Belajar jadi Guru

Archive for the ‘Profesi Guru’ Category


Silahkan didownload Download:

KISI BAHASA INGGRIS SMA

KISI BAHASA INGGRIS SMP

pedoman UKG (revisi 12-07-2012)

Sosialisasi Uji Kompetensi Online UKG (BPSDMP Tim IT)

Sumber : Pak Prihadi Utomo

 

Advertisements

Download:

Lembar Pengamatan Sekolah

pembiasaan pbkb papb 2

Sumber : Workshop pendidikan karakter 2011

NILAI

DESKRIPSI

PENERAPAN DI SEKOLAH

  1. RELIGIUS
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleransi terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
  1. Merayakan hari-hari besar keagamaan:

–        Isra’ Mi’raj Muhammad SAW

–        Nuzulul Qur’an

–        Sholat Idul Adha

–        Maulid Nabi Muhammad SAW

  1. Memiliki masjid Al-Ikhlas yang dapat menampung 400 jamaah
  2. Kesempatan ibadah diberikan kepada siswa:

–        Sholat dhuha (istirahat I)

–        Sholat dhuhur berjamaah(istirahat II)

–        Sholat Ashar berjamaah (setelah PBM berakhir)

  1. Pesantren ramadhan
  2. Halal bihalal
  3. Buka bersama
  4. BTAQ
  5. Pengajian Ahad pagi
  6. Pengumpulan zakat, infaq, dan shodaqoh
  7. Ain Syam Arabic Club
  8. Festival seni Islamy
  9. JUJUR
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
  1. Tersedia kotak temuan barang hilang
  2. Transparansi laporan keuangan ke yayasan
  3. Tersedia kotak saran pengaduan
  4. Larangan membawa HP berkamera, dan HP yang non kamera boleh dihidupkan saat PBM berakhir

 

  1. TOLERANSI
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama , suku, etnis, pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda darinya.
  1. Memberikan perlakuan yang sama sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya (guru tetap, guru kontrak, guru tidak tetap,dll)
  2. Melayani orang tua siswa dan masyarakat dengan sebaik-baiknya.
  3. DISIPLIN
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
  1. Memiliki daftar hadir siswa, karyawan dan guru.
  2. Memberikan penghargaan kepada guru yang berprestasi.
  3. Memiliki tata tertib siswa, tata krama kehidupan sosial bagi guru dan karyawan.
  4. Terdapat tanda bel (kurang 5’) sebelum jam pelajaran berakhir.
  5. Memberikan sanksi bagi yang melakukan pelanggaran.
  6. Adanya ketentuan pakaian seragam siswa (senin: pakaian OSIS, selasa: hijau, rabu: batik biru, kamis: pramuka, jum’at : putih, sabtu : seragamOR)
  7. Adanya ketentuan pakaian seragam guru (senin: oranye, selasa: coklat, Rabu: batik biru, Kamis: batik merah, Jum’at : putih, Sabtu : seragam OR).
  8. Dimilikinya face absen (absen muka/wajah) untuk mendisiplinkan guru dan karyawan).
  9. Mematuhi tata tertib sekolah (membawa sandal, membawa kopyah/ mukena,istirahat harus diluar kelas, dilarang naik sepeda di halaman sekolah, tidak boleh jajan di luar)
  10. Adanya aturan wajib mengucapkan salam bila bertemu dengan sesama.
  11. Pemasangan kamera CCTV di setiap ruang kelas, laboratorium, perpustakaan, untuk meningkatkan kedisiplinan/kinerja.
2.KERJA KERAS Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar, tugas dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya
  1. Adanya slogan untuk menumbuhkan motivasi bekerja yang ditempatkan di tempat-tempat tertentu.
  2. Adanya motivasi terhadap guru untuk selalu memiliki ide-ide demi kemajuan sekolah
  3. Penghargaan bagi guru yang berprestasi
3.KREATIF Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
  1. Pengelolaan sekolah secara bersama-sama (kepala sekolah, guru, karyawan)
  2. Disediakan tempat kreasi mandiri bagi siswa dan guru
4.MANDIRI Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.
  1. Petugas pemimpin hormat bendera, doa dan ikrar dan upacara bendera dipimpin oleh salah seorang siswa secara bergiliran
DEMOKRATIS Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak, kewajiban dirinya dan orang lain
  1. Adanya rapat insidentil dan rapat bulanan
    1. Adanya pemilu dalam pemilihan ketua OSIS
6.RASA INGIN TAHU Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari suatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar.
  1. Adanya kelompok Karya Ilmiah Remaja (KIR)
  2. Adanya jaringan internet secara online (hotspot)
  3. Adanya perpustakaan yang menyediakan buku fungsi dan fiksi yang mencukupi
7. SEMANGAT KEBANGSAAN Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya
  1. Hormat bendera sebelum setiap pagi sebelum PBM dimulai.
  2. Upacara rutin setiap hari senin
  3. Upacara memperingati hari-hari besar nasional.
  4. Mengadakan peringatan/lomba-lomba pada hari besar nasional
  5. Adanya program kunjungan ke tempat-tempat musium di kota semarang
  6. CINTA TANAH AIR
Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik ekonomi.
  1. Penerapan bahasa Indonesia dalam ikrar siswa
  2. Foto/gambar tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia
  3. Penggunaan produk-produk dalam negeri
MENGHARGAI PRESTASI Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.
  1. Adanya penghargaan kepada guru yang berprestasi
  2. Piala/tropi dipasang ditempat tertentu
BERSAHABAT/ BERKOMUNIKASI Tindakan yang memperlihatkan rasa senang bicara, bergaul, dan menghormati keberhasilan orang lain.
  1. Membudayakan budaya bersalaman, khususnya disaat siswa datang ke sekolah (menyambut kehadiran siswa).
  2. Suasan akrab antar warga sekolah
  3. CINTA DAMAI
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadirannya.
  1. Tidak terjadi keributan antar siswa di kelas.
  2. Pembelajaran dengan rasa menyenangkan.
  3. GEMAR
MEMBACA Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebijakan bagi dirinya.
  1. Budaya membaca bagi seluruh siswa
  2. Frekuensi kunjungan perpustakaan yang meningkat
    1. Ruang baca sangat representatif (ber AC) yang memberikan kenyamanan untuk membaca.
  3. PEDULI LINGKUNGAN
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
  1. Adanya 3 petugas yang selalu menjaga kebersihan 3 blok gedung.
  2. Tersedia 2 tong sampah yang berbeda (organik dan anorganik) disetiap kelas.
  3. Terdapat 12 toilet.
  4. Pembiasaan hemat energi (AC dimatikan saat istirahat dan setelah pembelajaran berakhir.
  5. Drainase air sangat baik.
  6. Tersedianya peralatan kebersihan di setiap kelas.
  7. Adanya 4 tandon penyimpanan air.
  8. Adanya pembiasaan jum’at bersih.
  9. Adanya denda Rp. 1.000 bila siswa membuang sampah di sembarang tempat.
  10. PEDULI SOSIAL
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberikan bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
  1. Adanya kunjungan ke panti asuhan yatim –piatu.
  2. Bakti sosial di lingkungan sekitar sekolah
  3. Sumbangan ke korban bencana alam, (merapi, tsunami, banjir, dll).
  4. TANGGUNG
JAWAB Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara,dan Tuhan Yang Maha Esa.
  1. Adanya laporan lisan dan tertulis diakhir kegiatan.
  2. Masing-masing warga sekolah sudah tahu tentang tugasnya masing-masing tanpa harus diperintah.

 


Download:

INDIKATOR KEBERHASILAN SEKOLAH DAN KELAS DALAM PELAKSANAAN PEND KARAKTER

Sumber: Workshop pendidikan Karakter 2011 Semarang

NILAI

Deskripsi

INDIKATOR SEKOLAH

1. Religius Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama  yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
  • Merayakan hari-hari besar keagamaan.
  • Memiliki fasilitas yang dapat digunakan untuk beribadah.
  • Memberikan kesempatan kepada semua peserta didik untuk melaksanakan ibadah.
2. Jujur Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
  • Menyediakan fasilitas tempat temuan barang hilang.
  • Tranparansi laporan keuangan dan penilaian sekolah secara berkala.
  • Menyediakan kantin kejujuran.
  • Menyediakan kotak saran dan pengaduan.
  • Larangan membawa fasilitas komunikasi pada saat ulangan atau  ujian.
3. Toleransi Sikap dan  tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis,pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya
  • Menghargai dan memberikan perlakuan yang sama terhadap seluruh warga sekolah tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, status ekonomi, dan kemampuan khas.
  • Memberikan perlakuan yang sama terhadap stakeholder tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, status sosial, dan  status ekonomi.
4. Disiplin Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

 

  • Memiliki catatan kehadiran.
  • Memberikan penghargaan kepada warga sekolah yang disiplin.
  • Memiliki tata tertib sekolah.
  • Membiasakan warga sekolah untuk berdisiplin.
  • Menegakkan aturan dengan memberikan sanksi secara adil bagi pelanggar tata tertib sekolah.
  • Menyediakan peralatan praktik sesuai program studi keahlian (SMK).
5. Kerja Keras Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar, tugas dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
  • Menciptakan suasana kompetisi yang sehat.
  • Menciptakan suasana sekolah yang menantang dan memacu untuk bekerja keras.
  • Memiliki pajangan tentang slogan atau motto tentang kerja.
6. Kreatif Berpikir dan melakukan sesuatu untuk  menghasilkan cara atau hasil baru dari  sesuatu yang telah dimiliki. Menciptakan situasi yang  menumbuhkan daya  berpikir dan bertindak kreatif.

 

7. Mandiri Sikap dan prilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas Menciptakan situasi sekolah yang membangun kemandirian peserta didik.
8. Demokratis Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama  hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

 

  • Melibatkan warga sekolah dalam setiap pengambilan keputusan.
  • Menciptakan suasana  sekolah yang menerima perbedaan.
  • Pemilihan kepengurusan OSIS secara terbuka.
9. Rasa Ingin Tahu Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar.

 

  • Menyediakan media komunikasi atau informasi (media cetak atau media elektronik) untuk berekspresi bagi warga sekolah.
  • Memfasilitasi warga sekolah untuk bereksplorasi dalam pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya.
10. Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

 

  • Melakukan upacara rutin sekolah.
  • Melakukan upacara hari-hari besar nasional.
  • Menyelenggarakan peringatan hari kepahlawanan nasional.
  • Memiliki program melakukan kunjungan ke tempat bersejarah.
  • Mengikuti lomba pada hari besar nasional.
11. Cinta Tanah Air Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan  yang tinggi terhadap bahasa,  lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
  • Menggunakan produk buatan dalam negeri.
  • Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  • Menyediakan informasi  (dari sumber cetak, elektronik) tentang kekayaan alam dan budaya Indonesia.
12. Menghargai Prestasi Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat,  mengakui, dan menghormati keberhasilan orang lain.

