunaan BSE untuk Pendidikan Karakter
  1. Potensi penggunaan BSE dalam pendidikan karakter

Buku-buku pelajaran SMP yang telah masuk dalam daftar BSE memenuhi kelayakan isi, penyajian, bahasa, dan grafika. Dalam hal isi, setiap BSE memuat semua SK/KD sebagaimana ditetapkan melalui Permen Diknas 22/2006 dengan cakupan dan kedalaman pembahasan yang memadai. Selanjutnya isi/materi disajikan dan/atau dibelajarkan melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Banyak di antara kegiatan-kegiatan pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pelaku pembelajaran yang aktif. Bahasa untuk menyajikan materi merupakan bahasa Indonesia yang baku, sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa SMP, dan gagasan/pesan disajikan secara koheren. Dari sisi grafika, BSE memenuhi berbagai ketentuan kegrafikaan. Selain itu, BSE pada umumnya tidak bias gender, mengembangkan keberagaman/kebhinekaan, serta jiwa kewirausahaan.

Memperhatikan ciri-ciri tersebut di atas, BSE memiliki potensi yang sangat besar untuk digunakan mengembangkan karakter peserta didik secara terpadu dalam pembelajaran. Hanya dengan melakukan sejumlah revisi, buku-buku tersebut dapat digunakan untuk melaksanakan pendidikan karakter secara terintegrasi dalam pembelajaran.

  1. Strategi umum penggunaan BSE untuk pendidikan karakter

Di depan disebutkan bahwa BSE memiliki potensi yang sangat besar untuk digunakan mengembangkan karakter peserta didik secara terpadu dalam pembelajaran. Dengan melakukan adaptasi seperlunya, buku-buku pelajaran yang telah masuk daftar BSE akan dengan efektif memfasilitasi peserta didik memperoleh pengetahuan, mengembangkan keterampilan/kecakapan, dan membangun karakter. Berikut empat jenis adaptasi yang dapat dilakukan. Adaptasi jenis a, b, c, dan d berturut-turut dari yang paling dianjurkan ke yang kurang dianjurkan.

  1. Adaptasi lengkap sebelum pembelajaran dilaksanakan

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam tiga aspek sekaligus, yaitu isi, kegiatan pembelajaran, dan teknik evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis  pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

  1. Adaptasi sebagian/parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, atau reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis  pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

  1. Adaptasi sebagian/parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Guru membuat sejumlah adaptasi (misalnya penambahan isi, perubahan atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan atau perubahan teknik penilaian) secara tertulis tetapi pada lembar terpisah, tidak menyatu dengan bahan ajar. Catatan-catatan pada lembar-lembar terpisah tersebut digunakan oleh guru selama proses pembelajaran.

  1. Adaptasi sebagian/parsial selama pembelajaran dilaksanakan (isi dan/atau kegiatan pembelajaran dan/atau evaluasi)

Adaptasi jenis ini mencakup revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Guru membuat sejumlah adaptasi (misalnya penambahan isi, perubahan atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan atau perubahan teknik penilaian) secara spontan selama proses pembelajaran berlangsung.


 

BAGIAN II: PANDUAN KHUSUS

MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS

 

Nilai karakter yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran untuk semua mata pelajaran pada dasarnya sama, yaitu nilai karakter manusia dalam berkehidupan, berketuhanan, dan bersesama. Lebih rinci, nilai karakter itu berkenaan dengan kehidupan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan bangsa. Artinya, dalam kehidupan, nilai karakter itu berfungsi mengontrol dan dimanifestasikan dalam hubungan seseorang dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, lingkungan alam, dan bangsa. Demikian pula, nilai karakter untuk mata pelajaran bahasa Inggris

  1. A.    Nilai Karakter untuk Mapel Bahasa Inggris

Sesuai dengan anjuran yang telah dikemukakan di atas, nilai karakter yang dapat diitegrasikan dalam mata pelajaran bahasa Inggris terdiri dari beberapa nilai karakter pokok atau utama. Ketentuan yang berkenaan dengan nilai karakter pokok atau utama itu bukan berarti membatasi pengenalan, pengembangan, dan pembudayaan nilai karakter yang lain. Artinya, nilai karakter yang lain, sepanjang memungkinkan diitegrasikan dalam pembelajaran, juga dianjurkan untuk dikenalkan, dikembangkan, dan dibudayakan dalam kehidupan nyata peserta didik. Nilai karakter pokok, dalam hal ini, ialah nilai karakter yang dijadikan pangkal tolak pengembangan nilai karakter yang lain. Melalui penanaman, pengembangan, dan pembudayaan nilai karakter pokok ini diharapkan nilai karakter yang lain dapat dikembangkan pula. Nilai karakter utama ialah nilai karakter yang diprioritaskan untuk ditanamkan, dikembangkan, dan dibudayakan bagi dan oleh peserta didik. Beberapa nilai karakter utama juga disebutkan dalam nilai karakter pokok karena nilai karakter itu merupakan dasar atau pangkal tolak pengenalan, pengembangan, dan pembudayaan nilai karakter yang lain.

Satu hal yang perlu disadari ialah tidak ada nilai karakter kehidupan manusia yang berdiri sendiri, terpisah satu dengan yang lain. Nilai karakter yang satu dan nilai karakter yang lain senantiasa saling bersinggungan, tumpang tindih, dan atau terkait; bahkan nilai karakter yang satu kadang merupakan prasyarat bagi nilai karakter yang lain; nilai karakter yang satu kadang juga merupakan manifestasi atau perwujudan dari nilai karakter yang lain.

Untuk mata pelajaran bahasa Inggris, nilai karakter pokok dan nilai karakter utama yang dianjurkan untuk diitegrasikan dalam pembelajaran dapat dikemukakan sebagai berikut.

 

  1. 1.         Nilai Karakter Pokok dan Indikatornya

Di antara butir-butir nilai karakter yang dianjurkan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran, ada enam butir nilai yang dipilih sebagai nilai karakter pokok, yaitu nilai karakter yang menjadi pangkal tolak pengembangan nilai karakter yang lain. Enam nilai karakter pokok tersebut dapat dirumuskan indikatornya berdasarkan empat kompetensi keterampilan berbahasa seperti pada tabel berikut.

No Karakter Indikator
1 Religiusitas Mengawali dan mengakhiri pelajaran dengan berdoa, memberi ucapan (teks fungsional pendek) dalam perayaan Lebaran, Natal, dan kegiatan lain yang sejenis
2 Kecerdasan Merespon makna dan mengungkapkan pendapat secara runtut, baik secara lisan maupun tertulis.
3 Kesantunan Menggunakan ungkapan dengan santun disertai gerak tubuh yang sesuai.
4 Kejujuran Mengungkapkan fakta secara benar.
5 Percaya diri Menggunakan bahasa secara benar, lancar, tidak ragu-ragu dengan bahasa tubuh yang wajar.
6 Kepedulian Menyapa orang-orang di sekitarnya, meminta maaf, mengucapkan terima kasih dengan ungkapan yang santun dalam interaksi interpersonal, mengungkapkan rasa peduli terhadap kelestarian lingkungan yang ditunjukkan dalam teks fungsional pendek.
7 Kerjasama Melakukan diskusi secara berpasangan atau curah pendapat dalam kelompok maupun kelas pada setiap proses pembelajaran.
8 Menghargai keberagaman Memberi pujian atas hasil kerja teman, dan menerima adanya perbedaan pendapat dalam kegiatan pembelajaran.
9 Ketangguhan Berupaya untuk belajar dari kesalahan demi perbaikan dan pencapaian hasil belajar yang lebih baik.
10 Demokrasi Bersedia mendengarkan , meminta  dan mengungkapkan pendapat.
11 Kemandirian Menyelesaikan tugas-tugas secara bertanggung-jawab dan dengan usaha sendiri.
12 Kepatuhan pada aturan sosial Mentaati peraturan-peraturan yang ditulis dalam bahasa Inggris di lingkungan sekolah.

