Belajar jadi Guru

Archive for the ‘Sertifikasi’ Category


Kami ucapkan selamat bagi rekan-rekan guru yang sudah masuk daftar nominasi peserta sertifikasi guru tahun 2011. Sedikit bantuan sesama rekan seprofesi untuk persiapan PLPG anda, kami unggah materi tentang Micro Teaching.

Berdasarkan pengalaman pribadi  waktu mengikuti PLPG dulu,  kelas praktek mengajar inilah yang membuat nervous alias grogi berat para peserta PLPG. Walaupun kita sudah mengajar lebih dari 12 tahun di sekolah, ketika praktek mengajar di PLPG ternyata banyak yang “kacau dan balau”,  he he he.

Bahkan, saya teringat, ada rekan peserta yang sudah sangat senior, usianya hampir 50 tahun, hampir tidak bisa mengeluarkan suara di kelas  praktek mengajar. Beliau hanya memberi salam pembuka, membagi LKS  dan berdiam diri hampir 20 menit dari 30 menit waktu yang dialokasikan.Betul-betul hell weeks.

Alhasil, di kelas kami saat itu, hanya 7 peserta dari 24 peserta yang diwisuda.

Micro teaching membutuhkan persiapan yang tidak sedikit. RPP yang “mantap” menurut instrukturnya, media pembelajaran pendukung (yang berbasis ICT biasanya dinilai lebih oleh instruktur), serta yang tak kalah pentingnya adalah PERSIAPAN MENTAL DAN SPIRITUAL.

Silahkan didownload materi berikut ini :

Micro Teaching

Ketrampilan Mikro

Kasus Micro

 

Sumber : Materi PLPG Rayon 14 UNS Solo


Menurut informasi yang beredar, pola pengajuan sertifikasi guru kuota 2011 agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa poin yang agak berbeda adalah:

1. Setelah guru dinyatakan masuk daftar tetap nominasi kuota tahun 2011 disebuah kabupaten, guru tersebut diminta untuk menghitung sendiri skor dirinya. Apabila setelah dihitung, skornya 850 atau lebih maka guru yang bersangkutan dipersilahkan menyusun portofolio untuk dinilaikan, apabila skor kurang dari 850, maka dipersilahkan untuk mendaftar PLPG.

2. PLPG akan berlangsung selama 20 hari.

Sedangkan untuk guru baru, harus mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), adapun tentang pelaksanaan PPG dapat dilihat pada lampiran dibawah ini

Download:

1. Cover Buku Panduan PPG

2. Pengantar Buku Panduan PPG

3. Panduan PPG


PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

SEKOLAH DASAR NEGERI 01 MENJING KECAMATAN JENAWI

KABUPATEN KARANGANYAR

TAHUN PELAJARAN 2009/2010

A. JUDUL PENELITIAN

PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN  BAHASA INDONESIA STANDAR KOMPETENSI MENULIS KOMPETENSI DASAR MENGISI FORMULIR DENGAN BENAR MELALUI PENERAPAN PENDEKATAN  KONTEKSTUAL PADA SISWA  KELAS VI SD NEGERI 01 MENJING JENAWI SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2009/2010

B. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Sekolah memiliki peranan dan tanggung jawab yang sangat penting dalam mempersiapkan warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan adalah menyelenggarakan program pendidikan yang memberikan berbagai kemampuan sebagai seorang warga negara melalui berbagai mata pelajaran termasuk salah satunya Pendidikan Bahasa Indonesia.

Kemampuan dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar yang dicantumkan dalam Standar Nasional merupakan bahan minimal yang harus dikuasai siswa. Oleh karena itu, di daerah, sekolah atau guru dapat mengembangkan, menggabungkan, atau menyesuaikan bahan yang disajikan dengan situasi dan kondisi setempat. Realitanya hasil belajar siswa dalam materi Pendidikan Bahasa Indonesia belum menunjukkan hasil yang diinginkan.

Salah satu Standar kompetensi yang masih rendah hasil capaiannya adalah menulis. Dari empat  standar kompetensi menulis yang yang harus dikuasai siswa,  kompetensi dasar yang rendah capaiaanya adalah kompetensi Mengisi Formulir dengan benar.  Kondisi rendahnya hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar  tercermin juga dalam hasil belajar siswa pada siswa kelas  SD 01 Menjing Jenawi. Hal itu dapat diketahui dari rata-rata nilai harian siswa. Pada dua kali ulangan harian yang diadakan guru dengan kompetensi dasar mengisi formulir dengan benar menunjukkan rata-rata kurang dari nilai 70. Dari ulangan harian yang pernah dilakukan, + 60 % siswa mendapatkan nilai dibawah 70,00. Angka-angka tersebut dapat diartikan, bahwa pemahaman siswa terhadap kompetensi dasar tersebut relatif masih rendah.

Secara tidak disadari, karena rutinitas tugasnya mengakibatkan guru tidak begitu menghiraukan/peduli apakah siswanya telah atau belum memperoleh pengalaman belajar yang bermakna. Sejauh mana siswa telah mengerti (understanding) dan tidak hanya sekedar tahu (knowing), tentang konsep Pendidikan Bahasa Indonesia yang sudah disampaikan dalam proses pembelajaran? Rutinitas yang dilakukan para guru tersebut meliputi penggunaan metode pembelajaran yang cenderung monoton yaitu kapur dan tutur (chalk-and-talk), kurangnya pelaksanaan evaluasi selama proses kegiatan belajar dan mengajar (KBM) berlangsung, serta kecenderungan penggunaan soal-soal bentuk pilihan ganda murni pada waktu ulangan harian maupun ulangan sumatif tiap akhir semester.

Sebelum penelitian dilakukan guru memang belum mengoptimalkan metode kontekstual. Guru baru sebatas memanfaatkan metode ceramah serta penugasan (PR) kepada siswa. Kalaupun ada penugasan, siswa hanya di beri pekerjaan rumah yang dinilai secara individual oleh guru tanpa didiskusikan di kelas. Secara operasional, guru menjelaskan materi kepada siswa kemudian memberikan contoh-contoh di papan tulis. Setelah selesai menerangkan materi, guru menyuruh siswa untuk mengerjakan soal.

Kenyataan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar yang rendah tersebut perlu diperbaiki sebab Pendidikan Bahasa Indonesia termasuk mata pelajaran inti dengan nilai minimum ketuntasan belajar 70. Untuk itu perlu dicoba pendekatan/metode pembelajaran lain. Dari penelusuran pustaka tentang berbagai metode yang ada, penulis menemukan bahwa metode  kontekstual diperkirakan mampu mengatasi permasalahan tersebut diatas.

Dari uraian di atas, kerangka pemikiran penulis adalah  bahwa rendahnya nilai mata pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia dikarenakan siswa kurang memahami konsep mengisi formulir dengan benar yang selama ini hanya diajarkan guru melalui metode ceramah. Salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah pelaksanaan kegiatan tindak lanjut berupa pengajaran dengan menerapkan metode kontekstual. Hal itu dimaksudkan agar siswa dapat mudah memahami dan menerima materi yang disampaikan guru yang secara tidak langsung memberi penekanan agar siswa memperhatikan penjelasan guru dan pada akhirnya siswa akan lebih memahami konsep mengisi formulir dengan benaryang dipelajarinya. Dengan demikian adanya pemahaman konsep tersebut maka akan dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa dan akhirnya akan dapat mengatasi rendahnya hasil belajar siswa.