 

  • Memberikan penghargaan atas hasil prestasi kepada warga sekolah.
  • Memajang tanda-tanda penghargaan prestasi.
13. Bersahabat/

Komuniktif

Tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
  • Suasana sekolah yang memudahkan terjadinya interaksi antarwarga sekolah.
  • Berkomunikasi dengan bahasa yang santun.
  • Saling menghargai dan menjaga kehormatan.
  • Pergaulan dengan cinta kasih dan rela berkorban.
14. Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya
  • Menciptakan suasana sekolah dan bekerja yang nyaman, tenteram, dan harmonis.
  • Membiasakan perilaku warga sekolah yang anti kekerasan.
  • Membiasakan perilaku warga sekolah yang tidak bias gender.
  • Perilaku seluruh warga sekolah yang penuh kasih sayang.
15.  Gemar Membaca Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.

 

  • Program wajib baca.
  • Frekuensi kunjungan perpustakaan.
  • Menyediakan fasilitas dan suasana menyenangkan untuk membaca.
16. Peduli Lingkungan Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
  • Pembiasaan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah.
  • Tersedia tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan.
  • Menyediakan kamar mandi dan air bersih.
  • Pembiasaan hemat energi.
  • Membuat biopori di area sekolah.
  • Membangun saluran pembuangan air limbah dengan baik.
  • Melakukan pembiasaan memisahkan jenis sampah organik dan anorganik.
  • Penugasan pembuatan kompos dari sampah organik.
  • Penanganan limbah hasil praktik (SMK).
  • Menyediakan peralatan kebersihan.
  • Membuat tandon penyimpanan air.
  • Memrogramkan cinta bersih lingkungan.

Silahkan didownload:

Data Resmi yang dikeluarkan oleh BSNP Indonesia.

Download:

Panduan Guru Seni Rupa

BAGIAN II: PANDUAN KHUSUS

MATA PELAJARAN SENI BUDAYA

(SENI RUPA)

 

            Untuk mata pelajaran Seni Rupa, karakter yang acuan adalah karakter pokok dan karakter utama. Untuk karakter utama, selain karakter yang telah dipetakan di atas, perlu ditambahkan karakter yang khas yaitu kreativitas dan kepekaan estetik.

 

A.       Nilai-nilai Karakter Utama untuk Mata Pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa)

1.    Apresiasi Seni Rupa

Nilai-nilai karakter utama untuk Pembelarajan Apresiasi Seni Rupa antara lain sebagai berikut.

 

Nilai Utama

Indikator

Kereligiusan
  • Memberikan penilaian yang positif terhadap pengalaman religius sebagai tema/makna karya seni rupa
  • Menghubungkan karya seni rupa dengan pengalaman religious
Kejujuran
  • Memberikan pendapat tentang karya seni rupa berdasarkan pikiran dan perasaan diri sendiri
  • Memberikan pendapat tentang karya seni rupa dengan menunjukkan sumber acuannya
Kecerdasan
  • Menangkap makna karya seni rupa secara cermat, tepat, dan cepat
  • Memberikan tanggapan terhadap karya seni rupa secara cermat, tepat, dan cepat
Ketangguhan
  • Menanggapi karya seni rupa dengan berbagai argumentasi
  • Membahas karya seni rupa dengan mencari berbagai sumber
Kepedulian
  • Memperhatikan tindakan orang lain dalam menanggapi karya seni rupa
  • Membantu orang lain dalam menanggapi karya seni rupa
Kedemokratisan
  • Memberikan penilaian positif terhadap pendapat orang lain dalam menanggapi karya seni rupa secara berkelompok
  • Melakukan kesepakatan dalam menanggapi karya seni rupa secara berkelompok
Menghargai  keberagaman
  • Memberikan penilaian positif terhadap keberagaman jenis, tema, gaya, dan teknik berkarya seni rupa
  • Memberikan penilaian positif terhadap ungkapan keberagaman suku bangsa dan budaya dalam karya seni rupa
Nasionalisme
  • Memberikan penilaian yang tinggi terhadap karya seni rupa Indonesia
  • Memberikan penilaian positif terhadap ungkapan/tema nasionalisme/patriotism dalam karya seni rupa
Menghargai karya orang lain
  • Memberikan penilaian positif terhadap karya orang lain
  • Memperlakukan karya orang lain dengan baik
Keingintahuan
  • Mempelajari karya seni rupa dari berbagai sumber
  • Melihat pameran seni rupa
Disiplin
  • Mentaati tata tertib dalam proses pembelajaran seni rupa
  • Menyelesaikan tugas-tugas tepat pada waktunya.
Kesantunan
  • Memberikan tanggapan terhadap karya seni rupa dengan bahasa yang santun
  • Memperlakukan bahan, alat, dan hasil karya seni rupa dengan tindakan yang santun
Tanggung jawab
  • Memberikan apresiasi seni rupa yang bermanfaat bagi kehidupan
  • Memberikan apresiasi seni rupa yang bermanfaat bagi pengalaman estetik
  • Menyelesaikan tugas-tugas pembelajaran apresiasi seni rupa dengan baik
Kreativitas
  • Mengidentifikasi ciri-ciri baru pada karya seni rupa.
  • Menggunakan ungkapan baru dalam menanggapi karya seni rupa
Kepekaan estetik
  • Mengidentifikasi bentuk-bentuk keindahan pada karya seni rupa dan lingkungan
  • Memberikan tanggapan  positif terhadap bentuk-bentuk keindahan pada karya seni rupa dan lingkungan

 

2.      Berkreasi Seni Rupa

Nilai-nilai karakter utama untuk Pembelarajan Berkreasi Seni Rupa antara lain sebagai berikut.

 

Nilai Utama

Indikator

Kereligiusan
  • Menghargai alam semesta ciptaan Tuhan sebagai bahan/sumber penciptaan karya seni rupa
  • Mengungkapkan makna religius melalui karya seni rupa
Kejujuran
  • Membuat karya seni rupa atas gagasan siswa sendiri
  • Menyadari kelemahan/kekurangan siswa sendiri dalam membuat karya seni rupa
Kecerdasan
  • Menyusun konsep karya seni rupa/pameran secara cepat dan cermat
  • Mewujudkan karya seni rupa/pameran secara cepat dan cermat
Ketangguhan
  • Menyusun konsep karya seni rupa/pameran dengan berbagai sumber
  • Mewujudkan karya seni rupa dengan mengoptimalkan penggunaan bahan dan alat
Kepedulian
  • Mengungkapkan perhatian terhadap lingkungan sosial atau alam melalui karya seni rupa
  • Membantu orang lain dalam membuat karya seni rupa secara kelompok
  • Membantu orang lain dalam berpameran seni rupa
Kedemokratisan
  • Menghargai pendapat orang lain dalam membuat karya seni rupa secara kelompok
  • Melakukan kesepakatan dalam membuat karya seni rupa secara kelompok
  • Melakukan kesepakatan dalam melaksanakan pameran secara kelompok
Menghargai  keberagaman
  • Menghargai keberagaman seni budaya sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
  • Mengungkapkan jenis (bentuk), tema/gaya/teknik dalam penciptaan karya seni rupa
  • Menghargai keberagaman jenis (bentuk), tema, gaya, dan teknik karya seni rupa dalam berpameran seni rupa
Nasionalisme
  • Menghargai alam dan budaya Indonesia sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
  • Menghargai seni rupa tradisional Indonesia sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
Menghargai karya orang lain
  • Menggunakan karya orang lain sebagai sumber penciptaan karya seni rupa
  • Meperlakukan karya seni rupa orang lain dengan baik
Keingintahuan
  • Mempelajari sumber-sumber penciptaan karya seni rupa
  • Melakukan eksplorasi/eksperimen dalam berkarya seni rupa
Disiplin
  • Mengerjakan karya seni rupa sesuai dengan kriteria yang ditentukan
  • Menggunakan bahan dan alat sesuai dengan prosedur dalam berkarya seni rupa
Kesantunan
  • Membentuk gagasan yang halus dan baik dalam penciptaan karya seni rupa
  • Menggunakan ungkapan dan simbol-simbol yang baik dalam penciptaan karya seni rupa
Tanggung jawab
  • Menghasilkan karya seni rupa yang bermanfaat bagi kehidupan
  • Menghasilkan karya seni rupa yang berguna bagi pengalaman estetik
  • Menyelesaikan tugasnya dalam berkarya seni rupa secara kelompok
Kreativitas
  • Menyusun konsep karya seni rupa yang baru.
  • Mewujudkan karya seni rupa dengan komposisi dan teknik yang baru.
Kepekaan estetik
  • Menciptakan karya seni rupa/ lingkungan dengan menyusun unsur-unsur bentuk berdasarkan kaidah-kaidah komposisi.
  • Menggunakan bahan dan alat dengan mengoptimalkan nilai-nilai estetiknya yang intrinsic.

 

 

B.        Kegiatan Pembelajaran Seni Rupa yang Mengembangkan Karakter

 

Integrasi pendidikan karakter di dalam proses pembelajaran seni rupa dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Di antara prinsip-prinsip yang dapat diadopsi dalam membuat perencanaan pembelajaran (merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus, RPP, dan bahan ajar), melaksanakan proses pembelajaran, dan evaluasi yang mengembangkan karakter adalah prinsip-prinsip pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang selama ini telah diperkenalkan kepada guru, termasuk guru-guru SMP seluruh Indonesia sejak tahun 2002, yang diintensifkan dalam pelaksanaan KTSP secara bertahap mulai tahun 2006.

Pada dasarnya pembelajaran kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru dalam mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata siswa, dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Pembelajaran kontekstual menerapkan sejumlah prinsip belajar. Prinsip-prinsip tersebut secara singkat dijelaskan berikut ini.

 

a.   Pembelajaran Seni Rupa berdasarkan Prinsip Konstruktivisme

 

Seperti dijelaskan di muka, konstrukstivisme adalah teori belajar yang menyatakan bahwa seseorang menyusun atau membangun pemahaman mereka terhadap sesuatu berdasarkan pengalaman-pengalaman baru dan pengetahuan awal serta kepercayaannya.

Berdasarkan prinsip konstruktivisme, guru seni rupa dapat mengembangkan pemahaman siswa tentang konsep-konsep seni rupa secara mendalam melalui pengalaman-pengalaman belajar otentik dan bermakna. Dalam proses pembelajaran, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa untuk mendorong aktivitas berpikirnya. Untuk membangun sendiri pengetahuannya guru harus melibatkan secara aktif dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, guru harus merancang pembelajaran seni rupa dalam bentuk kegiatan berapresiasi dan berkreasi seni rupa yang mengaktifkan dan menyenangkan siswa, baik dalam kegiatan individual maupun kelompok.