Untuk lebih jelasnya, secara umum, paparan nilai-nilai utama karakter dan budaya bangsa tersebut di atas selanjutnya dapat dicerminkan, antara lain pada saat memformulasikan indikator dan mengembangkan bahan ajar. Berikut ini adalah beberapa contoh  pengintegrasian masing-masing nilai karakter pada indikator dan bahan ajar dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

Contoh-contoh Pengintegrasian Nilai-nilai Karakter Utama

            Pada bagian ini disajikan beberapa contoh pengintegrasian nilai-nilai karakter seperti kesantunan, kejujuran, kepercayaan diri, kepedulian sosial, tanggung jawab, kecerdasan, kerjasama, upaya menghargai keberagaman dan nilai demokrasi, pada indikator dan selanjutnya direfleksikan pada latihan atau aktivitas pembelajaran bahasa Inggris (bahan ajar).

  1. 1.    Kesantunan

Indikator  : merespon dan mengungkapkan kesantunan

Bahan ajar            : Please open the door (ungkapan kesantunan)

  1. 2.    Kejujuran

Indikator  : meminta dan memberi informasi yang benar

Bahan ajar            : Where is the post office? (asking direction)

  1. 3.    Kepercayaan diri

Indikator         : membaca nyaring dengan lafal dan intonasi yang benar

Bahan ajar       : Read the text aloud (misalnya dengan memberikan teks tulis

berbentuk deskriptif)

  1. 4.    Kepedulian sosial

Indikator         : menyapa orang yang sudah/belum dikenal

Bahan ajar       : Ungkapan sapaan seperti “Hello”, Good morning” dan

                           seterusnya.

  1. 5.    Religiusitas

Indikator         : mengungkapkan rasa simpati secara tertulis pada persitiwa

keagamaan. (menulis greeting cards)

 Bahan ajar      : Ungkapan simpati dan teks greeting, misalnya

                            “Happy Lebaran Day”, “ Merry Christmas”

 

  1. 6.    Kecerdasan (berpikir logis, kritis dan kreatif)

Indikator         : melakukan monolog dalam bentuk deskriptif

Bahan ajar       : Tell your friends about the food you prefer most.

 

  1. 7.    Kerjasama

Indikator          : melakukan percakapan secara berpasangan

Bahan ajar        : Make a conversation and perform it in pair

 

  1. 8.    Penghargaan terhadap keberagaman

Indikator          : memajang hasil karya tulis untuk diapresiasi/dikomentari

  Bahan ajar        : Please put the result of your discussion on the wall and let your

                                friends give critical comments.

 

  1. 9.    Demokrasi

Indikator          : meminta pendapat

Bahan ajar        : What do you think about …?

          

 

Selanjutnya akan dipaparkan pengintegrasian nilai-nilai utama dan nilai-nilai pokok pendidikan karakter untuk mata pelajaran Bahasa Inggris, khususnya dalam aspek “perangkat pembelajaran” seperti silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan “adaptasi buku sekolah elektronik (BSE)”.

 

B. Kegiatan Pembelajaran yang Mengembangkan Karakter pada Pembelajaran Bahasa Inggris Kelas VII

 

            Kegiatan pembelajaran diawali dengan perencanaan perangkat pembelajaran seperti mengembangan silabus berdasarkan Standar Isi yang kemudian dituangkan dalam bentuk RPP untuk mengimplementasikan kegiatan pembelajaran di kelas. Silabus dan RPP yang telah dikembangkan sebelumnya dan belum bermuatan nilai-nilai pendidikan karakter dapat diadaptasi sesuai dengan usia tumbuh kembang peserta didik.

Perlu dipahami bahwa pengintegrasian nilai-nilai karakter dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu (1) menambah kolom khusus dengan sub judul “Karakter” dalam silabus; (2) dengan menambahkan nilai karakter yang akan diimplementasikan pada “indikator”, dan (3)  pada “kegiatan pembelajaran” dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau (4) mengadaptasi BSE secara lengkap atau parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan atau selama pembelajaran dilaksanakan. Berikut ini disajikan contoh pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter dalam Silabus dan RPP Mapel Bahasa Inggris kelas VII.

B.1 Pengintegrasian Nilai Karakter dalam Silabus

Silabus Bahasa Inggris Kelas VII Semester I yang dicontohkan berikut ini, fokus pada “berbicara”,  telah mengintegrasikan nilai-nilai pendidikan karakter yang seharusnya ditanamkan untuk peserta didik yang meliputi kejujuran, kesantunan dan rasa percaya diri, yaitu dengan menambahkan kolom “Karakter”, yang disisipkan setelah “Kompetensi Dasar”. Untuk penjelasan lebih lanjut, lihat lampiran yang memaparkan secara rinci pengintegrasian nilai-nilai pendidikan karakter dalam Silabus Mapel Bahasa Inggris kelas VII Semester I dan II untuk keempat standar kompetensi: mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.

Silabus pembelajaran

Satuan Pendidikan                 : SMP

Kelas                                       : VII (Tujuh)

Semester                                : 1 (Satu)

Mata Pelajaran                       : Bahasa Inggris

Standar Kompetensi              : 1.   Mendengarkan

Memahami makna dalam percakapan transaksional dan interpersonal sangat sederhana untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat

KompetensiDasar Karakter Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Pencapaian Kompetensi Penilaian AlokasiWaktu SumberBelajar
TeknikPenilaian BentukInstrumen ContohInstrumen
 9.2  Mengungkap-kan  makna dalam  percakapan transaksional (to get things done)& interpersonal (bersosialisai) sangat sederhana dengan mengguna-kan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar  dan berterima untuk berinteraksi dengan lingkungan terdekat yang melibatkan tindak tutur : meminta dan memberi pendapat, menyatakan suka dantidak suka, meminta klarifikasi, merespon secara interpersonal JujurKesantunanPercaya diri
  1. Percakapan singkat memuat ungkapan-ungkapan :

Contoh :

Asking for and giving opinion

A: What do you

think?

B: Not bad

Likes and dislikes

A:  I like tea.

B:  I do too. But I

dont

like milk

A:  But I do!

Asking for clarification

A :  What did you

say ?

B :  I said ….

Responding interpersonally

A:  Are you?

B : Yes, I am

  1. Tata Bahasa

Verb : Like, need, want

  1. Kosa kata
  • Daily needs
  • Kata terkait jenis teks
  1. Ungkapan Baku
  • Not bad.
  • Great!

 

  1. Language games dan kegiatan interaktif yang berkaitan dengan kosa kata dan tata bahasa terkait dengan tindak tutur : meminta dan member pendapat dengan jujur, menyatakan suka dan tidak suka, meminta dan member klarifikasi dengan santun dan merespon secara interpersonal
  1. Berlatih mengucapkan tindak tutur tersebut dengan ucapan dan intonasi yang benar.
  1. Mendengar-kan model percakapan dan menirukannya dengan tepat
  1. Melakukan percakapan transaksional dan interpersonal menggunakan tindak tutur tersebut secara berpasangan tentang percakapan yg didengar.
  2. Melakukan dialog pendek menggunakan ungakapan-ungakapan: Meminta dan memberi pendapat dengan jujur, menyatakan suka dan tidak suka, meminta dan memberi klarifikasi dengan santun dan, merespon secara interpersonal
  3. Memberikan jawaban singkat dengan menggunakan ungakapan-ungakapan: Meminta dan memberi pendapat dengan jujur, menyatakan suka dan tidak suka, meminta dan memberi klarifikasi dengan santun dan, merespon secara interpersonal
 

  1. Bermain peran dengan penuh percaya diri  menggunakan ungakapan-ungakapan: Meminta dan memberi pendapat dengan jujur, menyatakan suka dan tidak suka, meminta dan memberi klarifikasi dengan santun dan, merespon secara interpersonal

 

Unjuk kerjaUnjuk kerjaUnjuk kerja

 

Short dialogueShort answer 

Bermain peran

 

  1. 1.   Take turns to ask for and give opinions about each of the jobs below. Do it in pairs.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 2.   Respond to the following expressions orally!
  1. Make a role-play based on the following situations

 

2×40 menit Script dari buku BSEBahan-bahan rekaman (kaset, CD, VCD)Media lain yang relevan

 

Di samping pengintegrasian nilai pendidikan karakter dalam silabus di atas, terdapat kemungkinan lain untuk menanamkan nilai-nilai tersebut, yaitu dengan mengintegrasikannya dalam komponen RPP seperti contoh berikut.