2.      Rumusan Masalah

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman di lapangan terungkap bahwa guru belum memberdayakan seluruh metode pembelajaran yang ada. Hal ini disebabkan karena dalam mengajar mereka yang terpenting adalah materi pelajaran dapat disampaikan secara keseluruhan sesuai dengan alokasi waktunya. Dengan demikian penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

Apakah melalui penerapan pendekatan  kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar ?

3. Tujuan Penelitian

1.    Tujuan Umum

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar bagi siswa SD Negeri 01 Menjing Kecamatan Jenawi .

2.    Tujuan Khusus

Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar melalui penerapan metode kontekstual bagi siswa kelas VI semester I SD Negeri  01 Menjing Kecamatan Jenawi tahun pelajaran 2009/2010.

4.  Manfaat Penelitan

Dalam mengadakan penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam menjawab masalah yang dihadapi di sekolah dalam mengajar mata pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia. Oleh sebab itu penulis secara rinci mengemukakan manfaat penelitian ini adalah mendorong guru untuk menggunakan metode kontekstual dengan manfaat:

1.    Manfaat Teoritis

a.   Mendapatkan pengetahuan atau teori baru tentang upaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar melalui penerapan metode kontekstual bagi siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Menjing Kecamatan JenawiJenawi.

b.    Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan bahan acuan bagi penelitian selanjutnya.

2.    Manfaat Praktis

a.    Manfaat bagi Siswa

Meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar bagi siswa kelas VI Sekolah Dasar Negeri 01 Menjing Kecamatan Jenawi

b.    Manfaat bagi Guru

Melatih guru dalam memodifikasi sekaligus menerapkan berbagai metode pembelajaran sekaligus dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

c.   Manfaat bagi Sekolah

Memberikan pengetahuan umum tentang penerapan metode kontekstual dalam proses pembelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar sehingga dapat dijadikan pedoman guru lain.

d.    Manfaat bagi Perpustakaan Sekolah

Menambah khasanah perpustakaan sekolah tentang upaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam materi mengisi formulir dengan benar melalui penerapan metode kontekstual.


C. KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

1.  Kajian Teori

a.1.  Keterampilan Menulis

a.1.1. Hakikat Menulis

Menulis merupakan suatu aktivitas komunikasi bahasa yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Tulisan itu terdiri atas rangkaian huruf yang bermakna dengan segala kelengkapan lambang tulisan seperti ejaan dan pungtuasi. Seseorang bisa disebut sebagai penulis karena memiliki kemahiran menuangkan secara tertulis ide, gagasan, dan perasaan dengan  runtut. Apa yang dituliskan mengandung arti dan manfaat yang membuat orang lain merasa perlu membaca dan menikmatinya. (Sabarti Akhadiah, dkk, 2001: 1.3)

Ketika menulis, yang digunakan adalah simbul-simbul grafis, yaitu huruf-huruf atau kumpulan huruf yang berhubungan. Pada kenyataannya, dapat ditegaskan bahwa menulis itu lebih dari sekedar produksi simbul-simbul grafis. Simbul-simbul tersebut harus disusun menurut kaidah-kaidah tertentu untuk membentuk kata-kata dan kata-kata itu harus disusun menjadi kalimat. (Donn Byrne, 1988: 1).

Menulis merupakan suatu proses. Proses itu merupakan sesuatu yang kompleks. Berbagai masalah dapat timbul secara simultan sehingga seorang penulis perlu memiliki pemahaman yang lebih baik untuk menciptakan proses kerja yang efektif sehingga menghasilkan tulisan yang baik. (Tricia Hedge, 1988: 19).

Berdasarkan uraian  di atas dapat disimpulkan bahwa dalam kegiatan menulis diperlukan suatu keterampilan dalam pengorganisasian ide-ide ke dalam bentuk tulisan yang runtut dan padu. Dalam tulisan tersebut harus diperhatikan kaidah-kaidah penulisannya.

Menulis adalah sebuah keterampilan berbahasa yang terpadu, yang ditujuakan untuk menghasilkan sesuatu yang disebut tulisan. Sekurang-kurangnya, ada tiga komponen yang tergabung dalam perbuatan menulis, yaitu: (1) penguasaan bahasa tulis, meliputi kosakata, struktur, kalimat, paragraf, ejaan, pragmatik, dan sebagainya; (2) penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis, dan (3) penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esei, artikel, cerita pendek, makalah, dan sebagainya. (Khaerudin Kurniawan, http:// http://www.ialf.edu/kipbipa/papers/khaherudinkurniawan.doc.)

Menulis adalah bentuk keterampilan dan pengetahuan yang banyak melibatkan kemampuan siswa. Dalam sebuah tulisan terkandung ide sang penulis untuk disampaikan kepada orang lain. Ketika akan menyampaikan ide, penulis harus mampu mencari kata bahasa yang dapat dimengerti orang lain, baik dari sisi urutan kata-kata maupun bentuk kalimat. Dengan begitu, pengetahuan penulis (dalam hal ini siswa)  dapat dibaca atau dipahami orang lain. ( Gerbang, 2005: 45).

Tulisan yang efektif harus mengandung unsur-unsur: singkat, jelas, tepat, aliran logika lancar, serta kohern. Artinya, dalam tulisan itu tidak perlu menambahkan hal-hal di luar isi pokok tulisan, tidak mengulang-ulang yang sudah dijelaskan (redudant), tidak mempunyai arti ganda (ambiguous, dan paparan ide pokok didukung oleh penjelasan dan simpulan. Ide-ide pokok tersebut saling berkaitan, mendukung ide utama sehingga seluruh bagian tulisan merupakan kesatuan yang saling berhubungan atau bertautan (cohernce). (Etty Indriyati, 2002, 34).

Berdasarkan hakikat menulis di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis tidak hanya sekedar menuangkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana tulisan itu dapat dipahami oleh pembaca.

a.1.2. Pembelajaran  Menulis

Siswa mempelajari bahasa sebagai alat komunikasi lebih daripada sekedar pengetahuan tentang bahasa. Pembelajaran bahasa, selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa dan bersastra, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar serta kemampuan memperluas wawasan. Selain itu, juga diarahkan untuk mempertajam perasaan siswa. Siswa tidak hanya diharapkan mampu memahami informasi yang disampaikan secara lugas atau langsung, tetapi juga yang disampaikan secara terselubung atau secara tidak langsung. Siswa tidak hanya pandai dalam bernalar, tetapi memiliki kecakapan di dalam interaksi sosial dan dapat menghargai perbedaan baik di dalam hubungan antarindividu maupun di dalam kehidupan bermasyarakat, yang berlatar dengan berbagai budaya dan agama. ( Depdiknas: 2003: 4)

Agar siswa mampu berkomunikasi, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk membekali siswa terampil berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, tidak dituntut untuk menguasai pengetahuan tentang bahasa.

Yang perlu ditandaskan adalah pelajaran menulis haruslah dipentingkan dan diberi waktu secara cukup dan diberikan secara tetap. Jika tidak, berarti guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih berbahasa secara tertulis, yang sangat berguna dalam kehidupannya kelak.

Mengingat pentingnya menulis, dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah perlu lebih diefektifkan. Dengan diajarkan materi menulis tersebut diharapkan siswa mempunyai keterampilan yang lebih baik. (Pusbuk, 2005: 30) Seseorang yang dapat membuat suatu tulisan dengan baik  berarti ia telah menguasai tata bahasa, mempunyai perbendaharaan kata, dan mempunyai kemampuan menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Dengan demikian, tulisan siswa dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan siswa dalam pelajaran bahasa Indonesia.