Secara umum, tugas guru seni dalam pembelajaran konstruktivis adalah memfasilitasi proses pembelajaran seni rupa dengan:

 

1)      menjadikan pembelajaran apresiasi dan berkreasi seni rupa bermakna dan relevan bagi siswa,

2)      memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri dalam berapresiasi maupun berkreasi seni rupa,

3)      menyadarkan siswa agar menerapkan strateginya sendiri dalam belajar berapresiasi dan berkreasi seni rupa.

 

 

b.      Memfasilitasi Pembelajaran Apresiasi Seni Rupa

Untuk melaksanaan pembelajaran apresiasi seni rupa, guru dapat melakukan kegiatan-kegiatan antara lain sebagai berikut:

1)      mempelajari seni rupa melalui sumber-sumber tertulis atau elektronik  (buku, majalah, ensiklopedia, VCD, internet, dan sebagainya) dan membuat laporannya

2)      mengunjungi pameran seni rupa, galeri seni rupa, museum seni rupa, pasar seni, pusat-pusat kerajinan, dan sebagainya serta membuat laporannya

3)      mengunjungi atau mengundang seniman atau pengrajin untuk melakukan wawancara tentang pandangan dan karyanya serta membuat laporannya.

4)      membuat sajian apresiasi seni rupa berdasarkan berbagai sumber dalam bentuk berbagai media, misalnya artikel untuk majalah dinding atau blog internet, VCD, video untuk diunggah di internet, dan sebagainya

5)      Membuat kliping seni rupa

 

Dalam menentukan kegiatan tersebut, guru perlu mempertimbangkan kelayakannya sebagai kegiatan individu atau kegiatan kelompok. Sebagai contoh, Membuat kliping seni rupa cocok untuk kegiatan individu, karena setiap siswa mampu mengerjakannya dan hasilnya juga merupakan koleksi pribadi. Dari segi pengembangan karakter, kegiatan ini berguna untuk melatih kemandirian, percaya diri, kreativitas, dan sebagainya. Sebaliknya untuk tugas yang cukup kompleks, misalnya membuat sajian media apresiasi seni rupa, cocok untuk kegiatan kelompok. Kegiatan kelompok ini penting bagi pengembangan nilai-nilai seperti kerja sama, tanggung jawab, demokratis, dan sebagainya. Meskipun kegiatan pembelajaran apresiasi seni rupa dilakukan secara bersama-sama, misalnya mengunjungi pameran atau galeri seni rupa, guru tetap dapat memberikan tugas individual, misalnya meminta siswa membuat tanggapan tentang salah satu karya seni rupa yang dipilihnya dalam bentuk laporan.

 

c.       Memfasilitasi Kegiatan Berkreasi Seni Rupa

Pembelajaran berkreasi seni rupa pada dasarnya berbentuk tugas praktik membuat karya seni rupa, yang dilengkapi dengan pameran seni rupa, baik di kelas, sekolah, atau masyarakat. Dalam hal ini, guru juga perlu memberikan tugas individual maupun kelompok. Untuk pengembangan karakter, tugas individual berguna untuk mengembangkan nilai-nilai seperti mandiri, percaya diri, tanggung jawab, kreatif, inovatif, tangguh, dan sebagainya. Tugas kelompok berguna bagi pengembangan nilai-nilai seperti kerja sama, demokratis, peduli, menghargai karya orang lain, dan sebagainya.

Untuk mengefektifkan pengembangan karakter dalam pembelajaran praktik berkarya seni rupa, guru perlu berupaya mendorong siswa melakukan hal-hal sebagai berikut:

1)      mengembangkan konsep atau gagasannya sendiri dalam mengerjakan tugas individual, antara untuk mengembangkan nilai-nilai seperti percaya diri, jujur, dan mandiri,

2)      mengerjakan karyanya dengan usahanya sendiri, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai seperti percaya diri, tanggung jawab, jujur, dan mandiri,

3)      melakukan eksplorasi dan eksperimen dalam mengembangkan karyanya, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai seperti ingin tahu, kreatif, dan inovatif,

4)      menangani bahan dan alat sesuai prosedur, untuk mengembangkan nilai-nilai seperti disiplin, peduli lingkungan, dan tanggung jawab,

5)      melibatkan diri secara aktif dalam melaksanakan tugas kelompok, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai seperti demokratis, kerja sama, tanggung jawab, dan menghargai karya orang lain ,

6)      menghasilkan karya seni rupa yang berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain

7)      menghasilkan karya seni rupa yang berkualitas, untuk mengembangkan nilai-nilai seperti tanggung kreatif, tangguh, dan tanggung jawab,

8)      memperlakukan dengan sebaik-baiknya karya sendiri maupun karya orang lain, antara lain untuk mengembangkan nilai-nilai menghargai karya dan prestasi sendiri dan orang lain, tanggung jawab, dan peduli.

 

 

d.  Bertanya (Questioning)

Penggunaan pertanyaan untuk menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

 

Dalam pembelajaran seni rupa yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

 

1)      menggali informasi, baik teknis maupun akademis tentang penciptaan dan pameran seni rupa

2)      mengecek pemahaman siswa tentang konsep-konsep seni rupa

3)      membangkitkan respon siswa terhadap karya seni rupa

4)      mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa tentang makna karya seni rupa atau teknik penciptaan seni rupa

5)      mengetahui konsep-konsep seni rupa yang sudah diketahui siswa

6)      memfokuskan perhatian siswa pada karya seni rupa yang sedang dibahas

7)      menyegarkan kembali pengetahuan siswa tentang konsep-konsep seni rupa

 

Pembelajaran seni rupa yang menggunakan pertanyaan-pertanyaan untuk menuntun siswa mencapai tujuan belajar dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis dan logis, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, dan percaya diri.

 

e.   Inkuiri (Inquiry)

 

Inkuiri adalah proses pembelajaran yang diawali dengan pengamatan dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Dalam pelajaran IPA inkuiri dilaksanakan melalui siklus menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian hipotesis, membuat pengamatan, dan menyusun teori serta konsep yang berdasar pada data dan pengetahuan.

Dalam seni rupa, metode inkuiri dapat digabungkan dengan kritik seni rupa. Kritik seni rupa mencakup unsur-unsur: (1) deskripsi, (2) analisis, (3) interpretasi, dan (4) evaluasi. Penggabungan ini dapat dilaksanakan dalam rangkaian kegiatan sebagai berikut:

 

1)      Merumuskan Masalah

Dalam mengkaji karya seni rupa dapat dirumuskan pertanyaan-pertanyaan seperti: (1) Bagaimana identitas karya (Apakah jenisnya? Apakah nama atau judulnya? Siapa penciptanya? Apakah objek atau temanya?) (2) Bagaimana bentuk atau komposisinya? (3) Bagaimana teknik pembuatannya? (4) Bagaimana maknanya? Bagaimana kualitasnya?

2)      Pengamatan (Observasi) dan Deskripsi

Observasi dapat dilakukan terhadap karya seni rupa dan proses pembuatan karya seni rupa. Observasi terhadap hasil karya seni rupa murni (lukisan, patung, dan seni grafis) dilakukan untuk mengidentifikasi ciri-ciri objek, bentuk, dan teknik. Objek (tema) misalnya manusia, pemandangan alam, alam benda, binatang, atau tumbuh-tumbuhan. Bentuk (komposisi) adalah susunan unsur-unsur seni rupa (garis, bidang, warna, gelap-terang, tekstur volume,  dan ruang). Teknik adalah cara menggunakan bahan dan alat untuk mewujudkan karya seni rupa. Observasi terhadap proses pembuatan karya seni rupa dilakukan untuk mengidentifikasi prosedur dan teknik pembuatan karya seni kerajinan, yaitu langkah-langkah dalam menggunakan bahan dan alat untuk mewujudkan karya seni rupa.

Hasil pengamatan tersebut diuraikan dalam deskripsi tertulis. Jadi, deskripsi adalah uraian secara tertulis tentang apa saja yang dapat dilihat atau diidentifikasi pada karya seni rupa.

3)      Analisis, Interpretasi, dan Evaluasi

Analisis dilakukan untuk memahami hubungan antara objek (tema), bentuk (komposisi), dan teknik pada suatu karya. Interpretasi adalah menyimpulkan makna-makna yang diungkapkan dalam karya tersebut, sedangkan evaluasi adalah pertimbangan tentang kualitas karya.

 

4)      Pembuatan Laporan

Deskripsi, analisis, interpretasi, dan evaluasi tersebut diuraikan secara tertulis dalam bentuk laporan, yang dilengkapi dengan gambar-gambar seperlunya.

 

5)      Pengkomunikasian Hasil Kajian

Hasil pengkajian karya seni rupa dapat dikomunikasikan melalui berbagai bentuk, seperti makalah untuk diskusi kelas, artikel majalah dinding, artikel intuk blog internet, atau media lainnya.

 

Pembelajaran seni rupa yang menerapkan prinsip inkuiri  dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain berfikir kritis,  logis, kreatif, dan inovatif, rasa ingin tahu, menghargai pendapat orang lain, santun, jujur, dan tanggung jawab.

 

f.        Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih dalam. Dalam pembelajaran seni rupa, konsep masyarakat belajar dapat diterapkan dalam bentuk tugas kelompok, baik dalam kegiatan apresiasi maupun berkreasi seni rupa. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk memberikan pendapat dan berbagi gagasan, mendengarkan gagasan siswa lain dengan cermat, dan bekerja sama untuk membangun pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa belajar secara bersama lebih baik daripada belajar secara individual.

 

Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya. Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi jika tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak yang menganggap paling tahu. Semua pihak mau saling mendengarkan.

 

Praktik masyarakat belajar dalam seni rupa antara terwujud dalam:

1)      Tugas berapresiasi dan berkreasi dalam kelompok kecil atau kelompok besar

2)      Mendatangkan ‘ahli’ ke kelas (seniman, pengrajin, kritikus/pengamat seni rupa)

3)      Bekerja sama dengan kelas sederajat, kelas di atasnya, atau masyarakat  dalam penyelenggaraan pameran seni rupa

 

Penerapan prinsip masyarakat belajar dalam pembelajaran seni rupa dapat mengembangkan berbagai karakter, antara lain kerjasama, menghargai pendapat orang lain, santun, demokratis, patuh pada turan sosial, dan tanggung jawab.

 

g.      Pemodelan (Modeling)

 

Pemodelan adalah proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Dalam pembelajaran seni rupa, pemodelan dilakukan baik dalam kegiatan apresiasi maupun berkreasi seni rupa. Pemodelan dapat dilakukan oleh guru, atau melalui media, atau melibatkan siswa.

 

Contoh praktik pemodelan di kelas:

1)      Memberi contoh membuat bentuk elips dan asir dalam menggambar bentuk.

2)      Mendatangkan seorang seniman (pelukis, pematung, atau pengrajin) ke kelas, lalu siswa diminta bertanya jawab dengan tokoh tersebut.

3)      Menunjukkan contoh hasil karya seni kerajinan sebagai contoh siswa dalam membuat karyanya.