(Silahkan didownload untuk membaca selengkapnya)

Sumber : Materi Pelatihan Pendidikan Karakter SMP


silahkan didownload:

PANDUAN PEND KARAKTER praktis di sekolah_24 Feb 2011

PENDIDIKAN KARAKTER DI SMP

Pendidikan Karakter di SD-SMP 22 maret 2011

Pendidikan Karakter ok

BAHAN AJAR BHS INGGRIS

Draft 2

PANDUAN PELAKSANAAN

PENDIDIKAN KARAKTER DI SMP

 

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR

DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

2011


 

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

 Pasal 3 Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Dengan mengacu pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tersebut di atas, Kementerian Pendidikan Nasional sejak tahun 2010 mengembangkan pendidikan karakter pada semua jenjang pendidikan, termasuk SMP.

 

Sebenarnya pendidikan karakter bukan sepenuhnya hal yang baru dalam sistem pendidikan nasional Indonesia. Pada saat ini setidak-tidaknya ada tiga mata pelajaran yang diberikan untuk membina akhlak dan budi pekerti peserta didik, yaitu Pendidikan Agama, PKn, dan Bahasa Indonesia. Namun demikian, pengembangan watak melalui ketiga mata pelajaran tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan karena beberapa hal. Pertama, ketiga mata pelajaran tersebut cenderung sekedar membekali pengetahuan mengenai nilai-nilai melalui materi/substansi mata pelajaran. Kedua, kegiatan pembelajaran pada ketiga mata pelajaran tersebut pada umumnya belum secara memadai mendorong terinternalisasinya nilai-nilai oleh masing-masing siswa sehingga siswa berperilaku dengan karakter yang tangguh. Ketiga, menggantungkan pembentukan watak siswa melalui ketiga mata pelajaran itu saja tidak cukup. Pengembangan karakter peserta didik perlu melibatkan lebih banyak lagi mata pelajaran, bahkan semua mata pelajaran. Selain itu, kegiatan pembinaan kesiswaan dan pengelolaan sekolah dari hari ke hari perlu juga dirancang dan dilaksanakan untuk mendukung pengembangan karakter peserta didik.

 

Merespons sejumlah kelemahan dalam pelaksanaan pendidikan akhlak dan budi pekerti tersebut, telah diupayakan inovasi pendidikan karakter. Inovasi tersebut adalah:

 

1)   Pendidikan karakter dilakukan secara terintegrasi ke dalam semua mata pelajaran. Integrasi yang dimaksud meliputi pemuatan nilai-nilai ke dalam substansi pada semua mata pelajaran dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang memfasilitasi dipraktikkannya nilai-nilai dalam setiap aktivitas pembelajaran di dalam dan di luar kelas pada semua mata pelajaran.

2)   Pendidikan karakter juga diintegrasikan ke dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan kesiswaan.

3)   Selain itu, pengembangan karakter dilaksanakan melalui kegiatan pengelolaan semua bidang urusan di sekolah yang melibatkan semua warga sekolah.

 

Pelaksanaan pendidikan karakter melalui tiga strategi tersebut di atas merupakan hal yang baru bagi sebagain besar SMP di Indonesia. Oleh karena itu, dalam rangka membina pelaksanaan pendidikan karakter di SMP, Direktorat Pembinaan SMP memandang perlu menyusun panduan pelaksanaan pendidikan karakter di SMP.

 

Panduan pelaksanaan pendidikan karakter di SMP ini secara singkat memuat pengertian dan tujuan umum pendidikan karakter, pengertian pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran, pengertian pendidikan karakter terintegrasi dalam kegiatan pembinaan kesiswaan, pengertian pendidikan karakter terintegrasi dalam pengelolaan sekolah, nilai-nilai karakter yang perlu dikembangkan, langkah-langkah pelaksanaan pendidikan karakter, dan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pendidikan karakter di SMP.

 

B.     Pengertian Umum

 

Pendidikan karakter di sekolah adalah upaya yang terencana untuk memfasilitasi peserta didik mengenal, peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai karakter secara terintegrasi dalam proses pembelajaran semua mata pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan pengelolaan sekolah pada semua bidang urusan.

 

C.    Tujuan Umum

 

Pendidikan karakter di sekolah dimaksudkan untuk memfasilitasi peserta didik mengembangkan karakter terutama yang tercakup dalam butir-butir Standar Kompetensi Lulusan (Permen Diknas 23/2006) sehingga mereka menjadi insan yang berkepribadian mulia (cerdas dan kompetitif).

 

D.    Sasaran

 

Sasaran utama pendidikan karakter di sekolah adalah seluruh peserta didik. Namun demikian, warga sekolah lainnya, yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah, pegawai tata usaha, laboran, pustakawan, teknisi, dan penjaga keamanan harus menjadi model dalam mengembangkan karakter masing-masing. Mereka adalah pendidik karakter yang harus beperan sebagai model insane berkarakter.

 

 

E.     Nilai-nilai Karakter yang Dikembangkan

 

Untuk memfasilitasi peserta didik mengembangkan dirinya menjadi insan yang berkarakter tangguh, ada banyak nilai yang perlu ditanamkan. Namun demikian, menanamkan semua karakter pada peserta didik merupakan hal yang sangat berat. Oleh karena itu perlu diidentifikasi sejumlah nilai sebagai prioritas penanaman.

 

Tujuan utama pendidikan pada tingkat SMP adalah memfasilitasi peserta didik menguasai butir-butir SKL SMP (Permen Diknas 23/2006) melalui pembelajaran semua mata pelajaran dengan isi  sebagaimana tertuang dalam SI (Permen Diknas 22/2006). Berdasarkan analisis diketahui bahwa SKL maupun SI mengisayaratkan sejumlah nilai yang perlu diinternalisasi oleh peserta didik. Dengan demikian, nilai-nilai karakter sebagai prioritas penanaman di SMP disarikan dari  butir-butir SKL, dan SK/KD mata pelajaran-mata pelajaran SMP. Dengan digalakkannya pengembangan jiwa kewirausahaan, nilai-nilai kewirausahaan juga penting dijadikan prioritas.

 

Berikut adalah 25 butir nilai karakter sebagai prioritas penanaman di SMP beserta deskripsi singkat dari masing-masing karakter:

 

1.   Kereligiusan

Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/atau ajaran agamanya.

 

2.   Kejujuran

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain.

 

3.   Kecerdasan

Kemampuan seseorang dalam melakukan suatu tugas secara cermat, tepat, dan cepat.

 

4.   Tanggung jawab

 

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan YME.

 


5.   Kebersihan dan kesehatan

 

Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang bersih dan sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatan.

 

6.   Kedisiplinan 

 

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

 

7.   Tolong-menolong

 

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya menolong orang.

 

8.   Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif

 

Berpikir dan melakukan sesuatu berdasarkan kenyataan dan/atau nalar untuk  menghasilkan cara dan/atau produk baru atau termutakhir.