Untuk mengetahui atau mengukur kualitas tulisan (selain diukur oleh guru lewat instrumen penilaian), siswa bisa mengikuti lomba menulis artikel antarpelajar. Dengan mengikuti lomba tersebut, siswa (guru) dapat mengetahui sejauh mana mutu tulisan yang dihasilkan.

b.1. Metode Pembelajaran Contextual Teaching and Learning

b.1.1. Pengertian Metode Pembelajaran

Menurut Seels and Richey (1994 : 32) metode pembelajaran adalah spesifikasi untuk menyeleksi dan mengurutkan peristiwa atau langkah-langkah dalam sebuah pembelajaran. Snelbecker (1982 : 115) mengemukakan metode pembelajaran adalah suatu cara yang dilakukan oleh guru untuk melaksanakan suatu proses pembelajaran dengan memahami perbedaan karakteristik dan kemampuan siswa, sehingga diharapkan guru dapat membantu kesulitan belajar siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa harus diusahakan dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran, artinya guru harus mampu memahami bahwa di antara siswa terdapat perbedaan-perbedaan karakteristik. Hal itu karena siswa berasal dari kondisi ekonomi dan kemampuan orang tua yang berbeda, sehingga dalam mengikuti proses pembelajaran terdapat perbedaan pula.

Dengan memahami perbedaan karakteristik siswa, dalam proses pembelajaran, oleh guru dapat menentukan dan memilih metode pembelajaran yang sesuai, guru dapat memberikan suatu perlakuan, dan penilaian, serta keputusan yang tepat kepada siswa, sehingga siswa merasa dirinya dihargai dan diperhatikan dalam proses pembelajaran tersebut. Proses pembelajaran merupakan sistem yang terdiri atas beberapa komponen seperti siswa, guru, dan metode, serta materi pembelajaran yang saling berinteraksi datam mencapai tujuan. Dalam menyajikan materi pembelajaran guru perlu menentukan dan memilih metode pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Metode pembelajaran yang tepat adalah metode yang mampu membangkitkan motivasi belajar siswa.

Menurut Muhibbin Syah (1995 : 190) metode pembelajaran adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai suatu tujuan. Semakin baik metode pembelajaran maka semakin efektif pula pencapaian tujuan. Untuk menetapkan lebih dahulu apakah suatu metode pembelajaran disebut baik, diperlukan ketentuan yang bersumber dari beberapa faktor. Adapun faktor utama yang menentukan adalah tujuan yang akan dicapai. Metode pembelajaran di dalam kelas selain faktor tujuan, juga faktor murid, faktor situasi, dan faktor guru ikut menentukan efektif tidaknya suatu metode pembelajaran.

Menurut Wasty Soemanto (1998 : 102) metode pembelajaran merupakan salah satu cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan komunikasi dengan siswa pada saat berlangsungnya pembelajaran. Oleh karena itu, peranan metode pembelajaran sebagai alat untuk menciptakan proses pembelajaran. Dengan metode pembelajaran diharapkan terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru harus dapat menumbuhkan kegiatan belajar siswa, serta menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi.

b.1.2. Metode Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning

Contextual Teaching and Learning (CTL) atau metode kontekstual adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat monerapkannya daiam kehidupan mereka (Wina Sanjaya, 2006: 109).

Dari konsep tersebut ada tiga hal yang harus dipahami. Pertama, menekankan kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks metode kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.

Kedua, metode kontekstual mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.

Ketiga, metode kontekstual mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya metode kontekstual bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam konteks metode kontekstual bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata.

Untuk mencapai kompetensi yang sama dengan menggunakan metode kontekstual guru melakukan langkah-langkah pembelajaran seperti di bawah ini:

a.  Pendahuluan

1)    Guru menjelaskan kompetensi yang hams dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.

2)    Guru menjelaskan prosedur pembelajaran kontekstual:

a)    Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa;

b)    Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi, misalnya kelompok 1 dan 2 mengobservasi kegiatan A, dan kelompok 3 dan 4 mengobservasi kegiatan B;

c)    Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan pada masing-masing kegiatan tersebut.

3)    Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa

b. Inti di Lapangan

1)    Siswa melakukan observasi sesuai dengan pembagian tugas kelompok.

2)    Siswa mencatat hal-hal yang mereka temukan sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya.

Di dalam Kelas

1)    Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.

2)    Siswa melaporkan hasil diskusi.

3)    Setiap kelompok mynjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain.

c.   Penutup

1)    Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil observasi sekitar masalah demokrasi sesuai dengan indikator hasil belajar yang harus dicapai.

2)    Guru menugaskan siswa untuk membuat rangkuman tentang pengalaman belajar mereka dengan materi demokrasi.

Hal yang dapat ditangkap dari pembelajaran dengan menggunakan metode kontekstual adalah pada metode kontekstual untuk mendapatkan kemampuan pemahaman konsep anak mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi dari guru, akan tetapi kelas digunakan untuk saling membelajarkan.

b.1.3.  Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Kontekstual

Sudah dijelaskan bahwa menulis tidak hanya sekedar menuangkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan, tetapi yang terpenting adalah bagaimana tulisan itu dapat dipahami oleh pembaca. Pembelajaran menulis perlu ditekankan pada segi-segi praktis, bukan teoretis. Dengan diterapkannya pendekatan kontekstual, peranan siswa dalam pembelajaran menulis menjadi lebih  diberdayakan.

Peranan pembelajar (siswa) dalam pembelajaran bahasa ( menulis) adalah:

1) Siswa dapat melaksanakan program pembelajaran mereka sendiri. Dengan  demikian, pada akhirnya mereka memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang  mereka lakukan di kelas.

2) Siswa dapat memantau dan mengevaluasi kemajuan mereka sendiri.

3) Siswa adalah anggota suatu kelompok dan belajar dengan berinteraksi  dengan yang lain-lainnya.

4) Siswa dapat berperan sebagai tutor bagi siswa  lainnya.

5) Siswa dapat saling bertukar pemikiran atau mendapatkan pengetahuan dari  siswa lainnya, dari guru, atau dari sumber materi pembelajaran. (Depdiknas, 2004g: 77).

Pandangan konstruktivisme berpendapat bahwa manusia mengonstruksi sendiri pengetahuan yang diperolehnya berdasarkan pada skemata atau prior knowledge yang dimilikinya. Oleh sebab itu, kemajemukan cara memperoleh pengetahuan dan memerikan sesuatu sah adanya. Konstruktivisme sangat menghargai kemajemukan dan tidak menyarankan keseragaman. (Depdiknas, 2004g: 26).

Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian khusus agar proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat berlangsung secara optimal, di antaranya: 1) perlu mengubah kebiasaan siswa yang terbiasa pasif sebagai penerima materi pelajaran dari guru menjadi siswa yang aktif. Mengubah paradigma  belajar siswa ini bukan merupakan hal yang mudah. 2) Perlu memotivasi siswa agar mau bertanya, memberikan tanggapan atau pendapat yang berkaitan dengan materi pelajaran. 3)Guru perlu ‘memenej’ waktu sebaik-baiknya, misalnya pada saat mengatur kelompok, memajang hasil karya siswa.    (Widya Tama, 2005: 34-35).

Dalam pembelajaran menulis, jam perlajaran yang tersedia hendaknya  dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sedapat mungkin pembelajaran menulis ini harus lebih banyak berupa praktik daripada teori.  Jam pelajaran yang terbatas diimbangi dengan tema tulisan (karangan) yang menarik dan aktual. Pada gilirannya siswa bisa terdorong untuk berlatih menulis di luar jam pelajaran. (Pusbuk, 2005: 31)

Secara garis besar, penerapan pendekatan CTL di dalam kelas dapat dilaksanakan dengan langkah:

1) Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menentukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya!

2) Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik!

3) Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya!

4) Ciptakan ‘masyarakat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok)!

5) Hadirkan ‘model’ sebagai contoh pembelajaran!

6) Lakukan refleksi di akhir pertemuan

7) Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. (Nurhadi, 2004: 106)

  1. 2. Kerangka Berpikir

Yang menjadi fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah hasil pembelajaran bahasa khususnya keterampilan menulis masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Kekurangberhasilan tersebut disebabkan oleh sistem pembelajaran yang masih terpusat pada guru. Siswa kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya. Di samping itu, dari sisi siswa sendiri juga masih terbiasa pasif. Siswa kurang berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

Untuk mengatasi hal ini, perlu diterapkan bentuk  pembelajaran menulis yang lebih memberdayakan siswa, yakni pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

Di dalam pembelajaran kontekstual, terdapat tujuh komponen utama yakni konstruktivisme (Constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic Asessment).

Ketujuh unsur tersebut diterapkan secara intensif di dalam pembelajaran sehingga siswa dapat mengkonstruksikan sendiri pengetahuannya, menemukan sendiri konsep-konsep materi yang sedang dihadapi. Pengetahuan dan keterampilan siswa lebih diberdayakan. Siswa lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan ide-idenya, banyak berlatih, dan praktik. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi ketika siswa sedang belajar menulis, dapat didiskusikan secara kelompok. Bahkan, kelompok satu dapat menilai hasil pekerjaan kelompok yang lain. Siswa mendapatkan model-model pembelajaran yang lebih konkret. Pada akhir pembelajaran, siswa dapat merefleksi terhadap apa yang dipelajarinya.

Dengan demikian, dapat diduga bahwa penggunaan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran dapat mendorong ke arah peningkatan  keterampilan menulis siswa.

Secara lebih konkret, kerangka berpikir dalam penelitian ini adalah berawal dari permasalahan bahwa hasil belajar menulis siswa rendah. Agar hasil belajar menulis siswa meningkat, perlu ditentukan alternatif pemecahannya dengan cara melakukan penelitian tindakan kelas yakni dengan menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menulis. Penelitian tindakan kelas ini direncanakan sebanyak tiga siklus. Pelaksanaan setiap siklus diobservasi, dianalisis, dan direfleksi untuk menentukan perencanaan tindak lanjut pada siklus berikutnya.

Dalam pelaksanaannya, digunakan kerangka berpikir yang dikembangkan oleh Raka Joni, dkk. (dalam Depdiknas, 2004a: 16), yakni mencakup tahap-tahap: 1) pengembangan fokus masalah penelitian, 2) perencanaan tindakan perbaikan, 3) pelaksanaan tidakan perbaikan, observasi, dan interpretasi, 4) analisis dan refleksi, 5) perencanaan tindak lanjut.

Kerangka berpikir tersebut dapat disajikan dalam bagan berikut:

3.   Perumusan Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah diuraikan, dapat diajukan sebuah hipotesis tindakan bahwa dengan menggunakan pendekatan kontekstual, keterampilan menulis siswa kelas VI Sekolah Dasar  Negeri 01 Menjing Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar  dapat meningkat.


D.  METODOLOGI PENELITIAN

1.   Setting Penelitian

1.   Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2009/2010 yaitu minggu Bulan Agustus s.d. November   2009.

  1. Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SD 01 Menjing Jenawi dalam pembelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia siswa kelas VI semester I tahun pelajaran 2009/2010. Alasan penelitian dilaksanakan di sekolah tersebut karena peneliti merupakan Pengawas Sekolah di sekolah tersebut. Di samping itu, dari hasil supervisi guru tentang  analisis hasil belajar siswa pada materi mengisi formulir dengan benar di sekolah tersebut rata-rata rendah.

2.  Subjek Penelitian

Mengingat dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti adalah pengawas sekolah maka subyeknya adalah guru mata pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia dan  siswa kelas VI SD 01 Menjing Jenawi semester I tahun pelajaran 2009/2010 yang terdiri atas 1 guru  dan 40 siswa. Dalam penelitian ini penulis  berperan sebagai kolaborator bagi guru.

3.    Data dan  Sumber Data

Sumber data dalam penelitian tindakan kelas ini berasal dari subyek penelitian yaitu  guru kelas dan siswa kelas VI serta, yang merupakan sumber data primer, yaitu nilai ulangan harian siswa baik nilai ulangan harian sebelum tindakan kelas maupun setelah dilakukanya tindakan kelas oleh guru.

4.   Teknik dan Alat Pengumpulan Data

a.  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dapat berbentuk tes maupun non tes. Namun dalam penelitian tindakan kelas ini yang dipergunakan adalah teknik pengumpulan data berbentuk tes. Pengertian tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Suharsimi, 1996: 138). Adapun tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes prestasi atau achievement test yaitu test yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu (Suharsimi Arikunto, 1996: 139).

Tes diberikan sesudah siswa yang dimaksud mempelajari hal-hal sesuai dengan yang akan diteskan yaitu tes ulangan harian. Mengingat penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas maka juga dipergunakan metode pengamatan (observe). Maksudnya bahwa data dikumpulkan dari hasil kegiatan yang dilaksanakan dari satu siklus ke siklus berikutnya.

b.      Alat Pengumpulan Data

Mengingat teknik yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini berbentuk tes dan observasi, maka alat pengumpulan data yang dipergunakan adalah butir soal tes ketrampilan menulis dalam bentuk uraian dan lembar observasi.

5.   Teknik Validitas Data

Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data dalam penelitian ini adalah  trianggulasi dan review informasi kunci

6.  Teknik  Analisis Data

Teknik analisis data dalam PTK ini bersifat deskriptif analitis. Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data penelitian adalah :

  1. Klasifikasi Data

Klasifikasi data merupakan pengelompokan data berdasarkan kriteria tertentu untuk mencari homogenitas yang diinginkan. Dalam penelitian ini klasifikasi digunakan untuk mengelompokkan hasil belajar siswa dari kegiatan penerapan metode kontekstual.

  1. 2.     Penafsiran Data

Penafsiran data bertujuan untuk mengambil kesimpulan sementara data yang telah diperoleh. Penafsiran merupakan langkah awal untuk pembahasan masalah secara mendalam.

  1. 3.     Evaluasi Data

Data yang telah diklasifikasi kemudian dievaluasi untuk mendapatkan kebenaran antara hasil penafsiran dengan realitas sesungguhnya. Apakah data tersebut dapat dipertanggungjawabkan dalam penelitian atau tidak, apakah penafsiran yang disampaikan sesuai dengan rumusan yang telah ditetapkan dan sebagainya. Hasil evaluasi dapat dipergunakan sebagai feed back (umpan balik) untuk mengukur sejauh mana data yang diperoleh dalam penelitian tersebut merupakan sesuatu yang bermanfaat ataukah tidak. Apabila dirasa kurang dapat mencapai tujuan yang diinginkan, maka prosedur penelitian dapat dilakukan secara berulang.

  1. 4.     Penarikan Kesimpulan

Tujuan akhir dari setiap penelitian adalah mendapatkan kesimpulan mengenai apa yang telah disampaikan dengan hasil penelitian. Kesimpulan merupakan hasil tertinggi dalam suatu penelitian. Dengan diperolehnya kesimpulan, maka masalah yang disajikan, dibahas dan carikan jalan keluarnya akan nampak dengan jelas. Dengan demikian maka kesimpulan merupakan penjabaran sistematis dari seluruh kegiatan penelitian.