4)      Mendemonstrasikan penggunaan bahan dan alat dalam membuat karya seni rupa.

 

Pemodelan dalam pembelajaran seni rupa antara lain dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, menghargai orang lain, dan rasa percaya diri.

 

h.      Refleksi (Reflection)

 

Refleksi dilakukan agar siswa memikirkan kembali apa yang telah mereka pelajari dan lakukan selama proses pembelajaran untuk membantu mereka menemukan makna personal masing-masing. Dalam pembelajaran seni rupa, refleksi biasanya dilakukan pada akhir pembelajaran antara lain melalui diskusi, tanya-jawab, penyampaian kesan dan pesan, saling memberi komentar tentang karya yang dihasilkan, dan mengisi instrument penilaian diri. Contoh instrumen penilaian diri untuk apreseiasi dan berkreasi seni rupa sebagai berikut.

 

Contoh Instrumen Penilaian Diri untuk Apresiasi Seni Rupa:

Berikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut dengan membuat tanda cek () pada kolom jawaban “Ya” atau “Tidak”.

Setelah mengikuti pembelajaran dan melaksanakan tugas-tugas apresiasi seni rupa terapan di DKI Jakarta , apakah Kamu dapat:

Ya

Tidak

1.      Memahami pengertian seni rupa murni?    
2.      Memahami pengertian seni rupa terapan?    
3.      Mengenal karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
4.      Memahami asal-usul seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
5.      Memahami teknik pembuatan karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
6.      Memahami ciri-ciri bentuk karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
7.      Memahami fungsi dan makna karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
8.      Menikmati keindahan karya-karya seni rupa terapan di DKI Jakarta?    
9.      Menghargai karya-karya seni rupa terapan sebagai hasil ciptaan seniman/pengrajin?    

 

Contoh Instrumen Penilaian Diri untuk Berkresiasi Seni Rupa

Berikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut dengan membuat tanda cek () pada kolom jawaban “Ya” atau “Tidak”.

 

Setelah mengikuti pembelajaran dan melaksanakan tugas-tugas berkreasi gambar bentuk apakah Kamu dapat:

Ya

Tidak

1.      Memahami pengertian tentang gambar bentuk?    
2.      Memahami langkah-langkah dan teknik menggambar bentuk?    
3.      Menghasilkan karya gambar bentuk yang bagus?    
4.      Mengerjakan tugas menggambar bentuk dengan percaya diri?    
5.      Menghargai karya gambar bentuk saya sendiri?    
6.      Menghargai karya gambar bentuk saya teman sekelas?    

 

Refleksi dalam pembelajaran seni rupa antara lain dapat menumbuhkan kemampuan berfikir logis dan kritis, mengetahui kelebihan dan kekurangan diri sendiri, dan menghargai pendapat orang lain.

 

 

i.        Penilaian Otentik (Authentic Assessment)

 

Penilaian autentik sesungguhnya adalah suatu istilah yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance) yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Strategi penilaian yang cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa teknik penilaian.

Penilaian dalam pembelajaran seni rupa mencakup penilaian dalam berapresiasi dan berkreasi seni rupa. Penilaian otentik dalam berapresiasi seni misalnya tugas menulis ulasan atau artikel tentang karya seni rupa, membuat kliping seni rupa, dan membuat sajian apresiasi seni rupa untuk diunggah di blog internet atau media berbagi informasi (Youtube, Twetter, Facebook). Penilaian otentik dalam berkreasi seni rupa adalah tugas membuat karya seni rupa dan melaksanakan pameran. Penilaian karakter juga perlu dilakukan selama proses belajar, yaitu melalui observasi, misalnya dengan instrumen berikut.

 

Contoh Instrumen Observasi Proses Pembelajaran Apresiasi Seni

 

Nama

Nilai Karakter

Skor

Santun

Displin

Demo-kratis

Meng-hargai karya orang lain

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1.

2.

3.

dst.

 

 

 

                         

Keterangan: 1 = kurang, 2 = cukup, 3 = baik

 

 

Contoh Instrumen Observasi Proses Pembelajaran Berkreasi Seni

 

Nama

Nilai Karakter

Skor

Tang-guh

Displin

Peduli

Meng-hargai karya orang lain

1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 2 3
1.

2.

3.

dst.

 

 

 

                         

Keterangan: 1 = kurang, 2 = cukup, 3 = baik

 

 

Penilaian autentik dalam pembelajaran seni rupa dapat mengembangkan berbagai karakter antara lain kejujuran, kreativitas, inovasi, tanggung jawab, menghargai karya dan prestasi orang lain, kedisiplinan, dan cinta ilmu.

 

C.    Penggunaan BSE Mata Pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) untuk Pendidikan Karakter

 

1.      Gambaran Umum BSE Mata Pelajaran Seni Rupa

a.      Isi

Isi BSE Seni Rupa untuk Kelas VII, VIII, dan IX secara umum telah sesuai dengan SK dan KD, dengan kelengkapan, keluasan, kedalaman, dan keaktualan. Namun demikian, khususnya untuk KD Kelas 7, berkaitan dengan seni rupa daerah setempat, BSE difokuskan pada seni rupa terapan di DKI Jakarta. Oleh karena itu, materi tersebut tidak cocok untuk daerah-daerah lain, sehingga harus dimodifikasi, disesuaikan dengan seni rupa rupa di daerah tersebut. Untuk menekankan karakter yang khas dalam seni rupa, yaitu kepekaan estetik, perlu pula diberikan materi analisis bentuk karya seni rupa, untuk memahami aspek komposisinya.

 

b.     Metode pembelajaran

BSE untuk mata pelajaran Seni Rupa telah mengacu pada pembelajaran aktif. Namun demikian, agar dapat lebih mengaktifkan siswa dan mengembangkan karakter, langkah-langkah pembelajaran perlu dikembangkan lagi. Untuk pembelajaran apresiasi seni rupa, dalam pengalaman-pengalaman belajar yang lebih mengintensifkan interaksi siswa dengan karya seni rupa, yaitu dengan menerapkan metode inkuiri yang digabungkan dengan kritik seni rupa dalam taraf sederhana.

 

c.       Bahasa

Secarara umum BSE mata pelajaran Seni Rupa menggunakan bahasa sesuai dengan criteria yang ditetapkan oleh BSNP.

 

d.     Grafika

Dari segi tata cetak, BSE mata pelajaran Seni Budaya (Seni Rupa) secara umum telah memenuhi standar grafika yang ditetapkan oleh BSNP.

 

2.   Potensi BSE Mata Pelajaran Seni Rupa untuk Pendidikan Karakter

Karena disusun berdasarkan CTL dan life skill, penyajian materi dalam BSE mata pelajaran seni rupa secara berpotensi untuk pengembangan karakter. Namun demikian, guru perlu melakukan revisi seperlunya untuk menambahkan atau menegaskan karakter yang ingin dikembangkan, baik pada aspek materi, penyajian, maupun evaluasi.

Sebagai contoh, untuk materi pembelajaran, guru dapat menambahkan keterangan tertentu yang mengandung nilai tertentu, misalnya nilai simbolik yang mengandung nilai religius. Untuk penyajian, misalnya guru dapat menambahkan kegiatan tertentu untuk mengembangkan nilai tertentu, misalnya tugas kelompok untuk mengembangkan nilai kerja sama. Demikian juga untuk evaluasi, guru dapat menambahkan penilaian afektif untuk mengukur pencapaian nilai-nilai yang diinginkan.

 

3.         Strategi Penggunaan BSE Mata Pelajaran Seni Rupa untuk Pendidikan Karakter

Adaptasi BSE mata pelajaran Seni Budaya bidang Seni Rupa juga harus disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia. BSE Seni Rupa disusun berdasarkan asumsi alokasi waktu dua jam pelajaran. Sementara itu, sesuai dengan Standar Isi, satuan pendidikan dapat membuat kebijakan untuk melaksanakan salah satu, dua, tiga atau keempat bidang seni (Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari, dan Seni Teater), sehingga jumlah waktu yang tersedia untuk pembelajaran seni rupa tergantung pada kebijakan tersebut. Dengan kata lain, dalam mengadaptasi BSE tersebut, guru dapat mengambil bagian-bagian tertentu saja sesuai dengan waktu yang tersedia.

Penggunaan BSE dapat dilakukan adaptasi sebagai berikut:

a.   Adaptasi lengkap

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam tiga aspek sekaligus, yaitu isi, kegiatan pembelajaran, dan teknik evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

Sebagai contoh, untuk pembelajaran apresiasi seni rupa daerah setempat di Kelas 1 Semester 1, guru mengambil seluruh materi Unit 1 Semester 1 pada BSE Seni Rupa Kelas 7, dengan membuat adaptasi dari segi isi dengan memberikan pernyataan-pernyataan untuk menegaskan nilai-nilai karakter tertentu. (Lampiran 1).

 

b.      Adaptasi sebagian/parsial

Adaptasi jenis ini melibatkan revisi dalam satu atau dua dari tiga aspek berikut: isi, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi dari bahan ajar. Revisi (misalnya penambahan isi, atau reformulasi dan/atau penambahan kegiatan pembelajaran, penambahan dan/atau perubahan teknik evaluasi) dilakukan secara tertulis pada bahan ajar yang direvisi. Setelah revisi selesai bahan ajar tersebut dicetak dan diberikan kepada siswa.

Sebagai contoh, untuk pembelajaran apresiasi seni rupa daerah setempat di Kelas 1 Semester 1, guru mengambil sebagian materi Unit 1 Semester 1 pada BSE Seni Rupa Kelas 7, dengan membuat adaptasi dari segi isi dengan memberikan pernyataan-pernyataan untuk menegaskan nilai-nilai karakter tertentu. (Lampiran 2).

Sumber: Pelatihan Pendikar untuk SMP


Download:

1. RPP IPA VII 1.3 (PENGUKURAN PANJANG) FINAL

3. RPP FISIKA VII 3.2 (MASSA JENIS) FINAL

3. RPP IPA VII 3.1 (PERUBAHAN WUJUD) FINAL

4. RPP FISIKA VII 3.3 (PEMUAIAN) FINAL

RPP IPA VII 5.4 (KslamatnKerja) FINAL

BAGIAN II: PANDUAN KHUSUS

MATA PELAJARAN IPA

 

  1. A.   Nilai-nilai Karakter untuk Mata Pelajaran IPA
  2. 1.    Pengertian IPA

Sains atau IPA mempelajari permasalahan yang berkait dengan fenomena alam dan berbagai permasalahan dalam kehidupan masyarakat. Fenomena alam dalam IPA dapat ditinjau dari objek, persoalan, tema, dan tempat kejadiannya. Dalam buku UNESCO Handbook for Science Teacher (Unesco, dalam Karso, 1994) dikatakaan bahwa IPA adalah suatu kumpulan teori-teori yang telah diuji kebenarannya, menjelaskan tentang pola-pola dan keteraturan maupun gejala alam yang telah diamati secara seksama.