 

9.   Kesantunan

 

Sifat yang halus dan baik  dari sudut pandang tata bahasa maupun tata perilakunya ke semua orang.

 

10.  Ketangguhan

 

Sikap dan perilaku pantang menyerah atau tidak pernah putus asa ketika menghadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan atau tugas sehingga mampu mengatasi kesulitan tersebut dalam mencapai tujuan.

 

11.  Kedemokratisan

Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

 

12.  Kemandirian

 

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

 


13.  Keberanian mengambil risiko

 

Kesiapan menerima risiko/akibat yang mungkin timbul dari tindakan nyata.

 

14.  Berorientasi pada tindakan

 

Kemampuan untuk mewujudkan gagasan menjadi tindakan nyata.

 

15.  Berjiwa kepemimpinan

 

Kemampuan mengarahkan dan mengajak individu atau kelompok untuk mencapai tujuan dengan berpegang pada asas-asas kepemimpinan berbasis budaya bangsa.

 

16.  Kerja keras

 

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan  guna menyelesaikan tugas (belajar/pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.

 

17.  Percaya diri

 

Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya.

 

18.  Keingintahuan

 

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

 

19.  Cinta ilmu

 

Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap pengetahuan.

 

20.  Kesadaran akan hak dan kewajiban diri dan orang lain

 

Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.

 


21.  Kepatuhan terhadap aturan-aturan sosial

 

Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan  kepentingan umum.

 

22.  Menghargai  karya dan prestasi orang lain

 

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.

 

23.  Kepedulian terhadap lingkungan

 

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah dan memperbaiki penyimpangan dan kerusakan (manusia, alam, dan tatanan) di sekitar dirinya.

 

24.  Nasionalisme

 

Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.

 

25.  Menghargai keberagaman

 

Sikap memberikan respek/hormat terhadap berbagai macam hal baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.

 

Di antara butir-butir nilai tersebut di atas, delapan butir dipilih sebagai nilai-nilai pokok sebagai pangkal tolak pengembangan karakter, yaitu:

 

1.   Kereligiusan

2.   Kejujuran

3.   Kecerdasan

4.   Tanggung jawab

5.   Kebersihan dan kesehatan

6.   Kedisiplinan 

7.   Tolong-menolong

8.   Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif

 

Kedelapan butir nilai tersebut ditanamkan melalui semua mata pelajaran dengan intensitas penanaman lebih dibandingkan penanaman nilai-nilai lainnya.

 


F.      Pendidikan Karakter secara Terintegrasi di SMP

 

Di depan telah dinyatakan bahwa pendidikan karakter di SMP dilaksanakan secara terintegrasi melalui proses pembelajaran pada semua mata pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan pengelolaan sekolah. Berikut adalah pengertian dari masing-masing integrasi pendidikan karakter tersebut.

 

1.      Pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran

 

Yang dimaksud dengan pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam proses pembelajaran adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua mata pelajaran. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran, selain untuk menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi), juga dirancang dan dilakukan untuk menjadikan peserta didik mengenal, menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai dan menjadikannya perilaku.

 

Dalam struktur kurikulum kita, ada dua mata pelajaran yang terkait langsung dengan pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia, yaitu pendidikan Agama dan PKn. Kedua mata pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang secara eksplisit mengenalkan nilai-nilai, dan sampai taraf tertentu menjadikan peserta didik peduli dan menginternalisasi nilai-nilai. Integrasi pendidikan karakter pada mata pelajaran selain pendidikan Agama dan PKn yang dikembangkan saat ini lebih pada fasilitasi internalisasi nilai-nilai di dalam tingkah laku sehari-hari melalui proses pembelajaran (kegiatan belajar mengajar dan penilaian). Pengenalan nilai-nilai sebagai pengetahuan melalui bahan ajar dapat dilakukan, tetapi bukan merupakan penekanan. Yang ditekankan adalah pelaksanaan dan/atau penginternalisasian nilai-nilai melalui kegiatan-kegiatan di dalam proses pembelajaran.

 

Berikut adalah mata pelajaran yang dimaksud di SMP:

 

a.      Pendidikan Agama

b.      PKn

c.       Bahasa Indonesia

d.     Matematika

e.      IPS

f.        IPA

g.      Bahasa Inggris

h.      Seni Budaya

i.        Penjasorkes

j.        TIK/ Keterampilan

k.      Muatan Lokal

 

2.      Pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam kegiatan pembinaan kesiswaan

 

Pendidikan karakter secara terintegrasi di dalam kegiatan pembinaan kesiswaan adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik melalui pelaksanaan kegiatan pembinaan kesiswaan, yaitu  kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka. Kegiatan tersebut dilaksanakan di dalam dan/atau di luar lingkungan sekolah dalam rangka memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menginternalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan agama serta norma-norma sosial baik lokal, nasional, maupun global untuk membentuk insan yang seutuhnya.

 

Berikut adalah contoh-contoh kegiatan pembinaan kesiswaan di SMP:

 

a.         Pembinaan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa

b.         Masa Orientasi Siswa (MOS)

c.          Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)

d.        Penegakan tatakrama dan tata tertib kehidupan akademik dan sosial sekolah

e.         Kepramukaan

f.           Upacara bendera

g.         Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)

h.         Palang Merah Remaja (PMR)

i.           Pendidikan pencegahan penyalahgunaan narkoba

j.           Pembinaan bakat dan minat, yang antara lain meliputi:

1)   Sains

2)   Olahraga

3)   Seni

4)   Bahasa

 

3.      Pendidikan karakter melalui pengelolaan sekolah yang berkarakter

 

Pendidikan karakter melalui pengelolaan sekolah adalah pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui pelaksanaan manajemen sekolah yang berkarakter baik. Seluruh bidang urusan sekolah dikelola secara efektif dan efisien berdasarkan nilai-nilai luhur, baik nilai-nilai yang mendasari hubungan kita terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia, berbangsa, maupun lingkungan.

 

Berikut adalah bidang-bidang urusan di SMP berdasarkan Permendiknas nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan:

 

a.      Penyusunan Rencana Kerja Sekolah

b.      Penyusunan dan Pelaksanaan Pedoman dan Struktur Sekolah

c.       Kesiswaan

d.     Kurikulum dan Kegiatan Pembelajaran

e.      Bidang Pendidik dan Tenaga Kependidikan

f.        Bidang Sarana dan Prasarana

g.      Bidang Keuangan dan Pembiayaan

h.      Budaya dan Lingkungan Sekolah

i.        Peranserta Masyarakat dan Kemitraan Sekolah

j.        Kepemimpinan Sekolah

k.      Sistem Informasi Manajemen

 

 


 

BAB II

PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SMP

 

Pendidikan karakter di SMP secara terpadu dalam proses pembelajaran, manajemen sekolah, dan kegiatan pembinaan kesiswaan harus segera dilaksanakan oleh setiap sekolah. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh sekolah dalam melaksanakan pendidikan karakter yang meliputi sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, dan tindak lanjut.

 

A.      Sosialisasi/pelatihan

Pelaksanaan pendidikan karakter memerlukan dukungan dari semua warga sekolah, termasuk Komite Sekolah, bahkan orangtua siswa dan masyarakat di sekitar sekolah. Dukungan tersebut akan diperoleh ketika semua warga tersebut memiliki pemahaman yang baik terhadap pentingnya pendidikan karakter dan bagaimana melaksanakannya. Oleh karena itu sebagai langkah awal dari pelaksanaan pendidikan karakter, mutlak dilakukan sosialisasi/pelatihan pendidikan karakter agar semua pihak yang terlibat memperoleh pemahaman yang memadai dalam semua aspek implementasi pendidikan karakter.