7.  Indikator Kinerja

Peningkatan kemampuan menulis ketrampilan mengisi formulir dengan benar (sebelum penelitian adalah 40 % siswa). Setelah siklus pertama diharapkan ada  60% siswa yang mengisi formulir dengan benar .

8.  Prosedur Penelitian

  1. Tahap Perencanaan

Rancangan-rancangan yang dilakukan pada tahapan ini adalah:

  1. Membuat lembar observasi untuk melihat suasana pembelajaran, aktivitas guru dan aktivitas siwa selama proses belajar mengajar dengan menerapkan metode kontekstual.
  2. Membuat analisa hasil ulangan harian setiap siklus, untuk melihat apakah siswa kelas X-1 dalam proses belajar mengajar ada peningkatan penguasaan materi mengisi formulir dengan benar melalui penerapan metode kontekstual dengan menganalisis hasil belajar siswa.

2.   Tahap Pelaksanaan / Tindakan

Guru melaksanakan tindakan kelas dengan strategi pembelajaran cara belajar siswa aktif melalui optimalisasi metode kontekstual yang diterapkan dengan tugas kelompok menggunakan bantuan berbagai media. Tugas yang telah dilakukan kemudian dipresentasikan di depan kelas, disini guru sebagai fasilitator yang memberi penguat dan simpulan untuk kejelasan materi mengisi formulir dengan benar.

3.   Tahap Pemantauan / observing

Pada tahap pemantauan dikumpulkan data dan informasi dari beberapa sumber untuk mengetahui seberapa jauh efektifitas dari tindakan yang dilakukan. Data tentang penguasaan materi mengisi formulir dengan benar diperoleh dari nilai ulangan harian.

4.   Tahap Refleksi

Refleksi adalah kegiatan yang mengulas secara kritis (reflective) tentang perubahan yang terjadi pada siswa, suasana kelas dan guru. Guru merefleksi capaian hasil belajar siswa sebelum dan sesudah tindakan kemudian merumuskan keberhasilan maupun kekurangannya untuk ditindaklanjuti dengan langkah-langkah program berikutnya berupa penyempurnaan dan pengembangan.

Rencana tindakan penelitian dilaksanakan atau disusun terperinci setiap siklusnya, sesuai jadwal dan alokasi waktu berdasarkan rancangan penelitian. Bentuk tindakan yang akan dilaksanakan dalam tindakan kelas pada tiap-tiap siklusnya dijelaskan sebagai berikut :

Siklus I

a.   Perencanaan

1)      Mempersiapkan materi pembelajaran

2)      Mempersiapkan sumber belajar yang diperlukan

3)      Mempersiapkan lembar kerja siswa

4)      Mempersiapkan kelas dalam setting pembelajaran klasikal

5)      Membuat lembar observasi tentang aktivitas siwa selama proses belajar mengajar

  1. Tindakan

1) Pertemuan 1

a)   Kegiatan pendahuluan

Motivasi dan apersepsi

b)      Kegiatan Inti

(1)   Guru menjelaskan materi dan memberikan contoh-

contoh formulir yang sering ditemui di dunia nyata

(2)   Siswa mendengarkan penjelasan guru dan mencatat.

(3)   Siswa berlatih mengisi formulir seperti yang

dicontohkan oleh guru.

(4)   Siswa mendiskusikan materi.

c)    Kegiatan Penutup

(1)               Siswa membuat rangkuman

(2)               Guru memberikan tugas pekerjaan rumah

2.  Pertemuan 2  (dst)….

c.  Observasi dan Evaluasi

1)      Mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar agar berjalan seoptimal mungkin

2)      Mengamati dan mencatat tindakan aktifitas siswa

d.  Refleksi

1)   Mengevaluasi hasil pemantauan dan mengolah data hasil evaluasi serta menentukan keberhasilan pencapaian tujuan tindakan.

2)   Mencatat perkembangan kemampuan siswa.

3)   Mengadakan refleksi I dengan meneliti kembali tindakan yang telah dilakukan.

4)   Memberi penguatan dan motivasi kepada siswa agar belajar lebih giat.

Indikator untuk melanjutkan ke siklus berikutnya adalah peningkatan hasil belajar yang dicapai siswa dengan capaian minimal sekurang-kurangnya 50% siswa telah mencapai nilai tuntas (di atas minimal).

Berlanjut ke siklus II…..(dst)

E.  JADWAL PENELITIAN

Jadwal   pelaksanaan  penelitian ini terjabarkan dalam tabel berikut:

No Kegiatan Tahun / bulan  2006
Juli Agust Sept Okt Nov
1 Persiapan Penelitian

a. Pengajuan Proposal

b. Persiapan penelitian

x

x

2 Pelaksanaan Penelitian

a. Pengumpulan data

b. Analisis data

c. Interpretasi

d.Evaluasi data

x

x

x

x

3 Penyelesaian

a. Penyusunan draf laporan

b. Revisi draf laporan

c. Penyelesaian akhir

x

x

x

x

G.  DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Rofi’uddin. http://www. malang.ac.id/jurnal/fip/sd/1999a.htm, diakses 22    Juni 2006.

Ano Karsana. 1986. Keterampilan Menulis. Buku Materi Pokok Jakarta: Karunika   Universitas Terbuka.

Byrne, Donn. 1988. Teaching Writing Skills. New Edition. Longman Group UK         Limited.

Depdiknas.  2002.  Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching And Learning)

Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

.  2003. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia  SMP

dan M Ts . Jakarta .

. 2004a. Penelitian Tindakan Kelas, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004b.  Pembelajaran Penulisan Karya Ilmiah, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004c. Bahasa dalam Pembelajaran Bahsa Indonesia, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004d. Menjabarkan Kurikulum Bahasa dan sastra Indonesia, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004e. Pengembangan Kemampuan Menyunting, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004f. Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2004g. Prinsip dan Pendekatan Belajar Bahasa, Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

. 2005. Penilaian Berbasis Kelas dalam Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Materi Pelatihan Terintegrasi Bahasa Indonesia. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Rumpun Mata Pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia Sekolah Dasar. Jakarta : Balitbang Depdiknas

Etty Indriyati. 2002. Menulis Karangan Ilmiah, Artikel, Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Jakartaa: Gramedia.

Gerbang. 2005. Majalah Pendidikan. Yogyakarta: Lembaga Penelitian dan Pengembangan pendidikan.

Hedge, Tricia.1988. Resourse Books for Teachers. Series editor Alan Moley. New

York: Oxford University Press.

Khaerudin Kurniawan, http:// www.ialf.edu/kipbipa/papers/

khaherudinkurniawan.doc.)

Mulyani Sumantri dan Johar Permana, 1999, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

Sabarti Akhadiah, dkk. 2001. Menulis I. Buku Materi Pokok. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Sarwiji Suwandi. 2004. Penilaian Portofolio dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Surakarta: Unversitas Sebelas Maret.

Sri Harjani. 2005. Pengembangan Kemampuan Membaca dan Menulis Permulaan dengan Pendekatan Kontekstual. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Suharsimi Arikunto. 1996. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rhineka Cipta.

Toeti Soekamto dan Udin Saripudin Winataputra, 1997, Teori Belajar dan Model-model Pembelajaran, Jakarta : PAU Ditjen Dikti Depdikbud

Winarno Surakhmad, 1994, Pengantar Interaksi Mengajar Belajar, Bandung : Tarsito.