Metode pembelajaran IPA menurut Bernal (1969) merupakan kegiatan mental maupun fisik, termasuk di dalamnya adalah observasi, eksperimentasi, klasifikasi, pengukuran  dan juga melibatkan teori-teori hipotesis serta hukum-hukum, lebih spesifik disampaikan bahwa IPA dapat dilihat sebagai suatu metode. Metode IPA ini merupakan suatu perangkat aturan-aturan untuk memecahkan masalah, untuk mendapatkan atau mengetahui penyebab dari suatu kejadian dan untuk mendapatkan hukum-hukum ataupun teori dari objek yang diamati. Metode ilmiah merupakan suatu logika yang umum digunakan untuk menilai suatu masalah. Metode ilmiah memiliki perangkat norma-norma yang dibakukan sehingga kesimpulan yang didapatkan masuk akal dan dapat dipercaya.

Muslimin Ibrahim, dkk (2004) menjelaskan bahwa metode ilmiah adalah suatu cara dalam memperoleh pengetahuan, yaitu suatu rangkaian prosedur tertentu harus diikuti untuk mendapatkan jawaban tertentu dari pernyataan tertentu pula dengan langkah: (1) Kesadaran dan perumusan masalah; (2) Pengamatan dan pengumpulan data; (3) Penyusunan dan klasifikasi data; (4) Perumusan hipotesis; (5) Deduksi dan hipotesis; (6) Tes dan pengujiaan kebenaran (verifikasi) dari hipotesis.

Pembelajaran IPA memerlukan kegiatan penyelidikan, baik melalui observasi maupun eksperimen, sebagai bagian dari kerja ilmiah yang melibatkan keterampilan proses yang dilandasi sikap ilmiah. Selain itu, pembelajaran IPA mengembangkan rasa ingin tahu melalui penemuan berdasarkan pengalaman langsung yang dilakukan melalui kerja ilmiah. Melalui kerja ilmiah, peserta didik dilatih untuk memanfaatkan fakta, membangun konsep, prinsip, teori sebagai dasar untuk berpikir kreatif, kritis, analitis, dan divergen. Pembelajaran IPA diharapkan dapat membentuk sikap peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka akhirnya menyadari keindahan, keteraturan alam, dan meningkatkan keyakinannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Proses memecahkan masalah dalam IPA menggunakan metode-metode yang dikenal dengan nama metode ilmiah dengan alur kegiatan sebagai berikut:

Pada saat menggunakan metode ilmiah, kita mengikuti suatu proses untuk memecahkan masalah suatu masalah dalam IPA. Diagram di bawah ini adalah proses yang dimaksud. (Terlampir di file)

  1. 2.    Nilai-nilai IPA
    1. a.        Nilai-nilai sosial dari IPA

IPA baik sebagai suatu kumpulan pengetahuan ilmiah maupun sebagai suatu proses untuk mendapatkan ilmu itu sendiri, mempunyai nilai-nilai etik dan estetika yang tinggi. Nilai-nilai itu terletak pada sistem yang menetapkan “kebenaran yang objektif” pada tempat yang paling utama. Proses IPA itu sendiri dapat dianggap sebagai suatu latihan untuk mencari, meresapkan, dan menghayati nilai-nilai luhur itu.

Selain itu dalam kalangan ilmuwan terdapat hubungan “saling percaya“, mereka mempunyai kebebasan dengan caranya sendiri merumuskan hukum-hukum yang mereka temukan dengan metode yang mereka gunakan. Temuan pada masa lalu yang kurang sempurna merupakan jembatan untuk temuan yang lebih sempurna.

  1. b.        Nilai-nilai Psikologis/Pedagogis dari IPA

 

Nilai Psikologis/Pedagogis

Definisi

Sikap Mencintai Kebenaran IPA selalu mendambakan kebenaran yaitu kesesuaian pikiran dan kenyataan, yaitu selalu terlibat dalam proses yang dapat mendorong untuk berlaku jujur dan objektif dalam segala aktivitasnya.
Sikap Tidak Purbasangka IPA membimbing kita untuk tidak berfikir secara prasangka. Kita boleh saja mengadakan dugaan yang masuk akal (hipotesis) asal dugaan itu diuji kebenarannya sesuai kenyataan atau tidak, baru menetapkan kesimpulan.
Menyadari Kebenaran Ilmu Tidak Mutlak Atas kesadarannya bahwa kesimpulan yang didapat hanya berlaku sementara(tidak mutlak) atau menyadari bahwa pengetahuan yang di dapat itu baru sebagian yang bisa dicapai, maka hal ini akan menjadikan orang itu “bersikap rendah hati dan tidak sombong“.
Keyakinan Bahwa Tatanan Alam Tidak Teratur Mempelajari tentang hubungan antar gejala alam dan menemukan adanya kaidah-kaidah atau hukum-hukum alam yang ternyata begitu konsisten aturan-aturannya maka orang akan menyadari bahwa alam semesta itu telah ditata dengan sangat teratur. Hal ini dapat memberikan pengaruh positif untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bersifat Toleran Terhadap Orang Lain Menyadari bahwa pengetahuan yang ia miliki bersifat tidak mutlak sempurna maka ia dapat menghargai pendapat orang lain yang ternyata lebih mengetahuinya atau lebih sempurna untuk memperbaiki, melengkapi maupun untuk meningkatkan pengetahuannya. Ia juga tidak bersikap memaksakan pendapatnya untuk diterima orang lain.
Bersikap Ulet Aktivitas mencari kebenaran dalam IPA akan menciptakan sikap tidak putus asa dan selalu berusaha untuk mencari kebenaran itu walaupun seringkali tidak memperoleh apa-apa.
Sikap Teliti dan Hati-hati Metode ilmiah yang dilaksanakan dengan benar akan mendorong seseorang memiliki sifat-sifat yang baik yaitu teliti dalam melakukan sesuatu serta hati-hati dalam mengambil kesimpulan ataupun dalam mengeluarkan pendapatnya.
Sikap Ingin Tahu (Corious) Rasa ingin tahu merupakan titik tolak atau titik awal dari pengetahuan yang dimiliki oleh manusia. Sikap ini mendorong manusia untuk mencari tahu lebih banyak. Ilmu pengetahuan yang mereka peroleh tentunya bermanfaat bagi dirinya ataupun orang lain. 

Nilai Psikologis/Pedagogis

Definisi

Sikap Optimis Ilmuwan IPA selalu optimis, karena mereka sudah terbiasa dengan suatu eksperimentasi yang tak selalu menghasilkan sesuatu yang mereka harapkan, namun bila berhasil, temuannya itu akan memberikan imbalan kebahagiaan yang tak ternilai dengan uang. Oleh karena itu ilmuwan IPA berpendirian bahwa segala sesuatu tidaklah ada yang tak mungkin dikerjakan. Sesuatu permasalahan yang muncul dihadapinya dengan ungkapan kata-kata “akan saya pikirkan”, “mari kita coba” atau “berilah saya kesempatan”, yaitu ungkapan kata-kata dari seorang yang optimis.

 

Berdasarkan karakteristik IPA tersebut maka potensi untuk diintegrasikan dengan nilai karakter seperti yang telah dijelaskan dalam Bab I adalah sebagai berikut.

1)        Karakter Pokok

 

Nilai karakter utama pada matapelajaran IPA dapat dikemukakan, dideskripsikan, dan dirumuskan indikatornya seperti berikut.

 Nomor

 

Nilai/Karakter

 

Indikator

Kereligiusan
  • Menggunakan fakta keteraturan fenomena alam sebagai rujukan membangun konsep, teori, atau hukum untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME
  • Mengagumi kebesaran ciptaan Tuhan
  • Melakukan konservasi sumber daya alam
  • Selalu berdoa dalam melakukan usaha
Kejujuran
  • Melakukan pengamatan sesuai prosedur ilmiah yang digunakan
  • Menyajikan data berdasarkan hasil pengamatan atau percobaan
  • Menganalisis data sesuai kaidah ilmiah
  • Menarik kesimpulan hasil percobaan berdasar hasil analisis data yang telah dilakukan
Kecerdasan
  • Mampu mengambil kesimpulan/keputusan secara cepat dan tepat berdasar hasil analisis yang telah dilakuakan
  • Mampu memilah dan menggunakan alat lab yang cocok untuk suatu kegiatan percobaan
  • Mampu memberikan solusi yang tepat

 

Ketangguhan
  • Yakin dengan pendapatnya
  • Melakukan pengulangan pengamatan/eksperimen untuk mendapatkan data yang akurat

 

Demokratis
  • Memiliki kebebasan bertindak yang bertanggungjawab dan kesamaan hak
  • Memberi kesempatan orang lain untuk menyampaikan pendapatnya
  • Melaksanakan pengamatan/eksperimen yang dibebankan
  • Memberikan beban tugas yang sama pada siswa pada saat pengamatan/eksperimen
Kepedulian
  • · Berbagi tugas dalam melaksanakan kegiatan eksperimen
  • · Menggunakan alat lab sesuai prosedur keselamatan yang ada
  • · Menaruh perhatian secara penuh pada aspek keselamatan dan kesehatan kerja di lab
  • Membantu temannya yang mengalami kesulitan/kecelakaan kerja di lab

2)   Karakter utama IPA

 

Sejalan dengan rumusan karakter yang dikembangkan pada jenjang SMP dan karakteristik IPA, maka dalam mata pelajaran IPA secara spesifik peserta didik akan dididik dan dilatih untuk mengembangkan karakter sebagai berikut.

Nomor

Nilai/Karakter

Indikator

Keingintahuan
  • Suka bertanya secara mendalam dan meluas
  • Membaca untuk menemukan informasi
  • Mengajukan pertanyaan
Berpikir logis
  • Mampu menggunakan pikiran rasional untuk mengambil keputusan.

 

Berpikir kritis, kreatif, dan inovatif
  • Mampu menggunakan pikiran untuk menghasilkan ide asli.
Gaya hidup sehat
  • Memiliki kegiatan positif untuk menjaga pola hidup sehat
Percaya diri
  • Mampu menyampaikan ide atau melakukan sesuatu dengan yakin dan benar

 

Menghargai keberagaman
  • Menghargai pendapat orang lain tanpa memperhatikan latar belakangnya atau tanpa memperhatikan perbedaan bentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.
Kedisiplinan
  • Mampu melakukan sesuatu secara berkelanjutan sesuai prosedur yang berlaku
  • Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
Kemandirian
  • Mampu melakukan kegiatan akademik secara sendiri

 

Tanggung jawab
  • Berhati-hati saat bekerja dengan alat dan bahan.
  • Melakukan kegiatan sesuai dengan prosedur yang diberikan.
  • Mampu mencapai tujuan melalui kegiatan individual maupun kelompok
Cinta ilmu
  • Mampu menjadi pebelajar sepanjang hayat
Ketelitian dan kecermatan
  • Memiliki sikap hati-hati, seksama, dan teliti

 

Kesantunan
  • Mampu berkomunikasi secara efisien dan efektif tanpa menyinggung perasaan orang lain.
  1. Kegiatan Pembelajaran yang Mengembangkan Karakter pada Pembelajaran IPA  

      

prinsip-prinsip Contextual Teaching and Learning seperti yang telah dijabarkan pada Bab I, disarankan diaplikasikan pada semua tahapan pembelajaran karena prinsip-prinsip pembelajaran tersebut sekaligus dapat memfasilitasi terinternalisasinya nilai-nilai. Selain itu, perilaku guru sepanjang proses pembelajaran harus merupakan model pelaksanaan nilai-nilai bagi peserta didik.

Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran IPA berorientasi pada siswa. Peran guru bergeser dari menentukan “apa yang akan dipelajari” ke “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa”.  Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif  dengan teman, lingkungan, dan sumber lain.

Ada beberapa model pembelajaran  yang telah dikembangkan sebagai aplikasi dari Contextual Teaching and Learning dalam melaksanakan pembelajaran IPA model-model tersebut adalah : Direct instruction (pengajaran langsung) dan cooperative learning (pembelajaran kooperatif) keduanya dapat digunakan untuk memperkaya pelaksanaan pembelajaran mengintegrasikan pendidikan karakter.

Aktivitas atau metode pembelajaran juga model pembelajaran yang dominan dan biasa dipergunakan  pada matapelajaran IPA adalah:

MODEL

METODE

Potensi Nilai Karakter yang Mungkin

Direct Instruction Pengamatan (Mengajukan pertanyaan, mendata, mengklasifikasi, menganalisis data, dan  menyimpulkan) Kereligiusan, kejujuran, berpikir logis, Berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, demokratis, tanggung jawab, menghargai keberagaman Ketelitian dan kecermatan, kesantunan, gaya hidup sehat, percaya diri, kedisiplinan.

 

Berikut contoh aplikasi penggunaan model, metode, integrasi nilai karakter dalam pembelajaran Direct Instruction:

Fase-fase

Aktivitas yang difasilitasi oleh Guru

Fase 1Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa Menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar
Fase 2Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan Mendemonstrasikan keterampilan yang benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap

Fase-fase

Aktivitas yang difasilitasi oleh Guru

Fase 3Membimbing pelatihan Merencanakan dan memberi bimbingan awal
Fase 4Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik Mengecek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik
Fase 5Memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan Mempersiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari
   

 

Contoh pada materi pengukuran

 

1. KEGIATAN PENDAHULUAN

  1. Peserta didik diminta pendapat tentang pentingnya pengukuran dalam kehidupan sehari-hari dan diminta memberikan contoh manfaat dilakukannya pengukuran (Fase 1) (berpikir logis)
  2. Guru menyampaikan tujuan/kompetensi yang akan dicapai serta cakupan materi yang akan dipelajari (Fase 1)

 

2. KEGIATAN INTI

  1. Guru melakukan demonstrasi pengukuran panjang dengan menggunakan jangka sorong, dengan menyajikan informasi tahap demi tahap (Fase 2)
  2. Peserta didik mendemonstrasikan pengukuran panjang dengan menggunakan jangka sorong yang benar (Fase 3) (ketelitian dan kecermatan)
  3. Guru memberi bimbingan pelatihan awal dilanjutkan dengan memberikan kesempatan peserta didik berinteraksi dalam diskusi kelompok dan memberi umpan balik untuk memperoleh kesimpulan tentang tingkat ketelitian alat ukur panjang (Fase 3) (menghargai pendapat)
  4. Peserta didik melakukan presentasi tentang hasil pengukuran yang dilakukan tiap kelompok dan peserta didik diminta melakukan refleksi untuk memperoleh langkah-langkah pengukuran yang benar (Fase 4) (percaya diri dan kesantunan)
  5. Guru meberikan tugas kepada peserta didik untuk melakukan pengukuran yang relevan dengan jangka sorong terhadap benda-benda di sekitarnya  dalam kehidupan sehari – hari (Fase 5) (ketelitian dan kecermatan)

3. KEGIATAN PENUTUP

  1. Peserta didik menyimpulkan tingkat ketelitian hasil pengukuran dengan menggunakan penggaris dan jangka sorong (tanggung jawab)
  2. Guru memberi penghargaan pada peserta didik yang berperan aktif dalam kegiatan diskusi dan presentasi (Kepedulian)

 

 

MODEL

METODE

Potensi Nilai Karakter yang Mungkin

Cooperative Learning Pengamatan (Mengajukan pertanyaan, mendata, mengklasifikasi, menganalisis data, dan  menyimpulkan) Kereligiusan, kejujuran, berpikir logis, Berpikir kritis, kreatif, dan inovatif, demokratis, tanggung jawab, menghargai keberagaman Ketelitian dan kecermatan, kesantunan, gaya hidup sehat, percaya diri, kedisiplinan.
Eksperimen/Penyelidikan/penemuan (merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, merancang percobaan, mendata, mengklasifikasi, menganalisis data, menyimpulkan) Kereligiusan, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian, demokratis, keingintahuan, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, gaya hidup sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, cinta ilmu, kecermatan dan ketelitian.

Berikut contoh aplikasi penggunaan model, metode, integrasi nilai karakter dalam pembelajaran Cooperative Learning:

 

Fase-fase

Aktivitas yang difasilitasi oleh Guru

Fase 1Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Menyampaikan  semua tujuan yang ingin dicapai selama pembelajaran dan memotivasi siswa belajar
Fase 2Menyajikan informasi Menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi  atau lewat bahan bacaan
Fase 3Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Menjelaskan kepada siswa bagaimana cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4Membimbing kelompok bekerja dan belajar Membimbing kelompok belajar pada saat  mereka mengerjakan tugas mereka

 

Fase 5Evaluasi Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta kelompok mempresentasikan hasil karyanya
Fase 6Memberikan penghargaan Menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Contoh pada materi ekosistem

Pendahuluan

1) Mengajak peserta didik berdoa/mensukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa, Menyampaikan salam dan menanyakan keadaan peserta didik apakah dalam kondisi sehat dan siap belajar IPA, mengecek kehadiran, kebersihan dan kerapian kelas (Kereligiusan)
2) Peserta didik mempresentasikan hasil tugas mencari berita tentang akibat banjir. (Pada pertemuan sebelumnya, peserta didik diberi tugas membaca artikel tentang banjir dan akibatnya)(Keingintahuan, Cinta Ilmu)
3) Guru menyampaikan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai.
  1. a.      Kegiatan Inti
1) Peserta didik diminta membaca materi tentang kerusakan lingkungan dan menggarisbawahi konsep penting dengan  kecermatan dan ketelitian
2) Peserta didik memperhatikan penjelasan tentang aturan diskusi untuk mengkaji hasil pengamatan lingkungan alami dan lingkungan yang mengalami kerusakan.
3) Peserta didik dikelompokkan dalam kelompok kooperatif yang beranggotakan 4 atau 5 siswa dengan memperhatikan heterogenitas akademik dan jenis kelamin.
4) 

 

 

5)

Peserta didik melakukan pengamatan dengan keingintahuan dan menuliskan hasil pengamatan dengan kejujuran, kecermatan dan ketelitian serta bertanggungjawab dengan anggota kelompok.Peserta didik  bertanggungjawab mendiskusikan hasil pengamatan pada lingkungan alami dan lingkungan yang mengalami kerusakan dengan memperhatikan ciri, faktor penyebab, akibat, dan upaya penanggulangan kerusakan.

Selama diskusi perserta didik mendapat bimbingan dari guru.

6) Beberapa kelompok mempresentasikan hasil kegiatannya, dan kelompok lain memberikan tanggapannya (menghargai keberagaman)
7) Penghargaan diberikan pada kelompok yang kinerjanya paling baik dan baik.

 

  1. b.      Penutup
1) Peserta didik menyimpulkan konsep kerusakan lingkungan dan Guru membantu peserta didik bila ada kesulitan (Kepedulian)
2) Setiap kelompok diminta untuk membawa 10 ekor ikan hias kecil-kecil dan sabun detergen untuk percobaan pertemuan berikutnya.

 

*)  Contoh integrasi nilai karakter pada perencanaan pembelajaran silabus dan RPP untuk kelas VII lengkap terlampir.

 

  1. C.  Penggunaan BSE Mata Pelajaran IPA untuk Pendidikan Karakter

 

  1. 1.     Gambaran umum BSE Mata Pelajaran IPA

Secara umum bahan ajar BSE IPA yang beredar di sekolah untuk kelas VII (Penulis Ani dkk., Teguh dkk.; dan Wasis dkk.)  adalah sebagai berikut:

No

Aspek

Hasil Telaah

a.

Isi Telah baik dan sesuai dalam hal: Cakupan dan kedalaman materi pokok sesuai dengan yang diamanatkan SK dan KD, kebenaran konten (fakta, konsep, teori dan prinsip/ hukum), kemutakhiran isi sesuai dengan perkembangan ilmu, materi yang disajikan dapat memotivasi siswa menimbulkan gagasan baru, menumbuhkan rasa ingin tahu, mengembangkan kecakapan hidup (personal, sosial, akademik dan vokasional), memperhatikan keterkaitan sains, teknologi dan masyarakatCatatan:  untuk BSE dengan penulis Ani dkk, Teguh dkk dari sisi isi hanya berisi informasi saja

 

No

Aspek

Hasil Telaah

b.

Metoda Pembelajaran Telah baik dan sesuai dalam hal: Memenuhi konsep konstruktivis, siswa membangun pemahaman sendiri dari pengalaman baru berdasarkan pada pengalaman awal, menumbuhkan rasa ingin tahu, mendorong untuk mencari informasi lebih jauh, memenuhi komponen bertanya (pertanyaan untuk mengecek pemahaman siswa), Memotivasi siswa untuk berkomunikasi, berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain, dan menciptakan umpan balik.Catatan:  untuk BSE dengan penulis Ani dkk, Teguh dkk dari kegiatan hanya menyediakan kegiatan yang bersifat resep saja.

c.

Bahasa Telah baik dan sesuai dalam hal: Bahasa yang dipakai sesuai dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, materi disajikan dengan bahasa yang menarik, bahasa yang digunakan dapat memotivasi siswa untuk belajar, memungkinkan siswa seolah-olah berkomunikasi dengan penulis buku siswa, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, istilah yang digunakan tepat dan dapat dipahami, dan menggunakan istilah dan simbol secara ajeg.

d.

Grafika Menarik, memperjelas konsep,  relevan dengan bahasan yang ada dan banyak gambar untuk memperjelas konsep yang masih abstrak.

e.

Berdasarkan karakteristik buku BSE kelas VII yang dipergunakan sekolah, maka potensi nilai karakter dapat di sisipkan pada setiap komponen buku ajar.