 

Sosialisasi/pelatihan yang dimaksud idealnya menjangkau semua warga sekolah. Sosialisasi/pelatihan ini dapat dilaksanakan oleh sekolah sendiri dengan mengundang narasumber yang telah dilatih oleh Kementerian Pendidikan Nasional atau dengan cara mengirimkan warganya mengikuti sosialisasi/pelatihan yang diselenggarakan oleh pihak lain.

 

Sosialisasi/pelatihan setidak-tidaknya menjadikan peserta:

 

1.      Memahami pengertian pendidikan karakter secara terpadu dalam pembelajaran, manajemen sekolah, dan kegiatan pembinaan kesiswaan;

2.      Memahami nilai-nilai karakter utama dan nilai-nilai karakter pokok prioritas penanaman;

3.      Mengidentifikasi kegiatan-kegiatan belajar (aktif) dan/atau teknik penilian yang tidak saja mengembangkan dan/atau mengukur pencapaian pengetahuan dan keterampilan peserta didik, tetapi juga perkembangan karakter;

4.      Mampu mengintegrasikan pendidikan karakter di dalam pembelajaran dari tahapan perencanaan (silabus, RPP, bahan ajar), pelaksanaan (proses kegiatan belajar mengajar di kelas), dan evaluasi;

5.      Mampu mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam kegiatan pembinaan kesiswaan;

6.      Memahami proses pengelolaan semua bidang urusan sekolah yang efektif dan efisien yang didasarkan pada nilai-nilai luhur, baik nilai-nilai yang mendasari hubungan kita terhadap Tuhan YME, diri sendiri, sesama manusia, berbangsa maupun lingkungan;

7.      Mampu membuat rancangan/action plan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah; dan

8.      Mampu merancang dan melaksanakan monitoring dan evaluasi pendidikan karakter di sekolah.

 

Sosialisasi/pelatihan dianjurkan dilaksanakan dalam format loka karya sehingga peserta tidak hanya terlibat dalam proses memperoleh pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis dan menghasilkan karya/dokumen yang dapat digunakan di sekolah (dengan atau tanpa penyempurnaan lebih lanjut).

 

B.       Perencanaan

Setelah warga sekolah memiliki pemahaman yang baik mengenai pendidikan karakter, langkah selanjutnya adalah membuat rencana jangka menengah dan rencana tahunan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.

 

1.      Rencana jangka menengah

 

Rencana jangka menengah yang dimaksud setidak-tidaknya memuat:

 

a.      Nilai-nilai karakter yang diintegrasikan pada masing-masing mata pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan bidang urusan pengelolaan sekolah

b.      Tahapan pelaksanaan pendidikan karakter (termasuk tanggal dan jangka waktunya)

c.       Kegiatan-kegiatan pendukung implementasi pendidikan karakter beserta sumber dana dan besarnya dana yang diperlukan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan-kegiatan pendukung tersebut

d.     Koordinator pelaksanaan pendidikan karakter untuk masing-masing jalur (pembelajaran: urusan kurikulum, kegiatan pembinaan kesiswaan: urusan kesiswaan, dan pengelolaan sekolah: wakasek).

 

Implementasi pendidikan karakter idealnya dimulai secara serentak pada pembelajaran semua mata pelajaran, semua kegiatan pembinaan kesiswaan, dan pengelolaan semua bidang urusan sekolah. Namun demikian disadari bahwa memulai implementasi secara serentak tersebut bukan sesuai yang ringan. Kondisi sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya sangat mempengaruhi kesiapan sekolah mengimplementasikan pendidikan karakter. Oleh karenanya implementasi pendidikan karakter secara terintegrasi DAPAT dimulai dari beberapa mata pelajaran, sejumlah kegiatan kesiswaan, dan pengelolaan beberapa bidang urusan sekolah. Mata pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan bidang urusan sekolah yang diberi integrasi pendidikan karakter pada awal implementasi (tahun pertama) dipilih dari yang mudah atau yang siap dan melibatkan paling banyak peserta didik. Implementasi pada tahap-tahap (tahun-tahun) selanjutnya diperluas ke pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan bidang urusan sekolah lainnya sehingga selambat-lambatnya pada tahun ke empat semua telah diberi integrasi pendidikan karakter. Tabel berikut menyajikan CONTOH tahapan implementasi pendidikan karakter di sekolah.

 

No.

Jalur

Tahun Pelajaran

2011/1012

2012/2013

2013/2014

2014/2015

Sem1

Sem 2

Sem 1

Sem 2

Sem 1

Sem 2

Sem 1

Sem 2

         1. Pembelajaran (mapel)

2

4

6

8

10

10

semua

semua

         2. Keg. Pemb. Kesiswaan

4

4

6

6

8

8

semua

semua

         3. Manajemen sekolah

2

4

6

8

10

10

semua

semua

 

Catatan:

 

a.      Jumlah mata pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan bidang urusan sekolah yang diberi integrasi pendidikan karakter meningkat dari tahun ke tahun. Angka pada setiap kolom menunjukkan jumlah mata pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan bidang urusan sekolah secara akumulatif pada tahun/semester tersebut.

b.      Integrasi pendidikan karakter pada semua mata pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan pengelolaan semua bidang urusan sekolah pada contoh tabel di atas memerlukan waktu empat tahun.

 

Salah satu prinsip yang diterapkan dalam merancang pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah adalah prinsip partisipatif. Semua warga sekolah perlu dilibatkan dalam membuat rancangan. Mereka dilibatkan dalam memutuskan apakah pendidikan karakter serentak dimulai pada semua mata pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan bidang urusan sekolah ataukah dimulai pada sebagian saja. Bila dimulai pada beberapa saja, mereka dilibatkan dalam mengidentifikasi dan menetapkan mata pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan bidang urusan sekolah yang implementasinya awal. Selanjutnya mereka didengar gagasannya mengenai tahapan-tahapan implementasi yang layak dan kegiatan-kegiatan dan/atau sumberdaya pendukung apa saja yang perlu ada agar implementasi berjalan dengan baik. Berikut adalah CONTOH FORMAT rancangan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah yang DAPAT dikembangkan lebih lanjut sesuai kebutuhan.

 

 

 

 

RENCANA JANGKA MENENGAH PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER

SMP … TAHUN 2011– 2014

 

A.      Rasional

Uraikan dengan singkat pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter secara terintegrasi ke dalam mata pelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, dan pengelolaan sekolah.

B.      Analisis Kondisi Sekolah

Uraikan dengan singkat kesiapan sekolah mengimplementasikan pendidikan karakter dilihat dari sudut pandang sumberdaya manusia (terutama guru dan staf tata usaha), sumberdaya lainnya (sarana/prasarana/fasilitas sekolah), aspirasi warga sekolah, harapan masyarakat, dan pengalaman sekolah melaksanakan pendidikan karakter hingga saat ini.

C.      Nilai-nilai yang Diintegrasikan

Berdasarkan ketentuan-ketentuan formal yang mengatur pendidikan, aspirasi warga sekolah, dan harapan masyarakat serta pengalaman sekolah melaksanakan pendidikan karakter hingga saat ini, tetapkan nilai-nilai pokok dan nilai-nilai utama yang diintegrasikan.

1.    Nilai-nilai yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran

a. Pendidikan Agama

b. PKn

c. Dst.

2.    Nilai-nilai yang diintegrasikan ke dalam kegiatan kesiswaan

a. Kepramukaan

b. OSIS

c. Dst.

3.    Nilai-nilai yang diintegrasikan ke dalam pengelolaan sekolah

a. Sarana/Prasarana

b. Kesiswaan

c. Dst.

D.     Tahapan Pelaksanaan Pendidikan Karakter

Berdasarkan tingkat kesiapan sekolah mengimplementasikan pendidikan karakter dilihat dari sudut pandang sumberdaya manusia (terutama guru dan staf tata usaha), sumberdaya lainnya (sarana/prasarana/fasilitas sekolah), aspirasi warga sekolah, harapan masyarakat, dan pengalaman sekolah melaksanakan pendidikan karakter, tetapkan tahapan pelaksanaan pendidikan karakter (serentak atau bertahap, dan bila bertahap mulai dari mana).