WS. Winkel. 2001. Psikogi Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.


Makalah ini disampaikan oleh Bapak Pahyono, widyaiswara LPMP Jawa Tengah, dalam kegiatan ” Sosialisasi model-model pembelajaran ” di LPMP Jawa Tengah tahun 2004.

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN- Bahan Ajar

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN – Cover

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF

I.        PENDAHULUAN

  1. Rasional

Dalam pelaksanaan Kurikulum 2004 yang berbasis kompetensi, guru dituntut memiliki kompetensi terutama dalam mengelola proses pembelajaran (PBM), karena itu untuk dapat mengantarkan siswa mencapai kompetensi yang diharapkan, guru harus mampu merancang dan mengelola kegiatan pembelajaran yang efektif.

Menurut Direktorat Tenaga Kependidikan (Ditendik), kompetensi guru ada tiga, yaitu : (1) Penguasaan akademik, (2) Pengelolaan pembelajaran, dan (3) Pengembangan profesi.

Sehubungan dengan ketiga kompetensi guru tersebut, kondisi di lapang-an saat ini menunjukkan, bahwa kompetensi guru belum merata dan bervariasi pada semua jenjang dan tingkat sekolah. Akibatnya, tingkat efektivitas dan ketercapaian tujuan proses pembelajaran siswa bervariasi pula.

Dalam proses pembelajaran, guru berperan sebagai fasilitator harus memahami teori-teori belajar, teori-teori pedagogik dan teknik-teknik pembela-jaran.  Sehingga guru mampu merancang dan melaksanakan PBM secara efektif dan efisien, interaktif dan menyenangkan.

Metode dan strategi pembelajaran telah berkembang dengan pesat dan revolusioner untuk menjawab tantangan dan mengantisipasi tuntutan perkem-bangan sosial, ekonomi dan teknologi informasi yang telah meng-global.

Paradigma guru sebagai knowledge transformator telah bergeser men-jadi knowledge facilitator. Konsekuensi dari perubahan paradigma tersebut, maka guru perlu memperkaya pengetahuan dan meningkatkan keterampilan-nya, terutama dalam metode dan strategi pembelajaran. Di samping faktor kesiapan siswa,  keterbatasan kompetensi guru dalam pengelolaan pembelajaran, merupakan salah satu faktor penyebab siswa tidak mampu mencapai kompetensi secara optimal.

Model belajar secara kelompok, telah menjadi salah satu pilihan guru dalam mengelola pembelajaran. Namun dalam penerapannya, pengarahan guru kurang jelas dan memadai, keterbatasan sumber dan bahan belajar, kesiapan siswa serta pengaturan kelas (setting) juga menjadi penyebab PBM kurang efektif.

Model pembelajaran Cooperative Learning (CL) dengan berbagai tipe sangat menarik perhatian para guru dan para instruktur di sekolah dan tempat-tempat pelatihan, karena model CL memiliki banyak kelebihan dibanding model-model pembelajaran  yang telah dikenal sebelumnya. Model CL berbasis ‘ kerja-sama ‘ antar individu dalam kelompok dan ‘ saling ketergantungan ‘ antar anggota kelompok selaras dengan konsep pendidikan UNESCO yang dikenal dengan Empat Pilar Pendidikan. Salah satu pilarnya menyebutkan “ How learn to live together “.

Model pembelajaran CL dengan berbagai tipe dikembangkan berlandas-kan teori belajar Constructivism (Konstruktivisme). Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofis) pendekatan konsep dalam pembelajaran. Menurut teori belajar ini, pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperoleh melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak datang sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat, melainkan manusia harus mengkon-struksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

Model CL juga dapat memberikan pengalaman belajar dan kecakapan hidup (life skill), karena terbukti mampu meningkatkan kemampuan kognitif siswa secara individu dan membangun kerjasama antar anggota dalam kelom-pok. Pengalaman belajar menggali informasi dan mengolah informasi secara mandiri dapat menanamkan kebiasaan siswa membaca atau mencari informasi dari berbagai sumber belajar, tidak bergantung pada guru dan tidak menggang-gap guru sebagai satu-satunya sumber belajar.

  1. Tujuan

Pembahasan model pembelajaran Cooperative Learning sebagai model pembelajaran alternatif dalam konteks inovasi pembelajaran dengan tujuan :

  1. Menambah wawasan guru tentang model-model pembelajaran yang tengah berkembang saat ini dalam rangka pelaksanaan Kurikulum 2004
  1. Meningkatkan kompetensi guru dalam pengelolaan pembelajaran
  2. Memotivasi guru dalam memfasilitasi dan mengelola pembelajaran yang efektif
  1. Pengertian

Apakah model Cooperative Learning ?

CL adalah model pembelajaran bersama-sama dalam suatu kelompok dengan jumlah anggota antara tiga sampai lima orang siswa. Para anggota bekerjasama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan guru.

Menurut Kagan, terdapat empat prinsip dasar model CL, yakni:(1) Inter-aksi yang simultan; (2) Saling ketergantungan antar anggota ; (3) Tiap individu memiliki tanggungjawab terhadap kelompok ; dan (4) Peranserta anggota yang seimbang.

Menurut pendapat Slavin, model CL meliputi tiga konsep utama yaitu :

(1)         Pengakuan kelompok (Team recognition); (2) Tanggungjawab individu; dan (3) Keseimbangan peluang untuk meraih sukses bersama

Sedangkan menurut Johnson, model CL terdapat lima prinsip dasar, terdiri : (1) Menumbuhkan semangat saling ketergantungan; (2) Tanggung-jawab individual; (3) Bekerja dalam kelompok (group processing); (4) Tumbuh kecakapan sosial dan bekerjasama; dan (5) Terjadi interaksi antar anggota secara langsung.

Apakah manfaat model CL ?

Bagi sekolah, manfaatnya adalah: (1) Pengembangan kognitif dan afektif siswa; (2) Membina hubungan baik antar agama, ras maupun etnik; dan (3) Tercapainya keseimbangan dalam pendidikan

Bagi siswa, model CL bermanfaat untuk : (1) mengembangkan kemam-puan akademik dan (2) Mengembangkan kecakapan pribadi dan sosial.

Bagi bangsa, model CL  bermanfaat untuk menumbuhkan visi kene-garaan. dan nasionalisme

Bagaimana melaksanakan model CL ?

Pelaksanaan model CL, diperlukan interaksi antar siswa,. Oleh sebab itu, dalam menyelesaikan tugas dari guru, para siswa  perlu berdiskusi, terma-suk mengemukakan pendapatnya yang dapat dipahami oleh anggota lainnya, sehingga anggota tersebut dapat meningkatkan kemampuan intelektualnya. Dalam hal ini, guru cukup menyediakan lembar kerja (LKS) untuk dikerjakan secara kelompok, memantau kerjasama kelompok, mengarahkan diskusi, memberikan bimbingan kepada kelompok yang memerlukan dan validasi hasil kerja kelompok.

II.      MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TYPE STAD, TGT DAN JIGSAW II

Telah dikenal sedikitnya ada 29 tipe model CL, ada Role Playing, Problem Based Intruction (PBI), Course Review Horay (Bingo), Mind Mapping, Student Teams Achievement Divisions (STAD), Team Game Tournament (TGT), Jigsaw II, dan lainnya, Dalam makalah ini yang akan dibahas hanya tiga tipe model CL terakhir tersebut.