 

2. Strategi Penggunaan BSE untuk Pendidikan Karakter

Berikut adalah contoh penggunaan BSE untuk pendidikan karakter adaptasi lengkap sebelum pembelajaran dilaksanakan dan adaptasi tersebut dari sisi isi, kegiatan pembelajaran,dan evaluasi.

Contoh IPA-Biologi

SK: Memahami keanekaragaman makhluk hidup.

KD: Mendeskripsikan keragaman pada sistem organisasi kehidupan mulai dari tingkat   sel  sampai organisme.

Judul:  Contextual Teaching and Learning Ilmu Pengetahuan Alam  Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah

Sumber : Materi Pelatihan Pendikar SMP


Download:

Kata Pengantar_Panduan Guru

PETUNJUKGURU MAT

RPP KD 5.1 Desember 2010 edited4

RPP KD 6.4 Solo Des 2010

RPP Solo KD 1.1 Final Sahid Solo

RPP KD 2.3 Final Sahid Solo

lembar penilaian diri KD1.1

BAB II

PANDUAN KHUSUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA

 

            Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan modern,  mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia. Untuk menguasai dan menciptakan teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Untuk membekali peserta didik menjadi seorang penguasa teknologi yang mampu memanfaatkan ilmunya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tidaklah cukup hanya dengan membekali penguasaan kognitif saja, namun diperlukan pembentukan karakter peserta didik. Berikut adalah nilai-nilai karakter utama dan pokok dalam pembelajaran matematika.

  1. A.    Karakter utama untuk pelajaran Matematika

Karakter utama untuk pelajaran matematika meliputi berpikir logis, kritis, kerja keras, keingintahuan, kemandirian, percaya  diri. Tabel 1.2 berikut mendeskripsi-kan  nilai karakter dan indikatornya

Tabel 1.2 Nilai-Nilai Karakter dan Indikatornya

No

Nilai Karakter Utama

Indikator

1 Berpikir logis, kritis, reatif, dan inovatif  1)   memaparkan pendapat didasarkan pada fakta empirik
2)   menunjukkan kekuatan dan kelemahan suatu permasalahan
3)   memberikan pemikiran alternatif pada permasalahan yang dihadapi
4)   memaparkan cara atau hasil baru dan mutakhir dari apa yang telah dimiliki
  5)   memberikan gagasan dengan cara-cara yang asli atau bukan klise
2 Kerja keras  1) menyelesaikan semua tugas dengan  baik dan tepat waktu
2)    tidak putus asa dalam menghadapi  masalah
3)    tidak mudah menyerah dalam menghadapi masalah
3 Keingintahuan  1)    menanyakan segala sesuatu yang belum diketahui
2)    mengamati perubahan-perubahan dari hal-hal atau kejadian
3)    berupaya mencari sumber belajar tentang konsep atau masalah yang dipelajari /dijumpai
4)    berupaya untuk mencari masalah yang lebih menantang
5)    aktif dalam mencari informasi
4 Kemandirian  1)     memiliki keyakinan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi
2)    memiliki  keyakinan akan kemampuan dirinya
3)    mencatat hal-hal penting yang terkait dengan materi pelajaran matematika
  4)  mencari strategi untuk mengatasi kesulitan tersebut dengan pemikirannya sendiri
  5)  mempunyai kemampuan untuk mengatur belajarnya sendiri
  6)  memiliki perilaku yang dapat menentukan tujuan belajar, sumber belajar, materi yang dipelajari, dan bagaimana mempelajarinya
5. Percaya diri  1)  menguasai materi prasyarat untuk menyelesaikan materi berikutnya
2)  mempunyai inisiatif
3)   memiliki keyakinan dapat menyelesaikan masalah yang  dihadapi
4)   tidak menunjukkan keragu-raguan dalam melakukan sesuatu
5)   menunjukkan keberanian menyampaikan pendapat saat berdiskusi di kelas
6)   tidak mengeluh saat menyelesaikan masalah yang diberikan guru
  1. B.           Karakter pokok pada pelajaran Matematika

Karakter pokok pada pelajaran matematika meliputi religius, kejujuran, kecerdasan, ketangguhan, kepedulian,  dan demokratis. Tabel 2.1 menguraikan deskripsi masing-masing nilai karakter tersebut beserta indikatornya

Tabel 2.1 Deskripsi Nilai-Nilai Karakter dan Indikatornya

No

Nilai Karakter Pokok

Indikator

1 Kereligiusan  1) mengagumi kebesaran Tuhan melalui berbagai model matematika
2) mengagumi kebesaran Tuhan karena kemampuan dirinya untuk hidup sebagai anggota masyarakat
3) mengagumi kekuasaan Tuhan yang telah mencipta kan berbagai alam semesta
4)  mengagumi kebesaran Tuhan karena adanya agama sebagai sumber keteraturan hidup masyarakat
2 Kejujuran 1) tidak menyontek ataupun menjadi plagiat dalam mengerjakan setiap tugas
2) mengemukakan rasa senang atau tidak senang terhadap pelajaran
3) menyatakan sikap terhadap suatu materi diskusi kelas
4)  mengemukakan pendapat tanpa ragu tentang suatu pokok diskusi
5)  menyelesaikan masalah dilakukan sesuai dengan kemampuannya sendiri
3 Kecerdasan 1) pikiran dan perilaku yang berupa reaksi yang cermat, tepat dan  cepat/akurat terhadap pengalaman baru
2) cermat, tepat dan cepat/tangkas menyelesaikan masalah
3) mampu menerapkan pengetahuan yang diperolehnya terhadap hal-hal yang baru
4 Ketangguhan  1)   sikap dan perilaku pantang menyerah /tidak mudah  putus asa dalam mengahadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
2)   kokoh mempertahankan pendapatnya
3)  mampu mengatasi berbagai masalah menjadi tugasnya atau apa yang diinginkannya
4) berpendirian kuat untuk mempertahankan hati nuraninya
5) tidak mudah berubah sikap dalam menghadapi masalah
5 Kedemokratisan 1) memilih ketua kelompok berdasarkan suara terbanyak
2)   mendukung hasil kesepakatan
3)   mengemukakan pikiran tentang idenya
4) memberi kesempatan orang lain untuk mengemukakan pendapat sesuai dengan cara masing-masing
6 Kepedulian 1) sikap simpati dan empati bagi orang lain atau kelompok yang kurang  beruntung
3)   memberikan bantuan sesuai dengan kemampuannya terhadap  orang lain  yang mempunyai masalah
3) membantu teman lain menyelesaikan masalah  dalam segala situasi
4)   memberikan bimbingan teman lain yang menemui masalah
  1. C.           Kegiatan Pembelajaran yang Mengembangkan Karakter pada Pembelajaran Matematika

Dalam kegiatan pembelajaran matematika diperlukan strategi pembelajaran yang dapat mengintegrasikan pembentukan karakter peserta didik. Tabel 2.2 berikut adalah contoh kegiatan pembelajaran matematika yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter yang ingin ditanamkan.

Tabel 2.2 Contoh Kegiatan Pembelajaran Matematika yang Mengintegrasikan Nilai-Nilai Karakter

No

Nilai Karakter

Kegiatan Pembelajaran

1 Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif  1)      melakukan kegiatan investigasi/penelitian
2)      menyelesaikan persoalan pemecahan masalah
3)      menyelesaikan persoalan open-ended untuk memberikan pemikiran alternatif pemecahannya
4)      melakukan kegiatan laboratorium untuk mengumpul kan fakta empirik sebagai dasar pengambilan ke simpulan
5)      melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif
  6)      melakukan analisis dari masalah yang dihadapi
2 Kerja keras  1)      menyelesaikan tugas di dalam kelas, tugas pekerjaan rumah, tugas terstruktur
2)      menyelesaikan tugas sesuai batas waktu yang ditetapkan
3)      menyelesaikan tugas proyek
4)      tidak berhenti menyelesaikan masalah sebelum selesai
5)      melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kerja keras
3 Keinginta-huan  1)      melakukan kegiatan tanya jawab saat kegiatan apersepsi
2)      melakukan kegiatan tanya jawab pada kegiatan diskusi
3)      menugaskan peserta didik membuat pertanyaan  (mengunakan metode problem posing )
4)      menugaskan peserta didik mencari sumber belajar
5)      melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai keingintahuan
4 Kemandirian  1)      melakukan penilaian secara individu
2)     menyelesaikan sendiri tugas yang menjadi tanggung jawabnya
3)      melakukan kegiatan penyelidikan untuk penemuan konsep
4)      melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kemandirian
5)      aktif dalam melakukan refleksi
  6)   tidak ada keragu-raguan  menyampaikan pendapat saat berdiskusi di kelas
  7)   dengan rela  menyelesaikan sendiri masalah yang diberikan guru
5 Percaya diri  1)      melakukan tanya jawab saat apersepsi tentang materi prasyarat
2)      mengajukan pertanyaan dan pernyataan atas suatu masalah
3)      menyelesaikan masalah yang dihadapi
4)      melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai percaya diri
6 Kereligiusan  1)  menyiapkan peserta didik dimulai dengan berdoa apabila jam pertama, absensi, kebersihan kelas,  dst
2) mengagumi kebesaran Tuhan melalui penyampaian materi matematika secara kontekstual yang terkait dengan dunia peserta didik dan materi, misalnya adanya keteratuan bentuk geometri, keteratuan dan lain sebagainya
7 Kejujuran 1) mengerjakan soal ujia secara individu tanpa menyontek
2) mengerjakan tugas pekerjaan rumah secara individu dan tidak menjadi plagiat dalam mengerjakan setiap tugas
3) melakukan kegiatan refleksi sehingga peserta didik dapat mengemukakan rasa senang atau tidak senang terhadap pelajaran
4) melakukan kegiatan diskusi agar peserta didik dapat mengemukakan pendapat tanpa ragu tentang suatu pokok diskusi
5) melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kejujuran
8 Kecerdasan 1)   memberikan latihan/soal pemecahan masalah
2)   melakukan kegiatan penemuan
3) melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kecerdasan
9 Ketangguhan  1)   sikap dan perilaku pantang menyerah /tidak mudah  putus asa dalam mengahadapi berbagai kesulitan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
1)   mengikuti kegiatan pembelajaran dalam berbagai situasi
2)   menyelesaikan  berbagai masalah yang menjadi tugasnya atau apa yang diinginkannya
3)   mempertahankan pendapatnya dalam kelompok diskusi atau aktivitas lain
2) mampu mengatasi berbagai masalah menjadi tugasnya atau apa yang diinginkan nya
3) berpendirian kuat untuk mempertahankan hati      nuraninya
4) tidak mudah berubah sikap dalam menghadapi      masalah
5) melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai ketangguhan
10 Kedemokra-tisan 1) memberikan kesempatan pada peserta didik untuk memilih ketua kelompok saat kegiatan diskusi
2) memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok
3) memberi kesempatan pada peserta didik ntuk mengemukakan pendapat sesuai dengan cara masing-masing saat kegiatan diskusi
4) memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok
5) melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kedemokratisan
5)  menghargai pendapat orang lain yang sedikit berbeda atau berbeda sama sekali dengan dirinya
11 Kepedulian 1)   memberikan tanggapan atas pertanyaan yang disampaikan teman lain
2)   memberikan kesempatan pendapat teman lain  saat kegiatan tanya jawab
 3) memberikan bantuan terhadap teman sesuai dengan kemampuannya terhadap  teman lain yang memiliki masalah
4) memberikan penghargaan pada kegiatan diskusi saat teman lain menyelesaikan masalah
5) melakukan tanya jawab berkaitan materi matematika dan keterkaitan dengan persoalan kontekstual dengan  nilai kepedulian
  1. D.          Penggunaan BSE Mata Pelajaran Matematika untuk Pendidikan Karakter

Secara umum buku pelajaran BSE Matematika yang beredar saat ini dari segi isi atau konsep, grafis, bahasa, tampilan layak untuk digunakan, dan memuat nilai karakter.