E.       Kegiatan Pelaksanaan Pendidikan Karakter

Berdasarkan tingkat kesiapan sekolah mengimplementasikan pendidikan karakter dilihat dari sudut pandang sumberdaya manusia (terutama guru dan staf tata usaha), sumberdaya lainnya (sarana/prasarana/fasilitas sekolah), aspirasi warga sekolah, harapan masyarakat, dan pengalaman sekolah melaksanakan pendidikan karakter, tetapkan kegiatan-kegiatan beserta sumber dan besarnya dana serta waktu pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut. (Catatan: butir D dan E sebaiknya dituangkan dalam matriks).

F.       Koordinator

Penanggungjawab pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah adalah kepala sekolah yang dibantu oleh beberapa koordinator, yaitu koordinator pendidikan karakter melalui pembelajaran (wakasek urusan kurikulum), koordinator pendidikan karakter melalui kegiatan pembinaan kesiswaan (wakasek urusan kesiswaan), dan koordinator pendidikan karakter melalui manajemen sekolah (wakasek).

G.     Monitoring dan Evaluasi (teknik, aspek yang evaluasi, pelaksana, waktu pelaksanaan)

H.     Penutup

Uraikan dengan singkat hal-hal yang mungkin menjadi hambatan dan pendukung, solusi terhadap hambatan, dan partisipasi serta koordinasi yang diperlukan.

2.      Rencana tahunan

 

Rencana tahunan pelaksanaan pendidikan karakter disusun berdasarkan rencana jangka menengah. Rencana tahunan merupakan rencana operasional pelaksanaan pendidikan karakter pada tahun yang bersangkutan sesuai dengan tahapan yang direncanakan dalam rencana jangka menengah. Seperti disebutkan di depan, rencana jangka menengah disusun untuk jangka waktu empat tahun dengan setiap tahun memiliki kegiatan/program yang berbeda-beda. Berikut adalah CONTOH FORMAT rencana opereasiona (tahunan) yang sekolah DAPAT adopsi atau kembangkan lebih lanjut.

 

RENCANA OPERASIONAL PELAKSANAAN PENDIDIKAN KARAKTER

SMP … TAHUN …

A.      Rasional

Uraikan dengan singkat bahwa berdasarkan analisis kesiapan sekolah dalam mengimplementasikan pendidikan karakter dilihat dari sudut pandang sumberdaya manusia (terutama guru dan staf tata usaha), sumberdaya lainnya (sarana/prasarana/fasilitas sekolah), aspirasi warga sekolah, harapan masyarakat, dan pengalaman sekolah melaksanakan pendidikan karakter, sekolah pada tahun ini (…) menetapkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter mencakup mata pelajaran apa saja, kegiatan pembinaan kesiswaan apa saja, dan pengelolaan bidang apa saja. Selanjutnya sebutkan kegiatan-kegiatan yang telah dirancang dalam rencana jangka menengah.

B.      Pelaksanaan Pendidikan Karakter Tahun …

Rencana operasional pelaksanaan pendidikan karakter dapat dituangkan dalam CONTOH format berikut:

No.

Jalur Pend. Karakter dan Kegiatan

Tujuan

Sasaran

Waktu

Tempat

Besar Dana

Sumber Dana

Koor-dinator

1.

Pembelajaran

a.    Penyusunan silabus

b.    Penyusunan RPP

c.     Penyiapan bahan ajar dan media

d.    Implementasi di kelas

e.     Penilaian

f.      Monitoring dan evaluasi

g.    Tindak lanjut

2.

Keg. Pembinaan kesiswaan

a.    Penyusunan panduan

b.    Rekrutmen peserta

c.     Dst.

3.

Pengelolaan sekolah

a.    Pengembangan sistem

b.    Sosialisasi sistem

c.     Dst.

C.      Monitoring dan Evaluasi (teknik, aspek yang evaluasi, pelaksana, waktu pelaksanaan)

D.     Penutup

Uraikan dengan singkat hal-hal yang mungkin menjadi hambatan dan pendukung, solusi terhadap hambatan, dan partisipasi serta koordinasi yang diperlukan.

 

Catatan:

 

1.      Rencana jangka menengah dan rencana tahunan (operasional) pelaksanaan pendidikan karakter sesungguhnya tidak perlu dibuat tersendiri, tetapi sebaiknya merupakan kesatuan dari RKS dan RKAS. Namun demikian, karena RKS dan RKAS mungkin telah disusun oleh sekolah sebelum pendidikan karakter dikenalkan kepada sekolah, untuk sementara sekolah dapat menyusun rencana jangka menengah dan rencana operasional terpisah dari RKS dan RKAS.

2.      Pengintegrasian pendidikan karakter berimplikasi pada perlunya revisi KTSP, baik dokumen I maupun dokumen II. Apabila kedua dokumen tersebut belum mengakomodasi atau mencerminkan integrasi pendidikan karakter, maka dokumen tersebut perlu direvisi.

 

C.      Implementasi

Pada tahap perencanaan telah disusun rencana jangka menengah dan rencana operasional (tahunan) pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah. Tahap berikutnya adalah mengimplementasikan rencana operasional dengan mengikuti jadwal sebagaimana tertuang dalam rencana tahunan. Perubahan-perubahan terhadap rencana operasional selama implementasi dapat dilakukan apabila keadaan menghendakinya. Berikut adalah CONTOH pelaksanaan integrasi pendidikan karakter melalui proses pembelajaran.

 

Sebagaimana CONTOH pada rencana operasional di depan (lihat bagian B), pelaksanaan pendidikan karakter terintegrasi dalam proses pembelajaran meliputi proses penyusunan silabus, penyusunan RPP, penyiapan bahan ajar dan media, implementasi di kelas, penilaian, monitoring dan evaluasi, dan tindak lanjut. Oleh karena itu yang pertama-tama dilakukan oleh sekolah/guru adalah menyusun/mengadaptasi silabus yang dilanjutkan menyusun/mengadaptasi RPP, menyusun/mengadaptasi bahan ajar, dan mengembangkan media pembelajaran yang sesuai.

 

1.   Penyusunan silabus, penyusunan RPP, penyiapan bahan ajar dan media

 

a.      Silabus

 

Silabus dikembangkan dengan rujukan utama Standar Isi (Permen Diknas nomor 22 tahun 2006). Silabus memuat SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar yang dirumuskan di dalam silabus pada dasarnya ditujukan untuk memfasilitasi peserta didik menguasai SK/KD. Agar juga memfasilitasi terjadinya pembelajaran yang membantu peserta didik mengembangkan karakter, setidak-tidaknya perlu dilakukan perubahan pada tiga komponen silabus berikut:

 

1)         Penambahan kolom (komponen) dalam silabus, yaitu kolom (komponen) karakter di antara kolom KD dan materi pembelajaran.

2)         Penambahan dan/atau modifikasi kegiatan pembelajaran sehingga ada kegiatan pembelajaran yang mengembangkan karakter

3)         Penambahan dan/atau modifikasi indikator pencapaian sehingga ada indikator yang terkait dengan pencapaian peserta didik dalam hal karakter

4)         Penambahan dan/atau modifikasi teknik penilaian sehingga ada teknik penilaian yang dapat mengembangkan dan/atau mengukur perkembangan karakter

 

Penambahan kolom (komponen) karakter dimaksudkan agar nilai-nilai karakter terencana dengan baik pengintegrasiannya dalam pembelajaran. Penambahan dan/atau adaptasi kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian, dan teknik penilaian harus memperhatikan kesesuaiannya dengan SK dan KD yang harus dicapai oleh peserta didik dan karakter yang hendak dikembangkan. Kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian, dan teknik penilaian yang ditambahkan dan/atau hasil modifikasi tersebut harus bersifat lebih memperkuat pencapaian SK dan KD dan sekaligus mengembangkan karakter. Contoh model silabus yang dimaksud dapat dilihat pada Lampiran 1.