  1. A. Model pembelajaran CL tipe STAD

Menurut Robert E Slavin dan kawan-kawan , model CL tipe STAD  terdiri dari 5 komponen (fase) , yakni :

  1. Presentasi Kelas (Class presentation)
  2. Pembentukan tim (Teams)
  3. Kuis Individu (Individual Quizzes)
  4. Perubahan skor individu (Individual improvement score)
  5. Pengakuan tim (Team recognition)

Model ini sangat cocok untuk menyajikan materi pembelajaran terstruktur, yang terdiri dari beberapa bagian dan saling berhubungan antar bagian-nya. Misalnya seorang guru akan menyajikan pokok materi/ bahasan yang tertruktur terdiri atas 4 sub pokok materi/ bahasan A, B, C dan D. Artinya, sebelum dapat mempelajari sub B, siswa harus menguasai sub A, sebelum mempelajari sub c, siswa harus sudah menguasai sub A dan sub B, demikian seterusnya untuk sub D.

Langkah-langkah :

Fase 1 : Guru presentasi di depan kelas, menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan informasi tentang materi yang akan dipelajari, misalnya konsep, materi secara garis besar dan prosedur kegiatan (eksperimen).

Guru juga perlu menjelaskan tata cara kerjasama dalam kelompok, terutama kepada kelompok atau kelas yang belum terbiasa menjalankan model CL.

Fase 2 : Guru membentuk kelompok, berdasarkan kemampuan (prestasi sebelumnya), jenis kelamin, ras dan etnik. Jumlah anggota tiap kelompok antara 3-5 orang siswa

Fase 3 : Bekerja dalam kelompok, Siswa belajar bersama, diskusi, menjawab soal atau mengerjakan eksperimen sesuai LKS yang diberikan guru

Fase 4 : Scafolding. Guru melakukan bimbingan kepada kelompok atau kelas

Fase 5 : Validation. Guru mengadakan validasi hasil kerja kelompok dan memberikan kesimpulan hasil tugas kelompok

Fase 6 : Quizzes. Guru mengadakan kuis secara individual. Hasil nilai yang diperoleh tiap anggota, dikumpulkan, kemudian dirata-rata dalam kelompok, untuk menentukan predikat kelompok. Dalam menjawab quiz, anggota tidak boleh saling membantu. Perubahan skor awal (base score) individu dengan  skor hasil quiz disebut skor perkembangan. Penghitungan skor perkembangan sebagai berikut :

Tabel 1 :  Nilai Penghargaan Kelompok (Penghitungan skor Perkembangan)

NO SKOR TES NILAI PERKEMBANGAN
1. Lebih dari 20 poin di atas skor awal 30
2 Sama atau hingga 10 poin di atas skor awal 20
3 Sepuluh hingga satu poin di bawah skor awal 10
4 Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5

Fase 7 : Penghargaan kelompok : Berdasarkan skor penghitungan yang diperoleh anggota, dirata-rata. Hasilnya untuk menentu-kan predikat tim (lihat Tabel 2)

Tabel  2 : Perolehan Skor dan Predikat Tim Tipe STAD dan Jigsaw

NO PREDIKAT TIM RATA-RATA SKOR
1 Super Team 25 – 30
2 Great Team 20 – 24
3 Good team 15 – 19

:

Fase 8 : Evaluasi oleh guru

Selamat mencoba !

  1. Persiapan : Lembar Kerja Siswa (LKS)
  2. Persiapan Lembar Pertanyaan Quiz dan lembar jawab.
  3. Sediakan Tabel nilai Konversi perubahan skor awal dengan skor hasil kuis individu
  4. Sediakan tanda penghargaan/ sertifikat sederhana
  5. Validasi kelas, bimbingan terhadap kelompok dan individu
  1. Model pembelajaran CL tipe Jigsaw II :

Model CL tipe Jigsaw II  ini dikenal juga Kelompok Ahli. Model ini dapat diterapkan pada materi pembelajaran yang tak berstruktur (tidak saling berhubungan antar sub-sub materi).

Prosedur pelaksanaan Jigsaw mirip dengan STAD, cara menentukan skor individu dalam kelompok (nilai perkembangan) dan kriteria penghargaan kelompok sama dengan tipe STAD.

Menurut Slavin (1998), tipe Jigsaw terdiri 5 fase. Pembagian kelompok berdasarkan kriteria prestasi individu (dari ulangan sebelumnya atau  pretest), gender, etnik dan ras. Tiap kelompok beranggotakan 2 – 4 orang. Kelompok Expert , jumlahnya disesuaikan dengan pokok bahasan materi yang dipelajari. Contoh, suatu topik/ pokok materi terdiri 4 sub pokok materi (pokok bahasan), maka kelompok expert jumlahnya juga 4.

Masing-masing kelompok expert beranggotakan wakil dari sejumlah kelompok belajar siswa.

Contoh : Suatu kelas terdiri dari 40 siswa, maka dapat dibentuk menjadi 10 kelompok (Kelompok 1, 2, 3 ……10). Tiap kelompok terdiri 4 orang siswa. Setelah kelompok belajar terbentuk, guru membagikan LKS untuk dipela-jari bersama. Pada kegiatan ini, oleh Slavin disebut Fase 1 (Reading). Selanjutnya, anggota masing-masing kelompok tersebut berunding  mem-bagi tugas untuk masuk ke kelompok expert.  Misalnya, pokok materi ter-diri dari 4 sub pokok materi/ bahasan, maka dapat dibentuk sejumlah 4 kelompok expert (Expert A, B, C, D). Kemudian kelompok belajar tersebut berunding untuk menentukan satu orang siswa sebagai wakil dari kelom-pok belajar bergabung ke tiap kelompok expert A, B, C dan D, sesuai hasil perundingan. Jadi dalam kelompok expert masing-masing beranggotakan 10 orang siswa. Fase 2 (Expert Group Discussions) : Di dalam kelompok expert, siswa berdiskusi membahas dan memecahkan masalah atau soal yang terdapat dalam LKS. Setelah diskusi kelompok expert selesai, semua anggota kelompok expert kembali ke kelompok belajar semula. Fase 3 (Team reports) : Siswa yang ditunjuk sebagai wakil kelompok belajar di kelompok expert menjelaskan kepada teman-temannya se kelompok. Demikian juga teman dari expert yang lain menjelaskan kepada teman- teman sekelompok tentang apa yang dibahas dan dikerjakan selama di dalam kelompok expert. Pada saat diskusi expert inilah, guru dapat mem-berikan bimbingan, validasi materi dan jawaban siswa dari masing-masing expert. Fase berikutnya Fase 4 (Assessment) : Guru mengadakan kuis yang harus dikerjakan oleh siswa secara individual. Hasilnya berupa nilai individu anggota kelompok. Fase 5 (Team recognition) : Guru bersama siswa menghitung perubahan nilai awal (base score) siswa dengan nilai hasil kuis secara individual menggunakan Tabel 1 (lihat Tabel Nilai Peng-hargaan Kelompok STAD dan Jigsaw). Kemudian nilai semua siswa ang-gota masing-masing kelompok dijumlahkan dan dirata-rata, maka akan diperoleh nilai antara 5 – 30 sebagai nilai kelompok. Untuk menentukan predikat kelompok, gunakan Tabel 2  Penghargaan Kelompok, caranya sama seperti penghargaan kelompok pada model tipe STAD.