Beberapa bagian dalam BSE Matematika dapat dipilih sebagai bahan rujukan untuk pendidikan karakter. Berikut adalah salah satu cuplikan gambaran umum BSE mata pelajaran Matematika didasarkan pada hasil content analysis sebagai berikut.

  1. BSE memiliki tujuan pembelajaran sesuai dengan pengembangan standar isi dan pendidikan karakter.

Contoh :

Dalam buku BSE tercantum secara eksplisit tujuan pembelajaran yang akan membantu siswa menguasai Standar Kompetensi yang berbunyi : (6) Memahami konsep segitiga dan segi empat serta menentukan ukurannya, dengan kompetensi dasar : (6.1) Mengidentifikasi sifat-sifat segitiga berdasarkan sisi dan sudutnya; (6.2) Mengidentifikasi sifat-sifat persegi panjang, persegi, trapesium, jajargenjang, belah ketupat dan layang-layang; (6.3) Menghitung keliling dan luas bangun segitiga dan segi empat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah; (6.4) Melukis segitiga, garis tinggi, garis bagi, garis berat dan garis sumbu

Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. 2008

  1. BSE berpotensi menyajikan bahan ajar yang menciptakan siswa aktif dan bahasa membumi serta tidak multi tafsir

Contoh :

Dalam materi ini memungkinkan terciptanya aktivitas siswa melalui kegiatan penyelidikan yang diawali dengan aktivitas melukis semua garis tinggi pada segitiga yang telah ditentukan seperti yang ditunjukkan dalam gambar, sehingga tidak menyebabkan multi tafsir. Disamping itu dapat diamati keaktifan siswa dalam melukis garis bagi. Keaktifan tersebut dilakukan siswa atas dasar informasi yang menyatakan :

  1. “Dengan menggunakan penggaris dan jangka, lukislah semua garis tinggi pada segitiga ABC berikut”. Redaksi pada perintah tersebut menggunakan bahasa yang mudah dipahami peserta didik kelas VII sehingga peserta didik melaksanakan tersebut yaitu melukis ketiga garis tinggi.
  2. “Apa yang dapat kamu simpulkan dari ketiga garis tinggi tersebut “ juga menggunakan kalimat yang sederhana yang mudah dipahami, yaitu menyelidiki perpotongan ketiga garis tinggi yang dilukis tersebut

Melalui cara menggunakan penggaris dan jangka dapat dilakukan penilaian autentik dengan instrumen non tes berupa rubrik. Penilaian dilakukan pada saat peserta didik melukis garis tinggi. Dengan cara yang sama pada saat peserta didik melukis garis bagi pada segitiga yang digambar pada bukunya. Gambar segitiga tidak jauh berbeda dengan gambar yang ada pada  buku BSE.

Atik Wintarti dkk.2008.

  1. BSE memuat bahan ajar dengan gambar menarik, relevan dengan konsep yang disajikan dan tidak mengandung multi tafsir

Contoh:

Bahan ajar yang menampilkan gambar-gambar menarik , jelas, relevan dengan konsep, mudah untuk diikuti untuk melakukan kegiatan. Gambar bekas goresan jangka berupa dua buah busur lingkaran dapat di amati dengan jelas. Demikian pula gambar titik potong kedua busur lingkaran dapat dilihat secara jelas pula.

  Atik Wintarti dkk.2008

  1. BSE adalah bahan ajar yang memiliki nilai karakter, baik secara implisit maupun eksplisit.

Contoh :

Dalam materi ini tampak bahwa tugas mandiri diberikan dengan maksud untuk menumbuhkan kerja keras dan ketangguhan dan percaya diri. Kegiatan tersebut melatih berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif  dalam menyelidiki dua segitiga yang kongruen. Peserta didik akan menyusun bangun baru dari dua segitiga yang sebangun. Kegiatan menyusun bangun baru dari dua segitga yang sebangun tersebut dapat mendorong peserta didik agar  kerja keras dan percaya diri dalam melakukan penyelidikan .

                                                                        Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. 2008

  1. E.           Strategi penggunaan BSE mata pelajaran matematika untuk pendidikan karakter

Banyak strategi penggunaan BSE Matematika sebagai bahan ajar yang mengintegrasikan nilai karakter. Berikut adalah beberapa contoh strategi dalam penggunaan BSE yang dapat dipilih

  1. Adaptasi lengkap sebelum pembelajaran dilaksanakan.

Sub topik melukis segitiga yang termuat dalam salah satu buku BSE. Dari segi isi, metode dan evaluasi sudah cukup layak sebagai bahan ajar, namun belum menunjukkan adanya integrasi  pendidikan karakter. Berikut adalah adaptasi lengkap yang dapat dilakukan baik dari isi, metode pembelajaran maupun pengembangan evaluasi yang dapat mengintegrasikan pendidikan karakter.

Contoh:

Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni. 2008

Adaptasi yang dapat dilakukan melalui isi, metode dan evaluasi. Berikut adalah contoh adaptasi yang dapat dilakukan.

Dari segi isi/materi guru dapat memberikan materi yang kontekstual, persoalan kontekstual yang disampaikan misalnya akan dibuat pelengkap bangunan masjid secara bergotong royong,. Ssaat ini dibuat pelengkap bangunan berbentuk segitiga sama kaki dengan besar salah satu sudut 45o dengan panjang salah satu sisi adalah 2 m. Untuk keperluan tersebut dibutuhkan gambar segitiga yang tepat. Melalui penyampaian materi ini, peserta didik dapat berinovasi,  dan berkreativitas dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Agar karaktekr demokrasi, serta kepedulian timbul, materi tersebut dapat dilakukan dengan meminta peserta didik menyelesaikan dalam diskusi kelompok dan mempresentasikan penyelesaian permasalahan tersebut.

Evaluasi yang dilakukan masih pada evaluasi kognitif, untuk itu dapat ditambahkan evaluasi  untuk mengukur kemampuan lainnya sebagai contoh:

 Lembar Penilaian Diri

 

Nama : …………………          Kelas  : ……………                 Tanggal         …………

Petunjuk:

Berilah tanda Ö sesuai dengan keadaanmu yang sebenarnya!

Skala Penilaian

5 4 3 2 1
Selalu dibantu teman saat mengerjakan tugas Tidak pernah dibantu saat mengerjakan tugas
Mengerjakan soal ujian sendiri Melihat pekerjaan teman bila diperlukan
Selalu mencontoh pekerjaan teman Tidak pernah mencontoh pekerjaan teman
Selalu merefleksi setiap kegiatan pembelajaran Tidakpernah merefleksi kegiatan pembelajaran
Selalu ragu menge-mukakan pendapat Tidak pernah ragu mengemukakan pendapat
Selalu memeriksa kembali  pekerjaan nya sebelum di kumpulkan Tidak pernah  me meriksa  kembali pe kerjaannya sebelum di kumpulkan

Selalu melirik hasil akhir teman disebelahnya     Tidak pernah melirik hasil akhir teman disebelahnya

b. Adaptasi sebagian/parsial sebelum pembelajaran dilaksanakan.

Beberapa bagian dalam BSE sangat mungkin tidak sesuai dengan situasi pembelajaran yang akan diciptakan, misalnya dalam contoh (a) kesimpulan sudah dicantumkan dalam BSE, sehingga dikhawatirkan siswa tidak melakukan kegiatan eksplorasi, dan tidak melatih berpikir logis dikarenakan hasil sudah ditunjukkan dalam kesimpulan, sehingga kesimpulan disarankan untuk dihilangkan.

  1. Adaptasi sebagian/parsial selama pembelajaran dilaksanakan

Dalam penggunaan sumber BSE pada bagian  (a) saat pembelajaran, sangat mungkin situasi yang tidak diharapkan muncul, misalnya kegiatan penyelidikan untuk melatih befikir kritis belum muncul dikarenakan persoalan yang kurang beragam, sehingga diperlukan perubahan pada saat siswa mendiskusikan permasalahan tersebut, gantilah/tambahkan persoalan yang lebih sederhana dengan ukuran sudut istimewa, sehingga peserta didik lebih mudah untuk melakukan eksplorasi.

Contoh berikut merupakan masalah yang lebih sederhana, karena gambar segitiga yang dibuat adalah segitiga samakaki (yang memiliki dua sisi sama panjang) disertai langkah-langkah yang masih memungkinkan siswa untuk melakukan eksplorasi

Adaptasi yang dapat dilakukan dengan mengubah persoalan, sehingga peserta didik dapat melakukan kegiatan eksplorasi:

1. Coba lukis segitiga samasisi KLM

  1. Buatlah sketsa dari unsur-unsur yang diketahui dan berilah tanda pada sketsa tersebut.
  2. Langkah apa yang kamu lakukan dahulu untuk melukis DKLM?
  3. Sebutkan langkah-lankah yang kamu gunakan untuk melukis DKLM?
  4. Adakah cara lain untuk melukis  DKLM?Jelaskan!
  5. Coba lukis segitiga samakaki  ABC dengan besar sudut ÐB = ÐC
    1. Buatlah sketsa dari unsur-unsur yang diketahui dan berilah tanda pada sketsa tersebut.
    2. Langkah apa yang kamu lakukan dahulu untuk melukis DKLM?
    3. Sebutkan langkah-langkah yang kamu gunakan untuk melukis DKLM?
    4. Jenis segitiga apakah DKLM, jika dilihat dari besar sudur dan panjang sisi?
    5. Adakah cara lain untuk melukis  DKLM?Jelaskan!

Sumber:  Pelatihan Pendikar untuk SMP


Email:

rppguswur@gmail.com

Belajar Inggris

BelajarInggris.Net 250x250

Blog Stats

  • 2,985,273 hits

Pengunjung

free counters

blogstat

Alexa Certified Site Stats for www.aguswuryanto.wordpress.com

Incoming traffic

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 215 other followers