 

b.      RPP

 

RPP disusun berdasarkan silabus yang telah dikembangkan oleh sekolah. RPP secara umum tersusun atas SK, KD, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian. Seperti yang terumuskan pada silabus, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian yang dikembangkan di dalam RPP pada dasarnya dipilih untuk menciptakan proses pembelajaran untuk mencapai SK dan KD. Oleh karena itu, agar RPP memberi petunjuk pada guru dalam menciptakan pembelajaran yang berwawasan pada pengembangan karakter, RPP tersebut perlu diadaptasi. Seperti pada adaptasi terhadap silabus, adaptasi yang dimaksud antara lain meliputi:

 

1)      Penambahan dan/atau modifikasi tujuan pembelajaran sehingga pembelajaran tidak hanya membenatu peserta didik mencapai KD, tetapi juga mengembangkan karakternya

2)      Penambahan dan/atau modifikasi kegiatan pembelajaran sehingga ada kegiatan pembelajaran yang mengembangkan karakter

3)      Penambahan dan/atau modifikasi indikator pencapaian sehingga ada indikator yang terkait dengan pencapaian peserta didik dalam hal karakter

4)      Penambahan dan/atau modifikasi teknik penilaian sehingga ada teknik penilaian yang dapat mengembangkan dan/atau mengukur perkembangan karakter

 

Contoh model RPP dapat dilihat pada Lampiran 2.

 

c.       Bahan ajar

 

Bahan ajar merupakan komponen pembelajaran yang paling berpengaruh terhadap apa yang sesungguhnya terjadi pada proses pembelajaran. Banyak guru yang mengajar dengan semata-mata mengikuti urutan penyajian dan kegiatan-kegiatan pembelajaran (task) yang telah dirancang oleh penulis buku ajar, tanpa melakukan adaptasi yang berarti.

 

Melalui program Buku Sekolah Elektronik atau buku murah, dewasa ini pemerintah telah membeli hak cipta sejumlah buku ajar dari hampir semua mata pelajaran yang telah memenuhi kelayakan pemakaian berdasarkan penilaian BSNP dari para penulis/penerbit. Guru wajib menggunakan buku-buku tersebut dalam proses pembelajaran. Untuk membantu sekolah mengadakan buku-buku tersebut, pemerintah telah memberikan dana buku teks kepada sekolah melalui dana BOS.

 

Walaupun buku-buku tersebut telah memenuhi sejumlah kriteria kelayakan – yaitu kelayakan isi, penyajian, bahasa, dan grafika – bahan-bahan ajar tersebut masih belum secara memadai mengintegrasikan pendidikan karakter di dalamnya. Apabila guru sekedar mengikuti atau melaksanakan pembelajaran dengan berpatokan pada kegiatan-kegiatan pembelajaran pada buku-buku tersebut, pendidikan karakter secara memadai belum berjalan. Oleh karena itu, sejalan dengan apa yang telah dirancang pada silabus dan RPP yang berwawasan pendidikan karakter, bahan ajar perlu diadaptasi. Adaptasi yang paling mungkin dilaksanakan oleh guru adalah dengan cara menambah kegiatan pembelajaran yang sekaligus dapat mengembangkan karakter. Cara lainnya adalah dengan mengadaptasi atau mengubah kegiatan belajar pada buku ajar yang dipakai.

 

Sebuah kegiatan belajar (task), baik secara eksplisit atau implisit terbentuk atas enam komponen. Komponen-komponen yang dimaksud adalah:

 

1)      Tujuan

2)      Input

3)      Aktivitas

4)      Pengaturan (setting)

5)      Peran guru

6)      Peran peserta didik

 

Dengan demikian, perubahan/adaptasi kegiatan belajar yang dimaksud menyangkut perubahan pada komponen-komponen tersebut.

 

Secara umum, kegiatan belajar yang potensial dapat mengembangkan karakter peserta didik memenuhi prinsip-prinsip atau kriteria berikut.

 

1)      Tujuan

 

Dalam hal tujuan, kegiatan belajar yang menanamkan nilai adalah apabila tujuan kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga sikap/karakter. Oleh karenanya, guru perlu menambah orientasi tujuan setiap atau sejumlah kegiatan belajar dengan pencapaian sikap atau nilai tertentu, misalnya kejujuran, rasa percaya diri, kerja keras, saling menghargai, dan sebagainya.

 

2)      Input

 

Input dapat didefinisikan sebagai bahan/rujukan sebagai titik tolak dilaksanakannya aktivitas belajar oleh peserta didik. Input tersebut dapat berupa teks lisan maupun tertulis, grafik, diagram, gambar, model, charta, benda sesungguhnya, film, dan sebagainya. Input yang dapat memperkenalkan nilai-nilai adalah yang tidak hanya menyajikan materi/pengetahuan, tetapi yang juga menguraikan nilai-nilai yang terkait dengan materi/pengetahuan tersebut.

 

3)      Aktivitas

 

Aktivitas belajar adalah apa yang dilakukan oleh peserta didik (bersama dan/atau tanpa guru) dengan input belajar untuk mencapai tujuan belajar. Aktivitas belajar yang dapat membantu peserta didik menginternalisasi nilai-nilai adalah AKTIVITAS-AKTIVITAS BELAJAR AKTIF yang antara lain mendorong terjadinya autonomous learning dan berpusat pada peserta didik. Pembelajaran yang memfasilitasi autonomous learning dan berpusat pada siswa secara otomatis akan membantu siswa memperoleh banyak nilai. Contoh-contoh aktivitas belajar yang memiliki sifat-sifat demikian antara lain diskusi, eksperimen, pengamatan/observasi, debat, presentasi oleh siswa, dan mengerjakan proyek. Salah satu pendekatan yang dianjurkan adalah Contextual Teaching and Learning.

 

4)      Pengaturan (setting)

 

Pengaturan (setting) pembelajaran berkaitan dengan kapan dan di mana kegiatan dilaksanakan, berapa lama, apakah secara individu, berpasangan, atau dalam kelompok. Masing-masing setting berimplikasi terhadap nilai-nilai yang terdidik. Setting waktu penyelesaian tugas yang pendek (sedikit), misalnya akan menjadikan peserta didik terbiasa kerja dengan cepat sehingga menghargai waktu dengan baik. Sementara itu kerja kelompok dapat menjadikan siswa memperoleh kemampuan bekerjasama, saling menghargai, dan lain-lain.

 

5)      Peran guru

 

Peran guru dalam kegiatan belajar pada buku ajar biasanya tidak dinyatakan secara eksplisit. Pernyataan eksplisit peran guru pada umumnya ditulis pada buku petunjuk guru. Karena cenderung dinyatakan secara implisit, guru perlu melakukan inferensi terhadap peran guru pada kebanyakan kegiatan pembelajaran apabila buku guru tidak tersedia.

 

Peran guru yang memfasilitasi diinternalisasinya nilai-nilai oleh siswa antara lain guru sebagai fasilitator, motivator, partisipan, dan pemberi umpan balik. Mengutip ajaran Ki Hajar Dewantara, guru yang dengan efektif dan efisien mengembangkan karakter siswa adalah mereka yang ing ngarsa sung tuladha (di depan guru berperan sebagai teladan/memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah-tengah peserta didik guru membangun prakarsa dan bekerja sama dengan mereka), tut wuri handayani (di belakang guru memberi daya semangat dan dorongan bagi peserta didik).