Persiapan Guru :

  1. Menyiapkan bacaan (LKS)
  2. Kalau kegiatan expert berupa praktik atau demonstrasi, maka guru menyiapkan alat/ bahan
  3. Menyiapkan instrumen untuk kuis
  4. Menyiapkan tabel nilai pengamatan psikomotor dan sikap.
  5. Menyiapkan tabel rekapitulasi nilai individu dikonversi ke nilai penghar-gaan kelompok (lihat lampiran)
  6. Menyiapkan tabel rekapitulasi rerata nilai kelompok
  7. Menyediakan tanda penghargaan/ sertifikat untuk kelompok

Silahkan mencoba, semoga sukses !

  1. C. Model Pembelajaran CL Tipe TGT

Model pembelajaran kooperatif  melalui suatu turnamen, lebih banyak dipilih karena waktu relatif lebih singkat dan cara melakukannya relatif lebin mudah dibanding STAD dan Jigsaw. Untuk kelas-kelas di Indonesia, fase-fase TGT dikembangkan dari empat menjadi delapan, sebagai berikut :

Fase 1 : Penjelasan guru (Teacher presentation).

Pada fase ini, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, pokok materi dan penjelasan singkat tentang LKS yang dibagikan kepada kelom-pok.

Fase 2 : Pembagian kelompok

Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok berdasarkan krite-ria kemampuan (prestasi) siswa dari pretest atau ulangan harian sebelumnya, jenis kelamin (gender), etnik dan ras. Tiap kelompok beranggotakan   2 – 4 orang (Slavin, 1998). Jumlah anggota kelom-pok dapat juga dikembangkan menjadi 5 orang.

Fase 3 : Kerja kelompok (Team study)

Setelah menerima LKS dari guru, siswa bekerjasama dalam kelom-pok masing-masing, diskusi, praktikum atau menjawab soal-soal pada LKS.

Fase 4 : Bimbingan kelompok/ kelas (Scafolding)

Guru membimbing kerja kelompok, mengamati psikomotorik dan sikap siswa secara individual dalam kerja kelompok

Fase 5 : Tournament (Quizzes)

Guru membagikan lembar soal tournament (quizzes). Jumlah soal turnamen antara 10 – 20 butir soal. Aturan main tournamen model TGT adalah sebagai berikut :

  1. Setiap kelompok menentukan salah satu anggota sebagai Reader (pembaca soal kuis turnamen)  pertama dan pembaca kunci jawaban. Pembaca soal ke dua, ke tiga dan seterusnya digilir berurutan searah dengan putaran jarum jam. Pembaca kunci jawaban adalah siswa yang posisi duduknya di sebelah kanan reader.
  2. Kesempatan pertama menjawab soal kuis turnamen diberikan kepada reader, selanjutnya giliran menjawab bagi anggota kelom-pok yang lain searah putaran jarum jam.
  3. Jika semua anggota kelompok menjawab benar,  siswa yang memperoleh point adalah siswa pertama yang menjawab benar.
  4. Turnamen berlanjut, sampai semua soal sudah dibacakan. Kemu-dian perolehan skor masing-masing anggota dihitung berdasarkan jumlah jawaban benar sekaligus untuk perhitungan skor kelompok

Fase 6 : Validation

Guru melakukan validasi, penjelasan tentang soal dan kunci jawaban kuis. Tujuannya adalah memperkuat pemahaman siswa terhadap materi pem-belajaran.

Fase 7 : Penghargaan kelompok (Team recognition)

Setelah diperoleh skor tiap anggota pada masing-masing kelompok, kemudian diadakan rekapitulasi nilai dan ditentukan skor kelompok menggunakan Tabel 3 ( Penghitungan skor kelompok) di bawah ini :

Skor kelompok pada model TGT minimal 190 dan skor maksimal 210 (untuk pemain 5orang).

Tabel 3 : Penghitungan Skor Kelompok

Jumlah Anggota Penghitungan skor kelompok
2 60    40 

20    40

3 60  50  60  40 

40  50  30  40

20  20  30  40

4 60  50  60  60  50  60  40  50 

40  50  40  40  50  30  40  50

30  30  40  30  50  30  40  30

20  20  20  30  20  30  40  30

5
60 50 60 60 60 50 60 60 40 50 40 50 60 50 50 50
50 50 40 50 50 50 40 50 40 40 40 50 40 50 50 50
40 40 40 30 40 50 40 30 40 40 40 40 40 30 50 40
30 30 30 30 30 30 40 30 40 40 40 40 30 30 30 30
20 20 20 20 30 20 20 30 30 40 40 20 30 30 30 30

Untuk menentukan penghargaan kelompok, menggunakan Tabel 4 berdasarkan skor rata-rata kelompok.

Tabel 4 : Skor Penghargaan Kelompok  Tipe TGT

NO PEROLEHAN SKOR RATA-RATA PREDIKAT
1 45 atau lebih Super Team
2 40 – 44 Great Team
3 30 – 39 Good Team

Fase 8 : Evaluasi oleh guru

PERSIAPAN GURU :

  1. Lembar Kerja Siswa (LKS)
  2. Lembar Soal Kuis (atau berupa kartu soal)
  3. Lembar kunci jawaban
  4. Lembar format rekap skor individu
  5. Lembar format rekap skor kelompok
  6. Alat dan bahan praktik (jika ada kegiatan eksperimen/ demonstrasi)

SELAMAT MENCOBA, SEMOGA BERHASIL !

III.    KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan :
    1. Model-model Cooperative Learning dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
    2. Model-model Cooperative Learning dapat berjalan efektif, apabila guru mampu membuat perencanaan pembelajaran yang baik, meliputi persiap an bahan ajar, skenario kegiatan pembelajaran dan pengaturan kelompok secara konsekuen.
    3. Penentuan tipe model Cooperative Learning yang efektif harus disesuai-kan dengan struktur materi pembelajaran/ pokok bahasan
  2. Saran :
    1. Siswa perlu dikondisikan belajar mandiri secara kelompok melalui kerja-sama
    2. Perlu dilakukan suatu penelitian tindakan kelas (action research) tentang pengaruh tipe model pembelajaran cooperative learning terhadap peningkatan prestasi belajar siswa

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2002, Pendekatan Kontekstual (Contexrual Teaching and Learning (CTL), Dit.PLP, Ditjen Dikdasmen, Jakarta

Dryden, Gordon & Vos, Jeannette, 2003, The Learning Revolution (Terjemahan) Cetakan VII, Penerbit Kaifa, Bandung

Meier, Dave, 2003, The Accelerated Learning (Terjemahan), Kaifa, Bandung

Nasution S, 2000, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Cetakan ke tujuh, PT Bumi Aksara, Bandung

SEAMEO-RECSAM, 2003, Model-model Cooperative Learning (Hand-out) Sosialisasi Hasil-hasil Pelatihan Guru Matematika dan IPA SMA di RECSAM, Malaysia

Slavin, Robert E, 1995, Cooperative Learning Theory, Research and Practise, Allyn & Bacon A simon & Schuster Company, Second Edition, Singapore

Zamroni, 2003, Pendidikan untuk Demokrasi, Bigraf Publishing, Yogyakarta

—==ph==—

DVD Conversation Bahasa Inggris berisi 32 modul berformat MP3 dan PDF. Bisa digunakan di HP dan komputer. Cukup RP. 150.000,- saja. Info lebih lengkap, klik banner iklan dibawah ini:

BelajarInggris.net Tempat Kursus Bahasa Inggris Online cepat dan Mudah tanpa grammar Full Conversation / Percakapan Bersertifikat


Email:

rppguswur@gmail.com

Belajar Inggris

BelajarInggris.Net 250x250

Blog Stats

  • 2,836,330 hits

Pengunjung

free counters

blogstat

Alexa Certified Site Stats for www.aguswuryanto.wordpress.com

Incoming traffic

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 209 other followers