 

6)      Peran peserta didik

 

Seperti halnya dengan peran guru dalam kegiatan belajar pada buku ajar, peran siswa biasanya tidak dinyatakan secara eksplisit juga. Pernyataan eksplisit peran siswa pada umumnya ditulis pada buku petunjuk guru. Karena cenderung dinyatakan secara implisit, guru perlu melakukan inferensi terhadap peran siswa pada kebanyakan kegiatan pembelajaran.

 

Agar peserta didik terfasilitasi dalam mengenal, menjadi peduli, dan menginternalisasi karakter, peserta didik harus diberi peran aktif dalam pembelajaran. Peran-peran tersebut antara lain sebagai partisipan diskusi, pelaku eksperimen, penyaji hasil-hasil diskusi dan eksperimen, pelaksana proyek, dsb.

 

Contoh bahan ajar yang mengintegrasikan pendidikan karakter dapat dilihat pada Lampiran 3.

 

d.     Media pembelajaran

 

Untuk membantu peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan dan mengembangkan karakternya, perlu dikembangkan dan digunakan media pembelajaran yang sesuai. Media yang dimaksud dapat berupa alat yang sederhana dengan memanfaatkan benda-benda yang tersedia di sekitar sekolah, lingkungan alam sekitar sekolah, hingga multimedia interaktif dengan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

 

Media yang dipilih guru hendaknya yang sekaligus mengembangkan karakter. Sebagai contoh, ketika guru mengembangkan media dari barang-barang bekas, peserta didik akan mengembangkan kreativitas dan cinta lingkungan. Saat guru memtuskan menggunakan multimedia interaktif, peserta didik mungkin akan mengembangkan kemandirian.

 

2.   Implementasi di kelas

 

Setelah silabus, RPP, bahan ajar, dan media pembelajaran dikembangkan, tahap selanjutnya adalah mengimplementasikannya di dalam kelas. Pada tahap ini aktivitas-aktivitas belajar yang telah dirancang dalam silabus dan RPP yang telah secara rinci dituangkan dalam bahan/buku ajar dilaksanakan. Walaupun tidak dimaksudkan untuk secara kaku mengikuti rencana yang telah disusun, guru hendaknya secara ‘bertanggungjawab’ melaksanakan rencana pembelajarannya. Selama ini banyak guru yang seolah-olah memandang bahwa silabus dan RPP adalah sekedar memenuhi ketentuan administrasi, dan proses pembelajaran di dalam kelas tidak perlu sesuai dengan silabus dan RPP. Apabila hal yang demikian ini terus berlanjut, pendidikan karakter melalui pembelajaran akan kurang berhasil. Silabus, RPP, dan bahan ajar yang telah disiapkan untuk pendidikan karakter yang terintegrasi harus benar-benar diimplementasikan di dalam kelas dengan guru sebagai model insan yang berkarakter (dengan falsafah ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani).

 

3.   Penilaian

 

Pada dasarnya authentic assessment dianjurkan untuk diterapkan. Teknik dan instrumen penilaian yang dipilih dan dilaksanakan tidak hanya mengukur pencapaian akademik/kognitif siswa, tetapi juga mengukur perkembangan kepribadian siswa. Bahkan perlu diupayakan bahwa teknik penilaian yang diaplikasikan mengembangkan kepribadian siswa sekaligus.

 

Pedoman penilaian untuk lima kelompok mata pelajaran yang diterbitkan oleh BSNP (2007) menyebutkan bahwa sejumlah teknik penilaian dianjurkan untuk dipakai oleh guru menurut kebutuhan. Tabel berikut menyajikan teknik-teknik penilaian yang dimaksud dengan bentuk-bentuk instrumen yang dapat dikembangkan oleh guru.

 

Tabel: Teknik dan bentuk instrumen penilaian

 

Teknik Penilaian

Bentuk Instrumen

Tes Tertulis
  •  Pilihan ganda
  •  Benar-salah
  •  Menjodohkan
  •  Pilihan singkat
  •  Uraian
Tes Lisan
  •  Daftar pertanyaan
Tes Kinerja
  • Tes tulis keterampilan
  • Tes identifikasi
  • Tes simulasi
  • Tes uji petik kerja
Penugasan individual atau kelompok
  • Pekerjaan rumah
    • Proyek
Observasi
  • Lembar observasi/lembar pengamatan
Penilaian portofolio
  • Lembar penilaian portofolio
Jurnal
  • Buku catatan jurnal
Penilaian diri
  • Lembar penilaian diri/kuesioner
Penilaian antarteman
  • Lembar penilaian antarteman

 

Di antara teknik-teknik penilaian tersebut, beberapa dapat digunakan untuk menilai pencapaian peserta didik baik dalam hal pencapaian akademik maupun kepribadian. Teknik-teknik tersebut terutama observasi (dengan lembar observasi/lembar pengamatan), penilaian diri (dengan lembar penilaian diri/kuesioner), dan penilaian antarteman (lembar penilaian antarteman).

Nilai karakter peserta didik dinyatakan secara kualitatif. Nilai peserta didik menggambarkan perkembangan karakter yang bersangkutan pada saat penilaian dilakukan. Nilai tersebut merupakan dasar bagi guru untuk memberikan pembinaan lebih lanjut agar peserta didik yang bersangkutan mengembangkan karakternya hingga optimal. Berikut adalah contoh sebutan-sebutan nilai yang merupakan representasi perkembangan karakter peserta didik:

 

MK/A = Membudaya (apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara  konsisten)

MB/B = Mulai Berkembang (apabila peserta didik sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten)

MT/C =  Mulai Terlihat (apabila peserta didik sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten)

BT/D =   Belum Terlihat (apabila peserta didik belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator).

 

 

D.      Monitoring dan Evaluasi

 

Pelaksanaan pendidikan karakter baik melalui proses pembelajaran, kegiatan pembinaan kesiswaan, maupun pengelolaan sekolah perlu dimonitor dan dievaluasi setidak-tidaknya setahun sekali. Tujuan umum dari kegiatan ini antara lain adalah untuk mengetahui:

 

1.      kesesuaian pelaksanaan pendidikan karakter dengan jadwal,

2.      hambatan-hambatan yang mungkin dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan karakter dan solusi yang perlu diupayakan,

3.      hal-hal yang mendukung pelaksanaan pendidikan karakter,

4.      perubahan-perubahan yang dilakukan selama pelaksanaan pendidikan karakter,

5.      tingkat ketercapaian dari target-target pendidikan karakter yang telah dirumuskan, dan

6.      praktik-praktik yang baik dalam tingkat ketercapaian dari target-target pendidikan karakter yang telah dirumuskan.

 

Untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi perlu dibuat panduan singkat yang setidak-tidaknya memuat tujuan, sasaran, komponen/aspek yang domonitor dan dievaluasi, waktu pelaksanaan, pelaksana, instrumen pengumpul data, dan teknis analisis data.

 

Komponen/aspek yang domonitor dan dievaluasi dan instrumen pengumpul data biasanya berbeda-beda antara monitoring dan evaluasi untuk pelaksanaan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam pembelajaran, kegiatan kesiswaan, dan manajemen sekolah.

 

Hasil monitoring dan evaluasi dilaporkan dan selanjutnya digunakan untuk merancang pelaksanaan pendidikan karakter pada tahun berikutnya.

 

 

 

Lampiran

 

Lampiran 1: Contoh model silabus

Lampiran 2: Contoh model RPP

Lampiran 3: Contoh bahan ajar yang mengintegrasikan pendidikan karakter


Email:

rppguswur@gmail.com

Belajar Inggris

BelajarInggris.Net 250x250

Blog Stats

  • 2,644,410 hits

Pengunjung

free counters

blogstat

Alexa Certified Site Stats for www.aguswuryanto.wordpress.com

Incoming traffic

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 200 other followers